Targhib Ramadhan 1432H

Hosting Unlimited Indonesia


ramadhanTanbihun – Bulan ramadhan tidak lama lagi akan datang menjemput kita, suatu bulan dimana rasul SAW pernah bersabda yang artinya: “Sesungguhnya telah datang kepadamu bulan yang diberkati, dimana Allah telah meng-fardhukan ke atasmu puasa; dibuka pintu-pintu syurga dan ditutupnya pintu-pintu neraka, serta ditambatkan padanya syaitan-syaitan.Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan[1], sesiapa yang dihalang kebaikannya, sebenarnya dia telah dihalang kebaikan yang banyak.[Hadis ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad, dan An-Nasa’I dari Abu Hurairah].

Arti Puasa

Secara bahasa yaitu menahan diri dari melakukan sesuatu seperti makan, minum dan berbicara yang tidak manfaat.[2] Hal ini dijelaskan dalam al-quran surah Maryam ayat 26, yaitu:

إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

“Sesungguhnya aku bernazar diam membisu (puasa tidak berbicara) karena Allah yang bersifat Rahman (mengasihi)”.

Adapun secara istilah yaitu menahan diri dari segala perkara yang boleh membatalkannya dari terbitnya fajar sehingga terbenamnya matahari dengan niat puasa. Puasa ramadhan telah difardhukan pada bulan sya’ban tahun ke-2 Hijrah Nabi SAW, dimana umat-umat nabi dahulu pun sama-sama telah diwajibkan berpuasa, hal ini diterangkan dalam surah al-baqarah ayat 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu untuk berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang dahulu daripada kamu, supaya kamu bertakwa.

Tetapi, kewajiban berpuasa pada bulan ramadhan belum disyariatkan lagi waktu itu, persamaan antara umat nabi SAW dengan nabi-nabi sebelumnya hanya dari segi pensyari’atannya saja, yang kemudian Allah melalui firmannya masih dalam surah yang sama ayat 185:

 

 

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ

الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ

بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil).Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah dia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”

 

Bagaimana Kita Menyambutnya?

Rasullullah SAW sangat bergembira dengan datangnya bulan ramadhan, beliau menganjurkan kepada para sahabat supaya kegembiraan itu diisi dengan ketaatan yang penuh untuk menghiasinya. Maka dari itu, banyak sekali hadis yang menunjukkan kelebihan dan keutamaan bulan yang suci ini dengan berbondong-bondong untuk memperbanyak melakukan kesalehan ritual dan sosial.

Hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, Bukhari dan Muslim[3], rasul SAW bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa ramadhan dengan penuh keimanan ihtisab (mengharap ridha-Nya), niscaya akan diampunkan dosa-dosanya yang terdahulu”.

Nabi SAW bersabda:

إن للصائم عند فطره لدعوة ما ترد

“Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa, disaat berbuka(dari puasanya),doanya mustajab yang tidak di tolak”.[HR. Ibnu Majah dan al-Hakim dari Ibnu Umar]

 

Rasul SAW bersabda:

الصيام نصف الصبر , وعلى كل شيئ زكاة , وزكاة الجسد الصيام

“Puasa adalah separuh kesabaran, dan diatas tiap-tiap sesuatu memiliki zakat, zakatnya jasad adalah puasa” [HR. Imam Baihaqi di dalam al-Syu’aib dari Abu Hurairah].

Ibnu Mandah di dalam ‘Amali, meriwayatkan dari Ibnu Umar al-Dailami dari Abdullah Ibnu Abu Aufa[4] bahwa nabi SAW bersabda:

نوم الصائم عبادة، وصمته تسبيح، ودعاؤه مستجاب، وعمله مضاعف

“Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya bertasbih, doanya dimakbulkan dan amalannya di lipat gandakan”.

