Sholat Tarawih 20 Rekaat Bid’ah ???


Man Qooma Romadhona Iimaanan Wahtisaaban Ghufiro lahu ma taqoddama min Dzanbih ( Barang siapa dia qiyamur Romadhon dengan Iman dan mengharap ridho Alloh maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu ). HR Bukhori.

Imam Ash Shon’aniy dalam Subulussalam berkata, ampunan dosa yang dijanjikan dalam hadits diatas hanya akan diberikan apabila kita menjalankan qiyamur Romadhon sebulan penuh. Qiyamur Romadhon atau yang lebih dikenal dengan sholat tarawih adalah sebuah ibadah yang hanya dilakukan di dalam bulan romadhon saja.

Nabi Muhammad Saw dalam hadits diatas memberikan garansi ampunan dari dosa-dosa yang telah lalu, apabila kita dapat mengerjakannya dengan penuh keimanan kepada Alloh disertai dengan hanya mengharapkan ridhonya semata. Imam Muhyiddin An Nawawi mengatakan bahwa dosa yang akan mendapat maghfiroh dari Alloh swt adalah dosa-dosa kecil yang bersangkutan dengan haqqulloh, adapun dosa-dosa besar dan yang bersangkutan dengan haqqul adam maka disyaratkan taubat dan memohon maaf kepada yang bersangkutan.

Lalu berapa rekaatkah sholat tarawih yang sesuai tuntunan Nabi Saw ?

Para pakar hadits berbeda pendapat tentang bilangan rekaat dalam sholat tarawih, sebab apabila merunut pada hadits di atas, Nabi Saw tidak memberikan batasan khusus tentang bilangan rekaat tarawih.

Syaikh Nashiruddin Al Albani dalam kitabnya Risalah At Tarawih dengan sangat radikal mengatakan bahwa sholat tarawih lebih dari sebelas rekaat seperti melaksanakan sholat dzuhur lima rekaat, mafhumnya menurut al albani melakukan sholat tarawih lebih dari sebelas rekaat hukumnya haram, sebagaimana haramnya melakukan sholat dzuhur lima rekaat dan dianggap bid’ah.

Padahal ulama-ulama sholih pada zaman dahulu tidak ada satupun yang saling cemooh masalah bilangan rekaat tarwih ini meskipun mereka berbeda pendapat. Imam Syafi’i misalnya beliau lebih menyukai sholat tarawih 20 rekaat, namun tidak ada kesempitan bagi orang yang menjalankannya diluar 20 rekaat itu. ( ungkapan ini dapat dilihat dalam Fathul Bari Karya Ibnu Hajjar Al Asqolaniy )

Imam Ahmad Bin Hanbal juga berkata ketika beliau ditanya oleh Muhammad Bin Nashr Al Marwazi tentang variasi sholat tarawih, bahwa variasi sholat tarawih itu ada 40 macam dan beliau tidak memberikan penilaian terhadap salah satupun dari variasi-variasi itu. Pernyataan para ulama mujtahid mutlak tersebut menunjukkan bahwa umat islam boleh menjalankan sholat tarawih berapa saja, karena tidak ada ketetapan baku dari Nabi mengenai hal itu.

Memang ada ulama yang menyatakan bahwa sholat tarawih 20 rekaat itu merupakan ijma’ ( konsensus ) para sahabat, seperti Imam Ibnu Abdil Barr, Imam Ibnu Taymiyah dan Imam Ibnu Qudamah, kendati demikian mereka toh tidak pernah melarang atau mengharamkan pelaksanaan sholat tarawih diluar 20 rekaat.

Bahkan Ibnu Taymiyah dalam kitab Al Fatawa ( II/2 ) berkata,” Sesungguhnya jumlah rekaat qiyam Romadhon itu tidak memiliki batasan yang jelas dari Nabi. Meskipun ada keterangan yang mengatakan bahwa nabi menjalankan qiyamullail di bulan Romadhon dan diluar ramadhan tidak lebih dari 13 rekaat. Tetapi dalam sholat tersebut beliau memanjangkan bacaannya. Baru kemudian ketika Umar mengumpulkan orang-orang bermakmum kepada Ubay bin Kaab untuk melakukan sholat tersebut, Ubay melakukan sholat tarawih dengan 20 rekaat dengan tiga witir. Dalam sholat itu Ubay memendekkan bacaannya sesuai dengan jumlah rekaat yang ditambahnya. Hal itu bertujuan untuk meringankan jamaah daripada memperpanjang satu rekaat.

Ungkapan di atas adalah mengindikasikan bahwa melaksanakan sholat tarawih 20 rekaat ataupun 11 rekaat diperbolehkan dan tidak haram sebagaimana yang dikatakan oleh Albani, yang terpenting adalah bacaannya tartil, tidak tergesa-gesa dan hati dapat khusyu’ menghadap Alloh, Insya Alloh maghfiroh Alloh sebagaimana yang dijanjikan Nabi akan dapat kita raih.

Di zaman sekarang ini, sudah bukan eranya lagi mempersoalkan bilangan tarawih, apalagi sampai melontarkan kata-kata bid’ah bagi saudara kita yang tidak sejalan, sebab masalah ini telah selesai dibahas dan diteliti oleh ulama-ulama Islam berabad-abad yang lampau.

49 Comments on Sholat Tarawih 20 Rekaat Bid’ah ???

  1. pembahasan yang menarik dan ulasan yang bagus…

    untuk arti qiyam ramadhan, coba diulas, jangan hanya dari ash-shan’ani, karena penafsiran seperti itu bagi saya dan bagi klangan awam terasa sempit. coba satu malam saja gak ikut tarawih, kita tidak mendapat keutamaan sebagaimana dalam hadits tersebut?
    padahal di kitab-kitab lain disebutkan qiyam ramdhan bisa dicapai dengan shalat jamaah isya`, baca qur`an, mutha’laah ilmiah, dan aktivitas ukhrawi lainnya.

    benarkan dua puluh rakaat itu ijma’ ulama?
    akan lebih bagus, jika sampean mengutip perkataan ibnu abdilbar, ibnu taimiyah, dan ibnu qudamah tentang ijma’ tersebut. hal ini akan menambah ilmu kita….

    • @ Kang Main…sebenarnya saya mau jadikan tulisan ini sbg tulisan ringan saja, praktis dan tinggal leeebbb…dimakan..hehehe sosis kali..tapi kalo ente mau referensinya..coba ruju’ ke Jami’ bayan al ilm wa fadhlih karya Ibnu Abdil Bar II/22 beliau berkata, Sholat Tarawih 23 Rakaat itu adalah pendapat jumhur ulama. Hal itu merupakan ijma’ sahabat dimasa Umar bin Khottobyang kemudian dijadikan pegangan oleh Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad. Bagi saya apa yang menjadi Ijma sahabat itu tidak boleh ditentang.
      Ibnu Qudamah Al Maqdisi dalam Al Mughninya II/607 berkata,” Sholat tarawih 20 rakaat merupakan ijma’ sahabat, dan yang menjadi Ijma’ sahabat lebih utama dan lebih hak untuk di ikuti.
      Ibnu Taymiyah dalam Majmu al fatawa XXIII/112, hadis shohih menyebutkan bahwa ubay bib kaab mengimami sholat pada bulan romadhon 20 rekaat dan witir 3 rakaat. Maka banyak ulama mengatakan itu adalah sunnah, karena ia sholat dihadapan orang muhajirin dan anshor dan tidak ada satupun dari mereka yg menentangnya.
      Naaahhhh..menurut Syaikh Al Albani dalam Sholah Tarawihnya hal 115 mengatakan tidak ada ijma dikalangan sahabat mengenai sholat tarawih 20 rakaat dan bahkan beliau mendhoifkan hadits ubay tersebut..tapi pernyataan Al Albani ini sudah dibantah oleh Syaikh Ismail Al Anshori dalam risalah kecilnya yg berjudul Tashhiih Hadits Sholah At Tarawih ‘Isyriina Rakaah wa roddu alal albani fii tadh’iifihi..
      Adapun apasih yg dimaksud Qiyamurromadhon itu…silahkan dilanjutkan sampeyan…biar orang ga jenuh ama saya hehehe…( alasan doang padahal sih aslinya saya ga bisa njawaab..hahaha ) silahkan kang

  2. Rosulullah selama hidupnya gak pernah sholat tarweh. Rasulullah hanya pernah melakukan sunah malam berjaamaah dalam 3 malam.
    kalo sholat taraweah itu di masukkan sholatullail, sholat lail itu gak berjamaah, di ayatnya juga nafilatal lak.
    ayo coba ungkap hadistnya kang, yang secara langsung menyebut sholat tarweh.

    • @maman, hehehe..sholat tarawih itu istilah fiqihnya klo dalam dunia hadits namanya qiyamurromadhon. Ente bisa liat hadits Ubay bin Kaab yang mengimami para sahabat Nabi itu hadits menurut pakar hadits adalah shohih….bukankah Nabi memerintahkan alaikum bisunnati sunnati khulafaair rosyidiina min ba’di..berarti boleh dong solat tarawih berjamaah karna mengikuti sahabat Umar ??

  3. sholat tarawih, sholat tahiyyatul masjid, sholat syukur wudhu sholat hajjat adalah nama2 sholat yang tidak disebutkan oleh Nabi dlm hadits..tapi istilah itu dibuat oleh para pakar fiqh…nanyain apa ada hadits tarawih sama aja bertanya coba sebutkan hadits tahiyatul masjid…pasti ga ada sebab Nabi memang ga pernah menyebutkan nama2 sholat itu…wallohu a’lam

  4. @rifai
    mengenai makna qiyam ramadhan, saya lebih memilih pendapat yang tidak mengerucutkannya pada shalat tarawih. Al-Munawi Asy-Syafi’i dalam Faidhul Qadir mengatakan, “Qiyam ramadhan dapat tercapai dengan tilawah, shalat, dzikir, (belajar) ilmu syara’, dan segala aktivitas ukhrawi lainnya. dapat cukup dengan sebagian besar malam. ada yang berpendapat, (juga cukup) dengan shalat isya dan shubuh secara berjamaah.”
    Bahkan Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ telah menganggap aneh atas pendapat yang sampean sebutkan itu.

    Masalah bilangan rakaat tarawih, saya lebih cenderung dengan pendapat yang tidak membatasinya, baik delapan, dua puluh, tiga puluh enam, atau empat puluh. Shalat tarawih adalah shalat malam dan shalat malam itu tidak ada batasannya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Shalat malam itu dua rakaat, dua rakaat. Jika salah seorang di antara kalian khawatir waktu shubuh, hendkalah ia melakukan shalat witir satu rakaat.” (Muttafaq Alaih).
    Adapun riwayat dari Aisyah bahwa beliau tidak melakukan shalat lebih dari sebelas rakaat baik pada bulan ramadhan dan selain bulan ramadhan tidak bisa dijadikan hujjah pembatasan. Karena hadits ini termasuk jenis perbuatan Nabi. Dan dalam ushul fiqih, perbuatan tidak menunjukkan wajib.

    untuk sebagian ulama yang mengatakan ijma’, saya tidak sependapat. soalnya, fakta perselsihan mengenadi bilangan rakaat tarawih itu sudah dari zaman dahulu. bahkan dari umar bin khathab juga diriwayatkan beliau melakukan shalat tarawih sebelas rakaat. (malik dan said bin manshur). riwayat ini lebih kuat ketimbang riwayat bahwa umar melakukan shalat tarawih dua puluh rakaat, sebab ada perawinya yang bernama ibnu khushaifah di mana ahmad mendhaifkannya dan ibnu hajar mengatakannya tsiqah.
    Mohon maaf, penukilan perkataan ulama-ulama tersebut, apa anda dapatkan dari kitab-kitab mereka secara langsung atau nukilan dari sumber skunder. Saya lihat ada terjemahan yang meloncat dan pemenggalan yang tidak utuh. Sekali lagi moho maaf…

    @maman
    nabi hanya shalat malam pada bulan tarawih dan beliau pernah melaksanakannya secara berjamaah selama tiga atau empat hari di awal ramadhan.

