Ideologi Pendidikan

Hosting Unlimited Indonesia


pendidikan

Mendidik atau Mengajar?

Berbicara masalah ideologi berarti juga membicarakan masalah konsep yang tersistem secara rapi atau boleh dikatakan ideologi itu sebuah teori. Namun lebih enaknya jika ideologi dijabarkan terlebih dahulu. Ideologi oleh Arif Rahman dalam bukunya yang berjudul ”Politik Ideologi pendidikan” mempunyai dua pengertian, pengertian secara fungsional dan secara struktural.

Secara fungsional, ideologi diartikan sebagai pemikiran yang digunakan untuk kebaikan bersama (common good). Dalam hal ini ideologi bisa muncul karena kekecewaan pada saat ini dan mempunyai niatan untuk memperbaiki di zaman akan datang.

Proses antara sekarang dengan zaman akan datang (tengah-tengahnya) itulah letak pemikiran ideologi yang digunakan sebagai dasar kerangka bangunan berfikir untuk meraih hal yang dianggapnya baik pada zaman yang akan datang. Dalam dunia pergerakan, Tan Malaka saat berjuang –memperjuangkan kaum buruh- juga tergetarkan hatinya saat melihat kaum buruh yang pada zaman kolonial selalu diperas tenaganya namun tidak ada ibalan yang sepadan yang diberikan oleh pemerintah kolonial.

Namun cara perjuangan yang dilakukan Tan Malaka masih bersifat konvesional, dengan cara agitasi, demonstrasi dan baikot. Mungkin pada waktu dulu cara itulah yang efektif guna melakukan perlawanan. Itu merupakan langkah-langkah revolusioner guna memunculkan bergaining posision dan di tindak lanjuti dengan merampas kekuasaan kaum borjuis kemudian di berikan kepada kaum buruh.

Cara seperti itu dalam teori sosial kritis tidak disetujui karena revolusi pragmatis akan melahirkan diktator baru. Apalagi Tan Malaka pernah berkecimpung dalam organisasi PKI yang di gawangi oleh uni soviet. Uni soviet merupakan negara penganut marxise leninisme, kekuasaan di percaya sebagai jalan yang paling efektif untuk menyebarkan faham sosialis. Dan boleh dilihat negara-negara modern sekarang yang menggunakan ideologi marxis leninesme rata-rata pemimpinnya jadi diktator kuat di negarnya.

Sedangkan ideologi struktural, diartikan sebagai alat pembenar bagi kebijakan dan tindakan kaum penguasa. Mungkin pada zaman orde baru kita masih teringat dengan namanya penataran P4. itu adalah alat yang digunakan pembenar bagi tidakan-tindakan negara kepada masyarakatnya. Seolah-olah perbuatan pemerintah itu semua benar dan wajib di ikuti. Sehingga yang tidak cocok dengan kebijakan serta tidak mau melaksanakannya akan di anggap pembangkang.

Bukan hanya dalam dunia ke-negaraan saja ideologi ini diterapkan, dalam dunia agama-pun ideologi seperti ini diterapkan. Seperti pembentukan wadah-wadah organisasi keturunan Nabi yang disebut Habib atau organisasi Islam puritan lainnya. Seoalah-olah apa yang di kehendakinya itu selalu benar karena sudah berlandaskan dengan teks-teks al-qur’an.

Mereka ingin memaksakan ajaranya kepada semua umat dan menyatukan ajaran yang akan berpusat pada dunia Arab, tanpa melihat faktor sosiologi dan geografi masyarakat sekitar. Coba bayangkan masyarakat Indonesia akan disamakan dengan masyarakat Arab, tentu tidak akan cocok karena sangat berbeda.

Arab menjadi dominan karena para Nabi kebetulan di lahirkan di ranah Arab, coba bayangkan, seumpama Islam diturunkan di Indonesia pasti pakaian yang digunakan kebanyakan orang adalah Kemben bagi yang putri dan yang putra pakainya seperti dipakai oleh para pejabat kerajaan dulu. Itu disebakan suasana di Indonesia di pengaruhi oleh iklim tropis sedangkan di Arab sangat wajar jika menggunakan jubah karena suasanannya sangat panas jadi sangat wajar.

Pendidikan

Kemudian cara yang paling mudah untuk menyebarkan virus-virus ideologi adalah menggunakan dunia pendidikan. Karena pendidikan merupakan salah satu harapan masyarakat yang diyakini bisa menumbuhkan sikap moral yang baik atau dalam sisi pragmatisnya bisa digunakan untuk mencari kesejahteraan.

