REKONSTRUKSI PENDIDIKAN ISLAM DI ERA MODERN

PENDIDIKAN Islam adalah sebuah sarana atau pun furshoh untuk menyiapkan masyarakat muslim yang benar-benar mengerti tentang Islam. Di sini para pendidik muslim mempunyai satu kewajiban dan tanggung jawab untuk menyampaikan ilmu yang dimilikinya kepada anak didiknya, baik melalui pendidikan formal maunpun non formal.

Pendidikan Islam berbeda dengan pendidikan yang lain. Pendidikan Islam lebih mengedepankan nilai-nilai keislaman dan tertuju pada terbentuknya manusia yang berakhlakul karimah serta taat dan tunduk kepada Allah semata. Sedangkan pendidikan selain Islam, tidak terlalu memprioritaskan pada unsur-unsur dan nilai-nilai keislaman, yang menjadi prioritas hanyalah pemenuhan kebutuhan indrawi semata.

Indonesia adalah sebuah negara besar yang memiliki penduduk ratusan juta jiwa. Indonesia juga adalah negara yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Menurut sebuah perhitungan manusia Muslim Indonesia adalah jumlah pemeluk agam Islam terbesar di dunia. Jika dibanding dengan negara-negara Muslim lainnya, maka penduduk Muslim Indonesia dari segi jumlah tidak ada yang menandingi. Jumlah yang besar tersebut sebenarnya merupakan sumber daya manusia dan kekuatan yang sangat besar, bila mampu dioptimalkan peran dan kualitasnya. Jumah yang sangat besar tersebut juga mampu menjadi kekuatan sumber ekonomi yang luar biasa. Jumlah yang besar di atas juga akan menjadi kekuatan politik yang cukup signifikan dalam percaturan nasional.

Namun realitas membuktikan lain. Jumlah manusia Muslim yang besar tersebut ternyata tidak mamiliki kekuatan sebagaimana seharusnya yang dimiliki. Jumlah yang sangat besar di atas belum didukung oleh kualitas dan kekompakan serta loyalitas manusia Muslim terhadap sesama, agama, dan para fakir miskin yang sebagian besar (untuk tidak mengatakan semuanya) adalah kaum Muslimin juga. Kualitas manusia Muslim belum teroptimalkan secara individual apalagi secara massal. Kualitas manusia Muslim Indonesia masih berada di tingkat menengah ke bawah. Memang ada satu atau dua orang yang menonjol, hanya saja kemenonjolan tersebut tidak mampu menjadi lokomotif bagi rangkaian gerbong manusia Muslim lainnya. Apalagi bila berbicara tentang kekompakan dan loyalitas terhadap agama, sesama, dan kaum fakir miskin papa. Sebagian besar dari manusia Muslim yang ada masih berkutat untuk memperkaya diri, kelompok, dan pengurus partainya sendiri. Masih sangat sedikit manusia Muslim Indonesia yang berani secara praktis-bukan hanya orasi belaka-memberikan bantuan dan pemberdayaan secara tulus ikhlas kepada sesama umat Islam, khususnya para kaum fakir miskin papa.

Paradoksal fenomena di atas, yakni jumlah manusia Muslim Indonesia yang sangat besar akan tetapi tidak memiliki kekuatan ideologi, kekuatan politik, kekuatan ekonomi, kekuatan budaya, dan kekuatan gerakan adalah secara tidak langsung merupakan dari hasil pola pendidikan Islam selama ini. Pola dan model pendidikan Islam yang dikembangkan selama ini masih berkutat pada pemberian materi yang tidak aplikatif dan praktis. Bahkan sebagian besar model dan proses pendidikannya terkesan “asal-asalan” atau tidak professional. Selain itu, pendidikan Islam di Indonesia negara tercinta mulai tereduksi oleh nilai-nilai negatif gerakan dan proyek modernisasi yang kadang-kadang atau secara nyata bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri.

Tulisan ini mencoba untuk memberikan gambaran secara global tentang pendidikan Islam Indonesia saat ini sebagai landasan awal untuk meneropong moralitas bangsa di masa depan. Moralitas masa depan bangsa menjadi sangat penting untuk diteropong, karena didasarkan pada asumsi awal sebagian pakar yang berpendapat bahwa salah satu factor penyebab atau “biang keladi” terjadi dan berlangsungnya krisis multidimensional negara Indonesia adalah masalah moralitas bangsa yang sangat “amburadul” dan tidak “karu-karuan”.

