Tanbihun.com -Di kalangan salafi (wahabi), lelaki satu ini dianggap muhaddis paling ulung di zamannya. Itu klaim mereka. Bahkan sebagian mereka tak canggung menyetarakannya dengan para imam hadis terdahulu. Fantastis. Mereka gencar mempromosikannya lewat berbagai media. Dan usaha mereka bisa dikata berhasil. Kalangan muslim banyak yang tertipu dengan hadis-hadis edaran mereka yang di akhirnya terdapat kutipan, “disahihkan oleh Albani, ”. Para salafi itu seolah memaksakan kesan bahwa dengan kalimat itu Al-Albani sudah setaraf dengan Imam Turmuzi, Imam Ibnu Majah dan lainnya.
Sebetulnya, kapasitas ilmu al-bani sangat meragukan (kalau tak mau dibilang “ngawur”). Bahkan ketika ia diminta oleh seseorang untuk menyebutkan 10 hadis beserta sanadnya, ia dengan entengnya menjawab, “Aku bukan ahli hadis sanad, tapi ahli hadis kitab.” Si peminta pun tersenyum kecut, “Kalau begitu siapa saja juga bisa,” tukasnya.
Namun demikian dengan over pede-nya Albani merasa layak untuk mengkritisi dan mendhoifkan hadis-hadis dalam Bukhari Muslim yang kesahihannya telah disepakati dan diakui para ulama’ dari generasi ke generasi sejak ratusan tahun lalu. Aneh bukan?.
Siapakah Nashirudin al- Albani?
Dia lahir di kota Ashkodera, negara Albania tahun 1914 M dan meninggal dunia pada tanggal 21 Jumadal Akhirah 1420 H atau bertepatan dengan tanggal 1 Oktober 1999 di Yordania. Pada masa hidupnya, sehari-hari dia berprofesi sebagai tukang reparasi jam. Dia memiliki hobi membaca kitab-kitab khususnya kitab-kitab hadits tetapi tidak pernah berguru kepada guru hadits yang ahli dan tidak pernah mempunyai sanad yang diakui dalam Ilmu Hadits.
Dia sendiri mengakui bahwa sebenarnya dia tidak hafal sepuluh hadits dengan sanad muttashil (bersambung) sampai ke Rasulullah, meskipun begitu dia berani mentashih dan mentadh’iftan hadits sesuai dengan kesimpulannya sendiri dan bertentangan dengan kaidah para ulama hadits yang menegaskan bahwa sesungguhnya mentashih dan mentadh’ifkan hadits adalah tugas para hafidz (ulama ahli hadits yg menghapal sekurang-kurangnya seratus ribu hadits).
Namun demikian kalangan salafi menganggap semua hadits bila telah dishohihkan atau dilemahkan Albani mereka pastikan lebih mendekati kebenaran.
Penyelewengan Albani :
Berikut diantara penyimpangan-penyimpangan Albani yang dicatat para ulama’ :
- Menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya sebagaimana dia sebutkan dalam kitabnya berjudul Almukhtasar al Uluww hal. 7, 156, 285.
- Mengkafirkan orang-orang yang bertawassul dan beristighatsah dengan para nabi dan orang-orang soleh seperti dalam kitabnya “at-Tawassul” .
- Menyerukan untuk menghancurkan Kubah hijau di atas makam Nabi SAW (Qubbah al Khadlra’) dan menyuruh memindahkan makam Nabi SAW ke luar masjid sebagaimana ditulis dalam kitabnya “Tahdzir as-Sajid” hal. 68-69,
- Mengharamkan penggunaan tasbih dalam berdzikir sebagaimana dia tulis dalam kitabnya “Salsalatul Ahadits Al-Dlo’ifah” hadits no: 83.
- Mengharamkan ucapan salam kepada Rasulullah ketika shalat dg kalimat “Melarang Assalamu ‘alayka ayyuhan-Nabiyy”. Dia berkata: Katakan “Assalamu alan Nabiyy” alasannya karena Nabi telah meninggal, sebagaimana ia sebutkan dalam kitabnya yang berjudul “Sifat shalat an-Nabi”.
- Memaksa umat Islam di Palestina untuk menyerahkan Palestina kepada orang Yahudi sebagaimana dalam kitabnya “Fatawa al Albani”.
- Dalam kitab yang sama dia juga mengharamkan Umat Islam mengunjungi sesamanya dan berziarah kepada orang yang telah meninggal di makamnya.
- Mengharamkan bagi seorang perempuan untuk memakai kalung emas sebagaimana dia tulis dalam kitabnya “Adaab az-Zafaaf “,
- Mengharamkan umat Islam melaksanakan solat tarawih dua puluh raka’at di bulan Ramadan sebagaimana ia katakan dalam kitabnya “Qiyam Ramadhan” hal.22.
- Mengharamkan umat Islam melakukan shalat sunnah qabliyah jum’at sebagaimana disebutkan dalam kitabnya yang berjudul “al Ajwibah an-Nafiah”.
Ini adalah sebagian kecil dari sekian banyak kesesatannya, dan Alhamdulillah para Ulama dan para ahli hadits tidak tinggal diam. Mereka telah menjelaskan dan menjawab tuntas penyimpangan-penyimpangan Albani. Diantara mereka adalah:
- Muhaddits besar India, Habibur Rahman al-’Adhzmi yang menulis “Albani Syudzudzuhu wa Akhtha-uhu” (Albani, penyimpangan dan kesalahannya) dalam 4 jilid;
- Dahhan Abu Salman yang menulis “al-Wahmu wath-Thakhlith ‘indal-Albani fil Bai’ bit Taqshit” (Keraguan dan kekeliruan Albani dalam jual beli secara angsuran);
- Muhaddits besar Maghribi, Syaikh Abdullah bin Muhammad bin as-Siddiq al-Ghumari yang menulis “Irgham al-Mubtadi` ‘al ghabi bi jawazit tawassul bin Nabi fil radd ‘ala al-Albani al-Wabi”; “al-Qawl al-Muqni` fil radd ‘ala al-Albani al-Mubtadi`”; “Itqaan as-Sun`a fi Tahqiq ma’na al-bid`a”;
- Muhaddits Maghribi, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin as-Siddiq al-Ghumari yang menulis “Bayan Nakth an-Nakith al-Mu’tadi”;
- Ulama Yaman, ‘Ali bin Muhammad bin Yahya al-’Alawi yang menulis “Hidayatul-Mutakhabbitin Naqd Muhammad Nasir al-Din”;
- Muhaddits besar Syria, Syaikh ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah yang menulis “Radd ‘ala Abatil wal iftira’at Nasir al-Albani wa shahibihi sabiqan Zuhayr al-Syawish wa mu’azirihima” (Penolakan terhadap kebatilan dan pemalsuan Nasir al-Albani dan sahabatnya Zuhayr al-Syawish serta pendukung keduanya);
- Muhaddits Syria, Syaikh Muhammad ‘Awwama yang menulis “Adab al-Ikhtilaf” dan “Atsar al-hadits asy-syarif fi ikhtilaf al-a-immat al-fuqaha”;
- Muhaddits Mesir, Syaikh Mahmud Sa`id Mamduh yang menulis “Tanbih al-Muslim ila Ta`addi al-Albani ‘ala Shahih Muslim” (Peringatan kepada Muslimin terkait serangan al-Albani ke atas Shahih Muslim) dan “at-Ta’rif bil awham man farraqa as-Sunan ila shohih wad-dho`if” (Penjelasan terhadap kekeliruan orang yang memisahkan kitab-kitab sunan kepada shohih dan dho`if);
- Muhaddits Arab Saudi, Syaikh Ismail bin Muhammad al-Ansari yang menulis “Ta`aqqubaat ‘ala silsilat al-ahadits adh-dha`ifa wal maudhu`a lil-Albani” (Kritikan atas buku al-Albani “Silsilat al-ahadits adh-dha`ifa wal maudhu`a”); “Tashih Sholat at-Tarawih ‘Isyriina rak`ataan war radd ‘ala al-Albani fi tadh`ifih” (Kesahihan tarawih 20 rakaat dan penolakan terhadap al-Albani yang mendhaifkannya); “Naqd ta’liqat al-Albani ‘ala Syarh at-Tahawi” (Sanggahan terhadap al-Albani atas ta’liqatnya pada Syarah at-Tahawi”;
- Ulama Syria, Syaikh Badruddin Hasan Diaab yang menulis “Anwar al-Masabih ‘ala dhzulumatil Albani fi shalatit Tarawih”.
Saran kami. Hendaknya seluruh umat Islam tidak gegabah menyikapi hadis pada buku-buku yang banyak beredar saat ini, terutama jika di buku itu terdapat pendapat yang merujuk kepada Albani dan kroni-kroninya.
bukti bahwa Albani banyak mendhoifkan hadits2 yang telah disahihkan para imam ahli hadits uda banyak, termasuk HADITS BUKHARI dan MUSLIM
berikut contohnya sekaligus scan kitabnya
PERTAMA (Hadits Bukhori)
1. قَالَ اللَّهُ تعالى ثَلَاثَةٌ أَنَا خَصْمُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ : رَجُلٌ أَعْطَى بِي ثُمَّ غَدَرَ وَرَجُلٌ بَاعَ حُرًّا فَأَكَلَ ثَمَنَهُ وَرَجُلٌ اسْتَأْجَرَ أَجِيرًا فَاسْتَوْفَى مِنْهُ وَلَمْ يُعْطِ أَجْرَهُ
Hadis : Nabi SAW bersabda : ”Allah SWT berfirman bahwa ‘Aku akan menjadi musuh dari tiga kelompok orang : 1). Orang yang bersumpah dengan nama Allah namun ia merusaknya, 2). orang yang menjual seseorang sebagai budak dan memakan harganya, 3). Dan orang yang mempekerjakan seorang pekerja dan mendapat secara penuh kerja darinya (sang pekerja) tetapi ia tidak membayar gajinya” (HR Bukhari)
Albani menyatakan bahwa hadis ini DHOIF!!! dalam ‘Dhoif Al-Jami’ as Soghir hadis No 4050 hal 590 (lihat scan kitab)
Apakah albani tidak tahu bahwa hadits ini disebut 2 kali dalam sahih Bukhari No 2075 dan 2109?
Nih teks lengkapnya
2075 – حَدَّثَنِي بِشْرُ بْنُ مَرْحُومٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمٍ عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أُمَيَّةَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ اللَّهُ ثَلَاثَةٌ أَنَا خَصْمُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَجُلٌ أَعْطَى بِي ثُمَّ غَدَرَ وَرَجُلٌ بَاعَ حُرًّا فَأَكَلَ ثَمَنَهُ وَرَجُلٌ اسْتَأْجَرَ أَجِيرًا فَاسْتَوْفَى مِنْهُ وَلَمْ يُعْطِ أَجْرَهُ
2109 – حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ سُلَيْمٍ عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أُمَيَّةَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى ثَلَاثَةٌ أَنَا خَصْمُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَجُلٌ أَعْطَى بِي ثُمَّ غَدَرَ وَرَجُلٌ بَاعَ حُرًّا فَأَكَلَ ثَمَنَهُ وَرَجُلٌ اسْتَأْجَرَ أَجِيرًا فَاسْتَوْفَى مِنْهُ وَلَمْ يُعْطِهِ أَجْرَهُ
Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah ra. !!!