Itu bisa saja terjadi jika ideologi yang digunakan dalam dunia pendidikan itu jelas, namun ideologi yang digunakan tidak jelas maka secara otomatis akan muncul generasi-generasi yang lahir-pun akan tidak jelas. Nah….mungkin ketidak jelasan ideologi yang di anut oleh Indonesia-pun tidak jelas juntrungnya mau di arahkan kemana. Karena sering gonta-ganti sistem, sebelum mengatakan ideologi yang dianut oleh di Indonesia, alangkah baiknya jika kita menjabarkan dulu ideologi-ideologi yang ada dalam pendidikan.

Pembicaraan masalah ideologi pendidikan sebenarnya merupakan kelanjutan dari ideologi politik yang dominan disuatu wilayah, sehingga bisa dikatakan ideologi pendidikan lahir dari induknya yaitu ideologi politik. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa akan ada hirakhi nilai yang terkait dari yang lebih tinggi ke herarkhi yang paling rendah. Kedudukan yang lebih tinggi akan menjadi dasar rekomendasi terhadap lahirnya nilai dibawahnya.

Dan ideologi politik suatu Negara merupakan tingkatan tertinggi dan jelas akan mempengaruhi ideologi pendidikan yang ada di suatu negara tersebut. Karena pada dasarnya pendidikan berada di bawah naungan suatu negara. Ini pernah terjadi di indonesia pada zaman orde baru yang menanamkan citra buruk lewat pendidikan (terutama pelajaran sejarah) pada Partai Komunis Indonesia (PKI). Sehingga sampai sekarang PKI seolah-olah menjadi aliran yang sesat, padahal PKI itu sama dengan partai-partai lainnya. Itu semua dilakukan karena PKI merupakan salah satu ancaman terbesar bagi kekuasaannya. Dan di buatlah seolah-olah faham komunis bisa meruntuhkan faham Pancasila.

Dalam hal ini O’Neil menjabarkan beberapa ideologi yang dianut oleh berbagai negara. Namun dari banyaknya ideologi tersebut dia golongkan ke dalam 3 kelompok yaitu konservatis, liberal dan Kritis Radikal.

Ideologi Konservatif

Dalam padangan ideologi kondervatif ini memandang bahwa ketidaksederajatan masyarakat merupakan sesuatu yang alami, sesuatu hal yang sangat  mustahil untuk kita hindari. Perubahan dalam faham ini merupakan sesuatu hal yang tidak perlu diperjuangkan karena faham ini percaya bahwa perubahan akan menciptakan sebuah kesengsaraan baru.

Mereka yang miskin, buta huruf dan menderita merupakan kodrat ilahi dan kesalahan mereka sendiri karena tidak bisa merubah dirinya sendiri. Orang miskin harus bersabar dan belajar menunggu nasib sampai giliran mereka datang, karena pada akhirnya semua oang akan menacapai kebebasan dan kebahagian. Sehingga dalam kaum konservatif selalu menjunjung tinggi harmoni serta menghindari konflik.

Dan ideologi pendidikan konservatif juga mempunyai tiga tradisi pokok, yaitu fundamentalisme pendidikan, intlektualisme pendidikan dan konservasme pendidikan.

Fundamentalisme pendidikan pada dasarnya anti pada intelektualisme, atau bisa dikatakan sebuah gerakan yang tidak mementingkan dasar-dasar filosofis atau menggunakan filsafati namun sedikit dan cenderung menerima diri tanpa melakukan aksi kritik pada sistem yang sudah mapan. Gerakan ini kalau di agama seperti gerakan puritan yang melakukan pembenenaran terhadap teks-teks yang di wahyukan pada tuhannya. Sedangkan manusia hanya menjadi saksi bisu, padahal bisa saja orang yang mengartikan al-qur’an itu adalah orang yang mempunyai kepentingan untuk dirinya sendiri, seperti kampanye dalam politik pragtis.

Sedangkan Intelektualisme pendidikan dilandaskan dari konservatisme politik yang melegitimasi pemikirin filosofis atau relegius otoritarian. Idelogi ini ingin merubah praktek-praktek politik dan pendidikan demi menyesuaikan secara lebih sempurna dengan cita-cita intelektual atau rohaniah yang sudah mapan.

Dan Konservatisme pendidikan berbeda dengan kedua ideologi diatas karena cenderung mendudukung ketaatan terhadap lembaga-lembaga dan proses-proses budaya yang sudah teruji oleh waktu. Konservatisme menaruh hormat terhadapa hukum dan tatanan sebagai landasan perubahan sosial  yang kontruktif.

Ideologi Liberal

Dalam pendidikan ini berkeyakinan bahwa dalam masyarakat terjadi banyak masalah termasuk urusan masalah pendidikan. Namun mereka beranggapan masalah pendidikan tidak akan ada sangkut paut dengan persoalan politik dan ekonomi masarakat. Tetapi pendidikanlah yang bisa menyesuaikan dengan perubahan arah politik dan perkembangan dunia perekonomian.

