Tanbihun.com – Dulu saat KH Ahmad Rifa’i masih hidup dan menebarkan ajarannya, Rifaiyah belum lahir . KH Ahmad Rifa’i tidak pernah memperdulikan nama apa yang disematkan terhadap ajaran yang dibawanya, ada yang menyebutnya santri Budiyyah, santri Kali salak ataupun santri Tarajumah. Bagi beliau “apalah arti dari sebuah nama.” Substansi lebih penting dibanding dengan sekedar nama, jargon atau selogan. Dengan semangat yang menyala-nyala, KH Ahmad Rifa’i mulai menyuarakan pendapatnya, yang menurut ijtihad beliau sangat sesuai dengan ajaran Nabi saw. Saat itu beliau sadar penuh akan resiko yang akan diterimanya sebagai konskuensi dari dakwah beliau, Namun setapakpun beliau tidak mundur kebelakang. Intimidasi, fitnah bahkan penjara tak pernah berhasil memadamkan semangat beliau untuk terus berjuang menentang kedzoliman, ketidak adilan dan kemunkaran.
Kini Rifaiyah sudah berusia 35 tahun, sudah cukup dewasa untuk sebuah ormas. Berbagai jalan terjal dan berliku pernah dilalui oleh para penggagasnya. Pak Carbin, KH Rohmatulloh, KH Ahmad Syadzirin, KH Khaeruddin Khasbullah dan para kyai sepuh lainnya telah memeras tenaga dan pikiran serta tidak sedikit harta pribadi yang terpakai untuk organisasi ini. Meski berjalan dengan sangat lamban, namun berkat keringat beliau-beliaulah Rifaiyah bisa berdiri tegak hingga hari ini. Saat ini Rifaiyah butuh roda baru, mesin baru, serta komponen-komponen yang baru pula, Rifaiyah butuh kiprah generasi mudanya. Sekarang bukan saatnya lagi anak muda Rifaiyah menjadi penonton bagi percaturan ormas Rifaiyah ini, sebab menonton saja tidak akan pernah dapat memecahkan masalah. Yang muda harus ambil bagian dan yang tua harus memberikan kesempatan. Tegakah kita bila melihat Rifaiyah tertatih ditengah melesatnya organisasi-organisasi baru ?. Kini Rifaiyah seakan singa tua yang “ompong” yang duduk termangu mengenang kegagahannya tempo dulu.
Nanti Rifaiyah harus lebih aplikatif terhadap ajaran KH Ahmad Rifa’i serta mampu menerjemahkan makna kitab Tarajumah ke dalam konteks kekinian. Pesan-pesan mulia beliau harus terus digali dan ditampilkan kepermukaan, sehingga harapan-harapan beliau dapat terwujud dengan baik. Generasi muda Rifaiyah harus bangun dari tidurnya dan sudah berani membuka serta menampilkan “jaket ” Rifaiyahnya. Saatnya Rifaiyah kembali diperhitungkan di kancah Ormas Islam di Indonesia. Lanjutkaaaaannn….Lebih Cepat Lebih Baik…untuk menuju Nomer 1
berita mukernas rifaiyah 2013,furuuddin usul-idin,Logo rifaiyah



Saya punya impian untuk saat ini, di tanbihun.com ini saya yakin sudah banyak yang “mertamu” dan tak jarang yang juga menggoreskan ide2 cemerlangnya, walau mungkin kadang sangat jauh untuk bisa digapai dengan kemampuan kita yang ada saat ini.
Namun demikian, ini adalah bukti bahwa didada kita masih menetes darah “rifaiyah”. Ada beberapa hal yang perlu menjadi catatan kita untuk menuangkan ide kedalam bentuknya yang nyata, istilah kerennya membumikan cita2 kita.
Belajar dari pengalaman, sebenarnya banyak teman2 yang sangat ingin memberikan sumbangsihnya untuk rifaiyah, tapi mereka trauma jika harus melalui Organisasi resmi rifaiyah, bahasa sederhananya, mereka tidak ingin terlibat secara organisasi dengan rifaiyah, tetapi mau berjuang untuk rifaiyah, alasannya, terlalu ribet dan kebanyakan basa-basi jika ingin membuat suatu proram.
