2:13 am - Thursday April 11, 2013

Hisab Dengan Zij Atau Ephemeries

Saturday, 11 August 2012 13:13 | Ilmu Falak Online | 0 Comment | Read 225 Times

Oleh: Ibnu Khasbullah

Apakah yang dimaksud dengan Ephemeries?

Ephemeiries adalah jadwal (table) data- data pergerakan dan posisi benda- benda langit dari waktu kewaktu. Dalam astronomi Islam, Ephemeries dikenal dengan nama ZIJ. Zij yang terkenal diantaranya:

Abad ke 8 M : Zij Ibrahim Alfajari

Abad ke 9 M : Zij Musa Al- Khawarizmy

Abad ke 12 M : Zij Toledo (Spanyol Islam)

Abad ke 13 M : Zij Al- Ilkhany

Abad ke 13 M : Alfonsin Table (Zij orang Eropa  pertama berdasar Zij Toledo)

Abad ke 15 M : Zij Ulugh Beg As- Samarqondy.

Pada Tabel Ephemeries Alfonsin masih terlihat jejak peradaban Islam, dimana pada table tersebut terlihat gaya Arab, bahkan angka 18 nampak  masih memakai angka Arab.

Daftar Ephemeries pada masa awal diamati dengan menggunakan Rubu’/ Astrolube/ sectant dengan ketelitian mata telanjang. Dengan ditemukannya telescope optic, kemudian disusul radio telescope pada tahun 1931 dan kemudian radio interfere metri pada thn 1946 disertai perkembangan computer dan internet, maka data Ephemeries sekarang bisa didapatkan dengan mudah dan lebih teliti, sebagaimana dapat kita temukan pada situs berikut; http://www.badilag.net/hisab-rukyat/data-hisab-rukyat/9938-buku-ephemeris-tahun-2012-22022012.html

ISTILAH-  ISTILAH YANG DIGUNAKAN

1. Data Matahari Yang Digunakan Dalam Perhitungan


a. Ecliptic Longitude  ( التقويم \ طول الشمس) 

Ecliptic Longitude, Taqwim ( التـقـويـم ) atau Thul al syams (الـشـمـس طـول ), dalam istilah bahasa Indonesia dikenal dengan Bujur Astronomis. Data ini adalah jarak Matahari dari titik Aries (Vernal Equinox / الـحـمـل ) diukur sepanjang lingkaran Eliptika. Jika nilai Bujur Astronomis Matahari sama dengan nilai Bujur Astronomis Bulan, maka terjadi ijtima. Data ini diperlukan antara lain dalam ijtima dan gerhana.

b. Ecliptic Latitude. (عرض الشمس  )
Ecliptic Latitude, Ardl al Syams, dalam istilah bahasa Indonesia sebagai dikenal dengan Lintang Astronomis. Data ini adalah jarak titik pusat Matahari dari Lingkaran Ekliptika. Sebetulnya Ekliptika itu sendiri adalah lingkaran yang ditempuh oleh gerak semu Matahari secara tahunan. Oleh karena itu Matahari selalu berada di Lingkaran Ekliptika. Namun oleh karena jalannya tidak rata persis, maka ada sedikit geseran. Keadaan seperti ini dapat kita lihat dari nilai Ecliptic Latitude yang selalu mendekati nol. Banyak sistem perhitungan yang mengabaikan nilai data ini sehingga istilah Ardl al Syams ( عـرض الـشـمـس ) yang sebetulnya identik dengan Ecliptic Latitude, tidak dikenal. Data ini diperlukan antara lain untuk perhitungan gerhana.

c. Apparent Right Ascension (الصعود المستقيم )
Apparent Right Aseension, (الصعود المستقيم) atau al Mathali’u al Baladiyah (  الـبـلاديـة  الـمـطـالـع ), dalam istilah bahasa Indonesia dikenal dengan Asensio Rekta atau Panjatan Tegak. Data ini adalah jarak Matahari dari titk Aries (Vernal Equinox Hamal / الـحـمـل ) diukur sepanjang Lingkaran Equator. Data ini diperlukan dalam perhitungan ijtima, ketingian hilal dan gerhana.

