Dilema Rifaiyah Diantara NU dan Muhammadiyah

Oleh Pada Tuesday, 21 July, 2009 11:31 PM. Under Analisis  

Ini adalah lanjutan dari tulisan saya Rifaiyah diantara Muhammadiyah dan NU.

Sebenarnya sudah lama saya mempunyai pemikiran ini,tapi perlu bukti, setelah kejadian demi kejadiam terpampang didepan mata,baik yang saya alami sendiri atau pun dengan melihat lingkuangan sekitar, saya semakin mantap.

Rifaiyah ini unik, dia lahir bukan dari awal keberadaan doktrin-doktrinnya ( baca: masa Guru besarnya ). Ijtihad2 Syaikh Ahmad Rifa’i sudah dari jaman doeloe dipegang,diamalkan dan dijaga oleh para muridnya turun temurun dengan gigih. Tak ada niat sedikitpun dari para pendahulunya untuk membentuk kelompok atau organisasi, namun ditengah perjalanan, rifaiyah dihadapkan pada kenyataan, kalau mau tetap eksis ya harus dibentuk organisasi,dan mungkin masih banyak faktor yang melatar belakangi berdirinya organisasi rifaiyah.

Lahirnya Organisasi rifaiyah disambut baik oleh sebagian besar murid-murid Syaikh Ahmad Rifa’i, tapi ada juga yang menolak dan disinilah cerita dimulai.

NU Rifaiyah

Ada yang mempunyai ide untuk marger saja dengan NU karena toh dalam banyak hal sama dengan NU, bukan Cuma tahapan ide, namun juga sudah mendiskusikannya dengan sebagian tokoh NU, salah satunya yang mendukung adalah KH Bisri Mustofa  Rembang. Namun demikian dari pihak yang tidak setuju menganggap mereka yang pro NU Rifaiyah ini takut kehilangan jabatan,sebab mereka ini sudah menjadi pengurus NU atau Lembaga-lembaga yang didiriikan NU dan menduduki posisi penting.

Muhammadiyah Rifaiyah

Kafilah kedua adalah mereka-mereka yang menginginkan Rifaiyah “Mengcopy” Muhammadiyah, karena Organisasi ini terbilang maju, mereka sudah membuktikan sendiri karena mereka aktif didalam Organisasi ini, baik sebagai guru atau pegawai di lembaga-lembaga yang didirikan Muhammadiyah.

Berbeda dengan kafilah pertama, yang kedua ini tidak menghendaki marger, tapi systemnya saja.

Karena ide-ide itu tidak bisa tertunaikan, maka yang terjadi adalah “perpisahan”, seperti kata pepatah ” Jika tidak ada kesesuaian, maka perpisahan adalah yang terbaik”.

Dilema Rifaiyah

Dalam kisah selanjutnya, rifaiyah ( baca: sebagian oknum atau anggotanya ) mengalami dilema, ada yang condong ke NU,Muhammadiyah dan mungkin Ormas atau Organisasi atau juga aliran lain.

Tidak heran jika sekarang muncul doktrin-doktrin yang didalam pakem rifaiyah tidak ada, atau bahkan berlawanan dengan ijtihad syaikh ahmad rifa’i.

Saya sendiri pernah merasakan,hanya karena saya mendirikan TPA dengan memakai metode iqra’ saya di cap dan dihakimi sebagai orang muhammadiyah dan mau “memuhammadiyahkan” orang rifaiyah,didepan orang satu kampung, didalam masjid dihadapan semua tokoh masyarakat termasuk para kyai. (kisah ini akan saya tulis tersendiri,insya Alloh ).

Inilah salah satu tantangan para pengurus DPP Rifaiyah sekarang, dan juga para intelektual muda, bagaimana mencari solusinya?

Ini hanya hasil pemikiran dan pengamatan dari orang bodoh,jika ditemukan kesalahan mohon dikoreksi. Semoga Alloh menjauhkan tulisan ini dari fitnah.

Mari Beramal Dengan Menyebarkan Artikel Ini :

About


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :
Tags: