"Hadits-hadits Qunut Shubuh"

Hosting Unlimited Indonesia


HADITS PERTAMA

Dari Muhammad bin Sirin, bahwa ia berkata, “aku berkata kepada anas bin malik r.a, “apakah rasulullah saw. qunut pada sholat shubuh? ‘ia menjawab, ‘ya, sesaat setelah rukuk.”  Shahih Muslim ( I:468no.298)

HADITS KEDUA

Dikatakan oleh Umar bin Ali Al Bahiliy, dikatakan oleh Khalid bin Yazid, dikatakan Abu Ja’far Ar-Razy, dari Ar-Rab i’ bin Anas berkata : Anas ra ditanya tentang Qunut Nabi saw bahwa apakah betul beliau saw berqunut sebulan, maka berkata Anas ra : beliau saw selalu terus berqunut hingga wafat, lalu mereka mengatakan maka Qunut Nabi saw pada shalat subuh selalu berkesinambungan hingga beliau saw wafat, dan mereka yg meriwayatkan bahwa Qunut Nabi saw hanya sebulan kemudian berhenti maka yg dimaksud adalah Qunut setiap shalat untuk mendoakan kehancuran atas musuh musuh, lalu (setelah sebulan) beliau saw berhenti, namun Qunut di shalat subuh terus berjalan hingga beliau saw wafat.

Berkata Imam Nawawi : mengenai Qunut subuh, Rasul saw tak meninggalkannya hingga beliau saw wafat, demikian riwayat shahih dari anas ra. (Syarah Nawawi ala shahih Muslim) dan hadits tersebut juga dishahihkan an-Nawawi dalam al-Majmu’-nya (III:504). Ia berkata, ‘Hadits tersebut shahih dan diriwayatkan oleh sejumlah penghapal hadits, dan mereka menshahihkannya. Diantaranya yang menshahihkannya adalah al-Hafizh Abu Abdillah Muhammad bin ‘Ali al-Balkhi, al-Hakim Abu ‘Abdillah dalam beberapa judul kitabnya, dan al-Baihaqi. Hadits itu diriwayatkan juga oleh ad-Daruquthni dari berbagai jalan periwayatan dengan sanad yang shahih”

Dan berkata Imam Ibnu Abdul Barr : sungguh telah shahih bahwa Rasul saw tidak berhenti Qunut subuh hingga wafat, diriwayatkan oleh Abdurrazaq dan Addaruquthniy dan di shahihkan oleh Imam Alhakim, dan telah kuat riwayat Abu Hurairah ra bahwa ia membaca Qunut shubuh disaat Nabi saw masih hidup dan setelah beliau saw wafat,

Dan dikatakan oleh Al Hafidh Al Iraqiy, bahwa yg berpendapat demikian adalah Khulafa yg empat (Abubakar, Umar, Utsman dan Ali radhiyallahu’anhum), dan Abu Musa ra, Ibn Abbas ra, dan Al Barra’, dan lalu diantara para Tabiin : Hasan Al-bashriy, Humaid, Rabi’ bin khaytsam, Sa’id ibn Musayyab, Thawus, dan banyak lagi, dan diantara para Imam yg berpegang pada ini adalah Imam Malik dan Imam Syafii,

Walaupun ada juga yg mengatakan bahwa Khulafa Urrasyidin tidak memperbuatnya, namun kita berpegang pada yg memperbuatnya, karena jika berbenturan hukum antara yg jelas dilakukan dengan yg tak dilakukan, maka hendaknya mendahulukan pendapat yg menguatkan melakukannya daripada pendapat yg menghapusnya. (Syarh Azzarqaniy alal Muwatta Imam Malik).

Sebagian ulama mengkritik hadits ini (Ibnu Hambal dan An-Nasa’I, Abu Zur’ah, Al-Fallas, Ibnu Hibban)  karena bagaimana bisa sanadnya menjadi shahih sedang rawi yang meriwayatkannya dari Ar-Rab i’ bin Anas adalah Abu Ja’far ‘Isa bin Mahan Ar-Razy.

Penjelasan :

Ibnu Hajar Al-Asqalaniy dalam Taqrib-Tahdzib Beliau berkata : “Shoduqun sayi’ul hifzh khususon ‘anil Mughiroh (Jujur tapi jelek hafalannya, terlebih lagi riwayatnya dari Mughirah).

Tetapi perlu diketahui disini bahwa Abu ja’far itu jelek hafalannya dalam meriwayatkan hadits dari mughirah saja, sebagaimana dikatakan oleh para imam ahli hadits yang menganggap bahwa Abu ja’far itu tsiqah(terpercaya). Mereka yang menganggapnya tsiqah, seperti yahya bin Mu’in dan ali bin al-Maldini(1). Hadits ini tidak diriwayatkan oleh Abu ja’far dari Mughirah. Tetapi ia meriwayatkannya dari ar-Rabi’ bin Anas, sehingga -disini- haditsnya shahih.

(1). Adalah Abu al-Hasan Ali Ibnu Abdullah Ibnu Ja’far al-Maldiniy al-Bashriy, dilahirkan tahun 161 H dan wafat 234 H.

Berkata Imam Ibnu Hajar AL Asqalaniy : Dan telah membantah sebagian dari mereka dan berkata : Telah sepakat bahwa Rasul saw membaca Qunut Subuh, lalu berikhtilaf mereka apakah berkesinambungan atau sementara, maka dipeganglah pendapat yg disepakati (Qunut subuh), sampai ada keterangan yg menguatkan ikhtilaf mereka yg menolak (Fathul Baari Bisyarah shahih Bukhari oleh Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy)

HADITS KETIGA

Ada orang yg berpendapat bahwa Nabi Muhammad saw melakukan qunut satu bulan saja berdasarkan hadits Anas ra, maksudnya:

“Bahwasanya Nabi saw melakukan qunut selama satu bulan sesudah rukuk sambil mendoakan kecelakaan  atas beberapa orang Arab kemudian Rasulullah meninggalkannya.” Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

->:

Hadith daripada Anas tersebut kita akui sebagi hadits yg sahih karena terdapat dlm kitab Bukhari dan Muslim. Akan tetapi yg menjadi permasalahan sekarang adalah kata:(thumma tarakahu= Kemudian Nabi meninggalkannya).

Apakah yg ditinggalkan oleh Nabi itu ?

Meninggalkan qunutkah ? Atau meninggalkan berdoa yg mengandung kecelakaan  atas orang-orang Arab?

Untuk menjawab permasalahan ini  kita perhatikan baik2 penjelasan Imam Nawawi dlm Al-Majmu’jil.3,hlm.505 maksudnya:

“Adapun jawapan terhadap hadits Anas dan Abi Hurairah r.a dlm ucapannya dengan (thumma tarakahu) maka maksudnya adalah meninggalkan doa kecelakaan ke atas orang2 kafir itu dan meninggalkan laknat terhadap mereka saja. Bukan meninggalkan seluruh qunut atau meninggalkan qunut pada selain subuh. Pentafsiran spt ini mesti dilakukan karena hadits Anas di dlm ucapannya ‘sentiasa Nabi qunut di dlm solat subuh sehingga beliau meninggal dunia’ adalah sahih lagi jelas maka wajiblah menggabungkan di antara kedua-duanya.”

Al-Hafizh al-Imam Baihaqi meriwayatkan dalam as-sunan al-Kubra (II:201) dari al-Hafizh ‘AbdurRahman bin Madiyyil, bahwasanya beliau berkata, maksudnya:

“Hanyalah yg ditinggalkan oleh Rasulullah itu adalah melaknat.”

Tambahan lagi pentafsiran spt ini dijelaskan oleh riwayat Abu Hurairah ra yg berbunyi, maksudnya:

“Kemudian Nabi menghentikan doa kecelakaan ke atas mereka.”

Dengan demikian dapatlah dibuat kesimpulan bahwa qunut Nabi yg satu bulan itu adalah qunut nazilah dan qunut inilah yg ditinggalkan, bukan qunut pada waktu solat subuh.

HADITS KEEMPAT

Al-‘Awwan bin hamzah berkata,” aku bertanya kepada Abu ‘Utsman an-Nahdi tentang qunut. Ia menjawab, ‘setelah rukuk.’ Aku berkata, ‘Dari siapa engkau mengetahui hal itu?’ Ia menjawab, ‘Dari Abu Bakar dan Utsman r.a. (HR. Ibnu Abi Syaibah(2)(II:212 Dar al-Fikr)dengan sanad yang shahih).

(2). Adalah Abu Al-Hasan Utsman ibnu Muhammad ibnu Abu Syaibah al-kuufiy.dilahirkan tahun 156 H dan wafat tahun 239 H. kitab beliau “Mushannaf Ibnu Abu Syaibah.

HADITS KELIMA

‘Abdullah bin Ma’qil r.a. meriwayatkan, “Dua orang sahabat Rasulullah saw. yang biasa qunut dalam shalat shubuh adalah ‘Ali r.a. dan Abu Musa r.a (HR.Ibnu Abi Syaibah(II:211 Dar al-Fikr).dengan sanad yang shahih).

HADITS KEENAM

Abu Utsman an-Nahdi(3)Meriwayatkan,” Umar bin al-Khattab r.a qunut dengan kami setelah rukuk dan mengangkat kedua tangannya sampai keliatan ketiaknya, dan suaranya pun terdengar dari belakang masjid.(HR.Ibnu Syaibah(II:215 Dar al-Fikr) dengan sanad yang Hasan.

(3). Abu Utsman an-Nahdi adalah seorang imam hadits yang tsiqah tsabit termasuk orang yang haditsnya diriwayatkan oleh imam yang enam.

Juga diriwayatkan dari Abu Utsman an-Nahdi r.a bahwa, “Umar r.a mengangkat kedua tangannya pada qunut shubuh.

HADITS KETUJUH

Abu Hurairah r.a juga meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. suka qunut setelah bangkit dari rukuk rakaat kedua shalat shubuh.(HR. Muhammad bin Nashr al-Marwazi dalam Mukhtashar Qiyam al-Lail (hal.137) dengan sanad yang shahih.

