Sebuah Auto Critic
Oleh: Ibn Khasbullah
Motto:
حاسبواانفسكم قبل ان تحاسبوا
Panggung sejarah Da’wah K.H.Ahmad Rifa’i.
Zaman terus berubah, waktupun berganti. Sejak masa- masa perjuangan K.H.A. Rifa’I dan para muridya pada sekitar abad ke 18 yang cukup menggegerkan bumi Jawa, waktu telah berlalu hampir 200 tahun. Kalau kita mencoba mundur kemasa- masa itu dibanding masa- masa sekarang sungguh amat jauh perbedaannya. Saat itu kita masih dibawah cengkeraman kaki penjajahan, Sistem tanam paksa yang amat kejam dan tak berperikemanusiaan baru saja diperlakukan, untuk membayar beaya perang Diponegoro yang baru saja usai. Pegawai tinggi dengan congkaknya hanya dipegang “Sang Tuan Holanda” sedangkan pegawai rendahan dan AMBTENAAR diberikan kepada siapa saja yang bersedia menjilat Sang penjajah. Hal ini berakibat amat dahsyat bagi kehidupan beragama dan berbangsa. Kehidupan kebangsaan (Islam) sungguh memprihatinkan. Rasa rendah diri dan perasaan tak berdaya menerpa hampir seluruh anak bangsa. Sebagian umat Islam adalah “ABANGAN”, sedangkan para santri yang taat dan kiyainya dianggap “EXTRIMIS” yang harus diawasi dan akhirnya lebih memilih pindah kegunung atau kehutan dan membuka pesantern disana. Inilah yang digambarkan oleh C. Poensen dalam bukunya: Brieven over der Islam Uit De Binnen Landen Van Java. Leiden:Brill.1886 yang menyatakan bahwa: “(Saat itu) Dalam hal kepercayaan orang jawa tidak bisa disebut sebagai orang Islam”.
Saat itulah muncul seorang ulama pejuang, seorang motivator ulung, seorang muballigh yang berusaha menggebrak, melawan dan memperbaiki tatanan social kemasyarakatan yang jauh dari ukuran ideal sebagai suatu umat atau sebagai sebuah bangsa. Beliau adalah K.H.A.Rifa’I yang mempertaruhkan segala- galanya demi kehormatan Islam dan kehormatan bangsa.
Zaman Berganti.
Kini zaman telah berganti.
Zaman penjajahan telah menjadi zaman kemerdekaan.
Jika dahulu “Tanah Jawi Ratunya Kafir”, kini kita telah memiliki presiden dan wakil presiden yang muslim.
Jika zaman itu banyak Bupati dan Penghulu yang bersedia minum arak walau seteguk, agar dapat diakui sebagai “Ambtenaar” dan dianggap loyal kepada Penguasa Hindia Belanda , kini sudah banyak para pegawai tinggi dengan tingkat relijiusitas yang tinggi dan tidak menghamba kepada orang kafir lagi.
Jika saat itu sekolah Islam jumlahnya sangat terbatas dan hanya berada ditempat terpencil dengan santri- santri “kudisan”nya, sedangkan kini ditempat- tempat elit bermunculan sekolah Islam yang bermutu dan madrasah- madrasah yang jumlahnya tak terhitung lagi.
Jika dulu sesuai kata Lothorp Stoddart: “kaum muslimin terjebak dalam tasawuf kekanak- kanakan dan takhayul yang keterlaluan” (The New World Of Islam: Lothorp Stoddart), sedangkan kini banyak intelektual dan scientist muslim yang bermoral tinggi.
Maka bolehlah dikatakan bahwa sasaran perjuangan Da’wah K.H.A.Rifai sebagiannya sudah berhasil, karena tujuan da’wah KHA Rifa’I bukan hanya untuk murid-muridnya saja, tapi untuk berlakunya syari’at Islam di tanah JAWI:
-Jilbab sudah bukan barang asing, sudah tidak merupakan simbul khusus bagi santri “BUDIYAH”
(‘Ubudiyyah) lagi..
-Kitab terjemahan Islam muncul dengan luar biasa…. Mengikuti methode beliau.
-Pemahaman keislaman sudah makin meluas
-Kemerdekaan yang agung sudah tercapai.
Masih relevankah Arah Perjuangan beliau?
