Seperti diketahui bahwa pemerintah Saudi dalam menentukan Awal Tanggal Qomariyah guna menentukan waktu- waktu ibadah seperti Romadhon- Syawal- Dzul Hijjah- selalu mengacu berdasar Rukyat. Kemudian atas dasar kesaksian orang yang mengaku melihat hilal dimalam Senin 29 Agustus- 2011 pula pemerintah Saudi menentukan 1 Syawal- 1432 jatuh hari Selasa 30- Agustus 2011. Ternyata keputusan tersebut menimbulkan polemic di Saudi. Diantara isi polemic tersebut adalah seperti yang di siarkan secara khusus oleh Harian Sabaq di Riyadh, yang dicoba untuk diterjemahkan sebagiannya sebagaimana tulisan dibawah ini:
Tanbihun- Abdullah Barqawi – (SABAQ – 30-08-2011) – Riyadh – Saudi Arabia : Astronomical Society (Lembaga Masyarakat Astronomy/ Falak) di Jeddah, hari ini, mengeluarkan sebuah pernyataan yang menggegerkan yang membenarkan kurangnya kemampuan untuk melihat bulan sabit dari awal bulan Syawal 1432 kemarin, sebagaimana yang dipertanyakan oleh Lembaga Falakiyah Saudi yang meragukan cara menentukan malam bulan baru Syawal kemarin dan mengumumkan pernyataan itu pada Selasa hari pertama Iedul Fitri 1432 H.
Dan apa yang telah dituduhkan sebagian tentang ketidakmampuan Observatorium Astronomi Saudi merukyat Hilal di bulan Syawal dimana banyak para Perukyat justru dapat melihatnya dengan mata telanjang, Asosiasi berkata:” Observatorium Astronomi dikembangkan agar tidak gagal untuk memantau bulan sabit pada hari Senin malam, tetapi bukan peran mereka untuk menemukan benda angkasa yang MEMANG TIDAK ADA, dan di sini adalah permasalahan yang nyata.
Merekapun memberikan penjelasan:
Lembaga Astronomy menekankan dengan tegas di Jeddah bahwa laporan yang diterbitkan sebelumnya tentang mungkin tidaknya melihat bulan sabit malam Senin Syawal, tanggal 29 bulan Ramadhan, yang menyatakan bahwa MERUKYAT HILAL adalah tidak akan mungkin dengan mata telanjang, bahkan juga dengan teleskop Kerajaan. Segala pernyataan ini adalah benar adanya dan tidak ada yang menentang dari para pakar yang memiliki pengetahuan tentang keadaan hilal dan dengan suara bulat para astronom di seluruh dunia Arab mereka setuju tentang hal ini.
Masyarakat Astronomy menjelaskan bahwa ilmu Astronomy dan Ilmu perhitungan gerakan benda- benda langit termasuk bulan adalah QOTH’IYYAH (pasti berdasar mathematics) dan tidak ada keraguan tentang hal itu. Adapun bukti terbesar adalah perhitungan yang dipakai selama ini untuk menentukan jadwal waktu yang tepat untuk sholat, dan kalender waktu yang telah ditetapkan oleh UMMUL QURO yang dipakai diseluruh masjid- masjid untuk menentukan waktu dari sejak dulu maupun waktu yang akan datang adalah tepat sesuai perhutungan Astronomy.
Menentukan Awal bulan bagi kita umat Islam adalah berdasar RUKYAT, atas dasar sabda Nabi SAW: “Berpuasalah kalian ketika melihat bulan dan berhenti berpuasa lah kalian ketika Anda melihat bulan”. (Hadist Riwayat Bukhory dan Muslim) dan hal ini seluruh astronom bersepakat untuk menentukan beberapa syarat dan kondisi yang tidak boleh tidak harus dipenuhi agar dapat MERUKYAT hilal dengan mata telanjang pada malam pengamatan, yaitu:
2 – Jarak bulan dari matahari (saat terbenam),tidak kurang dari 8 derajat lengkung langit.
3 – Tertunda terbenamnya bulan dari matahari setidak– tidaknya 29 menit.
4 – Permukaan b ulan yang diterangi minimal 1%.
Suatu hal yang sangat mengherankan adalah bahwa ada beberapa orang yang mengaku dapat merukyat hilal di suatu ketinggian bulan kurang dari satu derajat atau mengaku melihat Hilal di sebelah barat matahari di saat matahari terbenam, klaim ini bertentangan dengan logika ilmu pengetahuan, bertolak belakang yang nyata dengan sunnatulloh,……
saat matahari terbit kedudukan matahari terdapat pada lengkung langit sebelah,Lengkung langit pada saat matahari terbit,matahari ada di lengkung langit sebelah ?,matahari berada di lengkung langit sebelah timur



[...] keliru tentang Rukyatul Hilal”. (Sebagaimana terjadi pada saat menentukan 1 Syawal 1432 H. Lihat: Penentuan 1 Syawal 1432 H Di Saudi Menyisakan Polemik. Kasus ini sebenarnya mirip dengan kasus yang terjadi di Indonesia dimana LEMBAGA [...]