KEDUA (Hadits Muslim)
لَا تَذْبَحُوا إِلَّا مُسِنَّةً إِلَّا أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوا جَذَعَةً مِنْ الضَّأْنِ
Hadis : ‘Berkurban itu hanya untuk sapi yang dewasa, jika ini menyulitkanmu maka dalam hal ini kurbankanlah domba jantan !! (HR Muslim)
Albani menyatakan bahwa hadis ini ‘DHOIF‘ dalam ‘Dhoif Al-Jami’ as Soghir hadis No 6209 Hal 896 (lihat scan kitab)
padahal hadis ini disebut dalam SAHIH MUSLIM, hadis no 3631
teks lengkapnya…
3631 – حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَذْبَحُوا إِلَّا مُسِنَّةً إِلَّا أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوا جَذَعَةً مِنْ الضَّأْنِ
Selain itu hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, Nasa’i dan Ibn Majah dari Jabir r.a.
sekarang monggo dilihat

sumber : forsansalaf.com
al bani,al-bani,syaikh albani,imam al-Bani,ketergelinciran ramadhan al buthi,mengenal albany,para muhadist akhir zaman,penilaian hb Munzir tentang syeck albani,riwayat kesesatan syekh al bani



Beberapa Tuduhan yang di alamtkan pada Syaikh Albani beserta jawabanya.
Oleh : Gholib Arif Nushoiroot
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah. Wa Ba’du.
Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah, ahli hadits abad ini, dijuluki sebagai muhaddits As-Syam (ahli hadits negeri Syam) –andai saja dijuluki sebagai Muhadditsud Dunya (ahli hadits dunia)- tentu ia berhak menyandangnya, wa la uzakki’ ala Allahi ahada. Beliau sebagaimana ulama lainnya, pernah dilontarkan kepadanya tuduhan-tuduhan dan kedustaan-kedustaan.
Kedustaan dan tuduhan tersebut terangkum dalam sembilan point berikut ini:
1. (Al-Albani) ahli hadits yang tidak paham fikih
2. Tidak mengetahui ilmu ushul
3. Tidak memiliki guru.
4. Syad (ganjil), menyendiri dari pendapat umumnya masyarakat.
5. Tidak menghormati ulama, dan tidak mengetahui ketinggian kedudukan mereka.
6. Bermadzhab dzhoiri
7. Mutasahil (gampang/mudah) men-shahih-kan hadits
8. Keputusannya dalam menghukumi hadits-hadits berlawanan, satu sama lain.
9. Tidak perhatian dengan matan hadits.
Tuduhan-tuduhan dusta di atas pernah dilontarkan kepada mayoritas ulama hadits di sepanjang masa. Dan saya melihat hal ini perlu dipaparkan dan dijawab demi membela mereka seutuhnya. Dengan harapan agar amalan yang sedikit ini termasuk dalam bab berbakti kepada mereka.
1. Ahli Hadits Yang Tidak Paham Fikih
Ungkapan ini, bila dimaksudkan hanya sekedar untuk mensifati bahwa beliau (Syaikh Al-Albani,-pent) termasuk ulama ahli hadits yang piawai dan pakar dibidangnya, dan tidak ada maksud lain yang mengurangi ketinggian ilmu fikih beliau, maka ungkapan ini tidak perlu dijawab. Karena Imam Al-Albani merupakan salah satu ahli hadits abad ini yang dapat disaksikan keilmuannya, dan peran aktifnya di bidang hadits. Dan ini dapat dibuktikan bersama. Perkara tersebut –walhamdulillah- sepengetahuanku merupakan perkara yang tidak diperselisihkan oleh siapa saja (kecuali mereka yang hasad, dengki, dan iri dengan beliau,-pent).
Adapun jika ungkapan tersebut bermaksud untuk menggugurkan keilmuan Syaikh Al-Albani dalam bidang fikih hadits, penjelasan maknanya, pilihan-pilihannya, dan hasil tarjih beliau dalam masalah-masalahnya, maka ini adalah makna yang munkar dan batil. Dan dapat dijawab dengan pernyataan berikut ini.
Kita katakan kepada mereka : Apa sebenarnya arti fikih menurut kalian? Jika maksud kalian adalah menghafal masalah-masalah, matan-matan, dan masuk ke dalam permasalahan yang bersifat tidak nyata, tanpa mendasari semua itu dengan dalil yang shahih, maka Imam Al-Albani sungguh seorang yang amat jauh dari hal itu.
Dan jika maksud kalian adalah memahami dan mempelajari dalil-dalil dari Al-Qur’anul Karim dan As-Sunnah Ash-Shahihah dengan pemahaman para sahabat dan tabi’in, tanpa fanatik kepada seseorang kecuali kepada dalil, maka kami minta kepada kalian untuk mendatangkan sebuah dalil yang menunjukkan bahwa Imam Al-Albani tidak seperti itu.
Sesungguhnya kalimat “ahli hadits yang tidak paham fikih” dengan makna batil tersebut merupakan ungkapan setan yang bertujuan untuk merendahkan kadar dan kedudukan ahli hadits, dan bahwa seorang ahli fikih tidak memerlukan ilmu hadits.
Ungkapan tersebut awalnya ketergelinciran dan bid’ah, akhirnya penghalalan (lepas diri) dan zindiq (kemunafikan). Dikatakan bid’ah, karena kita tidak pernah menemukannya dari salafush shalih. Dikatakan penghalalan dan zindiq, karena ucapan tersebut bisa mengakibatkan dibuangnya seluruh perkataan ulama. Yang kemudian bisa menggugurkan syari’at dan meghilangkan hukum-hukum Islam. Sehingga dikatakan sesekali : Hukum ini adalah perkataan fulan yang merupakan ahli hadits, dia bukan ahli fikih. Kemudian dikatakan lain kali ; Hukum ini adalah ucapan fulan yang merupakan ahli fikih, dia ahli hadits. Dan hasil akhirnya adalah berlepas diri dari hukum agama!!!
2. Tidak Mengetahui Ilmu Ushul
Tuduhan ini mana buktinya ? Dan realita yang ada di kitab-kitab Al-Albani adalah kebalikannya. Bahkan cerita yang popular dari biografi beliau, bahwasanya ia dahulu mengadakan dua kali kajian yang dihadiri oleh mahasiswa Universitas Islam Madinah dan sebagian staff dosen Universitas tersebut. Diantara kitab yang diajarkan oleh beliau di halaqah ilmiyah tersebut adalah kitab Ushulul Fikih karya Abdul Wahhab Khallaf.
Dan tuduhan ini –penafian kadar keilmuan ushul fikih beliau- ditelan mentah-mentah oleh sebagian mereka untuk mencela para ahli hadits, yang kemudian mereka gunakan untuk melemparkan tuduhan kepada para ahli hadits tersebut. Dan kepada mereka saya katakan : Termasuk perkara yang penting, harus diperhatikan poin-poin berikut.
a. Bahwasanya Sunnah Nabawiyyah merupakan petunjuk hukum-hukum yang ada dalam Al-Qur’an , sebagaimana yang dikatakan Imam Ahmad bin Hanbal dalam karyanya As-Sunnah riwayat Abdus : Setiap hukum dalam Al-Qur’an ditunjukkan oleh As-Sunnah, dijelaskannya dan ditunjukkan maksudnya. Dan dengan As-Sunnah bisa menghantarkan untuk mengetahui maknanya
b. Sesungguhnya ilmu ushul dibangun atas dasar petunjuk-petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan menggunakan bahasa Arab, dengan memperhatikan adat masa diturunkannya syari’at. Dan perkara ini hanya diberikan kepada sahabat. Tidak ada yang ikut serta dan mengetahuinya kecuali mereka sendiri. Dan tidak pula ada jalan untuk sampai kepada hal tersebut kecuali dengan jalan mereka (para sahabat).
Apabila telah jelas dua poin di atas, maka ketahuilah, bahwa ahli hadits merupakan orang yang paling bahagia dengan kedua poin tersebut. tidak seorang pun yang lebih tahu dari mereka tentang kabar yang dibawa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak seorang pun yang lebih tahu dari mereka tentang berita dari sahabat. Maka merekalah yang sebenarnya ahli ilmu ushul. Dan diantara manhaj mereka adalah menjadikan dalil-dalil Al-qur’an dan As-Sunnah sebagai dasar untuk membangun ilmu ushul. Bukankah para ulama ushul tidaklah beraktivitas kecuali untuk hal ini?
Dari sini engkau mengetahui, bahwa ahli hadits merekalah sebenarnya ulama ushul syariat ini, yang mengetahui kaedah-kaedah pengambilan hukum dari sela-sela usaha mereka untuk mengikuti apa yang datang dari sahabat dan tabi’in.
3. Tidak Memiliki Guru
Tuduhan ini terlalu tergesa-gesa untuk diucapkan. Sebab Syaikh Al-Albani pernah belajar beberapa ilmu alat dari ayahnya, seperti ilmu shorof. Beliau juga belakar darinya beberapa kitab madzhab Hanafi, seperti Mukhtashor Al-Qaduri. Darinya juga beliau belajar Al-Qur’an dan pernah menghatamkan riwayat Hafsh beserta tajwidnya.
Beliau pun pernah belajar dari Syaikh Sa’id Al-Burhani kitab Maraqi Al-Falah, sebuah kitab yang bermadzhab Hanafi, dan kitab Syudzurudz Dzahab di cabang ilmu nahwu serta beberapa kitab balaghah
Beliau juga pernah menghadiri seminar-seminar Al-Allamah Muhammad Bahjat Al-Baithar bersama beberapa ustadz dari Al-Majma Al-Islami Damaskus, diantaranya : Izzudin At-Tanukhi. Waktu itu mereka belajar kitab Al-Hamasah syairnya Abu Tammam.
Di akhir hayatnya, beliau sempat bertemu dengan Syaikh Muhammad Raghib Ath-Thabbakh. Beliau pun menyatakan takjub dengan Syaikh Al-Albani, dan menghadiahkan kepada beliau kitab Al-Anwar Al-Jaliyah Fi Mukhtashar Al-Atsbat Al-Hanbaliyah.
Apabila engkau tahu semua ini, maka jelas bagimu bahwa tuduhan dusta mereka “Al-Albani tidak memiliki guru” menyelisihi realita yang ada.
Dan tentunya tidak mengurangi kedudukan Syaikh meskipun hanya sedikit gurunya. Betapa banyak ulama yang hanya memiliki sedikit guru, dan itu tidak mempengaruhi kredibilitas keilmuannya. Bahkan diantara perawi hadits ada yang tidak meriwayatkan hadits kecuali dari dua atau tiga orang saja, bahkan ada juga yang berguru dari seorang Syaikh saja. Namun ternyata para ulama bersaksi akan kekuatan dan kesempurnaan hafalannya. Dan hal itu tidak menjadi alasan yang mencegah untuk mengambil ilmu dan meriwayatkan hadits dari mereka.