Kini sebuah pertanyaan yang menggelitik muncul: “Masih relevankah arah perjuangan da’rwah murid- murid K.H.A,Rifa’I pada masa sekarang dan mendatang?
Kini kita harus berani mengatakan dan menyatakan bahwa gairah dan semangat perjuangan K.H.A.Rifa’I pada murid- muri beliau mulai memudar.
Memang kini kita telah memiliki sebuah organisasi yang modern. Tapi terasa “kurang menggigit”, kurang terdengar kiprah dan pengaruh positifnya ditengah gegap gempitanya aktifitas jama’ah dan organisasi yang lain.
Memang masih banyak santri- santri beliau yang mendalami Ad-Diin dari ktab kitab beliau. Namun ESSENSI da’wah beliau yang terselip ditengah karya- karya beliau seakan- akan tak tersentuh.
Tokoh- tokohnya tidak lagi membawa perubahan positip namun cenderung stagnan dan sekedar mengikuti culture yang ada.
Bahkan dalam beberapa masalah- masalah “Waqi’ah”, cendekia kita cenderung sekedar menukil dari kitab- kitab Mu’tabarot tanpa berani ber- improvisasi.
Maka patutlah kita mempertanyakan: adakah yang salah dalam diri kita, dan adakah yang harus segera diperbaiki agar kita tidak terus mengalami stagnasi atau bahkan degradasi?
Ruh dan jiwa da’wah K.H.A. Rifa’I adalah sebuah bentuk kritik keagamaan, sosial dan kultural.
Memang beliau menuliskan beberapa ilmu “Ad-Diin” yang penting- penting, seperti Ushul (Aqidah), Fiqh (Islam/ Ibadah) dan Tasawuf (Ihsan/ Ahlaqul Karimah).
Harus diakui bahwa kreativitas beliau untuk menterjemahkan kitab- kitab agama dalam bahasa Jawa yang mudah difahami adalah sangat genius dan merupakan pelopor yang kemudian ditiru dan diikuti oleh para Ulama’ lain generasi berikutnya.
Kenyataan membuktikan pada saat banyak kaum muslimin buta agama karena kesulitan belajar “Kitab Kuning” dengan ilmu Nahwu Shorofnya, santri- santri beliau telah sangat mengenal fiqh ibadah bahkan mereka faham sebagian perbedaan (ikhtilaaf) persepsi para Ulama seperti perbedaan dan ikhtilaf yang terjadi antara Imam Romly dan Ibnu Hajar hanya dengan mempelajari kitab terjemahan beliau.
Yang menurut penulis sangat dilupakan adalah “Ruh dan Jiwa Da’wah” dari K.H.A.Rifa’I, yakni semangat “Mengkritisi tatanan keagamaan, social dan kemasyarakatan yang ada”.
Kalau dahulu yang dikritisi adalah pemerintahan kafir, maka sasaran da’wah murid beliau sekarang seharusnya adalah “Kedzaliman ma’nawi” yang identik dengan penindasan raja- raja kafir.
Kalau dahulu yang dikritisi adalah Bupati- Lurah- Demang yang zalim, seperti kezaliman bupati Lebak dizaman Douwes Dekker, kini yang harus dikritisi adalah semua aparat- siapapun dia, yang korup, yang menimbulkan kesengsaraan rakyat.
Kalau zaman itu yang dikritisi adalah para Ulama yang menjilat Belanda dan terseret tradisi non agamis, maka kinipun masih banyak Ulama yang demikian, yang mengorbankan Aqidah demi sekedar harga yang teramat hina.
Penulis menilai, bahwa selama murud- murid beliau hanya tenggelam dalam lautan ilmu tanpa nyawa dan tanpa meneladani semangat beliau dalam hal “MEROBAH” , maka selama itu pula murid- murid beliau akan tenggelam kedalam stagnasi dan degradasi.
ﻮﺍﻟﻤﻬﺎﺠﺭ ﻤﻦ ﻫﺎﺠﺭ ﻤﺎﻧﻬﻰ ﺍﻟﻟﻪ ﻋﻧﻪ .ﻤﺗﻔﻖﻋﻟﻴﻪ
“Orang- orang yang hijrah itu adalah mereka yang menghindarkan diri/ merobah dari segala sesuatu yang dilarang Allah.” Muttafaq Alaih.



Auto critic memang diperlukan agar kita bisa introspeksi diri sehingga perjuangan menjadi lebih terarah…lanjutkan pakkkk..
