Jidat Hitam Bukan Tanda Keshalihan

Hosting Unlimited Indonesia


jidat hitamOleh: Abi Azka Fathullah

Tanbihun.com - Dewasa ini banyak orang mengukur keshalihan seseorang dari ketebalan kapal hitam yang ada dijidatnya, semakin hitam dan tebal jidat seseorang maka semakin dia dianggap sebagai orang yang ahli ibadah dan ahli sujud. Hal ini berdasarkan pemahaman sempit mereka terhadap ayat yang berbunyi :

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ

Yang artinya, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud” (QS al Fath:29).

Banyak orang yang tidak  mengetahui makna ayat ini dengan baik, sehingga mereka menafsirkan ayat di atas dengan pemahaman yang keliru. Dan anehnya pemahaman yang salah itu diklaim sebagai pendapat yang paling benar. Mereka menyangka bahwa maksud dari bekas sujud itu adalah tanda hitam di dahi karena sujud, bahkan ada sebagian dari mereka yang mencemooh seorang ulama’ sholih hanya karena jidatnya tidak hitam maka dianggap ulama yang yang tidak sholih sebab jidatnya seperti kaleng. Padahal bukan demikian yang dimaksudkan dari ayat tersebut. Pakar tafsir Imam At-Thabari meriwayatkan dengan sanad yang hasan dari Ibnu Abbas bahwa yang dimaksudkan dengan ‘tanda mereka…” adalah perilaku yang baik. Dalam sebuah riwayat lain yang beliau nukil juga  dengan sanad yang kuat dari Mujahid bahwa yang dimaksudkan bekas sujud adalah kekhusyu’an. Juga diriwayatkan dengan sanad yang hasan dari Qatadah, beliau berkata, “Ciri mereka adalah shalat” (Tafsir Mukhtashar Shahih hal 546).

Sementara itu dalam Sunan Kubro karangan Imam Baihaqi diterangkan

عَنْ سَالِمٍ أَبِى النَّضْرِ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى ابْنِ عُمَرَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ قَالَ : مَنْ أَنْتَ؟ قَالَ : أَنَا حَاضِنُكَ فُلاَنٌ. وَرَأَى بَيْنَ عَيْنَيْهِ سَجْدَةً سَوْدَاءَ فَقَالَ : مَا هَذَا الأَثَرُ بَيْنَ عَيْنَيْكَ؟ فَقَدْ صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَهَلْ تَرَى هَا هُنَا مِنْ شَىْءٍ؟

Dari Salim Abu Nadhr, ada seorang yang datang menemui Ibnu Umar. Setelah orang tersebut mengucapkan salam, Ibnu Umar bertanya kepadanya, “Siapakah anda?”. “Aku adalah anak asuhmu”, jawab orang tersebut. Ibnu Umar melihat ada bekas sujud yang berwarna hitam di antara kedua matanya. Beliau berkata kepadanya, “Bekas apa yang ada di antara kedua matamu? Sungguh aku telah lama bershahabat dengan Rasulullah, Abu Bakr, Umar dan Utsman. Apakah kau lihat ada bekas tersebut pada dahiku?” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3698)

Dalam redaksi lain dari Ibnu Umar juga

عَنِ ابْنِ عُمَرَ : أَنَّهُ رَأَى أَثَرًا فَقَالَ : يَا عَبْدَ اللَّهِ إِنَّ صُورَةَ الرَّجُلِ وَجْهُهُ ، فَلاَ تَشِنْ صُورَتَكَ.

Dari Ibnu Umar, beliau melihat ada seorang yang pada dahinya terdapat bekas sujud. Ibnu Umar berkata, “Wahai hamba Allah, sesungguhnya penampilan seseorang itu terletak pada wajahnya. Janganlah kau jelekkan penampilanmu!” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3699).

