TANBIHUN ONLINE

AKHLAK BERTETANGGA

 Breaking News
  • May Day 2015 Buruh Wacanakan Pembentukan Partai Tanbihun.com- Pengusaha dan Buruh adalah dua sisi keping mata uang yang tak mungkin dipisahkan. Buruh butuh pengusaha dan pengusaha butuh buruh. Tapi dalam perjalanan waktu sering buruh tidak setara dan...
  • Mary Jane Ditunda Eksekusinya, Bagaimana Penundaan Hukuman Ini Menurut Islam? Tanbihun.com- “Eksekusi Mary Jane ditunda” ujar Kapuspenkum Kejagung Tony Spontana saat dihubungi, Rabu (29/4/2015). Keputusan ini diambil setelah Presiden Filipina menelpon Presiden Jokowi, bahwa perekrut Mary Jane telah menyerahkan diri...
  • Keistimewaan Senior Atas Yunior “Qod Yuujadu fil Mafdhuul Maa Laa Yuujadu Fil Faadhil” (Kadang ditemukan keistimewaan bagi yunior yang tidak ada bagi senior) Tanbihun.com- Kaidah ini yg digunakan menjawab ulama ketika ditanya: mengapa Isa...
  • Petunjuk Nabi saw Tentang Konflik Yaman (antara hijrah dan iqomah) Tanbihun.com- al iimaanu Yamaanun wal hikmatu Yamaniyyatun, Yaman adalah poros dan gambaran kuatnya iman dan hikmah.. Hingga Nabi saw pun menegaskannya Ditengah konflik perang “saudara seislam”, banyak ijtihad ulama dalam...
  • Kartini apa ‘Aisyah? Tanbihun.com- Jika Kartini dianggap mendobrak kejumudan berpikir wanita, Aisyah yg jauh-jauh hari melawan mainstream Jahiliah yang mendiskreditkan wanita. sampai beliau mengatakan: وقالت عائشة نعم النساء نساء الأنصار لم يمنعهن الحياء...
March 28
14:10 2010

ikhwan-111Akhlak adalah perangai seseorang baik menyangkut perbuatannya, maupun ucapannya. Islam mengajarkan dan menganjurkan agar semua manusia berakhlak baik. Bahkan demi tercapainya kebaikan dan kesempurnaan akhlak itu Allah SWT mengutus Nabi dengan tujuan utama untuk menyempurnakan akhlak.

Sebagaimana hadist Nabi:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَرِمَ الْأَخْلَاقِ

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.

Hanya Nabilah yang mempunyai akhlak yang paling agung diantara semua manusia yang pernah hidup di dunia ini. Al-Quran sendiri telah menjulukinya sebagai pemilik perangai yang agung.

وَاِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

Dan sesungguhnya kamu Muhammad benar-benar terdapat akhlak yang mulia.

Dalam beberapa hadist Nabi sering diutarakan bahwa akhlak merupakan ukuran keimananan seseorang. Tetapi dalam setiap sesi majlis taklim-majlis taklim yang sementara penulis temui sering disampaikan bahwa seakan yang berkaitan dengan iman hanyalah masalah keyakinan (theologi), tanpa pembahasan lebih lanjut tentang masalah konsekwensi orang yang beriman, atau aspek perilaku seorang mukmin (jawarih). Kalau pembahasan iman ditinjau dari konsekwensi perilaku, maka ukuran keimanan seorang terletak pada tingkat kehadirannya: apakah membawa keamanan bagi tetangganya, atau malah kehadirannya meresahkan bagi tetangganya. Itulah ukuran keimanan seseorang.

Nabi sering bersabda bahwa seseorang tidak beriman seandainya dia masih menyakiti tetangganya. Bahkan sampai beliau bersumpah atas nama Allah sampai tiga kali.

