Revitalisasi Arah Perjuangan Santri- santri K.H.Ahmad Rifa’i

Oleh Pada Friday, 24 July, 2009 10:24 AM. Under Analisis  

Sebuah Auto Critic

Oleh: Ibn Khasbullah

Motto:

حاسبواانفسكم قبل ان تحاسبوا

Panggung sejarah Da’wah K.H.Ahmad Rifa’i.

Zaman terus berubah, waktupun berganti. Sejak masa- masa perjuangan K.H.A. Rifa’I dan para muridya pada sekitar abad ke 18 yang cukup menggegerkan bumi Jawa, waktu telah berlalu hampir 200 tahun. Kalau kita mencoba mundur kemasa- masa itu dibanding masa- masa sekarang sungguh amat jauh perbedaannya. Saat itu kita masih dibawah cengkeraman kaki penjajahan, Sistem tanam paksa yang amat kejam dan tak berperikemanusiaan baru saja diperlakukan, untuk membayar beaya perang Diponegoro yang baru saja usai. Pegawai tinggi dengan congkaknya hanya dipegang “Sang Tuan Holanda” sedangkan pegawai rendahan dan AMBTENAAR diberikan kepada siapa saja yang bersedia menjilat Sang penjajah. Hal ini berakibat amat dahsyat bagi kehidupan beragama dan berbangsa. Kehidupan kebangsaan (Islam) sungguh memprihatinkan. Rasa rendah diri dan perasaan tak berdaya menerpa hampir seluruh anak bangsa. Sebagian umat Islam adalah “ABANGAN”, sedangkan para santri yang taat dan kiyainya dianggap “EXTRIMIS” yang harus diawasi dan akhirnya lebih memilih pindah kegunung atau kehutan dan membuka pesantern disana. Inilah yang digambarkan oleh C. Poensen dalam bukunya: Brieven over der Islam Uit De Binnen Landen Van Java. Leiden:Brill.1886 yang menyatakan bahwa: “(Saat itu) Dalam hal kepercayaan orang jawa tidak bisa disebut sebagai orang Islam”.

Saat itulah muncul seorang ulama pejuang, seorang motivator ulung, seorang muballigh yang berusaha menggebrak, melawan dan memperbaiki tatanan social kemasyarakatan yang jauh dari ukuran ideal sebagai suatu umat atau sebagai sebuah bangsa. Beliau adalah K.H.A.Rifa’I yang mempertaruhkan segala- galanya demi kehormatan Islam dan kehormatan bangsa.

Zaman Berganti.

Kini zaman telah berganti.

Zaman penjajahan telah menjadi zaman kemerdekaan.

Jika dahulu “Tanah Jawi Ratunya Kafir”, kini kita telah memiliki presiden dan wakil presiden yang muslim.

Jika zaman itu banyak Bupati dan Penghulu yang bersedia minum arak walau seteguk, agar dapat diakui sebagai “Ambtenaar” dan dianggap loyal kepada Penguasa Hindia Belanda , kini sudah banyak para pegawai tinggi dengan tingkat relijiusitas yang tinggi dan tidak menghamba kepada orang kafir lagi.

Jika saat itu sekolah Islam jumlahnya sangat terbatas dan hanya berada ditempat terpencil dengan santri- santri “kudisan”nya, sedangkan kini ditempat- tempat elit bermunculan sekolah Islam yang bermutu dan madrasah- madrasah yang jumlahnya tak terhitung lagi.

Jika dulu sesuai kata Lothorp Stoddart: “kaum muslimin terjebak dalam tasawuf kekanak- kanakan dan takhayul yang keterlaluan” (The New World Of Islam: Lothorp Stoddart), sedangkan kini banyak intelektual dan scientist muslim yang bermoral tinggi.

Maka bolehlah dikatakan bahwa sasaran perjuangan Da’wah K.H.A.Rifai sebagiannya sudah berhasil, karena tujuan da’wah KHA Rifa’I bukan hanya untuk murid-muridnya saja, tapi untuk berlakunya syari’at Islam di tanah JAWI:

-Jilbab sudah bukan barang asing, sudah tidak merupakan simbul khusus bagi santri “BUDIYAH”

(‘Ubudiyyah) lagi..

-Kitab terjemahan Islam muncul dengan luar biasa…. Mengikuti methode beliau.

-Pemahaman keislaman sudah makin meluas

-Kemerdekaan yang agung sudah tercapai.

Masih relevankah Arah Perjuangan beliau?