عَنْ حُمَيْدٍ هُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ : كُنَّا عِنْدَ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ إِذْ جَاءَهُ الزُّبَيْرُ بْنُ سُهَيْلِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ فَقَالَ : قَدْ أَفْسَدَ وَجْهَهُ ، وَاللَّهِ مَا هِىَ سِيمَاءُ ، وَاللَّهِ لَقَدْ صَلَّيْتُ عَلَى وَجْهِى مُذْ كَذَا وَكَذَا ، مَا أَثَّرَ السُّجُودُ فِى وَجْهِى شَيْئًا.

Dari Humaid bin Abdirrahman, aku berada di dekat as Saib bin Yazid ketika seorang yang bernama az Zubair bin Suhail bin Abdirrahman bin Auf datang. Melihat kedatangannya, as Saib berkata, “Sungguh dia telah merusak wajahnya. Demi Allah bekas di dahi itu bukanlah bekas sujud. Demi Allah aku telah shalat dengan menggunakan wajahku ini selama sekian waktu lamanya namun sujud tidaklah memberi bekas sedikitpun pada wajahku” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3701).

عَنْ مَنْصُورٍ قَالَ قُلْتُ لِمُجَاهِدٍ (سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ) أَهُوَ أَثَرُ السُّجُودِ فِى وَجْهِ الإِنْسَانِ؟ فَقَالَ : لاَ إِنَّ أَحَدَهُمْ يَكُونُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مِثْلُ رُكْبَةِ الْعَنْزِ وَهُوَ كَمَا شَاءَ اللَّهُ يَعْنِى مِنَ الشَّرِّ وَلَكِنَّهُ الْخُشُوعُ.

Dari Manshur, Aku bertanya kepada Mujahid tentang maksud dari firman Allah, ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud’ apakah yang dimaksudkan adalah bekas di wajah? Jawaban beliau, “Bukan, bahkan ada orang yang ‘kapal’ yang ada di antara kedua matanya itu bagaikan ‘kapal’ yang ada pada lutut onta namun dia adalah orang bejat. Tanda yang dimaksudkan adalah kekhusyu’an” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3702).

Bahkan Ahmad ash Showi mengatakan, “Bukanlah yang dimaksudkan oleh ayat tersebut adalah sebagaimana perbuatan orang-orang bodoh dan tukang riya’ yaitu tanda hitam yang ada di dahi karena hal itu adalah ciri khas khawarij ” (Hasyiah ash Shawi 4/134, Dar al Fikr). Dari al Azroq bin Qois, Syarik bin Syihab berkata, “Aku berharap bisa bertemu dengan salah seorang shahabat Muhammad yang bisa menceritakan hadits tentang Khawarij kepadaku. Suatu hari aku berjumpa dengan Abu Barzah yang berada bersama satu rombongan para shahabat. Aku berkata kepadanya, “Ceritakanlah kepadaku hadits yang kau dengar dari Rasulullah tentang Khawarij!”. Beliau berkata, “Akan kuceritakan kepada kalian suatu hadits yang didengar sendiri oleh kedua telingaku dan dilihat oleh kedua mataku. Sejumlah uang dinar diserahkan kepada Rasulullah lalu beliau membaginya. Ada seorang yang plontos kepalanya dan ada hitam-hitam bekas sujud di antara kedua matanya. Dia mengenakan dua lembar kain berwarna putih. Dia mendatangi Nabi dari arah sebelah kanan dengan harapan agar Nabi memberikan dinar kepadanya namun beliau tidak memberinya. Dia lantas berkata, “Hai Muhammad hari ini engkau tidak membagi dengan adil”. Mendengar ucapannya, Nabi marah besar. Beliau bersabda, “Demi Allah, setelah aku meninggal dunia kalian tidak akan menemukan orang yang lebih adil dibandingkan diriku”. Demikian beliau ulangi sebanyak tiga kali. Kemudian beliau bersabda,

يَخْرُجُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ رِجَالٌ كَانَ هَذَا مِنْهُمْ هَدْيُهُمْ هَكَذَا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ثُمَّ لاَ يَرْجِعُونَ فِيهِ سِيمَاهُمُ التَّحْلِيقُ لاَ يَزَالُونَ يَخْرُجُونَ