Contoh : Pada waktu israel menyerang palestina, sebagian pengurus DPW DKI jakarata akan ikut demo dengan Ormas2 islam lain, tapi apa kata ketuanya? “wah kita kalau mau bikin acara2 harus mohon restu DPP dulu”. iyalah…. kalau itu segera dilakukan, tapi dengan alasan 2 entah apa, GATOT ( gagal total ) rencana itu.
Solusinya?________
Banyak cara, dan saya yakin semua yang sudah pernah menunjungi blog ini pasti insya Alloh punya ide2 gemilang untuk rifaiyah.
Urun rembug saya yang awam tentang semua hal ini ;
Saya akan merasa bangga dan bahagia, jika salah satu dari DPP rifaiyah mau mengumpulkan anak2 muda yang sudah terbiasa “nongrong” di tanbihun.com untuk di beri nasihat, arahan atau apalah, untuk rifaiyah kini dan akan datang, bukan sebagai kapasitas Pengurus,tetapi sebagai orang tua, sebab kami2 disini, tidak semuanya pengurus, dan ada juga yang aleri denan organisasi rifaiyah, tapi mau gabung atas nama murid mbah rifai.
salah satu sesepuh yang kami harapakan adalah Bapak KH. Khaerudin Hasbulloh, Karena kami yakin meski sesekali,beliau akan membaca ini, entah berapa hari,minggu,bulan kami akan setia menunggu.
Jangan sia-siakan kami,mumpung jalan pikiran kami masih ada ruang kosong untuk para sesepuh. Bimbinglah kami !
emmmm kalo aku…ingin agar pak KH Syadzirin mau menularkan ilmunya kepada kami, terutama tentang organisasi…aku yakin banyak sekali manfaat yg dapat kita ambil dari pengalaman beliau2…kalo perlu pak Carbin sekalian….( Mungkin ngga yaaa….. )
Sebenarnya banyak tokoh-tokoh pendahulu kita yang Patut kita “ngangsu ilmu & pengalamannya”
Mungkin kalau diadakan pertemuan “non formal” semacam bincang2 santai antara para sesepuh dan pemuda,akan terasa akrab dan santai, kalau pertemuan2 resmi kan terlalu kaku dan terpaku pada “pakem” syarat2. Saya orang awam dan bodoh ini, malah ngantuk kalau menghadiri acara2 resmi semisal muktamar atau mukernas,hehehehe,,,,, Pak Kyai bagaimana kalau kita adakan pertemuan nyantai tapi pasti, kadang dari bincang2 santai akan keluar semua unek2 dan tidak jarang malah itu bermanfaat.
Sekali-kali dicoba tidak masalah kan? ayo siapa yang akan kasih konfirmasi ke para sesepuh, yang dari pekalongan, serahkan kang asep, yang dari cirebon dan sekitar, serta daerah lain siapa hayo?
Saya setuju semuanya kang, ditambah KH.Mukhlisin Muzari.
Apa sebab?
Pak Carbin adalah pendobrak. Beliaulah yang berani melawan pakem saat itu dengan melakukan “ijtihad Organisasi” yakni membawa “wong tarajumah” untuk ber- organisasi secara modern dengan segala pahit getirnya, sukses atau gagalnya.Itu harus diakui.”Al- Fadhlu lil mubtadi’ walau ahsanal muqtadi”, keutamaan itu hak yang memprakarsai, walaupun yang mengikuti langkahnya sekarang lebih baik hasilnya.
Kemudian KH.Syadlirin,KH,Mukhlisin,KH.Khaerudin, mereka adalah tiga serangkai pencetus ide Seminar Nasional di Jogya yang telah sanggup MEMBALIKKAN wacana dan cara pandang para pakar nasional bahkan internasional dalam melihat sejatinya rifa’iyah, sehingga semua tulisan karya intelektual para pakar sekarang tentang rifa’iyah pasti mengacu ke hasil seminar, tidak mengacu lagi kepada serat cebolek , karena Serat Cebolek saat itu sudah berhasil di DEMITOLOGISASI kan (serat cebolek sudah dianggap hanya sebagai mitos, bukan realita sejarah).dst.dst.+ pakar lain yang berwawasan kedepan.
