Buitenzorg, 28 Januari 2011
Tanbihun.com – Dari kejauhan, tampak tiga siswa SMA berjalan keluar dari pintu gerbang sekolah. Mereka tampak serius memperbincangkan sesuatu. Jadi penasaran, ayo kita dekati biar tau sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan. “Ted, kau abis lulus ni mau ngelanjutin ke mana?” tanya Rifki. “Kalo aku si udah pasti mau ambil Teknik Mesin di Undip, soalnya zaman sekarang kan apa2 serbanya mesin, ya ga??” jawab Tedi mantap. “Kalo aku lebih ke kedokteran UGM lah, soalnya kesehatan kan nomor wahid bro” tukas Dani. “Kamu sendiri mau ngelanjutin ke mana Ki?” tanya Dani dan Tedi penasaran. “Wah, kalo aku lebih memilih jurusan pertanian di IPB, soalnya…” belum selesai Rifki menjawab Tedi dan Dani langsung tertawa ngakak. Hahahaha…Apa? Ente mau ambil jurusan pertanian? ga salah denger Ki? Emang ga ada jurusan lain yang lebih elit dikit? Ekonomi atau sospol kek? Pertanian kan ga menjanjikan??? Wow, seru ya obrolan mereka. Ternyata mereka sedang membahas mengenai kelanjutan studinya selepas SMA. Wah, nampaknya si Dani belum nyadar tuh kalo pangan (seperti beras) adalah kebutuhan pokok dia…ckckck.
Dari obrolan di atas ada kalimat yang perlu digarisbawahi, yaitu Pertanian kan ga menjanjikan???. Mungkin sebagian orang masih menganggap bahwa pertanian itu citranya kotor dan tradisional, imagenya miskin, dekil, panas, dan pekerjaan yang melelahkan. Sehingga akhir-akhir ini jumlah pelajar yang berminat melanjutkan jurusan pertanian, semakin menurun tiap tahunnya. Padahal pertanian tidak seburuk itu. Pak Soekarno saja bilang bahwa pertanian adalah tulang punggung negara. Kalau ditelusuri lebih lanjut apa itu pertanian yang sesungguhnya, pasti kita akan menyatakan bahwa pertanian adalah hal yang sangat penting.
Pertanian dalam arti luas merupakan usaha manusia dalam memanen energi radiasi matahari untuk menghasilkan makanan dan serat. Makanan berarti tidak hanya pertanian melainkan juga ternak dan ikan, sedangkan kata “serat” di sini berhubungan dengan sandang (pakaian) dan papan (kayu) (Handoko, 2006). Dalam trend perkembangan global pada abad 21, pertanian merupakan faktor penting yang berperan dalam mendukung perekonomian dan menangani krisis lingkungan, karena pada abad ini telah terjadi pemanasan global, kenaikan harga pangan, stok pangan dunia terbatas, lahan garapan semakin berkurang, dsb. Beberapa aspek yang merupakan bagian dari pertanian, meliputi: pertanahan, perbenihan, agronomi, hortikultura, pemuliaan tanaman, hidroponik dan vertikultur, dan bioteknologi tanaman.
Tanah adalah media tanam yang sangat esensial bagi tanaman. Tanah yang subur berarti mengandung unsur hara makro dan mikro (keadaan kimia tanah) yang cukup, sedangkan tanah yang tidak subur cenderung kurang unsur hara makro dan mikro. Kelebihan dan kekurangan kedua unsur tersebut akan mengakibatkan dampak negatif bagi tanaman. Seperti halnya jika tanaman kelebihan unsur N maka akan menjadi sukulen dan rentan terhadap penyakit tanaman. Begitu juga jika tanaman kekurangan N maka daunnya akan menguning. Tanah yang bertekstur liat ruang udara (pori-pori tanah) nya akan sedikit sehingga pertukaran udara dalam tanah akan kurang untuk pernapasan akar tanaman (keadaan fisik tanah). Jadi, jika keadaan fisik, kimia dan biologi tanahnya baik maka otomatis produktivitas tanaman akan baik pula. Oleh karena itu, mempelajari ilmu tanah adalah pekerjaan penting untuk mendukung terpenuhinya pangan dunia.
Benih merupakan bakal tanaman yang nantinya akan menghasilkan biomassa (buah, daun, biji). Benih adalah sesuatu yang krusial untuk diperhatikan, karena juga sangat menentukan produktivitas tanaman. Benih harus ditangani dengan baik, mulai dari analisis kemurniannya, kesehatannya, produksinya, prosessingnya, maupun penyimpanannya, karena penanganan benih akan menentukan mutu benih itu sendiri baik mutu fisik (komposisi benih), mutu genetik (kesesuaian varietas), maupun mutu kesehatan benih (terhindar dari patogen dan seedborn). Jadi, mempelajari ilmu benih merupakan hal yang mulia untuk ikut andil dalam memenuhi stok pangan dunia.
