Tanbihun – Kita sedang diramaikan tentang aliran-aliran sesat. Kita sebagai jamaah rifaiyah juga sebenarnya sudah kebal menjadi ‘aliran sesat’. Dulu kita sebagai korban tuduhan sebagai orang, ‘yen mati dadi celeng.’ Bahkan kalau kita sempat membuka-buka kliping tentang Rifaiyah, kita akan baca tulisan tentang seratus ulama Jawa Tengah yang menyesatkan pemikiran rukun Islam satu.
Tentang kesesatan ini dulu Guru Kita pernah bercerita, tentang salah satu adiknya yang sekolah di lembaga pendidikan NU, suatu hari adiknya ditanya salah satu temannya, “Sampean Mbudiah ya?” “ya” jawabnya. Pertanyaan susulannya adalah, “kok gak masuk Islam saja.” Tentu si adik cantik itu termangu atas pertanyaan itu yang terntu tak dipahaminya. “Aku sudah Islam kok kenapa disuruh masuk Islam.” Mungkin didalam hatinya bergumam begitu. Waktu itu Rifaiyah belum diketahui pemikiran dan ijtihadnya, sehingga masih tak sedikit yang menganggapnya miring, bahkan sesat, bahkan ajaran di luar Islam, seperti kejadian di atas.
Gara-gara pemberitaan rame tentang Ahmadiyah yang dianggap sesat, murtad. Kemudian salah seorang pimpinan pusat Rifaiyah merasa resah karena tetangganya ada yang memeluk Ahmadiyah, maka Pimpinan Pusat Rifaiyah akan membicarakan tentang konsep siapa yang benar, dan siapa yang sesat melalui forum mudzakarahnya yang akan digelar di Pondok Pesantren Raudlotul Riayah Randudongkal Pemalang.
Saya memakai sesat itu dengan istilah yang dipakai Syaikhina Ahmad Rifai sebagai sasar, atau kesasar. Atau mengambil jalan yang tak benar. Maka kesesatan itu justru sering dilakukan oleh saya dan kita, bukan kamu dan mereka. Seandainya saya ketika memulai untuk menulis tentang aliran sesat berfikiran tertuju kepada Ahmadiyah, Wahabiyah, Jaringan Islam Liberal, atau Jaringan Kafir Liberal, tentu waktu itu juga saya sedang tersesat dalam berfikir. Karena saya sedang tertimpa pepatah semut di seberang laut tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak. Saya berfikiran untuk mencari celah kesalahan orang lain, sedangkan saya sendiri lupa mengaca betapa ucapan, niat, fikiran, tindakan, keputusan, interaksi, imajinasi, kehendak saya selama ini penuh kesesatan.
Pagi-pagi belum juga sarapan ada teman yang nyamperin berpesta lotek di tengah kebun. Hati kecilku menyapa, “jangan ikut makan ya…nanti perutnya mules lho?” tapi aku tak menghiraukan sapaan lirih itu. Aku bersenang-senang saja, dan aku menyangkal, “mungkin jadi gak mules, karena ikut menyenangkan teman yang mengajak.” Belum juga dua jam perut sudah terasa perih, lari cari toilet. Perut mules itu salah satu contoh akibat karena tersesat mengambil keputusan untuk ikut makan lotek, padahal kalau hanya hadir mencicipi, tak harus makan mungkin aku tak jadi sakit perutnya. Aku juga sesat berfikir, bahwa tidak apa-apa untuk menyenangkan orang lain dengan cara mengiyakan ajakan makan lotek. Padahal menghaidri saja juga ikut meramaikan kebersamaan bercanda dalam pesta lotek. Supaya tak tersesat seharusnya saya belajar dari pengalaman yang menghasilkan hipotesis, “biasanyanya kalau makan makanan pedas, kecut, atau asam pagi hari sebelum sarapan bisa mengakibatkan sakit perut.”
Suatu hari anak laki-laki yang sudah menyucup puluhan tahun ilmu agama di Pesantren hendak pergi ke mushola. Sudah menjadi jadwal otomatis tiap waktu ia standby untuk mengimami jalannya shalat jamaah. Ketika hendak melangkah ke mushola, karena adzan sudah bertalu, ada suara panggilan ibunya yang sedang sakit tergopoh hendak istinja, “Lee tulung timbake banyu nang pedasan…..” anak itu justru bersegera mempercepat langkah terasa tak sabar untuk sampai di mushola. Hati kecilnya sewot, “jamaah sudah menunggu.” Sungguh anak laki-laki itu bisa saya katakan sedang mengambil keputusan yang sesat, walau ia telah bertapa puluhan tahun di kawah pesantren. Kalau ia berfikir mendahukulan shalat jamaah, dan mengakhirkan permintaan mendesak orang tua, berarti ia juga berfikirnya sedang kalut dalam kesesatan. Banyak sekali celah kesesatan kita, tapi kenapa kita lebih suka untuk tajasus, mengorek-orek tinja orang.
