Tanbihun Online

Segala sesuatu itu tergantung pada maksudnya

Segala sesuatu itu tergantung pada maksudnya

Segala sesuatu itu tergantung pada maksudnya
April 27
01:04 2009

Oleh. Ahmad Saifullah

الامور بمقاصدها

“Segala sesuatu itu tergantung pada maksudnya.”

Contoh:

Dikalangan Rifaiyah masih seringkali terdengar pelarangan terhadap gambar. Dengan ketentuan bahwa gambar itu menyerupai makhluknya Allah yang bernyawa. Maka apabila kedapatan gambar gunung, pepohonan tidak termasuk dalam larangan ini. Hal tersebut menurut penulis adalah rancu. Pertama apakah benar yang dimaksud makhluk bernyawa itu cuma hewan dan manusia. Padahal secara biologis dapat ditandai bahwa gerak semua makhluk Allah itu merupakan bukti bahwa ia mempunyai nyawa. Tumbuhan yang berbuah, mengeluarkan daun, akarnya menembus tanah mustahil apabila ia tidak bernyawa. Al-Quran sendiri pernah menyatakan, tentang tanggapan ketidaksanggupan gunung untuk menerima tawaran menjadi khalifah fi al-ardli. Pepohonan, dan beberapa makhluk lain juga menolak tawaran tadi. Itu semua menurut penulis adalah bukti bahwa mereka mempunyai nyawa. Wong bisa diajak komunikasi, ya… tentunya punya nyawa. Maka kalau alasannya adalah gambar tidak bernyawa, kira-kira kita harus lebih dulu mendata apa dan siapa yang bernyawa dan tidak. Apa pengetahuan kita mampu. Mustahilkan?

Selanjutnya gambar sering diharamkan keberadaannya, padahal menurut penulis tidak semua gambar itu munkar. Gambar juga bisa berarti sebagai perantara silaturahmi manusia. Misalnya saja ada orang tua dan anaknya berpisah sampai puluhan tahun. Suatu ketika ada suruhan orang tua untuk menemui anaknya di pulau seberang. Kira-kira sang anak kangen tidak dengan kabar orang tuanya, pasti sang anak akan menggebu-gebu menanyakan perihal orang tuanya. lebih-lebih ketika orang tersebut membawa beberapa lembar foto. Bagaimana perasaan si anak, apakah ia merasa sangat kangen, tentunya kalau secara psikologis anak itu normal, ia akan segera mengambil foto, maka ia akan segera mengetahui sebagian kabar. Maksudnya untuk mengetahui perangai apakan sudah tua atau belum, apakah sakit atau tidak, apakah organ tubuhnya masih lengkap, atau jangan-jangan udah buntung. Dll. Dalam konteks diatas, foto berkedudukan sebagai alat silaturahmi layaknya HP, Internet, dll.

Anda semua pernah tho… merasa kangen terhadap seseorang yang berada jauh dari persemayamanmu. Apa yang kau lakukan. Biasanya kalau kamu menyimpan foto, maka akan segera mengambil dan memandanginya, bahkan kadang menciuminya. Bagaimana tidak bisa dikatakan sebagai alat silaturahmi, kalau foto sendiri merupakan penawar kangen, sedangkan kangen merupakan organ dari kasih sayang (cinta). Silaturahmi itu kan jalinan kasih sayang sesama muslim, sesama orang beriman, dan sesama makhluk. Anda semua bisa telusuri kata dasar dari rahmi yang berarti kasih sayang. Dan silaturahim adalah jalinan kasih sayang. Kalau anda tidak percaya bahwa foto adalah perantara silaturahmi, tolong bawakan foto bapakmu, kasihkan padaku, terus aku akan menginjak-injak foto itu. Bagaimana perasaanmu, jengkelkan? Anda mungkin dengan reflek akan menerjangku. Itulah perasaan cinta kalian semua kepada orang tua kalian. Dan foto mewakili kehadiran orang tua yang sesungguhnya.

Maka sangat jelas apabila siapapun memotret (al-umuru) seseorang dengan tujuan menjalin silaturahmi (maqashidiha), maka bagi penulis adalah halal dan sah. Maksud lain dari pengambilan gambar adalah silaturahmi dalam pengertian menyambung setiap generasi. Generasi sekarang tidak akan mempunyai gambaran tentang siapa kakek, guru-gurunya, dll. Karena tidak ada perantara foto yang bisa bercerita tentang rentang masa generasi sebelumnya. Foto juga dijadikan data untuk menyusun kurikulum sekolahan Rifaiyah (kerifaiyahan), penyusunan skripsi, tesis, disertasi. Karena tanpa foto kevalidan datanya akan selalu ditanyakan oleh penguji. Berarti foto mempunyai satu nilai penting lagi, yaitu menjadi perantara syiar ajaran KH. Ahmad Rifai, karena ajaran-ajaran beliau dikupas secara ilmiah di berbagai pergutuan tinggi, kemudian dipublikasi dalam bentuk buku. Lha saya takutnya, kalau orang-orang yang melarang foto itu dikatakan telah memotong tali silaturahmi (qoth’u rokhimin), dan memotong syiar ajaran KH. Ahmad RIfai, karena telah melarang keberadaan perantara silaturahmi (foto). Kan jadi berabe.

Qoidah diatas menurut penulis berkaitan erat dengan Hadist Nabi yang mengutarakan perihal niat. Hadist ini sangat masyhur, karena termasuk dalam kategori hadist 40 yang dianjurkan untuk dihafal bagi setiap muslim-muslimah. Bahkan beberapa kitab hadis memasang hadis niat ini diurutan awal.

(إنما الأعمال بالنية، وإنما لامرئ ما نوى، فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله، فهجرته إلى الله ورسوله، ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها، أو امرأة يتزوجها، فهجرته إلى ما هاجر إليه).

“Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap perkara, tergantung pada apa yang diniatkannya. Apabila hijrahnya (sahabat) bertujuan untuk Allah dan Rasulnya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasulnya, dan apabila hijrahnya untuk dunia, maka ia akan mendapatkan apa yang ditujunya, dan apabila hijrahnya karena wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya untuk apa yang dituju.”

Tags
Share

About Author

admin

admin

Syaikh Ahmad Rifa'i: Lumakuho siro kabeh nejo ing Allah,Tingkahe dangan lan abot sayah,Tingkahe sugih miskin gagah,Tuwin loro waras susah dalam manah. Follow @tanbihun_com

Related Articles

Hubungi Kami:

Admin1:
Admin2:
Admin3:
Admin4:
Admin5:
Admin6:

Home Office :
Jl.Napak Tilas No.2 Cepokomulyo Gemuh
Kendal Jawa Tengah 51356
Email: admin@tanbihun.com
Phone: +62 85781738844

Who's Online

25 visitors online now
Anda mungkin juga menyukaiclose

Switch to our mobile site