Benarkah Saudi Arabia Dapat Merukyat Hilal Awal Romadhon 1433 H?

Hosting Unlimited Indonesia


KESAKSIAN RUKYATUL HILAL DI SAUDI PADA KAMIS 19- JULI- 2012:

Oleh: KH.Khaeruddin Khasbullah

Tanbihun.com- Seperti kita ketahui bersama dari berita dunia bahwa Saudi Arabia telah menetapkan  Awal Shiyam 1433 H jatuh pada hari Jum’at, 20- Juli- 2012. Padahal dari perhitungan astronomis, pada hari Kamis 19- Juli- 2012 posisi Hilal disana BELUM IMKAAN RUKYAT – sama seperti di Indonesia. (Lihat peta Imkaan Rukyat Dunia dibawah ini:

GAMBAR DAERAH IMKAAN RUKYAT DUNIA

Ternyata di Saudi juga mengalami hal yang hampir serupa dengan kasus di indonesia , yakni sebagian besar  titik pengamatan tidak berhasil merukyat, hanya dilaporkan Hilal dapat dirukyat didaerah Sudair dan Shagra, sebagaimana NEWS dibawah ini:
1.     Not Seen: Luqmaan Williams (MCW member) from Ta’if reported: I was in Makkah tonight (Thursday), July 19th. Clear skies but did not sight the crescent.
  • # 1.Hilal Tidak terihat: Luqmaan Williams (Anggota MCW ) dari Thaif melaporkan: Aku berada di Makkah malam ini (Kamis), Juli 19. Langit cerah tapi tidak terlihat Hilal.
2.     Seen (Saudi Announcement): Mrs. Lubna Shawly (MCW member) from Jiddah reported: It is announced in the Saudi courts, according to the observation of the new moon (moon is sighted in areas of Sudair & Shagra), and that the first day of Ramadan for the year 1433 Hijrah will be on Friday the 20th of July 2012. Moonsighting.com opinion is that this is a mistaken claim of sighting.
  •  #2. Hilal dapat Dilihat (Pengumuman Resmi Pemerintah Saudi):Ibu Lubna Shawly (Anggota MCW ) dari Jeddah melaporkan bahwa:Keberhasilan melihat Hilal ini diumumkan oleh Pengadilan Saudi, menurut  pernyataan ini,  saat dilakukan observasi/ pengamatan, Hilal  dapat terlihat di wilayah  Sudair & Shagra, dan oleh karena itu bahwa hari pertama Ramadhan  tahun 1433 H akan jatuh pada hari Jumat tanggal 20 Juli 2012.
Catatan: Menurut Pendapat Website Rukyatul Hilal/ Moonsighting.com bahwa:  “Ini  adalah pernyataan yang keliru tentang Rukyatul Hilal”. (Sebagaimana terjadi pada saat menentukan 1 Syawal 1432 H. Lihat: Penentuan 1 Syawal 1432 H Di Saudi Menyisakan Polemik.
 
Kasus ini sebenarnya mirip dengan kasus yang terjadi di Indonesia dimana LEMBAGA ALHUSINIYYAH  yang mengadakan pengamatan di Cakung Jakarta menyatakan dapat  berhasil melihat Hilal, bedanya, kesaksian di Saudi di terima sedang di Indonesia kesaksian tersebut ditolak – karena posisi ketinggian hilal secara pengalaman emphiris dikedua tempat tersebut masih belum memungkinkan untuk dapat dirukyat.

KESAKSIAN TERSEBUT SEHARUSNYA DITERIMA ATAU DITOLAK?

