Tanbihun.com -Masalah atau dalam bahasa Inggrisnya problem tergelar di bumi ini demikian luas. Masalah sifatnya bertali-temali, berkelindan, bahkan seperti benang yang ditenun dan selalu membuntuti setiap aspek kehidupan. Dulu orang punya masalah terhadap jarak. Ia ingin agar jarak yang jauh bisa ditempuh dengan cepat. Ditemukanlah kendaraan bermotor, pesawat, tapi kehadiran mereka justru membuat permasalahan baru. Terjadi polusi udara, suara, dimana-mana. Banyak kemacetan yang membuat banyak orang kota frustasi. Banyak kecelakaan yang telah merenggut nyawa manusia. Juga dikatakan bahwa pemanasan global (global warming) diantaranya disebabkan oleh emisi gas buang kendaraan yang menjadi embrio efek rumah kaca.
Dalam dunia pertanian, dulu pemerintah kepingin pertanian kita bisa menghasilkan panen yang lebih cepat, karena terkait dengan permasalahan permintaan beras yang kian meningkat, dan suplai beras yang semakin sedikit. Maka ditemukanlah bahan-bahan kimiawi sebagai suplemen untuk membantu percepatan panen raya. Juga untuk membajak sawah dipakai traktor mesin, yang bisa menggantikan bajak kerbau.
Panen raya semakin cepat, tetapi muncul permasalahan lagi, bahwa keasamaan tanah mulai berkurang terus dan hilang. Kesuburan tanah mulai susut demikian pesat. Tanah dan padi sudah sedemikian tergantung kepada hal-hal kemiawi. Sedangkan tanah semakin susah menyerap air, diduga akibat pembajakan dengan traktor. Bertambah hari padi, sayuran, bertambah banyak membutuhkan bahan-bahan kimiawi.
Hama mulai kebal semprotan. Petani dihadapkan pada permasalahan pupuk urea, pestisida, dan bahan kimia lainnya yang semakin mahal. Banyak bank, renternir, BMT, yang menawarkan hutang kepada petani agar mereka dapat memulai untuk menanam lagi. Padahal para pendonor hutang itu juga bertujuan untuk melestarikan keuntungannya, atas keterbatasan petani.
Setelah petani menyetujui satu-satunya jalan dengan hutang, maka hari-hari petani dihantui dengan: bagaimana cara mengembalikan uang pinjaman. Pikiran-pikiran yang bisa mengganggu secara psikologis ini bisa juga menimbulkan permasalahan-permasalahan rumah tangga. Timbullah percekcokan, kesempitan berfikir dan emosional diantara anggota keluarga. Itulah hirupan nafas permasalahan petani.
Berbeda lagi dengan permasalahan pedagang, khususnya yang menimpa para looper batik Pekalongan yang ada di Yogyakarta. Looper itu biasa dimengerti orang awam sebagai perantara antara produsen dengan toko pengecer. Atau dalam bahasa ekonomi dikenal sebagai distributor. Saking ruwetnya permasalahan yang menimpa looper, banyak orang memanjangkan istilah looper dengan laplop-laplop dikiper (nongal-nongol selalu di tempeleng). Kepanjangan itu bisa dimengerti dari ranah kesemprawutan keadaan pasar sekarang.
Tak usah dibayangkan, bagaimana para pengecer yang mengambil barang dagangan dari loper selalu membayar dengan tempo sekitar satu sampai tiga bulan. Bahkan dengan tempo pun tidak cukup, ditambah pembayaran memakai giro, atau cek. Looper bisa mendapatkan uang, asal ia bisa menyetok barang yang bisa ditempo lagi. Jadi apa yang dibayar sekarang adalah pembayaran sebagian barang yang sudah di setok sejak beberapa bulan lalu.
Naas, looper harus bisa mengatur keuangan, karena bisa jadi rencana laba, bahkan modal yang berasal dari pinjaman produksen bisa tergerus untuk ongkos hidup, transportasi, komunikasi, di rantauan. Maka tak heran banyak loper yang bernasib sama, yakni: lebaran terpaksa tak bisa mudik ke rumah. Karena takut dengan berbagai macam tagihan dari para bos.
Sebenarnya permasalah yang meliputi para looper terletak pada, ketidak mampuan looper memanage uang. Kebanyakan mereka boros. Dan terpaksa hidup dengan standar ganda. Misalnya di rumah uang dua puluh ribu bisa untuk makan seharian bersama istri dan anak, di rantauan looper bisa menghabiskan uang lima puluh ribu dalam sehari. Keborosannya terletak pada mahalnya biaya hidup, ditambah ubo rampe: kebiasaan merokok, bayar kontrakan, listrik, transport.
Informasi yang bisa kita tangkap bahwa pada tahun kemarin sekitar puluhan looper Pekalongan–Pemalang bermasalah dengan polisi, akibat ia tak bisa melunasi hutang-hutangnya kepada para bos di kampung halaman. Padahal kebanyakan bos juga terlilit hutang dengan bank-bank. Banyak rumah-rumah mentereng, mobil mewah, yang ternyata sertifikatnya sudah ‘sekolah’ di bank-bank. Sehingga tak ayal apabila banyak kejadian yang mengagetkan yang menimpa para bos. Para milyader itu mendadak menjadi kaum papa, karena harta, benda, rumah mereka semuanya di segel oleh bank.
