Ceramah Prof. Dr. Azyumardi Azra
Pada Diskusi Buku Perlawanan Kultural Agama Rakyat
IAIN Jakarta, Selasa, 14 Mei 2002 yang dihadiri Pembicara : Gus Dur, Bambang Pranowo, Goenawan Mohamad ,Azyumardi Azra
Saya mendapat kritik sebagai penulis buku Jaringan Ulama. Dalam buku tersebut, seolah-olah Ulama-Ulama itu hanya Ulama-Ulama terkemuka yang berasal dari luar Jawa, khususnya Aceh dan Banjarmasin. Sedangkan Ulama-Ulama Jawa tidak terkaver. Pada abad 16-17, karya Ulama/wacana ulama memang banyak berkembang terutama di kawasan luar Jawa tapi sebagaimana kita lihat perkembangan sejarah sosial dan intelektual Islam di Nusantara, pusat-pusat intelektualisme Islam di Nusantara itu tidak terpusat dan tidak mapan di satu tempat. Pada abad 17 Aceh muncul sebagai pusat Intelektualisme Islam yang terpenting. Saya kira mungkin di Nusantara. Tapi kemudian Palembang muncul di abad 18 dan kemudian juga Banjarmasin di abad 18. Tetapi pada abad 19 terjadi pergeseran-pergeseran yang mulai sangat penting dan saya kira Syekh Ahmad Mutamakkin adalah salah satu tukoh intelektualisme Islam di Jawa karena Syekh Ahmad Mutamakkin adalah yang berasal dari abad yang ke-18 juga. Tetapi kemudian sejak kemunculan Syekh Ahmad Mutamakkin, kita bisa menyaksikan munculnya sejumlah ulama-ulama besar dari pulau Jawa yang saya kira masih perlu kita teliti lagi lebih lanjut, di antara nama-nama yang paling sering kita kenal adalah nama seperti KH. Nawawi Al-Banteni yang merupakan boleh kita sebut sebagai Intelectual Source sebagai pusat sumber Intelektual para Kyai pada masa belakangan karena kita tahu juga kemudian KH. Nawawi Al-Banteni belajar di Makkah dan Madinah itu bersama teman-temannya tiga orang yang diantaranya termasuk yang paling terkemuka disini adalah Kyai Khalil al-Bangkalan Madura yang kemudian Kyai ini menjadi sumber/pusat atau titik tumpuan dari jaringan para Kyai yang ada di pulau Jawa. Dan pada periode selanjutnya kita juga melihat kemunculan tokoh-tokoh seperti Kyai Ahmad Rifa’i dari Kalisalak Pekalongan, yang ini juga merefleksikan sebuah dinamika Intelektual. Kajian mengenai Kyai Ahmad Rifa’i ini disertasinya cukup banyak salah satunya adalah disertasi yang belum lama ini diterbitkan di Yogyakarta oleh Dr. Abdul Jamil yang itu juga merefleksikan sikap perlawanan. Perlawanan yang saya kira dari dua segi, jadi kalau dalam karya yang ditulis oleh Saudara Zainul Milal Bizawie ini disebutkan Perlawanan Kultural Agama Rakyat. Maka karya tentang Kyai Ahmad Rifa’i saya kira mewakiki perlawanan terhadap mungkin bisa kita sebut sebagai Islam birokratik.
Islam birokratik yaitu Islam yang sudah dijinakkan dan kemudian dijadikan sebagai bagian integral dari birokrasi Pemerintahan Belanda Dan ini melalui penghulu melalui peradilan agama dsb. Dan inilah yang kemudian dilawan oleh KH. Rifa’i. Beliau tidak hanya mewakili kecenderungan-kecenderungan yang juga sering saya sebut sebagai Neo-Caligi/Khawarij. Jadi KH. Rifa’i Kalisalak mewakili gejala-gejala setidaknya Neo-Caligi karena didalam wacananya itu menampilkan tiga langkah pokok mewakili paham keagamaan/ideologi Neo Khawarij. Pertama Tafkir yaitu mengkafirkan orang lain diluar lingkaran/lingkungan-lingkungan KH. Rifa’i sendiri yang kemudian para pengikutnya kita kenal sebagai santri Tarjuman yang sekarang ini salah satu pusatnya kelompok itu berada dimasjid Pasar Senen. Kedua, Hijrah yaitu dari wilayah-wilayah orang kafir yang dalam hal ini adalah orang Belanda. Dan yang belum sempat dilakukan adalah Ketiga, Jihad adalah melawan Belanda dan antek-anteknya, termasuk didalamnya adalah penghulu.