    • Rifai Ahmad // 29 Agustus 2009 at 8:36 am // Balas

      @ibnu main, hehehe…saya memang ga menerjemahkan secara utuh tapi berdasarkan apa yang saya pahami saja. Mengenai Ibnu Khushaifah ini coba ente baca kitab Tahdzibul Kamal karya Al Hafidz Al Mizzi, mengenai kritik Imam Ahmad bahwa dia Munkarul Hadits..ente coba tengok penjelasan dari Ibnu Hajjar dalam Hadyussari. Bahkan kalo saya ngga salah Ibnu Main sendiri menilai bahwa Yazid Bin Khushaifah ini adalah seorang yang tsiqoh dan haditsnya dapat dijadikan hujjah…mengenai sanggahan ulama tentang hadits yang mengatakan tarawihnya Umar itu sebelas Rekaat yang diriwayatkan oleh Malik bin Anas dari Jalur Yazid dan Sa’id Bin Manshur AL Anshori..ntar aja yaaa….cape ngetiknya nih…( Maaf mas Main karna saya tau ente alim dan suka baca kitab maka sengaja saya sebutin kitab2nya saja, mungkin pengambilan kesimpulan saya salah yaa mohon maaf, namanya juga belajar…)

    • Rifai Ahmad // 29 Agustus 2009 at 8:42 am // Balas

      @ibnu main, saya juga sepakat kok..pendapat yang tidak membatasi bilangan rakaat tarawih..karna keumuman hadits man qooma romadhoona….tulisan saya di atas kan cuman meluruskan pendapat orang yang mengatakan sholat tarawih 20 rakaat itu bid’ah…dengan harapan tidak ada lagi pembid’ahan dikalangan umat hanya karna perbedaan furu’….eehhhh…klo menurut sampeyan nukilan saya dari pnedapat Ibnu Abdil Bar salah yaaaa…klo salah ya diluruskan tooh..namanya juga interpretasi santri desaaa…hehe

  5. akur… tinggal pilih… mo yang mana, gitu kan…. mo qodlo, boleh juga kan? atau mungkin tergantung kondisi badan. klo lagi fit dan enak bisa ambil yang banyak, klo lagi agak loyo ya yang minimal aja, kalo lagi inget ada sholat yg kelewat, bisa ikut qodlo, simple and mudah, klo banyak yg kita fahami. mungkin itu berkah romadlon ya kang.

  6. seandainya, riwayat tarwih yang dua puluh dari umar itu shahih, justeru memperkuat pendapat yang tidak membatasinya. dan yang saya tahu, riwayat yang delapan dari umar itu lebih kuat…maka ijma’ dua puluh itu saya pandang lemah…

    utuk ibnu abdil bar saya baca di al-istidzkar dan at-tamhid. adapun utk jami’ bayan ilmi saya tidak menemukan.di situ ibnu abdil bar pun melakukan kesalahan…

  7. hehehe…mungkin ente mengutip dalam tuhfatul ahwadzi yaa dalam penetapan bahwa hadits sholat Tarawih yang 8 rakaat lebih sahih…coba aku dibacain kitab Tashih hadits sholatit tarawih ‘isyriina rakaah wa roddi ‘alal albani fii tadh’iifihi karya Syaikh Ismail Al Anshori, kitabnya tipiis tapi menurut saya simpel dan enak.
    Yang mengatakan sholat tarwih 20 rakaat itu ijma shohabat kan para ulama’ dan yang mengatakan tdk terjadi ijma’ shohabat juga para ulama’ bahkan Imam malik, syafi’i dan Ahmad juga tdk mengatakan ijma’, bahkan di Muwatho’ sendiri saya dapati hadits yang meriwayatkan sholat tarawih dg berbeda2 bilangan rakaat. So pake ajja lah mana yg menurut kita itu shahih, sya sendiri di Jkarta menjalankan Tarawih yang 8 rakaat kok.

  8. -Untuk yang 39 rakaat, ini adalah pendapat Malik, lihat Al Mudawanah (1/193) dan Syarh Az-Zarqani (1/284). riwayat yang diambil adalah dari Daud bin Qais.
    -Untuk yang 40 rakaat dengan 7 rakaat witir, di dasari oleh riwayat shahih, Ibnu Abu Syaibah (2/393).

    Terlepas dari itu, Imam Ahmad bin Hanbal pernah melakukan shalat malam dibulan ramadhan sampai batas tak terhingga. lihat Kasyf Al Qana (1/425) dan Mathalib Ulin-Nuha (1/563).
    Yang paling bisa untuk dijadikan pedomah ada pendapat yang menyatakan bahwa semua itu boleh dilakukan,
    dan yang paling utama adalah menurut kondisi makmum, karena dasar-dasar yang ada adalah sharih dan
    shahih.

  9. bismillah…
    ini telaah singkat ats beberapa hadits yang berkaitan dengan jumlah rakaat yang diriwayatkan dari sahabat umar dn lainnya. saya ambil dari urairan para ulama dalam kitab-kitab mereka, utamanya kitab Tuhfatul Ahwadzi..semoga memberi manfaat untuk kawan-kawan yang belum sempat membaca…

    JUMLAH TARAWIH UMAR SEBELAS RAKAAT
    Saib bin Yazid meriwayatkan, “Umar Radhiyallahu Anhu memerintahkan kepada Ubaiy bin Ka’ab dan Tamim ad-Dari untuk mengimami manusia dengan sebelas rakaat. Sang imam biasa membaca ratusan ayat hingga kami bertelekan dengan tongkat karena lama berdiri dan kami tidak selesai shalat kecuali hampir tiba waktu fajar.” (HR. Malik, Said bin Manshur, Ibnu Abi Syaibah dan Baihaqi)
    Derajat hadits: hadits ini merupakan hadits yang shahih sekali. Terhadap hadits ini as-Subki dalam Syarah al-Minhaj berkomentar, “Dia merupakan hadits yang sangat shahih.” An-Naimawi dalam Atsar as-Sunan mengatakan, “Sanadnya shahih.” Keterangan lebih lanjut dapat dilihat dalam Tuhfatul Ahwadzi,
    Imam Malik meriwayatkannya dari Muhammad Yusuf (gurunya), lalu Muhammad bin Yusuf dari Saib bin Yazid (sahabat) dari Umar bin Khathab. Muhammad bin Yusuf adalah perawi sangat tsiqah (tsiqah tsabit) dan dijadikan hujjah oleh Imam Bukhari dan Muslim. Silakan rujuk dalam kitab-kitab al-Jarh wa at-Ta’dil.

    JUMLAH TARAWIH UMAR DUA PULUH RAKAAT
    -Riwayat Saib bin Yazid
    Saib bin Yazid meriwayatkan, “Pada zaman Umar, kami melakukan shalat dua puluh rakaat dan witir.” (HR. Baihaqi)
    Banyak ulama yang menilai hadits ini shahih. Di antaranya as-Subki dalam Syarah al-Minhaj, al-Qari dalam Syarah Muwatha` dan ulama lainnya.
    Rincian sanad: Baihaqi- Abu Thahir al-Faqih – Abu Ahmad Muhammad bin Abdul Wahhab – Khalid bin Mukhlid – Muhammad bin Ja’far – Yazid bin Khushaifah – Saib bin Yazid……
    Mengomentari hadits ini Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi (3/439) mengatakan, “Dalam sanadnya ada perawi Abu Utsman al-Bashri yang namanya Amr bin Abdillah. An-Naimawi dalam Ta’liq Atsar as-Sunan mengatakan, ‘Kami tidak menemukan orang yang menjelaskan biodatanya.’ Aku berkata, ‘Aku juga tidak menemukan biodatanya setelah melakukan penelitian yang banyak. Selain itu juga ada perawi Abu Thahir guru Baihaqi. Kami belum menemukan orang yang menilainya tsiqah. Maka barangsiapa yang menshahihkan atsar ini, hendaklah ia mendatangkan bukti bahwa kedua-duanya adalah tsiqah yang dapat dijadikan hujjah.”
    Selain itu juga ada perawi yang kontroversial, yakni Ibnu Khushaifah. Ada yang melemahkannya dan ada yang mentsiqahkannya.
    Artinya, riwayat ini masih dipermasalahkan, berbeda dengan riwayat sebelumnya.

    -Riwayat Yahya bin Said al-Anshari
    Yahya bin Said al-Anshari meriwayatkan bahwa Umar bin Khathab memerintahkan kepada seseorang untuk mengimami shalat mereka dengan dua puluh rakaat. (HR. Ibnu Abi Syaibah)
    Seluruh perawi atsar ini tsiqah. Akan tetapi, Yahya bin Zaid belum pernah bertemu dengan Umar. Artinya hadits ini munqathi’ (terputus sanadnya).

    -Yazid bin Rauman
    Yazid bin Rauman mengatakan, “Pada masa Umar bin Khathab Radhiyallahu Anhu, orang-orang melakukan shalat dua puluh tiga rakaat.” (Malik, al-Firyabi, dan Baihaqi)
    Yazid bin Rauman belum pernah bertemu dengan Umar. Dengan demikian sanadnya terputus. Imam Nawawi dalam al-Majmu’ dan al-Aini dalam Umdatul Qari telah mendhaifkan atsar ini.

    -Riwayat Abdul Aziz bin Rufai’
    Abdul Aziz bin Rufai’ mengatakan, “Ubaiy bin Ka’ab mengimami shalat Ramadhan di Madinah dengan dua puluh rakaat dan tiga witir.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)
    Akan tetapi, Abdul Aziz bin Rufai’ belum pernah bertemu dengan Ubaiy bin Ka’ab. Dengan demikian ia juga dhaif karena sanadnya terputus.

    -Riwayat A’masy
    A’masy mengatakan, “Ibnu Mas’ud melakukan shalat dua puluh rakaat dan tiga witir.” (HR. Muhammad bin Nashr)
    Hadits ini juga munqathi’ karena A’masy belum pernah bertemu dengan Ibnu Mas’ud.

    -Riwayat Abu Abdirrahman as-Silmi
    Abu Abdirrahman as-Silmi meriwayatkan bahwa Ali Radhiyallahu Anhu mengundang para ahli qira’ah pada bulan Ramadhan, lalu memerintahkan kepada salah seorang di antara mereka untuk mengimami shalat manusia dengan dua puluh rakaat. (HR. Baihaqi)
    Di dalam sanadnya terdapat perawi Atha` bin Saib yang telah kacau hafalannya dan Hammad bin Syu’aib yang amat lemah (dhaif jiddan) sebagaimana yang telah diisyaratkan oleh Imam Bukhari.

  10. @rifai
    saya banyak mengmbl keterangan dari tuhfatul ahwadzi. menurut saya, pengarangnya telah memberikan hujjah-hujjah yang terang tentang masalah ini.
    kitab tashih hadits, saya belum punya. tapi bantahan-bantahan atas al-bani saya telah membacanya. syukur sampean bisa menampilan bentuk bahtahan syekh ismail al-anshri. isnya allah banyak manfaatnya untuk para pembca di sini. kan tidk semua pinter kaya sampean.. he he…
    untuk masalah ijma’ sering djadikan senjata oleh ulama dalam maslaah-masalah khifaf, padahal masalahnya adalah khilafiah. padahal syart-syarat ijma’ itu sangt sulit. yakni seluruh mujtahid dari seluruh kaum muslimin berpesakat atas suatu hukum. karena itu, IMam ibnu Hazm dalam kitab al-Muhalla meriwayatkan bahwa Imam ahmad berkata, “Barangsiapa yang mengaku adanya ijma’, maka sesungguhnya ia telah berdusta.”
    ijma’ ada dua: sharih dan sukuti. yang tidak boleh diijtihadi lagi adlaah yang sharih. adapun yang sukuti masih boleh diijtihadi karena bersifat zhanniah.
    dalam kasus tarwih ini, jika itu dimasukkan ijma’ adlaah ijma’ sukuti. dan kalo demikian, ada dua kali ijma’, yakni ijma’ tarawih sebelas rakaat dan dua puluh rakaat.
    kita tahu, zaman umar itu pra sahabat sudah terpencar ke mana-mana, termasuk sahabat-sahabat besar. silakan baca kitab tarikh tasyri’. maka akan sulit di situ dikatakan ijma’…

    @abank
    yup, saya setuju, yang paling kuat adalah tidak adanya pembatasan. berbagai macam rwiayat yang berbeda itu seandainya shahih menujukkan bahwa mereka tidak bermaksud membtasi jumlah rakakat. dan inilah pendapat imam syafi’i.beliau mengatakan, kalo pingin lama berdiri, ya pilih rakaat yang sedikit(ini yang lebih beliau sukai) dan yang pingin banyak sujudnya, pilih rakaat yang banyak….tidak ada kesempitan untuk masalah ini.
    tapi kalo imam ahmad akhirnya memilih yang sebels rakaat…

  11. @Ibnu Main…hehe saya coba tanggapi ya kang..ini dari terjemahan ngawur saya dari kitab Kecil yg berjudul Tashiih Hadits Sholah At Tarawih ‘Isyriina Rakaah..karya Syaikh Ismail Al Anshoriy..ente memandang bahwa hadist yang diriwayatkan oleh Nuhammad Bin Yusuf dari al Saib Bin Yazid adalah sangat shahih, coba ente simak berikut ini…
    1. Imam Malik dalam Al Muwattho’, meriwayatkan hadits dari Muhammad bin Yusuf dari Al Saib bin Yazid, bahwa dia berkata, Umar Bin Khottob menyuruh Ubay bin Kaab dan Tamim al Dari untuk mengimami sholat para shahabat lainnya dengan SEBELAS RAKAAT.
    2. Muhammad Bin Nashr Al Marwazi dalam kitabnya Qiyamurromadhon meriwayatkan hadits dari jalur Muhammad bin Ishak dia berkata, aku telah diceritakan oleh Muhammad Bin Yusuf dari Al Saib bin Yazid dia berkata ( REDAKSINYA SAMA DG YG PERTAMA HANYA SAJA BEDANYA : TIGA BELAS RAKAAT.)
    3. Abdul Rozzaq dalam Al Mushonnaf meriwayatkan hadits dari dawud bin qais dan rawi lainnya dari Muhammad Bin Yusuf, dari Al Saib dia berkata : DUA PULUH SATU RAKAAT.
    Coba antum jelaskan kenapa sebuah Riwayat yang bersumber dari Muhammad Bin Yusuf dan Al saib bin Yazid kok bisa beda2…makasih mas Main..pencerahan antum sangat ditunggu oleh rekan2..

