11. Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. ( QS Al Mujaadilah ayat 11 )
Jika merujuk pada asbaabun nuzul ayat ini, para mufassir memberikan penjelasan yang sama, yaitu berkaitan dengan melapangkan dalam bermajelis. Pada riwayat Muqatil bin Hubban dijelaskan bahwa pada suatu hari Rasulullah sedang berada dalam majelis bersama dengan para sahabat untuk menyampaikan pesan-pesan agama. Selanjutnya, hadir orang-orang yang pernah turut dalam perang badar. Karena kedudukannya yang istimewa, maka Rasulullah memerintahkan kepada para sahabatnya agar memberikan kesempatan duduk kepada mereka. Bagaimana sikap para sahabat ? Di antara mereka ada yang secara suka rela memberikan tempatnya, tetapi ada juga yang enggan dan berat hati.
Ada juga penjelasan lain seperti yang disampaikan oleh Ibnu Abbas. Menurutnya, turunnya ayat ini bertepatan ketika Rasulullah dan para sahabat sedang duduk dalam suatu majelis, kemudian datang Sabit Bin Qais. Karena pendengaran Sabit sudah agak terganggu, ia memilih maju dan mendekati Rasulullah Saw. Di antara sahabat ada yang sukarela memberikan kesempatan dan ada juga yang menolaknya.
Ar Razi memberika ulasan yang menarik tentang masalah ini. Menurutnya setidaknya ayat ini menjelaskan tentang dua hal. Pertama, jika kita disuruh untuk berdiri dalam rangka memberikan kesempatan kepada orang yang lebih patut untuk mendudukinnya, segeralah untuk mempersilahkannya. Kedua, jika kita disuruh berdiri karena memang telah lama duduk, sebaiknya memberikan kesempatan kepada orang lain agar mereka sama-sama merasakan nyamannya duduk.
Meskipun ayat ini sekilas tampak terbatas hanya membahas tentang memberikan kesempatan duduk kepada orang lain, sebenarnya memiliki makna yang sangat dalam dan luas. Jika kita mau berlapang hati memberikan kesempatan dan kebaikan pada orang lain agar orang lain juga dapat hidup dengan layak sebagaimana kita, maka Allah akan membalasnya dengan membukakan pintu-pintu rahmatNya kepada kita, baik dunia maupun akherat.
Pemilu dengan berbagai gegap gempitanya baru saja lewat, kalau kita pahami dan kita lihat dari kacamata nurani, maka yang tampak sebenarnya bukanlah pesta demokrasi rakyat, akan tetapi lebih kepada pesta ketamakan para penguasa dan orang-orang yang memproklamirkan dirinya sebagai ” Wakil Rakyat “. Mereka begitu rakus akan kekuasaan dan jabatan sehingga berusaha dengan sekuat tenaga dan menghalalkan segala cara agar syahwat kekuasaannya dapat tersalurkan dengan baik. Orang yang baru membayangkan empuknya kursi parlemen saja begitu antusias dan ambisius untuk dapat mendudukinya, apalagi mereka yang sudah pernah duduk dan merasakan bagaimana nyamannya kursi mereka. Maka mereka akan melakukan segala hal agar kursi yang pernah didudukinya tidak raib di ambil “pencuri”.
Pasca pemilu legeslatif, semua elemen parpol yang doyan untuk mengumbar kebohongan intelektual tersebut beramai-ramai membangun koalisi, yang intinya cuma dua hal, yaitu merebut kekuasaan atau mempertahankan kekuasaan. Yang ada dalam otak mereka bukanlah nasib ratusan juta masyarakat Indonesia akan tetapi bagaimana bisa memenangkan pemilihan presiden, sebuah jabatan yang prestisius dan diduga bisa mengenyangkan nafsu serakah mereka.
kalau berkaca pada ayat tersebut di atas beserta penafsiran-penafsiran yang disodorkan ulama, maka semestinya, orang-orang yang merasa dirinya dan memang sudah terbukti dari sejarah jika dirinya tidak mempunyai kapabilitas untuk memimpin negeri ini, hendaklah memberikan kesempatan kepada orang yang lebih patut, mampu serta lebih kompeten dibanding dirinya. Namun fenomena yang terjadi dihadapan kita adalah sikap arogan dan kepercayaan diri yang berlebihan yang ditunjukkan oleh masing-masing capres, merasa dirinya paling berhak dan mampu mengemban amanah bangsa ini, sementara diluar itu masih banyak anak-anak bangsa yang lebih baik, lebih taqwa dan lebih amanah dibanding dirinya.
Wallahu A’lam
Mari Beramal Dengan Menyebarkan Artikel Ini :