Menurut Ahmad Rifa’i sebagai gejala perlawanan adalah bahwa para Penghulu dan fungsionaris keagamaan yang di angkat oleh Belanda telah menjadi kaki tangan Belanda. Oleh karena itu, pelaksanaan hukum agama melalui para penghulu adalah tidak sah karena sudah terstruktur dalam birokrasi. Maka pelaksanaan agama misalnya jika bermakmum pada imam penghulu, itu tidak sah shalatnya/melakukan perkawinan dengan menggunakan penghulu, itu tidak sah perkawinannya, maka harus di ulang perkawinannya. Jadi ini adalah bentuk perlawanan. Kalau KH. Rifa’i melakukan perlawanan keagamaan terhadap Islam birokratis yang dikukuhkan, dibentuk dan dilanggengkan. Maka Syekh Mutamakkin mewakili Perlawanan Kultural Agama Rakyat.
Sumber : islamlib.com
_________________________________________________________________________________
Dalam buku Perlawanan kiai desa: pemikiran dan gerakan Islam KH. Ahmad Rifa’i, Kalisalak

_________________________________________________________________________
Sayangnya ebook tersebut tidak lengkap, silahkan baca sendiri disini
Kepada Kawan-kawan yang sudah membaca buku Jaringan ulama Timur Tengah dan kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII mohon di cek apa tulisan senada juga ada disebutkan didalam buku tersebut, kalau memang ada akan lebih baik kalau bisa di nukil dan di kirim ke kami.
bermakmum pada orang cacat,azyumardi azra ulama,jaringan ulama nusantara pdf,kiyai khawari



Mungkin inilah yang sering saya kwatirkan, orang diluar rifaiyah akan salah dalam mengenal dan menafsirkan ajaran Kh. Ahmad Rifa’i, karena minimnya informasi yang bisa mereka dapatkan, untuk mengerti tentang ijtihad Syaikh, harus bisa membaca kitab pegon dan memahami maksud dari kitab itu sendiri.
Saya rasa inilah saatnya para penulis rifaiyah memulai mentranslite tentang pokok-pokok ajaran rifaiyah, dan di publikasikan. selama ini memang sudah ada, tapi publikasinya kurang.
Kalau mentranslite dari arab saja bisa apalagi dari pegon jawa ke bahasa indonesia, kami menantinya !
agaknya ada beberapa kejanggalan pada apa yang dipaparkan Azumardi Azra. pertama, kalau diteliti lebih tajam kurun waktu KH. Ahmad Rifai dengan kedua tokoh ulama KH. Kholil Bangkalan, dan Syeikh Nawawi Al-bantani, justru dulu KH. Ahmad Rifai. bisa dirujuk tulisan Ahmad Syadzirin “Versi Lain Sejarah KH. AHmad Rifai” di tanbihun.com.
kemudian alasan hijrah atau menyingkir dari wilayah belanda dan anteknya juga kurang selaras. alasannya bisa dilihat dokumen-dokumen yang dibawa Abdul Jamil dan Yumi Sugahara dari perpustakaan Universitas Leiden menunjukkan bahwa Ahmad RIfai dari Kendal ke Kalisalak itu justru diasingkan oleh Belanda. bukan hijrah.
@asep, mungkin yang dimaksud oleh Azra adalah fakta bahwa persebaran santri rifaiyah berada di daerah-daerah pedalaman, kecuali beberapa saja. hal demikian (yang barangkali) ditafsirkan sebagai perwujudan hijrah. tetapi mungkin Azra terlalu berlebihan dalam memberi penilaian. terlepas dari semuanya tampaknya ini merupakan ‘tantangan’ bagi para kaum cendekia rifaiyah untuk memahami dan kemudian menjelaskan kepada khalayak beberapa pendapat Syeikh Ahmad Rifai, yang boleh jadi oleh sebagian kalangan dianggap kontroversial. oleh karena boleh jadi juga orang2 rifaiyah sendiri bahkan tidak memahami (dengan benar) apa yang ditulis oleh gurunya.
dua komentar diatas justru tidak memberi penjelasan tentang sikap Syeikh Ahmad Rifai terhadap birokrat lokal, yang juga muslim! mari diskusikan…
@sesama muslim,
Menyampaikan pokok-pokok pandangan syaikh ahmad rifa’i dalam ibadah dan mu’amalah termasuk pandangan beliau terhadap biokrat adalah perlu,terutama dalam bentuk buku-buku,bukan saja sebagai rujukan buat yang lagi mencari referensi, tapi sebagai upaya menyampaikan syari’at islam ‘ala syaikh ahmad rifa’i yang selama ini baru bisa dinikmati oleh santri2 yang memang sdh terbiasa dengan bahasa pegon.