Kini sebuah pertanyaan yang menggelitik muncul: “Masih relevankah arah perjuangan da’rwah murid- murid K.H.A,Rifa’I pada masa sekarang dan mendatang?

Kini kita harus berani mengatakan dan menyatakan bahwa gairah dan semangat perjuangan K.H.A.Rifa’I pada murid- muri beliau mulai memudar.

Memang kini kita telah memiliki sebuah organisasi yang modern. Tapi terasa “kurang menggigit”, kurang terdengar kiprah dan pengaruh positifnya ditengah gegap gempitanya aktifitas jama’ah dan organisasi yang lain.

Memang masih banyak santri- santri beliau yang mendalami Ad-Diin dari ktab kitab beliau. Namun ESSENSI da’wah beliau yang terselip ditengah karya- karya beliau seakan- akan tak tersentuh.

Tokoh- tokohnya tidak lagi membawa perubahan positip namun cenderung stagnan dan sekedar mengikuti culture yang ada.

Bahkan dalam beberapa masalah- masalah “Waqi’ah”, cendekia kita cenderung sekedar menukil dari kitab- kitab Mu’tabarot tanpa berani ber- improvisasi.

Maka patutlah kita mempertanyakan: adakah yang salah dalam diri kita, dan adakah yang harus segera diperbaiki agar kita tidak terus mengalami stagnasi atau bahkan degradasi?

Ruh dan jiwa da’wah K.H.A. Rifa’I adalah sebuah bentuk kritik keagamaan, sosial dan kultural.

Memang beliau menuliskan beberapa ilmu “Ad-Diin” yang penting- penting, seperti Ushul (Aqidah), Fiqh (Islam/ Ibadah) dan Tasawuf (Ihsan/ Ahlaqul Karimah).

Harus diakui bahwa kreativitas beliau untuk menterjemahkan kitab- kitab agama dalam bahasa Jawa yang mudah difahami adalah sangat genius dan merupakan pelopor yang kemudian ditiru dan diikuti oleh para Ulama’ lain generasi berikutnya.

Kenyataan membuktikan pada saat banyak kaum muslimin buta agama karena kesulitan belajar “Kitab Kuning” dengan ilmu Nahwu Shorofnya, santri- santri beliau telah sangat mengenal fiqh ibadah bahkan mereka faham sebagian perbedaan (ikhtilaaf) persepsi para Ulama seperti perbedaan dan ikhtilaf yang terjadi antara Imam Romly dan Ibnu Hajar hanya dengan mempelajari kitab terjemahan beliau.

Yang menurut penulis sangat dilupakan adalah “Ruh dan Jiwa Da’wah” dari K.H.A.Rifa’I, yakni semangat “Mengkritisi tatanan keagamaan, social dan kemasyarakatan yang ada”.

Kalau dahulu yang dikritisi adalah pemerintahan kafir, maka sasaran da’wah murid beliau sekarang seharusnya adalah “Kedzaliman ma’nawi” yang identik dengan penindasan raja- raja kafir.

Kalau dahulu yang dikritisi adalah Bupati- Lurah- Demang yang zalim, seperti kezaliman bupati Lebak dizaman Douwes Dekker, kini yang harus dikritisi adalah semua aparat- siapapun dia, yang korup, yang menimbulkan kesengsaraan rakyat.

Kalau zaman itu yang dikritisi adalah para Ulama yang menjilat Belanda dan terseret tradisi non agamis, maka kinipun masih banyak Ulama yang demikian, yang mengorbankan Aqidah demi sekedar harga yang teramat hina.

Penulis menilai, bahwa selama murud- murid beliau hanya tenggelam dalam lautan ilmu tanpa nyawa dan tanpa meneladani semangat beliau dalam hal “MEROBAH” , maka selama itu pula murid- murid beliau akan tenggelam kedalam stagnasi dan degradasi.

ﻮﺍﻟﻤﻬﺎﺠﺭ ﻤﻦ ﻫﺎﺠﺭ ﻤﺎﻧﻬﻰ ﺍﻟﻟﻪ ﻋﻧﻪ .ﻤﺗﻔﻖﻋﻟﻴﻪ

“Orang- orang yang hijrah itu adalah mereka yang menghindarkan diri/ merobah dari segala sesuatu yang dilarang Allah.” Muttafaq Alaih.

Mari Beramal Dengan Menyebarkan Artikel Ini :

About Rifai Ahmad

Manusia yang berusaha untuk menjadi manusia yang bermanfaat untuk manusia lainnya, lahir di Demak, nyantri di Pati, kuliah di Jakarta, rumah di Bekasi...........

Artikel Yang Mungkin Berkaitan :