Penulis Serat Cebolek Merekayasa Dan Mendramatisasi Cerita

Oleh Ibnu Khasbullah

Tanbihun.com -Masalah Serat Cebolek memang merupakan masalah yang cukup “mengganjal” bagi kita. Masalah ini sebenarnya pernah muncul tatkala terjadi somasi, polemik dan korespondensi aktive antara kita (para ulama & santri muda murid- murid K.H.A.Rifa’i) dengan Prof.Dr.Koento wijoyo (alm) beserta Prof.Dr. Karel Steenbrink yang kemudian menelor kan “Seminar Nasional” di Jogya, yang berakhir diantaranya dengan “De mithologisasi serat Cebolek”, yang artinya: isi serat Cebolek adalah hanya sebatas “MITHOS” yang merupakan bagian dari propaganda dan “Character Assasination/ pembunuhan karakter” terhadap K.H.A.Rifa’i, walaupun diakui memiliki nilai sastra yang tinggi. Pada saat sebelum adu argument tersebut, saya berusaha mendapatkan COPY an serat Cebolek, agar counter kita bernilai ilmiyah dan fair. Maka Steenbrink pun berkenan memberikan satu COPY serat Cebolek kepada saya (Thank’s to Dr.Karel). Serat Cebolek terdiri dari 2 (Dua) bagian, yakni: Bagian pertama dari halaman 1 – 55 menceriterakan tentang perdebatan yang terjadi antara H. Pinang, penghulu Batang dengan K.H.A.Rifa’i, sedang dari halaman 56 sampai halaman 194 adalah tentang perdebatan yang terjadi antara Kiyai Khotib Anom dengan K.H.Mutamakin dari desa Cebolek (Dalam tembang JAWA aslinya, bagian I dimulai dari halaman 197 – 258, sedang bagian II dimulai dari halaman 259 – 435). Serat Cebolek sendiri aslinya merupakan catatan- catatan kisah milik K.R.Adipati Panji Soeryokoesoemo, pensiunan Bupati Semarang. Catatan- catatan kisah ini kemudian digubah dalam BENTUK LAGU / TEMBANG JAWA oleh Camat Magetan, yakni Raden Panji Jaya Soebrata. Kemudian diterjemahkan oleh T.W.K. Hadi Soeprapto BA, guru SMA Kristen di Salatiga kedalam Bahasa Indonesia. Pada kesempatan korespondensi kami utarakan bahwa Isi serat Cebolek hanyalah rekayasa propaganda anti Pejuang Penentang Belanda. Andaikata benar terjadi K.H.Rifa’i tidak bisa (tidak mau) menjawab pertanyaan H.Pinang, adalah bukannya memang tidak bisa menjawab,TAPI ENGGAN MENJAWAB , karena tak ada gunanya, seperti kata- kata Imam Syafi’i yang mengatakan: “Bila aku berdebat dengan para Ulama, aku selalu menang, tapi bila aku berdebat dengan orang- orang JAHIL,AKU SELALU KALAH”.

Saat itu kami kemukakan beberapa argument, diantaranya bahwa:
1. Pertanyaan H.Pinang sangat bodoh, bukan pertanyaan seorang Ulma’. Seperti tersebut dalam IV- PUPUH ASMARADANA, bait 24 – 25 yang indonesianya:
24. (H.A.Rifa’i berkata): “Sebabnya dapat mengatakan belum absah solat jum’atnya, karena tidak lengkap persyaratannya tentang rukun solat Jum’a, Kewajiban para imam solat dan para ulama itu yang harus terlebih dahulu mengajarkan solat.
25.Yang wajib dipenuhi pada solat jum’at pastilah haruslah ada empat puluh (sedikitnya) yang telah sempurna (kamil.pent,)islamnya. Penghulu Batang (H.Pinang) menjawab: “Fardhunya orang jum’atan itu adalah limabelas persoalannya, MENGAJAR TIDAKLAH WAJIB HUKUMNYA”………sungguh pernyataan yang bodoh menurut penulis, bukankah sudah jelas dalam kitab Fatkhul Mu’in yang sudah biasa di pelajari oleh para santri di seluruh pesantren Indonesia bahkan dunia bahwa: “Walau kaanuu arba’iina faqothun – wa fiihim ummiyyuuna – lam tasihha jum’atuhum IN QOSSORO FII TA’AALUMIHIM”= seandainya mereka yang jum’atan itu ada empat puluh, dan ada satu saja yang UMMIY (bacaannya nggak tartil), maka TIDAK SAH lah jum’atan mereka BILA MEREKA TAK MAU BELAJAR”…. Ini dalil umum, bukan pernyataan pribadi K.H.A.Rifa’i.

2. Pantas H. Pinang tidak tahu dalil itu karena sebagai penghulu pilihan Belanda harus dipilih orang yang “KURANG PINTAR DAN KURANG FANATIK DALAM AGAMA”, Seperti tulisan Prof Dr. Sartono Kartodirjo dalam bukunya: “Protest Movement In Rural Java” bahwa: “Diantara syarat diangkatnya PENGHULU dizaman Belanda, ia haruslah:

– Ilmu agamanya TIDAK DALAM, tidak punya kharisma dalam masyarakat, sehingga tidak membahayakan pemerintah kolonial.
– Tidak terlalu ekstrim menentang adat istiadat Belanda.