Saran saya, pertemuan informal digilir, tidak usah sering-sering yang penting ada kesinambungan, bulan ini sama Si Anu, bulan berikutnya sama Si Fulan, dst…..
Bicara ttg Seminar di DIY, saya jadi teringat dengan Pak saefudin Simon, beliau pernah berbincang via telp, dengan saya, beliau bilang, setelah mengunjungi tanbihun.com ( kesasar lewat google tadinya) jadi ingin menulis buku ” Tentang perjalanan rifaiyah mulai dari seminar di DIY sampai diangkatnya syaikh A. Rifai sebagai Pahlawan Nasional”, tapi beliau minta tolong data2 dari kliping koran dan majalah yan membuat berita seputar rifaiyah dari jaman dulu, kata beliau data2 milik beliau hilan terbawa banjir, dan saya menyangupinya,tentu dengan bantuan kang asep sak wadiyo bolo,untuk menulis ulang.
Seminar di DIY tidak bisa lepas dari jasa Pak Saefudin Simon,Semoga ide diatas bisa terealisir.
Tinggal waktu dan tempatnya,dan siapa koordinatornya. Kalau saya sudah kajibahan “proyek Kitab murah ri’ayah” ( sekarang masih dlm penulisan masternya)
Siapa yang mau tiket tambahan ke Surga?
Saya ingin mengajukan saran kepada warga rifaiyah, demi kemajuan Rifaiyah sendiri, seharusnya para kiyai-kiyai Rifaiyah itu sering berkumpul untuk menyatukan pendapat-pendapat tentang hukum, sehingga tidak banyak terjadi khilafiyah diantara mereka yang pada akhirnya akan berimbas pada umatnya, serta menimbulkan perpecahan pada umatnya. Sebagai Kiyai sepatutnya jangan merasa saya yang benar sendiri, kalau ada perbedaan pendapat cari kitab-kitab rujukannya untuk mencari pemecahan menuju pendapat yang satu.
Selain itu saya juga sangat setuju untuk segera diwujudkan pencetakan kitab-kitab tarajumah yang terjangkau harganya, walaupun kitab-kitab tersebut sudah dicetak oleh kiyai-kiyai maka beliau harus rela bersaing demi umatnya.
sebenarnya jumlah orang rifaiyah iku ono pirang ewu jiwa sih, terus kalo di petani maneh, sing isih shiqqoh dengan rifaiyah iku piro? kita sering muluk2 mbandingkan dengan organiosasi lain. NU itu kata gus dur bisa lebih 50 juta orang, mungkin Muhammadiyah yo 10 jutanan luwih, klo rifaiyah orangnya sdh gak bnyak, dan makin lama makin cenderung makin sedikit, apa yg bisa dibangkitkan.
coba dianalisa, tiap tahun berapa banyak sih orang di luar rifaiyah tertarik masuk rifaiyah. mungkin luwih akeh orang yg terlahir rifaiyah, dadi gede bukan rifaiyah. klo pulang ngumpul sama orang rifaiyah baru ngaku lagi rifayah, mergo isin karo keluargo lan konco-konone.
terus apa yg bisa di lakukan?
sering orang2 mikirkan organisasi rifaiyah, karna organisasi itu bisa dijual, klo punya massa akeh payu didol, entuk prosepek…. itu kan yg terjadi
sedang sejatinya rifaiyah, utowo tarjumah, teteap makin terpinggirkan sama ummatnya sendiri.
coba buat statistik, berapa sih orang tarjumah itu, data ini perlu untuk kita tahu seberapa sih kita itu? ono piro sih sedulure dewe iku?
tanbihun c0m mungkin bisa meluangkan waktu bersama networknya untuk ngumpulin data statistik wong tarjumah.
matur nuwun
Maaf kang amin, kami disini tidak mewakili Organisasi Rifaiyah, tetapi sebagai murid Syaikh Ahmad Rifa’i, Dari awal mula rifaiyah dibentuk bukan oleh Guru Besarnya atau pun murid2 generasi pertama, kalau tidak salah hitung, rifaiyah ini dibentuk oleh murid2 generasi generasi ke empat.