HADITS KEDELAPAN

Abu Raja’ al-‘Atharidi berkata, “Abdullah bin Abbas r.a qunut pada shalat shubuh dengan kami di Bashrah”.(HR.Ibnu Syaibah dalam al-Mushannaf(II:211) dan sanadnya shahih seperti terangnya matahari.

HADITS KESEMBILAN

Ibnu Abi Laila r.a(4) Berkata, “Qunut dalam shalat shubuh merupakan tradisi yang turun-temurun (sunnah madhiyah). (HR. Ibnu Abi Syaibah (II:211) dengan sanad yang shahih.

(4). Nama lengkap Ibnu Abi Laila adalah Imam ‘Abdurrahman bin Abi Laila al-Anshari al-Madani al-Kufi, seorang tsiqah dan faqih termasuk periwayat hadits dalam kitab yang enam. Ia dilahirkan pada masa khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq atau sebelumnya. Ia belajar membaca alquran kepada khalifah ‘Ali bin Abu thalib r.a dan bersahabat dengannya. Ia wafat pada peristiwa al-jamajim.

“HADITS DOA QUNUT SHUBUH”

HADITS PERTAMA

Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata: Adalah Rasulullah saw. Bila bangun dari ruku dalam  shalat shubuh pada rakaat yang kedua beliau mengangkat kedua tangannya dan membaca doa qunut “Allaahummahdinii fiiman hadaiit…………”

HR. Hakim dan berkata: “Hadits shahih dan ditambahkan dalam hadits tersebut lanjutan doa ” Falakal hamdu ‘alaa maa qadlait…..” HR. Baihaqiy dari ibnu Abbas (Subulus salam Juz I /188) Dan Imam al-Baihaqiy dan Thabaraniy menambahkan: ” Walaa yaizzu man ‘Adait “.(Subulus salam I /186).

HADITS KEDUA

Dari Muhammad Ibnu al-Hanafiyah Ibnu Ali Ibnu Abu Thalib ra. Ia berkata : Bahwa doa ini (Allaahummahdinii…..) adalah doa yang diajarkan ayahku kepadaku untuk dibaca pada shalat shubuh  yaitu pada qunut shalat shubuh”. HR. Baihaqiy (Sunan Baihaqiy juz II/210).

HADITS KETIGA

Dari Ibnu Abbas r.a Ia berkata : Bahwa Rasulullah saw. mengajarkan kepadanya doa ini (Allaahummahdinii….) yang dibaca dalam qunut shubuh”. HR. Baihaqiy (Sunan Baihaqiy Juz II /210).

HADITS KEEMPAT

Abu Rafi’ Nafi’ bin Rafi’ ash-Sha’igh Meriwayatkan: ” Aku shalat shubuh dibelakang ‘Umar bin al-Khattab r.a setelah rukuk, ia qunut. Aku mendengar ia membaca:

Allaahumma innaa nastaii’nuka wanastag’firuka wanusynii a’laika walaanakfuruka wanu’minubika wanakhlau’ wanatruka mayyafjuruka, Allaahumma iyyaakana’budu walaka nushollii wanasjudu wailaika nas a’ wanahfadu wanarjuu rohmataka wanakhofu a’dzaabaka inna a’dzaabaka bilkuffaa rimulhaqq ………………”

HR. ‘Abdurrazaq(5) dalam al-Mushannaf (III:210 no.4968) dengan sanad yang shahih mengikuti syarat Imam Muslim dan diriwayatkan pula oleh yang lain.

Imam ‘Abdurrazzaq r.a mengatakan, ” Ketika aku menjadi Imam, aku membaca doa qunut ini, kemudian membaca : “Allaahummahdinii fiiman hadaiit …….”

(5). Adalah Abu Bakar Abdur Razzaq Ibnu Hammam Ibnu Nafi’ al-Himyari Ash-Shan’aniy. Dilahirkan pada tahun 126 H. wafat Tahun 211 H. Kitab beliau dikenal dengan sebutan “Mushannaf Abdurrazzaq”.

Doa qunut serupa ini juga yang dipilih Imam Malik ibnu Anas(93-179H) berdasarkan riwayat dari Ubayy bin Ka’b (lihat An-nawawi, Al-Majmu’ III/436).

“Jawaban atas  hadits Sa’ad bin Thariq yg juga bernama Abu Malik Al-Asja’I”

“Dari Abu Malik Al-Asja’i, beliau berkata: Aku pernah bertanya kepada bapakku, wahai bapak ! sesungguhnya engkau pernah shalat di belakang Rasulullah saw, Abu Bakar, Usman dan Ali bin Abi Thalib di sini di kufah selama kurang lebih dari lima tahun. Adakah mereka melakukan qunut?.

Dijawab oleh bapaknya: “Wahai anakku, itu adalah bid’ah.” Diriwayatkan oleh Tirmidzy no.402

->:

Kalau benar Saad bin Thariq berkata begini maka sungguh mengherankan karena hadits2 tentang Nabi dan para Khulafa Rasyidin yg melakukan qunut sangat banyak dan ada di dlm kitab Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Abu Daud, Nasa’i dan Baihaqi.

Oleh itu ucapan Saad bin Thariq tersebut tidaklah diakui dan terpakai di dalam mazhab Syafie dan juga mazhab Maliki.

Hal ini disebabkan oleh karena beribu-ribu orang telah melihat Nabi melakukan qunut, begitu pula sahabat Rasulullah. Manakala hanya Thariq seorang saja yg mengatakan qunut itu sebagai amalan bid’ah.

Maka dlm kasus ini berlakulah kaedah usul fiqih yaitu:

“Almuthbitu muqaddimun a’la annafi”

Maksudnya: Orang yg menetapkan lebih didahulukan atas orang yg menafikan.

Tambahan lagi orang yg mengatakan ADA jauh lebih banyak daripada orang yang mengatakan TIDAK ADA.

Seperti inilah jawaban Imam Nawawi didalam Al-Majmu’ jilid.3,hlm.505, maksudnya:

“Dan jawapan kita terhadap hadits Saad bin Thariq adalah bahwa riwayat orang-orangyang menetapkan qunut terdapat pada mereka itu tambahan ilmu dan juga mereka lebih banyak. Oleh itu wajiblah mendahulukan mereka”

Pensyarah hadith Turmizi yakni Ibnul ‘Arabi juga memberikan komentar yg sama terhadap hadith Saad bin Thariq itu. Beliau mengatakan:”Telah sah dan tetap bahwa Nabi Muhammad saw melakukan qunut dalam shalat subuh, telah tetap pula bahwa Nabi ada qunut sebelum rukuk atau sesudah rukuk, telah tetap pula bahwa Nabi ada melakukan qunut nazilah dan para khalifah di Madinah pun melakukan qunut serta  Umar bin khattab r.a mengatakan bahwa qunut itu sunnah,telah pula diamalkan di Masjid Madinah. Oleh itu janganlah kamu dengar dan jgn pula ambil perhatian terhadap ucapan yg lain daripada itu.”

Dgn demikian dapatlah kita fahami ketegasan Imam Uqaili yg mengatakan bahwa Saad bin Thariq itu jangan diikuti haditsnya dlm masalah qunut.(Mizanul I’tidal jil.2,hlm.122)

Untuk mendalami masalah qunut shubuh dapat dibaca pada kitab:

Al-Badai I/273. A-Lubab 1/78. Fathu al-Qadir I/309. Ad-Durru al-Muhtar I/626-628. Al-Syarhu al-Shaghir I/331. Al-Syarhu al-Kabir I/248. Al-Qawanin al-Fiqhiyyah hal.61. Mughniy al-Muhtaj I/166. Al-Majmuk II/474-490. Al-Muhadzab I/81. Hasyiyah al-Bajuriy I/168. Al-Fiqh al-Islamiy wa-adillatuhu I/809-814.

Dan untuk lebih lengkapnya dan serinci-rincinya silahkan merujuk kepada karangan Hasan bin ‘ali As-saqqaf yang diberi judul “al-Qaul al-Mabtut fi Shihhati Hadits Shalah ash-Shubh bi al-Qunut”. Untuk mendapatkannya/membelinya silahkan anda menulis kealamat dibawah ini :

DAR AL-IMAM AN-NAWAWI HOUSE POSTBUS 925393 AMMAN YORDANIA

______________________________________________________

Oleh :

54 Comments on "Hadits-hadits Qunut Shubuh"

  1. Assalamu’alaikum

    Kalau Hadist di atas benar adanya, kenapa di Majidil Haram, Nabawi dan Masjid2 di Mekah Tidak pernah ada Qunut Subuh, padahal sebagai tempat Rosul Hidup mestinya lebih tahu asal muasal suatu Hadist.

    • @Sugiharto, masss…perilaku masyarakat Makkah dan Madinah bukan dalil, dalil itu cuman Al Qur’an, Hadits, Ijma’ dan Qiyas itu yg disepakati. Sebab jarak antara Nabi dg masyarakat sekarang sangat jauh…perlu ente ketahui bahwa sebelum WAHABI yg membid’ahkan qunut menjadi madzhab resmi di Saudi…Haramain itu dikuasai oleh para ulama2 yang bermadzhab Syafi’i, Hanbali dan Maliki..jadi dulu itu maulidan, qunut subuh dan perayaan hari besar lain sangat biasa bagi masyarakat sono…

    • Jangan sewot gitu dong mas, kita cuma mau bahwa kita harus saling menghormati, bahwa kita melakukan emang berdasarkan dalil, jangan asal membi’ahkan kalo kita belum tahu hukumnya.(tong kosong nyaring bunyinya)

    • Rohman Pecinta Rosulullah // 20 March 2014 at 2:52 pm // Reply

      Situ ikut madzhab nya sapa??
      Kalau anda di Indonesia pasti anda ikut madzhabnya Imam Syafi’i sedangkan di arab itu madzhabnya Imam Hambali .. kalau anda gk mau ikut madzhabnya Imam Syafi’i ??? Ya Pindah aja ke Mekkah !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  2. wah udah gak sehat ni diskusinya…

  3. klo di mazhab ja’fari…. dalam setiap sholat ada QUNUT-nya, yaitu pada rokaat kedua sebelum rukuk, dalam sholat wajib maupun sholat sunnah…. klo mau tahu knp2, baca aja fiqih Imam ja’far,edisi terbaru dalam bahasa Indonesia, ada 3 jilid besar….
    mo tahu hadisnya…. buanyak mas…… baca aja di usulul kafi – al kulaini (100 jilid)
    boleh kan klo juga tahu dari mazhab lain?

