Sebenarnya kalau kita mau membuka lembaran sejarah kembali, kita akan menemukan bahwa ibadah kurban itu setua peradaban manusia itu sendiri. Berawal dari perintah Alloh kepada anak-anak Adam As, yang bernama Qobil dan Habil agar mempersembahkan sebagian harta mereka kepada Alloh. Sikap angkuh dan kikir Qobil menyeretnya untuk memberikan persembahan dari hasil pertanian terburuk yang ia miliki, sementara sang adik dengan penuh keikhlasan mempersembahkan domba terbaik yang ia punyai dalam rangka mengabdi kepada Alloh. Akhirnya kurban Habil diterima oleh Alloh Swt yang ditandai dengan disambarnya hewan persembahan tersebut oleh api hingga lenyap, sementara itu Qobilharus menanggung malu kepada orang tuanya karena persembahannya ditolak oleh Alloh. Ujian loyalitas keimanan itupun berlanjut kepada para Nabi setelahnya, puncaknya adalah ketika Alloh mengusik Ibrahim As, dengan mimpi yang menegangkan. Dimana Alloh meminta kepada Nabi Ibrahim agar mau menyembelih anak semata wayangnya yang selama berpuluh-puluh tahun dinantikan kedatangannya.
Usikan mimpi yang pertama tersebut tidak dihiraukan oleh Ibrahim, ia menggunakan akalnya ketika menangkap “wahyu ” tersebut, sehingga ia berkesimpulan bahwa tidak mungkin Alloh memerintahkan dirinya untuk membunuh manusia lebih-lebih ia adalah anak tunggalnya. Lalu Alloh kembali ingatkan Ibrahim kembali dengan mimpi kedua, ternyat Ibrahim belum juga bergeming hingga akhirnya Alloh mengulang perintah tersebut lewat mimpi yang ketiga kalinya.
Mendapati mimpi yang serupa dan berulang-ulang hingga tiga kali, Nabi Ibrahimpun mencampakkan akalnya dan menerima perintah tersebut dengan keimanan yang tinggi, hingga perintah yang semula dianggap akalnya sebagai sesuatu hal yang mustahil, kini hemdak dilaksanakannya dengan penuh ketaatan.
Nabi Ibrahim telah lulus ketika menghadapi ujian loyalitas keimanan dari Alloh, padahal ujian tersebut sungguh amat luar biasa untuk dapat dilaksanakan. Nabi Ibrahim telah memberikan contoh kepada seluruh umat manusia bahwa ketaatan dan ketundukan kepada Alloh adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar kembali. Beliau juga mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya bersikap atas segala perintah Alloh Swt, beliau buang segala olah nalarnya dan beliau ikuti saja bisikan wahyu tersebut dengan penuh keyakinan bahwa apapun yang diperintahkan oleh Alloh Swt adalah kebaikan baginya.
Ketika perintah Alloh tersebut bergaung kembali lewat lisan Rasulullah Saw, maka sudah sepatutnya kita menyambutnya seantusias Nabi Ibrahim As. Seberapa kuat pengaruh ucapan kita terhadap iman kita perlu adanya uji loyalitas keimanan, dan ujian itu salah satunya adalah kurban…..( Bersambung kalau di kehendaki..)