Penulis tidak akan berpanjang- panjang membahas hal ini karena masalah ini masih masuk kedalam wilyah ikhtilafiyah (debatable), namun perkenankan sekedar membawakan dua  pendapat berbeda bersumber dari sebuah KITAB KUNING  yang sering menjadi rujukan khususnya bagi kalangan Pesantren di Indonesia. Pernyataan tersebut adalah sebagaimana  termaktub dalam Kitab I’anatut Tholibin Juz II halaman 216:
 
“Dan dalam Kitab Mughnil Khotib disebutkan sebagai berikut: Jika seseorang atau dua orang bersaksi dapat melihat Hilal sedang secara astronomis matematis adalah tidak mungkin melihat Hilal, Imam Subky menyatakan: “Kesaksian itu tidak dapat diterima  – karena ilmu astronomi matematis itu bersifat PASTI (Exacta) sedangkan “kesaksian”  itu DHONNY (persangkaan), maka Dhon itu tidak bisa dihadapkan melawan sesuatu yang bersifat pasti”. Dan Imam Subky dengan panjang lebar membahas masalah tersebut. Adapun pendapat yang MU’TAMAD / yang dapat dipegangi (menyatakan) penerimaannya (atas kesaksian itu) karena perhitungan hisab/ astronomy itu tidak ada landasan hokum syar’inya (berbeda dengan rukyat yang berdasar hadist Nabi)….. Wallohu A’lam.

KASUS YANG MIRIP NAMUN DENGAN KEPUTUSAN YANG BERBEDA

Maka kasus Rukyatul Hilal di Saudi maupun di Indonesia  pada Kamis sore 19- Juli- 2012 itu memiliki kemiripan dengan keputusan yang berbeda: Pemerintah Saudi menyatakan menerima kesaksian, sedang pemerintah Indonesia menolak kesaksian. Dan masalah ini adalah termasuk wilayah Ijtihady yang tidak dilarang berbeda, dan keduanya dibenarkan secara syar’i. Inti kesamaannya: HUKMUL QODHY YARFA’UL IKHTILAAF = KEPUTUSAN PEMERINTAH ITU MENYELESAIKAN PERBEDAAN. Maka rakyat Saudy mengikuti keputusan pemerintah Saudy dan rakyat Indonesia mengikuti keputusan pemerintah Indonesia.

DAFTAR NEGARA- NEGARA YANG MENYATAKAN TIDAK DAPAT MELIHAT HILAL:

  1. Australia
  2. Brunai
  3. Canada
  4. Chili
  5. Rep. Dominika
  6. Perancis
  7. Jepang
  8. Kenya
  9. Luxemburg
  10. Marocco
  11. Namibia
  12. Nigeria
  13. Panama
  14. Philipina
  15. Qatar
  16. Africa Selatan
  17. Spanyol
  18. Srilangka
  19. Tanzania
  20. Inggris
  21. USA

DAFTAR NEGARA= NEGARA YANG MENGGENAPKAN 30 HARI/ IMKAAN RUKYAT/ TIDAK MENGIKUTI KEPUTUSAN ARAB SAUDI

  • Australia (Local Sighting)
  • Brunei (Local Sighting)
  • Canada (Shi’aa Community – Announced by Grand Ayatollah Hosseini Nassab)
  • Indonesia (30 days completion – Official Announcement)
  • Iraq (30 days completion – Official Announcement)
  • Japan (30 days completion – Ruyat-e-Hilal Committee-Japan)
  • Kenya (Local Sighting)
  • Malaysia = IMKAAN RUKYAT – Age > 8 hours, altitude > 2°, elongation > 3°
  • Morocco (Local Sighting)
  • Namibia (30 days completion)
  • Oman (30 days completion, since not possible on July 19)
  • South Africa (30 days completion)
  • Tanzania (30 days completion)
  • UK (30 days completion) [Wifaaqul ulama), (Ahle Sunnat Wal Jamaat], OR (Sighting from countries east of UK)
Sedang Negara- Negara selain yang tersebut diatas mengikuti keputusan pemerintah Saudi.