  12. @rifai
    menyikapi perbedaan riwayat tersebut, kita dapat menempuh dua cara, yakni tarjih atau jama’ (kompromisasi).
    jika menempuh tarjih, maka di sini saya akan mengomentari Abdurrazzaq yang meriwayatkan dua puluh satu rakaat.

    Ketika menanggapi riwayat Abdurrazzaq tersebut, Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi (3/439) mengatakan, “Abdurrazzaq walaupun ia tsiqah dan hafizh, tetapi ia menjadi buta pada akhir hidupnya sebagaimana yang diterangkan al-Hafizh dalam at-Taqrib.”
    Perkataan al-Hafizh (Ibnu Hajar) yang dimaksudkan oleh Mubarakfuri adalah berikut ini:
    “Abdurrazzaq bin Hammam bin Nafi’ al-Himyari Maulahum Abu Bakar ash-Shan’ani. Ia adalah perawi tsiqah, hafizh, dan penulis yang masyhur. Ia menjadi buta pada masa akhir hidupnya sehingga mengalami perubahan (dari segi daya ingat dan hafalan). Ia condong kepada Syi’ah (dengan ekstrim dan suka mendakwahkannya) dan masuk dalam tingkatan perawi yang kesembilan.” Taqrib at-Tahdzib, 1/599.
    Tingkatan perawi kesembilan sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Hajar sendiri adalah orang yang tidak dipercaya sama sekali dan lemah karena suatu cacat. Orang seperti ini diisyaratkan dengan kata matruk atau matrukul hadits. Lihat Taqrib at-Tahdzib, 1/1.
    Kesimpulan yang senada dengan ini juga dikatakan oleh Imam Ahmad dan Nasa`i. Bahkan Abbas bin Abdul Azhim ketika pulang dari Shan’a sempat mengatakan, “Sesungguhnya aku telah pergi dengan susah payah kepada Abdurrazzaq. Sesungguhnya ia adalah pendusta. Al-Waqidi (banyak pakar hadits melemahkannya) lebih jujur daripada dia.” Lihat Muqaddimah Ibnu Shalah, 1/205.
    Abu Hatim mengatakan, “Haditsnya ditulis, tetapi tidak dapat dijadikan hujjah.” Al-Jarh, 6/39.
    Kesimpulannya, karena pada akhir hidupnya telah berubah drastis ketsiqahannya sehingga ada yang mengatakan dia sebagai pendusta, maka riwayat pada akhir hidupnya tidak dapat diterima. Adapun riwayat-riwayat sebelumnya diterima. Dan untuk riwayat yang tidak diketahui, apakah ia riwayatkan saat sebelum buta atau sesudah buta, juga tidak bisa diterima. Syekh Albani mengatakan bahwa riwayat Abdurrazzaq atas tarwih Umar sebelas rakaat termasuk kategori yang ketiga ini sehingga tidak bisa dijadikan hujjah, kecuali ada riwayat lain yang shahih yang menguatkannya.

    adapun jika kita menempuh jama’, maka syarat jama’ kedua hadits yang bertentangan itu harus shahih.
    misalnya riwayat Abdurrazzaq kita anggap shahih, maka bisa jadi memang pra sahabat melakukan tarwih, adakalanya sebelas rakaat dan adakalanya dua puluh rakaat karena mereka memang tidak ada kehrusan dengan bilangan tertentu. mereka melakukan sebelas rakaat, karena mungkin mereka ingin melakukan shalat dengan berdiri yang lama. kan ada hadits, sebaik-baik shalat adalah yang lama berdirinya. dan ketika mereka ingin banyak sujud, mereka memperbanyak sujud, karena sujud itu punya keutamaan-keutamaan yang banyak, di antaranya, saat itu Allah sedang paling dekt dengan hamba-Nya. atau bisa jadi, pada awalnya yang ikut tarawih itu orangnya sedikit dan mereka orang yang biasa shalat lama. kemudian stelah berkembang menjadi banyak, dan orang yang ikut sudah beragam, ada yang biasa shalat lama dan ada tidak biasa, maka umar memperbanyak rakaat dengan banyak istrirahat (tarwih).

    yang aneh, adalah cara ibadah indonesia yang masih berorientasi lahir atau sisi kuantatitas. padahal, kalo di negeri arab, baik yang delapan atau yang dua puluh sama-sama lama, karena tiap satu malam itu imam membca stu juz. ini yang perlu kita benahi untuk umat islam di indonesia. wallahu a’lam

  13. mohon, maaf ada pembetulan dari tanggapan saya sebelumnya.

    Syekh Albani mengatakan bahwa riwayat Abdurrazzaq atas tarwih Umar DUA PULUH SATU RAKAAT termasuk kategori yang ketiga ini sehingga tidak bisa dijadikan hujjah, kecuali ada riwayat lain yang shahih yang menguatkannya.

    • @ibnu main, Secara umum..dari awal saya setuju bahwa tarawih itu tdk dibatasi bilangan apapun sebab ia masuk kategori sunnah mutlak…hanya mengenai Abdurrazaq mungkin kita bisa diskusi sedikit..Ibnu Hajjar dalam Hadyussary menilai bahwa Abdurrozaq ini adalah rawi TSIQAH dan HAFIDZ…Dia telah dinilai Tsiqah oleh para Imam kecuali Imam Al Abbas Bin Abdil Azhim al Anbari, hanya beliau sendiri yg tdk menilai tsiqah kepada Abdul Rozaq. Abu Zuhrah Ad Dimasyqi menuturkan “suatu saat Imam Ahmad ditanya,” siapa kiranya Rawi yg lebih hafidz dalam Riwayat Ibn Juraij, Abdurrozaq atau Muhammad Bin Bakr al Barsany ? Imam Ahmad Menjawab,” Abdurrozaq. Abbas Ad Duri meriwayatkan dari Ibnu Main dia berkata,”Abdurrazaq ini lebih hafidz dalam riwayat Ma’mar dari Hisyam.
      Adapun perubahan kondisi Abdurrazaq saat beliau menjadi buta, maka hal ini tdk berpengaruh apa2 terhadap karya2nya, yang demikian ini ditegaskan oleh Imam Ahmad yang dinukil dalam kitab Hadyussari, Ketika Atsram meriwayatkan dari Imam Ahmad, beliau berkata” Siapa yg mendengar hadis dari Abdurrazaq setelah penglihatannya kabur, maka itu tdk berpengaruh apa2. Semua Riwayat yg terdapat dalam kitab2 beliau itu shahih. Sedangkan riwayat yg tdk terdapat dalam kitab2nya, maka beliau meriwayatkannya secara lisan. Al Anshory mengatakan Al Albani terlalu berlebihan mengomentari Abdurrozaq, bahkan riwayat yg dipandang lemah oleh Albani ternyata dinilai kuta oleh Imam Ahmad (Tashih Hadits….).
      Intinya…sholat tarawih itu ga ada batasannya,oleh sebab itu dimohon agar tdk mengikuti pendapat Albani yg mengatakan haram atas pelaksanaan sholat tarawih lebih dari sebelas..wallohu a’lam

  14. @rifai
    penilaian tsiqah atas Abdurrazzaq sebelum ia menjadi buta memang tidak diperselisihkan. adapun setelah menjadi buta, saya jumpai dalam kitab-kitab semuanya mendhaifkannnya. lihat keterangan Ibnu Hajar sendiri dalam at-Taqrib. tidak hanya, Abbas bin Abdul Azhim, Nasai, Ahmad, dan Abu Hatim juga mendhaifkannya setelah ia buta. dan sungguh kebutaannya berpengaruh terhadap segi hafalannya. jadi, kalo dikatakan tidak berpengaruh apa-apa, saya tidak sependapat. silakan rujuk berbagai referensi.
    semua riwayat yang ada dalam kitab-kitab beliau itu shahih….ini kesimpulan anda sendiri atau anda dapatkan dari para ulama? padahal dalam shahih bukhari dan muslim yang merupakan ashahhu kitab ba’da al-qur`an masih mengandung beberapa hadits dhaif..
    dan setahu saya, kitab Mushannaf abdurrazzaq itu juga beliu susupi dengan riwayat-riwayat beliau saat sudah buta.

    syekh Albani tidak sendiri, sebelumnya ada Mubarakfuri, al azhim abadi (pemilik Aunul Ma’bud), dan ulama-ulama lainnya. hanya saya berpesan jangan sampai melecehkan ulama….bukankah mbah rifai telah menyebutkan bahwa di antara dosa besar itu menghna ulama dan orang yang hafal al-qur’an..

    • @ibnu main, hemmm…mana berani saya berkesimpulan sendiri kang…saya cuman mengekor aja apa yg dikatakan oleh para ulama’ penshahihan itu saya dapati di hadyussari….dan alhamdulillah saya telah membandingkan kitab Sholah at Tarawih karya Al Albani dan Kitab Tashhih Hadis karya syaikh Ismail al anshory dan pikiran saya cenderung mengikuti syaikh Ismail….Saya juga bi’aunillah ga akan berani menghina ulama’ siapaun dia, hanya saja pernyataan Al Albani yang mengharamkan sholat tarawih lebih dari 11 rakaat juga layak untuk dikritisi…memang setau saya dalam masalah sholat tarawih ini syaikh al albani banyak taqlid kepada Syaikh al mubarokfury, baik dalam mendhoifkan ataupun mengkritisi rawinya…walllohu a’lam

  15. ibn khasbullah // 7 September 2009 at 11:06 am // Balas

    Luar biasa!!! Alhamdulillah, kita memiliki cendekiawan muda seperti mereka- mereka ini,yang tajam dalam analysis, tapi dingin dalam penyampaian. Saya asyik mengikuti perdebatan ini dengan seksama. Mereka insyaallah adalah para pemimpin kita dimasa depan.Amin.
    Nah, karena sedikit banyak perdebatan mereka berhubungan dengan pernyataan- pernyataan Syekh Albany (yang mengharamkan taraweh 11 raka’at), maka masyarakat perlu tahu siapa syekh Al- bany dari beberapa sudut pandang. Ternyata menurut Syekh Hasan Assegaf dari Yordan, Syekh Albany adalah seorang pengkritik hadist yang SANGAT TIDAK KONSISTEN. Sering dalam beberapa karangannya beliau men DHOIFKAN sebuah hadist, tapi dalam bukunya yang lain beliau justru men SAHIHKANNYA, dan jumlah kesalahan seperti ini tidak sedikit, mencapai 200- an!!!. Sehingga menurut Syekh Hasan Assegaf itu pasti bukan karena salah cetak, tapi dari KECEROBOHAN atau ketidak telitian Syekh Albany. Lihat: “Tanaaqudlot Al- Albany al- waadhihah fiimaa waqo’a fii tashiihi Al-hadist wa tadh’iifihaa min Akhto’ wa gholath” (Kontradiksi Al- Albany yang nyata terhadap pensahihan hadist- hadist dan pendho’ifannya yang salah dan keliru). Lihat pula: http://www.Scribd.com./doc/7659070/Kesesatan-Nashiruddin-Albany-Wahaby-Salafi-Dalam-Ilmu-Hadist.

