Oleh: Ibn Khasbullah
Beratnya ibadah haji di zaman colonial
Bertepatan dengan kedatangan saya di Seoul- Kore Selatan, dimana tulisan ini saya sempurnakan, semua jama’ah haji Indonesia dengan kloter terakhir telah pulang ketanah air dengan membawa segala kenangan suka duka dan asyik masyuk ketika mereka memenuhi panggilan Tuhan mereka, dan bangsa Indonesia boleh berbangga hati bahwa tahun ini tercatat sebagai pengirim jama’ah haji paling besar dari seantero dunia : 107 ribu jama’ah!!! Sungguh suatu jumlah yang tak terbayangkan bila kita menengok ke masa sulit sebelum alam kemerdekaan. Bila kita menengok ke masa lalu, sungguh masa- masa itu merupakan suatu masa yang sangat pahit bagi seluruh bangsa Indonesia termasuk para calon hajinya. Tidak hanya masalah transportasi saja yang memang belum memadai pada masa itu, tapi juga karena segala macam aturan yang amat merepotkan dari sang penjajah serta perlakuan yang sangat menyulitkan dari para penguasa colonial baik pada saat mau berangkat maupun seusai mereka menunaikan ibadah haji. Tercatat pada tahun 1664 pemerintah colonial MELARANG 3 (tiga) orang Bugis untuk mendarat setelah selesai menunaikan ibadah haji ke Mekah, dan membuang mereka ke Tanjung Harapan di Afrika. Belanda mengemukakan dalih bahwa kedatangan mereka ketanah air ditengah- tengan ummat Islam yang sangat menghormati orang- orang yang sudah menunaikan ibadah haji dikhawatirkan dapat menimbulkan kerusuhan. Pada tahun 1716, 10 (sepuluh) orang yang baru pulang dari menunaikan ibadah haji, diperbolehkan mendarat, akan tetapi mereka selalu dalam pengawasan yang ketat. Pada tahun 1825, pada saat awal perang Diponegoro, Belanda mengeluarkan suatu resolusi yang bertujuan membatasi jumlah jama’ah haji. Dalam resolusi tersebut ditentukan bahwa para calon jama’ah haji harus memiliki passport yang wajib dibeli dengan harga 110 gulden, suatu jumlah yang sangat besar pada waktu itu .(Zamakhsari Dhofier: Tradisi Pesantren.hal.10). Keadaan tersebut sangat kontras bila dibandingkan dengan masa- masa sekarang setelah alam kemerdekaan. Kemudahan- kemudahan, fasilitas dan bimbingan terus meningkat tahun demi tahun sekaligus merupakan barometer keberhasilan dan kepedulian dari pihak pemerintah.
Potensi para haji di zaman colonial.
Telah disebutkan diatas bahwa pemerintah Hindia Belanda amat takut terhadap potensi yang dimiliki oleh para haji untuk memimpin pemberontakan, karena begitu besarnya penghargaan dan penghormatan dari masyarakat terhadap mereka. Penghormatan yang besar dari masyarakat itu timbul karena 2 (dua) hal pokok, yaitu:
1. Mengikuti jejak langkah Rasulullah yang sangat menghormati para haji. Diceriterakan dalam sebuah hadist bahwa Nabi Muhammad MINTA DIDO’AKAN oleh sahabat Umar tatkala sahabat tersebut meminta izin kepada Rasul untuk menunaikan Umroh .( Imam Nawawi Ad- Dimasyqi: Al- Adzkar; bab tentang kebolehan orang yang lebih utama minta di do’akan oleh orang yang derajatnya berada dibawahnya). Riwayat ini menunjukkan bahwa do’a para haji itu dikabul dan kedudukan mereka sangat terhormat, sampai- sampai Rasulullah minta dido’akan oleh mereka. (sekaligus menunjukkan bagaimana Rasul itu memiliki sifat yang “andap asor/ tak congkak”).
2. Para calon haji pada zaman itu memang rata- rata “berkualitas lebih”, tidak asal- asalan. Mereka adalah orang- orang mumpuni didaerahnya baik dalam segi ilmu, akhlaq, keberanian menanggung resiko, dan tentu saja “lebih” secara financial.
