Saya hanya sekadar mau menyampaikan tulisan sederhana ini, tapi penuh makna menurut saya, kepada khalayak. Semoga bermanfaat. Amien.
Dampak negatif “Kekerasan terhadap Anak”
(Ratna Megawangi, Wiyono, dan Puspitawati. 2009)
1. Menumpulkan hati nurani
2. Membuat anak terlibat perbuatan kriminal
3. Membuat anak gemar melakukan terror dan ancaman
4. Membuat anak menjadi pembohong
5. Membuat anak menjadi rendah diri/minder
6. Menimbulkan kelainan perilaku seksual
7. Mengganggu pertumbuhan otak anak
8. Membuat prestasi belajar menjadi rendah.
Oleh karena itu, maka sudah sepatutnya kita harus berintospeksi diri mulai dari sekarang. Apakah selama ini, kita telah melakukan hal-hal yang tidak wajar kita lakukan terhadap anak-anak? membentak misalnya? Mengancamnya? (tidak akan diberi uang selama seminggu karena nilai raportnya ada yang merah), melakukan kekerasan fisik, seperti halnya menjewer? (biasanya dilakukan bagi guru yang merasa kesal terhadap siswanya yang tidak hafal atau tidak bisa mengenai hal tertentu), memukul pantat anak yang masih balita karena menangis tiada henti? Menghajar anaknya hanya gara-gara si anak mandi di sungai? atau bahkan melempar penghapus dan memukul dengan mistar/sapu hanya persoalan sepele ???
Sungguh tragis !!! jika hal ini semakin membudaya di kalangan masyarakat ini, sehingga hal-hal tersebut sudah dianggap sebagai sesuatu yang wajar dilakukan. Mau jadi apa bibit-bibit bangsa itu jika kita mengoyak kenyamanan/dunia mereka ? Fase perkembangan karakter mereka memang masih dalam tahap yang enjoy, suka membantah, dan ingin dipuji. Jadi, kita tidak sepatutnya menyamakan fase mereka dengan fase perkembangan karakter orang dewasa, yang sudah menyadari masa depan, HAM dan toleransi.
Pernahkan kita menyadari, ada beberapa anak yang dulunya saat tingkat Sekolah Dasar (SD) dia sangat berprestasi, tapi saat mulai tingkat SMA prestasinya justru menurun drastis? Namun, ada beberapa anak saat SD dia tidak berprestasi sama sekali tapi justru pada saat mulai tingkat SMP hingga SMA prestasinya sungguh melesat dan membanggakan ???. Hal tersebut, dipengaruhi oleh pribadi, keluarga, dan lingkungan sekitar si anak.
Keluarga yang sakinah/sejahtera akan membuat jiwa anak merasa tenang, tenteram penuh kedamaian. Tidak ada kata-kata kasar yang sempat menyelinap di kuping si anak, apalagi menerima pukulan sapu dari ortunya. Sehingga si anak meskipun pas awal-awal masuk sekolah (SD) prestasinya tidak begitu bagus, tetapi berkat dukungan ortu yang selalu mengasihani dengan tulus dan penuh sopan santun (menasihati dan mendoakan), hingga membuat si anak lama-kelamaan dengan sendirinya, akan menyadari bahwa dia harus membanggakan ibunya, salah satunya adalah belajar giat tanpa putus asa hingga meraih apa yang diharapkan. Namun, bagi ortu yang mengharuskan anaknya selalu berprestasi dengan iming-iming akan dibelikan lemari belajar baru jika rangking 1 (mungkin berhasil pas awal-awal), tapi untuk selanjutnya???apakah si anak akan terus berprestasi dengan kekangan dan keharusan dari ortu agar si anak untuk belajar,belajar, dan belajar???
Tidak !!! yang ada hanyalah si anak justru akan mengalami stress berat dan hidupnya penuh tekanan. Sehingga lama-kelamaan si anak akan menjadi generasi yang kaku, lemah, penuh ancaman dan ketakutan. Ibaratnya, kalau dalam dunia perbenihan, si anak akan menjadi benih yang memiliki viabilitas yang rendah, alias tidak bisa tumbuh-kembang secara optimal. Parahnya lagi, akan menjadi benih yang bersifat dorman (alias loyo n tolol). So…kita mulai dari sekarang harus MENDIDIK MEREKA SESUAI FASENYA. O.K.
Kampus Tani, 28 November 2009
ALI AHKAMULLOH AHSA
Mari Beramal Dengan Menyebarkan Artikel Ini :