وَاللهِ لَايُؤْمِنُ, وَاللهِ لَايُؤْمِنُ, وَاللهِ لَايُؤْمِنُ . قِيْلَ: مَنْ يَا رَسُوْ لَ اللهِ؟ قَالَ أَلَّذِيْ لَايَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

“Demi Allah, demi Allah, demi Allah tidak beriman,” kemudian sahabat bertanya, “Siapa wahai Rasulullah?” beliau menjawab: “Yaitu orang yang menjadikan tetangganya merasa tidak aman karena perbuatan buruknya.”

Melihat hadis di atas sangat jelas bahwa kualitas iman seseorang sangat ditentukan oleh akhlaknya kepada manusia, dan makhluk lainnya, terutama akhlak kepada tetangganya. Dalam keterangan hadis disebutkan bahwa sifat iman itu bisa tambah dan bisa berkurang.

أَلْإِيْمَانُ يَزِيْدُ وَيَنْقُصُ

Iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang

Adapun bertambahnya iman itu ketika seseorang beribadah dengan ikhlas kepada Allah dan berakhlak baik kepada semua makhluk Allah tanpa kecuali. Alasan hadis di atas juga yang dijadikan sandaran beberapa orang untuk menafsirkan bahwa hadis-hadis yang matannya menerangkan tidak beriman seseorang (laa yu’minu ahadukum) itu sama artinya dengan tidak sempurna iman seseorang.

Konsekwensi dari penafsiran tidak sempurna iman seseorang tersebut membentuk wilayah toleransi juga wilayah abu-abu yang seringkali tidak tegas bagi diri seorang mukmin. Kalau seandainya hadis itu cukup diartikan berdasarkan bunyi lafadznya, maka akan timbul ketegasan dan semoga kehati-hatian bagi seorang hamba bahwa kalau dirinya dalam keadaan kenyang sedangkan tetangganya lapar, maka: TIDAK BERIMAN. Juga bisa menuduh dirinya sendiri tidak beriman, seandainya dia tidak mencintai saudara, tetangganya, laksana mencintai dirinya sendiri.

Dalam hadis dikatakan bahwa takaran kesempurnaan iman seseorang itu ditentukan oleh kualitas akhlaknya

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُوْقًا

Sempurna-sempurnanya iman orang-orang mukmin adalah mereka yang paling baik akhlaknya.

Maka menurut tauhid orang yang dianggap telah keluar imannya adalah orang yang ragu terhadap salah satu ajaran Islam (mamang atine ing salah sawijine agamane Nabi Muhammad), atau juga benci terhadap segala sesuatu yang telah dibawa oleh Rasulullah (sengit atine ing salah sawijine kang didatengaken dene Rasulullah). Adapun secara perilaku (jawarih) atau secara akhlak, seseorang telah lepas dan tidak beriman, atau berkurang imannya apabila ia berbuat jahat terhadap tetangganya.

Hadis yang serupa memerintahkan untuk berbuat baik kepada tentangganya dan harus menghindari untuk berbuat buruk dan menyakiti tetangganya sangat banyak, dan dalam setiap hadist pasti dikaitkan dengan keimanan seseorang. Diantara hadis tersebut adalah:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِااللهِ وَالْيَوْمِ الْأَخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ, مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِا اللهِ وَالْيَوْمِ الْأَخِرِفَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ , وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِااللهِ وَالْيَوْمِ الْأَخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَسْكُتْ

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan menyakiti tetangganya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakan tamunya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka berkatalah yang baik, atau diam.

Hadis lain yang serupa kandungannya dengan hadist di atas adalah:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِااللهِ وَالْيَوْمِ الْأَخِرِفَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ

Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berbuat baiklah kepada tetangganya.

