2:05 pm - Monday July 15, 1405

Penentuan 1 Syawal 1432 H Di Saudi Menyisakan Polemik

Sunday, 18 September 2011 16:57 | Ilmu Falak Online | 1 Comment | Read 770 Times

Seperti diketahui bahwa pemerintah Saudi dalam menentukan Awal Tanggal Qomariyah guna menentukan waktu- waktu ibadah seperti Romadhon- Syawal- Dzul Hijjah- selalu  mengacu berdasar Rukyat. Kemudian atas dasar kesaksian orang yang mengaku melihat hilal dimalam Senin 29 Agustus- 2011 pula pemerintah Saudi menentukan 1 Syawal- 1432 jatuh hari Selasa 30- Agustus 2011. Ternyata keputusan tersebut menimbulkan polemic di Saudi. Diantara isi polemic tersebut adalah seperti yang di siarkan secara khusus oleh Harian Sabaq di Riyadh, yang dicoba untuk diterjemahkan sebagiannya sebagaimana tulisan dibawah ini:

Tanbihun- Abdullah Barqawi – (SABAQ – 30-08-2011) – Riyadh – Saudi Arabia : Astronomical Society (Lembaga Masyarakat Astronomy/ Falak) di Jeddah, hari ini, mengeluarkan sebuah pernyataan yang menggegerkan yang membenarkan kurangnya kemampuan untuk melihat bulan sabit dari awal bulan Syawal 1432 kemarin, sebagaimana yang dipertanyakan oleh Lembaga Falakiyah Saudi yang meragukan cara menentukan malam bulan baru Syawal kemarin dan mengumumkan pernyataan itu pada Selasa hari pertama Iedul Fitri 1432 H.

Lembaga Astronomy/ Falakiyah tersebut mengatakan dalam sebuah pernyataan khusus oleh harian “SABAQ”, yakni apa yang telah dilihat sebagai  Hilal  pada malam itu untuk penentuan Idul Fitri, kemungkinan adalah planet Saturnus (bintang Zuhal, bukan Hilal). Seperti diketahui bahwa planet Saturnus, setelah matahari terbenam, ia akan berada di selatan matahari, dan  Lembaga Falakiyah mengkonfirmasi bahwa   hal ini mengingatkan apa yang terjadi beberapa tahun yang lalu di Saudi  dalam kejadian yang sama dengan planet Merkurius (bintang Athorid, yang juga disangkakan dan dianggap sebagai Hilal).

Dan apa yang telah dituduhkan sebagian  tentang ketidakmampuan Observatorium Astronomi Saudi merukyat Hilal di bulan Syawal dimana banyak para Perukyat justru dapat melihatnya dengan mata telanjang, Asosiasi berkata:” Observatorium Astronomi dikembangkan agar tidak gagal untuk memantau bulan sabit pada hari Senin malam, tetapi bukan peran mereka untuk menemukan benda angkasa yang MEMANG TIDAK ADA, dan di sini adalah permasalahan yang nyata.

Merekapun memberikan penjelasan:
Lembaga Astronomy  menekankan dengan tegas  di Jeddah bahwa laporan yang diterbitkan sebelumnya tentang mungkin tidaknya  melihat bulan sabit malam Senin Syawal, tanggal 29 bulan Ramadhan, yang menyatakan bahwa MERUKYAT HILAL adalah  tidak akan mungkin dengan mata telanjang, bahkan juga dengan  teleskop Kerajaan. Segala pernyataan ini adalah benar adanya dan tidak ada yang menentang dari para pakar yang memiliki  pengetahuan tentang keadaan hilal dan dengan suara bulat para astronom di seluruh dunia Arab mereka setuju tentang hal ini.

Masyarakat Astronomy menjelaskan bahwa ilmu Astronomy dan Ilmu perhitungan gerakan benda- benda langit termasuk bulan adalah QOTH’IYYAH (pasti berdasar mathematics) dan tidak ada keraguan tentang hal itu. Adapun  bukti terbesar adalah perhitungan yang dipakai selama ini untuk menentukan jadwal waktu  yang tepat untuk sholat, dan kalender waktu yang telah ditetapkan oleh UMMUL QURO yang dipakai diseluruh masjid- masjid untuk menentukan waktu dari sejak dulu  maupun waktu yang akan datang adalah tepat sesuai perhutungan Astronomy.