Adalah Abu Umar Ahmad bin Abdullah bin Muhammad Al-Lakhami yang terkenal dengan sebutan Ibnul Baji (wafat mendekati tahun 400H) yang merupakan penduduk daerah Isybilia. Dia adalah satu-satunya ulama dan ahli fikih yang ada pada waktu itu. Beliau mengumpulkan cabang ilmu hadits, fikih, dan keutamaan. Dan beliau menghafal dengan baik beberapa kitab-kitab sunnah dan penjelasan maknanya.
4. Syad (Ganjil), Menyendiri Dari Pendapat Umumnya Masyarakat
Ini juga merupakan tuduhan kosong belaka. Karena sesungguhnya ulama ahli hadits, begitu pula Al-Albani –wa laa uzaki ‘ala Allahi ahada- termasuk orang yang terasing yang menghidupkan sunnah-sunnah yang dimatikan oleh kebanyakan orang. Adapun istilah ahli hadits : Fulan sendirian dalam meriwayatkan hadits ini, ini tidak berarti bahwa ia tidak paham masalah dan tidak pula kita menayandarkan istilah ganjil kepadanya
Dalam kitab Al-Ihkam Fi Ushulil Ahkam (5/661-662) Abu Muhammad Ibnu Hazm berkomentar : Sesungguhnya batasan istilah ganjil adalah dengan menyelisihi kebenaran. Maka siapa saja yang menyelisihi kebenaran dalam suatu permasalahan maka ia termasuk ganjil dalam masalah tersebut, meskipun jumlahnya sebanyak penduduk muka bumi atau sebagiannya. Sedangkan Al-Jama’ah, secara keseluruhan mereka adalah ahlul haq, meskipun dimuka bumi tidak ada dari mereka kecuali seorang saja, maka ialah Al-Jama’ah, dan ini adalah secara globalnya. Meskipun hanya Abu Bakar dan Khadijah saja yang masuk Islam, maka mereka berdua adalah Al-Jama’ah. Sedangkan siapa saja dari penduduk bumi selain mereka berdua dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka adalah ahlu ganjil (menyimpang) dan perpecahan.
Maka bukanlah maksud dari istilah ganjil adalah seorang ulama yang menyelisihi jama’ah ulama lainnya. Bukanlah arti ganjil menyelisihi perbuatan yang sering diamalkan atau tersebar luas di masyarakat. Betapa banyak permasalahan yang dipegang teguh oleh ulama dengan pendapat yang menyendiri, seperti Abu Hanifah, Malik, dan juga Ahmad. Dan hal itu tidak dianggap sebagai aib bagi mereka, tidak mengurangi kefakihan mereka apalagi menghalang-halanginya, juga tidak menjadikan mereka disifati ganjil atau menyendiri.
Bagaimana mungkin bisa disifati dengan ganjil orang yang memurnikan peneladanan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam?
Bahkan sebelum ulama yang menyelisihi sunnah atau atsar tidak dikatakan oleh ulama yang lain dengan ucapan : Mereka ganjil, mereka menyendiri. Adalah Al-Hafizh Ibnu Abi Syaibah (wafat 235H) di dalam kitabnya Al-Mushshannaf mengarang sebuah judul : Bantahan untuk Abu Hanifah. Beliau mengawalinya dengan perkataan : Ini adalah permasalahan yang Abu Hanifah menyelisihi berita yang telah datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Adalah Al-Laits bin Sa’ad berkata : Aku pernah menghitung permasalahan Malik bin Anas yang berjumlah tujuh puluh, seluruhnya menyelisihi sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam semua permasalahan itu ia berpendapat dengan akalnya. Komentar Al-Laits : Dan aku pernah menuliskan ini untuknya. Cerita atsar ini ada dalam kitab Jami’u Bayanil Ilmu wa Fadhlihi 92/148).
Kemudian kapankah amalan kebanyakan orang menjadi hujjah secara mutlak dalam syari’at ini, yang mana dalil-dalil ditolak karenanya ? Dosa apa yang dilakukan para ahli hadits dan Al-Albani tatkala mereka berpegang dengan hadits yang telah jelas bagi mereka derajat keshahihannya, dan tidak pernah nampak perkataan kuat yang menyelisihinya, kemudian mereka mengamalkannya, dan mengajak orang lain untuk menghidupkan sunnah yang dikandung oleh hadits itu. Maha Suci Allah!, mereka bukannya diberikan ucapan terima kasih malah dicela, kemudian dijuluki dengan gelar ganjil atau menyendiri!
5. Tidak Menghormati Ulama Dan Tidak Mengetahui Ketinggian Kedudukan Mereka.
Adapun perkataan tersebut, maka hanya tuduhan yang tidak berdalil. Bahkan realita yang ada adalah kebalikannya. Penyebab tuduhan itu adalah prasangka salah sebagian orang yang mengira bahwa Syaikh Al-Albani tatkala mengamalkan hadits shahih yang belum pernah diketahui seorang yang menyelisihinya, mereka mengira bahwa perbuatan beliau tersebut menjatuhkan kredibilitas para ulama yang tidak mengamalkannya, dan berarti beliau tidak menghormati mereka. Parasangka salah tersebut tidak perlu terlalu diperhitungkan, dengan alasan sebagai berikut :
Tentu beda antara memurnikan amalan untuk mengikuti Rasulullah dan menjatuhkan perkataan ulama lain. Maksud dari mengikuti Rasulullah yaitu tidak mendahulukan perkataan seseorang dari ucapan beliau, siapapun orangnya. Akan tetapi, pertama engkau melihat keabsahan hadits. Apabila hadits tersebut shahih, maka yang kedua engkau harus memahami maknanya. Jika sudah jelas (maknanya) bagimu maka engkau tidak boleh menyimpang darinya, meskipun semua orang di timur bumi dan baratnya menyelisihimu.
Dan diantara perkataan berharga Syaikh Al-Albani sebagaimana dalam As-Silsilah Ash-Shahihah, ketika mengomentari hadits nomor 221, beliau berkata : Ambil dan peganglah hadits Rasulullah. Gigitlah ia dengan gigi geraham. Jauhilah olehmu pendapat-pendapat orang, sebab dengan adanya hadits maka pendapat menjadi batal, dan jika datang sungai Allah (dalil naqli) maka hilanglah sungai akal (dalil aqli).
Sekedar pengetahuan, -setahu saya- tidak ada sebuah permasalahan yang dipilih oleh Al-Albani kecuali pernah dikatakan oleh para ulama sebelumnya. Beliau senantiasa antusias menyebutkan ulama salaf yang sependapat dengannya. Beliau juga antusias mengamalkan pendapat yang sejalan dengan dalil.
Syaikh Al-Albani selalu merujuk ke perkataan ulama, mengambil pelajaran darinya, juga mengambil faedah dari perkataan tersebut tanpa fanatik ataupun taklid. Beliau berkata di muqaddimah kitab sifat shalat Nabi.
Adapun merujuk ke perkataan mereka –yakni ulama- , mengambil faedah darinya, memanfaatkannya untuk mencari kebenaran dari permasalahan yang mereka perselisihkan yang tiada dalilnya dari Al-Qut’an dan As-Sunnah, atau untuk membantu memahami permasalahan yang butuh kejelasan, maka ini adalah sesuatu yang tidak kami ingkari. Bahkan kami memerintahkan dan menyarankan hal tersebut, sebab manfaat darinya bisa diharapkan bagi orang yang meniti jalan hidayah dengan Al-Kitab dan As-Sunnah.
Tersisa isyarat tentang permasalahan kerasnya Syaikh dalam membantah orang yang menyelisihinya. Realita yang ada menyatakan bahwa permasalahan ini bersifat relatif, setiap orang berbeda satu sama lain. Sebagian dari mereka menyebutnya dengan istilah sifat obyektif dalam membahas, sekedar mencari kebenaran tanpa basa-basi. Sedangkan yang lainnya menyebutnya dengan istilah keras dan tidak berlemah lembut. Bagaimanapun juga, sudah sepantasnya tidak dihindari poin-poin berikut ini.
a). Bahwasanya sebagian dari mereka meminta kepada Syaikh untuk lemah- lembut dalam membantahnya hingga batas kewajaran. Anehnya, mereka meminta kepada Syaikh untuk membantahnya dengan aturan tertentu yang mereka sendiri tidak dipergunakan ketika membantah orang-orang yang berbeda pendapat dengan mereka.
b). Sikap keras demi memperjuangkan kebenaran bukan berarti kebatilan, sehingga tidak ada alasan untuk tidak menerima kebenaran tersebut.
c). Bahwasanya berlemah-lembut untuk memperjuangkan kabatilan bukan berarti kebenaran.
d). Dan terkadang bersikap keras merupakan sikap hikmah dalam berdakwah.
Tentang sikap keras yang dituduhkan kepada Syaikh, beliau memiliki komentar tentang itu di As-Silsilah Adh-Dha’ifah, jilid pertama halaman 27.
6. Bermadzhab Dzohiri
Tuduhan ini juga perlu bukti. Adapun sifat yang disandarkan kepada ahli hadits bahwa mereka termasuk ahli dzahir, ini merupakan kata-kata yang terdengar setiap masa. Oleh karena itu disandarkannya sifat tersebut kepada Syaikh Al-Albani bukanlah suatu yang aneh, sebab beliau termasuk ahli hadits.
Untuk menghilangkan kesamaran yang telah merasuki otak sebagian orang, perlu dipaparkan beberapa pertanyaan berikut.
- Apakah Syaikh pernah berkata terus terang di kitab-kitabnya bahwa ia bermadzhab dzahiri?
- Apakah Syaikh yang hanya sekedar menukil perkataan dari kitab Ibnu Hazm bisa dikatakan bermadzhab dzahiri?
Perlu diketahui bahwa Syaikh Al-Albani di beberapa tempat dari kitabnya mencela keras Ibnu Hazm Adz-Dzahiri. Di kitab Tamamul Minnah, halaman 160 beliau berkomentar : Untuk menyelisihi pendapat yang dipegang oleh Ibnu Hazm.
Pada kitab yang sama, halaman 162 beliau berkata : Saya merasa heran dengan Ibnu Hazm seperti kebiasaannya berpegang teguh dengan madzhab Dzahiri.
Diantara karangan Syaikh, ada sebuah kitab yang membantah Ibnu Hazm dalam masalah alat musik. Oleh karenanya, maka ahli hadits –termasuk Al-Albani- termasuk orang yang paling jauh dari kesalahan-kesalahan yang ulama catat dari madzhab Dzahiriyah.
Bahkan Syaikh berbicara dengan terus-terang tidak hanya pada satu tempat, dan yang paling popular adalah di muqaddimah kitab Sifat Shalat Nabi bahwasanya dalam manhajnya, beliau bersandar kepada hadits-hadits dan atsar, tidak keluar dari keduanya, menghargai para imam dan mengambil manfaat dari fikih mereka.
7. Mutasahil (Gampang/Mudah) Menshahihkan Hadits
Hal ini bersifat relatif, berbeda sesuai dengan masing-masing orang. Barangsiapa yang mutasyaddid (terlalu keras/mempersulit) ia melihat orang lain mutasahil, dan siapa yang mutasahil ia melihat orang lain mutasyaddid. Dan yang menjadi pegangan dalam mengetahui yang benar dalam masalah ini adalah dengan banyak membaca, berusaha mengetahui keadaan, dan saling membandingkan satu sama lain.