Jadi kami tidak tahu pasti jumlahnya, lagi pula Setiap Ormas itu memiliki karakteristik dan kelebihan serta kekurangan sendiri2.
Kenapa malu? kalau anda orang rifaiyah, silahkan sampaikan disini, kita diskusikan bersama.
Tapi,terlepas dari permasalahan itu,apabila ada orang rifaiyah,yang malu mengakui ke-rifaiyahan-nya, maka sebenarnya dia tidak/kurang memiliki keberaniaan,dan biasanya orang seperti ini bermuka dua.
Mungkin anda pernah menemui beberapa orang semacam ini,yang malu ngaku rifaiyah, tetapi ini tidak bisa untuk memvonis, semua orang rifaiyah seperti itu.
Dan untuk tanbihun,com ini salah satunya ingin memeperkenalkan rifaiyah,biar orang2 tahu apa dan siapa rifaiyah ini?
Mungkin hati kita dikersaake Gusti Allah selalu nyambung. udah beberapa Minggu ini aku sudah sering ketemu sama KH. Ali Nahri, beliau juga jajaran pengurus harian PP. Rifaiyah. Ketika saya dan teman-teman Komunitas Tanbihun di Pekalongan mengadakan pelatihan Jurnalistik di Ndalem beliau selama satu hari, beliau sempat melontarkan keresahan-keresahannya, yang saya garis bawahi dibawah ini.
Menurut beliau: Program-program yang sudah dirumuskan di dalam Mukernas tidak mungkin jalan satupun, kalau kita tidak segera mungkin berkumpul musyawarah untuk menindaklanjutinya. Untuk menindaklanjuti hal ini dibutuhkan forum-forum komunikasi yang diselenggarakan secara berkelanjutan.
Terus kami bilang, “lha kalau dijalankan saja gimana?” beliau berjuar “di PP. Rifaiyah itu yang kurang justru tenaga teknis, atau OC, atau mereka yang secara kontinue sanggup menyiapkan ini dan itu, yang mau riwa-riwi. bagaimana kalau itu dilakukan oleh yang muda-muda kayak sampeyan-sampeyan.” jadi intinya dari permintaan KH. Ali Nahri dan beberapa orang PP. yang saya temui kepingin dibantu oleh yang muda-muda. Kalau ada yang berujar itu menyangkut organisasi, kami alergi. Justru orang-orang PP. yang saya temui tidak pernah mempermasalahkan siapa pengurus siapa bukan. di Rifaiyah itu konteksnya bukan struktural, atau menunggu atasan bilang, tapi siapa yang mau….ya monggo bareng-bareng.
Kalau ingin ketemuan….ngobrol bareng bersama PP. Rifaiyah saya bersama teman-teman KOnstan mau memfasilitasi, tempatnya di KH. Ali Nahri Batang. tapi kalianlah yang menyusun agendanya dan disosialisasi ke PP. Dulu. Mas Imam Ghozali juga sering nongrong di Batang tempatnya KH. Ali
KH. Ali Juga bilang: kalau tidak segera mungkin tokoh-tokoh Rifaiyah bertemu mengadakan khalaqoh bersama secara berkala, maka banyak permasalahan umat tak tersolusikan. seperti perbedaan-perbedaan furuuddin yang dapat menghambat laju perjuangan. dll…Yaaaa. Monggo aja itu idenya dilakukan kita siap jadi BOLODUPAK
Saya bisa ikut merasakan kegelisahan yang dirasakan mas Amin. Memang demikianlah kondisi sebagian besar warga rifa’iyah saat ini. Kalau saya bisa meminjam istilah psychologi, orang rifa’iyah sudah cukup lama mengalami INFERIORITY COMPELX, rasa rendah diri yang hebat sejak ditangkap nya Sang Guru Besar dan dihujatnya warna da’wah, perjuangan dan aktivitas murid- murid beliau. Maka warga rifa’iyah secara instinctif menghadapi keadaan itu dengan melakukan semacam “Taqiyyah” baik disadari atau tidak. Perlu diketahui bahwa “Taqiyah” adalah semacam tindakan self defensive yang secara resmi dipakai oleh aliran Syi’ah, tapi juga diamalkan baik diakui atau tidak oleh semua bangsa ataupun jama’ah yang sedang tertindas dan dihujat.