Sumber data: moonsighting.com

13 Comments on Benarkah Saudi Arabia Dapat Merukyat Hilal Awal Romadhon 1433 H?

  1. Aku punya beberapa pertanyaan Ustadz, mohon pencerahan:

    (1) Rukyah merupakan ‘pemutus’ perbedaan, ketika terlihat maka berpuasa, ketika tidak, maka sempurnakan sya’ban, kan gitu? Lalu bagaimana dengan potongan artikel:

    “Jika seseorang atau dua orang bersaksi dapat melihat Hilal sedang secara astronomis matematis adalah tidak mungkin melihat Hilal, Imam Subky menyatakan: “Kesaksian itu tidak dapat diterima, karena ilmu astronomi matematis itu bersifat PASTI sedangkan “kesaksian” itu DHONNY (persangkaan), maka Dhon itu tidak bisa dihadapkan melawan sesuatu yang bersifat pasti”

    (aku menemukan sedikit kontradiksi disana, tentang apa yang pasti dan yang zhanniy)

    (2) Nation-state hanya dikenal setelah pertengahan abad 20, lalu kenapa hasil rukyah itu hanya mengikat satu kesatuan nation-state, kenapa tidak, misalnya rukyah di Malaysia atau negara lain itu juga di pakai di Indonesia. Adakah preseden yang menjelaskan itu?

    Mohon Pencerahan :)

  2. ibn khasbullah // 22 July 2012 at 10:03 pm // Reply

    Menurut Imam Subky, Ilmu falak/ astronomy itu Qoth’i/exact. Itu karena ilmu falak didasarkan pada perhitungan- perhitungan matematis, menggunakan ilmu trigonometri seperti dalil sinus dan cosinus (yang dikembangkan oleh astronom muslim, yakni :Abu Nashr Manshur ( 960 – 1036 M) beserta muridnya A- Biruni (973-1048). lihat artikel tentang itu di situs ini juga). Anda dapat buktikan ketepatannya ketika ilmu falak menghitung kapan mulai dan berakhirnya peristiwa gerhana, semuanya tepat dengan kenyataan bahkan sampai hitungan detiknya. Sedang rukyat itu dhonny karena pandangan mata seseorang itu dipengaruhi IMAGE sekelilingnya seperti adanya gangguan awan atau kekaburan mata/ lensa atau polusi cahaya, sehingga dapat berpengaruh pada hasil rukyat. Namun perlu diketahui bahwa penentuan 1 romadhon itu tidak semata- mata urusan matematika tapi disana ada unsur ibadah yang harus ada contohnya dari Nabi.I. lmu falak tidak ada contohnya dari Nabi
    Tentang nation state yang anda tanyakan itu tentunya ada hubungan dengan wacana rukyat global seperti diwacanakan oleh teman- teman Hizbut Tahrir atau kaum muslimin Eropa, walau ada tingkat kerumitannya juga. Lihat text himbauan tentang rukyat global ini dari masyarakat muslim Eropa. Masalahnya para pakar belum ijma’ tentang masalah ini bahkan sebagian pakar mengatakan sebagai THE MODERN BID’AH (LIHAT: http://haqqrocks.com/s/10/ ) karena adanya hadist Kuraib sebagai berikut:
    “Artinya : Dari Kuraib : Sesungguhnya Ummu Fadl binti Al-Haarits telah mengutusnya menemui Mu’awiyah di Syam. Berkata Kuraib : Lalu aku datang ke Syam, terus aku selesaikan semua keperluannya. Dan tampaklah olehku (bulan) Ramadlan, sedang aku masih di Syam, dan aku melihat hilal (Ramadlan) pada malam Jum’at. Kemudian aku datang ke Madinah pada akhir bulan (Ramadlan), lalu Abdullah bin Abbas bertanya ke padaku (tentang beberapa hal), kemudian ia menyebutkan tentang hilal, lalu ia bertanya ; “Kapan kamu melihat hilal (Ramadlan) ?
    Jawabku : “Kami melihatnya pada malam Jum’at”.
    Ia bertanya lagi : “Engkau melihatnya (sendiri) ?”
    Jawabku : “Ya ! Dan orang banyak juga melihatnya, lalu mereka puasa dan Mu’awiyah Puasa”.
    Ia berkata : “Tetapi kami melihatnya pada malam Sabtu, maka senantiasa kami berpuasa sampai kami sempurnakan tiga puluh hari, atau sampai kami melihat hilal (bulan Syawwal) “. Aku bertanya : “Apakah tidak cukup bagimu ru’yah (penglihatan) dan puasanya Mu’awiyah ?
    Jawabnya : “Tidak ! Begitulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, telah memerintahkan kepada kami”.