Disamping itu terjadinya fenomena gerhana matahari dan gerhana bulan dan kapan matahari dan bulan tepat melewati  Ka’bah (Yaum Roshdul Qiblah), dan kapan waktu rendezvouz/ crossing Stasiun Ruang Angkasa Internasional, semua ini adalah hasil dari perhitungan astronomi hiperbolik, Juga hal yang tidak banyak diketahui banyak orang yaitu kapan terjadinya gerhana bulan dan matahari di planet lain (selain bumi)  dan menetapkan kapan tanggal pasti  Jupiter melintas sejajar berhadapan dengan bumi. Dan kapan ketika planet- planet  tersebut berada pada posisi dekat dengan bumi, dan banyak lagi. Ini semuanya telah diamati dan terbukti tepat selama beberapa tahun terakhir.-
Presisi perhitungan ilmiah ini telah terbukti untuk menentukan bulan-bulan Qomariyah dan menentukan masa awal terjadinya bulan Qomariyah (IJTIMA’/ CONJUNCTIE). Kita tahu bahwa Tuhan menciptakan bulan sebagai  jam kosmik yang akurat, sehingga dapat  menandai awal bulan bulan dengan cara sederhana, bebas dari kerumitan.

Menentukan Awal bulan bagi kita umat Islam adalah berdasar RUKYAT,  atas dasar sabda Nabi SAW:  “Berpuasalah kalian ketika  melihat bulan dan berhenti berpuasa lah kalian ketika Anda melihat bulan”. (Hadist Riwayat Bukhory dan Muslim) dan hal ini seluruh astronom bersepakat untuk menentukan beberapa syarat dan kondisi yang tidak boleh tidak harus dipenuhi agar dapat MERUKYAT  hilal dengan mata telanjang pada malam pengamatan, yaitu:

1 – Saat matahari terbenam, usia Bulan Baru/ Hilal (sejak conjuctie) tidak  di bawah 14 jam.
2 – Jarak bulan  dari matahari (saat terbenam),tidak kurang dari 8 derajat lengkung langit.
3 – Tertunda  terbenamnya bulan dari matahari setidak– tidaknya  29 menit.
4 – Permukaan b ulan yang diterangi minimal 1%.
Dan tatkala mengetahui kepastian syarat- syarat ini adalah bisa diprediksi sebelumnya, maka menjadi mungkin pula untuk memprediksi mungkin tidaknya me Rukyat Hilal (Possibility of visibility of Moon Crecent). Memperhatikan bahwa ketiga syarat yang  terakhir adalah saling berhubungan  dengan syarat yang pertama, maka adalah sangat mungkin untuk mencukupkan dengan memastikan syarat pertama ini  akan batasan Imkaanur Rukyat Hilal di Negara manapun. Yaitu dengan cara membandingkan saat terbenamnya Bulan  dinegara tersebut dengan saat Iqtiroon/ Ijtima’/ Conjuctie. Apabila hasil (perbedaan waktunya) adalah 14 jam,  maka kesempatan  itulah saat yang tepat untuk  melihat Hilal.

Suatu hal yang sangat mengherankan adalah bahwa ada  beberapa orang yang mengaku dapat merukyat hilal di suatu ketinggian bulan  kurang dari satu derajat atau mengaku melihat Hilal di sebelah barat matahari di saat matahari terbenam, klaim ini bertentangan dengan logika ilmu pengetahuan, bertolak belakang  yang nyata dengan sunnatulloh,……

Dan apabila kita melihat kembali pelaksanaan rukyat pada sore hari Senin tgl 29- Romadhon- 1432 H, maka diketahui Ijtima’/ conjunctive terjadi pada jam 6.04 pagi. Bulan TERBENAM SEBELUM  TERBENAMNYA MATAHARI pada daerah Timur kerajaan, dan pada saat tersebut tidak diberitakan adanya seorangpun, bahwa dia dapat MERUKYAT  hilal disana. Begitu juga pada daerah barat dan selatan Kerajaan, kecuali Kerajaan bagian tengah (yang katanya dapat me rukyat hilal. Pent)
Dan yang demikian itu bertentangan dengan segala ABCD pengetahuan tentang ilmu Falak. Maka Hilal itu- jika memang dapat di rukyat- dengan rukyat yang benar dan sesungguhnya memang terjadi di daerah tengah Kerajaan, tentu rukyatnya pun akan mudah dilakukan jika kita berada di daerah barat atau sepanjang tepian pantai barat atau selatan kerajaan.
Dan ini adalah ilmu pengetahuan tentang Ilmu Falak/ Astronomy yang paling mendasar, namun kita tidak mendengar mereka dapat me RUKYAT  hilal pada daerah manapun diseluruh Kerajaan kecuali didaerah yang telah disebutkan tadi……..dst…..dst
Karawang, 16-09- 2011.
Lihat sumbernya sabq.org
Penerjamah: KHD- Karawang
Share on :

About

Syaikh Ahmad Rifa'i: Lumakuho siro kabeh nejo ing Allah,Tingkahe dangan lan abot sayah,Tingkahe sugih miskin gagah,Tuwin loro waras susah dalam manah. Follow @tanbihun_com

 

EBOOK GRATIS UNTUK ANDA !

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda, Jangan Lupa Cek Email Anda Untuk Aktifasinya !

 
Tagged with:

gambar melihat hilal,pengertian hilal

Anda mungkin juga menyukaiclose