Segala sesuatu itu tergantung pada maksudnya

Oleh. Ahmad Saifullah

الامور بمقاصدها

“Segala sesuatu itu tergantung pada maksudnya.”

Contoh:

Dikalangan Rifaiyah masih seringkali terdengar pelarangan terhadap gambar. Dengan ketentuan bahwa gambar itu menyerupai makhluknya Allah yang bernyawa. Maka apabila kedapatan gambar gunung, pepohonan tidak termasuk dalam larangan ini. Hal tersebut menurut penulis adalah rancu. Pertama apakah benar yang dimaksud makhluk bernyawa itu cuma hewan dan manusia. Padahal secara biologis dapat ditandai bahwa gerak semua makhluk Allah itu merupakan bukti bahwa ia mempunyai nyawa. Tumbuhan yang berbuah, mengeluarkan daun, akarnya menembus tanah mustahil apabila ia tidak bernyawa. Al-Quran sendiri pernah menyatakan, tentang tanggapan ketidaksanggupan gunung untuk menerima tawaran menjadi khalifah fi al-ardli. Pepohonan, dan beberapa makhluk lain juga menolak tawaran tadi. Itu semua menurut penulis adalah bukti bahwa mereka mempunyai nyawa. Wong bisa diajak komunikasi, ya… tentunya punya nyawa. Maka kalau alasannya adalah gambar tidak bernyawa, kira-kira kita harus lebih dulu mendata apa dan siapa yang bernyawa dan tidak. Apa pengetahuan kita mampu. Mustahilkan?

Selanjutnya gambar sering diharamkan keberadaannya, padahal menurut penulis tidak semua gambar itu munkar. Gambar juga bisa berarti sebagai perantara silaturahmi manusia. Misalnya saja ada orang tua dan anaknya berpisah sampai puluhan tahun. Suatu ketika ada suruhan orang tua untuk menemui anaknya di pulau seberang. Kira-kira sang anak kangen tidak dengan kabar orang tuanya, pasti sang anak akan menggebu-gebu menanyakan perihal orang tuanya. lebih-lebih ketika orang tersebut membawa beberapa lembar foto. Bagaimana perasaan si anak, apakah ia merasa sangat kangen, tentunya kalau secara psikologis anak itu normal, ia akan segera mengambil foto, maka ia akan segera mengetahui sebagian kabar. Maksudnya untuk mengetahui perangai apakan sudah tua atau belum, apakah sakit atau tidak, apakah organ tubuhnya masih lengkap, atau jangan-jangan udah buntung. Dll. Dalam konteks diatas, foto berkedudukan sebagai alat silaturahmi layaknya HP, Internet, dll.

Anda semua pernah tho… merasa kangen terhadap seseorang yang berada jauh dari persemayamanmu. Apa yang kau lakukan. Biasanya kalau kamu menyimpan foto, maka akan segera mengambil dan memandanginya, bahkan kadang menciuminya. Bagaimana tidak bisa dikatakan sebagai alat silaturahmi, kalau foto sendiri merupakan penawar kangen, sedangkan kangen merupakan organ dari kasih sayang (cinta). Silaturahmi itu kan jalinan kasih sayang sesama muslim, sesama orang beriman, dan sesama makhluk. Anda semua bisa telusuri kata dasar dari rahmi yang berarti kasih sayang. Dan silaturahim adalah jalinan kasih sayang. Kalau anda tidak percaya bahwa foto adalah perantara silaturahmi, tolong bawakan foto bapakmu, kasihkan padaku, terus aku akan menginjak-injak foto itu. Bagaimana perasaanmu, jengkelkan? Anda mungkin dengan reflek akan menerjangku. Itulah perasaan cinta kalian semua kepada orang tua kalian. Dan foto mewakili kehadiran orang tua yang sesungguhnya.

Maka sangat jelas apabila siapapun memotret (al-umuru) seseorang dengan tujuan menjalin silaturahmi (maqashidiha), maka bagi penulis adalah halal dan sah. Maksud lain dari pengambilan gambar adalah silaturahmi dalam pengertian menyambung setiap generasi. Generasi sekarang tidak akan mempunyai gambaran tentang siapa kakek, guru-gurunya, dll. Karena tidak ada perantara foto yang bisa bercerita tentang rentang masa generasi sebelumnya. Foto juga dijadikan data untuk menyusun kurikulum sekolahan Rifaiyah (kerifaiyahan), penyusunan skripsi, tesis, disertasi. Karena tanpa foto kevalidan datanya akan selalu ditanyakan oleh penguji. Berarti foto mempunyai satu nilai penting lagi, yaitu menjadi perantara syiar ajaran KH. Ahmad Rifai, karena ajaran-ajaran beliau dikupas secara ilmiah di berbagai pergutuan tinggi, kemudian dipublikasi dalam bentuk buku. Lha saya takutnya, kalau orang-orang yang melarang foto itu dikatakan telah memotong tali silaturahmi (qoth’u rokhimin), dan memotong syiar ajaran KH. Ahmad RIfai, karena telah melarang keberadaan perantara silaturahmi (foto). Kan jadi berabe.

