Mukmin kekasab nenandur jejagung – iku luwih becik tinimbang ngawulo ing tumenggung
Mukmin kekasab nenandur tetela – iku luwih becik tinimbang ngawula ing landa.
Maksud syair di atas untuk konteks sekarang adalah sebagaimana diulas dalam tulisan berikut ini.
Kalo anda baca koran, majalah, atau sekedar mengunjungi kedalaman informasi Pak de Google, banyak disana ditemukan kata-kata liberal. Mungkin yang paling akrab di telinga kita adalah Islam Liberal. Juga ada ekonomi liberal, pilitik liberal, sampai model pemikiran yang mendasarkan pemikirannya pada liberasi atau pembebasan. Kalau memahami itu semua, kita bisa membayangkan berarti orang-orang yang ingin bebas itu menganggap manusia selama ini penuh dengan jeratan, atau ibarat maling berada di penjara. Terutama pemikiran yang berakar dari Barat itu menganggap bahwa kebebasan itu sama dengan kemerdeaan. Padahal pangkal dari semua kerusakan dunia ini berasal dari kebebasan.
Dari semua liberal waakhwatuha itu pada intinya manusia berekspresi di dunia ini kepinginnya bebas tak terbatas. Kalau anda sampai ketemu istilah ekonomi liberal, berarti bahwa ekonomi harus mempunyai tujuan, sistem, yang bebas tidak terikat satu nilai apapun. Kalau ekonomi itu diartikan secara sempit sebagai transaksi, maka anda akan jualan apa saja itu hukumnya halal. Mencari rizqi dengan cara setamak-tamaknya tanpa memikirkan distribusi keadilan itu juga boleh dalam sistem ekonomi liberal.
Prinsip pertama dari ekonomi liberal adalah tujuan berekonomi itu capital atau duit yang dicari dengan cara sebebas-bebasnya. Kalau anda kurang mudeng mari kita cari contohnya. Sekarang sering terjadi pengusaha membangun perumahan dan fila di tempat resapan air, atau di pegunungan. Proses pembangunan itu mendapatkan izin dari pemerintah, tanpa mempertimbangkan dampak pasca pembangunan. Maka jangan heran kalau Jakarta banjirnya semakin tidak ketulungan. Lha wong Bogornya sebagai tempat resapan air selalu gegap gempita dalam pembangunan. Air hujan yang ingin mampir di akar, menghidupi daun dan batang pepohonan; ingin bermukim menjadi air tanah tidak lagi menemukan pori-pori resapan tanahnya. Maka yang akan terjadi: kalau hujan banjir, dan kekeringan saat musim panas. Itu artinya seseorang yang ingin mendapatkan keuntungan materi, di negara ini dijamin keselamatannya, walaupun harus orang sekota yang menanggung getahnya. Itulah ekonomi liberal
Dalam sistem ekonomi liberal selalu berpacu pada prinsip time is money yang diartikan sebagai waktu adalah uang. Kalau dalam ajaran agama waktu adalah laba. Laba itu keuntungan, berarti bisa keuntungan lingkungan, ekonomi, pendidikan, dan yang paling puncak dan menjadi muara: keuntungan beriman dan beribadah kepada Allah. Keuntungan ekonomi jangan sampai mengorbankan keuntungan lingkungan, keuntungan lingkungan harus bertujuan mencintai sesama makhluk sebagai ikhtiar beribadah kepada Allah.
Kalau prinsipnya waktu adalah laba, maka orang yang mau mencari peruntungan laba ekonomi tidak mau merugikan laba lingkungan. Laba ekonomi perumahan mungkin dinikmati segelintir orang, tapi kerugian lingkungan akan menjadi tanggungan beribu manusia bahkan sampai anak cucunya. Orang yang merawat hijaunya hutan mangrove di bibir pantai, akan berfikir bahwa usahanya adalah laba dalam rangka beribadah kepada Allah, karena akan menyelamatkan daratan dari abrasi karena jilatan air laut, dan tentunya menyelamatkan berhektar-hektar penghasilan petani tambak.
Dalam Surat al-Ashr Allah mengingatkan “demi masa, sesungguhnya manusia itu dalam keadaan merugi..” manusia sangat merugi karena dalam fase kehidupannya didominasi mengejar time is money, waktu adalah uang dan uang, serta uang, dengan uang dan mengabaikan time is benefit. waktu adalah laba. Tak heran kan apabila pemilu kemarin dihiasi money politic?
Contoh lain dari ekonomi liberal: Dalam beberapa bulan kemarin kita masih ingat tho tentang mahalnya anthurium, gelombang cinta. Sebelumnya masyarakat juga sempat dibikin gerah dengan isu mahalnya ikan louhan. Pertanyaan kita mungkin sebenarnya apa yang diperjualbelikan. Kok harganya sampai puluhan juta, bahkan ratusan juta. Itupun berlangsung hanya dalam jangka beberapa bulan, setelah itu loauhan, anthurium, tidak menjadi berhala rizqi lagi. Bahkan sepertinya kurang berguna.
Masyarakat oleh media digiring pada isu tententu, dan dibalik isu-isu itu ada kepentingan pencari laba yang bermain dengan media dan kekuasaan. Apa yang menjadikannya mahal, kalau bukan isu-isu yang dibesar-besarkan media massa. Kalau dalam Surat al-Munafiqun diterangkan “apabila datang orang-orang munafiq kepadamu, maka waspadalah terhadap beritanya.” Itu berarti dalam arti luasnya yang dimaksud dengan munafiq itu bukan hanya manusia, tetapi juga media, lembaga, penguasa, organisasi, dll.