    Pembahasan
    Pertama : Hadits ini telah dikeluarkan oleh imam-imam : Muslim (3/126), Abu Dawud (No. 2332), Nasa’i (4/105-106), Tirmidzi (No. 689), Ibnu Khuzaimah (No. 1916), Daruquthni (2/171), Baihaqy (4/251) dan Ahmad (Al-Fathur-Rabbaani 9/270), semuanya dari jalan : Ismail bin Ja’far, dan Muhammad bin Abi Harmalah dari Kuraib dari Ibnu Abbas. Berkata Imam Tirmidzi : Hadits Ibnu Abbas hadits : Hasan-Shahih (dan) Gharib. Berkata Imam Daruquthni : Sanad (Hadits) ini Shahih.

    • (BEBERAKA PERTANYAAN LAGI PAK KYAI)

      PERTAMA : Terkait penolakan Ibnu Abbas untuk mencukupkan penglihatan hilal Muawiyah: Apa batas wilayah yang menjadikan seseorang berhak menolak (atau menerima) persaksian hilal seseorang. Sebagaimana diketahui bahwa Syam adalah wilayah Islam dengan kholifah yang sama (karena sampai dengan wafatnya muawiyah, Islam masih berada dalam satu kepemimpinan seorang khalifah)

      Jika kita aplikasikan dalam kehidupan negara-bangsa saat ini, apakah kesaksian seorang di Papua mengikat muslim di Aceh, misalnya. Karena keduanya mempunyai jarak yang cukup jauh, sehingga cukup berpengaruh secara astronomis untuk penampakan hilal.

      Dalam artikel yang Pak Kyai rekomendasikan, penolakan terhadap apa yang disebut penampakan global itu dianalogikan dengan penolakan terhadap penyamaan waktu sholat. Karena duaduanya dilaksanakan berdasarkan tanda-tanda alam (matahari dan bulan) yang keduaduanya relatif. Tetapi relativitas yang dimaksud dalam artikel tersebut (sejauh yang aku pahami) juga belum clear.

      Misalnya potongan artikel, “The Companions of the Prophet opposed every attempt to impose the moon sighting in one town over the others, even in close proximity, when it was not seen on a clear horizon, or when the horizon was cloudy on the 29 day of the Islamic month.”

      Alihalih menyebut nation, state atau country, artikel tersebut meyebutkan one town. Ini cukup membingungkan bagi aku. Mohon pencerahan lagi Pak Kyai. 

    • KEDUA : Maaf, dalam pemahaman aku, penjelasan Pak Kyai mengandung ambiguitas. Dalam penjelasan Pak Kyai, dengan menukil Imam Subkhi, seolaholah Pak Kyai cenderung kepada hisab. Terlebih artikel yang Pak Kyai rekomendasikan. Disana menukil pendapat Syeikh Qaradhawy yang jelas mendukung hisab. Tetapi diakhir penjelasan Pak Kyai menutupnya dengan “Namun perlu diketahui, bahwa penentuan 1 romadhon itu tidak semata- mata urusan matematika tapi disana ada unsur ibadah yang harus ada contohnya dari Nabi. lmu falak tidak ada contohnya dari Nabi”

      Atau mungkin aku yang kurangbisa memahaminya. Mohon pencerahan (lagi)

  3. ibn khasbullah // 24 July 2012 at 10:50 pm // Reply

    Mohon perhatikan baik baik tulisan saya. Disana saya menulis dalam gaya informatif dan tidak ada nuansa mempertentangkan diantara semuanya. Bahkan ketika anda mengajak diskusi ke nation state dan rukyat global saya menggiring anda ke http://haqqrocks.com/s/10/ tanpa coment
    Saya sendiri adalah follower Imam Syafi’i dan Murid Syekh A. A. Rifa’i yang konsisten menggunakan Rukyat dan Istikmal. Memang kebetulan saya sedikit hoby ngaji ilmu falak, tapi bukan berarti saya menentukan awal bulan ibadah dengan Hisab. Hisab dipakai hanya sebagai Wasilah Rukyat dan Istikmal. Cenderung ke imkan rukyat memang ya. Dalam tulisan tentang Saudi tersebut diatas, saya meninjaunya menggunakan kitab fikih dalam lingkup madzhab Syafi’i juga yakni I’anatut Tholibin,dan dengan nuansa mempersatukan bukan mempertentangkan…. Imam Subky itu Syafi’iyyah juga….

