Aktifitas Terbaru

Penulis Topik: Lakukanlah Yang Terbaik Sa'at Ini Seolah Tiada Kesempatan Lagi  (Dibaca 199 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline saputra nanank

  • Global Moderator
  • Khowasul Khowas
  • *****
  • Tulisan: 391
  • Reputasi: 24
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • saputra19.wordpress.com
Lakukanlah yang terbaik untuk hari ini dan lakukanlah yang paling baik seolah hidup kita hanya hari ini...
                         
Diantara tiga pertanyaan yang wajib dijawab oleh setiap makhluk yang mengaku dirinya manusia adalah “Apa yang seharusnya kita lakukan di dunia?”. Dua pertanyaan lainnya adalah “Darimana kita berasal?” dan “Kemana kita setelah kita mati?”. Apa yang seharusnya kita lakukan di dunia? Belajarkah? Tentu ini adalah jawaban bagi para pelajar. Mencari kekayaankah? Ini mungkin jawaban dari mahasiswa yang baru lulus kuliah. Beribadahkah? Nah, kalau jawaban ini biasanya terlontar dari kakek-kakek yang rutin sholat berjamaah di mesjid. Tidak ada yang salah dengan jawaban tersebut, karena memang belajar, beribadah, dan mencari kekayaan adalah perintah Allah untuk dikerjakan hambanya selama di dunia. Tapi, yang ingin saya soroti dalam perkara ini adalah bagaimana kita menentukan porsi dari mencari hal-hal yang sudah saya sebutkan di atas? Mana yang lebih utama? Beribadah atau belajar? Mencari uang atau beribadah? Kalau memang Beribadah lebih utama dari segalanya, maka mengapa tidak kita habiskan saja seluruh waktu hidup kita untuk sholat, dzikir, dan berpuasa? Toh, ketika nanti kita mati uang, ilmu, dan popularitas yang sudah kita bangun tidak akan kita bawa ke akhirat. Hanya amal ibadah yang akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat kelak

Bayangkan besok kita mati. Apakah malaikat akan bertanya berapa banyak harta yang sudah kita kumpulkan? Atau, apakah malaikat akan bertanya berapa pin BB kita? atau berapa friends yang kita miliki di Facebook? Semua itu tidak akan kita bawa ke akhirat, dan malaikat pun tidak tertarik untuk menanyakannya ke kita. Yang ditanya adalah, siapa Tuhan kita, bagaimana shalat kita, dan untuk apa waktu hidup kita dihabiskan.

Sangat panjang waktu yang gunakan untuk merenung. Saya berfikir, andaikata ketika kita pulang ke akhirat hanya amal yang dibawa, maka mengapa saya harus terobsesi memiliki harta yang banyak? Atau setidaknya memiliki sejumlah harta yang menandakan bahwa saya “Orang Berada”. Mengapa saya harus mengejar ilmu setinggi langit, padahal di akhirat tidak ada perlombaan olimpiade ilmiah atau semacam kuis cerdas cermat yang akan membawa pemenangnya ke surga? Tujuan saya adalah surga, mengapa saya harus capek-capek mengejar dunia? Hal itu akan mengurangi bekal waktu yang saya miliki yang sebenarnya bisa saya maksimalkan untuk beribadah terus menerus.

Tapi kan, nanti kamu akan berkeluarga, Di. Dengan apa anak istrimu makan? Oke, kalau mengenai berkeluarga, mengapa tidak kita jawab saja bahwa kita tahan keinginan menikah, dan zap, ketika kita mati, kita tetap bisa ke surga. Lagipula harta bisa membutakan hati dan membuatnya berpaling dari Allah.


                                       

Mengejar dunia dan akhirat
Pernah dengar kata-kata “Bekerjalah untuk akhiratmu seolah engkau akan mati esok, dan bekerjalah untuk duniamu seolah engkau akan hidup selamanya”. Saya yakin ini hadits tapi lupa apa derajatnya. Saya sangat tertarik dengan hadits ini sampai-sampai saya mengkaji sangat dalam untuk hadits ini. Hadits ini telah memberikan saya pencerahan mengenai makna hidup, dan bagaimanakah sebenarnya saya harus mengejar dunia dan akhirat.

Pertama. Hadits ini menyuruh kita untuk “bekerja”. Jangan buru-buru membahas kata “dunia” dan “akhirat”nya dulu karena saya ingin menekankan bahwa kita tidak boleh “diam” di dunia ini. Jangan anggap bahwa rezeki akan turun dari langit atau Allah akan mengasihani atas kemiskinan yang kita alami. Sampai matipun kalau kita tidak mau bekerja, maka kita tidak akan mendapat apapun. “Allah tidak akan merubah suatu kaum sebelum kaum itu merubah dirinya sendiri”. Jadi jangan pernah berharap apapun kalau kita tidak pernah mau bekerja!

Kedua, apa yang harus kita kejar? Maka menurut hadits di atas adalah Dunia dan Akhirat. Kita tidak boleh hanya mengejar dunia saja, tapi kita juga tidak boleh hanya mengejar akhirat saja. Rasul melarang sahabat yang beribadah terus menerus di mesjid. Allah tidak suka orang yang siang malam mengejar dunia. Kita haru mengejar Surga, tapi kita juga harus mengejar Kekayaan. Kita harus memperbanyak Ibadah, tapi kita harus juga terus Belajar meski harus ke negri Cina. Akhirat dan Dunia harus kita kejar, tapi ada mindset yang berbeda dalam cara mengejar dua perkara itu.