Sejumlah permasalahan yang disandarkan kepada Al-Albani bahwa ia mutasahil diantaranya:
a. Menghasankan hadits dha’if dengan banyaknya jalan.
b. Menerima hadits seorang perawi yang tidak diketahui keadaannya, dan bersandar pada tautsiq Ibnu Hibban (rekomendasi beliau untuk perawi hadits)
c. Beliau menerima dan memberikan rekomendasi kepada beberapa perawi yang lemah.
Semua jenis hadits lemah dapat menerima penguat dan pendukung, hadits tersebut akan naik derajatnya dengan banyaknya jalan, kecuali hadits yang pada sanadnya terdapat perawi yang pendusta dan pemalsu hadits, perawi hadits yang tertuduh berdusta, dan perawi hadits yang berada pada derajat ditinggalkan (seperti perawi yang sangat buruk hafalannya), hadits syadz (ganjil, menyelisihi hadit lainnya), dan hadits munkar.
Adapun menerima hadits dari seorang perawi yang tidak diketahui keadaannya dan bersandar kepada tautsiq Ibnu Hibban, ini merupakan permasalahan yang disandarkan kepada Syaikh Al-Albani tanpa dalil yang shahih yang mendukungnya. Dan yang benar, bahwa tidak hanya pada satu tempat Syaikh Al-Albani membantah orang yang bersandar kepada tautsiq Ibnu Hibban dan beliau mensifatinya dengan kata-kata mutasahil.
Beliau juga telah menulis pada muqaddimah kitab Tamamul Minnah, halaman 20-26, kaedah yang kelima dengan judul “Tidak dibolehkannya bersandar dengan Tautsiq Ibnu Hibban”.
Permasalahan rekomendasi beliau kepada beberapa perawi yang lemah merupakan tuduhan semata, dimana mereka (yang melontarkan tuduhan tersebut) tidak mampu mendatangkan seorang perawi yang disepakati bersama kelemahannya, lalu datanglah Al-Albani dan memberinya rekomendasi tersebut.
8. Keputusannya Dalam Menghukumi Hadits-Hadits Sering Berlawanan Satu Sama Lain.
Dakwaan tersebut merupakan kebodohan atau pura-pura bodoh dengan realita yang ada. Ketahuilah wahai saudaraku –semoga Allah senantiasa menjagamu-, termasuk perkara yang diketahui bersama, menurut ahlu sunnah wal jama’ah bahwa sifat ishmah (terbebas dari kesalahan) tidak mungkin bisa disandang kepada seorangpun dari umat ini kecuali kepada Nabi. Dan kita –segala puji dan karunia hanya milik Allah- meyakini akan dasar ini. Tidak mungkin Al-Albani menyandang sifat ma’shum sebagaimana para ulama yang lainnya.
Akan tetapi, apakah hanya dengan melakukan kesalahan dan memiliki pendapat yang kontradiksi seorang alim dinyatakan gugur dan terlepas darinya gelar keilmuannya? Saya kira, tidak ada seorang ulama yang adil yang berpendapat demikian.
Baiklah, barang siapa yang banyak kesalahannya, yang mana kesalahannya lebih dominan dari pada pendapat benarnya, niscaya gugurlah hujjah darinya, dan hilanglah sifat kuat hafalannya. Apabila terwujudkan hal ini, maka ketahuilah bahwa semua hadits yang disandarkan kepada Al-Albani dengan hukum yang saling berlawanan tidak mempengaruhi ketsiqohan beliau dan ketsiqohan ilmunya di sisi ulama yang adil –segala puji hanya untuk Allah-. Karena prosentasi hadits-hadits yang disebutkan dan telah dihukumi oleh Al-Albani dengan hukum yang kontradiksi dibanding hadits-hadits yang lainnya, hanya sedikit dan tidak diperhitungkan, serta tidak mampu mengotori bahtera ilmunya. Karena air apabila sudah mencapai dua kullah tidak akan membawa sifat kotor. Dan penyandaran kontradiksi ini merupakan tuduhan iri dengki yang mayoritasnya merupakan penipuan kotor belaka.
Apabila diteliti penyandaran tersebut, tidak akan selamat kecuali sangat sedikit sekali, dan semua itu tidak keluar dari keadaan-keadaan beikut ini.
a). Hadits-hadits yang dihukumi berbeda oleh Syaikh setelah nampak jelas baginya ilmu yang benar.
b). Hadits-hadits yang dihukumi oleh beliau dengan melihat kepada jalannya, kemudian beliau menemukan jalan yang lainnya.
c). Hadits-hadits yang dihukumi oleh beliau dengan dasar pendapat yang rajih (kuat) sesuai keadaan perawi tersebut, kemudian beliau mengoreksi kembali ijtihadnya dan menemukan hukum yang berbeda.
d). Hadits-hadits yang tidak mempunyai cacat, kemudian nampak cacatnya menurut beliau.
e). Hadits-haditys yang tidak diketahui adanya syahid (penguat) dan mutaba’ah (penguat), kemudian beliau mengetahuinya
Saya sarankan para pembaca untuk merujuk ke kitab ‘Al-Anwar Al-Kasyifah Li Tanaqudhat Al-Khassaf Az-Zifah”, yang menguak kesesatan, penyimpangan dan sikap sembrono yang ada di dalamnya.
9. Tidak Perhatian Dengan Matan Hadits
Inipun dusta semata dan kebatilan yang tidak berdasar. Kenyataan yang ada di kitab Syaikh, membatalkan tuduhan tersebut. Oleh sebab itu saya akan mendatangkan sebuah hadits yang dikritik habis matannya oleh Al-Albani setelah dikritisi habis sanadnya.
Diantaranya hadits kedua dari kitab Silisilah Al-Ahadits Ad-Dha’ifah. Hadits tersebut berbunyi.
“Barangsiapa yang shalatnya belum mampu menahan dirinya dari perbuatan keji dan munkar, niscaya tidak akan bertambah dari Allah kecuali jarak yang semakin jauh”.
Setelah Syaikh mengomentari sanad hadits, beliau menuju ke matan hadits seraya berkata: Matan hadits ini tidak sah, sebab zhahirnya mencakup orang yang melakukan shalat lengkap dengan syarat dan rukun-rukunnya. Yang mana syari’at ini menghukuminya sah. Meskipun orang yang melakukan shalat tersebut terus menerus melakukan beberapa maksiat, maka bagaimana mungkin hanya karena itu, shalatnya tidak akan menambah kecuali jarak yang semakin jauh. Hal ini tidak masuk akal dan tida disetujui oleh syari’at ini, dst…
Dengan ini usailah tujuan kami, dan segala puji hanya untuk Allah yang dengan-Nya sempurnalah segala kebaikan. Sebagai pelengkap, berikut ini kami sertakan pula beberapa pujian para ulama kepada beliau rahimahullah.
Pujian Ulama Kepada Syaikh al Albani rahimahullah:
1. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah mengatakan, “Saya tidak pernah mengetahui seorang pun di atas bumi ini yang lebih alim dalam bidang hadits pada masa kini yang mengungguli Syaikh al Albani rahimahullah.” [Majalah ash Shalah, Yordania th. 4 Edisi 23/Sya’ban/th. 1420 H., hal. 76]
2. Syaikh bin Baz rahimahullah juga mengatakan, “Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani adalah mujaddid zaman ini dalam dugaanku, wallahu a’lam.”
3. Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah berkata mensifati Syaikh al Albani, “Ahli hadits negeri Syam, pemilik ilmu yang sangat luas tentang hadits secara riwayah dan dirayah. Allah Ta’ala menganugerahkan manfaat yang banyak kepada manusia melalui karya-karya ilmiahnya berupa ilmu dan semangat mempelajari ilmu hadits.” [Hayatul Albani II/543 oleh Muhammad bin Ibrahim ays Syaibani]
4. Syaikh al Utsaimin juga berkata, “Imam ahli hadits. Saya belum mendapati seorang pun yang menandinginya di zaman ini.” [Kaset Majalis Huda wa Nur Aljazair no. 4 tanggal 9/Rabi’ul Awal 1420 H]
5. Pujian Asy Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rohimahullohu, “Yang saya ketahui tentang Syaikh, dari pertemuan saya dengan beliau –dan itu sangat sedikit- bahwa beliau sangat teguh di dalam mengamalkan As Sunnah dan memerangi bid’ah, baik dalam aqidah maupun amaliyah. Dan dari telaah saya terhadap karya tulis beliau, saya mengetahui bahwa beliau memiliki ilmu yang luas di dalam hadits, riwayat maupun dirayat. Dan bahwasannya Alloh memberikan manfaat yang banyak dari karya tulis beliau, baik dari segi ilmu maupun metodologi….” [Shahih At-Targhib Wa At-Tarhib” jilid 1]
6. Syaikh al ‘Allaamah ‘Abdul Muhsin bin Hamd al ‘Abbad, pengajar di Masjid Nabawi saat ini berkata, “Syaikh al ‘Allamah al Muhaddits Muhammad Nashiruddin al Albani. Saya tidak menjumpai orang pada abad ini yang menandingi kedalaman penelitian haditsnya.” [Rifqan Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah hal. 35-36]
7. Syaikh Humud bin Abdullah at Tuwaijiri mengatakan, “Sekarang ini al Albani menjadi tanda atas sunnah. Mencela beliau berarti mencela sunnah.” [Maqalatul Albani hal. 224 oleh Nurudin Thalib]
8. Syaikh Dr. Bakr bin ‘Abdillah Abu Zaid, anggota komisi fatwa Saudi Arabia mengatakan dalam membantah ucapan Muhammad Ali ash Shabuni, “Ini merupakan kejahilan yang sangat dan pelecehan yang keterlaluan, karena kehebatan ilmu al Albani dan perjuangannya membela sunnah dan ‘aqidah salaf sangat populer dalam hati para ahli ilmu. Tidak ada yang mengingkari hal itu kecuali musuh yang jahil.” [at Tahdzir min Mukhtasharat as Shabuni fi Tafsir hal. 41]
9. Syaikh al Muhaddits Abdush Shamad Syarafuddin, pengedit Kitab Sunan Kubra karya Imam an Nasai telah menulis surat kepada al Albani rahimahullah sebagai berikut, “Telah sampai sepucuk surat kepada Syaikh ‘Ubaidullah ar Rahmani, ketua Jami’ah as Salafiyah dan penulis Mir’aah al Mafaatih Syarah Misykah al Mashahib sebuah pertanyaan dari lembaga fatwa Riyadh Saudi Arabia tentang hadits yang sangat aneh lafaznya, agung maknanya dan memiliki korelasi erat dengan zaman kita. Maka, seluruh ulama di sini semua bersepakat untuk mengajukan pertanyaan tersebut kepada seorang ahli hadits yang paling besar abad ini, yaitu Syaikh al Albani rahimahullah, ‘alim Rabbani.” [Hayatul Albani I/67, Majalah at Tauhid, Mesir th. 28 Edisi 8/Sya’ban/th. 1420 H, hal. 45]
10. Ucapan pendekar hadits asal India kelahiran Uttar Pradesh Dr. Muhammad al Mushthafa al A’zhami, “Bila Syaikh (al Albani) berbeda hukum denganku dalam masalah shahih dan dha’ifnya hadits, maka saya menetapkan pendapatnya, karena saya percaya kepadanya, baik dari segi ilmu dan agama.” [Dr. Musthafa al A’zhami dalam Muqadimah Shahiih Ibni Khuzaimah I/6, 32]
11. Sikap hormat Asy Syaikh al-Allamah Muhammad Amin asy-Syinqithi rohimahullohu (ahli tafsir yang tidak ada bandingannya di zamannya) yang tak lazim kepada Syaikh Al Albani, dimana saat beliau melihat Al Albani berlalu padahal beliau tengah mengajar di Masjid Nabawi, beliau menyempatkan diri berdiri untuk mengucapkan salam kepada Al Albani demi menghormatinya. [Shahih At-Targhib Wa At-Tarhib” jilid 1]
12. Pujian al-Allamah Muhibbuddin al-Khathib rohimahullohu, “Di antara para da’i kepada as-Sunnah, yang menghabiskan hidupnya demi bekerja keras untuk menghidupkannya adalah saudara kami Abu Abdurrahman Muhammad Nashiruddin bin Nuh Najati Al Albani. [Shahih At-Targhib Wa At-Tarhib” jilid 1]
13. Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh rohimahullohu pernah menyebut Al Albani dengan pujian, “Beliau adalah Ahli Sunnah, pembela kebenaran dan musuh yang menghantam para pengikut kebatilan.” [Shahih At-Targhib Wa At-Tarhib” jilid 1]
14. Al-’Allamah Muhammad Hamid al-Faqi rahimahullah menuturkan: “Asy-Syaikh Nashiruddin rahimahullah, saudara (kami) yang bermanhaj Salaf, seorang pembahas dan peneliti yang cermat.” [Majalah al-Ashaalah no. 23 hal. 76]
15. Al-’Allamah Hamud Tuwaijiri rahimahullah berkata: “Al-Albani di zaman ini adalah seorang Imam pembawa bendera Sunnah.” [Tarjamah Muhaditsul 'Ashri oleh al-Qaryuti hal. 19]
16. Syaikh Muhammad bin Shaleh ‘Utsaimin rahimahullah bertutur tentang al-Albani: “Beliau adalah seorang yang sangat giat melaksanakan Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dan memerangi bid’ah baik dalam aqidah maupun amal ibadah. Aku mengetahui itu dari karya-karya tulisnya. Ia memiliki banyak ilmu dalam hadits baik periwayatan maupun mushthalah hadits (dirayah). Dan bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi manfaat kepada banyak orang dari hasil karyanya, baik berupa ilmu, manhaj serta pengarahan kepada ilmu hadits, ini merupakan keuntungan yang besar bagi kaum muslimin. Walhamdulillah.”