    • @maman,

      Mazdhab menurut ulama fiqih,adalah sebuah metodologi fiqih khusus yang di jalani oleh seorang ahli fiqih mujtahid.

      Mazdhab yang di gunakan secara luas saat ini antara lain: Mazdhab HANAFI,MALIKI,SYAFII,HAMBALI ke empat ini dari golongan sunni.

      Mazdhab:JAFARI,ISMAILIYAH,ZAIDIYAH,ketiga ini dari golongan Syiah.

      Mazdhab HANAFI.
      Didirikan oleh Imam Abu hanifah,mazdhab hanafi ini adalah yang paling dominan di dunia islam yakni sekitar 45% penganutnya banyak terdapat di Asia (Pakistan,India,Bangladesh,Srilangka,Mesir,dan Palestina).

      Mazdhab Maliki.
      Didirikan oleh Imam Malik di ikuti oleh sekitar 25% muslim di seluruh Dunia, Mazdhab ini dominan di negara Afrika.Mazdhab ini memiliki keunikan dengan mayodorkan tatacara penduduk Madinah sebagai sumber hukum,karena N.Muhammad SAW hijrah,hidup,dan meninggal di sana,dan kadang kedudukannya lebih tinggi dari sebuah hadist.

      Mazdhab SYAFII.
      Di nisbatkan kepada Imam Syafii,Mazdhab ini memiliki penganut sekitar 28% muslim di dunia,pengikutnya tersebar antara lain di Indonesia,Turki,Irak,Syiria,Iran,Mesir,Somalia,Yaman,Brunai dan Malysia.

      Mazdhab HAMBALI
      Didirikan oleh para murid Imam Ahmad bin Hambali, mazdhab ini di ikuti sekitar 5% muslim di Dunia dan dominan di daerah Arab dan mazdhab ini merupakan Mazdhab yang di anut di Arabsaudi.

      SYIAH

      Syiah atau yang lebih di kenalnya dari kalimat bersejarah Syiah Ali,pada awalnya perkembangannya banyak memiliki aliran namun hanya 3 aliran yang masih eksis sampai sekarang yakni:Itsna Asyariah(mashur dan banyak pengikutnya) Ismailiyyah dan Zaidiyyah.
      Di dalam keyakinan Syiah Ali bin abu Tholib dan anak cucunya dianggap lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan sebagai Khalifah dan Imam bagi kaum muslim.
      Diantara ketiga mazdhab Syiah terdapat perbedaan dalam siapa saja yang menjadi Imam dan pengganti para Imam tersebut.

      JAFARI
      Mazdhab Jafari atau Mazdhab Duabelas Imam(itsna asyariah) adalah mazdhab dengan penganut yang terbesar dalam Muslim Syiah

      ISMAILIYYAH
      Mazdhab ismaili atau tujuh Imam berpendapat bahwa Ismail bin jafar adalah Imam pengganti ayahnya yakni Jafar as-sidiq bukan saudaranya Musa Al-kadzim.

      ZAIDIYYAH
      Mazdhab Zaidi atau mazdhab lima Imam berpendapat bahwa Zaid bin Ali merupakan pengganti yang berhak atas keimaman dari ayahnya Ali Zainal Abidin.

      KHAWARIJ
      Mazdhab Khawarij mencakup sejumlah Aliran dalam Islam yang awalnya mengakui kekuasaan Ali Bin Abu Thalib, lalu menolaknya karena melakukan takhrif(Perdamaian)dengan Muawiyyah bin Abu sufyan yang mereka anggap Zholim, awalnya mazdhab ini berpusat di negara Irak selatan.Kaum Khawarij umumnya fanatik dan keras dalam membela Mazdhabnya,serta memiliki pemahaman Al-quran yang berbeda dari SUNNI dan SYIAH.

  4. kalo sepengetahuan saya qunut bid’ah karena terus-menerus dilakukan.

    • Muhammad Ridho // 20 March 2014 at 2:42 pm // Reply

      Maaf sebelumnya, rata rata semua itu pakai qunut.. situ yang gk pakai qunut itu DALIL nya apa????

  5. maksudnya qunut subuh akan menjadi bid’ah jika terus-menerus dilakukan.

    • kalau masalahnya cuma itu,coba orang2 wahaby suruh qunut setiap sholat subuh pada hari jum’at saja,apa mrk mau? sekarang ini perdebatan mslh qunut sudah memasuki hati,menurutnku maslh qunut sudah masalah GENGSI.mana mau wahaby melakukan qunut.
      heheheheheehehe……..

    • Rohman Pecinta Rosulullah // 20 March 2014 at 2:48 pm // Reply

      Sopo ngarani qunut iku bid’ah ,lek bid’ah ndi dalil.e…??
      seng ngarani bid’ah iku Bapak mu.a yo….???

  6. membaca : “Allaahummahdinii
    fiiman hadaiit …….”
    “Allaahummahdinii
    fiiman hadaiit …….”

    Apa nabi tega baca doa untuk diri sendiri (mufrod) diaminkan oleh sahabat?

  7. ibn khasbullah // 9 January 2010 at 8:20 am // Reply

    Nabi kalau solat (witir) sendirian memakai lafadh tunggal, kalau jadi imam pakai lafadh jama’. Sesuai hadist Baihaqi yang meriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Abbas juga tapi dengan lafah jama’.
    Lihat: Al- Mahally I/ 157 : “Wal imam bilafdhil jam’i li annal Baihaqiy rowaahu ‘an ibni Abbas aidhon bilafdhil jam’i…….”

  8. kalau saya sih masih awam, tapi sepengetahuan saya Qunut pada rakaat kedua setelah ruku itu bagus ko….
    kenapa soalnya jika Qunut pada rakaat kedua setelah ruku itu perbuatan yang batil maka pasti Allah SWT akan mengehapunya tapi kenyataanya ga Qunut pada rakaat kedua setelah ruku itu malah sekarang tembah pesat perkembangannya itulah ajaran islam..jika ajaran yang bukan haq pasti musnah…jika ajarannya yang benar pasti di jaga Oleh Allah SWT seperti Alquran yang sampai sekarang dan sampai kiamat di Jaga Oleh Allah SWT….

  9. Akhi muslim wa Uhkti muslimah

    Sebagai Informasi saja kalau anda ingin tahu tentang hukum doa Qunut klik saja http://ibn-jebreen.com kalau anda bisa memahami bahasa beliu (arab) Insya allah, anda akan menemukan di mana letak perbedaannya dan anda akan mendapat jawaban yang sangat tepat.

    SELAMAT BELAJAR DEMI SEMPURNANYA IBADAH ANDA

  10. Assalamu’alaikum,
    Saya sebagai orang yang awam merasa berterimakasih atas semua informasi bermanfaat yang telah disampaikan.
    Semoga ilmu yang bermanfaat menjadi berkah, dan semoga para cerdik pandai juga mengutamakan persatuan umat. Perbedaan pendapat itu juga kurnia supaya kita tetap terus belajar dan mencari ilmu.

  11. mohon ditelaah makalah dibawaah ini agar kita lebih jelas kedudukan habis seputar qunut