Rasulullah mengisyaratkan cara yang berbeda dalam mengejar dunia dan akhirat. Sebenarnya kata “Mindset” lebih tepat digunakan ketimbang kata “cara“. Sebab yang berbeda adalah cara berpikirnya, bukan tata cara pelaksanaannya. Oke, kita bahas satu per satu. Rasul menyuruh kita berandai-andai. Kata “seolah-olah” menyiratkan makna pengandaian, atau pemanipulasian pikiran. Kita diminta untuk “membohongi” diri sendiri. Kita diminta yakin bahwa kita akan mati esok. Kita juga diminta yakin bahwa kita akan hidup selamanya. Keyakinan ini harus diorganisasi sedemikian rupa agar keyakinan akan mati esok ditempatkan pada perkara ibadah, sementara keyakinan akan hidup selamanya ditempatkan pada perkara mengejar dunia. Sekilas proses berfikir ini terasa sulit dilakukan, “Bagaimana mungkin kita berfikir akan mati esok sementara di waktu yang bersamaan kita juga berfikir akan hidup selamanya?” Memang sulit kalau kita berfikir paradoks di saat yang bersamaan. Tapi, kalau kita bisa memikirkan hal itu di waktu yang tidak bersamaan, maka masalah selesai. Bagaimana cara melakukannya? cukup tanyakan sendiri diri kita, maka kita akan mudah menjawabnya seketika. Tanya pada diri kita sekarang “Apakah saya harus shalat berjamaah di mesjid hari ini?” karena ini adalah perkara Akhirat, maka jawablah “Ya, karena besok saya mungkin akan mati” jangan gunakan kata “mungkin”, karena kita sedang belajar membohongi diri sendiri (sebenarnya bukan kebohongan, karena kematian itu tidak ada yang tahu. Siapa tahu memang benar-benar terjadi) Ketika kita bertanya pada diri sendiri “Apakah saya harus mencari uang hari ini?” karena ini adalah perkara dunia, maka jawablah “ya” tapi ketika kita bertanya “Apakah saya harus kaya hari ini?” maka jawablah tidak. Mengapa?  “Karena kita akan hidup selamanya“. Kita tidak perlu terburu-buru untuk kaya, karena kita tidak akan mati dalam mengejar kekayaan. Kalau kita hari ini tidak mendapat kekayaan yang kita harapkan, maka carilah esok harinya. Jangan takut bahwa besok kita juga tidak mendapat kekayaan yang kita inginkan, karena kita bisa mencarinya di keesokan harinya. Katakan pada diri Anda sendiri “Tahun ini saya akan kaya, tapi kalau tahun ini saya tidak kaya, maka saya akan kaya tahun depan! Kalau tahun depan saya tidak kaya, maka saya akan mencari di tahun berikutnya.” “Saya akan kaya 10 tahun lagi. Tapi kalau saya tidak kaya dalam 10 tahun ke depan, maka saya yakin bisa kaya di 20 tahun yang akan datang! kalau tidak maka 30 tahun yang akan datang, kalau belum kaya juga maka mungkin 50 tahun lagi, atau 100 tahun lagi, atau 1000 tahun lagi!!! Kenapa saya begitu yakin akan kaya? Karena saya akan hidup selamanya, ya SELAMANYA”

Tidak perlu terburu-buru dan begitu berambisi untuk kaya. Bekerjalah dengan keras dan penuh dedikasi. Rezeki yang megang Allah, dan Allah tahu kita sedang berikhtiar. Ketika Allah melihat ada hambanya yang mau merubah nasib maka Allah akan merubahkan nasib untuknya. Allah tunjukkan rambu-rambunya, Allah buka pintu-pintu rezekinya. Jangan pedulikan berapapun nominal yang Allah beri, tapi hal itu pasti akan membuat kita tambah kaya bukan? Begitupn dengan cita-cita. Mengapa harus mencari pekerjaan bergaji besar padahal tidak sesuai dengan bidang yang kita sukai?? Apakah kita rela mengorbankan passion dan mimpi demi uang besar yang belum tentu akan membawa keberkahan untuk kita? Banyak orang tidak berani mengejar mimpinya hanya karena rezekinya tampak tidak menjanjikan. Padahal disanalah kita mendapat kebahagiaan. Berapa sih total uang yang harus dikumpulkan seorang manusia selama hidup?? Pasti berbeda-beda jawabannya, karena hal itu tergantung dari gaya hidup masing-masing. Tapi kalau ditanya apakah kita merindukan kebahagiaan dalam pekerjaan kita, maka tentu semua akan berkata “ya”.

Begitulah kita hidup. Dalam mengejar dunia, kejarlah dengan mepertimbangkan kebahagiaan dan keberkahan dibalik ikhtiar yang kita lakukan. Jangan korbankan kebahagiaan dan keberkahan demi uang yang banyak. Ingat kita tidak akan mati dalam mengejar dunia, teruslah berusaha tapi perhitungkan kebahagiaan di dalam proses mencari uang itu, supaya, ketika kita suatu saat nanti kaya, maka kita juga mendapatkan juga kebahagiaan dan keberkahannya sekalian. Tenang kita punya waktu panjang untuk mengejar kekayaan, karena kita akan hidup selamanya. Namun, untuk urusan akhirat, kejarlah seolah kita akan mati esok. Mungkin nanti malam akan ada gempa bumi, kebakaran, kemalingan, atau serangan jantung. Maka pikirkanlah mengenai bekal akhirat yang harus kita persiapkan. Sudah berapa banyak pahala yang sudah kita kumpulkan. Berapa besar kebaikan yang sudah kita koleksi, seberapa besar kesiapan kita menghadapi hari pengadilan.

Kejarlah dunia, kalau gagal, maka coba lagi besoknya. Karena kita akan hidup selamanya
Kejarlah akhirat, kalau gagal, maka langsung perbaiki dan introspeksi. Takut besok kita sudah keburu mati.