2:05 pm - Saturday July 16, 7031

Islam, Agama Penyelamatkah?

Monday, 15 March 2010 2:13 | Analisis | 14 Comments | Read 1996 Times
bendera-islam-copy

ilustrasi google

Banyaknya kekerasan yang dilakukan oleh oknum muslim dengan mengatasnamakan dalil-dalil agama untuk melegitimasi sebuah tindakan-tindakan yang dianggap masyarakat sebagai tindakan anarkis menjadi topik sangat menarik bagi ilmu pengetahuan dunia Islam itu sendiri.

Pada umumnya dalil-dalil tentang jihad menjadi pedoman untuk berbuat anarkis (menurut penulis). Pengartian jihad secara sempit bisa menimbulkan perpecahan didalam agama Islam itu sendiri. Ada juga golongan ekstrim dalam melakukan dakwahnya menggunakan cara-cara anarkis karena mencontoh nabi Muhammad. Muhammad dulu menghabiskan hidupnya dalam peperangan maka orang-orang yang beriman harus mengikutinya.

Entah pandangan yang seperti itu salah atau benar, penulis tidak bisa menilai karena yang bisa menilai adalah Tuhan. Namun arti sesungguh dakwah adalah sebuah ajakan. Sedangkan mengajak itu tidak diperbolehkan memasukan unsur-unsur paksaan. Berarti Islam lebih menganjurkan sikap humanis dalam berdakwah bukan dengan cara memegang senjata.

Memang dalam alqur’an di sabdakan peperangan di perbolehkan namun ada batasnya itupun dengan catatan jika musuh tidak mengganggu atau memerangi Islam duluan, seperti yang tercantum dalam al-qur’an “perangilah di jalan Allah, mereka yang memerangi kamu, tetapi jangn melanggar batas karena Allah tidak suka mereka yang melanggar batas“(22:190).

Dakwah dengan  kekerasan sangatlah keliru, karena dalam Islam tidak mengenal pemaksaan terhadap agama. Di logika saja, agama itu tidak boleh dipaksaakan apalagi memaksakan keyakinan yang harus dianut seseorang. Perlu diketahui dalam agama ada berbagai macam keyakinan yaitu 73 (tujuh puluh tiga) golongan. Konon katanya yang selamat adalah golongan yang menganut faham ahli sunnah wal jamaah.

Uniknya masing-masing mempunyai klaim dalil-dalil yang membenarkan bahwa golongannya itu penganut faham ahli sunnah wal jamaah. Dan menurut penulis itu tidak salah karena sesui dengan nash alqur’an yang mengatakan tidak ada pemaksaan dalam ajaran agama. Yang salah adalah golongan yang merasa dirinya paling benar dan mengkafirkan golongan yang lainnya.

Islam Otentik

Biasanya golongan yang mempunya sifat fanatisme adalah penganut faham Islam otentik. Golongan Islam otentik memposisikan manusia hanya sebagai pembenar atau saksi teks-teks alqur’an. Manusia tidak boleh berimprovisasi dalam mengartikan sebuah teks al-qur’an, sehingga ajaran ini terasa kaku.

Faham tersebut mengaharamkan segala hal yang berbentuk khurafat, syirik, bid’ah dan berbagai hal yang dianggapnya menyeleweng dari ajaran agama. Jika dalam “fatwa haram” di berlakukan dalam dalam kelompok itu sendiri masih wajar, namun jika dipaksakan kepada kelompok lain apalagi melalui kekarasan itu sangat menyedihkan.

Bahwa pada dasarnya tidak diperbolehkan pemikiran seseorang dipaksakan kepada pemikiran orang lain karena setiap individu mempunyai sifat, watak dan latar belakang yang berbeda. Islam di indonesia tidak mungkin sama dengan Islam yang di Arab. Kerana banyak perbedaan baik letak geografis, budaya dan fisik manusianya.

Pemaksaan melalui kekerasan juga bisa membuat koflik berkepanjangan sehingga bisa memecah belah bangsa dan bisa dimanfaatkan oleh kelompok yang tidak bertanggung jawab. Seperti peristiwa perang paderi di ranah minang (sumatra), kelompok Islam otentik yang di bawa oleh Haji Piobang dkk. Perang paderi terjadi karena gerakan pemurnian agama saat berdakwah di masyarakat -yang masih suka percaya pada benda-benda- menggunakan cara yang ekstrim tanpa melalui sisi humanis terlebih dahulu (justicia, 2005:31).

Setelah peperangan meletus, secara cerdik kolonial belanda memanfaatkannya dengan memberi bantuan kepada pasukan adat (masyarakat) dan perang antar saudara-pun terjadi. Sungguh sangat disayangkan, berbeda sekali dengan ajaran-ajaran yang dibawa oleh Sunan Kalijaga, beliau berdakwah tanpa menggunakan kekerasan. Istimewanya Sunan Kali Jaga tidak langsug menghapus budaya-budaya adat yang berkembang serta di patuhi masyarakat.

Dan budaya seperti itu tidak ada dalam nash al-qur’an maupun hadis, jelas wayang, tahlilan dan kegiatan semacam mithoni dalam ajaran islam otentik bisa dikatakan menyeleweng dari ajaran dan patut dibasmi. Namun jika lebih peka dalam menggunakan otak maka kegiatan-kegiatan tersebut menjadi cara efektif untuk berdakwah. Karena menyelami kebiasaan masyarakat.