Contoh lain ekonomi bebas yang sering terjadi di Indonesia adalah kepentingan pemodal yang ketemu pejabat negara yang pinginnya menumpuk-numpuk harta. Salah satu kasusnya adalah ketika beras di dalam negeri Indonesia masih banyak, masa panen baru saja usai, tiba-tiba ada kiriman beras ratusan ribu, bisa juga jutaan ton dari luar negeri yang akan dijual di Indonesia. Anak SD pun akan tahu hukum ekonomi yang mengatakan: “banyak barang, harga akan turun, sedikit barang, harga akan naik”. Lha yang terjadi di Indonesia itukan beras sudah berlimpah, malah dicarikan tumpukan berton-ton beras lagi. Maka hukum ekonominya akan berbunyi: “Banyak beras, harga turun, berlimpah beras harga mblesek.” Maka jangan heran, kalau usai panen, hutang petani tambah menumpuk, karena menjual beras sama halnya menumpuk kerugian-kerugian ekonomi. Harga jual beras tidak jangkep dengan ongkos produksinya.
Dalam konteks ini, petani Indonesia adalah sejatinya petani di dunia, karena kebanyakan petani kita menjalankan pertaniannya dalam rangka mengejar peruntungan beribadah kepada Allah, karena memanfaatkan tenaga-pikiran, bahkan setiap tetes keringatnya untuk dipotensikan mengelola tanah yang akan menghasilkan makanan bagi kelangsungan hidup manusia.
Prinsip selanjutnya yang dianut dalam ekonomi liberal adalah pasanglah sistem ekonomi sebebas-bebasnya. Atau dalam bahasa akademisnya: ekonomi pasar. Anda bisa bersaing sekeras apapun itu tidak ada aturan yang yang membatasinya. Ibarat ada tengkulak besar memborong kain batik di Pekalongan, dan para pengasong tidak kebagian kain batik itu halal-halal saja. Bagi ekonomi liberal. Seandainya carefour hypermarket dibangun di antara pasar-pasar tradisional itu bukan sebuah keresahan nalar ekonomi liberal. Dan anehnya ekonomi liberal itulah yang dianut oleh sebagian besar negara-negara di dunia, tidak terkecuali Indonesia.
Prinsip yang paling populer dianut nalar ekonomi liberal adalah globalisasi. Atau hilangnya batas-batas sebuah negara (borderless). Seorang pengusaha, atau perusahaan manapun kalau modal, minat dan kemampuannya mencukupi bisa ekspansi ke negara manapun. Bisa menguras sumur minyak seenak udelnya dimanapun, bisa membawa pulang gunung emas yang sebenarnya hak milik Tuhan yang dititipkan kepada 275 juta jiwa bangsa Indonesia. Maka konstitusi yang berjurar bahwa bumi Indonesia dan seluruh isinya adalah milik rakyat Indonesia yang dikelola oleh negara dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan kesejahteraan rakyat hanya dongeng konstitusi yang kadang wajib di hafal anak-anak SD.
Maka tidak heran apabila kecenderungan jangka kontrak kerja perusahaan-perusahaan multinasional, seperti Exxon Mobile, Freeport, Shile, dengan pemerintah kita dalam acara menguras kekayaan alam Indonesia sampai berpuluh tahun, bahkan sepertinya sampai bumi ini kering kerontang, dihalalkan begitu saja. Jangan sampai anak cucu kita yang masih disana komplain kepada Tuhan agar segera digagalkan rencana penciptaannya, karena di bumi sudah tidak ada jatah waris, toh walau hanya sekedar menjadi ashobah.
Saya dapat kabar dari berbagai tulisan, kalau satu perusahaan sekelas Exxon Mobile, kekayaannya melebihi APBN tiga negara berkembang. Bagaimana anda membayangkan. Apakah tidak mungkin pemerintahan kita akan selalu dicongok hidungnya dengan limpahan dolar atau berbagai dukungan, yang salah satunya menyediakan milyaran rupiah sebagai ongkos pemenangan pemilu. Apakah anda sangka pemilu ini berjalan wajar-wajar saja. NO WAY. Pasti ada komprador-komprador pemodal yang bermain dalam proses pemilihan para amir itu. Karena sesunggunya kemenangannya akan memuluskan jalan perompakan besar-besaran terhadap bumi Indonesia ini. Anda masih ingat ketika Amin Rais berkoar mengindikasikan dana asing yang berlimpah untuk membiayai salah satu calon presiden dalam pemilu 2004? Siapa yang membiayai dan untuk apa mereka membiayai? Cari sendiri…..saya juga gak tahu.
Maka seperti saya tegaskan di judul tulisan ini. Menjadi merdeka secara ekonomi saja, bangsa Indonesia ini sangatlah sulit, kita masih dalam kungkungan pikir liberalisme ekonomi dan imperialisme komprador-komprador pembawa modal itu. Selain intervensi Allah SWT, dan Syafaat Nabi Muhammad SAW. bangsa ini mustahil menjadi bangsa merdeka.
Oleh Ahmad Saifullah
Mari Beramal Dengan Menyebarkan Artikel Ini :