Dalam pertemuannya dengan penulis komentar ini, Dr. Karel Steenbrink menceriterakan tentang adanya rekomendasi Bupati Wonosobo kepada Gubernur Jendral Pahud di Buitenzorg Bogor tentang seseorang calon PENGHULU. Bupati itu dalam rekomendasinya menulis:”Calon penghulu itu dijamin tidak fanatik, buktinya saat pesta, DIA MAU MINUM ALKOHOL SEDIKIT…….”
Kualitas penghulu seperti inilah yang dihadapi oleh K.H.A.Rifa’i yang BERTAHUN- TAHUN NGANGSU KAWERUH DI TIMUR TENGAH.
Lihat Ucapan tidak senonoh H.Pinang mengata- ngatain K.H.Rifa’i seperti tertera pada V- PUPUH SINOM dari bait 1 sampai 25 menunjukkan karakter yang sebenarnya dari H.Pinang, yang bukan seorang Ulama’ sholih yang santun, tapi dari seorang Ulama’ Suu’ pengabdi tuannya Raja Belanda. Sehingga pantas K.H.A.Rifa’i tidak mau lebih lanjut meladeni perdebatan denga H.Pinang, karena tidak ada gunanya.

TENTANG MENGULANG AKAD NIKAH

Penulis sejarah yang baik seharusnya dapat menempatkan dirinya pada suasana emosional dan kultural pada saat suatu peristiwa terjadi. Paling tidak ia harus sanggup menarik benang merah diantara semua peristiwa yang terjadi pada masa tersebut. Istilah nya harus mengetahui ‘ASBABUN NUZUL dan ASBAABUL WURUD” nya.Sejarah akan terasa beku dan UNFAIR jika ditinjau tanpa melihat latar belakangnya, lebih- lebih kalau ditinjau dengan menggunakan teropong “PEMENANG” ATAU TEROPONG MUSUHNYA. Pembantaian 200.000 orang dengan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki adalah sebuah “tindakan ber-adab, bukan biadab” kalau ditinjau dari kacamata PEMENANG PERANG, yakni Amerika. Coba kalau yang menang perang adalah Jepang. Dalam hal ini saya sebagai orang awam perkenankanlah melemparkan kritik kepada para penulis sejarah iNDONESIA yang KEBANYAKAN masih menggunakan kacamata dan teropong WESTERN/ COLONIAL CENTRIS.

Perlu diketahui bahwa medan da’wah K.H.A.Rifa’i adalah pada periode Perang Diponegoro (1825 – 1830).

Saat tersebut semangat “MELAWAN” segala bentuk penjajah baik secara fisik maupun non fisik sangat terasa kental di Jawa. Dan ternyata salah satu bentuk perlawanan rakyat yakni dengan TIDAK MENGANGGAP SAH perkawinan yang dinikahkan oleh penghulu resmi adalah merupakan gejala umum para patriot. Jadi Fatwa ini tidak 100% pernyataan pribadi K.H.A.Rifa’i, tapi IJTIHAD umum para ulama patriot, bukan ulama kolaborator. Lihat pada: http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/2000/01/2202.html, (dll) yang menyatakan bahwa diantara fatwa P.Diponegoro dan Kiyai Mojo adalah bahwa perkawinan seseorang yang dinikahkan oleh PENGHULU yang diangkat oleh Patih DANUREJO yang diangkat oleh Belanda adalah TIDAK SAH. Mereka harus mengulang pernikahan mereka ke TEGALREJO, dan rakyat (yang berjiwa patriot dan taat) pun berbondong- bondong menikah kembali di TEGAL REJO…….

KESALAHAN PENULIS SEJARAH

Didalam menuliskan sejarah atau tokoh pelaku sejarah, sering penulis sejarah membuat analysis dan kesimpulan yang salah oleh karena beberapa sebab, yaitu:
-Kekurang telitian/ ketidak tahuan
-Kesalah pahaman (missunderstanding)
-Keberpihakan
-Kebencian

Seperti tulisan tulisan Brother Andrew tentang Islam, diantaranya: “Islam is NEO polytheisme – yang menyembah “Morning Star”, maka orang yang telah membaca tentang islam secara lengkap (walau bukan seorang muslim) akan tahu bahwa brother Andrew menulis tentang Islam atas dasar kebencian kalau bukan karena tidak mengerti tentang Islam. Apa sebab?
Karena apa yang dituduhkan justru menjadi dasar awal agama ini ditegakkan dengan air mata dan darah yakni antipolytheisme, pernyataannya tersebar diseluruh kandungan kitab sucinya dan sabda- sabdanya yakni Laa ilaaha illallooh. Dengan demikian tulisan Brother Andrew serta merta tidak ada nilainya bagi para ilmuwan sejati karena bertentangan dengan fakta textual, sehingga tulisan tersebut dapat dikategorikan sebagai “tulisan sampah”
Saya Khusnud Dhon kepada Bpk Abdul Jamil, insyaAllah tidak ada kebencian sedikitpun terhadap Assyaikh, tapi mungkin karena tulisan Syaikhina yang berbahasa jawa, dan mungkin belum tuntas beliau baca semua kitab beliau atau maaf: kurang teliti atau kurang faham artinya dan ingin nampak TIDAK BERPIHAK?