    SEMUA HADITS TENTANG QUNUT SHUBUH TERUS-MENERUS ADALAH LEMAH
    Oleh
    Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
    MUQADDIMAH
    Masalah qunut Shubuh terus-menerus adalah masalah yang sudah lama dan sudah sering dibicarakan orang, sejak dari zaman tabi’in sampai kini masalah ini masih saja ramai diperbincangkan oleh para ulama, ustadz, kyai dan orang-orang awam.Ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa qunut Shubuh itu sunnah, bahkan ada pula yang berpendapat bahwa qunut itu bagian dari shalat, apabila tidak diker-jakan, maka shalatnya tidak sempurna, bahkan mereka katakan harus sujud sahwi.
    Ada pula yang berpendapat bahwa qunut Shubuh itu tidak boleh dikerjakan, bahkan ada pula yang berpendapat bahwa qunut Shubuh itu bid’ah. Masalah-masalah ini selalu dimuat di kitab-kitab fiqih dari sejak dahulu sampai hari ini.
    Oleh karena itu, saya tertarik untuk membawakan hadits-hadits yang dijadikan dasar pegangan bagi mereka yang berpendapat qunut Shubuh itu sunnah atau bagian dari shalat, setelah saya bawakan pendapat para ulama-ulama yang melemahkannya dan keterangan dari para Shahabat ridhwanullahu ‘alaihim jami’an tentang masalah ini.
    Sebelumnya, saya terangkan terlebih dahulu beberapa kaidah yang telah disepakati oleh para ulama:1. Masalah ibadah, hak tasyri’ adalah hak Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.2. Pokok dasar dalam pelaksanaan syari’at Islam adalah al-Qur-an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sah, menurut pemahaman para Shahabat radhi-yallahu ‘anhum.3. Hadits-hadits dha’if tidak boleh dipakai untuk masalah ibadah atau untuk fadhaa-ilul a’maal, dan ini merupakan pendapat yang terkuat dari para ulama.4. Pendapat para ulama dan Imam Madzhab hanyalah sekedar penguat dari nash-nash yang sudah sah, dan bukannya menjadi pokok.5. Banyaknya manusia yang melakukan suatu amalan bukanlah sebagai ukuran kebenaran, maksudnya: Jangan menjadikan banyaknya orang sebagai standar kebenaran, karena ukuran kebenaran adalah al-Qur-an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sah.
    Di dalam al-Qur-an Allah berfirman:
    “Artinya : Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah ber-dusta (terhadap Allah).” [Al-An’aam: 116]“Artinya : Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”[Ar-Ruum: 30]
    HADITS-HADITS TENTANG QUNUT SHUBUH DAN PENJELASANNYA
    HADITS PERTAMA
    Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Senantiasa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berqunut pada shalat Shubuh sehingga beliau berpisah dari dunia (wafat).”Hadits ini telah diriwayatkan oleh: Imam Ahmad [al-Musnad (III/162)], ‘Abdurrazzaq [al-Mushannaf (III/110)], Ibnu Abi Syaibah [al-Mushannaf (II/312)], secara ringkas, ath-Thahawi [Syarah Ma’anil Atsar (I/244)], ad-Daruquthni [as-Sunan (II/39)], al-Hakim, dalam kitab al-Arba’iin, al-Baihaqi [Sunanul Kubra (II/201)], al-Baghawi [Syarhus Sunnah (III/124], Ibnul Jauzi[1].
    Semuanya telah meriwayatkan hadits ini dari jalan Abu Ja’far ar-Razi (yang telah menerima hadits ini) dari Rubaiyyi’ bin Anas, ia berkata: ‘Aku pernah duduk di sisi Anas bin Malik, lalu ada (seseorang) yang bertanya: ‘Apakah sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pernah qunut selama sebulan?’ Kemudian Anas bin Malik menjawab: ”…(Seperti lafazh hadits di atas).”
    Keterangan:
    Walaupun sebagian ulama ada yang meng-hasan-kan hadits di atas. Akan tetapi yang benar adalah bahwa hadits ini derajatnya dha’if (lemah), hadits ini telah dilemahkan oleh ulama para Ahli Hadits:
    Imam Ibnu Turkamani yang memberikan ta’liq (ko-mentar) atas Sunan Baihaqi membantah pernyataan al-Baihaqi yang mengatakan hadits itu shahih. Ia berkata: “Bagaimana mungkin sanadnya shahih? Sedang perawi yang meriwayatkan dari Rubaiyyi’, yaitu ABU JA’FAR ‘ISA BIN
    MAHAN AR-RAZI masih dalam pembicaraan (para Ahli Hadits):
    [1]. Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam an-Nasa-i ber-kata: ‘Ia bukan orang yang kuat riwayatnya.’
    [2]. Imam Abu Zur’ah berkata: ‘Ia banyak salah.’
    [3]. Imam al-Fallas berkata: ‘Ia buruk hafalannya.’
    [4]. Imam Ibnu Hibban menyatakan bahwa ia sering mem-bawakan hadits-hadits munkar dari orang-orang yang masyhur.” [Lihat Sunan al-Baihaqi (I/202) dan periksa Mizaanul I’tidal III/319.] [Tarikh Baghdad XI/146, Tahdzibut Tahdzib XII/57]
    [5]. Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata: “Abu Ja’far ini telah dilemahkan oleh Imam Ahmad dan imam-imam yang lain… Syaikh kami Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata kepadaku, ‘Sanad hadits ini (hadits qunut Shubuh) sama dengan sanad hadits (yang ada dalam Mustadrak al-Hakim (II/ 323-324): Tentang ma-salah Ruh yang diambil perjanjian dalam surat 7 ayat 172, (yakni firman Allah Subhanahu wa Ta’ala): “Artinya : Dan (ingatlah), ketika Rabb-mu mengeluarkan (keturunan anak-anak Adam) dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Rabb-mu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (ke-Esaan Allah).’”[Al-A’raaf: 172]. (Yakni) hadits Ubay bin Ka’ab yang panjang yang di-sebutkan di dalamnya: Dan ruh Isa ‘alaihis salam termasuk dari (kumpulan) ruh-ruh yang diambil kesaksiannya pada zaman Adam, maka (Dia) kirimkan ruh tersebut kepada Maryam ‘alaihas salam ketika ia pergi ke arah Timur, maka Allah kirimkan dengan rupa seorang laki-laki yang tampan, maka dia pun hamil dengan orang yang mengajarkan bi-cara, maka masuklah (ruh tersebut) ke dalam mulutnya. Jadi, yang dimaksud adalah Isa dan yang mengajak bicara ibunya adalah ‘Isa, bukan Malaikat, padahal menurut ayat yang mengajak bicara adalah Malaikat, dalam
    surat Mar-yam ayat 19, Allah berfirman: “Artinya : Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Rabb-mu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.” [Maryam: 19]. Yang mengajak bicara bukan ‘Isa, sebab hal ini mus-tahil dan hal ini merupakan kesalahan yang jelas. [Periksa: Zaadul Ma’aad (I/276), tahqiq: Syaikh Syu’aib al-Arnauth, cet. Mu-assasah ar-Risalah, th. 1412 H]. Syaikhul Islam Ibnul Qayyim berkata: “Maksud dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ialah: Bahwa Abu Ja’far ‘Isa bin Mahan ar-Razi adalah orang yang sering memba-wakan hadits-hadits munkar. Yang tidak ada seorang pun dari Ahli Hadits yang berhujjah dengannya ketika dia menyendiri (dalam periwayatannya).” Saya katakan: “Dan di antara hadits-hadits itu ialah hadits qunut Shubuh terus-menerus.”
    [6]. Al-Hafizh Ibnu Katsir ad-Damsyqiy asy-Syafi’i dalam kitab tafsirnya juga menyatakan bahwa riwayat Abu Ja’far ar-Razi itu mungkar.
    [7]. Al-Hafizh az-Zaila’i dalam kitabnya Nashbur Raayah (II/132) sesudah membawakan hadits Anas di atas, ia berkata: “Hadits ini telah dilemahkan oleh Ibnul Jauzi di dalam kitabnya at-Tahqiq dan al-‘
    Ilalul Muta-nahiyah, ia berkata: Hadits ini tidak sah, karena se-sungguhnya Abu Ja’far ar-Razi, namanya adalah Isa bin Mahan, dinyatakan oleh Ibnul Madini: ‘Ia sering keliru.’”
    [8]. Imam Muhammad Nashiruddin al-Albany rahimahullah, seorang Ahli Hadits zaman ini berkata: “Hadits Anas munkar.” [Silsilah Ahaadits adh-Dha’iifah no. 1238]
    Kemudian al-Hafizh al-Baihaqi telah membawakan beberapa syawahid (penguat) bagi hadits Anas, sebagai-mana yang dikatakan oleh al-Hafizh al-Baihaqi sendiri dalam kitab Sunanul Kubra dan Imam an-Nawawi dalam kitab Majmu’ Syarah Muhadzdzab. Dan riwayat-riwayatnya adalah sebagai berikut:
    HADITS KEDUA
    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah qunut, begitu juga Abu bakar, Umar, Utsman sampai meninggal dunia.Hadits ini telah diriwayatkan oleh: ad-Daruquthni [as-Sunan: II/166-167 no. XIV/1679 cet. Darul Ma’rifah], dan al-Baihaqi [Sunanul Kubra: II/201], kemudian ia berkata: “Kami tidak dapat berhujjah dengan Isma’il al-Makki dan ‘Amr bin Ubaid.”
    Keduanya telah meriwayatkan hadits yang kedua ini dari jalan Isma’il bin Muslim al-Makki dan Ibnu Ubaid (yang keduanya telah terima hadits ini ) dari al-Hasan al-Bashri (yang telah terima hadits ini) dari Anas (bin Malik).
    PENJELASAN PARA AHLIS HADITS TENTANG
    PARA PERAWI HADITS KEDUA DIATAS
    [1]. Isma’il bin Muslim al-Makki, ia adalah seorang yang lemah haditsnya, berikut ini keterangan para ulama jarh wat ta’dil tentangnya:
    a. Abu Zur’ah berkata: “Ia adalah seorang perawi yang lemah.”
    b. Imam Ahmad dan yang lainnya berkata: “Ia adalah seorang munkarul hadits.”
    c. Imam an-Nasa-i dan yang lainnya berkata: “Ia se-orang perawi yang matruk (seorang perawi yang ditinggalkan atau tidak dipakai, karena tertuduh dusta).”
    d. Imam Ibnul Madini berkata: “Tidak boleh ditulis haditsnya …”.
    [Periksa Mizanul I’tidal I/248 no. 945, Taqribut Tahdzib I/99 no. 485]
    [2]. Amr bin Ubaid bin Bab (Abu ‘Utsman al-Bashri), adalah seorang Mu’tazilah yang selalu mengajak manusia untuk berbuat bid’ah.
    1. Imam Ibnu Ma’in berkata, “Tidak boleh ditulis haditsnya.”
    2. Imam an-Nasa-i berkata: “Ia matrukul hadits.”
    [Periksa Miaznul I’tidal III/273 no. 6404, Taqribut Tahdzib I/740 no. 5087]
    [3]. Hasan bin Abil Hasan Yasar al-Bashri, namanya yang sudah masyhur adalah Hasan al-Bashri.
    1. Al-Hafizh adz-Dzahabi dan al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Ia adalah seorang Tabi’in dan seorang yang mempunyai keutamaan, akan tetapi ia banyak me-mursal-kan hadits dan sering melakukan tadlis. Dan dalam hadits di atas, ia memakai sighat ‘an.”
    [Periksa Mizaanul I’tidal (I/527), Tahdziibut Tahdzib (II/ 231), Taqriibut Tahdziib (I/202 no. 1231), cet. Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah]
    Dari keterangan di atas, dapat kita simpulkan bahwa hadits yang kedua di atas itu derajatnya dha’ifun jiddan (sangat lemah).
    Sehingga hadits tersebut tidak dapat dijadikan penguat (syahid) bagi hadits Anas yang pertama di atas. Dan seka-ligus tidak dapat juga untuk dijadikan sebagai hujjah.
    Seandainya saja sanad hadits itu sah sampai kepada Hasan al-Bashri, itupun belum bisa dipakai hadits terse-but, apalagi telah meriwayatkan darinya dua orang perawi yang matruk!?
    HADITS KETIGA
    “Artinya : Aku pernah shalat di belakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau qunut di belakang ‘Umar dan di belakang ‘Utsman, mereka semuanya qunut.”Hadits ini diriwayatkan oleh al-Hafizh al-Baihaqi. [Sunanul Kubra II/202]
    Imam Ibnu Turkamani berkata tentang hadits ini: “Kita harus lihat kepada seorang perawi Khulaid bin Da’laj, apakah ia bisa dipakai sebagai penguat hadits atau tidak?’
    Karena Imam Ahmad bin Hambal, Ibnu Ma’in dan Daraquthni melemahkannya. Pernah sekali Ibnu Ma’in berkata: ‘Ia tidak ada apa-apanya (ia tidak bisa dipakai hujjah).’
    Imam an-Nasa-i berkata: ‘Ia bukan orang yang bisa dipercaya. Dan di dalam Mizaanul I’tidal (I/663) disebut-kan bahwa Imam ad-Daraquthni memasukkannya dalam kelompok para perawi yang matruk.’”
    Ada sesuatu hal yang aneh dalam membawakan ini yaitu mengapa riwayat Khulaid dijadikan penguat pada-hal di situ tidak ada sebutan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam qunut terus-menerus pada shalat Shubuh. Dalam riwayat itu hanya disebut qunut. Kalau soal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam qunut banyak haditsnya yang shahih, akan tetapi yang jadi persoalan adalah “
    Ada tidak hadits yang shahih yang menerangkan beliau terus-me-nerus qunut Shubuh?” [Sunanul Kubra II/201-202]
    HADITS KEEMPAT
    Hadits lain yang dikatakan sebagai ‘syahid’ (penguat) ialah hadits:
    “Artinya : Senantiasa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam qunut pada shalat Shubuh hingga beliau wafat.”Hadits ini telah diriwayatkan oleh Imam al-Khathib al-Baghdadi dalam Kitaab al-Qunut.
    Al-Hafizh Abul Faraj Ibnul Jauzi telah mencela al-Khathib (al-Baghdadi), mengapa ia memasukkan hadits ini di dalam kitabnya al-Qunut padahal di dalamnya ada seorang perawi yang bernama Dinar bin ‘Abdillah.
    Ibnu Hibban berkata: “Dinar bin ‘Abdillah banyak meriwayatkan Atsar yang maudhu’ (palsu) dengan meng-atasnamakan Anas, maka sudah sewajarnya hadits yang ia riwayatkan tidak halal untuk disebutkan (dimuat) di dalam berbagai kitab, kecuali bila ingin menerangkan cacatnya.”
    Ibnu ‘Adiy berkata: “Ia (Dinar) dha’if dzahib (sangat lemah).”
    [Periksa: Mizaanul I’tidal (II/30-31).]
    Dari sini dapatlah kita ketahui bersama bahwa perka-taan Imam an-Nawawi bahwa hadits Anas mempunyai penguat dari beberapa jalan yang shahih (?) yang diriwa-yatkan oleh al-Hakim, al-Baihaqi dan ad-Daraquthni, ada-lah perkataan yang tidak benar dan sangat keliru sekali, karena semua jalan yang disebutkan oleh Imam an-Nawawi ada cacat dan celanya, sebagaimana yang sudah diterang-kan di atas. Kelemahan hadits-hadits di atas bukanlah kelemahan yang ringan yang dengannya, hadits Anas bisa terangkat menjadi hasan lighairihi, tidaklah demikian. Akan tetapi kelemahan hadits-hadits di atas adalah ke-lemahan yang sangat menyangkut masalah ‘adalatur rawi (keadilan seorang perawi).
    Jadi, kesimpulannya hadist-hadits di atas sangat lemah dan tidak boleh dipakai sebagai hujjah.
    Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany[2] berkata: “Hadits-hadits Anas terjadi kegoncangan dan perselisihan, maka yang seperti ini tidak boleh dijadikan hujjah. (Yakni hadits Abu Ja’far tidak boleh dijadikan hujjah -pen.). [Lihat Talkhisul Habir ma’asy Syarhil Muhadzdzab (III/418).]
    Bila dilihat dari segi matan-nya (isi hadits), maka matan hadits (kedua dan keempat) bertentangan dengan matan hadits-hadits Anas yang lain dan bertentangan pula dengan hadits-hadits shahih yang menerangkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam qunut pada waktu ada nazilah (musibah).
    HADITS KELIMA
    Riwayat dari Anas yang membantah adanya qunut Shubuh terus-menerus:
    “Artinya : Ashim bin Sulaiman berkata kepada Anas, “Sesungguh-nya orang-orang menyangka bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa qunut dalam shalat Shubuh.” Jawab Anas bin Malik: “Mereka dusta! Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam qunut satu bulan mendo’akan kecelakaan atas satu qabilah dari qabilah-qabilah bangsa ‘Arab.”
    [Hadits ini telah diriwayatkan oleh al-Khathib al-Bagh-dadi sebagaimana yang dikatakan oleh al-‘Allamah Ibnul Qayyim dalam kitab Zaadul Ma’aad (I/278)]Derajat Hadits.
    Derajat hadits ini tidak sampai kepada shahih, karena dalam sanadnya ada Qais bin Rabi’, ia dilemahkan oleh Ibnu Ma’in dan ulama lainnya mengatakan ia tsiqah. Qais ini lebih tsiqah dari Abu Ja’far semestinya orang lebih con-dong memakai riwayat Qais ketimbang riwayat Abu Ja’far, dan lagi pula riwayat Qais ada penguatnya dari hadits-hadits yang sah dari Anas sendiri dan dari para Shahabat yang lainnya.
    HADITS KEENAM
    Dari Anas bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah qunut melainkan apabila beliau mendo’a-kan kecelakaan bagi kaum (kafir).
    [Hadits ini telah diriwayatkan oleh Imam Ibnu Khuza-imah dalam kitab Shahih-nya no. 620]
    QUNUT SHUBUH TERUS MENERUS ADALAH BID’AH!!!
    Qunut Shubuh yang dilakukan oleh ummat Islam di Indonesia dan di tempat lain secara terus-menerus adalah ibadah yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para Shahabatnya dan tidak juga dilakukan oleh para tabi’in. Para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam -mudah-mudahan Allah meridhai mereka-, mereka adalah orang-orang yang selalu shalat berjama’ah bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka menceritakan apa yang mereka lihat dari tata cara shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lima waktu dan lainnya. Mereka jelas-jelas mengatakan bahwa qunut Shubuh terus-menerus tidak ada Sunnahnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan di antara mereka ada yang berkata : Qunut Shubuh adalah bid’ah, sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat-riwayat yang akan saya paparkan di bawah ini:HADITS KETUJUH
    Dari Abi Malik al-Asyja’i, ia berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya engkau pernah shalat di belakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di bela-kang Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan di belakang ‘Ali di daerah Qufah sini kira-kira selama lima tahun, apakah qunut Shubuh terus-menerus?” Ia jawab: “Wahai anakku qunut Shubuh itu bid’ah!!
    [Hadits shahih riwayat at-Tirmidzi (no. 402), Ahmad (III/472, VI/394), Ibnu Majah (no. 1241), an-Nasa-i (II/204), ath-Thahawi (I/146), ath-Thayalisi (no. 1328) dan Baihaqi (II/213), dan ini adalah lafazh hadits Imam Ibnu Majah, dan Imam at-Tirmidzi berkata: “Hadits hasan shahih.” Lihat pula kitab Shahih Sunan an-Nasa-i (I/233 no. 1035) dan Irwaa-ul Ghalil (II/182) keduanya karya Imam al-Albany.] [Bulughul Maram no. 289, karya Al-Hafidzh]
    Bid’ah yang dimaksud oleh Thariq bin Asyyam al-Asyja’i ini adalah bid’ah menurut syari’at, yaitu: Mengadakan suatu ibadah yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan maksud bertaqarrub kepada Allah. Dan semua bid’ah adalah sesat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
    “Artinya : Tiap-tiap bid’ah adalah sesat dan tiap-tiap kesesatan tempatnya di Neraka.”
    Hadits ini telah diriwayatkan oleh Imam an-Nasa-i dalam kitab Sunan-nya (III/188-189) dan al-Baihaqi dalam kitab al-Asma’ wash Shifat, lihat juga kitab Shahih Sunan an-Nasa-i (I/346), karya Imam al-Albany.
    HADITS KEDELAPAN
    Dari
    Abi Mijlaz, ia berkata: “Aku pernah shalat Shubuh bersama Ibnu ‘Umar, tetapi ia tidak qunut.” Lalu aku ber-tanya kepadanya: ‘Aku tidak lihat engkau qunut Shubuh?’ Ia jawab: ‘Aku tidak dapati seorang Shahabat pun yang melakukan hal itu.’”Atsar ini telah diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi di dalam kitab Sunanul Kubra (II/213) dengan sanad yang hasan, sebagaimana yang telah dikatakan oleh Syaikh Syuaib al-Arnauth dalam tahqiq beliau atas kitab Zaadul Ma’ad (I/272).
    Ibnu ‘Umar seorang Shahabat yang zuhud dan wara’ yang selalu menemani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau (Ibnu ‘Umar) mengatakan: “Tidak satu Shahabat yang melakukan qunut Shubuh terus-menerus. Para Shahabat yang sudah jelas mendapat pujian dari Allah tidak melakukan qunut Shubuh,…”
    Namun mengapa ummat Islam yang datang sesudah para Shahabat malah berani melakukan ibadah yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?
    Seorang Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bernama Thariq bin Asyyam bin Mas’ud al-Asyja’i ayahanda Abu Malik Sa’d al-Asyja’i dengan tegas dan tandas mengatakan: “Qunut Shubuh adalah bid’ah!”
    PENDAPAT
    PARA ULAMA TENTANG QUNUT SHUBUH TERUS MENERUS1. Imam Ibnul Mubarak berpendapat tidak ada qunut di shalat Shubuh.2. Imam Abu Hanifah berkata: “Qunut Shubuh (terus-menerus itu) dilarang.” [Lihat Subulus Salam (I/378).]3. Abul Hasan al-Kurajiy asy-Syafi’i (wafat th. 532 H), beliau tidak mengerjakan qunut Shubuh. Dan ketika ditanya: “Mengapa demikian?” Beliau menjawab: “Tidak ada satu pun hadits yang shah tentang masalah qunut Shubuh!!” [Lihat Silsilatul Ahaadits adh-Dha’iifah wal Maudhu’ah (II/388).]4. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata: “Tidak ada sama sekali petunjuk dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan qunut Shubuh terus-menerus. Jumhur ulama berkata: “Tidaklah qunut Shubuh ini dikerjakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan tidak ada satupun dalil yang sah yang menerangkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan demikian.” [Lihat Zaadul Ma’aad (I/271 & 283), tahqiq: Syu’aib al-Arnauth dan ‘Abdul Qadir al-Arnauth]5. Syaikh Sayyid Sabiq berkata: “Qunut Shubuh tidak disyari’atkan kecuali bila ada nazilah (musibah) itu pun dilakukan di
    lima waktu shalat, dan bukan hanya di waktu shalat Shubuh. Imam Abu Hanifah, Ahmad bin Hanbal, Ibnul Mubarak, Sufyan ats-Tsauri dan Ishaq, mereka semua tidak melakukan qunut Shubuh.” [Lihat Fiqhus Sunnah (I/167-168)]PENJELASAN TENTANG PENDAPAT MEREKA YANG MENYUNNAHKANNYASebagian orang ada yang mengatakan: “Madzhab kami berpendapat sunnah berqunut pada shalat Shubuh, baik ada nazilah ataupun tidak ada nazilah.”Apabila kita perhatikan, maka kita dapat mengetahui bahwa yang melatarbelakangi pendapat mereka adalah ‘anggapan’ mereka tentang ke-shahih-an hadits tentang qunut Shubuh secara terus-menerus.
    Akan tetapi setelah pemeriksaan, kita mengetahui bahwa semua hadits tersebut ternyata dha’if (lemah) semuanya.
    Kemungkinan besar, mereka belum mengetahui tentang kelemahan hadits-hadits tersebut. Karena ma-nusia tetaplah manusia, siapapun dia, dan sifat manusia itu bisa benar dan bisa juga salah. Dan Imam asy-Syafi’i sangat memahami hal ini, sehingga beliau berkata:
    “Apabila kamu mendapati dalam kitabku pendapat-pen-dapatku yang menyalahi Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka peganglah Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tinggalkanlah pendapatku. Dalam riwayat lain beliau berkata: Ikutilah Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan jangan kamu menoleh kepada pendapat siapapun.”
    Diriwayatkan oleh Imam al-Harawi, al-Khathib al-Baghdadi, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam an-Nawawi dalam kitab Majmu’ Syarah Muhadzdzab [Majmu’ Syarahil Muhadzdzab I/63]. Lihat kitab Shifat Shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karya Imam al-Albany..
    “Setiap masalah yang sudah sah haditsnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menurut para ulama-ulama hadits, akan tetapi pendapatku menyelisihi hadits yang shahih, maka aku akan rujuk dari pendapatku, dan aku akan ikut hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih baik ketika aku masih hidup, maupun setelah aku wafat.”[Diriwayatkan oleh al-Hafizh Abu Nu’aim al-Ashba-hani dan al-Harwi, lihat di kitab Sifat Shalatin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam karya Imam al-Albany]
    “Setiap pendapatku yang menyalahi hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Itulah yang wajib diikuti, dan janganlah kamu taqlid kepadaku.” [Diriwayatkan oleh: Imam Ibnu Abi Hatim, al-Hafizh Abu Nu’aim dan al-Hafizh Ibnu ‘Asakir. Lihat kitab Sifat Shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karya Imam al-Albani.]
    QUNUT NAZILAH
    Qunut Nazilah adalah do’a qunut ketika musibah atau kesulitan menimpa kaum Muslimin, seperti peperangan, terbunuhnya kaum Muslimin atau diserangnya kaum Muslimin oleh orang-orang kafir. Qunut Nazilah, yaitu mendo’akan kebaikan atau kemenangan bagi kaum Muk-minin dan mendo’akan kecelakaan atau kekalahan, ke-hancuran dan kebinasaan bagi orang-orang kafir, Musy-rikin dan selainnya yang memerangi kaum Muslimin. Qunut Nazilah ini hukumnya sunnat, dilakukan sesudah ruku’ di raka’at terakhir pada shalat wajib
    lima waktu, dan hal ini dilakukan oleh Imam atau Ulil Amri.Imam at-Tirmidzi berkata: “Ahmad (bin Hanbal) dan Ishaq bin Rahawaih telah berkata: “Tidak ada qunut dalam shalat Fajar (Shubuh) kecuali bila terjadi Nazilah (musibah) yang menimpa kaum Muslimin. Maka, apabila telah ter-jadi sesuatu, hendaklah Imam (yakni Imam kaum Mus-limin atau Ulil Amri) mendo’akan kemenangan bagi ten-tara-tentara kaum Muslimin.” [Tuhfatul Ahwadzi Syarah at-Tirmidzi II/434]
    Berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mela-kukan qunut satu bulan berturut-turut pada shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, ‘Isya dan Shubuh di akhir setiap shalat, yakni apabila beliau telah membaca “Sami’allaahu liman hamidah” dari raka’at terakhir, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendo’akan kecelakaan atas mereka, satu kabilah dari Bani Sulaim, Ri’il, Dzakwan dan Ushayyah sedangkan orang-orang yang di belakang beliau mengaminkannya.[3]