Qoidah diatas menurut penulis berkaitan erat dengan Hadist Nabi yang mengutarakan perihal niat. Hadist ini sangat masyhur, karena termasuk dalam kategori hadist 40 yang dianjurkan untuk dihafal bagi setiap muslim-muslimah. Bahkan beberapa kitab hadis memasang hadis niat ini diurutan awal.

(إنما الأعمال بالنية، وإنما لامرئ ما نوى، فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله، فهجرته إلى الله ورسوله، ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها، أو امرأة يتزوجها، فهجرته إلى ما هاجر إليه).

“Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap perkara, tergantung pada apa yang diniatkannya. Apabila hijrahnya (sahabat) bertujuan untuk Allah dan Rasulnya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasulnya, dan apabila hijrahnya untuk dunia, maka ia akan mendapatkan apa yang ditujunya, dan apabila hijrahnya karena wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya untuk apa yang dituju.”

5 Comments on Segala sesuatu itu tergantung pada maksudnya

  1. penggunaan kaidah “segala sesuatu tergantung tujuannya” tentu saja tidak dapat diterapkan pada semua hal. karena juga harus dimaklumi bahwa “niat yang baik tidak dapat melegalkan suatu yangaslinya bathil”.
    amal kan disamping tujuan juga cara. sejauh yang saya tahu amal yang diterima adalah yang tujuannya semata karena Allah (dengan berlandaskan pada hadits yang telah disebutkan), dan juga bersesuaian dengan tuntunan dari nabi aaw. dalam hal agama secara khusus tetntu saja tertolak semua yang tidak dijelaskan oleh syari’ (siapa yang membuat amalan yang tidak berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak, setiap bid’ah adalah sesat), dan jika itu terkai dengan amalan duniawi tentu semuanya boleh kecuali yang dilarang oleh syariat (kamu sekalian lebih mengetahui dalam urusan kalian).
    secara khusus, dalam masalah gambar para ulama mempunyai intepretasi yang beragam. akan sangat bagus jika penulis menyertakan pendapat-pendapat tersebut secara lengkap kemudian membantah dengan dali-dalil yang juga kuat. sehingga penolakan ataupun penerimaan terhadap pendapat tersebut menjadi lebih meyakinkan.
    wallahu a’lam

  2. ibn khasbullah // 15 Juli 2009 at 11:59 am // Balas

    Saya setuju banget sama kang Maspem. Jangan sampai kita terjebak kepada kaedah dirgomo:”Tujuan menghalalkan cara”. Menurut saya untuk masalah foto, lebih tepat memakai kaedah: “AL- umuur yaduuru alaa illatihaa wujudan wa’adaman” atau: “Syara’ mengku wadho’ “, sesuai ajaran KHA Rifa’i:
    Foto menjadi wajib untuk syarat pergi haji, ktp, mencari buronan, dll.
    Foto menjadi sunnah kalau bisa membantu hukum syara’, misal mana hewan halal, mana hewan harom, bahan pelajaran kedokteran, Foto KHA.Rifa’i. dll.
    Foto menjadi harom atau musyrik bila disembah- sembah/ dikultuskan/ foto porno, dll.
    Foto makruh kalau buang- buang uang/ mubadzir.
    Foto mubah misal foto bangunan, jembatan, mesjid, tumbuhan, dll asal tidak mubadzir.
    Karena Nabi pernah tidur berbantalkan bantalan yang bergambar hewan, maka maksuudut tasyri’ larangan menggambar hewan adalah: “Saddan lidzarii’atil kufri” = menutup pintu- pintu kekufuran/kemusyrikan.

  3. komentar yang mencerahkan….sayang baru saya baca….matur nuwun atas jalan lurus yang kalian berikan…semoga dibaca orang-orang yang sempat gegabah melarang-larang ketika saya pegang foto untuk meliput

  4. سبحان الله ….. هذا ما شاء الله

  5. putri kamil // 17 Oktober 2012 at 4:26 pm // Balas

    kalo bole nerima saran dari saya

    saya mau pas d tulis’and arab.ny ada tanda bacanya

Leave a comment

Your email address will not be published.

*