Bukankah kalimat : “Utawi sekehe dosa gede warnane, ora dadi kafir wong gawe temah aene, tetapi dadi fasik ilang keadilannya”= Bahwasanya jenis- jenis dosa besar dimana pelakunya tidak dihukumi kafir, tetapi menjadi fasik hilang adilnya ….” (lihat dalam Ri’ayah Akhir Bab jenis- jenis dosa besar, dan tulisan- tulisan sejenis pada kitab- kitabnya yang lain)
Tulisan ini jelas menunjukkan bahwa Syaikh tidak menganggap kafir para pelaku dosa besar sebagaimana keyakinan dan FAHAM AHLUSSUNNAH Waljamaah, tidak sebagaimana kaum khowarij…….

PENULIS SERAT CEBOLEK MEREKAYASA DAN MENDRAMATISASI CERITA

Dalam kitab- kitab Hadist dan fiqih dibahas tentang Wajib tidaknya seseorang yang baru masuk Islam untuk mandi.Diceriterakan dalam As-Shohihain: Tatkala Tsumamah bin Atsal masuk Islam, Nabi memerintahkannya untuk mandi. (Subulus Salam I/87 + Fiqhu Sunnah I/51.
Dalam hadist lain diriwayatkan dari Qois bin ‘ Ashim:” Aku mendatangi Rasulullah untuk masuk Islam, maka Rasulullah memerintahkan aku agar mandi dengan air dan daun bidara”. Hadist riwayat Abu Dawud, Turmudzi dan Nasa’i.
Para Ulama berbeda pendapat. Imam Ahmad bin Hambal menyatakan: Wajib secara muthlaq. Sedang Imam Syafi’i menyatakan: Itu sunnah, sesuai dalam Qolyubi Wa Umairoh II/284: (mandi masuk islam itu) bukan perkara yang diwajibkan- “Li-anna jamaa’atan aslamuu, falam ya’muruhum bil ghusli”= karena ada jama’ah yang masuk islam, tapi Rasulullah tidak mewajibkan mereka mandi.
Karena Syekh H.A.Rifa’i adalah penerus madzhab Syafi’i, tentu saja beliau dalam kitab- kitab karangannya tidak mewajibkan seseorang yang akan masuk Islam untuk mandi. Dalam Ri’ayatul Himmah I bab SESUATU YANG MEWAJIBKAN MANDI beliau menulis: Utawi kang dadi sabab kewajibane – ingdalem adus iku limo perkarane. Kang dihin ADUS JANABAT namane – sabab jima’ tuwin metu manine…dst. dst.
Disana Syekh menyebutkan bahwa penyebab mandi itu lima, yakni: 1- Janabat. 2- Mati. 3- Haidh. 4- Nifas. 5- Wiladah.
Hanya itu.

Tapi dalam Serat Cebolek dikisahkan adanya seorang modin yang akan berguru (Taslim) kepada beliau diharuskan mandi dan digosok pakai daun ilalang sampai babak belur tubuhnya….
II. Pupuh Asmaradhana:
4. Adalah seorang modin tertarik lalu berguru kepada kiyai Rifa’i.Sesampai didepan guru itu ki lebai (modin) mengemukakan kata hatinya,”Aduhai, kiyai yang terhormat, adapun hamba memberanikan diri menghadap paduka.
5.karena terdorong hasrat hati hamba, masuk agama Islam.Ki Rifa’i menjawab perlahan,”Baiklah jika demikian. Hai anak- anak, modin itu, mandikanlah lekas dalam kolam, gosoklah ia dengan daun alang- alang”.
6.Bertindaklah kelima murid itu.Sesampai dikolam, modin itu dimasukkan kedalamnya, digosoknya dengan rumput ilalang, sehingga kulitnya lecet- lecet, dan modin itu menangis dan meratap, karena tubuhnya bilur- bilur semuanya.
7.Lalu ia keluar dari kolam, sesampai didepan,Ki Rifa’i berkata perlahan:” Sebabnya kau kumandikan, kusuruh gosok dengan alang- alang, karena ternyata badanmu, penuh berlumuran najis badanmu, sehingga belum sah lah sholatmu”…….
Nah, silahkan anda menilai. Model dan jenis apakah Serat Cebolek itu kalau bukan CHARACTER ASSASINATION, DRAMATISASI dan menggiring ke arah KRIMINALISASI da’wah beliau yang mengantarkannya dibuang ke Ambon, dengan tuduhan: Kejahatan Politik.

SERAT CEBOLEK = CORONG PROPAGANDA KOLONIAL BELANDA= PEMBENARAN POLICY MEREKA

Diantara misi dan tujuan propaganda adalah: Menjatuhkan pamor dan moral musuh dan menaikkan citra pihak yang dibelanya, serta pembenaran terhadap segala policy yang diambil agar mendapatkan dukungan masyarakat yang termakan propaganda itu dengan maksimal.Saat itu surat kabar, televisi, radio belum ada. Maka media terbaik adalah media cultural mengikuti pola orang Jawa yang SUKA TEMBANG. Diharapkan tembang itu akan menjadi populer, dinyanyikan (URO- URO) dimana- mana, sehingga citra negatip ajaran KH.A.Rifa’i akan segera dengan cepat menyebar dihalayak masyarakat pedesaan.

