Syarat Sahnya Wali Nikah

Pasal 38 Tentang Syarat Sahnya Wali

Bahwa syarat-syarat sahnya wali pengantin sebanyak ada tujuh perkara:

1.      Islam (beragama Islam). Tidak sah wali kafir selain kafir Kitabi.

2.      Aqil (berakal sehat). Tidak sah wali yang akalnya rusak.

3.      Baligh (sudah usia dewasa) tidak sah wali anak-anak.

4.      Lelaki. Tidak sah wali perempuan.

5.      Merdeka (bebas). Tidak sah wali hamba sahaya atau budak belian

6.      Mursyid. Tidak sah wali fasiq (safih)

7.      Ikhtiyar (pemilihan atau kehendak sendiri). Tidak sah wali dipaksa.

Pasal 36 Tentang Wali Mujbir Ghaib I

Apabila seorang wanita punya wali mujbir ghaib, bepergian sampai perjalanan dua marhalah (±86 km), maka dia tidak boleh tahkim, karena sesungguhnya yang berhak menjadi gantinya wali ghaib tersebut adalah Qadli (hakim). Apabila wali mujbir aqrab ghaib, bepergian diketahui kurang dari dua marhalah, tidak boleh dengan wali hakim, tetapi ia diperintahkan datang atau mewakilkan kepada orang lain yang dapat dipercaya hukum (adil).

Pasal 37 Tentang Wali Mujbir Ghaib II

Tatkala seorang waniya tidak punya wali mujbir, atau punya tetapi ia sedang bepergian atas perjalanan dua hari (masfatul) qashri), maka hakim yang menikahkannya. Demikian juga hakim yang menikahkan wanita itu, ketika wali mujbir aqrab tidak mau menikahkannya. Tidak boleh dengan wali ab’ad.

Ketika wali mujbir aqrab itu dalam keadaan gila, masih kanak-kanak, dalam keadaan ketakutan, atau bersifat fasiq, maka yang menikahkannya adalah wali ab’ad, yakni kakek dan seterusnya, bukan wali hakim.

Pasal 38 Tentang Wali Aqrab Bukan Mujbir Ghaib

Bahwa yang dikehendaki dengan wali aqrab yang gahib bepergian di atas ialah hanya wali mujbir. Dengan sesungguhnya saudara kandung. Ketika bepergian sampai perjalanan dua marhalah, yaitu perjalanan dua hari, dan bagi wanitanya mempunyai saudara sebapak ada di rumah, maka saudara sebapak itulah yang sah menikahkannya. Bukan qadli yang menikahkan, karena tempat kekuasaannya terambil ketika ghaibnya wali yang bepergian dua marhalah tersebut (karena bukan perwalian mujbir).

Dan demikian dalam semua tempat. Dengan berbeda hukum, ketika tak ada wali mujbir sedang bepergian sampai dua marhalah, maka jelas menikahkannya adalah Qadli, dan bukan wali Ab’ad, karena kekuasaan wali mujbir tetap kuat ketika dia bepergian. Demikian yang dikatakan oleh para ulama Jumhur Fuqaha dalam kitab karangannya.

Pasal 39 Tentang Wali Fasiq

Apabila diketahui wali fasiq merata di dalam suatu tempat maka sah menikah dengan wali fasiq karena kesulitan demikian atas ucapan yang Mu’tamad. Namun jika terdapat wali Aqrab itu fasiq, sedangkan wali Ab’ad itu adil, maka wajiblah berpindah ke wali Ab’ad.(zid).

___________________________________________________________

Terjemahan kitab : Tabyin al Ishlah li Muridi an-Nikah karangan Syaikh min ahli as-Syariah wa at-Thariqah wa al Haqiqah, al ‘Allamah Ahmad Rifa’i bin Muhammad Marhum bin Abu Syuja’

3 Comments on Syarat Sahnya Wali Nikah

  1. askum..sya nk brtnya..cye hndak bkhwin tp cye ad mslah ngn keluarga…lgpun ayah cye tidak pernah beri nafkah at cye…boleh tak kalau cye pakai wali hakim..

  2. ibn khasbullah // 29 April 2013 at 7:28 am // Reply

    Nadia yang terhormat, coba usahakan dulu beberapa kali untuk meminta restu pada orang tua. Kalau perlu minta bantuan kiyai atau sesepuh yang punya karisma untuk membujuk ayahanda. Atau paling tidak
    ayahannda diminta persetujuan tertulis. Bila tetap menolak, barulah boleh pakai wali hakim. Semoga niat dan maksud anda diridhoi Allah. Amin.

  3. assalamualaikum wr wb

    bpk. saya mau menanyakan dasar hukum anak tidak sah menjadi saksi. apa dasar hukumnya yah?

Leave a comment

Your email address will not be published.

*