Ketakutan pemerintah colonial ini kemudian memang terbukti. Banyak para haji- terutama yang telah sekian lama bermukim di Mekah serta sempat mendengar ide- ide besar para tokoh pada saat itu, diantaranya dari pemikiran Jamaluddin Al- Afghani – menjadi sadar akan nasib bangsanya yang terhina dan terjajah…Mereka disamping terusik jiwa jihadnya melihat kesewenang-wenangan Belanda, juga merasa prihatin terhadap kehidupan keagamaan kaum muslimin saat itu. Seperti dijelaskan diatas, Belanda mengeluarkan berbagai aturan yang menghambat kepergian calon haji ke Mekah. Sekaligus berarti memutus mata rantai spiritual dan intelektual islami diantara Negara sumber islam yaitu Mekah/ Madinah dengan penduduk tanah jajahan. Sehingga umat islam waktu itu bagaikan layang- layang putus tali. Kehidupan keagamaan menjadi sangat gersang, dan sesuai denga pernyataan C. Poensen, seorang sarjana Belanda yang menyatakan bahwa: “Pada akhir abad ke 19, mayoritas orang jawa sebenarnya TIDAK MENGENAL ISLAM kecuali dalam hal sunatan, puasa dan larangan makan daging babi”. Apalagi suatu hal yang sangat beralasan bahwa sejak dari mula pertama keberadaan islam di Indonesia sebagian besar kelompok keagamaan tidak mendasari doktrin- doktrin nya dengan Al- Qur’an, akan tetapi mengambil dari tradisi- tradisi Jawa Pra Islam. Atau menurut bahasa Prof.Dr.Sartono Kartodirjo: “It is reasonable assumption that from the earliest Islamic times in Indonesia, there have existed sects professing doctrines NOT BASED ON QORAN, but originating from pre Islamic Javanese tradition.(Sartono Kartodirjo: Protest Movement in Rural Java. 127).
Oleh karena itulah kemudian banyak para haji menyingsingkan lengan bajunya untuk menentang kolonialisme sekaligus memberantas ketak acuhan masyarakat terhadap ajaran agamanya. Kita lihat bagaimana kaum padri di Minangkabau sangat menentang minuman keras, perjudian, menyabung ayam dan segala kemaksiyatan yang merajalela saat itu dinegeri Minang, yang sangat menodai kesucian agama islam, namun sekaligus juga melawan Belanda. (K.H.Saifuddin Zuhri: Sejarah Kebangkitan Nasional. 570). Lihat pula peristiwa Cilegon (1888) yang dipimpin oleh Haji Wasid atau peristiwa Gedangan yang dipimpin oleh Haji Kasan Mukmin, dan masih banyak lagi contoh lainnya baik di Jawa maupun luar Jawa.
Berbagai bentuk perlawanan.
Rupanya dengan pengaruh mereka yang besar di masyarakat dan dengan suatu keyakinan:” Tidak ada yang ditakuti selain Allah ” mereka bangkit untuk membela bangsanya. Adakalanya dengan bentuk perlawanan fisik, adapula yang dengan perlawanan melalui tulisan atau pengajian. Bentuk perlawanan jenis ini dapat kita temukan pada perjuangan K.H.A.Rifa’i dari Kalisalak, Batang, Jawa Tengah pada akhir abad ke 19 (1786 – 1870). Beliau berjuang dengan tulisan dan dakwahnya melawan tatanan yang tidak adil dan rusak pada waktu itu. Diserangnya kaum colonial dan penjajah, dicercanya para penguasa pribumi yang tunduk pada “Raja Kafir”, serta bukan lagi menjadi pengayom rakyat, tetapi sudah menjadi kaki tangan Belanda. (Nugroho Notosusanto: Sejarah Nasional II.180 – 181). Digempurnya kaum Muslimin yang sudah tidak “Taslim/ tunduk” lagi kepada hukum- hukum syar’i , didambakannya alam kemerdekaan yang agung. Dalam sebuah kitabnya berjudul “Thoriqot” beliau menulis:
” Mukmin bungkuk luwih utomo nandur jagung
Tinimbang mukmin bungkuk ngawulo tumenggung.
Alim sholeh milih merdiko ingkang agung.
Agawe kutho- daerah- yen biso langsung.”
Artinya:
Lebih utama seorang mukmin sampai bongkok menanam jagung.
Daripada mukmin sampai bungkuk- menghamba tumenggung.
Alim sholeh memilih kemerdekaan yang agung
Membina kota- daerah kalau bisa langsung
Betapa beraninya beliau mengemukakan cita- cita kemerdekaan, pada saat cengkeraman penjajahan masih begitu kuat, jauh hari sebelum munculnya Budi Oetomo dll.
Perhatikan serangannya kepada kaum muslimin yang sudah pada lalai pada agamanya:
Podo ngaku islam ujare puro- puro
Tan gugu ing sak benere syara’ wicoro
Gegeyongane mung anut adate negoro
Atine kafir luwih gede keno leloro
Semua mengaku islam, ucapannya pura- pura
Tak mau menurut kepada sebenarnya hokum syara’
Bergantungnya hanya mengikuti adat negeri.
Hatinya kafir kena penyakit yang lebih besar.