Cara menyesuaikannya melalui reformasi diri secara ”kosmetik”. Dengan cara melengkapai sarana-prasarana seperti perlengkapan alat tulis, ruang kelas maupun perpustakaan. Pengadaan itu semua bertujuan untuk menyeimbangkan rasio antara murid dengan guru. Tetapi kenyataannya walaupun lembaga pendidikan mempunyai sarana dan prasarana yang komplik belum tentu menghasilkan manusia yang cerdas yang bisa membangun bangsa tetapi hanya melaihrkan nilai-nilai angka yang tinggi terhadap para siswanya dan bisa dipastikan hanya akan menjadi buruh kapitalis.

Walaupun konsep ideologi konservatif dan liberal berbeda dalam menafsirkan pendidikan, namun sesungguhnya mepunyai tujuan yang sama yaitu memandang bahwa dunia pendidikan itu harus bersifat apolitik. Pendidikan tidak boleh terbawa arus politik yang berkembang namun sebagai sarana untuk menstabilkan nilai dan norma masayarakat.

Ideologi liberal ini memang lahir dari cita-cita individualisme barat, bangsa barat menggambarkan manusia ideal itu adalah rasionalis liberal. Pada dasarnya manusia mempunyai potensi tingkatan yang sama dalam intelektual, baik dalam tatanan alam maupun tatanan sosial yang dapat ditangkap dengan akal. Kelemahan ideologi liberalisme terletak pada pengaruh faham positivistik yang sangat kuat, karena adanya pemisahan antar fakta dengan nilai menuju pemahaman obyektif.

Ideologi Kritis Radikal

Sedangkan pendidikan bagi kaum ini merupakan arena sebuah perjuangan politik, jadi penulis mendifinisakan bahwa pendidikan itu digunakan sebagai wahana untuk menyebarkan famam politik dan secara otomatis pendidikan itu mempunyai tujuan sesuai dengan politik yang mempengaruhinya. Jika kaum konservatif pendidikan di gunakan untuk menjaga kelanggengan setatus quo, sedangkan kaum liberal pendidikan dia arahkan untuk perubahan secara moderat, maka ideologi kritis radikal menginginkan dunia pendidikan di gunakan untuk perubahan struktural secara fundamental, baik dalam ekonomi, gender dan politik.

Cara seperti ini pernah dilakukan oleh teman-teman Tan Malak yang mendirikan sekolah rakyat, kebetulan sekolah rakyat pertama itu berdomisili di Kota Semarang. karena semarang dulunya menjadi basis pergerakan buruh yang di pelopori oleh Tan Malak dan kawan-kawan. Sehingga untuk meneruskan perjuangan beliau maka ia mendidik masyarakat agar mempunyai pemahan yang memberontak pada kemapanan. Namun karena kurangnya dukungan dari rezim yang berkuasa saat itu sekolah rakyat menghilang bagai ditelan zaman.

Dan Pandangan kritis radikal ini bisa dikatakan bertentangan dengan kaum liberal yang mengatakan pendidikan itu tidak ada penggolongan kelas dan gender dalam masyarakat. ini dilandaskan dari tidak semua orang bisa meraih pendidikan secara sama kualitas, karena masing-masing mempunyai kekuatan yang berbeda. Jadi yang dihasilkan dari pendidikan yang satu dengan pendidikan yang lainpun berbeda.

Pandangan kritis radikal mempunyai perhatian utama dalam pendidikan itu bisa menerapkan cara pandang siswa agar bisa merefleksi secara kritis terhadap ideologi yang dominan kearah transformasi sosial. Cara seperti ini digunakan untuk mengawal penguasa biar tidak berbuat sewenag-wenang.

Faham ini juga memberikan ruang untuk berfikir secara bebas, sehingga menuntut manusia itu bersikap kritis terhadap keadaan sistem atau kebijakan yang dirasa bisa menindas. Sesungguhnya pendidikan itu tidak bisa netral dari fenomena-fenomena yang berkembang di masyarakat. untuk menciptakan itu maka faham kritis radikal menerapkan visi pada pendidikan adalah kritik terhadap sistem yang dominan.

Dari semua wacana diatas semoga kita bisa memberi gambaran terhadap pemerintah Indonesia yang saat ini belum mempunyai acuan yang jelas terhadap landasan dasar pendidikan. Hal itu terlihat dari peristiwa sering gonta-ganti sistem Ujian Nasional (UN) yang diterapkan dalam lembaga pendidikan formal. Sangat tidak adil sekolah selama 3 tahun bisa digugurkan oleh 5 hari ujian. mdr/2010/my
___________________________________
Said (said_muhtar@yahoo.co.id)
Ketua Mahasiswa Hukum DpC Semarang.

Leave a comment

Your email address will not be published.

*