d. Apparent Declination  (ميل الشمس )
Apparent declination of the sun, mail al syams (ميل الشمس), dalam istilah bahasa Indonesia dikenal dengan Deklinasi Matahari yang terlihat (bukan matahari hakiki), atau lebih dikenal sebagai Deklinasi. Data ini adalah jarak Matahari dari Equator. Nilai Deklinasi positip berarti Matahari ada di sebelah Utara Equator, dengan tanda (+) dalam penulisanya tanda (+) tidak perlu ditulis. Sebaliknya Nilai Deklinasi negatif berarti Matahari ada di sebelah Selatan Equator, dengan tanda (-). Data ini diperlukan dalam penentuan bayang-bayang kiblat, waktu shalat, ijtima, ketinggian hilal, gerhana dan sebagainya.

e. True Geosentric Distance   (بعد المطلق)
True Geosentric Distance, dalam istilah bahasa Indonesia dikenal dengan Jarak Geosentric. Data ini menggambarkan jarak antara Bumi dan Matahari. Nilai pada data ini merupakan jarak rata rata Bumi – Matahari sekitar 150 juta km. Oleh karena Bumi mengelilingi Matahari tidak tetap setiap saat, kadang kadang dekat, kadang-kadang jauh, sedangkan jarak terdekat pada saat Bumi menempati titik Perigee ( الـحـضـيـض ), sedangkan jarak terjauh pada saat bumi menempati titik terjauh. yaitu Apogee ( الأوج ). Data ini diperlukan dalam menghitung gerhana.

f. Semi Diameter ( نصف القطر ﺍﻟﺷﻤﺲ) Matahari
Semi Diameter, nisf al quthur (نصف القطر) dalam istilah bahasa Indonesia dikenal dengan Jari jari  matahari. Data ini adalah jarak titik pusat Matahari dengan piringan luarnya. Data ini perlu diketahui untuk menghitung secara tepat saat matahari terbenam, matahari terbit, tinggi hilal dan sebagainya.

g. True Obliquity (الميل الكلي ) 
True Obliquity, al mail al kully (الميل الكلي) dalam istilah bahasa Indonesia dikenal dengan Kemiringan Ekliptika. Data ini adalah Kemiringan Ekliptika dari Equator. Data ini diperlukan untuk menghitung ijtima dan gerhana.

h. Equation of Time ( تعديل الشمس)  
Equation of Time, ta’dil al waqt / ta’dil al syams (الـوقـت تـعـديـل / الـشـمـس تـعـديـل ) dikenal dalam bahasa Indonesia sebagai Perata Waktu. Data ini adalah selisih antara waktu kulminasi matahari hakiki dengan waktu kulminasi matahari rata rata. Data ini biasanya dinyatakan dengan huruf “e” kecil dan diperlukan dalam menghisab bayang-bayang kiblat, waktu shalat dan awal bulan.

2. Data Bulan Yang Digunakan Dalam Perhitungan

a. Apparent Longitude (طول القمر )  
Apparent Longitude, Taqwim ( التـقـويـم ) atau Thul al qamar (الـقـمـر طـول ) dalam istilah bahasa Indonesia dikenal dengan Bujur Astronomis Bulan yang terlihat, atau lebih dikenal sebagai Bujur Astronomi Bulan. Data ini adalah jarak antara titik Aries (Vernal Equinox/Hamal/ الـحـمـل ) diukur sepanjang Lingkaran Eliptika. Data ini diperlukan dalam menghitung ijtima dan gerhana.

b. Apparent Latitude (عرض القمر )  
Apparent Latitude, ardl al qamar ( عـرض الـقـمـر ) dalam istilah bahasa Indonesia dikenal dengan Lintang Astronomis Bulan yang terlihat, lebih dikenal sebagai Lintang Astronomis Bulan. Data ini adalah jarak antara bulan dengan lingkaran Ekliptika diukur sepanjang lingkaran Kutub Ekliptika. Nilai maksimum dari Lintang Astronomis Bulan adalah 5o 8’ (lima derajat delapan menit). Nilai positip (+) berarti bulan berada di sebelah Utara Ekliptika, dan nilai negatif (-) berarti Bulan berada di sebelah Selatan Ekliptika. Jika pada saat ijtima nilai Lintang Astronornis Bulan sama atau hampir persis sama dengan nilai Lintang Astronomis Matahari, maka akan terjadi Gerhana Matahari. Data ini diperlukan dalam menghitung ijtima dan gerhana.

