Belajar Ilmu Falak Bagian-4

15.   Menentukan Waktu Dhuhur

Mulainya waktu Dhuhur adalah setelah matahari bergeser ke Timur dari titik kulminasinya (Zawal), di daerah Khottul Istiwa’ pada saat 21 Maret dan 22 September pada jam 12.00 bayangan akan hilang karena matahari berada tepat 900 diatas benda. Saat ada bayangan muncul di sebelah timur itulah saatnya waktu Dhuhur. Pada waktu dan tempat yang lain jam 12.00 siang bayangan tidak hilang sama sekali, tetapi berada di sebelah selatan atau utara benda tersebut. Hal ini terjadi karena posisi matahari yang bergeser sesuai Buruj-nya. Untuk itu dalam membuat suatu alat penunjuk waktu diperlukan suatu garis ke arah Utara Selatan Tepat, yang tegak lurus dengan benda/tiang pancang tersebut.

Cara Pembuatan :

  1. Pilih tiang pancang, misalnya tebal 10 mm.
  2. Pilih suatu bidang datar di tempat yang lapang.
  3. Tentukan arah Barat Timur Tepat seperti keterangan nomor 12.
  4. Buatlah dua buah berjarak 10 mm (sesuai tebal tiang pancang), tegak lurus siku-siku dengan garis barat timur tepat. Itulah garis Utara Selatan Tepat.
  5. Tancapkan tiang pancang tepat di titik silang garis Utara Selatan – Barat Timur. Buatlah benar-benar tegak lurus. Ukurlah dengan penggaris siku-siku.
  6. Waktu Dhuhur adalah bila bayangan telah keluar dari garis utara selatan tersebut diarah timurnya.

Catatan :

Garis-garis dan tiang pancang bisa kita buat dulu diatas sebuah papan/tegel. Kemudian baru dipasang di tempat yang telah ditentukan setelah diukur arahnya. Pemasangan diukur dengan Water Level agar-benar-benar datar dan tiangnya benar-benar tegak.

-          Pembuatan Garis Utara Selatan – Barat Timur bisa juga memakai kompas, tetapi hasilnya kurang akurat karena :

a.   Arah jarum utara tidak menunjuk tepat ke kutub utara, tetapi ke arah Basin Island (dekat Kanada).

b.  Arah jarum kompas berubah-ubah karena perubahan medan magnet yang terjadi karena adanya Sun Spot, suatu efek yang timbul saat terjadi fusi nuklir di matahari.

 

16. Rembang Pagi dan Rembang Petang

Pada saat dini hari dimana matahari masih 17-19 derajat dibawah ufuk, langit sudah berpendar terang. Hal ini di sebabkan sinar matahari dipantulkan dan menyinari udara. Kejadian ini disebut Rembang Pagi atau Fajar. Waktu Shubuh dimulai saat Rembang Pagi sampai terbitnya matahari dari ufuk.

Sore hari matahari terbenam di ufuk barat. Sampai matahari terbenam sejauh 17-19 derajat di ufuk barat, langit masih nampak terang dengan warna kemerah-merahan. Kejadian ini disebut Rembang Petang atau Syafaq Ahmar sebagai pertanda mulainya Sholat Maghrib sampai warna cahaya merah hilang dari langit.

Lama Rembang tidak sama disemua tempat, tergantung dari posisi matahari pada waktu itu. Tempat dimana posisi matahari terbit atau terbenam dengan tegak lurus, lama Rembang adalah 17 derajat, atau sama dengan 17 x 4 menit = 68 menit. (1 derajat = 4 menit. —3600 = 360 x 4 : 60 = 24 jam). Seperti misalnya terbenam matahari di kota Pontianak pada tanggal 21 Maret.

Di tempat yang lurus atau naiknya matahari miring, lama Rembang akan lebih dari 68 menit.

 

17. Udara

Tadi sudah dijelaskan bahwa walaupun matahari masih di bawah ufuk, langit sudah nampak terang. Hal itu disebabkan adanya udara yang melingkupi Bumi kita sehingga cahaya dipantulkan oleh udara ke mata kita sehingga nampak terang. Bila tak ada udara, langit langsung terang saat terbit matahari.

Oleh karena adanya udara pada siang hari, kita tidak bisa melihat bintang-gemintang di langit, karena mata kita silau melihat udara memantulkan cahaya matahari. Bila tidak ada udara, langit akan nampak hitam kelam walaupun di siang hari.

18.   Ketebalan Udara

Tebal lapisan udara di atas kita tidak sama. Makin ke atas lapisan udara makin tipis. Makin ke bawah makin tebal. Oleh karena itulah saat pagi atau sore hari kita dapat memandang langsung ke arah matahari tanpa merasa terlalu silau, karena cahaya matahari harus menembus lapisan udara yang lebih tebal dan panjang pada waktu tersebut dibanding saat tengah hari.

19. Pembelokan Cahaya / Refractie (-  دقائق الأختلاف – )

Pembelokan/pembiasan cahaya terjadi bila cahaya melewati beberapa benda tembus cahaya yang mempunyai kepadatan berbeda. Karena ketebalan udara dilapisan atas dan bawah berbeda, maka benda-benda langitpun akan mengalami Refractie, dimana benda langit yang kita lihat itu pada hakekatnya mempunyai kedudukan lebih rendah dari posisinya saat kita lihat. Pada saat kedudukan benda berada di titik Samtur Ro’si (Zenith), benda tidak mengalami refractie. Makin ke bawah refractie-nya makin besar. Di Ufuq besarnya refractie adalah sebesar 34′ 5″, artinya saat kita melihat matahari tepat tenggelam, pada hakekatnya ia telah berada 24′ 5″ di Bawah Ufuq.

Bila diameter matahari adalah 32′ bola langit, maka saat terbenam atau terbit, titik pusat matahari telah berada ½ x 32′ +  34′ 5″ = 50′ 5″ (hampir satu derajat). Ini disebut Daqoiq Tamkiniyyah. Sehingga kalau diukur dari Samtur Ro’si (Zenith) Busurnya sebesar 900 + 50′ 5″ = 900 50′ 5″.

Karena ketebalan lapisan udara yang tidak sama inilah maka besarnya refractie tidak tetap. Makin rendah suatu benda langit refractie-nya makin besar. Saat tinggi 10 refractie-nya = 24′ 3″, saat ½0 refractie-nya 28′ 7″, dan saat 00 refractie-nya 34′ 5″ seperti telah disebutkan diatas.

About admin
Syaikh Ahmad Rifa'i: Lumakuho siro kabeh nejo ing Allah,Tingkahe dangan lan abot sayah,Tingkahe sugih miskin gagah,Tuwin loro waras susah dalam manah. Follow @tanbihun_com
BACA JUGA!close