AHMAD AR RIFA’I[1]
Tanbihun- Akhir-akhir ini, umat Islam Indonesia sudah terjebak pada sikap ashobiyyah ( fanatic buta ) terhadap sukunya, rasnya, organisasi politiknya, bahkan tanah airnya. Masing-masing mereka tidak hanya suka membanggakan kelompok sendiri, tapi juga merendahkan kelompok lain. Sedemikian fanatiknya masing-masing mereka terhadap kelompok sendiri, seolah-olah mereka punya ‘akidah’: Kelompok sendiri selalu benar dan harus dibela mati-matian sampai mati. Inilah yang disebut ‘Ashabiyah. Terjadinya banyak peperangan dan pertumpahan darah di antara mereka, umumnya diakibatkan oleh ‘ashabiyah atau fanatisme kelompok ini.
Pengertian ‘ashabiyyah itu sendiri. ‘Ashabiyah adalah sifat yang diambil dari kata ‘ashabah. Dalam bahasa Arab, ‘ashabah berarti kerabat dari pihak bapak. Menurut Ibn Manzhur, ‘ashabiyyah adalah ajakan seseorang untuk membela keluarga, tidak peduli keluarganya zalim maupun tidak, dari siapapun yang menyerang mereka. Menurutnya, penggunaan kata ‘ashabiyyah dalam hadis identik dengan orang yang menolong kaumnya, sementara mereka zalim (Ibn Mandzur, Lisan al-‘Arab,I/606 ). Pandangan ini sama dengan pandangan al-Minawi ketika menjelaskan maksud hadis:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّة وليس منا من قاتل علي عصبية وليس منا من مات علي عصبية
Bukan termasuk umatku siapa saja yang menyeru orang pada ‘ashabiyah, bukan dari golongan kami orang yang berperang karena ashabiyyah, dan bukan dari golongan kami orang yang mati karena ashabiyyah (HR Abu Dawud).
Beliau menyatakan, “Maksudnya, siapa yang mengajak orang untuk berkumpul atas dasar ‘ashabiyah, yaitu bahu-membahu untuk menolong orang yang zalim.” Sementara al-Qari menyatakan, “Bahu-membahu untuk menolong orang karena hawa nafsu.”( Muhammad Syamsu al-Haq, ‘Aun al-Ma’bud, XIV/17.)
Dalam hadis lain, larangan berperang di bawah bendera ‘Ummiyyah atau Immiyyah, menurut as-Sindi, adalah bentuk kinâyah, yaitu larangan berperang membela jamaah (kelompok) yang dihimpun dengan dasar yang tidak jelas (majhûl), yang tidak diketahui apakah haq atau batil. Karena itu, orang yang berperang karena faktor ta’âshub itu, menurutnya, adalah orang yang berperang bukan demi memenangkan agama, atau menjunjung tinggi kalimah Allah (As-Sindi, Hasyiyah as-Sindi ‘ala Ibn Majah, VII/318)
Dengan demikian, jelas bahwa makna ‘ashabiyyah di sini bersifat spesifik, yaitu ajakan untuk membela orang atau kelompok, tanpa melihat apakah orang atau kelompok tersebut benar atau salah; juga bukan untuk membela Islam, atau menjunjung tinggi kalimat Allah, melainkan karena dorongan marah dan hawa nafsu.
Islam tidak mengakui setiap loyalitas kepada selain akidahnya, tidak mengakui persyerikatan kecuali ukhuwah Islamiyyah dan tidak mengakui cirri khas yang membedakan manusia kecuali iman dan kekafiran. Oleh karena itu, orang yang memusuhi Islam adalah musuh orang Islam, meskipun dia adalah tetangga, family, bahkan saudara seibu sekalipun, Allah berfirman :
kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, Sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. ( Al-Mujaadilah:22)
dan juga dalam Surat Taubat Allah menegaskan :
Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan( At-Taubah:23).
Islam tidak pernah menilai kemuliaan seseorang berdasarkan keturunan, ras, suku maupun bangsanya. Islam hanya mengukur kemuliaan seseorang berdasrkan ketaqwaan semata. Dalam hal ini Nabi bersabda :
انظر فإنك لست بخير من أحمر ولا أسود إلا أن تفضله بتقوي الله
Perhatikanlah sesungguhnya kamu tidak lebih baik dari orang yang berkulit merah atau berkulit hitam, kecuali jika kamu dapat mengunggulinya dengan ketakwaan kepada Alloh (HR. Ahmad )
Tanpa Ketakwaan kepada Allah, keturunan tidak berarti sama sekali dihadapan Allah Swt, sampai dzuriyyahnya Nabi sekalipun jika mereka tidak bertakwa kepada Allah, maka mereka tidak akan mendapat kemuliaan sedikitpun dimata Allah Swt.
