بسم الله الرحمن الرحيم ÷ الحمد لله الذي نعترف بجلالته وعظمة قدره ÷ أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ÷ الذي أمرنا باستنباط كل شئ من أصوله ÷ فقال عز من قائل (وإذا جاءهم أمر من الأمن أو الخوف أذاعوا به ولو ردوه إلى الرسول وإلى أولي الأمر منهم لعلمه الذين يستنبطونه منهم ولولا فضل الله عليكم ورحمته لاتبعتم الشيطان إلا قليلا ÷ وأشهد أن محمدا رسول الله ناشر الحق بالحكمة ÷ اللهم صل وسلم وبارك على من أولاه الله تعالى بنعمة النبوة ÷ سيدنا ومولانا محمد صلى الله عليه وسلم وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة ÷ لا حول ولا قوة إلا بالله ÷ أما بعده : اللهم أخرجنا من ظلمات الوهم وأكرمنا بنور الفهم وافتح علينا بمعرفة العلم وأحسن أخلاقنا بالحلم واجعلنا من أهل العلم والخير وسهل لنا أبواب فضلك وانشر علينا من خزائن رحمتك يا أرحم الراحمين ÷
PENDAHULUAN
Ilmu yang harus dipelajari secara ‘aini adalah tauhid, fikih dan tasawuf, tauhid sudah dibicarakan oleh mutakallimin yang pada intinya tertuju pada ‘aqaid khomsin. Sedangkan tasawuf dirumuskan dalam sifat mahmudah dan sifat madzmumah, yang keduanya dianggap sebagai dasar utama dalam memperoleh ilmu tersebut. Adapun fikih inilah yang sulit untuk dikhususkan pada bagian tertentu, karena bagian-bagiannya sangat banyak dan tidak bisa diperkecil atau dipersingkat.
Sebagian ulama telah berusaha menyederhanakan ilmu fikih sedemikian rupa, namun hasilnya banyak mengundang kontroversial dan polemik yang berkepanjangan. Syekh Abi Sujak misalnya, menyederhanakan fikih hanya terkupas dalam kitabnya taqrib, namun hal ini dikomentari panjang oleh Al-Baijuri. Imam Nawawi ad-Dimasyqi contohnya, meringkas bab fikih pada kitab beliau al-Minhaj, tetapi diperpanjang pula oleh Imam Zakariyya Al-Anshori dalam Fathul Wahabnya.
Namun sekalipun Fikih sulit untuk disederhanakan, bukan berarti dia sulit untuk dipahami. Hanya butuh keterampilan dan kesabaranlah dalam memahami ilmu tersebut, keterampilan berarti pandai menggunakan dan mengasah otak untuk memikirkan bagaimana secara pintas dapat mencakup bagian-bagian (furu’) ilmu tersebut. Sehingga Imam As-Syafi’i pun menyebutkan, “Ilmu yang wajib dipelajari hanyalah ilmu hal”, yang berarti kewajiban seseorang mencari fikih itu hanya yang tertuang dalam kehidupan sehari-harinya.
Upaya Merumuskan Fikih
Upaya keterampilan ulama dalam merumuskan fikih pun terlihat begitu besarnya, di antara mereka ada yang mengumpulkan fikih dalam bentuk kaidah-kaidah, semisal Imam Suyuti dalam karyanya Asybah wa an-Nadzoir. Ada pula yang menyimpulkan fikih dengan bentuk dasar dan pengambilannya (baca: istinbatnya), seperti Imam Haromain dalam Waroqotnya. Itu semua mereka lakukan demi memperkaya keilmuan fikih dan merumuskannya hingga mudah untuk dipahami.
Usul Fikih
Berbicara tentang Usul Fikih itu begitu luasnya, sehingga tak pelak kalau Al-Ghozali membahas ilmu ini dengan panjang lebar dalam kitabnya Al-Musytashfa. Secara perkembangannya (dapat pembaca lihat dalam karya saya “Tanmiyatul Uqul fi Tarikhil Usul“), ilmu Usul Fikih ini dimulai dari rumusan As-Syafii dalam karya beliau Ar-Risalah, yang menjadi induk dan rujukan dalam pembicaraan ilmu tersebut. Kemudian disusul pula generasi setelahnya hingga ke masa kini.
Kitab-kitab Usul Fikih
Banyak pula kitab-kitab yang membicarakan ilmu ini yang telah beredar di Indonesia, di antaranya: Al-Waroqot, Al-Musytashfa, Al-Luma’, Ghoyat al-Wusul, Jam’u al-Jawamik, Usul Fikih Wahbah Zuhaili, Usul Fikih Abdul Wahab Khollaf, dan karya-karya lain yang kesemuannya hampir dengan menggunakan bahasa Arab, dan sedikit sekali karya-karya ilmu ini yang menggunakan bahasa Indonesia, sebab ilmu ini memang membahas tentang sesuatu yang digunakan dalam bahasa Arab, sehingga akan lebih mudah kalau penyampaiannya dengan bahasa Arab pula.
Usul Fikih Bahasa Indonesia
Namun bukan berarti tidak ada kesempatan bagi yang belum bisa berbahasa Arab untuk mempelajari ilmu yang digunakan dasar fikih ini, oleh sebab itu penulis berharap semoga dengan terbitnya buku ‘HAUNAMMA’ ini dapat memperbanyak karya ilmu tersebut yang dituangkan dalam bahasa Indonesia. Sengaja saya menggunakan nama ‘HAUNAMMA’ untuk judul buku, karena harapan saya semoga kehadiran buku ini benar-benar membawa kemudahan dalam memahami ilmu Usul Fikih sebagai karya rumusan ulama terdahulu.
Sejatinya buku ini hanya menerjemahkan dan menyimpulkan kitab-kitab yang telah dibuat oleh ulama dan kesimpulan yang telah dirumuskan oleh intelektual ilmu tersebut, oleh karena itu bila ada kesalahan dan kekeliruan dalam pembahasan nanti, itu semua semata-mata karena kebodohan dan kedangkalan pemikiran saya terhadap pembicaraan dalam ilmu ini.
Harapan saya semoga buku ini dapat bermanfaat kepada orang-orang yang mau mempelajarinya dengan penuh kesabaran dan keinginan untuk benar-benar memahami ilmu Usul Fikih ini dan menjadikan salah satu penyebab saya untuk mendapatkan ridho-Nya. Demikianlah pendahuluan yang dapat saya sampaikan, semoga pembaca dapat memahami dengan penuh kesabaran dalam menggapai pelajaran dan ilmu-ilmu di dalam buku ini.
Talun, 07 April 2011 M.
M. A. Zuhurul Fuqohak