Rasul SAW bersabda:

 

كل عمل إبن أدم يضاعف , الحسنة بعشر أمثالها إلى سبعمائة ضعف إلى ماشاء الله , قال الله :

إلاَّ الصوم فإنه لي وأنا اجزي به , يدع شهوته وطعامه من أجلي , للصائم فرحتان :

فرحة عند فطره وفرحة عند لقاء ربه , لخلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك

“Setiap amalan anak adam akan digandakan, satu kebaikan dengan sepuluh kali lipat ganda sehingga sampai 700 kali ganda, sampai terserah sesuai kehendak Allah SWT, Dia berfirman: kecuali puasa, maka ia sesungguhnya bagi-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya, meninggalkan nafsu dan makanan karena Aku, baginya kelak dapat dua kegembiraan: gembira ketika berbuka dan gembira ketika bertema dengan Tuhan-Nya. Sesungguhnya bau mulutnya orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau kasturi”. [HR. Imam Ahmad, Bukhari, al-Nasa’I dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah].

Gembira adalah perasaan senang dihati disebabkan karena keinginan kepada sesuatu yang ia inginkan didapatnya, seperti ingin membeli rumah, kereta (mobil) baru, atau sepasang suami istri yang kini menanti cahaya mata. Apabila keinginannya terpenuhi; misalnya lahirlah seorang baby mungil yang sudah lama ditunggu maka kegembiraan yang akan menyelimuti dalam kehidupannya dengan hadirnya cahaya mata itu.

Dimanakah kegembiraan orang yang berpuasa, dimana sejak fajarnya matahari sehingga terbenamnya mampu untuk menahan dari segala yang membatalkan puasa (makan, minum serta tidak berhubungan badan di siang hari)?

Imam Ibnu Hajar menyatakan bahwa kegembiraan yang dimaksudkan adalah gembira mampu menahannya dan tidak berubah pendiriannya selama satu hari berpuasa, inilah satu kegembiraan tahapan yang awal. Karena selain itu, yang terpenting adalah gembira karena sempurna sudah ibadahnya[5], karena apabila sempurna ibadahnya orang yang beriman adalah satu kebaikan. Kalau tidak sempurna maka semua ibadah yg kita lakukan tidak lengkap. Ibadah semuanya untuk kita, kecuali puasa, sebagaimana Allah berfirman dalam hadis Qudsi-Nya:

بعشر وأزيد , والسيئة واحدة وامحوها , والصوم لي وأنا أجزي به , الصوم جنة من عذاب

الحسنة الله كمجن السلاح من السيف

“Satu kebaikan dengan sepuluh kali ganda dan ditambah, adapun satu kejahatan hanya dibalas satu dan mungkin akan Aku hapuskan, dan puasa hanyalah untuk-Ku, Aku-lah yang akan membalasnya, puasa sebagai perisai dari azab Allah sebagaimana penyangga, sebagaimana perisai dari mata pedang”. [HR. Al-Baghawi dari seorang lelaki di kalangan sahabat].

Apabila sempurna ibadahnya, maka Allah akan memberikan balasan (sekiranya kita memiliki kekhilafan atau dosa pada akhirnya mendapatkan maghfirah (ampunan) dan selamat dari azab-Nya), sebagaimana dijelaskan dalam Surat al-ahzab ayat 35 dijelaskan[6]:

 

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ

وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ

وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut(nama)Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”.

 

Lafadz أَعَدَّ dalam ayat diatas adalah fi’il madhi (kata kerja lepas/masa lampau), dimana Allah SWT telah menyediakan, maksudnya tinggal menunggu siapa yang akan mendapatkannya, ibarat sebuah perlumbaan (musabaqah), hadiahnya sudah ada dan sudah disiapkan, tinggal menunggu kepada siapa hadiah itu akan diberikan. Bagi orang yang berpuasa (lelaki ataupun perempuan) bergembira karena akan mendapatkan ampunan dan balasan yang besar.