@sesama muslim, KH. Ahmad Rifai tidak menyikapi manusianya, tetapi dia menyikapi kejahiliahan mereka. misalnya alasan terkuat KH. Ahmad Rifai dilaporkan oleh ulama birokrat kepada residen di Pekalongan, karena KH. Ahmad Rifai telah meluruskan kiblat-kiblat beberapa masjid di Kendal. juga mereka merasa resah, karena justifikasi keadilannya dinafikan dengan cap fasik, sehingga ulama birokrat tidak bisa mejadi imam bagi umat. maka dianggap tak sah dinikahkan oleh mereka, tak bisa mejadi guru agama karena tidak adil. kemangkelan ulama birokrat kepada KH. Ahmad Rifai itu justru karena mereka punya cacat pasiq, sehingga keimamannya bagi umat diragukan, bahkan dinafikan, sehingga mereka yang seharusnya mempunyai peran keagamaan di masyarakat, atas kedatangan KH. Ahmad RIfai mereka terusik menjadi tak mempunyai peran apa-apa selain sebagai cecunguk belanda. lebih jelas lagi apabila kita membaca proses verbal beliau di Pengadilan Pekalongan, dan perdebatannya dengan H. Pinang. konteksnya bisa dirasakan….
sebuatan yang dipakai KH. Ahmad Rifai sendiri dalam kitab-kitabnya yang ditujukan kepada para ulama birokrat adalah alim fasiq, beliau tidak mengafirkan tetapi jelas fasik. karena berkolaborasi dengan penguasa penjajah. berarti menjajah negerinya sendiri. terus justru ajaran rukun Islam satu itu kan untuk mengakomodasi mereka yang belum menjalan syariat secara sempurna, tetapi masih diakui sebagai keluarga Muslim. dalam ajaran itu jelas menunjukkan bahwa pelaku dosa bukan kafir tapi fasik.
kita undang aja pak azumardi azra, untuk diskusi masalah ini. aku ada akses ke beliau, aku bisa lewat bang komarudin hidayat. bagaimana?
biar ada kejelasan?
mas rifai dan kang yazid bisa mempromosikan isu ini…..
@maman,
Jangan sampai sebatas isu,ok.lebaran nanti Insya Alloh Pak ibn khasbullah, ustadz rifa’i dan saya sudah ada rencana ketemuan untuk merembuk beberapa masalah, kalau memang ente serius, tolong kontak kami by sms atau ym, mumpung waktu masih ada, syukur2 nanti saya bisa mengontak rekan2 yang mempunyai kemauan dan kemampuan dibidang ini.
salam
Asep@
Dokument2 itu bisa di tampilkan disini tidak ya?
yo nanti tak carine Yo…
1- Itu pada doctrine ahlussunnah ala thoriqoh K.H.A Rifa’i yang saya kirimkan belakangan +/- 1 bulan yang lalu ada revisi tambahan dalam jenis- jenis dosa,bahwa dosa besar tak menyebabkan seseorang menjadi kafir. Kalau perlu saya e-mail lagi dan yang lama diganti.Saya yakin nanti akan banyak peneliti merujuk kesana.
2- Bagaimana kalau Pak. Azyumardy Azra dan Pak Jamil di berikan alamat website ini untuk berkenan melihat dan kalau mungkin berdiskusi disini melalui Pak Komaruddin Hidayat? Mungkin jadi lebih asyik.
3- Pak Mukhlisin sudah saya hubungi, insyaallah beliau siap berkunjung ke kediaman P.Jamil, disertai teman- teman. Insyaallah beliau juga akan mengirimkan beberapa artikel ke tanbihun.
@ibn khasbullah, Wow….nice info pak…jadi terharu….ngga nyangka para pembesar pada sudi main ke “RUMAH ” Kami yang reot ini…
ok, kalo gitu…. saya coba contk bang komarudin, jg pak azumardi scr informal, nnt kalo dah ada green light baru kita hubungi secara formal. suatu kebahagian kita semua kalo tanbihun community bisa menyelenggarakan diskusi ini. lebaran nnt bisa kita ketemu and kembangkan ide ini.
matur nuwun
@maman,
Kalau bisa antum kontak kita dulu,karena lebaran nanti kami sudah punya rencana bertemu dengan DPP Rifaiyah di Cirebon. tolong konfirmasi ym saya : mutiara_hitam4@yahoo.com
Kami tunggu .