Untuk sesaat saya tercengang,hampir disetiap kalimat pikiran saya terbayang mengikuti alur penuturan diatas.
Sungguh2 pas dan sangat mengena, akhirnya saya tidak bisa berkata lain, kecuali semoga kita semua yang mengaku murid syaikh haji Ahmad Rifai ataupun para simpatisan bisa kembali menyematkan “ruh” semangat jihad beliau dalam setiap langkah kita.
Sikap responsif terhadap lingkungan sekitar memang sekarang sudah memudar. Semoga yang muda berani berkarya,yang tua berani menerima dan mengarahkan.
jadi ingat perkataan snouck hugronye pasca di tangkapnya Syaikh Ahmad Rifa’i”Santri kali salak sekarang telah menjadi jinakk…..”
Fase kebangkitan rifaiyah mungkin bisa melalui tahapan ini:
1. Deklarasi dan pembentukan organisasi
Kita sebagai generasi muda hendaknya berterima kasih kepada generasi pendahulu kita yang dengan kelebihan serta kekurangan beliau2 sudah membuatkan ” rumah” rifaiyah bagi kita.
2. Flashback sejenak untuk mengingat kembali arah dan tujuan dakwah guru besar, sebagai pijakan untuk menentukan langkah konkrit demi kesinambungan dakwah dan perjuangan beliau dimasa kini dan akan datang.
3. Memulai langkah2 kita meski kecil itu lebih baik dari pada hanya diam terpaku. seperti menuliskan ijtihad2 beliau di internet dengan wacana kekinian.
kepada ikhwan2 yang sudah aktif disini ; ahmad rifai,ibn khasbullah,asep saefullah,rama perdana,maspem,zaenal asikin dan yang tidak bisa kami sebut 1/1, marilah kita bersama-sama menuangkan ide2 kita lewat tulisan.
Meski kita kadang berbeda pendapat itu bukan artinya tidak sejalan, kalau diambil kesimpulan dari tulisan2 baik yang berupa artikel ataupun komentar, semua menginginkan rifaiyah maju dan hidup layaknya organisasi.
” BERBEDA BUKAN BERARTI BERPECAH BELAH”.
Kami tunggu artikel anda sekalian !
(1) zaman belanda dan zaman revolusi kelompok islam taat diseut extrimis, zaman orde baru (dan perang dingin blok barat dan blok timur) mereka disebut fundamentalis, sekarang mereka disebut teroris! ‘pelakunya’ sama, dunia barat dan pemerintah di negara muslim yang menjadi boneka meraka. (negoro tanah jowo wong kafir ratune… mukmin bungkuk kasab nandur jagung dst.. )
(2) prioritas amal beragama (sebagian) masyarakat masih kacau. banyak dari kita (termasuk saya tentunya) tidak mampu mengebali prioritas sehingga mengakhirkan sesuatu yang seharusnya didahulukan dan juga sebaliknya. mana yang tidak penting, mana yang penting dan mana yang lebih penting (mis: tinggal wajib milahur sunah)
(3) sembarangan dalam berguru, sembarangan dalam mengambil ilmu dan fatwa. rancu dalam memahami istilah wali, sehingga mereka yang tidak pantas diambil ilmunya, hanya oleh karena dianggap ‘wali’, kita sembarangan meneyerahkan urusan agama padanya. padahal dalam banyak kesempatan mbah rifai mengulang-ulang masalah tersebut… supoyo hasil siro temen ing shae iman lan nampik saking kafir munafik!
(4) penerjemahan kitab-kitab arab ke dalam bahasa lokal yang menjadi metode mbah rifai, justru tidak mampu dilanjutkan oleh kita. kalau pak ibn khasbullah menyebutkan sekarang banyak buku-buku terjemahan, meniru mbah rifai, menjadi pertanyaan kemudian adalah kenapa bukan kita! dan sayangnya mereka (yang paling banyak menerjemahkan buku-buku) adalah kelompok-kelompok yang dalam banyak hal dikatakan berseberangan dengan kita: salafi, ikhwani, HTI dll. padahal sangat mungkin suatu saat metode kita-kitab mbah rifai tidak lagi diminati (he he jangan salah bos, metode penulisan dengan bahasa jawa maksutku, bukan contentnya, nanti salah faham lagi!!!)