Lagi-lagi mantan santri yang sekarang sudah bertitel Ustadz itu sedang melenyehkan dalailul khairat di tengah masjid, sedang di sekeliling masjid sedang ramai-ramainya kerja bakti untuk menyiapkan masjid sebelum dipakai shalat jumat. Sudah biasa sang Ustadz menghabiskan waktu untuk memutar tasbih, dan membaca buku saku itu, dan sekali saja tak mau bergabung dengan jamaah yang bergotong royong merawat masjid. Maka sekali lagi, walau dia seorang Ustadz, aku siap menyesatkan tindakan dan pemikirannya. Walaupun dia Rifaiyah, walaupun dia bukan Ahmadiyah dan Wahabiah, tapi waktu itu dia sedang tersesat, karena gerak hati empati sosialnya tak sedikitpun ada. Lainnya kerja bakti, dia malah memutar tasbih, itu namanya egois, acuh tak acuh.
Banyak orang menyesatkan keyakinan Ahmadiyah, tapi lupa tak menilai akhlak pengikutnya yang mulia menurut pandangan saya. Alhamdulillah waktu di Jogja aku juga di tempa oleh dedengkot-dedengkot Ahmadiyah. Walau kata orang mereka sesat, tetapi aku menilai bahwa akhlak mereka lebih mulia dibandingkan dengan orang-orang yang menyesatkannya. Sungguh kita sebenarnya tak bisa mengadili pemikiran, keyakinan. Semua koruptor di Indonesia yang jumlahnya jutaan, tentu berkeyakinan bahwa korupsi itu perbuatan yang jelek. Tetapi tetap saja mereka korupsi, walau peringatan alam sudah bertalu-talu menyambar. Korupsi jalan terus.
Akhir-akhir ini di kotaku sedang marak-maraknya untuk menyelenggarakan pilkada. Anehnya banyak kiai yang tersesat, baik bertindak, berfikir, niat dll. Sebab mereka tersenyum saat menerima amplop dari salah satu kandidat calon bupati. Bukankah amplop itu riswah, tapi senyummu mengartikan bahwa yang kau pegang itu roti bukan api. Sudah menjadi rahasia umum para kiai menganggap riswah sebagai hadiah. Walau dirimu kiai cap Rifaiyah, tapi aku berani menuding bahwa senyummu saat menerima amplop dari calon bupati itu adalah senyum kesesatan. Jadi kita semua berpotensi untuk sesat dan tersesat. Karena hidup didunia ini ibarat berjalan di malam hari yang penuh kegelapan maka sangat mungkin kita semua tersesat. Maka upaya dan doa kita adalah minta petunjuk terus menerus agar menapak di jalan yang lurus.
Paciran Lamongan, 19 April 2011
Ahmad Saifullah
animasi teriak (13),kartun orang teriak (11),kartun teriak (8),karikatur orang teriak (3),ALIRAN SESAT (1)






Tulisan yang cukup menyentil, mabruk………… mabruk… mabruk………
“Ya muqollibal qulub, tsabbit qolbi ‘ala dinik, wala tuzigh qolbi ba’da idhadaitani………..” mungkin itu salah satu doa yang kanjeng Rosulk ajarkan, yang dianjurkan untuk di baca setiap pagi dan petang sambil merenungkan langkah2 yang telah dan yang akan dikerjakan, agar tidak sasar.
BIARKAN ilmu yang menjadi hakim…
sesungguhnya kesombongan dan fanatismme telah menjerumuskan banyak sekali kaum.
janganlah kesombongan dan fanatisme menghalangi kita mengenali kebenaran
alhamdulillah… kalo mau mengamalkan ilmu ketuhanan salah satu ujianya adalah dituduh sesat minimal oleh 1000 org baru lulus dan teruji
cuma saran aja kang…biasane orang yang hati nya bersih dia ga akan tersungging dan tersinggung dijelekin orang lain alias cuekin aje…la kalo sampean dan rifa’iyyah ga ngerasa sesat kenapa repot? sampean kan ahline meneliti hadits,apa sampean lupa bgmn nabi yang tetep adem ngelayani orang laen tanpa kecuali..sing penting mah kang sampean yakin dg ajaran itu plus berani bertanggung jawab dunyan wa ukhron.