Dalam Serat Cebolek nampak secara kasat mata arah tujuan dan misi penulisan serat tersebut.

Lihatlah bagaimana si penulis memuja- muja para pejabat Belanda, sebagai simbol penguasa kolonial pada saat itu:

VII. Kinanti. hal 50.
2. Yang menjabat sebagai residennya (waktu itu) ialah tuan Van der Poel, YANG PANDAI, BERWATAK BAIK HATI dan PENYABAR, BESAR PERHATIANNYA TERHADAP BAWAHANNYA, TERKENAL HINGGA KENEGERI LAIN ( daerah- daerah lain di Jawa), BERSIKAP ADIL DAN HALUS BUDI BAHASANYA.

3. Adapun sekretaris beliau itu, bernama tuan Fislaar, BIJAKSANA, BERBUDI HALUS, BERANI BERTANGGUNG JAWAB, LAGI PULA TAMPAN RUPANYA……..

Bandingkan dengan ungkapan penulis tatkala menggambarkan siapa KH.A.Rifa’i, yang dalam kisah Serat Cebolek digambarkan sebagai tokoh antagosnis.

Perlu diketahu bahwa pihak kolonial secara ILMIYAH pernah mencoba meneliti segala ajaran dan tulisan KH.A.Rifa’i, apakah yang di tuduhkan oleh para pejabat penghasut itu benar secara textual. Pernyataan datang dari Dr. Snouck Hourgronje sebagai seorang pakar ke Islaman yang diakui dunia, yang bergelar (mengaku) sebagai Syekh Abdul Ghoffar dalam “ADVICENT” (Saran- saran Hourgronje kepada pemerintah kolonial), bahwa semua yang tertulis dalam kitab- kitab Ahmad Ripangi adalah sesuai dan standart sebagaimana tertuang dalam kitab- kitab agama Islam yang bermadzhab Ahlussunnah + Madzhab Syafi’i, sehingga menurut Snouck, ajaran dalam kitab- kitab Rifa’i adalah normal, tidak bermasalah.

Maka dengan kondisi ini pengadilan biasa tidak akan memungkinkan untuk menyeret dan menjatuhkan KH.A.Rifa’i kedalam BUI, terkecuali dengan suatu tuduhan bahwa pengajian dan da’wah beliau dapat mengobarkan kembali semangat perlawanan kepada penjajah. Kebetulan saat itu yang menjadi Gubernur Jendral adalah PAHUD yang keras, dan kebetulan sebelumnya ada pemberontakan besar pula selain Diponegoro dan Perang Padri, yakni yang terjadi di India, dimana kaum muslimin berani melawan penjajah Inggris yang kuat disana. Kejadian- kejadian ini makin meneguhkan Pahud untuk bertindak KERAS terhadap segala “PEMANTIK API JIHAD”, sekecil apapun, untuk segera dihabisi.

Lihat dalam VII. Kinanti diatas pada bait- bait berikutnya, yang menceriterakan laporan tentang timbulnya pemberontakan rakyat KEDU karena mereka telah “termakan oleh da’wah perjuangan” dari Ki Ripangi.

Saat itu diceriterakan Van der Poel dan Fislaar tengah mendapatkan laporan dari pejabat pemerintah kolonial yang bernama Lamser tentang tokoh antagonis yang berbahaya. Diantara laporannya diberitakan adanya penduduk Kedu yang termakan provokasi KH. A.Rifa’i sehingga merekapun berani mengangkat senjata melawan kezaliman sampai- sampai bupati Kedu pun terbunuh saat pemberontakan rakyat tersebut. Nah, atas dasar laporan- laporan sejenis yang mendiskreditkan beliau itu kemudian masalah KH.A. Rifa’i dibawa ke jenjang lebih tinggi, bukan melalui pengadilan umum, akan tetapi berdasarkan keputusan politik Jendral Pahud nomor 35 tertanggal 10- Mei- 1859, yang memutuskan agar K.H.A.Rifa’i harus dibuang ke Ambon dengan DICTUM:

1.K.H.A. Rifa’i tidak mau mentaati kepala pemerintahan pribumi YANG DIANGKAT OLEH PEMERINTAH BELANDA, dengan demikian dianggap sebagai BAHAYA POLITIK.

2.Tindakan itu bukan perkara HUKUM RESMI. Oleh karena itu tidak diadakan pengadilan.