(K.H.A.Rifa’i: Ri’ayatul Himmah)
Para haji dicap extremist / teroris
Sudah barang tentu pemerintah colonial tidak tinggal diam melihat semua gerakan protest oleh para haji tersebut. Disingkirkannya mereka satu persatu dengan segala cara. Yang paling sering dengan mengadu domba dengan sesama bangsanya atau kemudian dibuang karena dianggap sebagai bahaya politik. Kadang dengan segala siasat tipuan yang nista seperti yang dilakukan kepada P. Diponegoro, kadangkala dengan pengadilan yang sumir, kadangkala tanpa proses yang semestinya, sekedar tanya jawab kemudian putusan pun jatuh: DIBUANG!
Demikian juga yang terjadi pada K.H.A. Rifa’I, dengan keputusan Gubernur Jendral Pahud dengan nomor 35 tertanggal 19- Mei- 1859, beliau dibuang ke Ambon sebelum dipindahkan ke Menado dengan tuduhan:
1 – Ahmad Ripangi tidak mentaati kepala pemerintahan pribumi yang diangkat oleh
pemerintah Belanda, sehingga dengan demikian dianggap sebagai suatu bahaya
politik.
2 - Tindakan itu bukan merupakan perkara hukum resmi. Oleh karena itu tidak diadakan
pengadilan.
3 - Tindakan pengasingan ini merupakan usaha preventip untuk mencegah timbulnya
bahaya ketertiban dan keamnan.
(Oos Indische Besluit, 289/59 Geheim,19- Mei-1859).
Demikianlah salah satu contoh bagaimana pemerintah colonial bertindak terhadap para “Extremist” yang dianggap berbahaya bagi kelangsungan penjajahan. Prof. Dr. Karel Steenbrink, seorang ahli keislaman dari Belanda pernah menceriterakan kepada penulis berdasar catatan yang ia temukan di Leiden University, bahwa pernah pemerintah Hindia Belanda membuang sorang haji ke pengasingan hanya gara- gara haji tersebut tatkala mengadakan pesta khitanan puteranya, ternyata yang datang amat banyak. Ini oleh mereka sudah dianggap sebagai “bahaya politik”.
Melihat berbagai contoh diatas seharusnya umat islam sekarang ini banyak bersyukur kepada Allah atas segala karunianya dan juga berterimakasih kepada pemerintah yang dengan segala kelebihan dan kekurangannya telah banyak membantu pelaksanaan ibadah haji. Kepada para haji kami mengajak agr mampu melakukan self correction dan muhasabah, apakah kualitas kehajian mereka sekarang ini layak diperbandingkan dengan para haji pejuang sebelum zaman kemerdekaan.
Seoul, Korea Selatan : 23- Juli- 1992



Konon katanya, gelar panggilan “haji” itu salah satu tujuan ( digunakan ) belanda untuk mengidentifikasi para pejuang, sehingga mudah di awasi.
Maka Haji jaman dulu sangat dihormati dan mempunyai wibawa dikalangan masyarakat umum maupun belanda.
Kapan ya bisa haji??? semoga new comer nanti tidak lupa mendo’akan saya.
hehehehehe…………
Amiin, yaa mujiibas saa’iliin.
wewwww…kok kang yazid doang yg di doain…saya ngga’ pak ustadz…..
@Rifai,
Wowwww..kang Yazid tega yaaaa ama Seduluurrr….Ntar kita Hajinya bareng aja yuukk kang….kan mantaaaabbbbb tuuuhhh
@rifai, Siap komandan ! tuh dah di do’ain semua, tinggal meng-AMIN-i saja, semoga terlaksana dan di qobul oleh Alloh.
Doa’ yang berikutnya kan nunggu tahajjud dulu. Sabar dong masss!
“Allaahunmmarzuqnaa ziyaarotal haromain, khusuuson liahli tanbihun.com. Amiin Yaa mujiibas saa’ilin”. Udah.. lengkap, berarti do’a ini berlaku untuk semua aktivis tanbihun.com. biar nggak ada yang ngiri.
Nanti gantian kalau mau berangkat haji saya di do’ain, itba’ kanjeng Rasul. Jangan lupa!!!
@ibn khasbullah,terima kasih pak Ustadz…Insya Alloh kita akan saling mendoakan….klo ada yang punya serat Cebolek..boleh deh di upload untuk di diskusikan bersama….sumonggo
sudah berapa pengertian, berapa kepahaman yang ku serap dari tulisan-tulisan Kang Rifai, Kang Yazid, khususon matur nuwun dumateng panjenenganipun Syaikhina KH. Khaeruddin Khasbullah (mungkin penulis tulisan di atas, karena aku sedikit kenal khas tulisan beliau). Beliau lautan ilmu sedang aku seperempat titik pasir di Pantai. Semoga sugeng kawilujengan dumateng sedoyo ingkang sampun nambahi ilmu dumateng kulo sak konco ing Pekalongan. Teruslah menulis di Tanbihun.com.