  4. ibn khasbullah // 25 July 2012 at 11:34 am // Reply

    ….Adapun tentang Perbedaan Horison/ Ikhtilaaf Mathalie, perkenankan saya kutip tulisan tentang pendapat Ulama’/ Kibaru Makkah. Sengaja saya kutip karena ada hubungannya dengan kesalahan rukyat di Saudi saat menentukan 1 Syawal- 1432 H, sekaligus wacana bahwa ada Jama’ah Mesjid di Indonesia yang berusaha menyamakan Ied Al- Adha di Indonesia dengan Ied Al- Adha di Mekah…

    Sheikh AlOthaimeen (RH) supports Ikhtilaaf AlMatale (Multiple Horizons / Local Sighting) for all 12 months (including DhulHijja)… (Lihat pada: http://www.jas.org.jo/hilaal/)
    ……..I mentioned to Sheikh AlOthaimeen (RH) that for Muslims in America, the error in Saudi date announcements causes big problems, since some Muslims follow that, while others follow local sighting, thus resulting in multiple Eid celebrations in the same city, if not the same Masjid! I learned that Sheikh AlOthaimeen supports Ikhtilaaf AlMatale (Multiple Horizons / Local Sighting) – Muslims outside Saudi Arabia should do their own Local Sighting (instead of calling Saudi Arabia). This is already published in the book: Fatawa Islamiya (Sheikh Bin Baaz, Sheikh AlOthaimeen & Sheikh AlJibreen, published by DarulWatan LilNashr, Riyadh – see Illustration 4). Sheikh AlOthaimeen also writes that Sheikh Ibn Taimiya supported Ikhtilaaf AlMatale. In fact Saudi Arabia itself practices Ikhtilaaf AlMatale (e.g. they did not follow Yemen’s earlier sighting in 1420H)…………………………….
    Sheikh Al-Utsaimeen (RH) mendukung Ikhtilaaf AlMatale (Aneka Horison / Rukyat Lokal) untuk semua 12 bulan (termasuk DhulHijjah).

    Saya sebutkan Syekh Al- Utsaimeen (RH) yang bagi umat Islam di Amerika, kesalahan (pemerintah Saudi) dalam pengumuman tanggal (1 Syawal -1432 H) menyebabkan masalah besar, karena beberapa kaum Muslimin ada yang mengikuti Saudi, sementara yang lain mengikuti hasil Rukyat lokal, sehingga mengakibatkan PERBEDAAN perayaan Idul Fitri di beberapa kota yang sama di Amerika, (jika tidak pada Masjid yang sama!). Saya belajar bahwa Sheikh Al- Utsaimeen ternyata mendukung Ikhtilaaf AlMatale (Aneka Horison / Rukyat Lokal ) – Sehingga kaum Muslimin yang berada di luar Arab Saudi harus melakukan sendiri Rukyat Lokal (bukan menunggu Arab Saudi). Pernyataan Syekh Al- Utsaimin Ini sudah diterbitkan dalam sebuah kitab berjudul: Fatawa Islamiyah (Sheikh Bin Baz, Syekh Al- Utsaimeen & Sheikh Al- Jibreen, diterbitkan oleh DarulWatan LilNashr, Riyadh – lihat Gambar 4). Sheikh Al- Utsaimeen juga menulis bahwa Syeikh Ibnu Taimiyah mendukung Ikhtilaaf AlMatale. Bahkan Arab Saudi sendiri telah mempraktekkan Ikhtilaaf AlMatale (misalnya mereka tidak mengikuti keberhasilan Rukyatul Hilal sebelumnya di Yaman pada tahun 1420H, padahal Yaman itu termasuk dalam Sub Continent Hejaz) …………………………….

