12:53 pm - Tuesday April 9, 2013

Saya Bangga Menjadi Rifaiyah

Saturday, 25 April 2009 2:05 | Analisis | 8 Comments | Read 703 Times

Tanbihun- Rasa kebanggaan yang dulu pernah menggelora didada santri tarajumah kalisalak terhadap ajaran gurunya Syaikh Ahmad Rifa’i, belakangan ini tampaknya sudah mulai memudar. Kebanggan terhadap kitab ireng “ sudah mulai kabur seiring dengan kebanggaan yang luar biasa dengan kemampuan untuk membaca dan menelaah kitab-kitab kuning. Padahal Syaikh Ahmad Rifa’i menulis kitab-kitabnya dengan bahasa Jawa yang menarik dan lugas adalah dalam rangka memudahkan orang -orang awwam dalam memahami teks-teks berbahasa arab yang dijadikan rujukan standart dalam fiqih Syafi’iyyah. Beliau merangkum, menukil dan menyimpulkan beberapa argumentasi ulama Syafiiyyah dalam syair yang indah dan memikat. Mestinya sebagai santrinya, warga Rifaiyyah harus merasa bangga dan berusaha untuk memasyarakatkan karya monumental beliau agar dapat diterima oleh khalayak ramai.

Santri tarajumah dewasa ini kurang memiliki sense of belong, Ngibadah mefeki rukun syarat yang menjadi trade mark Rifaiyyah selama berpuluh-puluh tahun seakan menjadi bias dengan munculnya generasi-generasi yang bertingkah layaknya mufti atau mungkin mujtahid. Karakter dan ciri khas Rifaiyyah yang terkenal dengan penolakan terhadap budaya tinggal wajib milahur sunnah sudah tidak terlihat lagi. Santri tarajumah saat ini cenderung menyukai yang bersifat trend dimasyarakat, roh Rifaiyyahnya seakan tercabut manakala mereka dengan tanpa sadar sudah terjebak dalam budaya adat, ikut-ikutan dengan orang banyak walaupun mereka semua dalam kebathilan. Lalu kemana gaung ” Ojo tiru kang wus kelaku anut ngadat, tekshir bebathalan kurang syarat tilar syariat” ?

Mengajak kembali santri tarajumah untuk menumbuh kembangkan ajaran Syaikh Ahmad Rifa’i tidak terlepas dari upaya mengembalikan kebanggaan terhadap ajaran beliau yang selama ini lepas dalam hati mereka.Menjadikan kitab-kitab tarajumah sebagai rujukan utama, akan sangat susah direalisasikan apabila tidak ada rasa kebanggaan sedikitpun terhadap kitab ireng tersebut. Padahal sebagai santri beliau, mestinya mereka mampu untuk menjawab persoalan-persoalan waqi’iyyah dengan kitab karya beliau, dengan jalan mengaktualisasikan pemahaman terhadap karya agung beliau dengan konteks kekinian serta dengan memahami dan membayangkan spirit dan motivasi beliau ketika menorehkan tintanya di atas korasan-korasannya. Hal ini yang jarang dapat dilakukan oleh santri tarajumah, sebab mereka sudah kehilangan rasa KEBANGGAAN DALAM HATI. Naif memang, apabila karya agung Syaikh Ahmad Rifa’i kurang mendapat pengakuan dari para santrinya sendiri. Mereka rata-rata hanya bangga terhadap sosok beliau, namun mereka tidak bangga terhadap karya beliau, menjadikan karya beliau sebagai nomor dua berarti secara implisit mengakui bahwa karya beliau tidak mendapat legitimasi dari pengikutnya.

MARI BANGKITKAN KEBANGGAN KITA TERHADAP KITAB TARAJUMAH. KALAU BUKAN KITA, SIAPA LAGI….????

Share on :

About

Manusia yang berusaha untuk menjadi manusia yang bermanfaat untuk manusia lainnya, lahir di Demak, nyantri di Pati, kuliah di Jakarta, rumah di Bekasi...........

 

EBOOK GRATIS UNTUK ANDA !

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda, Jangan Lupa Cek Email Anda Untuk Aktifasinya !

 
Tagged with:

Anda mungkin juga menyukaiclose