Saking pentingnya tetangga dalam kedudukan dalam ajaran Islam, Nabi sampai menggambarkan seandainya seseorang berzina kepada satu perempuan tetangganya sungguh itu lebih besar dosanya dibandingkan dengan zina dengan sepuluh wanita yang bukan tetangganya. Juga seorang pencuri yang mencuri di satu rumah tetangganya, itu dianggap dosanya lebih besar dibandingkan dengan mencuri di sepuluh rumah yang bukan tetangganya. Sebagaimana sabda beliau:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم لِأَصْحَابِهِ: مَاتَقُوْلُوْنَ فِىْ الزِّنَا؟ قَالُوْا: حَرَامٌ حَرَّمَهُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ فَهُوَ حَرَامٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. قَالَ: فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم لِأَنَّ يَزْنِيْ الرَّجُلُ بِعَشْرِ نِسْوَةٍ أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَزْنِيَ بِإِمْرَأَةِ جَارِهِ. قَالَ مَاتَقُوْلُوْنَ فِى السَّرِقَةِ؟ قَالُوْا : حَرَّمَهَا اللهُ وَرَسُوْلُهُ فَهِىَ حَرَامٌ ,قَالَ لِأَنْ يَسْرِقَ الرَّجُلُ مِنْ عَشْرَةِ أَبْيَاتٍ أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَسْرِقَ مِنْ جَارِهِ

Rasulullah SAW bersabda kepada sahabat-sahabatnya: “apa yang kalian bicarakan tentang zina?” para sahabat menjawab: “Haram, sesuatu yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasulnya, maka sampai hari kiamat tetap haram.” Maka Nabi bersabda: “Sesungguhnya seorang laki-laki berzina kepada sepuluh orang perempuan itu lebih ringan (dosanya) dibandingan berzina dengan satu wanita tetangganya.”. kemudian Nabi bertanya kepada sahabatnya: “apa yang kalian bicarakan tentang mencuri?” sahabat menjawab: Allah dan Rasulnya telah mengharamkan perbuatan mencuri, maka haram. Nabi bersabda: “sesungguhnya seorang laki-laki yang mencuri di sepuluh rumah itu lebih ringan (dosanya) dibandingkan dengan mencuri di satu rumah tetangganya.”

Yang paling penting dari Iman adalah pembuktian secara perilaku (bijawarih). Karena manusia tidak dianjurkan untuk menilai hati seseorang yang bersifat abstrak, tetapi menilai dari sisi lahirnya saja. Kalau seandainya ucapan dan perbuatan diri kita masih menyakiti tetangga, maka kita tak boleh berharap banyak untuk masuk sorga, karena menyakiti tetangga sama halnya dengan menyakiti Allah dan Rasulullah, sebagaimana Hadist Nabi menerangkan:

مَنْ أَذَىْ جَارَهُ فَقَدْ اَذَانِىْ وَمَنْ اَذَانِىْ فَقَدْ اَذَى اللهَ, وَمَنْ حَارَبَ جَارَهُ فَقَدْ حَارَبَنِىْ, وَمَنْ حَارَبَنِىْ فَقَدْ حَارَبَ اللهِ عَزَّوَجَلَّ

Barangsiapa menyakiti tetangganya, maka ia juga menyakiti aku, barangsiapa menyakiti aku, maka ia juga menyakiti Allah. Barangsiapa menyerang tetangganya, maka sesungguhnya ia sama juga menyerang aku, dan barangsiapa menyerang aku, maka sesunggunya ia telah menyerang Allah Azza, Wajalla.

Sumber: Zakiyuddin, Al-Mundziri, Targib wa Tarhib min Hadist Syarif, Lebarnon: Darul Kutub Ilmiyah.

Oleh Ahmad Saifullah

Tags
Share

Artikel Terkait

1 Comment

  1. rahmat
    rahmat February 17, 06:51

    Mohon dilengkapi perawi haditsnya.

    Reply to this comment

Write a Comment

Latest Comments

maaf izin share, terima kasih :) ...

Terimakasih banyak. Ilmunya bermanfaat bgt buat saya. ...

assalamu alaikum, ya syaikhunal kiram, (1)bagaimana caranya untuk mendapatkan ijazah langsung dari masyayeh dg jarak...