لبسم الله الرحمن الرحيم
ألحمد لله الذى هد ينا لهذا وما كنا لنهتدى لولا أن هدينا الله * والصلاة والسلام على رسوله محمد وعلى أله وصحبه أجمعين * أما بعد :
KHUTBAH IFTITAH KITAB
Tanbihun.com – SYAIKH H. AHMAD RIFA’I BIN MUHAMMAD dalam memulai menyusun kitab ini dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyanyang. Segala puji hanya untuk Allah, sebagai Tuhannya orang-orang alam semesta. Allah mencintai orang orang mukmin dengan memberi ganjaran sorga kelak di akhirat. Seiring rahmat salam semoga berlimpah atas utusan Allah Nabi Muhammad Rasulullah. dan Juga lumeber kepada keluarganya kepada para sahabat pengikut setianya.
AMMABA’DU. Adapun setelah memuji ke-pada Allah dan salawat atas utusan-Nya, maka ini adalah kitab nadzam TADZKIYAH menerjemah ilmu Syara’ ke dalam bahasa Jawa, dari H. Ahmad Rifa’i ibni Muhammad, bermazhab Syafi’i/Syafi’iyah dan beraqidah Islamiyah model Thariqat Ahli Sunnah. Kitab tersebut menyatakan hukum hajat dan hasil menyembelih menurut agama. Diharapkan dapat mengikuti kebenaran Syara’ atas per tolongan Allah Ta’ala dan atas berkah bim-bingan Rasulullah. Hati bergantung kepada anugerah Allah, dan kitab nadzam Tazkiyah ini merupakan pegangan orang-orang awam (bodoh) dan orang-orang alim yang masih kurang ilmu agamanya. Itulah kitab Tarjamah Syara’, diharapkan semoga menjadikan sebab manfaat dunia dan akhirat.
Penyusunan kitab ini, diharapkan dapat lah memberi bimbingan kepada umat, agar dalam melaksanakan penyembelihan binatang tidak sekedar mengikuti tradisi salah yang berlaku di tengah masyarakat, yaitu tanpa lebih dulu mengetahui tentang rukun-rukun dan syarat-syaratnya menurut hukum Syar’i. Meskipun sah karena benar dalam praktik penyembelihannya. Akan tetapi kalau penyembelihanya itu tidak benar, maka hukumnya selain tidak sah juga termasuk perbuatan maksiat. Itulah sebabnya kenapa mempelajari ilmunya wajib didahulukan sebelum mengamalkannya.
Berbeda dengan muamalah menyembelih ialah ibadah. Di dalam beribadah memang disyaratkan ber-Nafsul Amri dan Dzannul Mukallaf, Nafsul Amri ialah pekerjaan yang sebenarnya dan Dzannul Mukallafi ialah persangkaan seorang mukalaf bahwa dia telah mencukupi praktik ibadahnya dengan ilmu. nafsul amri adalah amaliyah sedang dzannul mukalafi adalah ilmiyah.
Ilmu adalah imam dari pada amal dan amal itu yang mengikuti ilmunya. Sehingga bagi mukalaf yang beribadah tanpa Dzannul Mukalaf, tidak akan terhitung sah, meskipun benar dalam praktik Nafsul Amrinya. Seperti di dalam kitab Ri’ayatal Himmah, juz perta-ma halaman 125, Syaikh H. Ahmad Rifa’i menyatakan:
لِاَنّهُ يُشْتَرَطُ فِىْ الْعِبَادَاتِ مَا فِىْ نَفْسِ الْأَمْر ِوَظَنِّ اْلمُكَلَّفِ بِخِلَافِ اْلمُعَامِلَاتِ فَلَا يُشْتَرَطُ فِيْهَا ظَنُّ اْلمُكَلَّفُ بَلِ الشَّرْطُ مَا فِى نَفْسِ اْلَامْرِفَقَطٌ
“Karena sesungguhnya itu disyaratkan dalam ibadah Mafi Nafsil Amri dan“Dzannil Mukallafi. Berbeda dengan muamalah, maka tidak disyaratkan didalamnya itu Dzannul Mukallaf, tetapi syarat hanya dengan Nafsul Amri belaka.”
Maka itulah sebabnya mukalaf diwajibkan mencari ilmu syari’ah agar dalam melakukan segala sesuatu dapat termasuk tunduk kepada Allah baik praktik menyem-belih, memburu binatang liar atau perbuatan lainnya yang di harapkan manfaat dunia dan akhirat, mendapatkan pahala besar, sorga yang penuh kenikmatan tiada henti-henti-nya, muda tak pernah tua, hidup tak pernah mati, sehat tak penah sakit, kaya raya tak pernah miskin, memperoleh martabat tinggi, kekal abadi dan segala kebutuhannya semua terpenuhi. Maka sekali lagi mukalaf dihimbau supaya segala sesuatu yang dikerjakan itu hendaknya bertujuan hanya kepada Allah semata mengharap manfaat dunia dan akhi-rat, yakni dengan ilmu dan ibadah. Atau dengan kata lain dalam beribadah dan mua-malah harus dengan iman dan taqwa.(zid)
diambil dari : Buku Tarjamah Kitab Tazkiyah & Beberapa Keterangan Penting
Oleh : KH. Ahmad Syadzirin Amin
ibadah dan muamalah (62)