[1] Di sampaikan di STIAMI tgl 09 November 2011
ukhuwah,ashabiyah adalah,arti ashabiyah,Pengertian ashobiyah al arabiyati,Mati karena ashabiyah ashobiyah asabiyah,hadits larangan ashabiyah,Hadist tentang melarang membanggakan kesukuan,hadis tentang assyabiyah,hadis tentang ashabiyah



Aswb. Mas, Saya tinggal di Singkawang Kalimantan Barat, di tempat Saya ada Pak Kyai yang sudah sepuh (80 tahunan) asal Indramayu, dulu Saya kira orang NU, cuma anehnya ndak pernah mau Jum’atan, yang ngaji sama beliau ya cuma sekitar enam orang dan muridnya juga ndak pernah jumatan, awalnya Saya bingung, kata Pak Kyai tersebut sholat jumatnya orang2 di situ ndak syah alias batal. Jadi selama di Singkawang beliau ndak pernah jumatan. Saya baru tahu akhir2 ini kalau beliau pengikut Rifaiyah. Ceritanya gini, ada seorang Ustad dari Demak sedang khuruj (Jamaah Tabligh) di Singkawang yang ternyata ustad tsb pengikut Rifaiyah juga. Setelah mendengar ada Kyai ndak mau jumatan, maka ustad tersebut minta diantar untuk silaturahim ke Pak Kyai tsb dan Pak Kyai senang sekali dikunjungi Ustad tsb. Kesimpulan dari Ustad tsb, bahwa Pak Kyai adalah pengikut Rifaiyah golongan awal jadi pola pikirnya masih terkondisi jaman Belanda, jadi ya harap maklum kalau masih kolot, katanya. Kalau Saya pikir betul juga, karena nampaknya bagi Pak Kyai kalau bukan Tarajumah ndak betul, la wong mantunya sendiri sampai disengiti gara2 mondokkan anaknya di pesantren di Jakarta bukan di Rifaiyah, kalau kata mantunya, ngeri nanti anaknya kalau masuk Rifaiyah jadi ndak mau jumatan, kurang gaul. Sayapun agak menyayangkan sikap Pak Kyai tersebut, la mbok iyao kalau memang iman, amal ibadah tetangganya ndak Syah ya diberitahu lewat pengajian, la ini pengajiannya tertutup, terus kalau ada yang ikut ngaji lalu belum mampu mengamalkan yang dipelajarinya lalu disengiti, katanya kalau ikut pengajian beliau harus taslim dulu, akhirnya yang ikut ngaji ya ndak tahan dimarahi, ya bubar jalan. Bagi Saya pribadi sebenarnya ajaran Rifaiyah adalah benar dan bagus karena KH. Ahmad Rifai ilmunya bersanad sampai Rasulullah SAW, cuma yang bikin ajaran beliau lambat berkembang bahkan banyak yang ndak tahu adalah karena kesalahan2 pengikutnya juga, terlalu menutup diri dan cenderung suka menyalahkan golongan lain. Contoh nyata di tempat Saya, kalau ada orang / ustad lain, yang dilihat itu kekurangannya, ya akhirnya jadi ghibah, ya mbok orang itu dilihat kebaikannya jangan kekurangannya saja, sanking kerasnya beliau sampai-sampai ada anak laki-lakinya yang malah suka mabok, ndak mau ibadah, kalau disuruh sholat jawabnya, “Ngibadah sih gampang,” Jadi nirukan kata Pak Kyai sendiri. Inilah senjata makan tuan karena Pak Kyai sering menganggap remeh ibadah orang non Rifaiyah yang katanya i’tikadnya ndak betul jadi ibadahnya ndak syah sehingga beliau sering ngomong,” Ngibadah sih gampang, betulkan dulu i’tikadnya. Tapi walaupun demikian Saya masih menjaga hubungan baik dengan Pak Kyai tersebut, walaupun beliau sering menyindir bahwa i’tikad Saya belum benar, bagi Saya Pak Kyai tersebut bagaikan Alquran yang ada beberapa halamannya salah cetak, tak mungkin Saya buang ke tempat sampah, ya Saya simpan, yang salah cetak Saya tandai/lipat ndak Saya baca/pakai. Kemarin dengan susah payah anaknya yang bengal tadi dibawa ke Randudongkal