Pada kesempatan lain beliau menggambarkan tentang al-Albani sebagai: “Seorang yang berpotensi, berpengetahuan luas serta sangat memuaskan (dalam menyampaikan hujjah, -pent).” Syaikh Ibnu ‘Utsaimin pernah melihat sebuah kaset yang termaktub di atasnya: Ahli hadits negeri Syam, Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah maka secara spontan beliau menukas: “Bahkan ahli hadits abad ini.” [Adz-Dzabbul Ahmad hal. 19]
17. Al-’Allamah ‘Abdul Muhsin bin Hammad al-Abbad hafizhahullah seorang ahli hadits, mantan rektor Universitas Islam Madinah, seorang guru besar di masjid Nabawi berkata: “Al-Albani seorang ‘alim besar yang telah berkhidmah kepada Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aqidahnya baik, tidak boleh menikamnya dengan tuduhan-tuduhan bathil.” [Adz-Dzabbul Ahmad hal. 20]
18. Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah berkata: “Yang aku yakini dan dengannya aku beragama kepada Allah bahwa Syaikh al-Albani rahimahullah termasuk para mujaddid (reformis dalam agama ini) yang sangat tepat baginya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Sesungguhnya Allah mengutus kepada ummat ini pada setiap seratus tahun, seorang mujaddid yang memperbaharui urusan agama mereka.” [1] Al-Albani berkata: “Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal rahimahullah telah mengisyaratkan keshahihan hadits ini sebagaimana yang dinukil oleh Imam adz-Dzahabi rahimahullah dalam kitabnya “Siyar a’lam an Nubala”, jilid 10 hal. 46.
Imam Ahmad berkata: “Sesungguhnya Allah menentukan bagi ummat pada setiap seratus tahun, seorang yang mengajari mereka Sunnah-sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, meniadakan (membersihkan) kedustaan dari apa yang disandarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka kami melihat bahwa pada seratus tahun pertama adalah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz dan pada seratus tahun kedua adalah Asy-Syafi’i.” [2]
19. Al-’Allamah Shaleh bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah berkata bahwasanya al-Albani adalah pembela Sunnah di abad ini. [Adz-Dzabbu al Ahmad, hal. 19]
20. Syaikh Shaleh bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh hafizhahullah (Menteri Urusan Agama Kerajaan Saudi Arabia) menuturkan: “Beliau mempunyai jasa yang besar dalam membela aqidah salaf dan manhaj ahli hadits, memiliki karya tulis dalam jumlah besar yang berhubungan dengan khidmahnya terhadap hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana ia telah memisahkan hadits-hadits yang shahih dari yang dha’if. Pengaruhnya di dunia Islam amat besar, beliau salah seorang ulama ummat ini yang memiliki jasa yang mulia dan besar.” [Adz-Dzabbul Ahmad hal. 22]
21. Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmi hafizhahullah berkata: “Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, seorang ahli hadits besar, seorang ‘alim yang terkenal, penulis karya-karya yang bermanfaat dan peneliti hadits, bermukim di negeri Syiria (Syam), seorang yang beraqidah salaf, telah berusaha keras untuk meneliti hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiada seorang pun menandinginya, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikannya.” [Adz-Dzabbul Ahmad hal. 21]
22. Al-’Allamah Rabi’ bin Hadi Umair al-Madkhali hafizhahullah menuturkan tentang Al-Albani: “Syaikh al-Albani salah seorang Imam pembawa bendera Sunnah di zaman ini, ia telah berkhidmah kepadanya dengan menshahihkan, mendha’ifkan dan meneliti para perawinya. Ia menentang bid’ah-bid’ah dalam banyak karyanya seperti dalam kitab: Shifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Shifat Haji Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Kitab Hukum-hukum Pelaksanaan Jenazah dan lainnya. Pada setiap kesempatan, beliau selalu menyinggung tentang bid’ah dan mengingatkan agar mewaspadainya, serta menjelaskan tentang sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia berjalan di atas prinsip yang telah ditetapkannya yaitu tashfiyah (pemurnian Islam dari segala hal yang tidak islami) dan tarbiyah (pembinaan umat di atas Islam yang murni) dengan kata lain, pemurnian Sunnah dari aqidah yang bathil, bid’ah-bid’ah serta dari hadits-hadits yang lemah dan palsu, kemudian membina umat ini di atas aqidah yang murni dan hadits-hadits yang shahih.
Beliau adalah salah seorang Imam di abad ini. Karya-karyanya sangat bermanfaat bagi umat dan menjadi salah satu sumber ilmu yang paling utama dan mudah, yang menghubungkan pemahaman dengan para Salafush Shalih. Jerih payahnya yang telah disumbangkannya kepada Islam, sebagai bukti bahwa beliau adalah seorang imam.
Ia telah memberi andil dalam jumlah besar dalam bentuk khidmah terhadap Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jilidan-jilidan besar dalam jumlah yang banyak telah diwariskannya untuk umat ini, sesuatu yang sulit bagi seseorang di zaman ini untuk menyamainya, kecuali para Salafush Shalih.” [Adz-Dzabbul Ahmad hal. 21-22]
23. Lajnah Tetap Urusan Fatwa dan Irsyad Kerajaan Saudi Arabia berkata: “Adapun kitab Silsilah al-Ahaadits adh-Dha’iifah wal Maudhuu’ah (Kumpulan hadits-hadits dha’if dan palsu), penyusunnya (al-Albani, -pent) adalah seorang yang berpengetahuan luas dalam ilmu hadits, kritikannya terhadap hadits-hadits sangat kokoh, demikian pula dalam menghukumi keshahihan dan kelemahannya, walaupun terkadang beliau keliru.” [Adz-Dzabbul Ahmad hal. 19]
24. Al-’Allamah Muhammad bin ‘Ali bin Adam seorang ulama ahli fiqih, ahli hadits dan ahli ushul dari Ethiopia berkomentar tentang Imam al-Albani rahimahullah karya-karya al-’Allamah al-Albani sangat menyenangkan karena beliau memiliki andil besar dalam pengenalan hadits-hadits shahih dan dha’if, karya-karya yang sangat bermutu itu menjadi saksi atas apa yang kami kemukakan. Pada zaman yang telah dikuasai oleh kejahilan seperti yang kita alami sekarang ini, sedikit sekali orang yang mampu menandinginya. [Adz-Dzabbul Ahmad hal. 22]
Jika hendak menulis seluruh pengakuan dan pujian para ulama, cerdik pandai dan tokoh masyarakat Islam internasional terhadap Imam al-Albani rahimahullah tentunya memerlukan lembaran-lembaran dalam jumlah besar. Namun kami merasa telah cukup dengan nukilan-nukilan di atas untuk mewakili yang lainnya.
Dari ungkapan para ulama dan persaksian mereka terhadap al-Albani kita ketahui prestasi yang disandangnya dan kami tidak mensucikan seseorang terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, beliau adalah:
- Seorang yang beraqidah dan bermanhaj salaf.
- Pemegang teguh Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
- Pembawa bendera Sunnah di abad ini.
- Alim terbesar dalam ilmu hadits pada abad ini.
- Da’i yang sangat giat mengajak umat untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman Salafush Shalih.
- Pembela aqidah dan manhaj Salafush Shalih.
- Pembela aqidah salaf dan manhaj ahli hadits.
- Mujaddid dan muhaddits (pembaharu dan ahli hadits) abad ini.
- Berpengetahuan luas dan berjasa besar terhadap Islam dan kaum muslimin serta pengakuan-pengakuan lain terhadap keilmuannya.
Pujian dan persaksian para ulama terhadap al-Albani tentu tidak mengeluarkannya dari kodrat seorang manusia yang mungkin saja berbuat kekeliruan atau kesalahan. Namun demikian kekeliruannya tenggelam dalam lautan kebaikannya, sebagaimana yang diungkapkan oleh Syaikh Muhammad Shaffut Nurudin rahimahullah, pemimpin Jamaah al-Anshar Sunnah Muhammadiyyah (Mesir) sebagai berikut: “Al-Albani rahimahullah salah seorang tokoh terdepan yang memiliki karya tulis dalam jumlah besar dan telah banyak berbuat kebaikan, kesalahan-kesalahannya tenggelam di lautan kebaikannya, ucapan-ucapan para pencela tergilas oleh ungkapan-ungkapan mereka yang dengan ikhlas dan jujur memuji keberhasilannya.” [Lihat Majalah al-Ashaalah edisi 23 hal. 72]
Mahabenar Allah yang telah berfirman:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujaadilah: 11)
Syaikh Muhammad bin Shaleh ‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkat derajat para ulama di akhirat dan di dunia. Adapun di akhirat Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkat derajat mereka sesuai dengan usaha yang telah mereka kerjakan, berupa dakwah mengajak manusia kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengamalkan ilmu mereka. Sedang di dunia Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkat derajat mereka di antara hamba-hamba-Nya sesuai dengan jerih payah yang telah mereka usahakan.” [Lihat kitab al-Ilmu oleh Syaikh Muhammad bin Shaleh 'Utsaimin hal. 20]
Wallahu a’lam bish-shawab.
