8:55 pm - Monday May 20, 2013

PARADIGMA PENDIDIKAN

Monday, 4 January 2010 23:36 | Pendidikan | 0 Comment | Read 691 Times

PRADIGMA CINTA

Pendidikan harus mendasari jiwanya dengan cinta. Dasar cinta itu bukan mengharapkan pemberian dari pihak yang kita cintai, tetapi kita selalu berusaha untuk memberikan sesuatu kebutuhannya dan membahagiakan mereka. Cinta itu bukan take and give tetapi give and give. Seorang guru sebagai pelaku pendidikan harus menjadi pelayan terbaik bagi murid-muridnya. Karena salah satu komponen mencintai adalah melayani dan memberi.

Dulu penulis sering menyaksikan bagaimana guru uring-uringan kepada muridnya karena proses belajar mengajarnya diliputi dengan keriuhan dan kegaduhan siswa. Sehingga seorang guru bisa saja kecewa karena apa yang beliau sampaikan tidak diperhatikan. Guru tidak berfikir sebab apa murid itu memperhatikan dan sebab apa pula ia mengacuhkan keterangan guru. Dalam ilmu komunikasi selalu mengatakan bahwa seandainya seorang komunikator tidak diperhatikan oleh komunikan, maka bukan komunikan yang harus disalahkan, tetapi seorang komunikatorlah yang kurang kreatif dalam menyampaikan materi pelajaran.

Kreatifitas penyampaian mata pelajaran telah banyak dicontohkan para penemu metode pengajaran. Diantaranya beberapa guru Taman Pendidikan Anak-anak di Jogjakarta yang banyak memakai metode mendongeng (telling story) dalam menyampaikan materi pelajaran, khususnya untuk pelajaran akhlaq dan tarikh. Mendongeng pun tidak hanya sekedar mendongeng. Tetapi ia harus memakai bahasa anak-anak yang jenaka, dan sering kali penuh ekspresi, karena yang dihadapi anak seusia Taman Kanak-kanak sampai Sekolah Dasar. Anak-anak tidak membutuhkan dongeng anda itu logis, tetapi mereka bisa menangkap kalau dongeng itu diekspresikan sesuai lakon dongengnya. Misalnya ia menceritakan tentang Halimatus Sa’diyah yang turun gunung pada ‘musim menyusu’ dengan kesengsaraan karena keledai yang dijadikan tumpangannya sangat lemah, maka pendongeng juga harus mengekspresikan bagaimana keledai berjalan dengan lemah dan sesekali pendongeng meringik ala keledai.

Pengalaman penulis yang mempraktekan ekspresi itu disambut tawa para santri yang belia. Sehingga mereka pun tak mau terhalang pandangan matanya kepada Ustadz si pendongen. Bahasa manusia adalah bukan bahasa lisan semata, tetapi semua bagian tubuh mempunyai bahasanya sendiri, sehingga kadang tanpa gerak lisanpun ekspresi tubuh bisa menyampaikan pesan kepada para audien. Anda pernah lihatkan bagaimana pementasan pantomin tanpa kata, tetapi bisa mengobral beratus makna kepada yang menyaksikannya?

Kunci untuk menyampaikan pelajaran dengan sukses adalah kita harus empati kepada si penerima pelajaran. Seandainya pendengar adalah anak-anak maka kita sebagai pengajar harus memakai bahasa anak-anak yang penuh jenaka, juga gerak tubuh yang penuh ekspresi akan menarik perhatian anak, dan membukakan pintu hati mereka, karena si anak didik merasa enjoy untuk mendengarkannya dan menyaksikannya. Pelajaran apa yang tidak akan masuk melalui telinga sampai ke hati, ketika hati seorang santri sudah terbuka karena ia merasa bahagia dengan penuh senyum tawa terhibur oleh ekspresi gurunya yang penuh cinta.