Pemalang, semoga mau mondok di sana, kasian takutnya Pak Kyai ndak ada penerusnya. Saya pernah bicara dari hati ke hati ke anak tsb, katanya dia frustasi tiap hari dimarahi terus, kemudian kalau marahi di depan orang banyak lagi, jadi ya malu berat, akhirnya jadi nekat. Jadi yang menjadi pertanyaan Saya, apakah masih banyak Islam Tarajumah yang model begini, ndak mau ke masjid/jumatan, suka berdebat, menyalahkan golongan lain, kalau ndak Tarajumah ndak betul. Kan sayang, ajarannya haq tapi dainya kurang sabar, fiqud dakwahnya ndak dipakai, akhirnya ndak ada hasil, jangankan orang lain, keluarganya saja agamanya memprihatinkan. Ngapunten Mas Rifai Ahmad, Saya minta pencerahan, karena bagaimanapun Saya tetangga beliau, Saya hormat beliau karena Saya lihat beliau orangnya jujur, sama pejabat ndak silau, ndak suka menjilat, amanah, menepati janji, dll yang ustad / kyai lain ndak punya.Nuwun.
alamat lengkapnya dimana mas. atau ada nomor yang bisa dihubungi. saya bisa minta, mungkin kapan-kapan bisa bertandang
Mas, kalau ndak keberatan tolong minta nomor hp kirim ke email Saya guspar38@gmail.com, Saya pengin sekali konsultasi langsung, karena Pak Kyai minta Saya bergabung, tapi Saya masih ragu, Saya sebenarnya mau cuma Saya menghendaki, mbok iyao masyarakat dirangkul, masjid difungsikan, jangan menyendiri, kalau masyarakat belum mampu ngamalkan kitab Tarajumah jangan disengiti, pelan-pelan to ya, sing sabar. Ini yang sering bikin Saya beda pendapat dengan Pak Kyai. Nuwun.
Wassalam…dulu sikap eksklusif seperti itu dalam rangka membina aqidah Islam masyarakat jawa waktu itu yg banyak terdistorsi dg adat dan campur tangan kolonial. sehingga KH Ahmad Rifa’i dalam kitab2nya menghukumi tdk sahnya jum’atan yg didirikan oleh kafir belanda. beliau juga menghukumi ga sah sholat jamaah dibelakang imam yg membeo kepada belanda, dsb. Semangat pemurnian beliau itu ternyata dipahami keliru oleh santri2 beliau setelahnya, hingga tampilan eksklusif terus ditampilkan meskipun zaman sudah berubah.
orang2 berfikiran kolot seperti itu di Rifaiyah memang masih ada, akan tetapi para Kyai besarnya dan tokoh masyarakatnya sekarang sudah cenderung moderat dan menerima berbagai jenis perbedaan. merubah paradigma berfikir kyai ditempat anda memang agak susah namun jika golongan mudanya mampu menampilkan Islam secara menawan maka Insya Alloh ga ada yg ga mungkin.
ni nmr hape saya. 081282301784 atau 081808439399. atau antum bisa tukar pendapat dg KH. Khoiruddin Hasbulloh, beliau adalah sesepuh kami…
tulisan yang runut dan mudah dipahami. fanatik paham bermula dari ketidaktahuan, mana yang harus diyakini, dan mana yang harus diilmui; mana tujuan mana jalan. kalau penelisikan sejarah bahwa Siti Hajar berasal dari Jawa itu tidak terus dianggap sesat. tapi itu perkembangan penemuan dan ilmu. karena gak mungkin orang tua menamai anaknya dengan batu (hajar), tetapi di Jawa Hajar berarti ajar, atau mendidik. masih ingatkan nama Ki Hajar Dewantoro….
Ah kang Ahsa, aya- aya wae (ada- ada saja)…… kalau begitu Djoko vic Noxak si pemain tennis dari Serbia atau Joko vic Maro si pemain polo air dari Croatia itu nenek moyangnya pasti suku Jawa, buktinya memakai nama Den Joko!!!, Sedangkan Super man, Bat man dan Bionic man itu masih seketerununan dengan kang Suparman!!! percaya enggak?