3.Tindakan pengasingan ini merupakan usaha preventip untuk mencegah timbulnya bahaya ketertiban dan keamanan. Dengan demikian beliau diasingkan ke Ambon.
(Oost Indische Besluit, 289/59 Geheim, 19 – Mei- 1859)……

Counter Agitasi

Itulah perlunya counter agitasi. sering para pakar mungkin karena terbatasnya waktu dan kesempatan, keterbatasan sumber pembanding,ketertutupan masyarakat yang sedang ditelitinya atau masukan- masukan yang tidak cukup atau tak berdasar , akan memungkinkan seorang pakar salah dalam mengambil sebuah kesimpulan. (dulu… para peneliti dan pakar kesulitan mau melihat seperti apa sih kitab karangan syekh Rifa’i itu beserta ajarannya yang sejati…..alasannya takut kitabnya dirampas lagi. Saluut dan apresiasi kepada K.H.Zaenal Abidin Pekalongan yang telah berani “melawan pakem” sehingga kitab- kitab syaikhina diberikan foot note yang cukup sehingga memudahkan para peneliti untuk mencari sumber rujukan kitab syaikhina, saluut pada web site- web site rifa’iyah terutama tanbihun.com yang telah berani membuka diri). Jadi, sejujurnya kesalahan tidak bisa seratus persen dibebankan kepada para peneliti tersebut, tapi ada sekian persen dari kita karena ketertutupan kita, kecuali kalau memang penelitinya sembarangan atau kurang fair.(zid)

15 Comments on Penulis Serat Cebolek Merekayasa Dan Mendramatisasi Cerita

  1. ibn khasbullah // 30 November 2009 at 4:03 pm // Balas

    Terimakasih kang yazid atas rangkumannya.
    Sedikit ralat:
    – Wa fiihim ummiyyuuna –> wa fiihim ummiyyun
    – Wa lam ya’muruhum –> walam ya’murhum
    -Advicent –> De Advicent.

  2. ya tentu…. karna serat ci bolek itu di tulis untuk siapa…. malah klo ditulis apa adanya itu yang aneh dan perlu di ragunan kang. jadi kalo isi serat cibolek itu di rekayasa or di dramatisir, baru itu yg bener. jd cara membacanya itu harus dengan logika kebalik.

  3. ibn khabullah // 1 Desember 2009 at 8:51 am // Balas

    Benar kang maman. Kapten Westerling yang membantai ribuan ( puluhan ribu orang)itu dianggap pahlawan dan dipuja di Belanda. Begitu juga jendral Van Heutz yang membantai para pejuang Aceh – tua muda, bayi dan ibu- ibu,sesuai catatan Zentgraaf, dibuatkan patungnya di Belanda karena dianggap penakluk Aceh.
    Oh ya, kumpulan nasihat Dr.C.Snouck Hurgronje itu judul aslinya: “Ambtelijke Adviezen Van C.Snouck Hurgronje”. Tentang H.Rifa’i ada pada halaman 1930 – 1943. Kabarnya kumpulan nasehat ini sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Departemen Agama, dengan judul: Nasihat- nasihat Snouck Hurgronje Kepada Pemerintah Belanda. Ada yang memiliki buku ini? atau bisa menunjukkan kemana harus membeli/ memperolehnya?
    (Maaf seringkali coment dibuat sambil mobile, jadi kadang- kadang ada saja salah tulis).

  4. ( Maaf pak Kyai…tulisan di atas menurut saya kan masih sebatas bantahan secara logis / rasionalis, nah…agar lebih berbobot ilmiah, bantahan terhadap serat cebolek juga harus dihadirkan bukti2 sejarah yg akurat…kita tdk dapat mengklaim sebuah tulisan itu di dramatisir atau tdk, jika terdapat sebuah fakta sejarah yg sifatnya jelas dan berseberangan dg tulisan itu. Yg paling maknyuus itu apabila dihadirkan bukti “fakta lapangan ” yang bersumber dari amaliyah2, tulisan ataupun fatwa dari KH Ahmad Rifa’i, dg begitu secara otomatis serat cebolek akan hilang legitimasinya sebagai sebuah serat sejarah…matur nuwun..maaf bukan menggurui..

  5. Imam Gozaly PP Rifa'iyah // 3 Desember 2009 at 12:10 am // Balas

    Untuk Mas Ahmad Rifa dimohon kehadirannya pada rapat PP Rifa’iyah tanggal 05 Desember 2009 MTS Al Islamdi Limpung Batang – Jateng. dari Imam Gozaly. Trimakasih 081586254277 or 081382764187

  6. ibn khasbullah // 3 Desember 2009 at 10:18 am // Balas

    Mas Imam, ditunggu nih tulisannya di tanbihun. com!!!!Salam untuk wong Cilomoyo/Cilamaya.

    Untuk mas rifa’i…
    Bener mas, memang harus demikian, namun dalam pelaksanaannya dan kenyataannya, tidaklah begitu mudah untuk membalikkan sebuah BAD IMAGE yang sudah terbentuk. Islam saja sebagai sebuah agama, sudah kadung mendapat bad image sebagai agama yang di sebarkan melalui pedang, tidak mudah terhapus. Walaupun banyak bukti yang menyatakan sebaliknya. Sebagaimana penyebaran Islam di Indonesia, Malaysia, Philipina, agama Islam masuk dengan sentuhan kultural yang manis, tapi bukti- bukti itu belum cukup untuk membalikkan sebuah image yang MEMANG SENGAJA DIBENTUK dan DIPERTAHANKAN KELIHATAN BURUK. Sebaliknya agama lain yang punya track sejarah lebih kejam, bisa memiliki image yang BERADAB karena kekuatan media mereka. Lihat pengadilan INQUISISI di Spanyol, lihat peperangan- peperangan besar di Eropa, baik sebelum WWI seperti peperangan Napoleon maupun sesudah WWI, yakni WWII yang menelan korban JUTAAN JIWA.Belum pernah ada peperangan yang menelan korban begitu besar, kecuali dilakukan oleh mereka. Begitu juga semboyan GOLD GOSPEL & GLORY yang terbukti memporak porandakan tatatan wilayah kenegaraan saat itu dan telah mengakibatkan punahnya beberapa bangsa seperti bangsa INDIAN di Amerika dan bangsa ABORIGIN di Australia, tetap saja tidak bisa membalikkan GOOD IMAGE yang telah dengan berhasil mereka bina. Mereka dengan cerdiknya membagi wilayah itu kedalam ranah politik, tidak ada urusannya dengan masalah agama.