    • @ibn khasbullah,aduuuuhhh..bapak terlalu berlebihan, kalo kang Ibnu Main mah..emang jagonya pakar Fiqih, Ushul Fiqih dan Hadits yang mampu beristinbath langsung, sementara saya cuma pengekor ulama yg saya anggap kredibel dalam bidangnya masing2, mengenai Syaikh Al Albani memang banyak yg mengkritisinya bahkan setau saya minimal ada 17 kitab yang mengkritisi Al Albani akan Tapi sebagai pecinta ilmu saya apresiatif sekali terhadap kesungguhan beliau dalam mentakhrij hadits…beliau termasuk pakar hadits jempolan di zamannya.

    • @ibn khasbullah, Ralat pak..Syaikh Al Albani itu tdk mengharamkan tarawih 11 rakaat..beliau malah menshahihkannya. Beliau berkomentar dalam kitabnya Sholah at tarawih bahwa menjalankan tarawih lebih dari 11 rakaat sama dngan mengerjakan sholat dzuhur lebih dari 4 rakaat…

  16. ibn khasbullah // 7 September 2009 at 4:36 pm // Balas

    Maaf saya salah tulis, beliau Syekh Albany menetapkan yang 11 menolak yang 23, dengan argument yang telah diperdebatkan itu. Tentang masalah ini baik juga melihat tulisan Syekh Muhammad Aly As- Shobuny Dosen Kuliyah Syari’ah dan Dirosah Islamiyyah pada Universitas Ummul Quroo, Mekkah berjudul: “Al- Hadyun Nabawy As- Shohih fii Sholaatit Tarowiih”. Saya juga tetap menghormati Syekh Al- Albany, pada komentar diatas saya tuliskan agar masyarakat mengetahui siapa Syekh Albany DALAM SUDUT PANDANG YANG LAIN, agar balance dalam penalaran.

  17. he he…
    saya hanya thalibul-‘ilmi yang siap menerima nasehat dan tanbih dari antum semua..tidak jago…terlalu jauh itu bos…
    al-hamdulillah, saya tidak fanatik kepada siapapun, termasuk kepada syekh albani. andaikata saya fanatik terhadap beliau, mesti saya sudah mengikuti pendapat beliau tentang tarwih itu. tapi saya tidk…
    mengenai kepakaran albani, ulama-ulama besar telah mengakuinya. di antaranya syekh yusuf al-qardhawi yang kadang-kadang berbeda pendapat dengannya, tetap mengakuinya sebagai ahli hadis yang sangat penting abad dua puluh.
    memang, kadang-kadang berubah penilaian beliau terhadap suatu hadits..begitulah manusia, tidak ada yang sempurna ilmunya..bukankah Imam syafi’i juga berubah madzhabnya, bahkan hampir keseluruhannya? bukankah imam ahmad dalam satu masalah kadang-kadang mempunya tiga pendapat atau lebih? silakan rukuj masalah ini dalam al-madkhal dan fiqhul ikhtifaf karya qardhawi dan asbabul khilaf karya ad-dahlawi..
    memang kadang di antara ulama itu ada sifat hasud dalm ilmu sebagaimana di antara orang kaya juga ada hasud dalam bidang harta..
    bagaimana sampai yahya bin main mengatakan imam syafi’i sebagai pendusta atau setan?….padahal kita semua tahu siapakah imam syafi’i itu..

    silakan lihat juga sikap syekh albani dalam kitab shalat tarawih tersebut….tidak seperti yang dibayangkan banyak orang…beliau akan tetap mau bermakmum terhadp orang yang shalat tarawih dua puluh rakaat…

    oke…
    andaikata abdurrazzaq itu tsiqah dan tidk berubah walaupun setelah buta, maka masalahnya seperti ini….

    Sesungguhnya Imam Malik dalam meriwayatkan sebelas rakaat dari Muhammad bin Yusuf dari Umar tidak sendirian. Ia disertai oleh ABDUL AZIZ BIN MUHAMMAD sebagaimana yang diriwayatkan oleh Said bin Manshur dalam Sunan-nya, dan YAHYA BIN SAID AL-QATHAN sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya. Baik Abdul Aziz bin Muhammad dan Yahya bin Said al-Qathan meriwayatkan sebelas rakaat dari MUHAMMAD BIN Yusuf sebagaimana Imam Malik meriwayatkan.
    Perlu ditegaskan lagi, bahwa kedua perawi tadi yang menjadi mutabi’ Imam Malik adalah perawi yang tsiqah. Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 3/439.
    Adapun Abdurrazzaq dalam meriwayatkan jumlah rakaat dua puluh satu dari MUHAMMAD BIN Yusuf sendirian (tafarrud). Jika kita kembali kepada ilmu hadits, maka riwayatnya adalah syadz karena menyelisihi jumlah perawi yang lebih banyak. Dalam ilmu hadits dikatakan bahwa di antara syarat hadits shahih itu bebas dari syadz. Kemudian yang dimaksud dengan syadz perawi yang tsiqah menyelesihi perawi lain yang lebih tsiqah atau perawi yang lebih banyak. Dengan demikian riwayat Aburazzaq tersebut adalah dhaif. Hal ini kalau kita misalkan Abdurrazzaq meriwayatkannya ketika ia masih belum berubah ketsiqahannya setelah ia menjadi buta.
    di samping itu, riwayat sebelas rakaat itu sesuai dengan shalat rasul sebagaimana yang diriwaytkan Aisyah ra.
    jadi, riwayat yang sebelas itu lebih shahih…

    maaf mas rifai, kelihatannya sampean salah mengartikan sebuah penggalan dari kitab hadyu as-sari yang berakibat sangat jauh maknanya, bahkan bertolak belakang…
    andai mengartikan:
    Ketika Atsram meriwayatkan dari Imam Ahmad, beliau berkata” Siapa yg mendengar hadis dari Abdurrazaq setelah penglihatannya kabur, maka itu tdk berpengaruh apa2….

    terjemahan yang betul adalah:
    …dan atsram meriwayatkan bahwa imam ahmad berkata, “Barangsiapa yang mendengar darinya (abdurrazzaq) setelah ia buta, maka tidak ada apa-apanya (tidak bernilai apa-apa).” kata laisa bi-syai’in adalah ungkapan untuk menunjukkan kebatilan atau tidak bernilai apa-apa tentang suatu yang dimaksud..berbeda dengan laisa bihi ba`sun…silakah anda rujuk istilah tersebut dalam

  18. he he…
    saya hanya thalibul-‘ilmi yang siap menerima nasehat dan tanbih dari antum semua..tidak jago…terlalu jauh itu bos…
    al-hamdulillah, saya tidak fanatik kepada siapapun, termasuk kepada syekh albani. andaikata saya fanatik terhadap beliau, mesti saya sudah mengikuti pendapat beliau tentang tarwih itu. tapi saya tidk…
    mengenai kepakaran albani, ulama-ulama besar telah mengakuinya. di antaranya syekh yusuf al-qardhawi yang kadang-kadang berbeda pendapat dengannya, tetap mengakuinya sebagai ahli hadis yang sangat penting abad dua puluh.
    memang, kadang-kadang berubah penilaian beliau terhadap suatu hadits..begitulah manusia, tidak ada yang sempurna ilmunya..bukankah Imam syafi’i juga berubah madzhabnya, bahkan hampir keseluruhannya? bukankah imam ahmad dalam satu masalah kadang-kadang mempunya tiga pendapat atau lebih? silakan rukuj masalah ini dalam al-madkhal dan fiqhul ikhtifaf karya qardhawi dan asbabul khilaf karya ad-dahlawi..
    memang kadang di antara ulama itu ada sifat hasud dalm ilmu sebagaimana di antara orang kaya juga ada hasud dalam bidang harta..
    bagaimana sampai yahya bin main mengatakan imam syafi’i sebagai pendusta atau setan?….padahal kita semua tahu siapakah imam syafi’i itu..

    silakan lihat juga sikap syekh albani dalam kitab shalat tarawih tersebut….tidak seperti yang dibayangkan banyak orang…beliau akan tetap mau bermakmum terhadp orang yang shalat tarawih dua puluh rakaat…

    oke…
    andaikata abdurrazzaq itu tsiqah dan tidk berubah walaupun setelah buta, maka masalahnya seperti ini….

    Sesungguhnya Imam Malik dalam meriwayatkan sebelas rakaat dari Muhammad bin Yusuf dari Umar tidak sendirian. Ia disertai oleh ABDUL AZIZ BIN MUHAMMAD sebagaimana yang diriwayatkan oleh Said bin Manshur dalam Sunan-nya, dan YAHYA BIN SAID AL-QATHAN sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya. Baik Abdul Aziz bin Muhammad dan Yahya bin Said al-Qathan meriwayatkan sebelas rakaat dari MUHAMMAD BIN Yusuf sebagaimana Imam Malik meriwayatkan.
    Perlu ditegaskan lagi, bahwa kedua perawi tadi yang menjadi mutabi’ Imam Malik adalah perawi yang tsiqah. Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 3/439.
    Adapun Abdurrazzaq dalam meriwayatkan jumlah rakaat dua puluh satu dari MUHAMMAD BIN Yusuf sendirian (tafarrud). Jika kita kembali kepada ilmu hadits, maka riwayatnya adalah syadz karena menyelisihi jumlah perawi yang lebih banyak. Dalam ilmu hadits dikatakan bahwa di antara syarat hadits shahih itu bebas dari syadz. Kemudian yang dimaksud dengan syadz perawi yang tsiqah menyelesihi perawi lain yang lebih tsiqah atau perawi yang lebih banyak. Dengan demikian riwayat Aburazzaq tersebut adalah dhaif. Hal ini kalau kita misalkan Abdurrazzaq meriwayatkannya ketika ia masih belum berubah ketsiqahannya setelah ia menjadi buta.
    di samping itu, riwayat sebelas rakaat itu sesuai dengan shalat rasul sebagaimana yang diriwaytkan Aisyah ra.
    jadi, riwayat yang sebelas itu lebih shahih…

    maaf mas rifai, kelihatannya sampean salah mengartikan sebuah penggalan dari kitab hadyu as-sari yang berakibat sangat jauh maknanya, bahkan bertolak belakang…
    andai mengartikan:
    Ketika Atsram meriwayatkan dari Imam Ahmad, beliau berkata” Siapa yg mendengar hadis dari Abdurrazaq setelah penglihatannya kabur, maka itu tdk berpengaruh apa2….

    terjemahan yang betul adalah:
    …dan atsram meriwayatkan bahwa imam ahmad berkata, “Barangsiapa yang mendengar darinya (abdurrazzaq) setelah ia buta, maka tidak ada apa-apanya (tidak bernilai apa-apa).” kata laisa bi-syai’in adalah ungkapan untuk menunjukkan kebatilan atau tidak bernilai apa-apa tentang suatu yang dimaksud..berbeda dengan laisa bihi ba`sun…