(5) apalagi ya…
banyak pokok’e. opo piye?
artinya dengan beberapa penyesuaian saya rasa koq arah perjuangan mbah rifai masih relevan. saya rasa, kalo sampeyan-sampeyan punya rasa yang lain ya gak tau.
nek salah yo disepuro, se penting komentar biar katon rame he he
Usulan ente menarik sekali, saya tanggapin dikit yooo….
1) Umat Islam pasca runtuhnya Daulah Usmaniyyah telah berubah menjadi umat yg fatalistik, pengekor dan penonton saja dalam percaturan sejarah dunia…bahkan peradabannya lambat laun mulai di obok2 oleh orientalis dan kuffar barat yg ingin menghancurkan Islam.
2)Skala Prioritas memang perlu dalam menentukan langkah, akan tetapi setiap orang, daerah, tempat dan zaman memiliki skala prioritas yang berbeda-beda. Banyak ormas yang gagal karena salah dalam menetapkan skala prioritas, oleh sebab itu kita harus satukan ide, apa sih yang sekarang paling mendesak dilakukan oleh Rifaiyah…??
3)Mbah Rifai sudah menetapkan standart guru, mestinya itu yang kita gunakan. Memang bener salah guru bisa sasar brayan…hehehe…ngambil guru ga disyaratkan harus wali kok….dan mengenai wali..apasih wali itu dan siapa yg berhak menyematkan gelar itu pada seseorang..???
4)Lha masalahnya orang2 yang punya kapasitas untuk berjuang seperti itu, dia tidak mau bergerak sama sekali, mereka hanya melihat aktifitas orang2 yang gadok ilmunya seperti saya ini, sambil tersenyum sinis. Ayo dong kang gagas ide yg menrik untuk ini, lalu kita follow up bersama supaya jadi warisan yg terindah buat anak cucu kita…
tak tunggu loh…Pisss
wah lumayan nih buat sekedar omong-omong!
4.yang berkopeten siapa coba.
tanbihun.com ini juga salah satu media ‘melanjutkan metode mbah rifai’ dizaman sekaran kan? jadi akur lah
@maspem, ya salah satune sampeyan dong mas…tak tunggu artikele kok….ojo mung nyawang lah….saya yakin komentar2 ente kalo disusun dg tulisan akan menjadi sebuah ide yg menarik…eiiittt jangan bilang ga kompeten yaaaa….hahahahhahaaaa…salam buat mbah bidun..
1. kita harus memetakan ideologi(?) rifaiyah diantara belantara pendapoat dan mazhab yang berkembang. syafiiyah mazhabe ahli sunni thoriqote itu yang bagaimana to? apa yang dibahas dalam tanbihun.com (dan ramai) sebenarnya hanya masalah peripheral saja. amalan rajab dan sya’ban, tahlilan dan lainnya. saya tidk tahu (karena saya tidak bisa ngaji) apakah hal tersebut menjadi hal utama dalam diskusi mazhab yang sebenarnya atau hanya masalah tradisi yang dibesar-besarkan. faktanya adalah kalangan awam tidak begitu ambil pusing dengan mazhab takwil dan tidak takwil terkait sifat-sifat allah. polemik hadits ahad, dan lainnya. bagi kebanyakan orang, sudah cukup menjadi sesat bagi mereka yang mempermasalahkan tradisi-tradisi warisan tersebut.
nah yang gak nyambung juga ‘ideologi gerakan’rifaiyah. masak mbah rifai yang begitu keras menentang penguasa zhalim (bahkan kalu tidak salam menurut azra disebut khawarij), kita malah sukanya netek sama penguasa korup, lebih susah lagi sama partai yang lagi berkuasa. kalo bahasa iklan rokok tuh kurang punya taste…!!!