    Adapun fakta- fakta dilapangan sesudahnya tidak dapat seratus persen menggambarkan kondisi saat sejarah itu terjadi karena mungkin telah mengalami beberapa distorsi atau oleh karena pemahaman yang partial. Contoh, pada saat Mu’tazilah berkuasa tidak bisa serta merta menjadi bukti bahwa itulah warna Islam yang sebenarnya karena islam versi mu’tazilah adalah Islam yang sudah mengalami distorsi atau mendapatkan pemahaman yang partial. Kembali tentang masalah Bad/ good image. Ada contoh yang kebetulan saat ini sedang ramai dibicarakan yakni tentang BALIBO FIVE. Yakni tewasnya 5 wartawan asing pada peristiwa peperangan Balibo, Timor Timur pada 16- Oktober- 1975. Menurut versi Indonesia, wartawan itu tertembak karena terjebak dalam peperangan. Sedang menurut mereka ke 5 wartawan itu SENGAJA DITEMBAK oleh militer Indonesia agar tidak menyebarkan kekejaman yang terjadi di Balibo. Mana yang benar? Menurut saya, versi Indonesia yang benar. Menurut kebanyakan orang Australi, ceritera merekalah yang benar dan memasukkan peristiwa itu pada kategori WAR CRIME. Jadi kebenaran sejarah itu kadang semu.
    Adapun bukti lapangan diantaranya adalah:
    1. Tentang Memandikan modin sampai lecet: Tidak pernah ada seorangpun yang menjadi anggota baru rifa’iyyah harus mandi seperti itu. Sudah saya jelaskan tentang argument tekstualnya pada kitab- kitab beliau sebelumnya. Yang ada kalau seorang kafir(asli) mau masuk Islam, untuk menghalalkan hubungan suami istri dia harus mandi dulu, disebut mandi MANI’,Ini kesepakatan para Ulama, bukan mandi penghilang dosa.
    2. Tentang menikah harus dari Kiyai kelompok murid Rifa’i sendiri atas dasar konsep Alim Adil: Terbukti beberapa tahun yang lalu anak sorang pimpinan paling top jama’ah Rifa’iyyah, justru oleh beliau akad nikahnya diserahkan kepada seorang Ulama dari Ciwaringin Cirebon, padahal Ulama Ciwaringin itu bukan warga Rifa’iyyah. Ini berarti konsep Alim Adil itu bukan melulu berlaku untuk warga Rifa’iyyah, tapi berlaku umum untuk siapa saja yang sudah memiliki kriterianya, yakni:PINTAR + BENAR.
    3. Pendapat pakar yang objective, bahwa H.Pinang berdebat dibawah dukungan penuh pemerintah Hindia Belanda:

    ” And it was, of course, the latter group (H.Pinang)that was BACKED BAY THE RULLER. The lines of religious factionalism thus coincided with lines of political division, separating the most vociferous opponents of colonial regime from those who at least passively accepted it. This pattern recurred with remarkable regularity in the history of colonial religious policy in Indonesia. The Dutch government WAS ON THE SIDE OF RELIGIOUS GROUP WICH SHOWED LESS MILITANCY AND FANATICISM and hence coul be regarded as POLITICALLY HARMLESS…….(Sartono Kartodirjo: Protest Movement In Rural Jawa . P.125- 126).
    Yang jelas adalah, bahwa untuk membalikkan image dan “mengkandaskan image buruk ” dari Serat Cebolek, adalah butuh tenaga, pikiran, usaha YANG TERUS MENERUS, TAK KENAL LELAH DAN BUTUH WAKTU serta KESABARAN EKSTRA.
    Dan itu ada ditangan anda semua……

    • Rifa'i Ahmad // 3 Desember 2009 at 5:58 pm // Balas

      @ibn khasbullah, meskipun sulit sekali melakukan pembersihan nama..namun hal itu harus diupayakan kan pak…???. setidaknya bagi orang yg cerdas, dia akan dapat menimbang dg cermat mana yg benar mana yg salah, apabila disertai dg sanggahan yang logis dan memuat fakta yang akurat. Dan tak ada jalan lain kecuali mengupas serat cebolek dg dibandingkan dg pemikiran serta perilaku syaikhina…
      Meskipun efeknya ngga signifikan, namun kehadiran tanbihun.com ini juga merupakan bentuk kontribusi nyata dari santri2 tarjumah dalam membersihkan image negatif yang sudah kadung melekat atau sengaja dilekatkan kepada kaum puritan ini…
      Silahkan di share seratnya pak..biar kita bahas….