Kalau kita kembali kepada sejarah pendidikan Islam di Indonesia, maka kita akan temukan bahwa pada awal munculnya pendidikan Islam tidak terlepas dari peran para pembawa Islam ke Indonesia sendiri. Jadi sebelum pendidikan Islam ada, terlebih dahulu Indonesia dimasuki oleh para penyebar Islam, walaupun menurut kajian sejarah bahwa para ahli berbeda pendapat tentang waktu dan pembawanya masuknya Islam ke Indonesia. Ada yang mengatakan pada abad ke-7 seperti yang dikatakan HAMKA dalam Seminar Sejarah Masuknya Agama Islam di Indonesia (1963). Ada lagi yang mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13. Teori ini dicetuskan oleh seorang orintalis Snouck Hurgronje, yang belajar agama puluhan tahun di mekkah dengan tujuan untuk menghancurkan Islam dari dalam.

Terlepas dari perbedaan tersebut, pendidikan Islam di Indonesia telah ada semenjak Islam masuk ke Indonesia. Yaitu, melalui dakwah mereka dalam menyebarkan Islam, walaupun bentuknya tidak formal seperti sekolah-sekolah yang ada sekarang. Seperti, sambil berdagang mereka mendakwahkan Islam. Seiring perjalanan sejarah, pendidikan Islam semakin tahun semakin mengalami perkembangan. Apalagi setelah muncul dua organisasi besar Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama’ (NU). Kedua organisasi ini bergerak dalam bidang dakwah melalui pendidikan, ada yang dengan sistem klasik dan ada yang modern.

Misalnya, Muhammadiyah pada awal berdirinya 18 November 1912 M mendirikan madrasah pertamanya yaitu Al-Qism Al-Arqo’. Madrasah ini didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan Pendiri Muhammadiyah sendiri, dan sekarang berubah nama menjadi PP. Muallimin Muallimat Jogjakarta. Pendidikan semacam ini didirikan oleh Muhammadiyah untuk mengimbangi pendidikan kolonial Belanda yang cenderung jauh dari nilai-nilai keislaman, bahkan cenderung meracuni bangsa.

Sedangkan NU yang didirikan tanggal 31 Januari 1926 M, walaupun menurut sejarah pernah masuk dan menjadi partai politik dan menjadi kontenstan dalam pemilu 1955 dan 1971, organisasi ini tetap menaruh perhatian besar terhadap pendidikan Islam. Memang NU tidak bergerak melalui madrasah-madrasah atau sekolah umum seperti Muhammadiyah, akan tetapi mayoritas pendidikan Islam di NU banyak berkembang di dalam pesantren yang di gunakan sebagai tempat pengkaderan.

Walaupun jalan yang ditempuh oleh kedua organisasi ini dalam mengembangkan pendidikan Islam berbeda, akan tetapi tetap tujuan utamanya sama, yaitu sama-sama ingin menjadikan Islam tetap berkembang di Indonesia melalui cara-cara yang menurut masing-masing biasa dilakukan. Sekarang kita melihat kondisi pendidikan Islam di era modern ini, apakah metode atau jalan yang ditempuh oleh Muhammadiyah dan NU, yang dulunya berbeda tersebut sekarang bisa mengarah pada persatuan. Dan menimbulkan kesadaran pada masing-masing?.

Kita lihat sekarang Muhammadiyah yang pada mulanya tidak terlalu berkecimpung dalam dunia pesantren dalam mengembangkan pendidikan Islam, akan tetapi sekarang sudah mulai memperhatikannya bahkan sudah banyak pesantren-pesantren yang didirikan Muahammadiyah. Kesadaran ini muncul setelah nampak di tengah-tengah Muhammadiyah apa yang dinamakan dengan “krisis ulama’. Relevan dengan ini ialah pendapat Karim yang dikutip oleh Khozin M.Si (2006) dalam bukunya Sejarah Pendidikan Islam “efektivitas pendidikan dan pengajaran agama melalui pesantren juga telah disadari oleh Muhammadiyah yang sepanjang sejarahnya menaruh perhatian pada sistem pendidikan modern”.

Adapun NU yang pada mulanya banyak mencurahkan perhatiannya terhadap dunia pesantren dalam mengembangkan pendidikan Islam, sekarang sudah mulai sadar akan pentingnya dunia sekolah yang cenderung modern dan mengikuti perkembangan zaman. Apalagi di era yang teknologinya serba canggih, Realitas saat ini Keterpurukan dan keterbelakangan pendidikan nasional saat ini tentu mempunyai dampak yang signifikan terhadap pendidikan Islam. Walaupun pada dasarnya secara historis saat ini pendidikan Islam mengalami perubahan-perubahan dan perkembangan yang signifikan juga dibanding dengan kondisi pendidikan Islam sebelumnya yang berlaku di Indonesia.