Dasar cintanya adalah seorang guru ingin membahagiakan perasaan murid dengan mengorbankan dirinya sendiri, karena selama penyampaian pelajaran, dunia seorang guru harus disimpan dulu (epoche), dan ia siap empati memakai dunia anak didiknya. Seorang guru boleh tua, tetapi pada saat-saat yang memungkinkan ia harus pandai mengeksresikan gaya bahasa anak-anak, remaja, orang tua, bahkan gaya bahasa binatang.

Dasar pendidikan adalah melayani. Maka sangat salah seorang guru apabila hanya menuntut agar muridnya memperhatikan, tanpa mengoreksi dirinya dalam menyampaikan materi pelajaran, apakah menarik atau membosankan. Karena paradigma pendidikan adalah melayani bukan mengharapkan untuk dilayani. Memahami dunia murid bukan kepingin dipahami oleh murid.

Ibarat kita mau memasuki rumah maka kita harus membuka pintunnya; Ingin memasukkan air ke galon juga diawali dengan membuka penutupnya. Maka untuk memasukkan materi apapun yang baik ke hati seseorang harus diawali dengan membuka pintu hatinya dengan cara menghibur hati yang masih tertutup. Metode membuka hati telah diajarkan oleh Sunan Kalijaga yang mengawali pengajiannya dengan memainkan gamelan dan wayang. Karena kesukaan hati masyarakat pada waktu itu adalah cerita pewayangan dan dentingan gamelan. Maka Sunan Kalijaga memilih memakai pendekatan budaya itu. Tujuannya adalah membuka hati para hadirin untuk menerima ajaran agama yang disampaikan Sang Sunan.

PARADIGMA AKHLAK

“Saya diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.” Demikian kata Nabi yang menerangkan bahwa fungsinya sebagai Rasullullah adalah memberikan tauladan kebaikan (uswatun hasanah) dan menyempurnakan akhlak manusia. Akhlak itu secara kasar bisa didefinisikan sebagai perbuatan dan ucapan manusia dengan sesama dan makhluk lainnya.

Ada cerita dalam hadist nabi yang menerangkan bahwa seorang pelacur bisa dijamin punya singgasana di sorga karena beliau telah menyelamatkan seekor anjing dari kehausan. Sebaliknya Nabi pernah menyuruh seorang perempuan untuk membatalkan puasanya, karena sang juragan telah menghardik pembantunya. Dalam hadis lain mengatakan bahwa banyak orang berpuasa itu hanya merasakan lapar dan dahaga, ia tak memperoleh apapun selain keduanya, karena dalam puasanya ia tidak berakhlak baik terhadap sesama dan lingkungannya.

Suatu ketika Nabi pernah bertanya kepada para Sahabatnya: “Tahukah kalian, siapakah orang yang merugi (muflis) itu?” para sahabat menjawab bahwa orang merugi itu adalah orang yang tidak mempunyai harta (dirham) untuk memenuhi kebutuhannya. Tetapi Nabi berpendapat lain. Beliau mengatakan bahwa orang merugi itu adalah orang yang pada hari pengadilan nanti ia datang dengan pahala ibadahnya (puasa, shalat, haji, zakat dll.), tetapi pahalanya itu habis untuk orang lain, karena perbuatan dzolimnya kepada orang lain. Bahkan ketika pahalanya sudah habis, maka dia akan menikmati lempada dosa-dosa para madzlum.

Kalau tujuan utama diutusnya Nabi Muhammad adalah menyempurnakan akhlak manusia, maka diselenggarakannya pendidikanpun harus bertujuan menanamkan akhlak kepada anak didik, dan seorang guru harus berbuat dan berbicara dengan dihiasi akhlak, karena guru adalah kaca pengilon yang di gugu lan ditiru (dicontoh dan diikuti).

Aplikasi akhlak juga lain-lain, setiap manusia mempunyai daya penafsiran pengertian dan perbuatan yang berbeda. Bahkan akhlak sendiri harus menjadi orientasi fikih. Jamilah pada bulan ramadhan kedatangan tamu bulanan, maka Jamilah bisa halal secara fiqih untuk makan, tetapi secara akhlak bisa haram, karena makannya dilakukan di depan orang yang berpuasa. Ia bisa juga dapat pahala, karena diniatkan untuk menguji keikhlasan hati Shaim.