  7. ibn khasbullah // 5 Desember 2009 at 8:27 am // Balas

    Ya kang, insyaallah segera.
    Bagaimana kalau buku itu nanti diberi judul:
    “FALSIFIKASI DISERTASI DR.A.DJAMIL.MA”?
    Yang artinya kira- kira:
    “Ketidak akuratan disertasi DR.A.Djamil
    MA”?

  8. Gmna klo kt buat tulisan/artikel tntng ketidak benaran isi serat cebolek disertai pndapt2 dr para pakar sprt diatas truz kt kirimkan ke media cetak/koran,biar publik dpt dngn mudah dan cepat mengetahui tntng ktdk validtan isi serat cebolek, dgn bgitu bad image yg bergulir slama ini bs mnjd good image.. atau klo mau lbh top markotop lg kita buat smcam liputan atau dokumenter tntang Rifaiyah+sejarahny+ ajaranya truz kt kirimkan k televisi pst jozz saya ykin generasi tanbihun mampu dan mau untk melakukan ini..

  9. ibn khasbullah // 10 Desember 2009 at 10:46 am // Balas

    Usul anda bagus dan itu menjadi pertimbangan kami,walaupun menurut para pakar seperti kang rifa’i ,dll, tulisan ilmiyah dalam bentuk sebuah buku akan memiliki gaung yang lebih lama dan akan menjadi acuan, referensi dan sumber rujukan bagi para penulis berikutnya dibelakang hari.(Kalau nggak salah, mas nibros ini masih keponakan saya. betul nggak?).

    Kembali tentang serat Cebolek.

    Masalah Alim Adil.
    Salah satu masalah yang diperdebatkan dalam serat cebolek adalah tentang masalah “Alim Adil”, seperti pada: II. Pupuh Asmaradana 18.19.20, atau pada V. Pupuh sinom 7.8 + 17.
    KH.A. Rifa’i menyatakan dalam kitab kecilnya : ” Takhyiroh” demikian: “Utawai syarat sahe wongkang ginawe guru iku riningkes rong parkoro,,,,,,,,,dst = ” Bahwasanya keabsahan seseorang yang dapat diakui sebagai guru diringkas menjadi 2(dua) unsur, yakni:
    1- Alim, artinya:Tahu tentang sumber- sumber dalil hukum agama Islam.
    2- Adil riwayat, artinya: Track record nya ADIL, yakni tak pernah melakukan dosa besar, tak bergelimang dan menyepelekan dosa- dosa kecil, bila terkena dosa diapun langsung bertobat.(Lihat; LOr 7522 – R – 16.010. Takhyira, targama in prose on sahadat etc.by Ahmad Ripangi,copy made for Dr.Sn. Hurgronje- Dr. TH.Pigeaud: Literature of Java Vol. III.Leiden University Library).
    Kriteria ALIM ADIL ini BERLAKU UMUM, walaupun beliau juga mengakui sebagai salah satu diantara para Alim dan Adil, yang akan menegakkan kekhalifahan di tanah Jawa.
    Syekh Rifa’i tidak pernah menyatakan bahwa semua alim di tanah Jawa adalah FASIK/ TIDAK ADIL. Akan tetapi SEBAGIAN DIANTARA MEREKA. beliau diantaranya menyatakan:
    -Nyoto sasar SETENGAHE WONG ALIM
    -podo anut maring sasare wong dholim
    -pancene ing syara’ tan nejo taslim
    -tan nggugu ing perintahe qur’anil
    adhim.

    Artinya:
    Nyata sesatnya SEBAGIAN ORANG ALIM.
    mereka mengikuti PERINTAHNYA ORANG DHOLIM (Raja Belanda).
    memang mereka tak mau tunduk pada hukum syara’
    tak peduli pada perintah Al- Qur’an yang agung. (Ri’ayatul Himmah I/Ushuluddin. LOr 6944 – R- 16010. Dr. TH. Pigeaud: Literature of Java Vol III. Leiden university Library).

    Kalimat- kalimat seperti diatas yang senada, bertebaran dalam kitab- kitab karya Syekh A.Rifa’i,dimana disebutkan ;”Sebagian alim = berarti tidak semuanya”, justru menunjukkan bahwa beliau tidak menganggap sebagai SATU- SATUNYA Alim Adil. Beliau memang saat itu sedang melakukan sebuah kritik sosial melihat banyaknya para cendekiawan muslim yang sudah dapat “DIBELI” oleh pemerintah kolonial, sehingga menyebut mereka FASIK (lawan ADIL), yang tak pantas dijadikan panutan dalam hukum syar’i.Seperti tulisan Sartono dalam Protest Movement In Rural Java: “Most religious teachers neglected the task of teaching their pupils in these matters and were submissive in accepting ADAT (custom) of the infidel”.(Hal 120)…”Religious teachers and haji who shared allegiance to the RAJA KAFIR (infidel King) were also denounced.(Hal 121).Itu dilakukan setelah beliau pulang dari Mekkah dan melihat bahwa tatanan masyarakat muslim indonesia mulai rusak setelah kekalahan demi kekalahan para patriot menghadapi politik adu domba Belanda dan makin merasuknya budaya kafir dan adat kejawen ditengah kehidupan kaum muslimin:”He came back (From Mecca)to his home village more disgusted than ever with the abuses and impurity which he had found all over Muslim Java, largely as a result of BLENDING OF ISLAM WITH PRE- ISLAMIC JAVANESE CULTURE, and OF SPREAD OF WESTERN INFLUENCE as well….(Hal.122).