    ….Further, even after the 6th year of Hijrah, there is no evidence from the Sunnah that the Prophet Muhammad SAW made any attempts to synchronize the EidUlAdha in Medinah etc. with the Hilaal sighting in Makkah, even though 10 nights and 9 days were enough to send a messenger between Makkah and Medinah.

    (…. Lebih lanjut, bahkan tercatat dalam sejarah Nabi, setelah tahun ke-6 Hijrah, tidak ada bukti dari Sunnah bahwa Nabi Muhammad SAW melakukan suatu upaya untuk menyamakan Iedul- Adha di Medinah dan Mekah dll dengan penampakan /rukyat Hilaal di Makkah, meskipun masih ada waktu 10 malam dan 9 hari yang cukup untuk mengirim seorang utusan antara Mekah dan Medinah…..(agar Iedul Adha di Madinah bisa sama mengikuti Makkah…..)

    • Maaf, tentang batasan walayah aku masih belum paham Ustadz. Apa yang menjadi pembatasnya? Apakah misalnya, jika kita di Jawa belum ada yang melihat hilal sementara di Aceh telah terlihat, kita wajib mengikutinya?
      Artikel yang Pak Kyai tautkan menyebut ‘one town’ saja.

  5. ibn khasbullah // 31 July 2012 at 5:40 am // Reply

    Yth Maspemz
    Tentang mathla’ ini ada yang berdasarkan wilayatul hukmi, bagaikan kapal dengan satu nakhoda, bila haluan kapal sudah menyentuh pulau maka seluruh kapal termasuk buritan dianggap sudah mendarat. Inilah yang dalam kitab- kitab fiqih/ kitab karya syeikhina: MOKO WAJIB QODHI IKU AGAWEHO MASYHUR,= maka wajiblah atas hakim/ pemerintah menyebarkan itsbat awal bulan tersebut, dan rakyat didalam wilayah hukum itu wajib mematuhinya. Dalam kitab yang lain, sepanjang bujur 8 derajat) maka kedua tempat itu berbeda mathla’.

  6. ibn khasbullah // 31 July 2012 at 5:50 am // Reply

    Yth Maspiemz.
    Tentang mathla’ ada yang berpegang pada WILAYATUL HUKMI. Ibarat sebuah kapal, bila ujung kapal sudah menyentuh daratan maka dianggap seluruh kapal sudah sampai. Inilah yang dalam kitab kitab Syeikh A. Rifa’i disebutkan: LAN WAJIB QODHI IKU AGAWEHO MASYHUR = dan wajib hakim/ pemerintah itu mengumumkan hasil itsbatnya. Ada yang berpegang dengan beda bujur 8 derajat, dimana dalam jarak tersebut maka bila disatu tempat dapat merukyat hilal, maka tempat yang lain masih dapat melihatnya pula. Ini seperti tertulis dalam kitab Ilmu Falak karya Syekh Zubair Umar Aljilany pada bab “Ittihadul Mathla’ ” halaman 135, dengan nash sebagai berikut:

    قد ذكر الفقهاء في كتاب الصيام أن رئية الهلال تحتلف باختلاف المطالع على الأصح الذي جري عليه الإمام النواوي وقالوا لا يكون البلدان متفقين إلا إذا لزم من رؤيته في إحداهما رؤيته في الأخر وذكروا أمثلة ولم يذكروا قاعدة يعلم بها اتفاقهما اواختلافهما والذي حرره العلامة عبد الله با محزمة كما في بغية المسترشدين أنه إذا كان تفاوت الغروب بين الموضعين ثماني درج فأقل فهما متفقان في المطلع وإلا فمختلفان —-الخلاصة الوفية للشيخ زبير عمر الجيلاني – صحيفة 135
    Artinya:
    Para fuqoha’ telah menyebutkan dalam Kitabus Shiyam bahwa Ru’yat Hilal itu berbeda dengan adanya perbedaan Mathla’/ Horison menurut Qoul yang lebih sahih seperti yang telah diutarakan oleh Imam Nawawi, dan mereka berkata bahwa dua negara tidak bersesuaian horizon/ Mathla’ nya kecuali bila kedua negara itu bisa meru’yat hilal di salah satunya sebagaimana negara lainnya mampu meru’yat hilal. Para Fuqoha’ menyebutkan beberapa contoh tapi mereka tidak menetapkan suatu Qoidah/ batasannya yang bisa mengetahui dengan batasan itu bagaimana bisa menentukan kesesuaian Mathla’nya atau perbedaannya. Dan apa yang telah diutarakan oleh Al- Allamah Abdullah Ba Mahzamah sebagaimana dalam kitab Bughyatul mustarsyidin bahwa sesungguhnya apabila selisih tenggelamnya matahari diantara dua tempat itu adalah 8 (delapan) derajat atau lebih sedikit, maka kedua tempat itu bersesuaian mathla’/ horizon nya. Jika tidak (yakni > 8 derajat) maka kedua tempat itu berbeda mathla’.