    Hadits-hadits tentang qunut Nazilah banyak sekali, dilakukan pada shalat
    lima waktu sesudah ruku’ di raka’at yang terakhir.
    Imam an-Nawawi memberikan bab di dalam Syarah Muslim dari Kitabul Masaajid, bab 54: Istihbaabul Qunut fii Jami’ish Shalawat idzaa Nazalat bil Muslimin Nazilah (bab Disunnahkan Qunut pada Semua Shalat (yang Lima Waktu) apabila ada musibah yang menimpa kaum Muslimin) [Zaadul Ma’aad I/272-273, Nailul Authar II/374-375 –muhaqqaq]
    HADITS-HADITS SHAHIH TENTANG QUNUT NAZILAH
    HADITS PERTAMA
    Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah qunut selama satu bulan secara terus-menerus pada shalat Zhuhur, ‘Ashar, Maghrib, Isya dan Shubuh di akhir setiap shalat, (yaitu) apabila ia mengucap Sami’Allahu liman hamidah di raka’at yang akhir, beliau mendo’akan kebinasaan atas kabilah Ri’lin, Dzakwan dan ‘Ushayyah yang ada pada perkampungan Bani Sulaim, dan orang-orang di belakang beliau mengucapkan amin.Hadits ini telah diriwayatkan oleh Abu Dawud [al-Musnad (I/301-302).], Ibnul Jarud [Dalam kitab Mustadrak-nya (I/225-226).], Ahmad [Sunanul Kubra (II/200 & II/212).], al-Hakim dan al-Baihaqi [al-Musnad III/115, 180, 217, 261 & III/191, 249]. Dan Imam al-Hakim menambahkan bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus para da’i agar mereka (kabilah-kabilah itu) masuk Islam, tapi malah mereka membunuh para da’i itu. ‘Ikrimah berkata: Inilah pertama kali qunut diadakan. [Lihat Irwaa-ul Ghalil II/163]
    HADITS KEDUA
    Dari Anas, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah qunut selama satu bulan setelah bangkit dari ruku’, yakni mendo’a kebinasaan untuk satu kabilah dari kabilah-kabilah Arab, kemudian beliau meninggal-kannya (tidak melakukannya lagi).”
    Diriwayatkan oleh Ahmad [Di dalam kitab Shahih-nya no. 4089], Bukhari [Dalam kitab Shahih-nya no.677 (304), tanpa lafazh “ba’dar ruku’.”], Muslim [Dalam kitab Sunan-nya II/203-204], an-Nasaa-I [Syarah Ma’anil Atsar (I/245).], ath-Thahawi[4].
    Dalam hadits Ibnu Abbas dan hadits Anas dan beberapa hadits yang lainnya menunjukkan bahwa pertama kali qunut dilakukan ialah ketika Bani Sulaim yang terdiri dari Kabilah Ri’lin, Hayyan, Dzakwan dan ‘Ushayyah meminta kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar mau mengajarkan mereka tentang Islam.
    Maka, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kepada mereka tujuh puluh orang qurra’ (para penghafal al-Qur’an), sesampainya mereka di sumur Ma’unah, mereka (para qurra’) itu dibunuh semuanya. Pada saat itu, tidak ada kesedihan yang lebih menyedihkan yang menimpa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selain kejadian itu. Maka kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam qunut selama satu bulan, yang kemudian beliau tinggalkan.
    Di antaranya adalah hadits Ibnu ‘Umar dan Abu Hu-rairah di bawah ini:
    Dari Ibnu Umar, “Sesungguhnya ia pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau mengangkat kepalanya dari ruku’ di raka’at yang terakhir ketika shalat Shubuh, ia membaca: “Allahummal ‘an fulanan wa fulanan wa fulanan (Ya Allah laknatlah si fulan dan si fulan dan si fulan) sesudah ia membaca Sami’allaahu liman hamidahu. Kemudian Allah menurunkan ayat (yang artinya): ‘Sama sekali soal (mereka) itu bukan menjadi urusanmu, apakah Allah akan menyiksa mereka atau akan mengampuni mereka. Maka sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang zhalim.’” [Ali ‘Imraan: 128] Hadits shahih riwayat Ahmad (II/147)
    Dari Abu Hurairah, “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila hendak mendo’akan kecelakaan atas seseorang atau mendo’akan kebaikan untuk seseorang, beliau mengerjakan qunut sesudah ruku’, dan kemungkinan apabila ia membaca: Sami’allahu liman hamidah, (lalu) beliau membaca, ‘Allahumma… dan seterusnya (yang artinya: Ya Allah, selamatkanlah Walid bin Walid dan Salamah bin Hisyam dan ‘Ayyasy bin Abi Rabi’ah dan orang-orang yang tertindas dari orang-orang Mukmin. Ya Allah, keraskanlah siksa-Mu atas (kaum) Mudhar, Ya Allah, jadikanlah atas mereka musim kemarau seperti musim kemarau (yang terjadi pada zaman) Yusuf.’”
    Abu Hurairah berkata, “Nabi keraskan bacaannya itu dan ia membaca dalam akhir shalatnya dalam shalat Shu-buh: Allahummal ‘an fulanan… dan seterusnya (Ya Allah, laknatlah si fulan dan si fulan) yaitu (dua orang) dari dua kabilah bangsa Arab, sehingga Allah menurunkan ayat: ‘Sama sekali urusan mereka itu bukan menjadi urusanmu… (dan seterusnya).’” Hadits shahih riwayat Ahmad ii/255 dan al-Bukhari No 4560
    Di dalam hadits shahih riwayat Imam al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya no. 1004 disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah qunut pada shalat Shubuh dan Maghrib.
    Lafazhnya adalah sebagai berikut:
    Dari Anas, ia berkata, “Qunut itu ada dalam shalat Maghrib dan Shubuh.”
    Dan dalam hadits yang shahih pula disebutkan bahwa Abu Hurairah pernah qunut pada shalat Zhuhur dan ‘Isya sesudah mengucapkan Sami’allahu liman hamidahu (setelah bangkit dari ruku’ (di saat sedang i’tidal).), ia berdo’a untuk kebaikan/kemenangan kaum Mukminin dan melaknat orang-orang kafir. Kemudian Abu Hurairah berkata: “Shalatku ini menyerupai shalatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
    Lafazh haditsnya secara lengkap adalah sebagai berikut:
    Dan dari
    Abu Hurairah, ia berkata, “Sungguh aku akan mendekatkan kamu dengan shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka, Abu Hurairah kemudian qunut dalam raka’at yang akhir dari shalat Zuhur, ‘Isya dan shalat Shubuh, sesudah ia membaca: ‘Sami’allahu liman hamidah.’ Lalu ia mendo’akan kebaikan untuk orang-orang Mukmin dan melaknat orang-orang kafir.” Hadits shahih riwayat Ahmad (II/255), al-Bukhari (no. 797) dan Muslim (no.676 (296), ad-Daraquthni (II/37 atau II/165) cet. Darul Ma’rifah.
    Memang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah qunut pada shalat Shubuh, begitu juga Abu Hurairah, akan tetapi ingat, bahwa hal itu bukan semata-mata dilakukan pada shalat Shubuh saja! Sebab apabila dibatasi pada shalat Shubuh saja, maka hal ini akan berten-tangan dengan riwayat yang sangat banyak sekali yang menyebutkan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut pada
    lima waktu shalat yang wajib. Menurut hadits yang keenam bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak qunut melainkan apabila beliau hendak mendo’akan kebaikan atau mendo’akan kebinasaan atas suatu kaum. Maka apabila beliau qunut itu menunjukkan ada musibah yang menimpa ummat Islam dan dilakukan selama satu bulan[5]
    [Disalin dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Pertama Ramadhan 1425H/Oktober 2004M]