    • @ibnu main, Oke mas main makasih mungkin saya yg kurang teliti dan kurang paham istilah hadits…makasih ya..tapi di awal yg saya kemukakan untuk memperkuat hujjah hadits tarawih 20 rakaat adalah dari Yazid bin Khushaifah…saya mengemukakan abbdurrozaq hanya mau bilang bahwa riwayat yg ente bawakan dari muhammad bin yusuf dari saib bin yazid itu muthorrib…artinya berlawanan ada yg 11, 13 dan 23…walaupun menurut ente hadits yazid bin khusaifah ini lemah…akan tetapi setau saya sebuah hadits yang secara substansinya sudah diterima dan diamalkan oleh para ulama’ maka sanadnya tdk perlu diteliti kembali, Imam Suyuthi dalam Tadzriburrawi mengatakan ” sebuah hadits dapat dinilai shahih apabila para ulama menerimanya, meskipun dari segi sanad tdk shahih. Ash Shon’ani dalam kitabnya Taudhihul afkar mengutip pernyataan ibnu hajjar mengatakan bahwa diantara sifat-sifat diterimanya sebuah hadits yg belum disinggung oleh guru kami Al Iraqi dalam kitabnya Al Mandzumah berikut syarahnya adalah kesepakatan ulama dlm mengamalkan kandungan hadist tersebut, indikasi ini dapat diterima sebagai sebuah hadits yang wajib diamalkan. sementara itu hadits sholat tarawih 20 rakaat itu sudah diterima dan diamalkan oleh para ulama dari generasi ke generasi…Imam Turmudzi dalam sunan turmudzinya berkata,” Mayoritas ulama mengamalkan Riwayat dari Umar, Ali, dan sahabat2 Nabi Saw lainnya yg sholat tarawih dua puluh rakaat. Bahkan Asy Syafi’i berkata,” Demikianlah yang aku ketahui di Mekkah, mereka sholat dg 20 rakaat. Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid berkata,” Imam Malik dalam satu pendapatnya, Imam abu hanifah, imam syafi’i, imam ahmad dan imam Dawud memilih qiyam romadhon dg 20 rakaat selain witir. Ini juga dinukil oleh Abi Syaibah kan..dalam al mushonnafnya..??? lalu Ibn Taymiyah dalam al fatawanya serta Muhammad Bin Abdul wahhab dalam majmu’ul fatawa an najdiyyah…kalo kita pake standart baku ulama’ di atas bahwa hadis yg secara substansi sudah diterima oleh ulama dari generasi ke genarasi adalah boleh diamalkan tanpa di teliti sanadnya kembali, maka hadis sholat tarawih 20 rakaatpun sangat dapat diamalkan…wallohu a’lam…matur nuwun pembelajarannya

  19. lha apalagi klo ternyata yazid bin khushaifah ini shahih…sebagaimana yg disebutkan oleh imam ahmad dalam riwayat al atsram. kemudian abu hatim, an nasa’i dan Ibn sa’d mereka sependapat dg Imam ahmad bahwa Yazid ini tsiqah .Ibnu Main mengatakan bahwa,” Ibnu Khushaifah ini tsiqah dan hujjah, Imam malik dan imam2 lainnya menjadikan riwayatnya sebagai hujjah, sedangkan Ibnu Hibban memasukkan yazid ini dalam kitab al tsiqat. silahkan dilihat dalam tahdzibul kamal, tahdzibut tahdzib dan hadyussari.

  20. BOSEN…………
    BOSEN……………..
    BOSEN………………..
    GAK BEDA DENGAN WAHABI, DAN SALAFI…..
    RIFAIYAH WAHABI…..
    RIFAIYAH SALAFI………..

    • @udik, Bukan lah masss…rifaiyah itu bukan wahabi dia murni ahlusunnah..ente bisa cek di akidahnya…bahasan ini cuman penyegaran saja kok…sambil latihan ilmu hadits..mumpung ada yg ngajarin tuh kang main gurunya….jgn bosen ya masss…

  21. ibn khasbullah // 8 September 2009 at 4:37 pm // Balas

    Saya ikut nimbrung boleh?
    Masalah yang sedang diperdebatkan tentang keabsahan hadist ubay bin Ka’ab yang menggambar kan betulkah sosok Umar bin Khottob sebagai seseorang yang memulai solat taraweh 20/23 roka’at tdak dapat menafikan fakta sejarah tentang telah dilakukannya solat tarowih 20/23 rokaat oleh para salafus sholih. Hal ini dapat ditelusuri berdasarkan kesaksian TERTULIS oleh para salaf. Diantaranya berdasarkan tulisan Imam Turmudzi- Murid Imam Bukhori (209 H- 279 H) dalam Sunan Turmudzinya yang menyatakan bahwa: ” Kebanyakan ahli ilmu atas apa yang diriwayatkan dar Umar bin Khottob, Ali dan lain- lain dari para sahabat Nabi SAW mengenai solat tarawih 20/23 roka’at adalah sesuai jalan yang ditempuh oleh Sufyan At-Tsaury (97- 161 H), Ibnu Mubarok, dan As- Syafi’i (150 H- 204 H). Dan Imam Syafi’i menyatakan: ” wa haakadzaa adroktu bibaladinaa bi Makkata yusholluuna isyriina rok’atan” = “Dan demikianlah yang aku temukan di negeriku di Kota Makkah, mereka sholat tarowih dengan 20 roka’at (+ 3 roka’at witir). Ini terjadi dimasa sebelum abad ketiga hijriyah, yang disebut sebagai masa terbaik setelah masa Rasul dan masa sahabat.
    Demikian juga Imam Malik (93 H- 179 H) dalam salah satu pendapatnya (pendapat yang lain beliau menetapkan solat Tarowih 36 roka’at, sesuai yang dilakukan penduduk Madinah saat itu), dan juga Abu Hanifah (89 H- 157 H), As- Syafi’i dan Ahmad bin Hambal (Guru Imam Bukhori(194 H- 256 H) dan Muslim. (lihat: Ibnu Rusyd: Bidayatul Mujtahid). Saya sengaja menuliskan tahun kelahiran para ulama salaf itu,
    untuk menunjukkan betapa dekatnya masa hidup mereka yang solat tarowih dengan 20/23 roka’at dengan masa hidup Rasul dan para sahabatnya. Sebagai contoh : Imam Hanafi lahir tahun 89 H, berarti empat tahun sebelum wafatnya Sahabat Anas bin Malik yang wafat pada tahun 93 H. Bandingkan dengan masa hidup Ulama MODERN yang mengharamkan sholat tarowih seperti Syekh Albany yang lahir pada tahun 1336 Hijriyah- seribu tahun lebih setelah zaman Rasul. Adapun hadist riwayat A’isyah seperti disebutkan diatas masih mengandung ihtimal karena Rasulullah tidak selamanya tidur di rumah A’isyah. Mungkin ditempat istri yang lain beliau solat malam lebih dari 11 roka’at. Bukankah A’isyah juga pernah berkata:
    ” Maa roaitu Rasuulallohi SAW yusholli sabahata Ad- Dhuhaa Qoth, wa innii lausabihuhaa” = “Aku TIDAK PERNAH MELIHAT Rasulullah melakukan solat DHUHA, tapi aku pasti melakukannya” (H.R.Muslim). Hadist ini bukan berarti A’isyah melakukan bid’ah dengan solat Dhuha, karena tidak pernah A’isyah melihat Nabi solat Dhuha. Namun ini sekedar berita bahwa dirumah A’isyah, Rasul tidak pernah solat Dhuha.. tetapi ditempat lain Rasulullah melakukan sholat Dhuhaa.
    Bukankah Muslim juga meriwayatkan hadist sohih dari Ibnu Abbas yang menyatakan: “Kaana Rasuulullahi SAW yushollii minal laili tsalaatsa ‘asyarota rok’atan” = “Adalah Rasulullah Solat dari sebagian malam sebanyak 13 roka’at”. (H.R.Muslim) apakah berarti hadist ini bertentangan dengan hadist A’isyah yang menyatakan hanya 11 roka’at? Demikian juga apakah bertentangan dengan hadist riwayat Muslim yang lain dari Zaid bin Kholid Al- Jahny: ” Laurmiqonna solaat Rasuulillahi SAW Al- lailata fashollaa rok’ataini khofiifataini, tsumma shollaa rok’ataini thowiilatainithowiilataini thowiilataini, tsumma shollaa rok’ataini wahumaa duuna al- lataini qoblahumaa… fadzakarol hadist ila an qoola: tsumma autaro, fdzaalika tsalatsa ‘asyarota rok’atan” = Sungguh aku telah memperhatikan solatnya Rasul SAW pada suatu malam. Maka beliau melaksanakan solat yang enteng 2 roka’at, lalu 2 roka’at yang panjang, 2 roka’at (lagi) yang panjang, 2 roka’at (lagi) yang panjang, kemudian 2 roka’at (lagi) yang berbeda dengan dua roka’at sebelumnya, lalu 2 roka’at (lagi) yang berbeda dengan dua roka’at sebelumnya, maka demikian seterusnya hadist sampai pada perkataan: kemudian Rasulullah ber witir. demikian itu menjadi 13 roka’at” (H.R.Muslim). Lihat pula hadist marfu’ yang dinilai sohih oleh hafidh Al- Iroqy riwayat Ibnu Hibban yang menyatakan: ” Autiruu bikhomsin au bi sab’in, au bits’in, au bi ihdaa asyarota rok’atan au bi aktsaro min dzaalika”= ” Berwitirlah kalian, lima, tujuh, sembilan ,sebelas rokaat, atau lebih banyak dari itu” (H.R.Ibnu Hibban)
    Karena itulah Imam Ibnu Taimiyah menyatakan dalam fatawanya bahwa barang siapa menyatakan bahwa solat tarowih itu ada batasan roka’atnya yang tidak boleh ditambah atau dikurangi maka ia telah keliru…(Fatawa II/104)

  22. ibn khasbullah // 9 September 2009 at 8:45 am // Balas

    Ma’af Ralat lagi: baris ke delapan belas dari atas, seharusnya : Ulama MODERN yang membid’ahkan sholat Tarowih 2o roka’at seperti Syekh Albany….dst.

  23. @rifai
    Ya, sama-sama, kita di sini tukar pendapat dan informasi sambil belajar berdiskusi tanpa harus saling hujat sebagaimana yang sering terjadi antara sebagian kelompok salafi dan lawannya.
    Tentang hadits Ibnu khushaifah telah saya bahas dulu. Memang banyak juga yang mentsiqahkannya, tetapi dia tetap kontroversial dibandingkan dengan Muhammad bin Yusuf.
    Selain itu titik kelemahannya pada dua perawi lain. Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi (3/439) mengatakan, “Dalam sanadnya ada perawi Abu Utsman al-Bashri yang namanya Amr bin Abdillah. An-Naimawi dalam Ta’liq Atsar as-Sunan mengatakan, ‘Kami tidak menemukan orang yang menjelaskan biodatanya.’ Aku berkata, ‘Aku juga tidak menemukan biodatanya setelah melakukan penelitian yang banyak. Selain itu juga ada perawi Abu Thahir guru Baihaqi. Kami belum menemukan orang yang menilainya tsiqah. Maka barangsiapa yang menshahihkan atsar ini, hendaklah ia mendatangkan bukti bahwa kedua-duanya adalah tsiqah yang dapat dijadikan hujjah.”
    Artinya dua perawi tadi masih majhulul hal yang termasuk cacat yang melemahkan hadits.

    Masalah hadits mudhtharib itu tidak sekadar adanya riwayat yang berbeda-beda, karena betapa banyak ayat Al-Qur`an dan hadits Nabi yang secara zhahir berbeda-beda. Para ulama menetapkan bahwa syarat hadits mudhtharib itu kekuatan macam-macam riwayat itu sama, misalnya sama-sama tsiqah, dan variasi riwayat tersebut tidak dapat dijama’ atau tidak dapat ditarjih. Ketika telah dapat dijama’ atau ditarjih, maka itu bukan mudhtharib lagi namanya.
    Riwayat sebelas dan tiga belas disamping diriwayatkan secara shahih dari Umar juga diriwayatkan secara shahih dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Adapun riwayat dua puluh itu memang diriwayatkan dari Nabi, tetapi riwayatnya sangat lemah atau bahkan madhu’ sebagaimana yang telah dijelaskan Al-Hafizh Ibnu Hajar, As-Subki, Imam Suyuthi, al-Iraqi dan selain mereka. Sementara riwayat dua puluh dari Umar itu yang kita bahas di sini dan sebelumnya telah saya kutipkan telaah para ulama tentang hal itu.
    Mengenai penerimaan ulama atas isi hadits tanpa meneliti sanadnya ini merupakan hukum yang keluar dari asal. Tetapi, kaedah pengecualian tadi disyaratkan dengan adanya kesepakatan seluruh ulama. Artinya, ini kita kembali kepada pembahasan ijma’ yang juga telah saya singgung sebelumnya.
    Andaikata memang terjadi ijma’, itu karena memang berangkatnya dari hadits-hadits Nabi tentang shalat malam yang tidak ada batasannya, bukan karena riwayat Umar itu dan itu tidak khusus dengan dua puluh rakaat saja. Kita di sini mempelajari riwayat tersebut, apakah shahih atau tidak agar terbiasa untuk bersikap kritis dan obyektif dalam ilmiah.

