Oleh : Ali Ahkamulloh
Tanbihun.com – Akhir-akhir ini isu mengenai pemanasan global (global warning) hangat diperbincangkan. Negara-negara di seluruh dunia banyak mengadakan seminar dan konferensi yang membahas mengenai upaya mitigasi global warming, bahkan melakukan berbagai riset dan inovasi teknologi ramah lingkungan. Tak heran jika hal ini semua dilakukan, karena efek/dampak negatif pemanasan global mulai dirasakan.
Pemanasan global adalah fenomena alam yang terjadi akibat emisi CO2, meningkatnya gas CFC, CF6, dan gas berbahaya lain di atmosfer. Banyaknya gas-gas tersebut di atmosfer mengakibatkan gelombang cahaya pendek pantulan dari bumi tidak dapat diteruskan ke atmosfer, akhirnya panas bumi pun meningkat secara global. Dampak negatif pemanasan global diantaranya adalah timbulnya penyakit kanker kulit, suhu di bumi meningkat, dll. Contoh aktivitas manusia yang memacu terjadinya pemanasan global adalah penggunaan handsprayer dan AC yang dapat meningkatkan kadar gas CFC di atmosfer.
Pemerintah bahkan negara di dunia telah melakukan upaya untuk memitigasi pemanasan global. Misalnya, pembuatan mobil yang ramah lingkungan, pembuatan lemari es non CFC, parfum yang ramah lingkungan, dll. Langkah-langkah tersebut tentunya menghabiskan tenaga, pikiran dan dana yang tidak sedkit, bisa mencapai miliaran bahkan triliunan rupiah. Namun, sebenarnya ada metode yang murah dan efektif yaitu dengan pembuatan Talun Bambu.
Bambu adalah tumbuhan asli Indonesia yang keberadaanya sudah mulai mengalami kepunahan. Hanya beberapa yang masih mengelolanya, seperti di Perancis (sebagai tempat wisata), di Kebun Raya Bogor (sebagai upaya pelestarian keanekaragaman hayati) dan di sekitar bendungan PT Great Pineaple yang ada di Lampung (sebagai upaya pencegahan erosi). Jenis tumbuhan bambu ada 143 jenis yang tersebar di seluruh Indonesia. Secara agronomis tumbuhan ini budidayanya mudah, pemeliharaanya sedikit, dan pertumbuhannya tergolong sangat cepat. Tumbuhan ini memiliki banyak manfaat. Dari segi ekologis, bermanfaat sebagai penyerap gas karbon terefektif (dalam 1 ha bisa menyerap gas karbon sebanyak 12 ton per tahunnya; yang jika dikonversikan 1 ton C = 2.354 ton CO2) serta mengurangi erosi dan run-off. Menurut Dransfield dan Widjaja (1995) penggunaan bambu di Asia Tenggara diantaranya adalah untuk bahan bangunan, dan berbagai macam keranjang. Kegunaan penting lainnya adalah sebagai bahan pembuatan kertas, alat musik dan kerajinan tangan.
Talun adalah sistem pertanaman yang menyerupai pekarangan, tetapi di atas lahan tidak ada bangunan tempat tinggal. Talun ditanami dengan banyak jenis tumbuhan. Sebagian besar tanaman tahunan. Dapat terjadi talun itu didominasi oleh suatu jenis, misalnya bambu. Dalam hal itu talun tersebut dinamakan talun bambu (Soemarwoto,1997). Talun bambu bisa diaplikasikan sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH). Jika seandainya di Indonesia dilakukan program pembuatan Talun Bambu tiap provinsinya seluas 1 ha, maka Indonesia akan memiliki Talun Bambu seluas 32 ha sehingga Indonesia dapat berkontribusi dalam menyerap kadar gas karbon di atmosfer sebanyak 384 ton (berarti 903.936 ton CO2). Hal inilah yang nantinya bisa digunakan sebagai upaya untuk mitigasi global warming.(zid)
Salam Generasi Pecinta Lingkungan ¡!!
Kota Hujan, 23 Desember 2010
Referensi :
Soemarwoto, O. 1997. Ekologi: Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Djambatan. Jakarta. 381 hlm.
Suprapti, S. 2009. Decay resistance of five Indonesian bambu species against fungi. Jurnal of Tropical Firest Science 22 (3) : 287–292.
Pemanasan global dapat terjadi apabila tingginya kadar gas,Atmosfer memiliki kandungan sebanyak,bambu dan pemanasan global,pengertian talun,Tingginya kandungan cfc di atmosfer



bagus mas, pertanyanya 1 ha bambu dengan jumlah batang berapa? karna penyerapan CO2 itu tergantung berapa banyak bambu or daun bambu yang ada. apakah ada data yg lebih akurat, spt berapa m2 daun bambu dpt menyerap brp ton co2. and yg lbh detil lagi, sebetulnya zat aktif apa di daun itu yg bisa menyerap CO2, spt kita tahu daun or kayu itu di dalam terkandung bebagai macam zat aktif spt tanin or lignin or sellulosa, adakah data empiris dari kandungan itu sebelunya yg menyerap CO2 itu apa? sebuah ide penelitian yg bagus.
thanks