Footnote:
[1] HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh al-Iraqi, al-Albani dan lainnya, lihat Hayat al-Albani jilid 2 hal. 555, Shahih Sunan Abi Dawud jilid 3 hal. 23 hadits no. 4291, Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah no. 599, jilid 2 hal. 148, ‘Aunul Ma’bud jilid 1 hal. 259.
[2] Lihat Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah, jilid 2 hal. 148-149, cetakan Maktabah al-Ma’arif, Riyadh Saudi Arabia, Siyar A’lamin-Nubala’, jilid 10 hal. 46.
Untuk artikel terkait masalah pembelaan terhadap al Muhadits Syaikh Al Albany, dapat di lihat pada artikel berikut :
● PEMBELAAN TERHADAP AL-IMAM AL-MUHADDITS AL-ALBANY DARI KEDUSTAAN HASAN ALI AS-SAQQOF DAN PENDUKUNGNYA
● IJAZAH HADIST SYAIKH AL-ALBANY
Sumber:
1. Al-Intishar Li Ahlil Hadits, karangan Syaikh Muhammad bin Umar Baazmul. Disalin dari majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Vol 6 No 7 Edisi 32 – 1428H. Dialihbahasakan oleh Abu Musa Al-Atsari Lc, dari situs sahab.net. Penerbit Ma’had Ali Al-Irsyad Surabaya. Lihat: http://www.almanhaj.or.id/content/2324/slash/0
2. Syaikh al Albani Dihujat, Ustadz Abu Ubaidah, Pustaka Abdullah Jakarta, Cetakan Pertama, 5 Oktober 2005, 1 Ramadhan 1426 H & Kitab “Shahih At-Targhib Wa At-Tarhib” jilid 1. Penerbit: Pustaka Sahifa Jakarta. Lihat: http://alqiyamah.wordpress.com/2009/12/31/pujian-ulama-terhadap-syaikh-al-albani-rahimahullah/
3. Biografi Syaikh Al-Albani Mujaddid dan Ahli Hadits Abad Ini karya Mubarak bin Mahfudh Bamuallim Lc. Penerbit: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Bogor cet. 1 Shafar 1424 H / April 2003, hal. 178-184.
WAH SALUT DEH AMA MAS-MAS YANG BISA MENGUAK “KEBUSUKAN” SYEIKH ALBANI, ABDUL AZIZ BIN BAZ, SYEIKH UTSAIMIN, ATAU YANG LAIN,
tapi sadarkah bahwa kalian telah melakukan perbuatan yang SOK BERILMU!!!!!!
BUKAN HAQ KALIAN MEMBUKA AIB2 PARA ULAMA MESKI MEMANG MEREKA SALAH, CUKUPLAH KALIAN SIBUKKAN DIRI DENGAN TERUS BELAJAR MENCARI ISLAM YANG SEMURNI2NYA, TANPA GENGSI UNTUK MENGAMBIL HUJJAH MESKI ITU DARI ORANG YANG KALIAN TIDAK SUKA JIKA MEMANG ITU BENAR. LISAN2 KALIAN KEJI DAN TIDAK BERPERASAAN!!!! INIKAN SIKAP YANG DIAJARKAN KEPADA KALIAN?????????!!!!
SALAH BENAR ITU SUDAH BIASA ADA DLM DIRI MANUSIA, TAPI KALIAN MANUSIA2 KERDIL HANYA BISA MENCELA DAN MENGOREK2 KEBUSUKAN.
SUNGGUH TIDAK TERPUJI!!!!!!!!!!
ternyata pengikut wahabi tidak mau “pakar” hadits mereka disalahkan walaupun mereka sering menyalahkan orang lain. wahai saudara2 ku pengikut wahabi belajarlah dengan hati, bukan hanya dengan apa yang ada di otak. belajar lah imu untuk bertaqarrub kepada Allah. kita masuk surga karena rahmat Allah bukan karena ilmu dan amal kita. semoga kita semua selalu mendapat petunjuk dari Allah.
wassalam
Albani sebenarnya secara tidak langsung pernah mengakui kesembronoannya dalam menilai hadits. Ini dapat terlihat dg gamblang dalam kitab “taraju’ul al’allamah al-albani fima nashsha ‘alaiyh tashhihan wa tadl’fan” (ralat albani atas penjelasannya mengenai penilaian sahih dan dha’if). Dalam kitab ini, albani megaku terus terang kesalahannya dalam menilai shaih dan dloifnya hadits yg pernah ia tulis. Dalam kitab ini albani meralat penilaiannya atas 621 hadits yg sebenarnya shohih tetapi ia nilai dlo’if dan sebaliknya. Jumlah kesslahan 621 bukan sedikit jika dikaitkan dg gelar “almuhaddits” yg disandangkan oleh para pengikut2nya. Masihkah layak disebut muhaddits? pantaskah disandingkan dg nama besar Imam Suyuthi dan para hafidz hadits yg lain?
Pengakuan ini dalam satu sisi memang mengagumkan, karena dia secara terus terang mengaku salah/keliru sebagai bentuk tanggung jawab, tetapi dari sisi lain juga menunjukkan atas kapasitas albani yg sebenarnya dalam menilai hadits ternyata tidak seperti yg di banggakan para pengikutnya.
Habib Munzir Al Musawa Tentang Albani :
Assalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh..
Kebahagiaan dan Cahaya Kelembutan Nya swt semoga selalu menaungi hari hari anda dan keluarga,
Saudaraku yg kumuliakan,
beliau itu bukan Muhaddits, karena Muhaddits adalah orang yg mengumpulkan hadits dan menerima hadits dari para peiwayat hadits, albani tidak hidup di masa itu, ia hanya menukil nukil dari sisa buku buku hadits yg ada masa kini, kita bisa lihat Imam Ahmad bin Hanbal yg hafal 1.000.000 hadits (1 juta hadits), berikut sanad dan hukum matannya, hingga digelari Huffadhudduniya (salah seorang yg paling banyak hafalan haditsnya di dunia), (rujuk Tadzkiratul Huffadh dan siyar a’lamunnubala) dan beliau tak sempat menulis semua hadits itu, beliua hanya sempat menulis sekitar 20.000 hadits saja, maka 980.000 hadits lainnya sirna ditelan zaman,
Imam Bukhari hafal 600.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya dimasa mudanya, namun beliau hanya sempat menulis sekitar 7.000 hadits saja pada shahih Bukhari dan beberapa kitab hadits kecil lainnya, dan 593.000 hadits lainnya sirna ditelan zaman, demikian para Muhaddits2 besar lainnya, seperti Imam Nasai, Imam Tirmidziy, Imam Abu Dawud, Imam Muslim, Imam Ibn Majah, Imam Syafii, Imam Malik dan ratusan Muhaddits lainnya,
Muhaddits adalah orang yg berjumpa langsung dg perawi hadits, bukan jumpa dg buku buku, albani hanya jumpa dg sisa sisa buku hadits yg ada masa kini.
Albani bukan pula Hujjatul Islam, yaitu gelar bagi yg telah hafal 300.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya, bagaimana ia mau hafal 300.000 hadits, sedangkan masa kini jika semua buku hadits yg tercetak itu dikumpulkan maka hanya mencapai kurang dari 100.000 hadits.
AL Imam Nawawi itu adalah Hujjatul islam, demikian pula Imam Ghazali, dan banyak Imam Imam Lainnya.
Albani bukan pula Alhafidh, ia tak hafal 100.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya, karena ia banyak menusuk fatwa para Muhadditsin, menunjukkkan ketidak fahamannya akan hadits hadits tsb,
Abani bukan pula Almusnid, yaitu pakar hadits yg menyimpan banyak sanad hadits yg sampai ada sanadnya masa kini, yaitu dari dirinya, dari gurunya, dari gurunya, demikian hingga para Muhadditsin dan Rasul saw, orang yg banyak menyimpan sanad seperti ini digelari Al Musnid, sedangkan Albani tak punya satupun sanad hadits yg muttashil.
berkata para Muhadditsin, “Tiada ilmu tanpa sanad” maksudnya semua ilmu hadits, fiqih, tauhid, alqur;an, mestilah ada jalur gurunya kepada Rasulullah saw, atau kepada sahabat, atau kepada Tabiin, atau kepada para Imam Imam, maka jika ada seorang mengaku pakar hadits dan berfatwa namun ia tak punya sanad guru, maka fatwanya mardud (tertolak), dan ucapannya dhoif, dan tak bisa dijadikan dalil untuk diikuti, karena sanadnya Maqtu’.
apa pendapat anda dengan seorang manusia muncul di abad ini lalu menukil nukil sisa sisa hadits yg tidak mencapai 10% dari hadits yg ada dimasa itu, lalu berfatwa ini dhoif, itu dhoif.
saya sebenarnya tak suka bicara mengenai ini, namun saya memilih mengungkapnya ketimbang hancurnya ummat karena tipuan seorang tong kosong.
ALBANI adalah juga manusia yg tak luput dari kesalahan. tapi dibandingkan jasa beliu dlm mngembalikan umat pada pemahaman dan pngamalan islam yg sesui dg apa yg datangnya dari nabi dan para sahabat maka ksalahan beliu insyaalloh mudah2an Alloh ampuni. adapun orang2 yg slalu mnghujatnya saya yakin adalah orang2 yg mrasa gerah karena amalan2 bid’ah mereka yg trasa terusik dan terbonkar pula berbagai kbatilan mereka yg selama ini mereka pakai utk mnipu umat
Betul..betul.Bid’ah versi Al_Bani tentu saja..
Asyik juga mengikuti perdebatan ini. Mohon maaf saya kurang mengerti tentang ilmu hadist, maka perkenankanlah saya menyatakan kebingungan saya:
1. Dalam artikel diatas dan sesuai yang saya baca pada http://www.sunnah.org/history/innovator/al-albani.htm. item no 25 (“He gave the fatwa that Muslim should exit Palestine en messe and leave it to the Jews as it is part of Abode Of War” (dar-al-harb)- disana dinyatakan bahwa Albani telah menfatwakan banhwa:
“Bangsa Palestina harus meninggalkan tanah Palestina dan diserahkan kepada Yahudi, karena tanah Palestina adalah Darul Harb”. Menurut para pembela Albani, fatwa itu berlaku umum tidak hanya kepada bangsa Palestina saja. Menurut saya bila fatwa ini betul, sungguh berbahaya. Bisa- bisa bangsa Chechnya- Pattani- Moro- Afganistan, dan juga dulu bangsa Indonesia harus meninggalkan tanah Nusantara karena tanah- tanah mereka ada dalam Darul Harb dan diserahkan bulat- bulat kepada para invedernya? Naudzu billah.
2. Justru dari pembelaan Mas Abdullah Abul Fikri Assamarqondi, terungkap bahwa Albani “Tidak konsiten” dalam menetapkan sesuatu hukum.