“Akan keluar dari arah timur orang-orang yang seperti itu penampilan mereka. Dia adalah bagian dari mereka. Mereka membaca al Qur’an namun alQur’an tidaklah melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat dari agama sebagaimana anak panah melesat dari binatang sasarannya setelah menembusnya kemudia mereka tidak akan kembali kepada agama. Cirri khas mereka adalah plontos kepala. Mereka akan selalul muncul” (HR Ahmad no 19798, dengan sanad Hasan). Oleh karena itu, ketika kita sujud hendaknya proporsonal dan sewajarnya saja, yang penting antara lambung dan paha agak renggang serta ketiak sedikit dibuka, jangan terlalu berlebih-lebihan sehingga hampir seperti orang yang telungkup. Tindakan inilah yang sering menjadi sebab timbulnya bekas hitam di dahi, meskipun sebenarnya belum tentu orang tersebut benar-benar ahli sujud.

15 Comments on Jidat Hitam Bukan Tanda Keshalihan

  1. Memang bangsa kita masih banyak yang terpengaruh dan tertipu oleh penampilan luar. Dianggapnya yang hijau itu pasti militer, padahal “kelepon” juga hijau. Yang pakai baju koko itu pasti santri, padahal koruptor banyak juga yang pakai baju koko. Yang berjilbab itu pasti sholihah, padahal Apriliani dan Neneng setelah jadi terdakwa juga pakai jilbab, yang pakai jubah dan berjenggot itu pasti alim, padahal ada dan banyak juga yang imannya hanya sampai ke tenggorokan dan hobinya sebagai provokator, bukannya motivator……..Padahal Allah telah memberikan CIRI- CIRI dan TANDA yang begitu jelas dalam Surat Al- Balad: “Kemudian, adalah orang- orang yang beriman dan mereka suka berwasiyat tentang KESABARAN dan berwasiyat AGAR SALING MENGASIHI, MEREKA ITULAH GOLONGAN KANAN.”……. Jadi yang kerjanya sebagai PROVOKATOR, dia bukan golongan kanan, tapi golongan ekstrim kiri!.

    • begitulah keadaanya bang….dulu temenku sering bilang…idhmarul santri wa idhhaarul bajingan (menyembunyikan santrinya dan menampakkan bajingannya)…orang2 sekarang malah suka idhmaarul bajingan wa idhhaarul santri..(menyembunyikan bajingannya dan menampakkan santrinya) aneh

  2. yang membuat aku ga habis pikir adalah mereka suka mencela melecehkan dan menghina para ulama, hanya karena beliau ga punya kapal dijidatnya……..

  3. Terang terangan setan kau laknati…
    Tapi diam diam setan kau ikuti…

  4. agak susah juga klo soal menafsir ayat, ditambah setiap golongan merasa paling benar.

  5. Yth kezalimana bpkp
    Perbedaan pendapat atas dasar ijtihad itu tidak dilarang.
    Yang dilarang itu MENGHUJAT dan bertengkar nya.
    .
    Seperti Imam Malik itu (guru Imam Syafi’i) dalam fatikhah tak baca bismillah, namun tak ada masalah bagi kedua guru murid itu, bahkan Imam Syafi’i sering diminta untuk mengajarkan Al- Muwatho’ oleh gurunya.

    Imam Ahmad bin Hambal itu muridnya imam Syafi’i namun ia berpendapat sholat subuh tidak berqunut. Ketika sholat subuh dibelakang imam madzhab Syafi’i yang berqunut subuh, ia menganjurkan murid- muridnya untuk mengangkat tangan dan mengamininya, itulah sikap para ulama panutan kita……..

    Kita tidak menyalahkan yang berjidat hitam, tapi tolong jangan yang jidatnya mulus dihujat dan dihinakan, dianggap muka kaleng bahkan dianggap munafik….
    Ah….. mungkin mereka tidak pernah membaca Surat Al- Hujurot?