    ________________________________________
    [1] Dalam kitab al-‘Ilalul Mutanahiyah (I/441) no.753, dengan lafazh se-bagai berikut: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam qunut pada shalat Shubuh sampai beliau wafat.”
    [2] Nama lengkap beliau adalah : Ahmad bin Ali bin Muhammad Al-Kannani Al-Asqalani Abul Fadhl, dan beliau terkenal sebagai ulama dari kalangan madzhab Imam As-Syafi’i, lihat biografi lengkapnya di kitab Al-Jawaahir wad Durar Fii Tarjamati Syaikhil Islam Ibni Hajar oleh Syaikh As-Syakhawi dan kitab-kitab yang lainnya
    [3] Abu Dawud no.1443, al-Hakim I/225 dan al-Baihaqi II/200 & 212, lihat Irwaa-ul ghaliil II/163
    [4] Dan hadits ini telah diriwayatkan pula oleh Abu Dawud ath-Thayalisi dalam Musnad-nya no.1989, Abu Dawud no.1445, sebagaimana juga telah disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitab Bulughul Maram no.287, lihat juga kitab Irwaa-ul Ghalil II/163
    [5] Sebelum ini telah disebutkan hadits-hadits yang menunjukkan adanya qunut pada shalat Shubuh, Zhuhur, ‘Ashar, dan ‘Isya, adapun yang menerangkan adanya qunut pada shalat Maghrib, adalah hadits Bara’ bin ‘Azib:
    Dari Baraa’ bin ‘Azib, “Sesungguhnya Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam pernah qunut dalam shalat Shubuh dan Maghrib.”
    Hadits shahih riwayat Ahmad IV/285, Muslim no.678 (306), Abu Dawud no.1441, at-Tirmidzi no.401, an-Nasaa-i II/202, ad-Dara-quthni II/36, al-Baihaqi II/198, ath-Thahawi II/242, Abu Dawud ath-Thayalisi dalam Musnad-nya no.737, lafazh ini milik Muslim