  24. @ibnu khasbullah
    Wah, kelihatannya sampean ini mengkritik syekh Albani. Saya sendiri sudah membanta istidlal beliau dengan hadits Aisyah itu. Kalo mas rifai di Jakarta shalat tarwih delapan, justeru kalo saya di kampung shalat tarwih dua puluh tiga rakaat.
    Namun, ada sedikit hal yang ingin saya tanyakan, apakah sudah betul Abu Hanifah meninggal tahun 157 H? Seingat saya beliau itu meninggal pada tahun kelahiran Imam Syafi’i, yakni tahun 150 H..
    Mengenai ulama yang berpendapat dengan sebelas rakaat, itu bukan barang yang baru. Imam Malik telah memilih sebelas untuk dirinya sebagaimana yang beliau riwayatkan sendiri dalam al-Muwatha’.
    Imam Suyuthi sebenarnya juga lebih cenderung dengan yang sebelas itu. Beliau berkata, “Kesimpulannya, shalat tarawih dua puluh rakaat itu tidak pernah dilakukan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dan apa yang dinukilnya (Ibnu Hajar) dari Shahih Ibnu Hibban (sebelas rakaat) merupakan puncak pendapat kami yang berpegang kuat dengan apa yang diriwayatkan Bukhari dari Aisyah Radhiyallahu Anha bahwa beliau tidak menambahi sebelas rakaat saat Ramadhan maupun di luar ramadhan. Karena nukilan tersebut sesuai dengan riwayat bahwa beliau shalat delapan rakaat kemudian berwitir tiga rakaat. Dengan demikian jumlahnya sebelas rakaat.” Al-Hawi lil-Fatawi, 2/17.

    Kemudian as-Suyuthi berkata, “Al-Juri dari sahabat kami meriwayatkan dari Imam Malik bahwa Imam Malik berkata, “Shalat tarwih yang mana Umar bin Khathab mengumpulkan manusia kepadanya lebih aku sukai, yaitu sebelas rakaat. Inilah shalat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.” Imam Malik ditanya, ‘Sebelas rakaat dengan witir?’ Ia menjawab, ‘Ya. Dan tiga belas rakaat juga mendekatinya.’ Lalu Imam Malik berkata, “Dan aku tidak tahu, dari mana rukuk yang banyak ini diperbuat?” al-Juri berkata, “Sesungguhnya jumlah rakaat di bulan ramadhan tidak ada batasnya menurut Syafi’i karena ia bersifat sunnah.” Al-Hawi lil-Fatawi, 2/17.

    Dan sikap Syekh Albani terhadap masalah shalat tarwih, mari kita baca kata-kata beliau sendiri dalam kitab Shalat Tarwihnya yang terkenal itu. beliau berkata, “Setelah kita memahami masalah ini, JANGANLAH SAMPAI SALAH SEORANG DI ANTARA KITA BERPANDANGAN BAHWA KALAU KAMI HANYA BERPEGANG DENGAN JUMLAH RAKAAT YANG ADA DI DALAM HADITS TANPA MENAMBAH-NAMBAHINYA, BERARTI KAMI MENGANGGAP PARA ULAMA DULU DAN SEKARANG YANG TIDAK SEPENDAPAT DENGAN KAMI SEBAGAI AHLI BID’AH DAN SESAT, sebagimana tuduhan yang dilontarkan oleh sebagian orang yang hendak memojokkan kami.”
    Silakan dibaca dengan kepala dingin dan rasa takut kepada Allah mengenai dampak tuduhan yang tidak benar. Wallahu a’lam.

  25. ibn khasbullah // 11 September 2009 at 9:38 am // Balas

    Saya sebagai pengkritik Syekh Albany? Wah nggak level lah!!! Saya justru menulis buku panduan Do’a- Do’a harian untuk anak- anak (dan dewasa), sebagian mengambil dari “Sifatu Solatin Nabiy” karya Syekh Albany (yang diberikan oleh Al- Marhum guru saya, sebagai oleh-oleh tatkala beliau pulang dari tanah suci), saya padu dengan Al- Adzkar Lin- Nawawi. Saya hanya ingin agar kita jangan terjebak dalam suasana fanatisme berlebihan. Tulisan pernyataan Syekh Albany yang anda kutip, memang benar demikian, tapi yang ini juga benar kan?: “Apalagi sudah kami jelaskan sebelumnya bahwa menambah- nambah roka’at dalam taraweh itu lebih pantas untuk dilarang daripada menambah- nambah raka’at dalam sunnah rowatib,…” demikian diantara pernyataan Syekh Al- Bany. Juga lihat dari khulasoh kitab Solat Taraweh nya yang terkenal itu: ” Sesungguhnya menambah dari 11 raka’at itu tidaklah boleh, karena kalau ditambah berarti gugurlah fungsi perbuatan Rasul SAW dan sabdanya: -Sholluu kama ro’aitumuunii ushollii- Oleh sebab itu, JUGA TIDAK DIPERBOLEHKAN KITA MENAMBAH JUMLAH ROKA’AT SOLAT SUBUH misalnya…”
    Dia juga mengatakan: ” Kami tidak membid’ahkan dan menganggap sesat orang yang solat melebihi jumlah roka’at itu KALAU MEMANG BELUM JELAS BAGINYA SUNNAH DALAM HAL ITU, dan bukan karena memperturutkan hawa nafsu.” Nah, apa yang dapat kita fahami dari kata- kata bersayap itu?

  26. Bocah Tua Nakal // 12 September 2009 at 8:08 am // Balas

    sebenarnya yang debatkan kan udah selesai to? tarawih ga dibatasi jumlah rekaat tertentu, trus dari segi sanad tarawih 8 rekaat lebih baik dari 20 rekaat, tapi ga berarti yang 20 tu bid’ah (kan malah rifainya praktiknya pake yang 8, dan ibnu mainnya pake yang 20, jadi imam juga kali ya? emang yang ngasih judul artikel aja yang provokatif he he), trus apalagi ya… o ya soal syeikh albani, koq malah jadi dibahas ya, tapi udah sepakat juga kan, syeikh albani itu ahli hadits, tapi kan gak ada yang ma’sum jadi yaa kadang2 ada salahnya juga. jadi gak ada yang dibahas lagi to? pindah thema yuukk. tuh ada bahasan qunut tu, tapi koq rada2 kurang ‘penting’ ya. emang si admin suka mancing2 sih. soalnya kalo qunut tu kan jadi bahan diskusi salafi-NU dah lama banget. nanti rifai sebagi NUnya dan Ibnu Main salafinya. (ibnu khasbullah jadi wasitnya he he ) nanti ditengah2 ada yang kayak si Udik nyeletuk gak jelas juntrungnya ha ha sori mas udik! emang kudu disekolahin dulu ni anak. (ngomong2, tetua adat dimana ya?)
    o ya buat admin pilih temanya yang rada berkelas doang ah, qunut? jadul banget. sori kalo rada ga sopan sama ustadz2 semua! salam

  27. @ibn khasbullah
    di situ ada dua hal yang berbeda, yang pertama tentang istidlal dan yang kedua tentng sikap. nah, untuk memperkuat argumen pendapat, syekh albani melakukan qiyas atau ilhaq. karena menurutnya shalat tarwih yang dilakukan nabi itu delapan rakaat, maka ini sama dengan shalat rawatib, kusuf dan lainnya yang dilakukan nabisecara kontinyu dengan bilangn yang tetap. karena kita tidak boleh menambah rakaat rawatib, istisqa, dan kusuf, maka begitu juga dengan shalat tarawih. adakah ini cercaan atau tabdi’ atau tadhilil terhadap pendapat lain?

    sementara pernyataan sikap beliau terhadap masalah ini lebih jelas dan gamlang,yakni beliau tidak melakukan seperti yang banyak dituduhkan orang-orang. kemudian di akhir kitab beliau juga mengemukakan sikapnya lagi seperti itu?

    kenapa sikap beliau yang jelas ini tidak ditampilkan, malah yang diambil adalah yang masih smar? buknkah ini sikap yang tidak adilterhadap sesama muslim, apalagi terhadap ulama yang telah menghabiskan umurnya untuk meneliti sunnah dan membelanya? bukankah ini seperti sifat orang-orang yang disinggung al-quran, yakni suka dengan yang mutasyabihat dan meninggalkan yang muhkamat..
    ini juga kesalahan azumardi azra yang diikuti muridnya yakni abdul jamil ketika mengatakan bahwa syekh ahmad rifai itu merupakan tokoh khawarij baru…

    dalam kaedah ushul dikatakan, ketika ada nash yang masih umum, dan ada nash yang khusus, maka yang didahulukan adalah yang khusus..begitu juga dengan masalah kita sekarang ini…

    mohon maaf, saya tdk bermaksud melawan kiayi ibnu khasbullah…ini hanya sekadar tkr informasi saja..

  28. ibn khasbullah // 15 September 2009 at 3:21 pm // Balas

    Lho, tidak apa- apa, kritik itu walau terasa pahit, tapi bersifat membangun. Seperti vitamin yang pahit tapi menyehatkan. Saya justru berterimakasih kang Ibnu main, telah mengingatkan saya. Saya hanya sekedar mengutip tulisannya sesuai pemahaman saya tanpa bermaksud mendiskreditkan beliau. Seperti telah saya jelaskan dimuka, saya justru memakai beberapa kitab beliau sebagai acuan. Mungkin pemahaman saya terhadap kata- kata beliau agaknya masih kurang pas, sama seperti pemahaman As- Shobuni yang menyatakan dalam kritiknya kepada beliau:”Karena bagaimana bisanya seorang alim yang mengaku maha tahu dan cerdas, bahkan mengaku berijtihad dalam urusan agama, sampai mengqiyaskan sholat fardhu dengan sholat sunnah, dan tambahan roka’at dalam sholat taraweh (Qiyam romadhon) diqiyaskan dengan menambah raka’at dalam sholat fardhu?”…. dan masih banyak lagi tulisan As- Shobuni yang nadanya jauh lebih keras, yang sengaja tak saya nukil disini.(Lihat Al-Hadyun Nabawi As-Sohih fi sholaatit Tarowih.
    Namun demikian sekali lagi saya berterimakasih atas kritiknya.Walloohu yahdiinii ila shiroothil mustaqiim.Amiin.