Secara gampangnya, “Taqiyah” (dissimulation: english) adalah perilaku menyembunyikan identitas (keagamaan/ kepercayaannya) demi untuk menjaga keselamatan jiwa dan hartanya (amrih slamete dunyo lan akherate) seraya tetap menjaga keyakinannya itu dalam dadanya. Dan sifat INFERIORITY COMPLEX yang sangat menghambat kemajuan rifa’iyah ini DISADARI BETUL ADANYA oleh para sesepuh rifa’iyah. Maka ditempuhlah berbagai usaha yang benar- benar menguras tenaga harta dan pikiran untuk mengha pus “belenggu” ini selama- lamanya guna memuncul kan “rasa bangga” didada warga rifa’iyah, diantaranya dengan:
1- diperkenal kannya organisasi modern (yayasan atau jama’ah),
2- Demitologi serat cebolek yang sangat merendahkan harga diri warga rifa’iyah pada seminar nasional Jogya,
3- Diangkat dan dihapuskannya Vonis “Aliran sesat” dari pengadilan negeri,dan..
4- Mengajukan diangkatnya Syekhina sebagai pahlawan nasional.(Harus diakui dengan jujur tanpa mengecilkan kiprah seluruh warga, keempat program besar tersebut terjadi di masa kepemimpinan KH. Syadlirin Amin).
Saya sendiri amat yakin, sejak kini rasa “inferiority complex” dan “Taqiyah” warga rifa’iyah akan ber- angsur- angsur musnah seiring perjalanan waktu sejak keberhasilan 4 program diatas yang telah memutuskan mata rantai “belenggu” yang mengikat warga rifa’iyah, walaupun menurut Ibnu Kholdun dalam “Muqoddimahnya” akan butuh waktu -+ 40 tahun bagi suatu bangsa untuk bengkit dari keterpurukannya, sebagaimana waktu yang dibutuhkan oleh kaum bangsa Israel yang “terbelenggu inferioritas penghambaan Fir’aun” dengan menghabiskan waktu 40 tahun di padang “TIIH”, yang menggantikan generasi tua dengan generasi yang tidak pernah merasakan “enaknya” menghamba Fir’aun, generasi yang penuh percaya diri untuk tampil merebut kesuksesan. Mohon do’a restu mas Amin dan seluruh warga agar waktu itu dapat datang lebih cepat.
(Harus diakui dengan jujur tanpa mengecilkan kiprah seluruh ulama dan warga rifa’iyah, ke-empat program besar tersebut- sukses dan berhasil diraih di era kepemimpinan K.H. Syadlirin Amin)
Subhanalloh….keringat kyai sepuh yang terkucur sungguh luar biasa untuk Rifaiyyah ini…saya sebagai generasi muda merasa sangat malu…!!! tenaga ada, kemampuan ada, potensi punya namun kemauan yang selalu menghambat langkah asaku ini…Insya Allah perjuangan Pak KH Syadzirin akan menjadi inspirasi bagi kami kedepannya…amiin
assalamualaikum, wr.wb
perkenalkan saya adalah pemuda rifaiyah dari pemalang, dan mohon maaf sebelumnya saya hanya ingin sedikit berkomentar tentang tulisan dalam logo rifaiyyah yan menurut saya kurang tepat pemakaian khottnya, entah pencetus logonya siapa namun saya kira tulisan “jam’iyyah ar-rifa’iyyah” ditulis menggunakan khot tsuluts yang tidak menurut pada kaidahnya, walaupun orang sudah cukup mengerti dan faham membacanya, namun susunan hurufnya kurang proposional, lihatlah logo-logo perkumpulan lain misalnya seperti nahdlotul ‘ulama, walaupun belum bisa dibilang bagus namun susunan hurufnya sudah cukup proposional, saya tidak tahu mungkin desainer (pembuat logo dengan software corel draw atau lainya) yang mungkin tidak bisa membuatnya atau entah, namun saya sebagai khottot muda dan sekaligus desainer yang baru belajar, saya mengutarakan hal ini dengan tujuan seandainya suatu saat dirubah, bukankah logo merupakan ciri dan penggambaran dengan maksud logo itu dibuat?
wassalamualaikum. wr.wb