Balasan yang besar untuk mereka yang berpuasa adalah masuk ke surga melalui pintu yang khas (Al-Rayyan), dimana mereka tidak akan haus dan dahaga selama-lamanya, kalaupun seandainya minum di surga bukan karena rasa dahaga melainkan ingin menikmati minuman dalam surga kelak.

Rasul SAW bersabda:

عن سهل رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال إن في الجنة بابا يقال له الريان ,

يدخل منه الصائمون يوم القيامة لا يدخل منه أحد غيرهم يقال أين الصائمون ؟

فيقومون , لا يدخل منه أحد غيرهم فإذا دخلوا أغلق فلم يدخل منه أحد

“Sesungguhnya dalam syurga terdapat sebuah pintu yang dinamakan al-Rayyan, orang-orang yang berpuasa yang akan memasuki pintu itu kelak pada hari kiamat, bukan yang lainnya, dimanakah orang yang berpuasa? Kemudian mereka masuk, dan apabila sudah di tutup maka tiada siapa lagi yang berhak memasukinya”. [HR. Imam Ahmad, Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Sa’ad].

Tingkatan puasa, Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ulum al-Diin membagi kepada:

1. Puasa Awam

Jenis puasanya orang-orang peringkat ini, mereka tetap meninggalkan makan dan minum, tetapi matanya masih melihat kepada yang tidak dibenarkan dalam syara’ , dan masih berjalan kesana kemari serta tidak banyak berdzikir (mengingat Allah) melainkan sedikit.

2. Puasa Khas

Golongan ini selain meninggalkan makan dan minum, anggota badannya juga berpuasa (mata dan telinganya tidak untuk melihat dan mendengarkan yang tidak membawa kemanfaatan dalam ibadahnya). Dengan kata lain, berpuasa secara jasmani dan rohani.

3. Puasa Khas dari yang Khas

Golongan VVIP inilah yang berpuasa (menahan) daripada getaran-getaran yang ada dalam hatinya. Berpuasa daripada selain Allah, yang ada dalam hatinya hanya Allah semata, menahan dirinya daripada mengingat hal-hal selain Allah.

 

Semoga kesempatan ramadhan tahun ini, bisa menjadikan kita sebagai manusia yang mampu memanfaatkan moment tarbiyah (pendidikan), sehingga kita menjadi pribadi yang mampu mengekalkan amalan-amalan dalam setiap langkah dan aktivitas kita.

 

Wallahu A’lam…

Shollallahu ‘Ala Muhammad Wa Aalihi

Ibnu Dahlan El-Madary

Seri Kembangan, Sg. Besi, Kuala Lumpur

13 Sya’ban 1432 H/15 July 2011: 03:30AM


REFERENSI :

  1. Abu Umar Usamah Ibn al-Utaya al-‘Atiby, 1427 H

  2. Al-Qurtubi, Al‐Jami’ Li Ahkam al‐Quran
  3. Ibnu Hajar al-Haitami, Ithaf Ahl al‐Islam Bikhususiyat al‐Siyam, Maktabah Toyyibah, Madinah al-Munawwarah, Cetakan I: 1410H/ 1990 M
  4. Ibnu Munzir, Lisan al‐`Arab, Daar al-Hadis, 2003M/1423H
  5. Mustafa al‐Khin, Mustafa al‐Bugha, Ali al‐Sarbaji,Fiqih Manhaji, Cetakan Pertama Mei 2005. Jabatan Mufti Kerajaan Negeri Sembilan
  6. Maktabah al-Syamilah, version 3.5
  7. Sayyid Qutub, Fi Zilal al‐Quran
  8. Tuhfah al‐Kiram Syarh Bulugh al‐Maram. Cetakan Kedua Muharram 1423 H. Dar al‐Da`ie.
  9. Wahbah al-Zuhaili Fiqh al‐Islami wa Adillatuhu, Daar al‐Fikr al‐Mu`asir

Leave a comment

Your email address will not be published.

*