  7. Assl. Ustdh… yah, minimal pemerintah saudi adalah pemerintahan islam yang tahu dan bertanggung jawab terhadap dosa dalam kesalahan penentuan ramadhan ataupun syawal. dan sunnah Nabi juga bukan pake ilmu falak melainkan “melihat bulan”. bukan berarti pemerintah saudi bersih dari salah, mereka juga pernah salah tp ada pertanggungjawaban dan diumumkan ke masyarakat. dan pada tanggal 15 (start jum’at), bulan persis bulat menambah keyakinan saya bahwa saudi yang benar. Wallahu ‘alam….

  8. Kalau yg membuat bingung sy adlh “mengapa hanya 1 Ramadhan dan 1 Syawal” sj yg jd perdebatan???

    Krn berkaitan puasakah??? Lantas dng mdh menggenapkan 30 jk terhalang,, yg jd pertanyaan sy adalah apakah mereka jg merukyat pd penetapan 1 sya’ban??? kalau msl penentuan 1 Sya’ban dn bln2 selain Ramadan dan Syawal bs sama persis dr smua golongan, wilayah dn negara mk menggenapkan 30hr itu adalah penyelesaian yg sempurna…
    Tp jk penentuan 1 sa’ban tdk sama mk sia sia lah penggenapan 30hr tsb krn tetap akn berbeda hslnya,, hnya skedar wacana logika sj.

  9. ibn khasbullah // 18 August 2012 at 8:24 pm // Reply

    Yth sdr Riyadh.

    Anda benar ketika mengikuti Saudi karena mereka berdasarkan qoul mu’tamad bisa dibenarkan mengakui rukyat seseorang (Lihat:Potensi Ikhtilaaf Penentuan Awal Bulan:Hisab Atau Rukyat Untuk Menentukan Awal Bulan Hijriyah pada situs ini juga),

    Namun anda agak kurang pas ketika mengukur kebenaran penentuan awal romadhon Saudi dengan melihat bulan purnama tepat tanggal 15, karena itu adalah perhitungan system Budha (Waisyak/bulan purnama sidhi) yang jelas diluar syar’i , dimana keistimewaan Bulan Purnama adalah “Terbit saat maghrib dan terbenam tepat saat Syuruq, 16 hari kemudian pasti tanggal satu,, demikian waisyak dan penaggalan cina dihitung. Namun walaupun sangat tepat tapi tidak ada dalil syar’inya. Itu kuncinya.

    Untuk Yth Al- Fakir,
    Team kami ISCA selalu melakukan rukyat tiap bulan dan selalu menyebarkan informasinya keseluruh anggota/ pencinta astronomi.

    Oh ya, kami segenap Pengelola Tanbihun.com mengucapkan:”Selamat Hari Raya Iedul Fithri, 1 Syawal- 1433 H – Mohon Maaf Lahir Dan Batin” – “Taqobbalallohu minna wa minkum – Ja- ‘alanallohu waiyyaakum minal ‘aa idiin wal faa – iziin. Amin.

1 Trackbacks & Pingbacks

  1. Prediksi 1 Syawal 2012 | Tanbihun Online

Leave a comment

Your email address will not be published.

*