Aktifitas Terbaru

Penulis Topik: Bianglala Di Kampungku  (Dibaca 667 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Abd.Majid

  • Global Moderator
  • Khowasul Khowas
  • *****
  • Tulisan: 227
  • Reputasi: 7
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • Forum Tanbihun
Bianglala Di Kampungku
« pada: Januari 04, 2012, 12:35:06 PM »
Hidup adalah pilihan. dari dulu aku benci dengan kalimat ini, meski tak ada buah khuldi di pekarangan orang yang telah ku makan, nyatanya aku "terusir" dari kampung halamanku, surgaku sewaktu kecil. anggaplah konsekwensi sebuah pilihan. sebetulnya aku sangat mencintai kampungku, Kampungku adalah gugusan panjang di kelilingi persawahan dan diapit dua sungai. meskipun jauh dari hiruk pikuk perkota'an, namun orang-orang di kampungku jauh dari kesan udik, dikarenakan sebagian besar laki-laki di kampung ini pernah mengenyam hidup di Ibu kota, merantau mengadu nasib. biar kata ibu kota kejamnya melebihi ibu tiri.

Satu-satunya bidang perekonomian yang di tawarkan di kampung ini hanyalah pertanian. sementara profesi petani tidaklah menarik minat anak-anak muda, maka tinggalah para orang tua yang dengan setia menjalani profesi agung menjerang punggung dibawah terik matahari itu. Anak-anak muda lebih memilih merantau, berharap jakarta dapat melambungkan mimpi mereka. sekolah tidak lagi penting, toh pada ahirnya merantau juga, lihatlah Bos A yang tidak pernah tamat SD, atau Bos X yang 5 kali nunggak kelas itu. mereka dapat sukses, bisa ke tanah suci, hanya dengan modal kejujuran dan kerja keras. Demikian nasehat orang tua dulu.

Maka jangan heran, di kampungku jari tangan ini tak akan habis untuk menghitung jumlah lulusan SMA, apalagi sarjana. memang ada yang berprofesi guru, tapi tak lebih dari guru TPQ/MDA. kalau toh ada yang jadi Bidan atau Anggota Koramil, itu semata-mata hasil naturalisasi, orang luar yang berjodoh dengan penduduk kampung ini. selebihnya adalah golongan Santri, anak-anak muda yang masih mempunyai semangat tinggi untuk mendalami ilmu Agama. kelak di pundak merekalah otoritas kebijakan di kampung ini di bebankan. sebab selama ini pemegang kuasa kendali kebijakan bertumpu di Masjid. siapapun Lurahnya.

Kampungku tergolong besar, tapi uniknya rata-rata penduduk di kampung ini mempunyai selera yang seragam. dalam hal keterampilan umpamanya, entahlah siapa yang mula-mula berinisiatif membuat Tape singkong, begitu yang lain mengerti Tape ada nilai bisnisnya, maka berbondong-bondonglah mereka menjaja tape, berderet-deret memenuhi pasar, bahkan saking kompaknya tak ada sama sekali yang berminat menjaja barang lain. sewaktu musim hujan dan tape kurang di minati pembeli, maka serentak mereka berhenti berdagang tape, nampaknya mereka menganut prinsip Tijitibeh ( mati siji, mati kabeh ).

Saking akutnya tingkat keseragaman kaumku, rasanya tak perlu lagi ku perinci satu persatu, misalnya Painem yang waktu dinikahi Paijo di kasih mahar kitab Al-qur'an dan kambing jantan, mengundang 1000 tamu, mendatangkan penceramah dari luar kota. maka seperti itu juga So'imah yang akan dinikahi Ponari, begitu pula yang lainya akan meniru. atau dalam hal Konstruksi rumah, merk kendaraan, jumlah anak, bahkan selera mencari jodoh. sejauh manapun anak laki-laki menjelajahi dunia, toh ujung-ujungya mempersunting anak tetangga.

Para orang tua dengan getol mewanti-wanti buah hatinya, Tuntutlah pengalaman sejauh kakimu melangkah, tapi tidak soal jodoh. buat apa mencari jauh-jauh kalau toh sudah ada di depan rumah, bukankah fungsinya sama saja, cantik atau tidak itu beda tipis, yang terpenting nerimo. kebanyakan anak-anak mereka menuruti nasehat bijak itu, kecuali yang tipis imanya, macam aku.