c. Apparent Right Ascention (الصعود المستقيم )
Apparent Right Aseension, Al shu’ud al Mustawqim (الـمـسـتـقـيـم  الـصـعـود ) atau al Mathali’u al Baladiyah (الـبـلاديـة الـمـطـالـع) dalam istilah bahasa Indonesia dikenal dengan Asensio Rekta dari bulan yang terlihat, atau lebih kenal dengan Panjatan Tegak. Data ini adalah jarak titik pusat bulan dari titik Aries diukur sepanjang lingkaran Equator. Data ini diperlukan antara lain dalam perhitungan ijtima, ketinggian hilal dan gerhana.

d. Apparent Declination (ميل القمر )
Apparent declination, mail al qamar (الـقـمـر مـيـل) dalam istilah bahasa Indonesia dikenal dengan Deklinasi Bulan. Data ini adalah jarak Bulan dari Equator. Nilai Deklinasi positip (+) jika Bulan disebelah utara Equator, dan negatif (-) jika di sebelah selatan equator. Data ini diperlukan dalam perhitungan ketinggian hilal dan gerhana.

e. Horizontal Parallax (إختلاف المنظر )
Parallax, ikhtilaf al mandhar (الـمـنـظـر إخـتـلاف) dalam istilah bahasa Indonesia dikenal dengan Beda Lihat. Data ini adalah sudut antara garis yang ditarik dari benda langit ketitik pusat bumi dan garis yang ditarik dari benda langit ke mata si pengamat. Sedangkan Horizontal Parallax adalah Parallaks dari Bulan yang sedang berada persis di garis ufuq. Nilai parallaks berubah ubah tergantung kepada jarak benda langit itu dari garis ufuq. Semakin mendekati titik Zenith (الرأس سـمـت) nilai parallax suatu benda langit semakin kecil. Benda langit yang sedang berposisi pada titik Zenith, nilai parallax adalah nol; sedangkan benda langit yang sedang berposisi pada garis ufuq, nilai Parallaxnya paling besar. Disamping itu Parallax tergantung pula kepada jarak benda langit tersebut dari mata si pengamat (Bumi). Semakin jauh suatu benda langit nilai Paralaxnya semakin kecil. Nilai Parallax Matahari sangat kecil bahkan dapat diabaikan sebab jarak Matahari Bulan sangatlah jauh, berbeda dengan jarak Bulan Bumi. Nilai Horizontal Parallax ini diperlukan untuk melakukan koreksi perhitungan ketinggian hilal, dari ketinggian hakiki menjadi ketinggian Mar’i (visible altitude).

f. Semi Diameter (نصف القطر ﺍﻟﻗﻤﺮ) Bulan
Semi Diameter, nisf al quthur (الـقـطـر نـصـف) dalam istilah bahasa Indonesia dikenal dengan Jari jari bulan. Data ini adalah jarak sudut antara titik pusat Bulan dengan piringan luarnya. Nilai Semi Diameter Bulan adalah tertinggi sekitar 15’ (lima belas menit) sebab piringan bulatan Bulan penuh adalah sekitar 30’ (1/2 derajat). Data ini diperlukan untuk melakukan perhitungan ketinggian piringan atas (upper limb) hilal, sebab semua data bulan adalah data titik pusatnya.

g. Angle Bright Limb ( ﻫﻴﺌﺔ ﺍﻠﻬﻼﻞ)
Angle Bright Limb, dalam istilah bahasa Indonesia dikenal dengan Sudut Kemiringan hilal. Data ini adalah sudut kemiringan piringan hilal yang memancarkan sinar sebagai akibat arah posisi hilal dari Matahari. Sudut ini diukur dari garis yang menghubungkan titik pusat hilal dengan titik Zenith (الرأس سـمـت) ke garis yang menghubungkan titik pusat hilal dengan titik pusat Matahari dengan arah sesuai dengan perputaran jarum jam.