Hidroponik adalah pengetahuan tentang cara bertani/ bercocok tanam tumbuhan dalam medium bukan tanah, dan menggunakan air sebagai hara dan sebagai medium pembawa campuran hara lain yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman secara optimal (Dhalhar, 2006). Keuntungan hidroponik adalah tidak memerlukan pemupukan, tidak perlu pengolahan tanah, tidak perlu rotasi tanaman, tanpa tanaman pengganggu, hasil tinggi, tenaga kerja sedikit. Vertikultur merupakan budidaya tanaman pada lahan sempit. Jadi, dengan adanya konversi lahan akhir-akhir ini yang mengakibatkan berkurangnya lahan untuk pertanian, maka vertikultur dan hidroponik merupakan solusi yang tepat untuk diterapkan.
Pemuliaan tanaman merupakan ilmu yang mempelajari mengenai rekayasa tanaman. Contoh aplikasi ilmu ini adalah perakitan varietas padi tahan genangan air yang dilatarbelakangi oleh berkurangnya produktivitas padi karena banjir. Terus, perakitan cabai tahan penyakit antraknosa yang dilatarbelakangi dengan anjloknya produktivitas cabai karena penyakit tersebut yang menyebabkan harga cabai melonjak naik. Contoh lainnya adalah penciptaan melon berdaging tebal, cabai yang memiliki tingkat kepedasan 1000 kali lipat (sehingga kalau mau bikin sambel ga butuh banyak cabai, red.), padi tahan hama wereng, padi berproduktivitas tinggi (dengan semakin berkurangnya lahan pertanian di Indonesia, penanaman padi jenis ini patut diterapkan, red.), nanas yang memiliki tingkat kemanisan tinggi, dan masih banyak contoh lain yang bisa diaplikasikan dari ilmu ini. Sehingga melalui ilmu ini diharapkan akan bisa membantu dalam memecahkan permasalahan di masyarakat.
Bioteknologi tanaman juga ilmu yang sangat penting untuk dipelajari dan diterapkan. Salah satu bagian dari ilmu ini adalah kultur jaringan. Melalui kultur jaringan bisa diciptakan bibit-bibit tanaman dengan jumlah banyak dalam waktu yang singkat, tidak seperti budidaya tanaman secara konvensional. Kita juga bisa menciptakan keragaman tanaman, misalnya warna daun suatu tanaman biar beragam bisa digunakan sinar gamma untuk mutasi gen pada daun tersebut sehingga dihasilkan warna daun yang beragam.
Pertanian adalah faktor penting yang berperan dalam pembangunan nasional bangsa. Melalui pertanian maka permasalahan global pada abad 21 ini akan bisa dikurangi. Oleh karena itu, sebagai generasi muda harapan bangsa, sudah seharusnya kita menyadari bahwa pertanian adalah sesuatu yang menjanjikan !!!
NB. Maaf penjelasan dari masing2 aspek pertanian belum detail.
REFERENSI
Handoko. 2006. Bertani secara hydroponics, hlm. 24. Dalam U. Kartosuwondo, I. Qayyim, dan Erizal. (Eds.). Pengantar ke Ilmu-Ilmu Pertanian. Direktorat Tingkat Persiapan Bersama IPB. Bogor.
Handoko. 2006. Peran iklim dalam praktik pertanian, hlm. 1. Dalam U. Kartosuwondo, I. Qayyim, dan Erizal. (Eds.). Pengantar ke Ilmu-Ilmu Pertanian. Direktorat Tingkat Persiapan Bersama IPB. Bogor.
From: ALI AHKAMULLOH
Tagged with: ALI AHKAMULLOH, global warningAgronomi dan hortikultura jurusan yang menjanjikan (1),perbedaan bidang kerja agronomi dengan pemuliaan tanaman (1),perbedaan hortikultura vertikultur dan hidroponik (1),pertanian adalah usaha panen radiasi matahari (1),tingkat komsumtif masyarakat terhadap kurma (1),tingkat konsumtif buah kurma di dunia (1),tingkat konsumtif indonesia masyarakat indonesia terhadap kurma (1),tingkat konsumtif kurma di indonesia (1),tingkat konsumtif kurma menurut FAO (1)



tiap hari manusia makan nasi dengan tanpa mengingat petani. bangsa kita bangsa agraris dan maritim tapi kita mudah digiring untuk tak mencintai keduanya. kita ini bangsa garuda tetapi kita dijadikan emprit…kita bangsa kreatif tapi sudah lama kita digiring menjadi bangsa konsumtif. manusia tak kan mati tanpa mesin, tapi punah tanpa beras dan pertanian.
bangsa agraris,tapi banyak yang susah cari nasi,…agaknya perlu digantilah kata agraris tu….