  6. AWB, sudah 2 bulan ini istri saya kabur dari rumah, tidak mau membalas sms. telpon apalagi bertemu saya, saya tahu keberadaan istri ada di rumah kakak perempuannya, pada awal istri saya pergi saya pernah mendatangi rumahnya tapi tidak dibukakan pintu, akhirnya daripada ribut saya pergi. Saya pernah menemui istri saya di kantornya, dia bilang sudah tidak cinta lagi kepada saya. selama lebih 20 tahun pernikahan hanya kesedihan yang dia peroleh (subhanallah…saya menangis mendengarnya). Saya sudah berusaha memberikan yang terbaik untuknya, bekerja keras, berusaha untuk bekerja jujur. Memang tidak banyak menghasilkan uang…, gaji istri saya lebih besar dari gaji saya.., sering kali kami bertengkar dan saya menghardiknya, bahkan memberikan kata-kata yang kejam kepadanya.., saya menyadari itu mungkin salah satu sebab kepergian istri saya. namun saya masih mencintainya, saya ingin membayar semua kesalahan itu, saya mengaku ada banyak faktor kesalahan yg membuat istri saya kabur.., tolong ajarkan saya doa untuk istri supaya balik kepada saya. Sebagian besar keluarga istri mendukung langkah istri saya, meskipun sebenarnya mereka mendapat cerita yg kurang seimbang dariistri saya. Oh ya.., selama menikah dengan saya istri saya pernah pacaran dengan pria lain (meskipun tidak melakukan hal2 yg berhubungan dengan fisik) tapi mereka sudah mengikrarkan berpacaran satu sama lain mesti mereka semuany sudah berpasangan masing-masing..

  7. AWB saya mempunya tanda hitam di dahi, sungguh sebenarnya beban bagi saya, karena tanda itu muncul dengan sendirinya, setelah saya melakukan “hijrah’. Tapi samapai sekarangpun saya merasa ilmu agama saya apalagi praktiknya masih sangat dangkal… itu juga yang membuat saya merasa terbeban apalagi dengan banyaknya komentar rekan2 semua. Tolong tidak semua yang berjidat hitam seperti yang rekan2 komentari…WWB

  8. Abu jannah // 2 January 2013 at 1:35 pm // Reply

    Kalo Mao ambil dalil Dari hadist shahid dong,,siapa tuh imam baihaqi?? Pernah tau gak HR Bukhari “org yg delay Dg Allah ketika bersujud,maka perpanjanglah sujud,baca do’a yg byk ketika sujud,,,,sujud yg Benar Menekan Kepala (jidatnya Dan hidung)

  9. Yth Abu Jannah
    Makin lama sujud makin baik itu semua ulama sepakat.
    Jidat harus nekan sesuai berat kepala jangan asal nempel itu juga para ulama sepakat.
    Menghina yang jidatnya tidak hitam itu yang tidak boleh. Itu inti tulisan diatas.
    Tentang Imam Baihaqy (994 – 1066 M) penulis Sunan Baihaqy yang sebagian sanadnya dari Al- Hakim itu, ulama mana yang tidak kenal akan kepakaran beliau?

  10. Benar sekali pak. Jidat hitam bukanlah parameter keshalihan seseorang. Mereka banyak salah menafsirkan.

    Semoga kita diberikan ilmu yang bermanfaat.

  11. Ijin share… Pak

  12. Benar sekali itu,

    Ijin share sodara admin

  13. dari judulnya sebenarnya tidak perlu dibahas, mau jidat hitam atau egak masalah,,,ini bisa memicu permusuhan,,,,lebih baik koreksi diri sendiri,,,,,

    Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (QS. 2:216)

    merasa banyak ilmu agama lebih baik mengajarkan generasi muda untuk belajar agama,,,,bukan malah mengkritik orang,,,,,

  14. hitam jidat hitam dengkul, kalau urusan ketaqwaan hanya Allah yang tau, yg jelas mereka sujud karena menyerahkan dirinya kepada Allah apapun alasannya (biarkan IKHLAS KARENA ALLAH)

Leave a comment

Your email address will not be published.

*