    • yo wislah…sama2 punya pedoman dasar dalil …. ya bagi wahaby cs monggo ga usah qunut,yang lainnya yg mau qunut tiap subuh atau tiap waktu sholat ya monggo.Sepertinya sudah terang benderang hujjah2nya.
      yang setuju qunut pasti mencari dalil y6g mendukungnya,begitu pun sebaliknya dengan yg kontra. kalau aku disukorejo masjid disini campur2 imamnya,ada yg asli NU,ada pendatang baru yg MD,jadinya kadang ada qunutnya,kadang nggak,kalau pas ada qunut,aku amin….amin..amin…. ga susah koq blg amin…. amin…. amin… kalau pas imamnya MD,ga ada qunut,saya santai aja,malah lebih cepat selesai sholatnya.
      bagaimana? masih mau copas2an dalil?

    • Salam kenal, untuk Mas Nurhasan.

    • salam kenal, mas nurhasan

  12. yg namanya khidupn, memang seringkali dwarnai dg perbdaan. Yg pnting jangan smpai prbdaan i2 yg mmbuat ukhuwah islamiyah trpcah blah. Smua py dalil sndiri2, y qt hrus sling mnghormti aja.. Kan Rasulullah brsbda ‘prbdaan umatku adl rahmat’. Kita jalani sj apa yg jd kyakinan kt msing2…. Allahlah yg lbih tahu sgala2 nya. Gitu aja koq rpot…

  13. andriana ortas // 1 August 2011 at 4:07 pm // Reply

    klau mnurut sy gak ada yg salah yg baca sm yg ngga,,,yang salah mah yg g mau sholat aja,kliiiiiiiii…..

  14. Jika sedikit perbedaan menjadikan perpecahan…, kapan umat islam bisa jaya? karena kejayaan hanya dapat diperoleh dengan persatuan…!!! marilah saudara-saudarku seiman dan seagama (agamanya islam; tuhannya Allah SWT; Nabinya Muhammad; kitabnya Al-quran) kita perkuat lagi UKUWAH kita…!!

  15. Subhanalloh……….

  16. itulah agama islam yang kaya akan perbedaan, tapi dengan perbedaaan itu kita bisa mengambil hikmahnya… dan inilah pentingnya orang yg berilmu, jadi jika ada perbedaan seperti ini kita bisa tau hakekat qunut itu…

  17. Syaikh Ibnu ‘Utsaimin ( Seorang tokoh Ulama’ Saudi saat ini) mengatakan:

    “Oleh karena itu, seandainya imam membaca qunut shubuh, maka makmum hendaklah mengikuti imam dalam qunut tersebut. Lalu makmum hendaknya mengamininya sebagaimana Imam Ahmad rahimahullah memiliki perkataan dalam masalah ini (Madzhab Imam Ahmad – beliau murid As- Syafi’i- tidak pakai qunut).. Hal ini dilakukan untuk menyatukan kaum muslimin.

    Adapun jika timbul permusuhan dan kebencian dalam perselisihan semacam ini padahal di sini masih ada ruang berijtihad bagi umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ini selayaknya tidaklah terjadi. Bahkan wajib bagi kaum muslimin –khususnya para penuntut ilmu syar’i- untuk berlapang dada dalam masalah yang masih boleh ada perselisihan antara satu dan lainnya. ” [3]

    Dalam penjelasan lainnya, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin mengatakan, “Yang lebih tepat makmum hendaknya mengaminkan do’a (qunut) imam. Makmum mengangkat tangan mengikuti imam karena ditakutkan akan terjadi perselisihan antara satu dan lainnya. Imam Ahmad memiliki pendapat bahwa apabila seseorang bermakmum di belakang imam yang membaca qunut shubuh, maka hendaklah dia mengikuti dan mengamini do’anya. Padahal Imam Ahmad berpendapat tidak disyari’atkannya qunut shubuh sebagaimana yang sudah diketahui dari pendapat beliau. Akan tetapi, Imam Ahmad rahimahullah memberikan keringanan dalam hal ini yaitu mengamini dan mengangkat tangan ketika imam melakukan qunut shubuh. Hal ini dilakukan karena khawatir terjadinya perselisihan yang dapat menyebabkan renggangnya hati (antar sesama muslim).”Lihat: Majmu’ Fatawa Wa Rosaa-il Ibnu Utsaimin 14/97-98- Asy- Syamilah.

    • syaifuddin // 8 July 2012 at 12:00 pm // Reply

      cara beribadah dalam islam itu pilihan, jadi masalah qunut itu tidak usah diperdebatkan karena nabi saw melakukan semuanya, baik yang pake’ qunut maupun tidak dan semuanya itu benar tidak ada yang salah dan semuanya ada dalilnya, mau pakai ataupun tidak itu tergantung selera kita, monggo….
      dan ingat kawan-kawan beribadahlah dengan menggunakan ilmu. orang yang banyak ilmu akan mudah dalam beribadah, tapi orang yang tidak punya ilmu mereka akan menyulitkan diri sendiri dalam beribadah, dikit-dikit ngomong BID’AH. dan ibadah itu bagaikan jalan menuju suatu tempat, pasti banyak jalan yang digunakan untuk menuju tempat itu….
      terima kasih, semoga membantu….

      >>>…<<<
      3124

      • ALFIN FITRIAWAN // 21 May 2014 at 9:23 pm // Reply

        MOHON PENJELASAN DR REKAN-REKAN”……SY BINGUNG …APAKAH KELAK PADA SAAT PERHITUNGAN AMALAN2 KITA….MALAIKAT MENANYAKAN KEPADA KITA….SEMASA BERAMAL KAMU IKUT IMAM SYAFII ATAU IMAM BUHARI…..

  18. subhanallah… tad hebat kali website antum,,, ajari ane dong buat rubrik da’wah

  19. bergunalah orang orang yang mau mempertahankan pendapatnya di bandingkan dengan orang orang yang hanya ikut yang mana yang banyak. tanpa ada keteguhan dalam hatinya untuk beribadah secara khusyuk. Ade Dj

    • Itu lah orang2 yg ga betul pegang agamanya yg slu merasa paling benar sendiri harusnya saling menghomati

      • Masalah Fiqih itu klau di bahas enggak ada habisnya..” Bagaikan Lautan Tak Bertepi..””
        Renungkan……..