  29. Maaf, sdh termuat disini Pro-Kontra Definisi Bid’ah

    Salat Tarawih
    Indeks > Artikel > Shalat Tarawih
    صَـلاَةُالتَّراَوِيْحِ
    Sayyid Ali Fikri dalam bukunya “Khulashatul Kalam fi Arkanil Islam” halaman 114 menuturkan tentang salat tarawih sebagai berikut:
    • Salat tarawih hukumnya sunnah muakkad (sunnah yang hukumnya mendekati wajib) menurut para Imam Madzhab pada malam-malam bulan Ramadlan. Waktunya adalah setelah salat Isyak sampai terbit fajar; dan disunnahkan salat witir sesudahnya.
    • Salat tarawih disunnahkan beristirahat sesudah tiap empat rakaat selama cukup untuk melakukan salat empat rakaat. Jumlah bilangannya adalah 20 rakaat dan setiap dua rakaat satu kali salam. Salat tarawih disunnahkan bagi orang laki-laki dan perempuan.
    • Cara melakukan salat tarawih adalah seperti salat subuh, artinya setiap dua rakaat satu salam; tidak sah tanpa membaca Fatihah dan disunnahkan membaca ayat atau surat pada setiap rakaat.
    Hikmah salat tarawih adalah untuk menguatkan jiwa, mengistirahatkan dan menyegarkannya guna melakukan ketaatan; dan juga untuk memudahkan mencerna makanan sesudah makan malam. Apabila sesudah berbuka puasa lalu tidur, maka makanan yang ada dalam perut besarnya tidak tercerna, sehingga dapat mengganggu kesehatan; kesegaran jasmaninya menjadi lesu dan rusak.
    Orang yang pertama kali mengumpulkan orang-orang muslim untuk melakukan salat tarawih secara berjamaah dengan hitungan 20 rakaat adalah Khalifah Umar bin Khattab ra. dan disetujui oleh para sahabat Nabi pada waktu itu. Kegiatan tersebut berlangsung pada masa pemerintahan Khalifah Usman dan Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. Kegiatan salat tarawih secara berjamaah seperti ini terkait sabda Rasulullah saw:
    عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَ سُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ
    “Wajib atas kamu sekalian mengikuti sunnahku dan sunnah dari al-Khulafaur Rasyidin”.
    Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra. bahkan menambah jumlah rakaatnya menjadi 36 (tiga puluh enam) rakaat. Tambahan ini beliau maksudkan untuk menyamakan dengan keutamaan dan pahala penduduk Makkah yang setiap kali selesai melakukan salat empat rakaat, mereka melakukan thawaf. Jadi Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra. melakukan salat empat rakaat sebagai ganti dari satu kali thawaf agar dapat memperoleh pahala dan ganjaran berimbang.
    Berdasarkan sunnah dari Khalifah Umar bin Khattab tersebut, maka :
    1. Menurut madzhab Hanafi, Syafii dan Hambali, jumlah salat tarawih adalah 20 rakaat selain salat witir.
    2. Menurut madzhab Maliki, jumlah salat tarawih adalah 36 (tigapuluh enam) rakaat, karena mengikuti sunnah dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
    Adapun orang yang melakukan salat tarawih 8 (delapan) rakaat dengan witir 3 (tiga) rakaat, adalah mengikuti hadits yang diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah yang berbunyi sebagai berikut:
    َما كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَزِيْدُ فِى رَمَضَــــانَ وَلاَ فِى غَــيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشَرَةَ رََكْعَةً ، يُصَلِّى اَرْبَعًا فَلاَ تَسْـاَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُوْلِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى اَرْبَعًا فَلاَ تَسْــاَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلِهِنَّ ثُمَّ يُصَــلِّى ثَلاَثًا ، فَقُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ اَنْ تُوْتِرَ ؟ فَقَالَ : يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامُ وَلاَ يَـــــنَامُ قَلْبِى . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ .
    “Tiadalah Rasulullah saw. menambah pada bulan Ramadlan dan tidak pula pada bulan lainnya atas sebelas rakaat. Beliau salat empat rakaat dan jangan Anda bertanya tentang kebagusan dan panjangnya. Kemudian beliau salat empat rakaat dan jangan Anda bertanya tentang kebagusan dan panjangnya. Kemudian beliau salat tiga rakaat. Kemudian aku (Aisyah) bertanya, “Wahai Rasulullah, adakah Tuan tidur sebelum salat witir?” Beliau bersabda, “Wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, sedang hatiku tidak tidur.”
    Syekh Muhammad bin ‘Allan dalam kitab “Dalilul Falihin” jilid III halaman 659 menerangkan bahwa hadits di atas adalah hadits tentang salat witir, karena salat witir itu paling banyak hanya sebelas rakaat, tidak boleh lebih. Hal itu terlihat dari ucapan Aisyah bahwa Nabi saw. tidak menambah salat, baik pada bulan Ramadlan atau lainnya melebihi sebelas rakaat. Sedangkan salat tarawih atau “qiyamu Ramadlan” hanya ada pada bulan Ramadlan saja.
    Ucapan Aisyah “beliau salat empat rakaat dan Anda jangan bertanya tentang kebagusan dan panjangnya”, tidaklah berarti bahwa beliau melakukan salat empat rakaat dengan satu kali salam. Sebab dalam hadits yang disepakati kesahihannya oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar ra. Nabi bersabda:
    صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَاَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ .
    “Salat malam itu (dilakukan) dua rakaat dua rakaat, dan jika kamu khawatir akan subuh, salatlah witir satu rakaat”.
    Dalam hadits lain yang disepakati kesahihannya oleh Bukhari dan Muslim, Ibnu Umar juga berkata :
    كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّى مِنَ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى وَ يُوْتِرُ بِرَكْعَةٍ .
    “Adalah Nabi saw. melakukan salat dari waktu malam dua rakaat dua rakaat, dan melakukan witir dengan satu rakaat”.
    Pada masa Rasulullah saw. dan masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq, salat tarawih dilaksanakan pada waktu tengah malam, namanya bukan salat tarawih, melainkan “qiyamu Ramadlan” (salat pada malam bulan Ramadlan). Nama “tarawih” diambil dari arti “istirahat” yang dilakukan setelah melakukan salat empat rakaat. Disamping itu perlu diketahui, bahwa pelaksanaan salat tarawih di Masjid al-Haram, Makkah adalah 20 rakaat dengan dua rakaat satu salam.
    Almarhum K.H. Ali Ma’sum Krapyak, Yogyakarta dalam bukunya berjudul “Hujjatu Ahlis Sunnah Wal Jamaah” halaman 24 dan 40 menerangkan tentang “Salat Tarawih” yang artinya kurang lebih sebagai berikut:
    • Salat tarawih, meskipun dalam hal ini terdapat perbedaan, sepatutnya tidak boleh ada saling mengingkari terhadap kepentingannya. Salat tarawih menurut kami, orang-orang yang bermadzhab Syafii, bahkan dalam madzhab Ahlus Sunnah Wal Jamaah adalah 20 rakaat. Salat tarawih hukumnya adalah sunnah muakkad bagi setiap laki-laki dan wanita, menurut madzhab Hanafi, Syafii, Hambali, dan Maliki.
    • Menurut madzhab Syafii dan Hambali, salat tarawih disunnahkan untuk dilakukan secaran berjamaah. Madzhab Maliki berpendapat bahwa berjamaah dalam salat tarawih hukumnya mandub (derajatnya di bawah sunnah), sedang madzhab Hanafi berpendapat bahwa berjamaah dalam salat tarawih hukumnya sunnah kifayah bagi penduduk kampung. Dengan demikian apabila ada sebagian dari penduduk kampung tersebut telah melaksanakan dengan berjamaah, maka lainnya gugur dari tuntutan.
    • Para imam madzhab telah menetapkan kesunnahan salat tarawih berdasarkan perbuatan Nabi Muhammad saw. Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan hadits sebagai berikut:
    كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ فِى جَوْفِ اللَّيْلِ لَيَالِيَ مِنْ رَمَضَانَ وَهِيَ ثَلاَثٌ مُتَفَرِّقَةٌ لَيْلَةُ الثَّالِثِ وَالْخَامِسِ وَالسّابِعِ وَالْعِشْرِيْنَ وَصَلَّى فِى الْمَسْجِدِ وَصَلَّى النَّاسُ بِصَلاَتِهِ فِيْهَا ، وَكَانَ يُصَلِّى بِهِمْ ثَمَانَ رَكَعَاتٍ أَيْ بِأَرْبَعِ تَسْلِيْمَاتٍ كَمَا سَيَأْتِى وَيُكَمِّلُوْنَ بَاقِيَهَا فِى بُيُوْتِــــهِمْ أَيْ حَتَّى تَتِــــمَّ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً لِمَا يَأْتِى ، فَكَانَ يُسْمَعُ لَهُمْ أَزِيْزٌ كَأَزِيْزِ النَّحْلِ .
    “Nabi saw. keluar pada waktu tengah malam pada bulan Ramadlan, yaitu pada tiga malam yang terpisah: malam tanggal 23, 25, dan 27. Beliau salat di masjid dan orang-orang salat seperti salat beliau di masjid. Beliau salat dengan mereka delapan rakaat, artinya dengan empat kali salam sebagaimana keterangan mendatang, dan mereka menyempurnakan salat tersebut di rumah-rumah mereka, artinya sehingga salat tersebut sempurna 20 rakaat menurut keterangan mendatang. Dari mereka itu terdengar suara seperti suara lebah”.
    Dari hadits ini jelaslah bahwa Nabi Muhammad saw. telah mensunnahkan salat tarawih dan berjamaah. Akan tetapi beliau tidak melakukan salat dengan para sahabat sebanyak 20 rakaat sebagaimana amalan yang berlaku sejak zaman sahabat dan orang-orang sesudah mereka sampai sekarang.
    Telah diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah ra. bahwa Nabi Muhammad saw. keluar sesudah tengah malam pada bulan Ramadlan dan beliau melakukan salat di masjid. Para sahabat lalu melakukan salat dengan beliau. Pada pagi harinya para sahabat memperbincangkan salat mereka dengan Rasulullah saw., sehingga pada malam kedua orang bertambah banyak. Kemudian Nabi saw. melakukan salat dan orang-orang melakukan salat dengan beliau. Pada malam ketiga tatkala orang-orang bertambah banyak sehingga masjid tidak mampu menampung para jamaah, Rasulullah saw. tidak keluar untuk jamaah, hingga beliau keluar untuk melakukan salat subuh. Setelah salat subuh, beliau menemui para jamaah dan bersabda, “Sesungguhnya tidaklah dikhawatirkan atas kepentingan kalian tadi malam; akan tetapi aku takut apabila salat malam itu diwajibkan atas kamu sekalian, sehingga kalian tidak mampu melaksanakannya!”.
    Setelah Rasulullah saw. wafat keadaan berjalan demikian sampai pada zaman kekhalifahan Abu Bakar dan permulaan kekhalifahan Umar bin Khattab ra. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab ra. beliau mengumpulkan orang-orang laki-laki untuk berjamaah salat tarawih dengan diimami oleh Ubay bin Ka’ab dan orang-orang perempuan berjamaah dengan diimami oleh Usman bin Khatsamah. Oleh karena itu Khalifah Usman bin Affan berkata pada masa pemerintahan beliau, “Semoga Allah menerangi kubur Umar sebagaimana Umar telah menerangi masjid-masjid kita”. Yang dikehendaki oleh hadits ini adalah bahwa Nabi saw. keluar dalam dua malam saja.
    Menurut pendapat yang masyhur adalah bahwa Rasulullah saw. keluar pada para sahabat untuk melakukan salat tarawih bersama mereka tiga malam yaitu tanggal 23, 25, dan 27, dan beliau tidak keluar pada malam 29. Sesungguhnya Rasulullah saw tidak keluar tiga malam berturut-turut adalah karena kasihan kepada para sahabat. Beliau salat bersama para sahabat delapan rakaat; tetapi beliau menyempurnakan salat 20 rakaat di rumah beliau dan para sahabat menyempurnakan salat di rumah mereka 20 rakaat, dengan bukti bahwa dari mereka itu didengar suara seperti suara lebah. Nabi saw. tidak menyempurnakan bersama para sahabat 20 rakaat di masjid adalah karena kasihan kepada mereka.
    Dari hadits ini menjadi jelas, bahwa jumlah salat tarawih yang mereka lakukan tidak terbatas hanya delapan rakaat, dengan bukti bahwa mereka menyempurnakannya di rumah-rumah mereka. Sedangkan pekerjaan Khalifah Umar ra. telah menjelaskan bahwa jumlah rakaatnya adalah 20, pada saat Umar ra. mengumpulkan orang-orang di masjid dan para sahabat menyetujuinya tak seorangpun dari para Khulafa’ur Rasyidun yang berbeda dengan Umar. Mereka terus menerus melakukan salat tarawih secara berjamaah sebanyak 20 rakaat. Dalam hal ini Nabi Muhammad saw. telah bersabda:
    عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَآءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ. رَوَاهُ أَبُوْدَاوُدَ
    “Wajib atas kamu sekalian mengikuti sunnahku dan sunnah dari al-Khulafa ar-Rasyidun yang telah mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah-sunnah tersebut dengan gigi geraham (berpegang teguhlah kamu sekalian pada sunnah-sunnah tersebut). HR Abu Dawud
    Nabi Muhammad saw. juga bersabda sebagai berikut:
    اِقْتَدُوْا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِى أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُوْ دَاوُدَ وَابْنُ مَاجَهْ
    “Ikutlah kamu sekalian dengan kedua orang ini sesudah aku mangkat, yaitu Abu Bakar dan Umar”. HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah.
    Telah diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab telah memerintahkan Ubay dan Tamim ad-Daari melakukan salat tarawih bersama orang-orang sebanyak 20 rakaat. Imam al-Baihaqi telah meriwayatkan dengan isnad yang sahih, bahwa mereka melakukan salat tarawih pada masa pemerintahan Umar bin Khattab 20 rakaat, dan menurut satu riwayat 23 rakaat. Pada masa pemerintahan Usman bin Affan juga seperti itu, sehingga menjadi ijmak. Dalam satu riwayat, Ali bin Abi Talib ra. mengimami dengan 20 rakaat dan salat witir dengan tiga rakaat.
    Imam Abu Hanifah telah ditanya tentang apa yang telah dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab ra. Beliau menjelaskan, “Salat tarawih adalah sunnah muakkadah. Umar ra. tidak menentukan bilangan 20 rakaat tersebut dari kehendaknya sendiri. Dalam hal ini beliau bukanlah orang yang berbuat bid’ah. Beliau tidak memerintahkan salat 20 rakaat, kecuali berasal dari sumber pokoknya yaitu dari Rasulullah saw.”
    Khalifah Umar bin Khattab ra. telah membuat sunnah dalam hal salat tarawih ini dan telah mengumpulkan orang-orang dengan diimami oleh Ubay bin Ka’ab, sehingga Ubay bin Ka’ab melakukan salat tarawih secara berjamaah, sedangkan para sahabat mengikutinya. Di antara para sahabat yang mengikuti pada waktu itu terdapat Usman bin ‘Affan, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas’ud, ‘Abbas dan puteranya, Thalhah, az-Zubayr, Mu’adz, Ubay dan para sahabat Muhajirin dan sahabat Ansor lainnya ra. Pada waktu itu tak seorangpun dari para sahabat yang menolak atau menentangnya, bahkan mereka membantu dan menyetujuinya serta memerintahkan hal tersebut. Dalam hal ini Nabi Muhammad saw. bersabda:
    أَصْحَابِى كَالنُّجُوْمِ بِأَيِّهِمُ اقْتَدَيْتُمْ اِهْتَدَيْتُمْ.
    “Para sahabatku adalah bagaikan bintang-bintang di langit. Dengan siapa saja dari mereka kamu ikuti, maka kamu akan mendapatkan petunjuk”.
    Memang, pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz ra. yang pada waktu itu beliau mengikuti orang Madinah, bilangan salat tarawih ditambah dan dijadikan 36 rakaat. Akan tetapi tambahan tersebut dimaksudkan untuk menyamakan keutamaan dengan penduduk Makkah; karena penduduk Makkah melakukan thawaf di Baitullah satu kali sesudah salat empat rakaat dengan dua kali salam. Maka Umar bin Abdul Aziz ra. yang pada waktu itu mengimami para jamaah berpendapat untuk melakukan salat empat rakaat dengan dua kali salam sebagai ganti dari thawaf.
    Ini adalah dalil dari kebenaran ijtihad dari para ulama dalam menambahi ibadah yang telah disyariatkan. Sama sekali tidak perlu diragukan bahwa setiap orang diperbolehkan untuk melakukan salat sunnah semampu mungkin pada waktu malam atau siang hari, kecuali pada waktu-waktu yang dilarang untuk melakukan salat.
    Pengarang kitab “Al-Fiqhu ‘Ala al-Madzahib al-Arbaah” menyatakan bahwa salat tarawih adalah 20 rakaat menurut semua imam madzhab kecuali witir.
    Dalam kitab “Mizan” karangan Imam asy-Sya’rani halaman 148 dinyatakan bahwa termasuk pendapat Imam Abu Hanifah, asy-Syafii, dan Ahmad, salat tarawih adalah 20 rakaat. Imam asy-Syafii berkata, “20 rakaat bagi mereka adalah lebih saya sukai!”. Sesungguhnya salat tarawih secara berjamaah adalah lebih utama. Imam Malik dalam salah satu riwayat menyatakan bahwa salat tarawih adalah 36 rakaat.
    Dalam kitab “Bidayah al-Mujtahid” karangan Imam Qurthubi juz I halaman 21 diterangkan bahwa salat tarawih yang Umar bin Khattab mengumpulkan orang-orang untuk melakukannya secara berjamaah adalah disukai; dan mereka berbeda pendapat mengenai jumlah rakaat yang dilakukan orang-orang pada bulan Ramadlan. Imam Malik dalam salah satu dari kedua pendapat beliau, Imam Abu Hanifah, Imam as-Syafii, dan Imam Ahmad bin Hambal memilih 20 rakaat selain salat witir.
    Pada pokoknya Imam Madzhab Empat tersebut memilih bahwa salat tarawih adalah 20 rakaat selain salat witir. Sedangkan orang yang berpendapat bahwa salat tarawih adalah 8 (delapan) rakaat adalah menyalahi dan menentang terhadap apa yang telah mereka pilih. Sebaiknya pendapat orang ini dibuang dan tidak usah diperhatikan, karena tidak termasuk golongan Ahlus Sunnah Wal Jamaah, yaitu golongan yang selamat, yang mengikuti sunnah Rasulullah saw. dan para sahabat beliau.
    Akan tetapi ada yang berpendapat bahwa salat tarawih delapan rakaat adalah berdasarkan hadits Aisyah ra. sebagaimana disebutkan di muka.
    Hadits tersebut tidak sah untuk dijadikan dasar salat tarawih, karena maudlu’ dari hadits tersebut yang nampak jelas adalah salat witir. Sebagaimana kita ketahui, salat witir itu paling sedikit adalah satu rakaat dan paling banyak adalah sebelas rakaat. Rasulullah saw. pada waktu sesudah tidur melakukan salat empat rakaat dengan dua salam tanpa disela, lalu melakukan salat empat rakaat dengan dua salam tanpa disela, kemudian melakukan salat tiga rakaat dengan dua salam juga tanpa disela. Hal ini menunjukkan bahwa hadits Aisyah ra. adalah salat witir:
    1. Ucapan Aisyah, “Apakah Engkau tidur sebelum engkau melakukan witir?” Sesungguhnya salat tarawih itu dikerjakan sesudah salat isyak dan sebelum tidur.
    2. Sementara itu salat tarawih tidak didapati pada selain bulan Ramadlan.
    Dengan demikian tidak ada dalil yang menentang kebenaran salat tarawih 20 rakaat. Imam al-Qasthalani dalam kitab “Irsyad as-Sari” syarah dari Sahih Bukhari berkata, “Apa yang sudah diketahui, yaitu yang dipakai oleh “jumhur ulama” adalah bahwa bilangan/ jumlah rakaat salat tarawih 20 rakaat dengan sepuluh kali salam, sama dengan lima kali tarawih yang setiap tarawih empat rakaat dengan dua kali salam selain witir, yaitu tiga rakaat.
    Dalam Sunan al-Baihaqiy dengan isnad yang sahih sebagaimana ucapan Zainuddin al-Iraqi dalam kitab “Syarah Taqrib”, dari as-Sa’ib bin Yazid ra. katanya, “Mereka (para sahabat) melakukan salat pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab ra. pada bulan Ramadlan dengan 20 rakaat.
    Imam Malik dalam kitab “Al-Muwaththa” meriwayatkan dari Yazid bin Rauman katanya, “Orang-orang pada zaman Khalifah Umar bin Khattab ra. melakukan salat dengan 23 rakaat. Imam al-Baihaqi telah mengumpulkan kedua riwayat tersebut dengan menyebutkan bahwa mereka melakukan witir tiga rakaat. Para ulama telah menghitung apa yang terjadi pada zaman Umar bin Khattab sebagai ijmak.
    Perlu kita ketahui bahwa salat tarawih adalah dua rakaat satu salam, menurut madzhab Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Dalam hal ini madzhab Syafii berpendapat bahwa wajib dari setiap dua rakaat; sehingga jika seseorang melakukan salat tarawih 20 rakaat dengan satu salam, maka hukumnya tidak sah”.
    Madzhab Hanafi, Maliki, dan Hambali berpendapat bawa disunnahkan melakukan salam pada akhir setiap dua rakaat. Jika ada orang yang melakukan salat tarawih 20 rakaat dengan satu salam, dan dia duduk pada permulaan setiap dua rakaat, maka hukumnya sah tetapi makruh. Jika tidak duduk pada permulaan setiap dua rakaat maka dalam hal ini ada perbedaan pendapat dari para imam madzhab”.
    Adapun madzhab Syafii berpendapat bahwa wajib melakukan salam pada setiap dua rakaat. Jika orang melakukan salat tarawih 20 rakaat dengan satu salam, hukumnya tidak sah; baik dia duduk atau tidak pada permulaan setiap dua rakaat. Jadi menurut para ulama Syafiiyyah, salat tarawih harus dilakukan dua rakaat dua rakaat dan salam pada permulaan setiap dua rakaat.
    Adapun ulama madzhab Hanafi berpendapat bahwa jika seseorang melakukan salat empat rakaat dengan satu salam, maka empat rakaat tersebut adalah sebagai ganti dari dua rakaat menurut kesepakatan mereka. Jika seseorang melakukan salat lebih dari empat rakaat dengan satu salam, maka keabsahannya diperselisihkan. Ada yang berpendapat sebagai ganti dari rakaat yang genap dari salat tarawih, dan ada yang berpendapat tidak sah”.
    Para ulama dari madzhab Hambali berpendapat bahwa salat seperti tersebut sah tetapi makruh dan dihitung 20 rakaat. Sedangkan para ulama madzhab Maliki berpendapat bahwa salat yang demikian itu sah dan dihitung 20 rakaat. Orang yang melakukan salat demikian adalah orang yang meninggalkan kesunnahan tasyahhud dan kesunnahan salam pada setiap dua rakaat; dan yang demikian itu adalah makruh”.
    Rasulullah saw. bersabda:
    صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِــــــدَةً تُوْتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى . رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ عَنْ عَبْدِ اللّهِ ابْنِ عُمَرَ .
    “Salat malam itu dilakukan dua rakaat dua rakaat. Jika salah seorang dari kamu sekalian khawatir akan subuh, maka dia salat satu rakaat yang menjadi witir baginya dari salat yang telah dilakukan”.
    Hal yang menunjukkan bahwa bilangan salat tarawih 20 rakaat selain dari dalil-dalil tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Humaid dan at-Thabrani dari jalan Abu Syaibah bin Usman dari al-Hakam dari Muqassim dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah saw. telah melakukan salat pada bulan Ramadlan 20 rakaat dan witir.
    *Pemakalah:* Drs. K.H. Achmad Masduqi Machfudh

