Kapan Aku Berjuang ?

Oleh Pada Sunday, 19 July, 2009 7:57 PM. Under Analisis  

Pertanyaan ini menjadi pembuka dalam mengurai problematika umat yang terjadi akhir-akhir ini tidak terkecuali Jamaah Rifaiyah. Bagaimana tidak? Umat sangat kehausan akan ruh ilahiyah. Nilai-nilai materialistik telah menjadi main oriented (orientasi utama). Di sisi lain, sangat sulit menemukan pemimpin yang menjadi qudwah dalam menerapkan syariat Islam yang kaffah. Sebuah gambaran yang bertolak belakang dengan saat golden century (abad emas) yang pernah dicapai umat Islam dari abad ke-7 sampai 13 M.

Ada sebuah nilai yang sangat tinggi dalam Islam yang pernah ada di abad emas namun saat ini mulai kabur keberadaanya yakni tadhiyah (pengorbanan). Ya, tadhiyah, sebuah bentuk pengorbanan diri, masa/waktu dan material seorang hamba yang berorientasi ke ilahi robbi semata. Mereka berkorban untuk Dinul Islam, din yang telah disempurnakan oleh Allah sejak masa Rosulullah saw. Nilai tersebut sekarang sudah ditakuti oleh mayoritas strata kalangan umat Islam baik remaja, muda, tua maupun qiyadah.

Kalau melihat sirroh Rosulullah saw dan para sahabatnya, kita akan dibuat tercengang oleh dahsyatnya perjuangan yang telah dilakukan. Keimanan mereka telah meresonansi (menggetarkan) hati umat di sekelilingnya. Betapa tidak, hampir hanya 1 abad, Pasukan Allah dari jazirah arab telah menaklukkan wilayah Timur Tengah dan bagian Afrika Utara. Penduduknya berduyun-duyun memeluk Islam dikarenakan akhlak yang telah ditunjukkan oleh pasukan. Kaum muslimin mampu menaklukkan kekuatan Romawi yang menjadi simbol kekuatan terbesar saat itu. Simaklah perjuangan Ja`far bin Abi Thalib dalam usia 30 tahun telah syahid dalam mempertahankan panji Islam ketika perang Mu`tah melawan Romawi. Lihatlah seorang Salahudin Al Ayubi pada masa kekhalifahan umat Islam, yang pada usia 17 tahun sudah menjadi seorang panglima perang. Kekuatan dan ruh beliau dalam perang salib mampu memotivasi pasukannya.

Syaikhuna Ahmad Rifai dalam usia yang relatif muda sebelum usianya genap 30 tahun sudah menyampaikan syariat Islam di wilayah Kendal, bahkan ke wonosobo. Beliau memompa semangat umat Islam untuk kembali kepada Islam secara total baik dari sisi akidah, fiqih, maupun tasawufnya. Beliau memotivasi umat Islam untuk menunjukkan kekuatannya kepada kaum Kafir Belanda yang telah mengeksploitasi hak-hak umat Islam dan telah menyebarkan agama Nashoro di tengah-tengah kaum Muslimin. Beliau adalah figur pejuang umat Islam abad 18-19 M.

Imam syahid Hasan Al banna sebagai figur muda umat Islam abad 20 telah menggerakkan anak muda dalam memberikan kontribusi perubahan yang signifikan.

Menyimak sederetan perjuangan yang ditunjukkan oleh para salaf, kita melihat bahwa mayoritas dari mereka adalah kaum muda di tengah-tengah Umat Islam. Pemuda yang mampu memberikan teladan terbaik untuk din-nya. Kaum muda yang merelakan dirinya terjual untuk agamannya. Kaum muda yang mampu melanjutkan estafet kepemimpinan umat Islam. Kaum muda sebagai agent of change (generasi perubahan). Karena mereka yakin bahwa Allah telah membeli dirinya dengan syurga, Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar. Qs. At taubah:111.

Melihat teladan kaum salaf tersebut, sudah sepatutnya bagi kita untuk menyadari bahwa usia muda memang usia yang paling potensial dalam segala hal. Kaum muda mempunyai idealisme yang tinggi, motivasi yang membuncah, kekuatan moral yang besar, kekuatan intelektual yang tajam, dan kebersihan hati yang belum terkontaminasi oleh khubbuddunya dan wahn (cinta dunia dan takut mati). Semua modal yang telah diberikan oleh Allah tersebut jangan sampai terlewati tanpa memberi goresan makna.

Banyak wajihah (organisasi) yang bisa dijadikan sebagai sarana untuk aktualisasi diri membangun umat. Bahkan jamaah Rifaiyah sendiri telah menyediakan perangkat khusus untuk kaum muda dalam berkontribusi mendidik umat. Angkatan Muda Rifaiyah (AMRI), UMROH sebagai sarana untuk keputrian, bahkan lahan-lahan amal seperti pesantren, sekolahan, ataupun lembaga-lembaga telah menantikan kontribusi terbaik kita.

Wahai saudaraku, usia muda janganlah sampai tersia. Kelemahan AMRI dan UMROH dikarenakan kelalaian kita dan ketidaksadaran kita untuk berkontribusi. Hilangkan persepsi untuk membangun diri dulu baru umat. Hilangkan alasan karena jauh secara geografis, karena alasan transportasi kita tidak berkontribusi. Berbagai sarana bisa kita optimalkan untuk bisa memberi. Melalui SMS, telepon, internet, YM dan lain-lain untuk memperkuat komunikasi. Hilangkan pikiran untuk membangun ekonomi diri baru mengurus ummat. Pemuda harus mampu bekerja paralel untuk kesolehan diri dan umat. Yakinlah bahwa janji Allah akan terealisasi. Barangsiapa yang menolong agama Allah, maka Allah akan menolong diri kita dan mentsabatkan langkah kita, Qs Muhammad:7.

Dr. Syakir Ali Salim AD berpendapat, pemuda Islam merupakan tumpuan umat, penerus dan penyempurna misi risalah Ilahiah. Perbaikan pemuda berarti adalah perbaikan umat. Oleh karena itu, eksistensinya sangat menentukan di dalam masyarakat.

Semoga Allah menjadikan masa muda kita tidak tersia, masa yang penuh makna, masa yang menjadi catatan bersejarah untuk diri kita. Insya Allah dengan kekuatan niat dan azzam, secara bertahap umat ini akan merasakan hasil dari kontribusi kita. Allahumma ya muqollibal qulub, tsabbit qulubana `ala dinika, shorrif qulubana ala tho`atik. Wallahu a`lam bisshowab.

Ali Khumaeni, University of Fukui, Japan.

www.khumaeni.wordpress.com

Mari Beramal Dengan Menyebarkan Artikel Ini :

About Rifai Ahmad

Manusia yang berusaha untuk menjadi manusia yang bermanfaat untuk manusia lainnya, lahir di Demak, nyantri di Pati, kuliah di Jakarta, rumah di Bekasi...........

Artikel Yang Mungkin Berkaitan :