Yang menjadi pertanyaan dibenak saya bertahun-tahun, dan belum saya sampaikan kepada Syaikhina KH. Khaeruddin Khasbullah adalah tentang proses kreatif, dan cara belajar dia. sehingga mampu melintas tanpa batas berbagai disiplin ilmu. JelajahNya dari provinsi al-Qur’an, hadis, tajwid, falaq, sejarah, organisasi, bahasa, manajemen, ekonomi, fikih lintas madzhab, tauhid, tasawuf. Semoga suatu saat aku bisa membaca biografi/ autobiografi beliau
@Asep, Selamat datang lagi saudaraku. oh..ya… bagaimana bar scanning kitabnya, mohon dikirim ulang link downloadnya,dan dikasih keterangan kitab apa,jadi inyonge kaga’ bingung. pas aku mau edit,eeeee…. kitabnya koq nyampur.
tolong dikirim ulang ya?
@Asep,kang Asep…saya juga penasaran dengan keilmuan KH Ahmad Syadzirin Amin yang menurut saya luar biasa..bahkan dikampung saya nama beliau lebih masyhur dibanding dengan Kyai manapun itu serius, oleh sebab itu alangkah lebih baiknya kalo ente juga menulis Biografi beliau disini…ditunggu loh…matur nuwun
Jangan gitu dong kang Asep, bikin malu orang saja……… Wafauqo kulli Dzii Ilmin Aliim….
Saya yakin Kang Rifa’i dan Kang Yazid sudah weruh “sa’wuse” winarah, melihat gelagat tampilan- tampilan postingan beliau….Yang penting jangan dipikirin Who & who’S nya…..the show must go on.
@ibn khasbullah, Kita mau buka Room tanya jawab di web ini dan kami mohon kesediaan pak Ibn Khasbullah untuk mengasuhnya…..konfirmasi ditunggu…
Mohon jangan dulu……….Slow but sure..tunggu saat yang tepat. Ingat “mufty internet?”
@ibn khasbullah,
Hehhehehehehe…….. memulai sesuatu yang baru memang tidak mudah, saya jadi ingat sebuah kisah ” Ada sekelompok orang sedang musyawarah mau membangun jalan, setelah diskusi berjalan alot,akhirnya disepakati iuran untuk proyek ini besarannya tidak ditentukan alias sesuai kemampuan.
Tibalah saatnya masing2 orang untuk mengisi buku yang sudah disiapkan untuk mencatat amal jariyah para hadirin, sang bendahara bertanya dg seseorang yg paling ujung, ” pak sampeyan mau ngasih berapa? silahkan tulis sendiri, ” saya ngikut yang lain saja” jawabnya.
” kalau bapak? sang bendahara meneruskan bertanya dg bapak disebelahnya, dan jawabannya sama.
begitu terus sampai habis semua orang ditanya.
Karena bingung sang bendahara bilang ” Ya sudah saya dulu ya, saya ngasih 50. ribu”.
tiba2 tanpa dikomando,” saya juga 50 ribuuuuuuuuuu”.
========================================
-Untuk memulai sesuatu itu kadang tidak mudah seperti kelihatannya.
tapi semua harus di pikir dan dipersiapan dg matang,mungkin tinggal menunggu moment saja?karena dari segi kesiapan semua sudah siap,kalau ada yang kurang,itu mungkin hanya belum terbiasa saja.
Kalau yang berwawasan luas dan berilmu “nyegoro” saja masih belum siap, wah saya apalagi, apa saya “libur” dulu ya ( saya jadi malu ). tapi di sini saya banyak belajar dan menemukan yang saya cari, semoga ke depan akan semakin banyak mutiara hikmah yang saya peroleh lewat tulisan ikhwan2 semua.
akhirnya : AYO LANJUTKAN MENULISNYA !!!
Menurut sahibul hikayat, gelar haji dan hajjah itu hanya ada dinegara- negara yang pernah dijajah. Di Arab sana tidak ada sebutan Haji Abu Bakar atau Hajjah Fatimah. Alasannya: gelar itu sengaja diberikan oleh para penjajah untuk memberikan label dan stempel, agar mereka para haji yang punya potensi “memberontak” itu dapat dengan mudah diawasi dan dikontrol kemanapun mereka bergerak..Wallohu a’lam.
Namun tidak berarti gelar itu perlu ditiadakan saat sekarang, karena betapapun ada nilai- nilai positipnya dengan pemakaian gelar itu yakni sebagai motivator bagi kelompok yang masih butuh motivasi. Ada yang berpendapat lain?