        • akhi nurhasanah bagus sekali penyampaian antum… Tegas, Santun dan bijak.. saya acungin jempol yang antum katakan adalah Qur’an dan Sunnah .. sedangkan yang mengatakan yang nggak Qunut adalah WAHABI.. ane liat ngomongnya pake nafsu nggak pake dalil. astagfirulloh aladzim

        • Aku orang awam,dan aku kurang mengerti kg hal tersebut ‘aq pernah dengar perbedaan adalah hikmah jd’petbedaan jgn membuat kt pecah

  20. byk skali orang2 yg g baca kunut,itu mazhabnya apa?

  21. Setelah saya baca semua, terimakasih banyak karena itu bermanfaat, dan saya berkesimpulan bahwa bagi yang tidak qunut, atau yang qunut sekali-kali atau yg sebulan atau yang seterusnya sampai wafat itu tidak masalah karena semua yg pernah dipraktekan nabi pasti baik, masalah sekali-kali atau seterusnya itu masalah teknis dan tidak terlalu prinsip. Yg penting tujuan kenapa kita sholat tercapai. Amin

  22. ini baru qunut? yang jelas saya orang awam. pertanyaan saya kepada sdr baiknya qunut atau tidak! itu saja terima kasih

  23. ibnu sina azly // 8 May 2013 at 7:16 am // Reply

    ya untuk para pencari kebenaran, ya cobalah niatkan qunut dengan jelas, krn qunut muncul krn landasan adanya musibah terhadap orang2 muslim, kalau kita asal qunut saja tapi tidak jelas niatnya, maka ada kejanggalan, setiap doa pasti ada niatnya untuk apa dan sebagainya. kalau saya, kalau ada imam yang qunut maka saya niatkan untuk mendoakan muslim palestin yang sedang terkena musibah. atau umat muslim yang lain yang sedang terkena musibah, contohnya bisa seperti umat muslim yang di burma yang ditindas habis-habisan. semoga bermanfaat.

  24. Oding Permana // 10 July 2013 at 11:28 am // Reply

    Perkara qunut. Katanya, (banyak yang mengungkapkan) yang tidak qunut berarti Wahabi. Apakah Muhammadiyah itu wahabi. Sebab, shalat subuh tidak qunut. Atau apa itu wahabi. Koq, ribut begitu. Menurut saya, ISLAM itu hanya ada ISLAM. Sebab, kektika kita di hisab nanti (di kubur atau di makhsyar) yang ditanya soal Agama, bukan? Bukan Wahabi, bukan Sunni, bukan hambali atai Syafi’i. ISLAM — ISLAM — ISLAM.

  25. Asslwrwb. Kok ulasan diatas tidak seperti pada bahasan tafsir Qur’an Surat Ali Imrom Ayat 127~128. disitu diterangkan bahwa Rosululloh mendapat wahyu ayat tersebut dikarenakan Qunut tersebut, secara langsung maupun tidak langsung di ingatkan mengenai doa dan pelaksanaan qunut tersebut. hadist2 palsukan juga banyak, apalagi diatas diterangkanada doa qunut yang dibaca sekarang “Allahumma hadzait …dst. itukan tidak dikakukan Rosululoh jadi kita kembalikan ke Qur’an Dan sunnah saja jangan manut karena kyainya, ustadznya. jadi Rosululloh berhenti Qunut setelah turunnya ayat Ali Imron ayat 128 tersebut begitu ana pikir. terimakasih. tapi yang jelas orang yang paham qunut dimasyarakat kurang bisa memahami yang tidak melaksanakan qunut. yang tidak qunut bisa mengerti dan menunggu dulu disaat imamnya berqunut kalaupun mengikuti Kesalahan Iman tidak tertanggungkan oleh ma’mum. tapi sebaliknya yang biasa qunut jadi makmum ke yang tidak qunut maka mereka merasa salah/kurang Sholatnya. Dan di bulan puasa 2013 di daerah bekasi kabarnya terjadi KUDETA Imam di saat Sholat gara gara tidak pakai Qunut. HuAllahu’Alam…..

  26. belajar Islam // 8 September 2013 at 9:16 am // Reply

    SubhanAllah ilmiah banget, sy suka.
    Alhamdulillah baca dri awal sampe akhir juga semua komentar2nya sya rasa dpt pencerahan.
    Komentar Nurhasan recommended.
    Knpa?
    Saya membandingkan.
    mnurut saya diartikel webnya ad kalimat rancu “harus mendahulukan yg menetapkan daripada yg menafikan”. Pdahal yg dmaksud mayoritas yg mnetapkan dsitu, masih ada perselisihan. Kalimat Itu berkesan kecenderungan/vonis pribadi. Dan Padahal yg kita semua tahu, hukum asalnya ibadah itu tdak ada, sampe ada perintah yg jelas. Juga karena di artikel itu ada paragraf “Kalau benar Saad bin Thariq berkata begini (wahai anakku itu adalah bid’ah) maka sungguh mengherankan..” hanya ada “keheranan” padahal riwayatnya Shahih. Tdk ada jawaban ilmiahnya dari ustadz penulis artikel utk riwayat shahih ini. Akhirny kesimpulan saya, didalam artikel ini sendiri masih ada pertentangan antara hadits yg dsampaikan dari awal hingga akhir pemaparan. Hadits2 yg dsampaikan diawal artikel, terbantahkan sendiri dgn riwayat shahih saad bin Thariq (krna tdk ada penjelasannya/sanggahannya).
    Sdangkan komentar Nurhasan, antara hadits2 nya saling menguatkan dari awal hingga akhir.
    Wallahu a’lam.
    Koreksi saya bila salah.

    • kalau menurut saya do’a qunut itu memang sunah rosul membaca do’a qunut ini terjadi ketika terbunuhnya 70 orang hufadz/penghafal qur’an ,qunut disini berarti mendo’akan untuk para syuhada yang mati syahid . dan adapun ikhtilaful ulama itu berbeda – beda sesuai dengan pendapatnya masing-masing.

    • assalamualaikum
      saya sebagai orang awam sungguh sangat prihatin terhadap orang2 yang masih saja membahas khilafiah, seperti halny qunut…mereka yang tidak punya kapasitas dalam keilmuan mengeluarkan fatwa yang membingungkan umat..orang awam jadi bertambah bingung, bahkan sampai sampai berani mengatakan orang yang berbeda dengannya adalah ahli bid’ah yang secara tidak langsung adalah ahli neraka. saudaraku mari kita ikuti ulama-ulama yang sudah mashur dan sudah teruji keilmuannya yang mempunyai sanad bersambung sampai kepada rasulullah Saw sebagaimana Imam hanafi, imam maliki, imam hambali dan imam syafii. beliau-beliau adalah ulama’ yang mashur yang terkenal alim dan wara’ .orang yang sekelas imam nawawi saja yang hafal ratusan ribu hadis, masih ikut imam syafii bagaimana dengan kita yang mungkin baru hafal satu atau dua hadis?

  27. kunut sunnah hukumnya.

  28. Ali Yasir // 3 March 2014 at 9:49 am // Reply

    kenapa kalau ada penilaian bid’ah suatu amalan mesti dicap wahabi, ada apa dengan wahabi? kalau wahabi apakah mesti salah/sesat!

  29. hmm pd ribut,dari zaman nabi toh fikih emng sudah jdi masalah, coba baca lgi sobat wajib sholat dan syarat2 sholat, disitu tidak aj mewajibkan qunut, jd knpa jd masalah, sholat subuh tetap sah walau tidak pake qunut,
    awas nnti jadi bid’ah lo lw pake qunut subuh terus menerus,,,,,

  30. Assalamu’alaikum Wr. Wb. Masalah Qunut tidak usah di perbesar masalahnya, mohon maaf biasanya saudara kita yang sering membid’ahkan ibadah saudara kita yang lain, itu yang perlu dipertanyakan keilmuaanya. Imam Syafii menggunakan Qunut imam yang lain gak pernah marah…. Imam Malik tidak menggunakan Qunut imam yang lain tidak ada yang marah. Yang bikin umat islam berselisih faham ( membid’ahkan) itu adalah Provokasi dari ajaran Belanda di jaman Penjajahan dulu. Strategi Belanda untuk mengadu domba sesama umat islam adalah menyebarkan fitnah antara umat islam yang memakai Qunut dan umat islam yg tidak memakai Qunut… Jangan sampai gara2 tidak Qunut bermusuhan dengan yg menggunakan Qunut.. Mari kita bersatu membangun umat islam agar Umat Islam lebih maju dari umat2 yang lain… InsyaAllah…

  31. Subhaanallaah, ga usah pada ribut mas.
    ibadah itu berdasarkan ilmu, kalo jelas ilmunya ya laksanakan, kalo ga jelas ya tinggalkan. kalo ragu-ragu ya tinggalkan. kalo masih jadi perdebatan rawi-rawinya ya tinggalkan, kalo mutlak rawi-rawinya tsiqat ya laksanakan. ambil pendapat yang paling kuat yang merujuk kepada Al-Quran dan Sunnah.
    Ada kaidah mengatakan “Manakala para ulama ragu-ragu menetapkan antara sunnah dengan bid’ah, maka lebih baik ditinggalkan”
    Juga kaidah “Meninggalkan yang diragukan kesunahannya itu lebih baik daripada mengamalkan yang dikhawatirkan terjatuh kepada bid’ah”.
    Allaahu A’lam

  32. Hari gini masih ngributin qunut, malu dong…..pikirin nich gimana caranya ngajak temen2 dan saudara kita yg mengaku ber KTP Islam, masih belum mau sholat, dan gimana caranya agar sholat subuh masjid2 penuh dgn jamaah seperti ketika sholat Jum’at, gitu lho bro……..

  33. Yth: Jokoplak: Setuju………

1 Trackbacks & Pingbacks

  1. Polemik Qunut Subuh | tanbihun.com

Leave a comment

Your email address will not be published.

*