2. harus menetapkan arah yang jelas mau kemana rifaiyah (organisasinya lho ya), jangan muktamar dan mukernas itu hanya jadi sekedar ajang silaturrahim saja. (o ya kemarin hasil dari temanggung gimana ya..??). ini banyak ditulis sebelumnya di tanbihun.com ini. yang belum adalah menentukan apa yang akan dilakukan dari sekian banyak kemungkinan yang diusulkan. semuanya baik tinggal ambil satu saja, apapun!! kemudian kita perbincangkan bagaimana melakukannya. tugas petinggi rifaiyah adalah memutuskan apa yang akan dilakukan, kita ikut urun rembuk bagaimana melakukan, kemudian bersama-sama mencari siapa yang akan malakukan dan kapan mulai dilakukan (saya yakin di temanggu kemarin sudah diputuskan mengenai semuai itu, betul gak mas rifai?). wah kira-kira apa ya…
3. kalo aku pikir-pikir koq rifaiyah seharusnya punya (semacam) lembaga penerjemahan dan penerbitan, tapi kapan ya? ya biar itu tadi, masak dari kecil dididik rifaiyah, mondoknya di rifaiyah ee udah gedhe jadi wahabi(?) ha ha ha
kalo sudah gitu cuma bisa marah-marah. malah kemaren ada yang kasih komentar kalo hasan al banna itu wahabi???? besok juga pasti ada yang bilang qaradhawi wahabi, PKS wahabi, Muhammadiyah wahabi, HTI wahabi he he kok malah ngelantur to.
tapi susah juga ya, nyatanya kemaren majalah ukhuwah juga gak jalan’e? bingung tenan iki! tapi koq ya arrahmah yang khawarij jalan juga ya (wah nuduh lagi ini..)
…. mikir dulu….!!!
@maspem, wah…wah… akhirnya kelauar juga yang ditunggu-tunggu. ide2 macam ini yang selalu saya tunggu.
Salut dech… kita awali dengan mencari “target tujuan”, diatas ada usulan team/lembaga penerjamah,; memang sangat2 perlu,terutama yang bisa mentranslite dari bahasa kitab “ireng” ke bahasa indonesia,sbb tidak sedikit generasi rifaiyah sekarang yang tidak bisa “ngaji” kitab ireng,paling banter bisa lafadh makna, untuk maksud? masih jauh dari paham (termasuk yang nulis ini)
@maspem, Kita sudah bergerak kok mas….walaupun hanya segelintir ide yang akan kita realisasikan, namun Insya Alloh apa yg tuang dalam tanbihun.com akan coba kami realisasikan, termasuk acara gathering dg keluarga tanbihun.com untuk menentukan langkah yg taktis praktis dan efesien..pokonya tunggu aja undangannya.
Kenapa kami mengupas masalah2 seperti itu, seprti Rajab dan sya’ban..karena kami menjalankan ajaran mbah Rifa’i agar melakukan Ibadah dilandasi Ilmu… Al Amalu bila ilmin Dzolalun katsir…banyak orang awam ibadahnya ikut2an tanpa ada landasan yang jelas…berdasarkan permintaan pengunjung dan setelah mempertimbangkan dg masak maka kami menulis sesuai dg ilmu kami. Kalo menurut antum itu idak urgent..sekali lagi kami sampaikan cara pandang kita dalam skala priorotas berbeda…mungkin karena basic pendidikan kita yang berbeda…sehingga kepekaannyapun berbeda….
Semoga perbedaan pandangan ini bisa saling melengkapi..makasih atas idenya…keep smile..heheheh
pas wafatnya pak ali munawir kemarin itu, saya sempat sedikit ‘bertanya’denga pak mukhlisin muzarie tentang rifaiyah. kata belia sekarang sudah dibentuk tim yang akan merumuskan standar kurikukulum pendidikan kerifaiayahn, dan tim tersebut “akan segera” melakukan safari ke beberapa daerah untuk menginventarisir banyak hal terkait hal tersebut. tapi koq saya gak engar kelanjutannya ya? mas rifai kan praktisi pendidikan, diimami to…
@maspem, woww..keren bangets tuuh idenya…hanya saja..rifaiyah itu mau menggunakan sistem kurikulum grace root approach ataukah administrasi approach..klo aku disuruh usul ama para pakar Rifaiyah…mending menggunakan sistem graceroot aja..jadi sekolah yg bikin kurikulumnya PP tinggal kasih standartnya istilah sekarangnya KTSP…jadi ga perlu safari2an..menghabiskan ongkos dan waktu….gimana maspem pendapatnya…
AMRI dulu juga mau bikin semacam sensus terhadap jamaah rifaiyah, kebetulan ketuanya kan dari pati jadi lumayan kenal walaupun gak akrab2 banget, tapi kok ya gakkedengeran sampai sekarang ya. sekarang oangnya sudah pindah ke kendal malah. kenapa tidak fokus kepada ini saja (misalnya, atau apapun lah!), kemudian kita bahas apa kendalanya, darimana pendanaannya, siapa melakukan apa, kapan kita melakukan apa dst.
di ukhuwah dulu kalau tidajk salah pak syadzirin menyebut jamaah rifaiyah ada 7 juta!!! wah…
atau dulu pernah ada rencana membuat kantor di beran, tapi urusan tanahnya gak beres2 akhirnya batal. pak nahri sewot banget soal ini (kata orang2 sih, kebetulan anak pak nahri dulu di sunde, jadi sering tukar pikiran dengan orang2 sunde, aku sih dengar dari orang2 itu). msalahnya apa ya??? (gak ngasih solusi malah tanya teruuusss….!!!