Namun, belakangan ini banyak hal telah berubah dari kampungku. pola pikir orang tua dahulu yang kurang respek terhadap dunia pendidikan kini mengalami getahnya. terbukti kejujuran dan kerja keras saja tidaklah cukup sebagai modal bersaing di perantauan, memasuki era globalisasi membuat pengusaha-pengusaha kecil mati suri di pentas perdagangan bebas, hanya sedikit yang mampu bertahan, sebagian jalan di tempat, sebagian yang lain memilih bertekuk lutut, pulang kampung, kerja apa saja, dari mendulang pasir hingga menjadi tenaga lepas.

Perubahan iklim perekonomian yang tiba-tiba dirasa menelikung itu memaksa para Wanita menggantikan peran suami, dengan berbekal tekad para wanita hebat ini terbang ke luar negeri menjadi tkw. miris memang, namun berkahnya, selain dapat menopang ekonomi keluarga kini mereka dapat menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang yang lebih tinggi. mereka mulai sadar bahwa untuk memutus mata rantai kemiskinan satu-satunya jalan adalah pendidikan. semoga generasi muda menyadari hal ini serta tidak menyia nyiakan kesempatan mereka untuk belajar.

Cakrawala mulai membentang di atas kampungku, selagi mereka tertatih-tatih mengejar satu masa yang tertinggal,  era baru kini telah menyongsong. Era informasi dan teknologi, bila tanpa di barengi dengan sumber daya dan intelektual yang memadai, bukan mustahil mungkin untuk kedua kalinya mereka akan menjadi korban. Ah... kampungku, sekalipun dua pekan sekali aku mengunjungimu, tapi kerinduanku selalu membuncah.

Puncak gunung, 04 Januari 2012
« Edit Terakhir: Januari 04, 2012, 12:53:37 PM by Abd.Majid »

Offline saputra nanank

  • Global Moderator
  • Khowasul Khowas
  • *****
  • Tulisan: 391
  • Reputasi: 24
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • saputra19.wordpress.com
Re:Bianglala Di Kampungku
« Jawab #1 pada: Januari 04, 2012, 06:35:43 PM »
terbukti kejujuran dan kerja keras saja tidaklah cukup sebagai modal
begitulah keada'an sekarang ini kang yang jujur di lindas habis...
tersakiti karna kejujuranya...
kejujuran di hempaskan oleh bengisnya zaman...
yang jujur sekarang cenderung di kucilkan....

tapi mantapp aja postinganmu nda...
Lanjuuuut lagi yaa yang lebih dahsyat....hehheheee

Offline Abd.Majid

  • Global Moderator
  • Khowasul Khowas
  • *****
  • Tulisan: 227
  • Reputasi: 7
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • Forum Tanbihun
Re:Bianglala Di Kampungku
« Jawab #2 pada: Januari 05, 2012, 11:26:02 AM »
Kutip
begitulah keada'an sekarang ini kang yang jujur di lindas habis...
tersakiti karna kejujuranya...
kejujuran di hempaskan oleh bengisnya zaman...
yang jujur sekarang cenderung di kucilkan....

dulu sering kita dengar nasehat2 orang tua tentang kejujuran, baik melalui cerita maupun hikayah orang2 jujur , meskipun terkadang pahit. tapi endingya selalu indah, yg paling populer tentu saja sifat jujur Rosulullah, oleh karenanya beliau dianugerahi gelar Al-amin. tapi, menuju kompetisi di jaman kapitalis spt sekarang, sifat yg satu ini kerap dianggap usang... ketatnya persaingan menuntut kita musti pintar2 mencipta peluang,..hmmm

Kutip
tapi mantapp aja postinganmu nda...
Lanjuuuut lagi yaa yang lebih dahsyat....hehheheee

mksh gan..sudi mampir  ::)

Offline Ahmad Faried

  • Global Moderator
  • Khowasul Khowas
  • *****
  • Tulisan: 405
  • Reputasi: 17
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • Murtakibudz Dzunub
Re:Bianglala Di Kampungku
« Jawab #3 pada: Januari 05, 2012, 12:39:49 PM »
Kutip
mksh gan..sudi mampir   ::)

 :) melo banget kesannya gan..... ane mampir juga dah, memberi semangat sembari menyemangati diri sendiri  :-*