  30. Wah.. Astaghfirullah… Berani menghina Para ulama.. ahlussunnah.. SYaikh muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah.. Kalian jgn mencela beliau.. ana kasih sebuah kisah nih..” Ada seorang Guru yg mencela syaikh muhammad bin Abdul Wahab, smpe dia berkata “Kalo aq liat Bukunya pasti aku Bakar” Sang murid akhirnya punya ide.. Ia Ambil Kitab Ushul Tsalatsah ( Atsalatsatil Ushul)Karya Syaikh muhammad bin Abdul wahab.. Kemudian ia robek Cover Depannya..Sehingga hanya ada Isi kitab tersebut. Di berikanlah kitab tsb kpd Gurunya utk meminta di Koreksi. Ke esokan harinya muridnya bertanya.. Wahai Guru, bgaimana pndapatmu ttg kitab tsebut.. si Guru menjawab : Aku blum pernah menjumpai kitab se bagus ini.. Ini karya siapa? kemudian dijelaskannya bhwa buku tsb karya syaikh muhammad bin abdul wahab.. Alhamdulillah Guru tsb meminta maaf.. COba Bapak2 baca juga kitab tsb.. Smoga Alloh memberikan Hidayah dan Taufiknya Kpd Kita semua..

    • Rifai Ahmad // 10 Agustus 2010 at 6:44 am // Balas

      @Mas Adi, wahhh..mas adi ini ga baca dulu yaa..mana tulisan diatas yg menjelek2an Syaikh Muhammad bin abdul wahhab…??

    • @Mas Adi, diskusi ini ‘hidup’ tanpa harus ada cerita2 seperti itu lah. biasa aja. kebenaran tak pernah punya nama lain, hanya kebenaran. apakah itu bersala dari ibnu wahhab atau dari “musuh” ibnu wahhab. tolong dibaca diskusi diatas dengan lebih hati2 dan dengan kepala dingin..

  31. JGN ASAL KALAU NGOMONG BID’AH, SAUDARA TAU SEMUANYA ITU DARI SHOHABAT DAN TABIIN, SEKARANG ADA G QURAN PADA ZAMAN ROSULULLAH, JANGAN ASAL YAH KALAU CARI REFERENSI LIAT JADID ATAU QODIM YANG ENTE PAKE

  32. Our brother Mas Agay,, mungkin anda perlu membaca seluruh Comments pada artikel ini Lihat previous coment sejak halaman 1-2-3 sampai 4. Please. Baarokalloh.

  33. jangan asal ngong klo nanti akan bikin bengong…..

  34. Alkhamdulillah , baru kali ini sya ngilihat perdebatan yang sangat rasional, dewasa dan terukur, semuanya menggunakan sumber yang jelas tanpa ada yang ngotot. kayaknya memang enak klo sebuah perdebatan dilakukan dengan sangat objektif tanpa ada tendensi fanatik pada salah satu golongan. terimkasih pada kang rifai dan kang main, sya berharap banyak lagi masalah – masalah yang dibahas, sya betul betul belajar dari akang2 semua. dan saya bacanya adem dan tenang. mudah2an Allah memeberi manfaat ilmu yang banyak untuk akan2 semua. aminnn

  35. muchammad // 2 Juli 2014 at 8:51 am // Balas

    bagus,,,,

Leave a comment

Your email address will not be published.

*