Budaya gengsi dan iri hati telah meliputi masyarakat Pekalongan–Pemalang. Entah ketularan dari sinetron-sinetron, atau dari hatinya yang tak pernah qonaah. Ada diantara bos yang hutang di bank-bank bukan untuk modal usaha, tetapi untuk membuat rumah mewah. Motivasi membangun rumah mewah bisa disebabkan karena rasa sentimental iri hati kepada teman-temannya yang telah memiliki rumah yang tak masuk akal.
Kenapa tak masuk akal? karena akhir-akhir ini banyak bangunan rumah sudah tak memperhatikan fungsinya lagi, suami istri dengan dua anak, bisa membangun rumah dengan ukuran ratusan meter persegi, dengan ketinggian yang tak wajar lagi, karena bertingkat-tingkat. Jadi sekarang muncul trend baru bahwa rumah berfungsi layaknya monument yang bisa mengumumkan tentang kekayaan si empunya rumah kepada masyarakat sekitar. Karena monument, maka dihuni atau tidak dihuni itu tidak penting, karena fungsi rumah sudah bergeser menjadi tanda untuk menunjukkan berbagai prestiese social dan kekayaan.
Orang-orang membangun rumah dengan tak mempertimbangkan perasaan social lagi. Anda tak usah membayangkan, karena sekarang sudah marak, bagaimana rumah mewah dibangun diantara rumah doyong dengan pagar bambu bolong-bolong. Bahkan itu banyak terjadi di masyarakat Rifaiyah. Dan para kiai tak merasa resah atas hal itu, karena pengajiannya hanya menyangkut masalah air dan shalat. Dan bisyaroh kiai pun berasal dari para juragan pencipta kesenjangan social dan perusak lingkungan. Jadi tak mungkin koar amar ma’ruf sang kiai mampu menyentuh permasalahan yang dapat mengancam batalnya hajat hidup.
Mereka berlomba-lomba membangun rumah layaknya penjara, karena pagarnya sedemikian besar dan tinggi. Pagar itu sejatinya seperti ungkapan yang selalu mencurigai tetangganya, “awas ada maling.” “awas tetanggamu matanya jelalatan, jangan sampai melihat interior dalam rumah kita.” Pagar tinggi dan angkuh itu telah membuat lara bagi para tetangga. Karena pagar itu semacam batas nasib antara aku dan kau. Rumah mewah dengan pagar menjulang dengan besi yang runcing sudah wajar di kampung-kampung di Pekalongan. Itu semua tanda bagaimana masyarakat kampung sudah ketularan rasa egois, konsumeris, sehingga hidupku adalah hidupku, kau tak perlu mencampuri semua urusanku, termasuk matamu tak usah menatap kekayaanku.
Itulah masalah-masalah yang meliputi masyarakat kita sekarang.
Waktu kita menginjak usia baligh dan terus berkembang menjadi manusia tua, kita selalu saja dihadapkan pada masalah. Entah masalah keluarga, masyarakat, dunia kerja, studi, dan lain-lain. Sudah menjadi bawaan manusia dari sono nya, ketika mentok tak mempunyai solusi terhadap masalah-masalah yang dihadapi, ia akan berpaling kepada hal di luar dirinya. Karena yang mengitari manusia hanyalah keterbatasan, ketidaktahuan, dan yang jelas makhal al-khata wa al-nisyan.
Ketika manusia ditimpa permasalahan, ia akan meminta tolong kepada orang-orang yang dipercayainya dapat menyelesaikan masalahnya. Ketika ia telah pergi kemanapun menemui orang dan meminta tolong, ternyata ia masih saja terlilit permasalahan, maka ia bisa berlanjut meminta tolong kepada hal di luar diri manusia. Ia bisa mengambil air wudlu, kemudian shalat dua rakaat di masjid, kemudian ia meminta dengan sebisa mungkin kepada Tuhannya. Tuhan akan memberi pertolongan dengan perantara apapun, maka bagi manusia hanya satu yang bisa dilakukannya khusnu dzan kepada Allah dan selalu mencari khikmah dari semua permasalahan.
Ada seorang guru yang pandangannya minus berat. Ia hampir putus asa, karena keterangan dari dokter dan informasi yang ia terima kebanyakan mengatakan bahwa mata minus tak bisa dipulihkan, karena termasuk bukan penyakit, tetapi cacat tubuh pada kornea mata yang telah bergeser fokusnya. Pada suatu hari sang guru minus ini terkena lemparan batu dari seorang anak yang sedang melempar mangga tetangga. Pelipisnya bersimbah darah. Ia tak bisa berbuat apapun kecuali bersabar. Setelah lukanya berangsur membaik, ia juga merasakan bahwa mata minusnya kembali normal, dan ia bisa melihat tanpa bantuan kaca mata.
Sekali lagi! Tuhan menolong hambanya dengan cara, dan melalui apapun yang memang dikehendaki-Nya. Kewajiban hamba hanya satu mensyukuri dan selalu baik sangka dengan anugerah keadaan yang telah Tuhan berikan.
Wirobrajan Yogyakarta 22 Agustus 2010
Tapak Sabda Muhammad