h. Fraction Illumination    (نور القمر )  
Fraction Illum adalah singkatan dari Fraction Illumination. Yang dimaksudkan adalah besarnya piringan Bulan yang menerima sinar Matahari dan menghadap ke Bumi. Jika seluruh piringan Bulan yang menerima sinar Matahari terlihat dari Bumi, maka bentuknya akan berupa “bulatan penuh”. Dalam keadaan seperti ini nilai Fraction Illum (besarnya Bulan) adalah satu, yaitu persis pada saat puncaknya Bulan Purnama (full moon / بـدرالـقـمـر ). Sedangkan jika Bumi, Bulan dan Matahari sedang persis berada pada satu garis lurus, maka akan terjadi Gerhana Matahari Total. Dalam keadaan seperti ini nilai Fraction Illumination Bulan adalah nol. Setelah Bulan Purnama, nilai Fraction Illumination akan semakin mengecil sampai pada nilai yang paling kecil, yaitu pada saat ijtima dan setelah itu nilai Fraction Illumination ini akan kembali membesar sampai mencapai nilai satu, pada saat Bulan Purnama. Dengan demikian, data Fraction Illumination ini dapat dijadikan pedoman untuk menghitung kapan terjadinya ijtima (conjunction / الإجـتـمـاع) dan kapan bulan purnama (full moon, istiqbal / الإشـتـقـبـال), demikian pula saat first quarter ( tarbi’awal / تـربـيـع الأول) dan last quarter ( tarbi’ tsani / الـثـاني تـربـيـع ) dari bulan dapat dihitung, yaitu dengan mencari nilai Fraction illum sebesar setengah (0,5). Data ini diperlukan untuk membantu pelaksanaan Rukyatul hilal sekaligus melakukan pengecekannya mengenai besarnya hilal.

i. Moons Age (Umur Bulan) = Jarak waktu antara waktu Ijtima’ dan waktu matahari terbenam.

 j. Lag Moons Age (Selisih Waktu Terbenam)  بعد مغربه عن مغربها) =selisih waktu terbenam matahari dan bulan.

k. Irtifa’ Bulan (Moons Altitude) = Jarak sudut bulan diatas Horison.

l. ARCL (Arc Of Light = Sudut Pisah) antara matahari dan bulan.

m. ARCV (Arc Of Vision = Selisih Besaran Sudut) dalam altitude  arah vertical antara titik pusat matahari dan titik pusat bulan.

n. DAZ (Delta Azimuth = Selisih Sudut Azimut antara pusat matahari dan bulan.

Berikut ini contoh menghitung awal bulan Romadhon 1430 H dengan methode ephemeries:

 

  1. I.       DATA- DATA

  • Markaz: Karawang
  • Lintang Tempat/ Ardhul Balad: -6.-15
  • Bujur Tempat/ Thul – Albalad: +107.17
  • Tinggi Tempat: 10 meter
  • Perkiraan Ijtima’ Akhir Sya’ban: 20- Agustus- 2009

 

DATA- DATA YANG DIAMBIL DARI DAFTAR EPHEMERIES

Derajat

Menit

Detik

Ghurub matahari  tanpa ikhtiyat 17 54 0
Jam Fraction Illumination Bulan Terkecil 10    
Fraction Illumination Terkecil 0    
Apparent Longitude Bulan pd Jam FIB Terkecil 147 29 52
Apparent Longitude Bulan pd Jam Berikutnya 148 7 11
Apparent  Right Ascension Bulan Jam 10 148 50 59
Apparent Right Ascension Bulan Jam 11 149 25 31
Apparent Declination Bulan Jam 10 10 4 24
Apparent Declination Bulan Jam 11 9 48 50
Horizontal Parallax Bulan Jam 10 1 0 45
Horizontal Parallax Bulan Jam 11 1 0 44
Semi Diameter Bulan Jam 10   16 33.34
Semi Diameter Bulan Jam 11   16 33.09
Ecliptic Longitude Matahari pd Jam FIB Terkecil 147 31 30
Ecliptic Longitude Matahari pd Jam selanjutnya 147 33 35
Apparent Declination Matahari Jam 10 12 19 57
Apparent Declination Matahari Jam 11 12 19 7
Apparent Right Ascension Matahari Jam 10 149 43 0
Apparent Right Ascension Matahari Jam 11 149 45 19
Semi Diameter Matahari Jam 10   15 48.43
Semi Diameter Matahari Jam 11   15 48.44
Equation Time Jam 11   -3 -21

 Silahkan Download pembahasan lengkapnya DISINI

Share on :

About

Syaikh Ahmad Rifa'i: Lumakuho siro kabeh nejo ing Allah,Tingkahe dangan lan abot sayah,Tingkahe sugih miskin gagah,Tuwin loro waras susah dalam manah. Follow @tanbihun_com

 

EBOOK GRATIS UNTUK ANDA !

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda, Jangan Lupa Cek Email Anda Untuk Aktifasinya !

 
Tagged with:

Pengertian semidiameter,arti buud quthur,Tasbih tarbi,www doa solat taubah com

Anda mungkin juga menyukaiclose