7:06 am - Tuesday April 9, 2013

Ingin Mati Syahid

Thursday, 5 May 2011 19:14 | Kajian Online | 6 Comments | Read 1219 Times
Hidup mulia atau mati syahid

Tanbihun – Tatkala sakit tuanya telah bertambah lanjut dan ajal hampir menjemput, Kholid bin Walid – Si Pedang Allah menangis dengan sedih. Tangisan ini tentu terasa aneh dan mengundang tanya bagi para sahabatnya yang lain. Betapa tidak, Kholid bin Walid adalah pahlawan Islam, panglima yang sangat cerdik, dan dalam setiap pertempuran yang dilakukannya, hampir selalu diakhiri dengan kemenangan telak. Dia pula yang saat sebelum masuk Islam sempat membuat kocar kacir pasukan muslimin di Perang Uhud. Dia pula pahlawan perang Yarmuk pada tahun 636 dan akhirnya berhasil menguasai Palestina dan Suriah. Dia Pula yang dapat membuat kocar kacir pasukan Romawi dan Persia, dua super power pada masa itu. Maka para sahabat yang mengelilingi tempat tidurnya bertanya dengan nada heran: “ Wahai Pedang Allah, kenapa kau menangis disaat seperti ini. Apakah kau menangis karena kau takut tatkala menghadapi kematian?”.

Maka Kholid pun menjawab: “Aku menangis bukan karena aku takut mati, tapi aku menangis, sedih, serta iri pada teman- temanku seperjuangan yang telah SYAHID. Sungguh mengapa hidupku harus berakhir ditempat tidur seperti ini. Padahal cita- citaku seumur hidup ialah memohon agar aku dapat mati seperti teman- temanku yang lain, dimana mereka dapat menghadap Allah sebagai Syuhada…” .

 

Cita- cita mati Syahid sudah sangat ditanamkan sejak kecil bagi anak- anak muslim, terutama dikampung- kampung. Saya masih ingat beberapa bait yang saya hafal tanpa tahu artinya tatkala membaca Sirroh Nabawiyyah (Mauludan) di surau. Anak- anak kampung di Indonesia dan disebagian Negara muslim terbiasa membaca Barzanji- Diba’i, walaupun pada awalnya mereka hanya sekedar menghafal tanpa tahu maknanya. Dalam bait- bait syair yang biasa dihafal anak- anak dan orang kampung tradisional tersebut ada sebaris bait syair yang berbunyi:

 

ﺍﻟﻟﻬﻡ ﺼﻞ ﻋﻟﻰ ﻤﺤﻤﺪ

ﻴﺎ ﺮﺐ ﺑﻟﻐﻪ ﺍﻟﻭﺴﻴﻟﺔ

ﺍﻟﻟﻬﻡ ﺼﻞ ﻋﻟﻰ ﻤﺤﻤﺪ

ﻴﺎ ﺮﺐ ﻭﺍﺮﺯﻗﻨﺎ ﺍﻟﺸﻬﺎﺪﺓ

 

Semoga Salam Sejahtera tersanjung ke baginda Nabi Muhammad

Wahai Robb, karuniailah Nabi suatu kedudukan yang tinggi di Sorga.

 

Semoga Salam Sejahtera tersanjung ke baginda Nabi Muhammad

Wahai Robb Karuniailah kami MATI SYAHID.

 

Bait- bait syair ini tentu ditulis oleh pengarangnya , Syekh Abdurrahman Ad- Diba’i yang hafal 100.000 hadist itu bukannya tanpa dasar, tetapi mengacu pada beberapa hadist Nabi, diantaranya:

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda yang artinya : “Barangsiapa yang memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan benar untuk mati syahid, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan kedudukan sebagai syuhada meskipun ia meninggal di atas tempat tidur”. (Hadits Riwayat Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam shahihnya, Al-Hakim dan ia menshahihkannya).

 

Maka jangan heran apabila didunia muslim seperti di Indonesia tidak pernah kehabisan jumlah pahlawan. Di Indonesia dan diseluruh dunia muslim pada zaman penjajahan dahulu para pahlawan patah tumbuh hilang berganti, mati satu tumbuh seribu, karena mereka sejak kecil sudah dididik agar rela dan bahkan mengharap mati dalam keadaan Syahid.

Terkenal saat itu sebuah semboyan:

ﻋﺶ ﻜﺮﻴﻤﺎ ﺍﻮ ﻤﺖ ﺸﻬﻴﺪﺍ

“Hidup mulia atau Mati Syahid”!!!

 

Allah berfirman dalam Surat Al- Baqoroh 154 dan Ali Imron 169:

 

ﻮﻻ ﺘﻗﻮﻟﻮﺍ ﻟﻤﻦ ﻴﻗﺘﻞ ﻔﻲ ﺴﺑﻴﻞ ﺍﻟﻟﻪ ﺍﻤﻮﺍﺗﺎ ﺑﻞ ﺍﺣﻴﺎﺀ ﻮﻟﻜﻦ ﻻ ﻴﺸﻌﺮﻮﻦ

 

“Dan janganlah kamu sekalian mengatakan bahwa orang yang terbunuh dalam jihad fi sabilillah itu dalam keadaan mati, bahkan dia hidup, namun mereka tidak memahaminya”

 

ﻮﻻ ﺘﺣﺴﺑﻦ ﺍﻟﺫﻴﻦ ﻗﺘﻟﻮﺍ ﻔﻲ ﺴﺑﻴﻞ ﺍﻟﻟﻪ ﺍﻤﻮﺍﺗﺎ ﺑﻞ ﺍﺣﻴﺎﺀ ﻋﻧﺪ ﺮﺑﻬﻡ ﻴﺮﺰﻗﻮﻦ

 

“Dan janganlah kamu menganggap bahwa orang- orang yang terbunuh dalam perang sabil itu dalam keadaan mati, bahkan mereka itu hidup, disi Tuhan mereka diberikan karunia rizki sorgawi”.

