Meskipun Kiai Ahmad Rifa’I diasingkan dan meninggal di rantau, namun ajarannya tetap bertahan. Santri-santri angkatan pertama tumbuh menjadi ulama-ulama tangguh yang disegani di daerah Pekalongan, Kendal, Batang dan Wonosobo. Mereka terikat dalam kekeluargaan santri Tarjumah, sebuah nama yang diambil dari kitab-kitab karangan Kiai Ahmad Rifa’i. Kelompok ini juga dikenal sebagai santri Tarajumah, Ubudiyah, Rifaiyah bahkan ada juga yang menyebutnya sebagai kelompok Kalisalak.
Pada tahun 1965 kelompok santri Tarjumah (atau Tarajumah) mendirikan wadah yang bersifat badan hukum, yaitu Yayasan Rifa’iyah. Selain berasaskan Pancasila, Yayasan Rifa’iyah mengatur kehidupan para anggotanya dengan pedoman Islam Ahlussunah wal jamaah yang bersumber Qur’an, Al Hadits, ijma’ dan qiyas. Warga Tarajumah sebagai penerus dan pengemban ajaran Kiai Ahmad Rifa’I kini berjumlah ratusan ribu orang dan tersebar di Jawa Tengah, Jawa Barat, Cirebon, Karawang, Indramayu dan juga di DKI Jakarta.
Warga Tarajumah mengikatkan diri pada kepribadian yang dianut oleh mereka yang mengikuti faham ahlussunah wal jamaah, antara lain :
- Membiasakan menutup aurat bagi lelaki dan perempuan dewasa.
- Dalam acara pengajian atau pertemuan lainnya mereka memisahkan kelompok lelaki dan kelompok perempuan dengan pembatas kain satir.
- Mereka membiasakan sholat berjamaah baik di masjid, mushala atau dalam lingkungan rumah tangga.
- Warga Tarajumah sangat teliti dalam memilih Imam. Bagi mereka seorang Imam harus berasal dari kalangan ahlus shalih dan ahlul khairi. Orang yang sering melakukan maksiat tak boleh menjadi imam.
- Selesai menjalankan shalat fardlu, santri Tarjumah selalu membaca wirid tertentu yang diawali dengan bacaan Tarajumah bersama maknanya.
- Dalam majlis pembahasan ilmu agama, mereka menjadikan kitab-kitab Tarajumah sebagai acuan utama.
- Mereka memelihara tradisi ziarah kubur,
- dan sebagainya.
Di Pekalongan, pusat kegiatan warga Tarajumah berada dalam lingkungan Pondok Pesantren, INSAP, Paesan, Kedungwuni, sementara di Wonosobo warga Tarajumah terutama terpusat di Tempursari. Di Jakarta kegiatan warga Tarjumah terpusat di masjid Baiturrahman, Jalan Letjen Suprapto, Kelurahan Cempaka Putih Baru.
oleh: Agus Nahrowi
Mari Beramal Dengan Menyebarkan Artikel Ini :

hidup rifaiyah…..
semangat konstan buat memajukan rifaiyah
ya mudah-mudahan kamu juga ikut meramaikan KONSTAN dan moga tambah militan.
wa’alaikum…..
koyok arep perangan wae kang kang
mbok jangan hanya diwiridkan,, pelajari dan pahami isi kitab tarjamah itu, akhirnya diaplikasikan. ya ga… hafal itu perlu gak harus penting kita gamblang dengan apa yg ingin disampaikan Syaikhina,, ya ga…
itu baru aku salut dengan para KONSTAN atau malah nama komunitas rifaiyah lainnya seperti AMRI, UMROH dan kwan2…
nama kok repot,, tapi klo ga da namanya jg repot tor ampang.. bener ra sih..
Ck…ck…ck mbah akhmad rifa’i
bener2 pahlawan sejati