Tanbihun – Saat itu saya masih di SMP. Saya main ke rumah Simbah Kiyai Kafrawi di Sapugarut Buaran Pekalongan pada akhir Romadhon. Sampai di rumah simbah, kelihatan simbah putri Nyai Aminah sedang sibuk masak-masak.Saya tanya:”Masak apa mbah?” Yang menjawab simbah kakung:”Untuk Hari raya besok”.
Saya kaget, karena menurut informasi ayah saya, simbah itu pendukung rukyat dan akan berhari raya lusa. Sedangkan besok itu hari raya bagi para pendukung system Hisab/ mathematics astronomis.
“Lho, kata simbah, tahun ini hari raya insya Allah jatuh pada hari Selasa lusa?”
“Ya, karena menurut hisab, ketinggian bulan saat maghrib setelah ijtima’ masih terlalu rendah, mustahil untuk bisa di lihat, jadi besok di ISTIKMAL (disempurnakan 30 hari- sesuai hadist Nabi), jadi hari rayanya lusa berdasarkan qoul yang Mu’tamad/ kuat”
“Lah, tapi mengapa simbah putri masak- masaknya sekarang untuk hari raya besok?”
“Oh, itu simbah masak untuk kiyai Nosen, itu lho, yang rumahnya ada didepan. Beliau kan selalu pakai hitungan, jadi beliau hari rayanya besok. Kita masak- masak untuk mereka yang akan ber hari raya besok”.
Subhanalloh!!!
Begitulah akhlaq para kiyai kita dahulu. Disamping sangat ber- ilmu juga rasa toleransinya begitu tinggi. Berbeda dengan zaman kita sekarang. Sudah kurang ilmu, sok pintar dan tidak ada tasamuh dan toleransi sama sekali.
Perbedaan penentuan awal Romadhon dan awal Syawal, sejatinya sudah terjadi sejak Islam merambah ke mancanegara dengan “Mathla’” yang berbeda. Dalam catatan sejarah dan ilmu hadist, terkenal peristiwa HADIST KURAIB yang masyhur dikalangan para cendekiawan. Peristiwanya dimulai tatkala Kuraib diutus oleh Ummu Fadhal binti Al- Harits yang mengutusnya ke Syam untuk menemui Mu’awiyah- beliau adalah salah seorang sahabat Nabi yang berkedudukan di Syam. Kata Kuraib:” Lalu sampailah aku di Syam dan tugasku pun aku tunaikan, kemudian tampak HILAL Romadhon olehku. Aku melihat hilal itu malam Jum’at (sehingga besoknya hari Jum’at kami melakukan shiyam). Lalu aku kembali ke Madinah pada akhir Romadhon. Kemudian Abdullah bin Abbas bertanya padaku ( tentang beberapa hal) lalu ia menyebut- nyebut tentang masalah hilal, ia bertanya kepadaku:
”Kapan kamu melihat Hilal (romadhon) di Syam?”
Aku menjawab:”Kami melihatnya malam Jum’at”.
Ia bertanya lagi:”Kamu melihat sendiri?”
Aku menjawab:”Ya, orang banyak juga melihatnya sehingga mereka berpuasa. Muawiyah juga berpuasa”.
Abdullah bin Abbas berkata:”Namun kami melihatnya malam Sabtu, maka kami akan tetap sempurnakan puasa 30 hari atau (29 hari) jika sampai kami melihat Hilal Syawal”
Aku bertanya:”Apakah tidak cukup bagimu rukyah dan puasanya Muawiyah?”
Ia menjawab:”Tidak! Begitulah Rasulullah SAW telah memerintahkan kepada kami” (H.R.Muslim III/126)
Ketika dunia keilmuan Islam berkembang dan Ilmu Astronomi/Hisab ikut berkembang dengan pesat maka disamping perbedaan Mathla”seperti tersebut diatas, perbedaan criteria dan definisi rukyat pun ikut berkembang .
Mengacu pada tekstual hadist
Satu kelompok tetap mengacu pada tekstual hadist tentang awal shiyam dan awal Syawal, dimana Rasulullah menyatakan dengan kalimat yang berbentuk Amr (kalimat perintah) dan Nahi (kalimat larangan) sekaligus yang menunjukkan kuatnya petunjuk Nabi itu, Yakni:
صوموا لرؤيته وأفطرو لرؤيته ——- رواه البخاري ومسلم
“Berpuasalah kalian setelah meRUKYAT hilal, dan berbukalah (Syawal) kalian setelah me RUKYAT hilal……” HR. Bukory dan Muslim.
لا تصوموا حتى رأيتموه ولا تفكروا حتى رأيتموه —- رواه مسلم
“Jangan kalian berpusa sampai kalian me RUKYAT hilal, dan jangan kalian berbuka (Syawal) sampai kalian me RUKYAT hilal…….H.R. Muslim.
MENTA’WIL dan meng QIYAS arti ru’yat
Satu kelompok lagi MENTA’WIL dan meng QIYAS arti ru’yat dengan artian rukyat itu bisa juga dengan RUKYAT BIL- ILMI dalam hal ini ilmu matematica/hisab/astronomy. Jadi jika bulan menurut hitungan sudah Wujud, maka sama keadaannya dengan sudah DI RUKYAT, tapi bukan dengan mata, namun dengan ilmu pengetahuan, sehingga lebih pasti.
Mensyaratkan RUKYAT BIL- ILMI
Satu kelompok lagi mensyaratkan RUKYAT BIL- ILMI itu harus dalam keadaan bulan mungkin di rukyat (IMKAAN RUKYAT/ POSSIBILITY of moon VISIBILITY), sehingga masa waktunya bisa diharapkan sesuai zaman Rasul dimana mereka para sahabat DAPAT (POSSIBLE) merukyat dengan mata telanjang, dan itu secara ilmu pengetahuan, ketinggian bulan saat akhir bulan qomariyah harus sudah diatas kriteria tertentu. (Kriteria ini juga diperselisihkan antara 2 ~ 9 derajat).
Maka kondisi akhir Romadhon 1432 H, dimana IJTIMA” akan terjadi pada tanggal 29- Agustus- 2011 pada jam 10.04 WIB dimana umur bulan baru 5 ~ 8 jam sedangkan posisi tenggelam bulan sedikit DIUTARA posisi matahari tenggelam dengan selisih waktu hanya +/- 5 menit,, maka cahaya tipis bulan muda akan tenggelam dalam hamburan cahaya matahari yang sangat dekat dengan pancaran yang lebih kuat, sehingga hampir mustahil Hilal dapat dilihat.
Maka kondisi astronomis seperti ini hampir pasti akan menyebabkan perbedaan penentuan masuknya awal Syawal- 1432. Maka bagi ummat yang akan berhari raya tanggal 31- Agustus- 2011 hari Rabo, bersiap- siaplah memasak lebih cepat sehari buat saudara- saudara kita yang akan berhari raya hari Selasa 30- Agustus- 2011, seperti yang pernah dilakukan oleh embah saya! Bukannya malah saling menyalahkan!!!Akur?
Oleh : KH.Khaeruddin Khasbullah
Guru Online






yang terjadi saat ini saling salah menyalahkan…
seharusnya tetap toleran terhadap yang berbeda lebaran…
Perbedaan jangan sampai menjadikan tali ukhuwah sesama muslim terputus…