Mas Abdullah menukil pernyataan Albani:….”sebab dengan adanya hadist, maka pendapat menjadi batal, dan jika datang sungai Allah (dalil naqly) maka hilanglah sungai AKAL (dalil aqli)…
Tapi dikesempatan lain dalam pembelaan diatas mas Abdullah juga menukil pernyataan Albani:…” maka mana mungkin hanya karena itu shalatnya tidak akan menambah kecuali jarak yang semakin jauh. Hal itu TIDAK MASUK AKAL dan tidak disetjui oleh syari’at ini…
Tolong mas dibantu kebingungan saya…
Assalamualaikum…
kepada saudara abdulloh Abul Fikri AssamarQondi, sungguh sangat panjang sekali artikel yang anda tuliskan demi untuk menutupi ‘klaim’ artikel di blog ini terhadap Albani. Terima kasih. Namun disini saya ingin keterangan lebih jelas dan pasti tentang poin no. 3
3. Tidak Memiliki Guru
Tuduhan ini terlalu tergesa-gesa untuk diucapkan. Sebab Syaikh Al-Albani pernah belajar beberapa ilmu alat dari ayahnya, seperti ilmu shorof. Beliau juga belakar darinya beberapa kitab madzhab Hanafi, seperti Mukhtashor Al-Qaduri. Darinya juga beliau belajar Al-Qur’an dan pernah menghatamkan riwayat Hafsh beserta tajwidnya.
Beliau pun pernah belajar dari Syaikh Sa’id Al-Burhani kitab Maraqi Al-Falah, sebuah kitab yang bermadzhab Hanafi, dan kitab Syudzurudz Dzahab di cabang ilmu nahwu serta beberapa kitab balaghah
Beliau juga pernah menghadiri seminar-seminar Al-Allamah Muhammad Bahjat Al-Baithar bersama beberapa ustadz dari Al-Majma Al-Islami Damaskus, diantaranya : Izzudin At-Tanukhi. Waktu itu mereka belajar kitab Al-Hamasah syairnya Abu Tammam.
Di akhir hayatnya, beliau sempat bertemu dengan Syaikh Muhammad Raghib Ath-Thabbakh. Beliau pun menyatakan takjub dengan Syaikh Al-Albani, dan menghadiahkan kepada beliau kitab Al-Anwar Al-Jaliyah Fi Mukhtashar Al-Atsbat Al-Hanbaliyah.
Apabila engkau tahu semua ini, maka jelas bagimu bahwa tuduhan dusta mereka “Al-Albani tidak memiliki guru” menyelisihi realita yang ada.
Dan tentunya tidak mengurangi kedudukan Syaikh meskipun hanya sedikit gurunya. Betapa banyak ulama yang hanya memiliki sedikit guru, dan itu tidak mempengaruhi kredibilitas keilmuannya. Bahkan diantara perawi hadits ada yang tidak meriwayatkan hadits kecuali dari dua atau tiga orang saja, bahkan ada juga yang berguru dari seorang Syaikh saja. Namun ternyata para ulama bersaksi akan kekuatan dan kesempurnaan hafalannya. Dan hal itu tidak menjadi alasan yang mencegah untuk mengambil ilmu dan meriwayatkan hadits dari mereka.
Adalah Abu Umar Ahmad bin Abdullah bin Muhammad Al-Lakhami yang terkenal dengan sebutan Ibnul Baji (wafat mendekati tahun 400H) yang merupakan penduduk daerah Isybilia. Dia adalah satu-satunya ulama dan ahli fikih yang ada pada waktu itu. Beliau mengumpulkan cabang ilmu hadits, fikih, dan keutamaan. Dan beliau menghafal dengan baik beberapa kitab-kitab sunnah dan penjelasan maknanya.
====
Jika memang Albani memiliki guru, bisakah saudara abdulloh Abul Fikri AssamarQondi menuliskan Sanad Albani yang mutassil kepada para muhaddis, Para Ulama, hingga Rasulullah SAWW? syukran
SEingat saya dalam hal ILMU AGAMA ada ungkapan yang disepakati bahwa: “Man laa sanada lahuu- laa sayaikho lahu- wa man la syaikho lahuu fassyithonu syaikhuhuu”. Barang siapa tidak memiliki rantai SANAD, maka dianggap dia tak punya guru, dan barang siapa tak punya guru maka gurunya adalah Syetan?.
Diatas dinyatakan: Syekh Albani pernah MENGHADIRI SEMINAR SEMINAR AL-Allamah Muhammad Bahjat… Beliau sempat BERTEMU dengan Syekh Muhammad Roghib At- Tabakh….dst. Menurut saya kalau ikut seminar dan sekedar bertemu dengan seseorang tidak bisa dianggap sebagai guru…mohon maaf itu pendapat saya pribadi.
Kebetulan saya punya teman lintas golongan termasuk teman- teman salafi. Tapi menurut saya SEBAGIAN teman saya itu sudah berubah menjadi KELOMPOK KHOLAFI yang TAQLID BUTA kepada para Ulama KHOLAF generasi kontemporer seperti kepada Syekh Albani (1914 – 1999)- Syekh Utsaimin (1928 – 2001) dan Syekh Abdullah bin Baaz (1909 – 1999) daripada mengikuti Ulama generasi Salaf yang sebenarnya seperti Syafi’i- Hanafi- Maliki- Ahmad bin Hambal atau bahkan kepada Imam Nawawi dll. Buktinya kitab- kitab (terjemahan) yang mereka baca hanya karangan mereka- mereka itu dan mengesampingkan kitab ulama yang lain dengan alasan kitab tersebut telah bercampur dengan hadist- hadist dhoif. Dan ini menurut saya BRAIN WASHING yang hebat.Akibatnya mereka tidak mau mengaji kepada Ulama selain Ulama mereka. Salahkah pendapat saya?
sekedar tambahan y kang.. ternyata Ulama’ segolonganya pun mengingkarinya.
Dia adalah Muhammad bin Sholih Al Utsamin, murid abdul Aziz bin Baz..
Dalam kitabnya, Syarh al-’Aqidah al- Wasîthiyyah (Cet. Riyadl: Dar al-Tsurayya, 2003) hal. 638 Utsaimin sangat marah kepada al-bani, sehingga Utsaimin menilai Albani tidak memiliki pengetahuan agama sama sekali:
“ثم يأتي رجل في هذا العصر، ليس عنده من العلم شيء، ويقول: أذان الجمعة الأول بدعة، لأنه ليس معروفاً على عهد الرسول صلي الله عليه وسلم، ويجب أن نقتصر على الأذان الثاني فقط ! فنقول له: إن سنة عثمان رضي الله عنه سنة متبعة إذا لم تخالف سنة رسول الله صلي الله عليه وسلم، ولم يقم أحد من الصحابة الذين هم أعلم منك وأغير على دين الله بمعارضته، وهو من الخلفاء الراشدين المهديين، الذين أمر رسول الله صلي الله عليه وسلم باتباعهم.”
Terjemahnya:
“Ada seorang laki-laki dewasa ini yang tidak memiliki pengetahuan agama sama sekali mengatakan, bahwa azan Jumaat yang pertama adalah bid’ah, karena tidak dikenal pada masa Rasul, dan kita harus membatasi pada azan kedua saja! Kita katakan pada laki-laki tersebut: sesungguhnya sunahnya Utsman R.A adalah sunah yang harus diikuti apabila tidak menyalahi sunah Rasul SAW dan tidak ditentang oleh seorang pun dari kalangan sahabat yang lebih mengetahui dan lebih ghirah terhadap agama Allah dari pada kamu (ALBANI).
Utsman r.a. termasuk Khulafaur Rasyidin yang memperoleh pentunjuk, dan diperintahkan oleh Rasullah SAW untuk diikuti”.
ck.. ck.. ck … Salut deh ama Syeikh Utsaimin yang dg sangat jujur menilai ALBani, “tidak memiliki pengetahuan agama sama sekali”,
Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah berkata mensifati Syaikh al Albani, “Ahli hadits negeri Syam, pemilik ilmu yang sangat luas tentang hadits secara riwayah dan dirayah. Allah Ta’ala menganugerahkan manfaat yang banyak kepada manusia melalui karya-karya ilmiahnya berupa ilmu dan semangat mempelajari ilmu hadits.” [Hayatul Albani II/543 oleh Muhammad bin Ibrahim ays Syaibani]
Wallaahu’alam
http://www.abuayaz.co.cc/2010/06/menjawab-9-tuduhan-dusta-terhadap.html
Nyimak dengan hati-hati…
kalau tidak ahli hadits, tidaklah perlu anda menilai ahli hadits, karena itu akan mempermalukan diri anda sendiri..
Kebanyakan yang memuji syeikh al-albani adalah ulama kelompok wahabi sendiri, tetapi yang mengeritik syeikh ini berbagai ulama dari berbagai madzhab. utk lebih mendetail silahkan klik http://www.everyoneweb.com/tabarruk bab 2.
bodh neh yang buat postingan, gak ngerti apa yang namanya ruju’??? biasalah kita dapatkan para ulama ruju’ dari apa apa yang telah di kataklannya, dan kemudian diamembuat perkataan yang laiinya, sebagai mana yang kita kenal juga dengan qoulul qodimnya imam as syafi’ dan juga qoulul jhadidnya, apakah imam as syafii orang yang serampangan ?? tentu orang yang masih sehat akalnya akan mengatakan bahwa imam as syafii adalah orang yang tawadu’, dan tdk egois…… dan bahkan i,a, as syfii sangat mashur denga perkataannya: juka pendapat saya menyelisihi pendapat nabi maka ambil lah perkataan nabi itu…! dn tinggalkanlah pendapatku aku ruju’ dengannya apakah saya masih hoidup ataupu saya telah mati
nah, bgt juga dengan as syaikh al albani, dia bukan orang yang egois tatkala dia mendapatkan kesalahan di dalam berfatwa ataupun didalam pentashihan sebuah hadits maka dia tdk segan segan untuk ruju’ dari kesalahannya, ini sangat berbalik denganj orang yang sombong dan merasa cukup dengan apa yang ada di lam dirinya…..
dan mengenai fatwa fatwanya, itulah yang semestinya yang di lakukan seorang alim, dan dia akan berfatwa sesuai dengan ilmu yang ALlah berikan kepadanya, dan kamu bisa terima atau tdk…. dan dia telah mendapatkan apa apa yang telah Allah tetapkan untuknya dengan fatwa tersebut..
dan untuk statman anda bahwa dia tdk bisa menghafal 10 hadits dengan sanadnya adalah keliru, dan anda berkesimpulan dengan statman anda dengan pernyataan seseorang yang bertanya dengannya untuk menyebutkan hadits 10 saja dengan sanadnya,
jika ini benar, bukanlah menunjukkan as syaikh tdk bisa menyebutkannya, dan sangat banyak kita dapatkan dialoq dialoq yang seakan akan mengguirui beliau, akan tetapi beliau tdk melayaninya, di karnakan seseorang di majlisnya tdklah pantas datang dan meneyuruh as syaikh untuk menyebutkan hadits dan menjelaskan dengansanadnya
jika sayapun menyuruh anda untuk melakukan itu, mungkin anda akan memarahi saya dan mungkin anda akan berkata kasar dan tdk sopan,
akan tetapi, as syaikh yang mulia ini tdk marah dan tdk berkata kasar dalam keadaaan seseorang telah berbuat adab yang jelek diu depan majlisnya dan dia hanya menjawab dengan sangat halus sekali denga kekurang ajaran ini dengan meyebut,“Aku bukan ahli hadis sanad, tapi ahli hadis kitab.”
inilah yang tdk di berikan kepada kalian wahai para hasiduuun….. pemikiran kalian selalu terbalikdan kalian hanya bisa menilai dari sudut negatif di karnakan hasad yang ada di dalam diri diri kalian
akan tetapi, kebusukan hati kalian tdklah membuat mudhorrot as syaikh sedikitpun, dan namnya akan selalu harum, sebagai mana juga bagi orang orang yang mencela ulama ulama terdahulu, mereka tetap harum diwaktu yang lama, akan tetapi akan menenggelamkan orang orang yang hasad kepada mereka,
weleh…weleh…. saya mau tanya ; qaul qodim dan jadid imam Syafi;i kedua-duanya tidak ada yang salah, dan sama-sama dipakai (diamalkan oleh para pengikutnya).
berbeda dg al-bani, pendapat pertama dia salah,kalau dia mau ruju’ itu bagus,tapi jangan disamakan dengan Imam Syafi;i. sangat berbeda broo….