Pernah mendengar tentang Kurma Ajwa? Kurma Ajwa adalah kurma kualitas unggul hasil rekayasa tangan yang mulia baginda Nabi Muhammad, sehingga sering juga disebut sebagai KURMA NABI. Bentuknya yang besar. kering dan legit menjadikan kurma ini memiliki harga selangit, lebih sepuluh kali lipat dari harga kurma biasa.Anehnya lagi kurma ini laris manis dan dicari orang. Menurut satu riwayat kurma ini hanya dapat tumbuh dengan baik di Madinah, sehingga sering pula disebut sebagai Kurma Madinah.
Tentang Kurma Ajwa ini saya tampilkan dalam rangka mendukung isi tulisan diatas dimana sang penulis seakan menyuarakan sebuah undangan resmi agar generasi muda mau terjun kedunia tani dan juga bahari.
Dalam contoh kurma Ajwa diatas sesungguhnya Rasul sejatinya sedang dan telah mengajari ummatnya, bagaimana seharusnya mereka selalu berupaya untuk menjadi “KHOLIFAH” yang baik dalam mengelola bumi seisinya, mengikuti pola yang diajarkan Allah dalam menciptakan sesuatu dengan “mutu terbaik” – Fii Akhsani Taqwiim” , dan semua amanat Allah diupayakan dan di rekayasa agar terus menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.
Kalau kita perbandingkan dengan negara maju, misalnya Jepang dengan areal persawahan yang sempit, mereka sanggup ber swasembada beras,bahkan dengan kualitas unggul seperti beras KOSHIHIKARI untuk ONIGIRI YANG HARGANYA MENCAPAI $10/ KG (rP 90.000/KG!!!) begitu juga German, Polandia, Perancis yang rakyatnya pemakan kentang sanggup juga meng eksport kentang dalam segala varian produknya termasuk dalam bentuk native starch dan modified Starch nya, itu semua karena para petani mereka WELL EDUCATED dan WELL TRAINED.
Coba bandingkan dengan hasil bumi kita. Kedelai saja untuk mencapai 1 juta ton pertahun serasa ngos- ngosan, bahkan tahun ini gagal total karena bencana alam sehingga para produsen tahu dan tempe kalang kabut kebangkaran jenggot karena harganya melonjak tajam. Padahal saya yakin petani kita sesungguhnya rajin- rajin. Buktinya dikala subuh, saat kebanyakan manusia sedang tidur, petani kita sudah bangun dan bekerja.
Begitu juga dengan beras dan komoditi lainnya, hasilnya belum memuaskan sehingga tahun ini terpaksa impor beras. Masalahnya adalah: sediaan bibit yang tidak unggul atau ada yang unggul tapi mahal karena miskinnya rekayasa bibit dan tanaman, atau oleh karena sedikit atau kurang dedikasinya para pakar botani kita, juga akibat penanganan saat panen yang boros sehingga banyak Waste terbuang percuma (rontokan beras misalnya), handling dan distribusi pasca panen yang tidak memadai sehingga terjadi PRODUCTION LOSS yang besar, dsb- dsb, yang kesemuanya itu ujung- ujungnya karena mereka kurang mendapatkan training dan bimbingan yang cukup dari para ahli botani kita.
Saya adalah termasuk orang yakin akan kekuatan Training dan pelatihan- pelatihan. Karena itu saya sangat meng apresiasi apa yang dilakukan pemerintah dizaman Suharto walau saya bukan pendukung Suharto. Saat itu pemerintah sukses swasembada beras dan dapat penghargaan FAO. Semuanya itu karena Bimbingan Dan Penyuluhan pertanian- gencar dilakukan walau dengan setengah memaksa. Dan semuanya ini sulit dilakukan sekarang ini bila para pemuda kita tidak ada lagi yang tertarik lagi masuk ke perguruan tinggi yang menekuni bidang- bidang seperti ini. Ataupun ada beberapa diantara mereka yang masuk keperguruan tinggi tersebut, namun setelah lulus ternyata mereka lebih memilih jadi KARYAWAN PERUSAHAAN AGROBISNIS di luar jawa, yang artinya hanya bermanfaat bagi juragan dia dan dia pribadi, dari pada menjadi penyuluh dan motivator pertanian, ataupun ada yang menjadi penyuluh pertanian tapi karena kurang apresiasi dari pemerintah akhirnya menjadi penyuluh pertanian yang pasif yang tak pernah turun lapangan!!!
Siapa pun yang pagi-pagi makan tujuh buah kurma ‘Ajwah, maka pada hari itu dia tidak mudah keracunan dan terserang penyakit.” (H.R. Bukhari dan Muslim)