Ada sebuah ungkapan menarik yang dikeluarkan oleh Al Kurdiy dalam Tanwiirul Qulubnya. “Man Qoola Li syaikhihi limaa lam yuflih abadan.” ( Barangsiapa yang berkata kepada gurunya, “Kenapa ?” maka ia tidak akan beruntung selamanya ).
Perkataan ini sepanjang dipahami sebagai sebuah adabul muriidi ( tata krama murid ) kepada gurunya maka bisa dimengerti dan ditoleransi. Akan tetapi bila ungkapan ini ditarik ke arah wajib tunduknya seorang murid dengan menerima apapun dawuh gurunya tanpa tahu alasannya maka ini adalah pembodohan.
Belakangan ini ungkapan di atas sering digunakan oleh sejumlah guru ataupun kiyai untuk membungkam komentar dan pertanyaan kritis dari muridnya yang berpeluang membuat sang guru kerepotan untuk menjawabnya, bahkan tidak jarang dipesantren-pesantren sering muncul jargon “Ilmumu tidak manfaat” dari seorang ustadz maupun kiyai terhadap muridnya yang berani untuk berpendapat beda dengannya.
Seorang Murobbi yang bijak tidak akan pernah mengekang rasa keingintahuan muridnya, dia akan terus dengan sabar melayani dan memuaskan rasa dahaga dari anak asuhannya. Apalagi bila kita menengok sebuah hadist yang dinukil oleh Syaikhina Ahmad Rifai yang berbunyi,’ Al Aalimu Khozinatul ilmi wa miftahuha as sual.” ( Orang Alim adalah gedungnya ilmu dan kuncinya adalah bertanya). Sangat jarang seorang alim akan mendiktekan semua ilmunya kepada santri dan muridnya, maka pertanyaan-pertanyaan kreatif dan berbobot dari muridnyalah yang dapat menyebabkan sang alim ini mengeluarkan semua ilmunya untuk memuaskan rasa penasaran muridnya tersebut
Islam menganjurkan kepada pemeluknya agar mau bertanya kepada ahlinya dalam persoalan-persoalan yang ia tidak mengerti. Alloh sendiri berfirman “Fas Aluu Ahladz dzikri inkuntum la ta’lamun.” ( Bertanyalah kepada Ahli Dzikir apabila engkau tidak tahu). Dan Jibril mempraktekkan langsung di depan para sahabat saat bertanya tentang Iman,Islam dan Ihsan kepada Nabi Muhammad Saw. Oleh sebab itu bertanya tentang suatu masalah kepada guru adalah tradisi ilmu yang dilegalisir oleh Alloh Robbul Izzati dan RasulNya saw.
Hanya saja ketika kita bertanya kepada guru kita, ada beberapa hal yang harus kita perhatikan.
1. tata krama, hendaknya pertanyaan disampaikan dengan bahasa yang baik
2. kebutuhan, pertanyaan yang kita sampaikan adalah perkara yang kita butuhkan untuk segera kita amalkan bukan hal yang mengada-ada
3. niat tulus, saat kita bertanya yang terbersit dalam kita adalah murni hendak membuka kejahilan dan keraguan yang ada dihati kita, bukan bermaksud untuk menguji guru kita.
4. hindari mujadalah dengan guru.
Mestinya sebagai seorang guru, dia akan bangga bila muridnya mampu menyajikan pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban cerdas, karena dengan adanya pertanyaan-pertanyaan yang berkualitas maka ia akan terus terpacu untuk memperdalam ilmu dan pengetahuannya, serta akan senantiasa mengupdate ilmu-ilmu klasiknya ke alam kekinian. Penyakit kronis guru, ustadz dan kiyai zaman sekarang adalah tidak mau lagi mencari dan memperdalam ilmunya karena sudah terlalu disibukkan oleh kegiatan membagikan ilmu, akibatnya adalah ilmunya stagnan dan kreatifitasnya mandeg, lalu untuk menutupi kecanggungan ilmunya itu iapun akan berkata bila ditanya oleh muridnya,” Man qoola li syaikhihi limaa lam yuflih abadan.”
(Semoga rahmat dan maghfiroh Alloh tercurah kepada semua guru, ustadz dan kiyaiku-aamiin-)



kalau gak boleh bertanya, Dia harus menjelaskannya pada penghujung pelajaranya, sperti yang terjadi pada kasus nabi khidir dan nabi musa. musa selalu bertanya, dan khidir dengan bijak menjawab semua petanyaan musa di akhir masa ajarnya. mungkin yang melarang seorang murid bertanya itu karna beliau begitu ten inspirasi oleh kisah musa dan khidir, dimana ketidak tahuan muridnya itu akan di jelaskan nannti di bagian penghujung pelajaranya.
perlukah menurut anda pendidikan itu di dirikan? jelaskan
mlm mas mau tanya.., perlukah menurut anda pendidikan itu di dirikan? jelaskan