@rifai: wong sampeuyan ‘imamnya’ya saya manut aja!
tapi masalahnya gini, kata teman2 yang aktif dimadrasah, murid sunde kan berasal dari beberapa daerah, dah pas masuk kelas 7 atau kelas 10 itu standar ngajinya macem2, ada yang sudah bisa macem2, tapi ada juga yang cuman bisanya berbuat macem2. disamping anaknya juga biasanya kebiasaan pendidikan di daeranya masing2.
@maspem, makanya mas…kurikulumnya graceroot saja…biar sekolah yg bikin..kan yang tau kondisi sekolah yg bersangkutan…PP tinggal memberikan standart saja…..
masak sih warga tarjumah sampe 7 juta, itu terlalu dibesar2kan, biar laku dijual di ranah politik. deteksinya sedrhana aja kok, klo kita bisa cetak kitab tarjumah, riayah misalanya, terus bisa terjual sebanyak 5000 eks, kita kalikan saja dengan 40 (sktr 2,5% yg beli), berarti orang tarjumah kurang lebh 5000×40 = 200.000,. tp sekarang mas yazid mo nyetak 1000 eks aja pusing mo ngejualanya, artinya………….
mungkin kita harus dukung AMRI yg msh bisa terbang tinggi, untuk membuat data base warga tarjumah, gak perlu sampai akurat banget, minimal kita itu tahu seberap besar sih tarjumah kita ini. jd gak asal klaim.
klo dipetakan, comunitas terbanyak rifaiyah itu dimana sih?
terus ide adanya lembaga penerbitan dan lain2, masalahnya kembali pada pasar, klo diterbitkan adakah pasar yg bisa menyerapnya? saya pernah lihat satu majalah rifaiyah yag diterbitin oleh pekalongan, hanya sekali terbit, karna masalahnya menurut saya kembali lagi pasar dan daya serap.
tanbihun comunity diusahakan bisa di solidkan, agar bisa menjelma menjadi kekuatan, minimal bisa menembus kebekuan2 yg selama ini terjadi. biarkan saja para tanbihun community di sini pada berdiskusi dan berdebat dari yang searah, sefaham, agak beda dikit, beda banyak, dan sampai dari kutub yang sangat bersebarangan. spt kutub wahabi dengan kutub syii. mazhab saat ini kan bukan hanya empat, kalo wahabi satu mazhab jadi lima, klo ja’fari jd satu mazhab enam. dan ini dalam realitanya memang ada. tapi di depan kode etik ini harus di tulis dengan jelas, yg bisa di ketahui oleh semua yang masuk di community ini.
saran saya sih perdebatan apapun jangan di akhiri, spt di polemik tahlil ( sama admin di akhiri, saya gak bisa kash comment lag)…. hehehehe
terus perdebatan itu nanti juga bisa diterbitkan dalam bentuk buku, pasti laku deh.
matur nuwun
asikin@
Membaca comments mas asikin saya jadi teringat pemilu 2004,di mana diisukan salah satu dari DPP Rifaiyah mau mencalonkan jadi DPD Jateng, semua warga rifaiyah dimintai FC KTP,saya tidak termasuk orang yang dengan suka rela mengabulkannya. Saya lebih dulu tabayyun ke orang yang mau jadi Calon DPD tadi, ternyata beliau membantahnya,usut punya usut tadinya beliau memang mau mencalonkan diri,tapi ada kendala teknis atau alasan tertentu sehingga niatnya dibatalkan. Bukan ini yang saya mau garis bawahi,tapi FC KTP yang sudah terlanjur terkumpul,ternyata malah di “jual” oleh seseorang kepada salah satu partai peserta pemilu 2004, dan gayung pun bersambut, namun gagal dalam praktek, partai tersebut gagal mendulang suara di “lumbung” Rifaiyah.