@Rully : Masya Allah,…nah itu ente juga mencela ulama’2 yg berbeda pendapat dengan ente…Astaghfirullah…buat saudara2 sekalian, Imam Al-Bany juga seorang ulama’ biarlah para ulama juga yg membenarkan kesalahan beliau. yg penting sikap kta sekarng adalah mencontoh para ulama dan ahlul bait serta ahlul yamamah dan ulama2 yg berpegang teguh pada ulama’2 terdahulu…biarlah kita dianggap bid’ah yg penting bid’ah kita hasan, dan tidak sampai menyekutukan Al-Khooliqul Kholq. buat saudara2 yg ‘awam ‘ilmu, belajarlah pada guru yg benar2 mengerti apa yg ingin anda pelajari…
@rully
baca dulu dong dengan pikiran jernih, penjelasan dalam situs http://www.everyoneweb/tabarruk bab 2 tentang siapa itu golongan wahabi/salafi dan bagaimana pahamnya. Dibab ini juga ditulis siapa tuh syeikh Al-Bani dan para pakar islam yang menentangnya. Syeikh Al-Bani selalu mendudukkan dirinya sebagai seorang yang alim dan tidak ada orang yang bisa menandinginya. Sehingga dia mudah sekali mengecam, mensalahkan, mensesatkan para pakar islam yang sudah diakui pribadi dan ilmu mereka dari zaman dahulu sampai zaman sekarang oleh para ulama.
@ rully dkk
…tambahan lagi mengenai al-Albani, yang aku kutip dari http://www.everyoneweb.com/tabarruk bab 2, sebagai berikut:
“Kami mengetahui setiap manusia tidak luput dari kesalahan walaupun para imam atau para pakar islam, kecuali Rasulallah saw yang maksum. Tujuan kami mengutip kesalahan-kesalahan Syeikh Al-Albani ,yang ditulis oleh Syeikh Saqqaf ini, bukan untuk memecah belah antara muslimin tapi tidak lain adalah untuk lebih meyakinkan para pembaca bahwa Syeikh ini sendiri masih banyak kesalahan dan belum yakin serta masih belum banyak menguasai ilmu hadits, karena masih banyak kontradiksi didalam buku-bukunya. Dengan demikian hadits atau riwayat yang dilemahkan, dipalsukan dan sebagainya oleh Syeikh ini serta pengikut-pengikutnya, tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya, harus diteliti dan diperiksa lagi oleh ulama madzhab lainnya.
Contoh-contoh kesalahan Syeikh Albani yang ditulis oleh Syeikh Saqqaf, yaitu umpamanya; disatu halaman atau bukunya mengatakan hadits ….Lemah tapi dihalaman atau dibuku lainnya mengatakan hadits (yang sama itu) ….Shohih atau Hasan. Begitu juga beliau disatu buku atau halaman mengatakan bahwa perawi…. adalah tidak Bisa Dipercaya banyak membuat kesalahan dan sebagainya, tapi dibuku atau halaman lainnya beliau mengatakan bahwa perawi (yang sama ini) Dapat Dipercaya dan Baik. Begitu juga beliau disatu halaman atau bukunya memuji-muji perawi……atau ulama……, tapi dibuku atau halaman lainnya beliau ini mencela perawi atau ulama (yang sama tersebut). Albani juga sering menyatakan suatu hadits yang bertentangan dengan pahamnya dengan kata2 ‘tidak menemukan haditsnya’, tetapi oleh Syeikh Saqqaf bisa ditemukannya. Padahal para pakar yang sering dikeritik, dicela oleh Syeikh al-Albani ini dan syeikh wahabi/salafi lainnya, pribadi dan ilmu pakar islam tersebut sudah diakui oleh para ulama sezamannya dan zaman berikutnya.
Diantara ulama-ulama pengeritik Al-Albani ini ada yang berkata; Kontradiksi tentang hadits Nabi saw. itu atau perubahan pendapat terdapat juga pada empat ulama pakar yang terkenal (Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafii dan Imam Hanbali) atau ulama lainnya! Perubahan pendapat para ulama ini biasanya yang berkaitan dengan pendapat atau ijtihadnya sendiri. Misalnya; Disalah satu kitab mereka membolehkan suatu masalah sedangkan pada kitabnya yang lain memakruhkan atau mengharamkan masalah yang sama ini atau sebaliknya. Perubahan pendapat ulama ini kebanyakan tidak ada sangkut pautnya dengan hadits yang mereka kemukakan sebelum dan sesudahnya, tapi kebanyakan yang bersangkutan dengan pendapat atau ijtihadnya sendiri waktu mengartikan hadits yang bersangkutan tersebut. Dan seandainya diketemukan adanya kontradiksi yang berkaitan dengan hadits yang disebutkan ulama ini pada kitabnya yang satu dengan kitabnya yang lain, maka kontradiksi ini tidak akan kita dapati lebih dari 10 hadits. Jadi bukan ratusan yang diketemukan.
Tapi yang lebih aneh lagi, ulama golongan Salafi (baca:Wahabi) tetap mempunyai keyakinan tidak ada kontradiksi atau kesalahan dalam hadits yang dikemukakan oleh syeikh al-AlBani tersebut tapi lebih merupakan ralat, koreksi atau rujukan. Sebagaimana alasan yang mereka ungkapkan sebagai berikut; umpama al-Albani menetap- kan dalam kitabnya suatu hadits kemudian dalam kitab beliau lainnya menyalahi dengan kitab yang pertama, ini bisa dikatakan bahwa dia meralat atau merujuk hal tersebut!
Alasan ini baik oleh ulama maupun awam (bukan ulama) tidak bisa diterima baik secara aqli (akal) maupun naqli (menurut nash). Seorang yang dijuluki pakar islam oleh sekte Wahabi dan sebagai Imam Muhadditsin karena ilmu haditsnya seperti samudra yang tidak bertepian, seharusnya sebelum menulis satu hadits, beliau harus tahu dan meneliti lebih dalam apakah hadits yang akan ditulis tersebut shohih atau lemah, terputus dan sebagainya. Sehingga tidak memerlukan ralatan yang begitu banyak lagi pada kitabnya yang lain. Apalagi ralatan tersebut –yang diketemukan para ulama– bukan puluhan tapi ratusan! Sebenarnya yang bisa dianggap sebagai ralatan yaitu bila sipenulis menyatakan dibukunya sebagai berikut; hadits ..…yang saya sebutkan pada kitab .… sebenarnya bukan sebagai hadits …..(dhoif, maudhu’ dan sebagainya) tapi sebagai hadits…… ( shohih dan sebagainya). Dalam kata-kata semacam ini jelas si penulis telah mengakui kesalahannya serta meralat pada kitabnya yang lain. Selama hal tersebut tidak dilakukan maka ini berarti bukan ralatan atau rujukan tapi kekurang telitian si penulis.
Golongan Salafi/Wahabi ini bukan hanya tidak mau menerima keritikan ulama-ulama yang tidak sependapat dengan ulama mereka, malah justru sebaliknya mengecam pribadi ulama-ulama yang mengeritik ini sebagai orang yang bodoh, golongan zindik, golongan sesat, tidak mengerti bahasa Arab, dan lain sebagainya. Mereka juga menulis hadits-hadits Nabi saw. dan wejangan ulama-ulamanya –untuk menjawab kritikan ini– tetapi sebagian isinya tidak ada sangkut pautnya dengan kritikan yang diajukan oleh para ulama madzhab selain madzhab Salafi (baca:Wahabi)!! Alangkah baiknya kalau golongan Salafi ini tidak mencela siapa/bagaimana pribadi ulama pengeritik itu, tapi mereka langsung membahas atau menjawab satu persatu dengan dalil yang aqli dan naqli masalah yang dikritik tersebut. Sehingga bila jawabannya itu benar maka sudah pasti ulama-ulama pengeritik ini dan para pembaca akan menerima jawaban golongan Wahabi dengan baik. Ini tidak lain karena keegoisan dan kefanatikan pada ulamanya sendiri, sehingga mereka tidak mau terima semua keritikan-keritikan tersebut, dan mereka berusaha dengan jalan apa pun untuk membenarkan riwayat-riwayat atau nash baik yang dikutip oleh al-Albani maupun ulama mereka lainnya. Sayang sekali golongan Salafi ini merasa dirinya yang paling pandai memahami ayat al-Qur’an dan Sunnah Rasulallah saw., paling suci, dan merasa satu-satunya golongan yang memurnikan agama Islam dan sebagainya. Dengan demikian mudah mensesatkan, mensyirikkan sesama muslimin ,khususnya para ulama, yang tidak sepaham dengan pendapatnya “.
Jika saya membaca penilaian Pak Munzir (jika itu benar dari Pak Munzir) tentang Syekh AlBani, maka kesimpulannya akan Rusak.
Salah satu contohnya :
Jika kita meyakini bahwa banyak hadits nabi yang hilang dan tidak sampai pada kita, berarti kita wajib menerima semua kata-kata yang disandarkan atas nama nabi walaupun dibuat-buat (PALSU). Kenapa ?
Karena orang bisa saja mengatakan : MUNGKIN HADIST INI TERMASUK HADIST SHOHIH YANG HILANG DITELAN ZAMAN !!
atau jika ada hadist yang dinyatakan palsu, orang bisa saja mengatakan :
MUNGKIN ADA JALUR LAIN YANG SHOHIH YANG TIDAK SAMPAI PADA KITA KARENA HILANG DITELAN ZAMAN !!
waduh-waduh, gimana ya jadinya kalo begini ????
Astagfirullah
[...] kita menjadi tidak objektif alias tidak nyambung. Syeikh Muhammad Said Albani (bukan Nashiruddin Al-Albani) di dalam kitab Umdatu At-Tahqiq fi At-Taqlid wa At-Talfiq mendefinisikan bahwa [...]
[...] Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, seorang ulama Ahlussunnah wal Jama’ah di Syria, bersama Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, seorang tokoh Wahhabi dari [...]