Tanbihun.com – Hubungan antara orang tua dan anak adalah sebuah hubungan abadi, yang tak mungkin bisa dihapus. Mungkin ada anak yang durhaka,mungkin juga ada orang tua yang tidak mengakui lagi anaknya, namun sejatinya itu semua tidak bisa serta merta menghilangkan hubungan fitrah, bagimana pun darah orang tua sudah mengalir dalam diri anak.
Seperti hubungan lainnya, hubungan antara anak dan orang tua pun mengalami pasang surut, sangat lumprah sesekali terjadi salah paham. Sebagai orang tua merasa bertanggung jawab kepada anak-anaknya, maka seiring bertambahnya usia anak-anaknya cara berpikir anak pun berkembang, aturan atau nasihat orang tua kadang dianggap intervensi, pengekangan, bahkan sering dianggap egois. Seperti yang terjadi dengan Dita, dia telah menjalin hubungan serius dengan teman kantornya, tapi orang tuanya tidak setuju, terjadilah kesalah pahaman, dita merasa hak asasinya telah dilanggar, pun halnya dengan orang tuanya mereka merasa didurhakai oleh dita.
Kesalah pahama ini terjadi karena banyak faktor, salah satunya adalah kurang paahamnya anak terhadap sifat-sifat fitrah (sifat bawaan) orang tua. Sifat ini berlaku universal, tak pandang warna kulit, suku, ras atau status sosial, sifat ini melekat kepada setiap orang tua. Salah satu sifat fitrah orang tua adalah ” MENGINGINKAN JODOH YANG BAIK BAGI ANAK-ANAKNYA “. Sampai disini mungkin si anak sudah paham, permasalahan timbul ketika anak dan orang tua mempunya definisi atau kriteria berbeda dalam mengartikan “JODOH YANG BAIK”, sebagai anak hal pertama yang harus ditanamkan dalam dirinya adalah memahami keinginan orang tua ini, dari sini akan menumbuhkan rasa maklum, orang yang sudah memaklumi biasanya bisa lebih terkontrol, kalau pun ada “penolakan” terhadap keinginan orang tuanya dia tidak akan melakukan “demontrasi anarkis” atau melakukan hal-hal yang tergolong frontal. Pendekatan dari hati ke hati akan terasa lebih efektif ketimbang perlawanan.
Coba kita ingat kembali kisah Nabi Musa, ketika dalam pelariannya bertemu dengan 2 orang gadis yang sedang antri mengambil air minum untuk ternaknya, setelah Nabi Musa AS menolong mengambilkan air minum, Musa pun dipersilahkan mampir ke rumah,
Kedua gadis ini tak lain adalah putri-putri Nabi Syu’aib AS. Mereka lalu melaporkan kejadian yang telah mereka alami bersama Nabi Musa kepada ayah mereka. Nabi Syu’aib kemudian menyuruh kedua putrinya untuk mengundang Nabi Musa datang ke rumah mereka.
Nabi Musa memenuhi undangan itu. Keluarga Nabi Syu’aib sangat senang melihat kehadiran Nabi Musa. Sikapnya yang sopan menunjukan bahwa ia adalah seorang pemuda bermartabat dari kalangan bangsawan. Kepada Nabi Syu’aib, Nabi Musa menceritakan peristiwa pembunuhan yang telah dilakukannya, yang menyebabkan ia terusir dari Mesir. Nabi Syu’aib menyarankan agar ia tetap tinggal di rumahnya agar terhindar dari kejaran orang-orang Fir’aun.
Nabi Syu’aib bermaksud menikahkan Nabi Musa dengan salah seorang putrinya. Sebagai syarat mas kawin, Nabi Musa diminta untuk bekerja menggembalakan ternak-ternak milik Nabi Syu’aib selama 8 tahun. Nabi Musa menyanggupi syarat tersebut, bahkan ia menggenapkan masa kerjanya menjadi 10 tahun. Ia menjalani pekerjaannya dengan sabar.
Selama masa 10 tahun tersebut, terlihatlah oleh keluarga Nabi Syu’aib bahwa Nabi Musa itu di adalah pemuda yang kuat, perkasa, jujur dan dapat diandalkan. Tak salah jika Nabi Syu’aib mengambilnya sebagai menantu dan menikahkan Nabi Musa dengan salah satu anaknya, yaitu Shafura. Nabi Musa sangat bahagia hidup bersama Shafura. Nabi Syu’aib juga lega karena Shafura mendapat pelindung yang dapat dipercaya.
Hal ini dikisahkan dalam Al – Qur’an tepatnya di Al-Qasas:22-28
Dan tatkala ia menghadap kejurusan negeri Madyan ia berdoa (lagi): “Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar”.
Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”.
Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”.
Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberi balasan terhadap (kebaikan) mu memberi minum (ternak) kami”. Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syuaib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya). Syuaib berkata: “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang lalim itu”.
Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”.
Berkatalah dia (Syuaib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik”.
Dia (Musa) berkata: “Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan”.(zid)
dosa tidak melaksanakan keinginan orang tua (1),Sifat orang tua (1),orang yang baik akan jodoh dengan yang baik al qur an (1),nasehat orang tua kepada anak jika mencari jodoh (1),nasehat orang tua agar segera menikahkan putrinya (1),keinginan orang tua jodoh anak (1),Keinginan orang tua dari anaknya (1),jodoh yg baik (1),jodoh yang baik untuk anak yang pertama (1)