Soal tanbihun Community, Saya pribadi dan mewakili pengelola tanbihun.com tidak memiliki “target” yang muluk-muluk, kami berusaha memperkenalkan Jamaah Rifaiyah atau lebih tepatnya ijtihad dan pandangan2 Syaikh Ahmad Rifa’i rahimahulloh ke pentas dunia, namun kami tidak menampik, jika dalam perjalanannya ada diskusi diantara kita, tapi dengan berat hati, harus kami batasi,sebagai contoh ; Diskusi tentang “tahlil”.kami rasa sudah cukup dalil dan landasan2 untuk kita bisa menyimpulkan, dan kasus demikian bukan barang baru,yang kalau kita mau jujur, ikhtilaf ini tidak akan pernah berujung,sebab masing2 mempunyai landasan dan landasan. Kepada kawan2 yang sudah memberikan kontribusinya,kami mengucapkan terima kasih, terlepas bagi yang pro dan kontra, kami sangat menghormati itu. Marilah kita lanjutkan diskusi kita dengan masalah2 lain, misalnya tentang shalat jum’at dll, kan masih banyak masalah2 yang perlu dicarikan solusi atau jawaban.
Akuuuur!
Analisis ini patut dikaji lebih mendalam oleh kita,dimana sebentar lagi Bangsa Indonesia akan merayakan HUT kemerdekaan,tepatnya 17 Agustus mendatang.
Murid2 Kh. Ahmad Rifa’i harus berani mengambil langkah2 untuk muhasabah diri sendiri,mencoba menelaah kembali arah dan metode perjuangan guru besarnya,seperti halnya pergerakan2 lain,sepatutnya kita mengevaluasi diri,agar ruh dari semangat yang dikobarkan guru besar kita tidak luntur tergerus zaman,apalagi melihat situasi sekarang ini,10 tahun terakhir ini paham2 atau ideologi bukan lagi milik lokal lagi,namun sudah bersifat global,sebenarnya sudah dari dulu,tapi dulu hanya terbatas kepada orang2 yang belajar ke timur tengah saja yang tahu,kalau sekarang? kita tidak usah repot keluar negeri,apa yang terjadi diluar sana dapat kita saksikan dan dengar,dan mau tidak mau kita akan terpengaruh serta terkena dampaknya,paling tidak secara psikologis.
Kejadian teror BOM yang mengguncang Indonesia akhir2 ini menjadi sorotan tajam,baik oleh para pakar intelejen,kepolisian,dan cendekiawan muslim,ulama bahkan orang awam sekalipun.
Berbagai pendapat,ulasan,kadang membingungkan kita.
Menurut Azyumardi Azra…………
” Aksi Teror bom ini masih tumbuh subur,karena pemahaman arti “jihad” yang disalah tafsirkan,maka menjadi kewajiban para ulama,ustadz sebagai pemuka agama,untuk meluruskan pemahaman ini.
Inilah realita kita….
Sebagai muslim,kita hendaknya tidak menutup mata dengan fenomena ini,sedangkan sikap dan kepedulian kita,disesuaikan dengan kemampuan dan bidang masing2.semoga Alloh membimbing kita,menapaki jalanNya yang lurus.amin ya robbal ‘alamin.
Bagaimana pendapat anda?
sekali lagi kita harus gigit jari.Ormas2 islam di indonesia memang sedang mengoreksi kembali orientasi dan metode dakwahnya. isu terhangat adalah seputar wahaby yang multi tafsir,Muhammadiyah yang dari awalnya mengadopsi ajaran2 dari abdul wahab bin muhammad pendiri paham salafy atau yang akhirnya di identifikasi sebagai wahaby, namun pada perjalanannya mengalami tarik menarik,ada pihak yang tetap mempertahankan ideologinya yang beraliran “lurus” tanpa kompromi,dan ada pihak yang menghendaki muhammadiyah harus menyesuaikan kondisi masyarakat indonesia.makanya sekarang disebagian orang2 muhammadiyah tidak lagi membid’ah2kan orang tahlilan.
Apalagi akhir2 ini dimana ada opini yang menyudutkan wahaby dengan identik aliran keras.
NU pun tidak kalah,juga menghadapi problem2 dimana kantong2 nu MENDAPAT SERBUAN dari ideologi2 lain semisal JIL,wahaby dan syi’ah.
Rifaiyah pun mungkin sama.jadi jangan berkecil hati,setiap ormas memilki problem sendiri2.