 

Jenis- jenis Syahid :

Perlu diketahui dulu istilah Syahid menurut pengertian Islam.

Ada dua jenis Syahid, yakni Syahid Dunia Akherat dan Syahid Akherat saja.

  • Syahid Dunia Akherat adalah seseorang yang mati dalam tugas, atau peperangan membela agama yang kewajiban perangnya telah diputuskan oleh Pemimpin Negara sebagai Ahlul Halli Wal Aqdi.

ﺍﻋﻟﻡ ﺍﻦ ﺍﻟﻤﺻﻨﻒ ﺮﺤﻤﻪ ﺍﻟﻟﻪ ﺬﻛﺮ ﻔﻲ ﻀﺎ ﺑﻁ ﺍﻟﺸﻬﻴﺪ ﺜﻼﺚ ﻗﻴﻮﺪ : ﺍﻟﻤﻮﺖ ﺤﺎﻞ ﺍﻟﻗﺗﺎ ﻝ ﻮ ﻜﻮﻧﻪ ﻗﺗﺎ ﻞ ﻜﻔﺎﺮ ﻮﻜﻮﻧﻪ ﺑﺴﺑﺐ ﻗﺗﺎﻞ

Maksudnya :
Ketahuilah bahwa sesungguhnya musonnif (Imam Nawawi) dalam hal definisi mati syahid menuturkan tiga syarat, yaitu mati ketika berperang, perangnya melawan kafir, dan matinya karena sebab berperang. Hamisy Qolyubi Wa Umairoh Jus 1/337.

  • Syahid akhirat; adalah orang yang mati dengan sebab-sebab syahadah sebagaimana berikut: antara lain: tenggelam , sakit perut, tertimpa reruntuhan, dihukum karena dianggap extremist seperti P. Diponegoro, Cut Nya’dien, Kiyai Mojo, K.H.A.Rifa’I misalnya, dll.

Sebagaimana keterangan dalam Kitab Matan Syarqowi J.1/338:

ﻮﺧﺭﺝ ﺑﺷﻬﻴﺪ ﺍﻟﻤﻌﺮﻜﺔ ﻏﻴﺭﻩ ﻤﻦ ﺍﻟﺸﻬﺪﺍﺀ ﻜﻤﻦ ﻤﺎﺖ ﻤﺒﻁﻮﻧﺎ ﺍﻮ ﻤﺤﺪﻮﺪﺍ ﺍﻮﻏﺭﻴﻗﺎ ﺍﻮ ﻏﺭﻴﺒﺎ ﺍﻮ ﻤﻘﺘﻮﻻ ﻈﻟﻤﺎ ﺍﻮ ﻂﺎﻟﺐ ﻋﻟﻤﺎ ﻔﻴﻐﺴﻞ ﻮﻴﺼﻟﻲ ﻋﻟﻴﻪ ﻮﺍﻦ ﺻﺪﻖ ﻋﻟﻴﻪ ﺍﺴﻡ ﺷﻬﻴﺩ ﻔﻬﻮ ﺷﻬﻴﺩ ﻔﻲ ﺛﻮﺍﺐ ﺍﻷﺨﺮﺓ

Maksudnya:
“Dikecualikan dari status mati syahid dalam peperangan ialah para syuhada’ selain dalam peperangan, seperti halnya mati karena sakit perut (Tho’un/ Kolera), atau di had (hukum), atau tenggelam (ghoriq), atau diasingkan, atau dibunuh secara dzalim, atau dalam waktu mencari ilmu. Maka mereka semua itu di mandikan, dan disholati, meskipun bersetatus mati sahid, karena dia mati sahid dalam perhitungan pahala diakhirat.”

Maka mengharap Syahid pada masa damai sekarang ini, dimana tidak ada fatwa perang dari Ahlul Halli Wal Aqdi, bisa kita dapatkan dengan mencari ilmu disetiap waktu, mengajarkan Al- Qur’an tanpa kenal lelah, berdakwah dengan ikhlas untuk menyampaikan kebenaran, mengajarkan dan menulis ilmu- ilmu syari’at sampai ajal menjemput, tidak harus dengan cara mencari mati dengan mengebom sana- sini, bahkan cara model seperti ini adalah cara yang tidak dibenarkan menurut FIQH JIHAD, sebagaimana pesan Rasulullah SAW kepada sahabat Mu’adz bin Jabal tatkala beliau ditugaskan menjabat gubernur di Yaman: “ Kalian tidak boleh membakar bangunan, tidak boleh merusak tempat ibadah (agama apapun), tidak boleh membunuh para Rahib (pendeta), anak- anak, para wanita dan orang tua, terkecuali mereka menyerang kalian”…. Demikian pesan Nabi.

Oleh: KH.Khaeruddin Khasbullah

Share on :

About

Syaikh Ahmad Rifa'i: Lumakuho siro kabeh nejo ing Allah,Tingkahe dangan lan abot sayah,Tingkahe sugih miskin gagah,Tuwin loro waras susah dalam manah. Follow @tanbihun_com

 

EBOOK GRATIS UNTUK ANDA !

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda, Jangan Lupa Cek Email Anda Untuk Aktifasinya !

 
Tagged with: , ,

Syarat mati syahid,pahlawan islam,sejarah islam,Syarat syarat mati syahid,syarat mati syahid dunia,Syarat mati syahit,syarat mati sahid,sejarah peradapan islam,??? ????? ?? ?? ?????

Anda mungkin juga menyukaiclose