Banyak orang pergi haji sampai puluhan kali. Mereka merasa bahwa wisatanya adalah ibadah yang bakal menangguk pahala, padahal ibadah haji bisa tercela bahkan haram hukumnya ketika tetangganya masih banyak yang kelaparan; di kelilingi anak yatim yang tidak sanggup melanjutkan pendidikan; janda-janda yang kurang mampu memenuhi kebutuhan dasar. Apakah kurang jelas kata-kata Nabi: “Tidak beriman seseorang yang kenyang, sedangkan tetangganya lapar.”

Dzikir yang diucapkan lisan secara keras-keras itu bisa sunah secara fikih, tetapi secara akhlak haram hukumnya ketika ia dilakukan di depan orang yang sakit gigi, atau dilakukan sebagai topeng alasan kemalasannya untuk membantu gotong royong kerigan warga. Beli mobil mewah secara fikih halal-halal saja, tetapi ia secara akhlak menjadi haram ketika perbuatannya itu menjadi memperlebar jurang sosial, menjadi sebab kecemburuan sosial. Apalagi dilakukan di tengah sembelit ekonomi rakyat Indonesia.

Ada ungkapan yang sering kita dengar bahwa orang sekarang itu pinter tapi keblinger. Mereka banyak yang mempunyai ilmu, tetapi ilmunya hanya sampai di otak, tidak sampai masuk kehati, apalagi menjadi dasar pengetahuan untuk berbuat.

Semua DPR dan pejabat negara sangat mengetahui bahwa korupsi itu melanggar Hukum Agama dan Hukum Pidana, bahkan sebagai tindakan penghianatan kepada rakyat. Tetapi kenapa kasus korupsi yang terlapor ke KPK sampai sekarang mencapai kurang lebih 30 ribu kasus. Padahal Komisi Pemberantasan Korupsi itu hanya menangani kasus korupsi minimal satu milyar dan dilakukan oleh pejabat negara. Semua orang yang korupsi itu makan bangku sekolahan bahkan rata-rata adalah sarjana, tetapi justru mereka membangkrutkan negara. Ini bukti bahwa pendidikan Indonesia harus mengorientasikan kepada pembentukan karakter dan akhlakul karimah manusia.

Saya sendiri yang pernah makan bangku sekolahan, khususnya waktu kuliah merasakan betapa sedikit Dosen yang mengajarkan dan memberi tauladan tentang akhlak mulia. Yang dipentingkan dalam otak para Dosen adalah bagaimana mendorong mahasiswa untuk berfikir kritis dan penuh analitis, walaupun itu kadang disampaikan tanpa menghargai orang lain. Pengalaman buruk ketika munaqosah diselenggarakan, skripsi penulis tanpa penghargaan, pujian dan apresiasi. Bisakah seorang dosen menyampaikan kritik dengan santun dan menetramkan perasaan mahasiswa yang telah berpeluh selama berbulan-bulan untuk menyusun skripsi? Itu tergantung akhlak seorang dosen.

Kalau dalam pelajaran akhlak diajarkan baiknya kebersihan, maka sekolahan yang selalu bersih adalah lebih mengena menjadi penanaman nilai kepada murid tentang mulianya kebersihan. Penyadaran guru kepada siswa tentang arti kebersihan, lebih efektif bisa tertanam di jiwanya melalui teladan yang terus menerus dipantulkan oleh guru.

Paesan, 4 Januari 2010

Ahmad Saifullah

Share on :

About

Tugas kita mengabdi, sifat kita taslim wal inqiyad, istiqomah menjadi manusia biasa.

 

EBOOK GRATIS UNTUK ANDA !

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda, Jangan Lupa Cek Email Anda Untuk Aktifasinya !

 
Tagged with: , , ,

pengertian paradigma pendidikan,makalah paradigma pendidikan

Anda mungkin juga menyukaiclose

Switch to our mobile site