Menarik sekali, saya sepakat diadakan pertemuan atau semacam seminar sekalian biar dapat di ikuti oleh orang banyak. Kita khusnudlon aja, kalau pendapat Pak Azumardi tersebut dikarenakan kurang informasi tentang rifaiyah yang masuk ke beliau.
Salam,
Azil-Sapugarut Pekalongan
masalah terbesarnya adalah bukan pada azra, tapi benarkah kita sudah paham dengan apa yang diperbincangkan ini.
yang pertama, sudahkan kita memahami betul ‘ajaran’ kyai rifai. sekurang2nya menurut aku, kita terlalu ‘sederhana’ memahami apa yang disampaikan oleh syeikh rifai. orang2 rifaiyah sejauh ini (sekali lagi sekurang-kurangnya menurut aku, dan tentu banyak orang yang akan berbeda) tidak pernah memahami sisi sosial dan politik atas apa yang disampaikan oleh sang guru. padahal pada sisi inilah, antara lain, syeikh dinilai oleh azra sebagai khawarij.
yang kedua, telahkah kita faham akan khawarij, sejarahnya, latar belakangnya, ajarannya dan beberapa hal lain yang terkait dengan sekte ini. setidaknya sama dengan tingkat pemahaman azra. juga tentu saja beberapa sekte sempalan dari firqoh khawarij ini. dari yang paling ekstim sampai yang moderat
kemudian, sudahkah kita paham posisi syeikh rifai dalam perbandingannya ditengah belantara pendapat dan firqoh dalam islam.
menyedihkan kalau misalnya kita akhirnya bertemu dengan azra tapi kemudian hanya datang untuk mendengar ceramah azra dalam masalah ini. karena tentu saja azra sangat paham dengan apa yang disampaikannya. opo piye??
@maspeem, mendengarkan lebih baik, apalagi banyak mendengarkan akan lebih baik dari pada banyak ngomong. karena memang kita dicipta mempunyai dua telinga satu mulut. tidak paham tidak masalah, apalagi kurang paham, tak mejadi resahan hati. justru silaturahmi kita akan membawa kepahaman, karena memang kita semua, khususnya crew tanbihun.com adalah murid yang selalu menghendaki (arada) ilmu dan pemahaman. Senior kita dulu sudah memberikan tauladan ketika mereka menyelenggarakan seminar nasional di Yogyakarta. Aku cemburu dengan keberanian mereka. Panitia seminar yang dari Rifaiyah semuanya tak tahu apa itu seminar, tapi karena mau melakukan mereka justru bisa dialektika dengan para Prof sekelar Kuntowijoyo, Sartono Kartodirjo, Ibrahim Alfian, Adabi Darban, Musya Asyari. tidak paham tidak masalah asal kita selalu berproses untuk mencari tahu….dan terus mencari tahu…tentunya Azra akan memaklumi. dan kita tentunya tidak mau lebih paham dari Pak Azumardi, nanti bisa tersinggung dia yang bergelar Prof kok pemahamannya lebih dangkal dari Pak Asep yang tak bergelar apa-apa. biarlah dia yang lebih paham, dan kita mencari pemahaman dari beliau.
@ASEP, sebuah semangat yang sangat menarik. tetapi kan di awal diskusi ini ‘judulnya’ kita mau klarifikasi soal bahwa kyai rifai bukan khawarij. lain halnya kalau memang tujuan kita bertemuu dengan azra adalah untuk belajar tentang rifaiyah dan gerakan islam yang sezaman dengan beliau r.h..
mengenai apa yang telah dilakukan oleh para sesepuh kita, tentu aku sangat mengapresiasi. itu adalah sebuah langkah yang luar biasa dalam rangka mengenalkan rifaiyah kepada khalayak.
tentu kita berharap apa yang akan dilakukan nanti membawa manfaat yang besar pada rifaiyah.
aku minta maaf kalau sekiranya komentar aku berlebihan. mumpung masih suasana lebaran he he
@maspeem, semangat klarifikasi kita adalah tabayun, mencari tahu dan terus mencari pemahaman, serta mengapresiasi pendapat Azra. karena memang dia Bapak ilmu kita, jadi kita datang kepada beliau laksana anak yang tanya kepada AYahandanya.Yang tak kalah penting adalah taaruf dan silaturahmi kepada siapapun, dimanapun, dan kapanpun. doa maspem selalu dinantikan dalam setiap derap langkah….
@maspeem,
Karena jemari kita lebih banyak dari mata, makanya kita jadi lebih banyak “ngetik” jarang mau membaca?
hahahahaha…….. Semua ilmu diawali dari tidak tahu, lalu kepingin tahu, dan bergerak mencari tahu, selanjutnya menerima pengetahuan itu, akhirnya jadi tahu.