    Inti dari hakekat istilah Alim Adil ini difahami betul oleh para santrinya, dan mereka juga tidak menganggap semua Alim diluar Rifa’iyah adalah FASIK. Bukti paling nyata adalah bertebarannya para santri Rifa’iyah berguru ke- pesantren- pesantern NON RIFA’IYAH seperti: Tremas-Pacitan,- Lir Boyo- Ploso- Tebuireng- Payaman= Lasem- Tayu, Pati, dsb. Ini menunjukkan PENGAKUAN secara tak tertulis, bahwa para Alim pengasuh pondok itu diakui juga sebagai Alim Adil. Apa sebab? karena bila para santri tak mengakui kealiman adilan mereka, tak bakalan mereka mau berguru kepada para Allaamah tersebut, karena mereka tidak mau bertentangan dan berusaha sesuai dan mengikuti ajaran guru besarnya: ” Barang sopo wonge ora sah gurune wongiku pituturan, sabab BODO tuwin ALIM FASIK tan tobat, mongko SETAN GURUNE wongiku sasar brayan….” (Takhyiiroh)= ” Barang siapa berguru kepada ajaran orang yang tak memenuhi syarat sebagai guru, sebab BODOH atau ALIM FASIK tak mau bertobat, maka sebenarnya SYETAN-LAH guru nya, mereka sesat menyesatkan….” Para santri Rifa’iyah yang sudah ngangsu kaweruh kesegala penjuru pesantren NON RIFA’IYAH, tak mau dianggap ilmunya hasil dari guru yang tak layak…..

  10. ibn khasbullah // 15 Desember 2009 at 11:16 am // Balas

    Pendapat Willem Van Der Molen tentang Repen Ripangi/ Serat Cebolek.

    Willem Van Der Molen adalah seorang pustakawan pada Koninklijk Instituut voor Taal, Land- en Volkenkude/KITLV (Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribean Studies) di Leiden.

    Dalam Papernya berjudul: Literature as a source for history, The case of the Repen Ripangi (1886), beliau membuat kajian yang menarik, yang intinya:

    1- Karya sastra tidak memiliki landasan yang cukup layak untuk dipakai sebagai sumber penulisan karya sejarah, karena ditulis atas dasar fiksi tanpa menyebutkan sumber sejarahnya dan tanpa riset kesejarahan yang memadai. Tidak terkecuali pada Repen Ripangi.

    Beliau menulis: “One of the most notable differences is of course its fictional, non referential nature. It is becouse of his quality that literary texts have always been considered less fit as a source of historical research. The Repen Ripangi is no exception. (Hal 204- 205)

    2. Tentang Repen Ripangi sendiri beliau membuat sebuah kesimpulan demikian:
    a- Penulis Karya sastra tersebut menggubah sebuah karya yang sejak awal dimaksudkan untuk memperingatkan masyarakat terhadap ajaran Kiyai H.A.Rifa’i.Ini terlihat dimana disetiap halaman ditemukan maksud tersebut yang disampaikan dengan berbagai cara dan gaya bahasa.

    (I found that the author in the first place wanted to warn againts the teachings of Kiyai Ahmad Rifa’i. This is clear on almost every page where it is stated in so many words, and also by means of the many literary devices applied throughout the text, such as presentation, order, wording and many more.)

    b- Pesan yang kedua yang ingin disampaikan melalui karya ini adalah mmemberikan propaganda tentang aturan pemerintahan Kolonial. Kedatangan Belanda di Indonesia tentu saja sangat tidak disukai oleh kebanyakan orang Indonesia. Kenyataan membuktikan bahwa tindakan kekerasan hanya menumbuhkan perlawanan yang keras. Sebagai tambahan dari sebuah tindakan keras pemerintah, sebuah karya sastra telah memainkan perannya. Fakta- fakta (Event) sejarah,- yang diabaikan pada penulisan Repen Ripangi, telah memberikan sebuah gambaran bahwa aturan kolonial, ditandai dengan cara memberikan informasi yang keliru, berlebih- lebihan dan tidak adil.Pada tahun 1886 semua itu tidak bisa disampaikan melalui media press. Literature (karya satra) menawarkan sebuah jalan keluar yang tepat.
    (A second message brought to light concerns colonial rule. The presence of the Dutch in Indonesia was of course not appreciated by many Indonesians, witness the many efforts to get rid of them by force. In addition to force, literature had role to play. The historical events revoke in the Repen Ripangi are presented in such a way that the rule of the Dutch is marked as ill-informed, superfluous and unfair. In 1886 such things could not be said in the press, literature offered a proper outlet. P.205)

    Catatan:
    Bagi yang memahami bahasa inggris, mohon agar terjemahan tersebut dikoreksi dan disempurnakan.

  11. kelanjutannya piye kiye? jangan sampai kandek ing tengah laku !
    salam tanbihun

Leave a comment

Your email address will not be published.

*