Dalam penyebaran agama nabi muhammad pun tidak menolak mentah-mentah budaya yang berlaku di Arab. Budaya arab dulu adalah penyuka sastra maka Tuhan dan nabi muhammad (lewat jibril) dalam mengeluarkan ayat suci alqur’an pun dengan bait-bait sastra, dan itu efektif.

Berselingkuh dengan kekuasaan

Sesungguhnya ajaran agama mempunyai ajaran-ajaran damai, namun jika sudah di masuki ideologi politik tertentu maka ajarannya sudah tidak obyektif lagi melainkan lebih condong kesalah satu golongan. Dan yang seperti itu bisa merusak ajaran agama, padahal agama mempunyai pengertian yang universal karena agama bisa menyatukan umat tetapi dibalik itu juga agama bisa menciptakan pertikaian. Siapapun orangnya entah itu intelektual, petani, mahasiswa maupun mafia jika sudah mengatasnamakan agama maka apapun akan dilakukan termasuk perang.

Agama sudah menjadi pembahasan menarik setelah pasca runtuhnya ideologi komunis, islam mau manunjukan giginya dengan melawan kapitalis. Mungkin dunia akan menyaksikan perang yang maha dasyat setelah perang dingin(kapitalis vs komunis) yaitu age of muslim war.

Umat Islam percaya untuk bisa melawan kapitalis maka menggunakan kekuasaan, karena dengan tahta kekuasan segala sesuatu bisa dengan mudah didapat. Siasat inilah yang mungkin dipakai para golongan Islam ekstrim. Mereka mencoba merebut kekuasaan dipemerintahan dengan membuat kerusuhan dimana-mana, agar keamanan menjadi labil sehingga dengan mudahnya untuk merebutnya.

Selain itu mereka juga menyebarkan doktrin-doktrin dengan berlandaskan alqur’an kepada masyarakat sasaran dan kemudian diajak masuk dalam golongannya serta berjuang bersama. Tindakan-tindakan seperti itu dilakukan di banyak negara termasuk di negara Islam itu sendiri.

Mereka sering melabeli negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam namun tidak sefaham dengan golongannya dinamai negara kafir. Bisa di tarik kesimpulan jika seseorang itu kafir maka darahnya boleh diminum dan dibunuh.

Perselingkuhan ajaran dengan kekuasaan juga pernah dilakukan oleh Muhammad bin Abdul Wahab (penyebar ajaran wahabi) dengan Ibnu Saud (Raja Saudi Arabia). Dimana Muhammad bin Abdullah menjadi konseptor dan Ibnu Saud sebagai pelegalisasinya. Bagi orang yang berlainan faham akan diberi sanksi bahkan di bantai. Hal yang semacam itu merupakan salah satu bentuk kekerasan sistem

Agama Rahmatallilalamin

Sesungguhnya apapun bentuknya kekerasan sangat dilarang oleh agama apalagi dilakukan sesama muslim. Gus Dur salah satu orang yang menecam tindakan kekerasan, beliau mengajarkan bahwa jika pergerakan dilakukan dengan cara-cara kekerasan maka akan selalu timbul kekerasan baru di setiap detiknya. Karena kekerasan bukan sebagai wahana penyelesaian masalah.

Dalam era modern pengertian jihad seharusnya tidak lagi daartikan seperti perang akat senjata. Sudah saatnya sisi humanisme Islam mulai ditonjolkan dalam melakukan jihad. Saling menghormati dan toleran menjadi asas yang paling utama dalam kehidupan beragama.

Perbedaan itu adalah hal yang wajar dalam ajaran karena itulah sesungguhnya letak keistimewaan Islam. Tidak boleh mengkafirkan sesama muslim, jika seseorang sudah pernah membaca syahdat dan solat maka wajib kita lindungi. Tidak hanya orang Islam saja yang patut dilindungi tetapi orang non-muslim pun perlu dilindungi selagi tidak menyerang umat muslim.

Mari kita dalami ajaran agama Islam dan tinggalkan dakwah dengan kekerasan, jika tidak ingin ada kekerasan yang timbul kembali, kaidah ushul fiqih sudah menjelaskan “darrul mafasid muqoddam ala jalbil mashalih” yang artinya mencegah kerusakan lebih baik dari pada membuat kebaikan.

Janganlah kita membunuh jika tidak mau di bunuh, jangan kita mencaci maki jika kita tidak mau di caci maki. Tegakan ukhuwah Islamiah diantara umat, supaya tercipta kedamain yang di idam-idamkan dunia. Buktikan Islam adalah agama yang memberi selamat bagi semua mahluk di bumi dan sebagai agama yang sangat toleran karena islam adalah agama rahmatallil alamin.

__________________________________________________________

Said Muhtar

Ketua Mahasiswa Hukum Kota Semarang

dan Kebetulan di Lahirkan oleh Ketua Dewan Syuro Rifaiyah Semarang

Share on :
 

EBOOK GRATIS UNTUK ANDA !

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda, Jangan Lupa Cek Email Anda Untuk Aktifasinya !

 
Tagged with: , ,

Anda mungkin juga menyukaiclose