Apalagi setelah munculnya SKB 3 Mentri, yaitu Menteri Pendidikan, Menteri Agama dan Menteri Kebudayaan. Dengan ketentuan bahwa ijazah madrasah mempunyai nilai yang sama dengan ijazah sekolah umum yang setingkat, Lulusan madrasah dapat melanjutkan ke sekolah umum setingkat lebih atas, dan madrasah dapat berpindah ke sekolah umum yang setingkat begitupun sebaliknya.

Walaupun demikian, tidak dapat dinafikan bahwa masih banyak lembaga-lembaga Islam yang jauh tertinggal. Menurut Abd. Assegaf Pendidikan Islam di Indonesia saat ini bisa dibilang mengalami intellectual deadlock (kebuntuan intelektual).

Indikasinya adalah minimnya upaya pembaharuan dalam pendidikan Islam, Praktik pendidikan Islam selama ini masih memelihara budaya lama yang tidak banyak melakukan pemikiran kreatif, inovatif dan kritis terhadap isu-isu aktual, model pembelajaran yang masih menekankan pada pendekatan intelektualisme verbalistik dan mengenyampingkan urgensi interactive education and communication antara guru dan murid, orientasi pendidikan Islam lebih menitikberatkan pada pembentukan insan sebagai abdun (hamba) bukan pada fitrohnya sebagai kholifah di bumi.

Melihat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat, Maka pendidikan Islam dituntut untuk bergerak dan mengadakan inovasi-inovasi dalam pendidikan. Mulai dari paradigma, sistem pendidikan dan metode yang digunakan. Ini dimaksudkan agar perkembangan pendidikan Islam tidak tersendat-sendat. Sebab kalau pendidikan Islam masih berpegang kepada tradisi lama yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan IPTEK, maka pendidikan Islam akan buntu.

Menurut Rahmat Ismail (dalam Khozin, 2006) bahwa ada beberapa hal yang perlu dibangun dan diperbaiki kembali dalam pendidikan Islam supaya dapat berkembang sesuai dengan perkembangan zaman, yaitu:

Pertama :           Rekontruksi paradigma, dengan mengganti paradigma yang lama dengan paradigma baru, bahwa konsep pendidikan yang benar harus selalu sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman. Rekontruksi ini diharapkan dapat menyelesaikan masalah-masalah yang sedang dihadapi pendidikan Islam, yakni keluar dari belenggu dikotomi ilmu pengetahuan, keluar dari sistem pendidikan yang doktrinir dan otoriter, terlepas dari penyimpangan profesionalitas pendidik.

Kedua :           Memperkuat landasan moral. Kita melihat pengaruh dari globalisasi yang telah menimpa Indonesia, moral barat dengan mudahnya masuk ke dalam negari ini dan dapat mempengaruhi masyarakat Indonesia, Maka sangat urgen sekali kalau moral para praktisi pendidikan Islam dibangun dan dibentuk dengan kokoh, supaya tidak terpengaruh dengan budaya barat tersebut.

Ketiga :           Menguasai lebih dari dua bahasa.

Keempat :           Menguasai komputer dan berbagai program dasarnya.

Kelima :           Pengembangan kompetensi kepemimpinan.
Adapun menurut hemat penulis agar pendidikan Islam terus berkembang dan selalu sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, Maka perlu adanya integrasi antara pendidikan Islam Tradisional (pesantren) yang sepanjang sejarahnya dikembangkan oleh NU dan pendidikan Islam modern yang dikembangkan oleh Muhammadiyah. Pendidikan Pesantren diharapkan untuk tetap dapat menjaga originilitas ulama’. Sedangkan pendidikan Islam modern diharapkan dapat menyesuaikan dengan perkembangan IPTEK. Dalam kaedah usul dikatakan “al-muhafadhoh ‘alal qodimis soleh wal akhdu biljadidil ashlah (menjaga tradisi lama yang baik, dan mengambil tradisi baru yang lebih baik)”

Selain itu juga perlu adanya rekontruksi metode atau model pembelajaran yang digunakan di dalam pendidikan Islam. Dalam hal ini pendidikan Islam dapat menggunakan metode pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning). Ini diharapkan dapat mengukuti tuntutan anak modern yang selalu kritis dan lebih berpikiran maju dari anak zaman dahulu yang cenderung manut dan tunduk terhadap apa yang disampaikan guru.

Pendidikan Islam ke depan harus lebih memprioritaskan kepada ilmu terapan yang sifatnya aplikatif, bukan saja dalam ilmu-ilmu agama akan tetapi juga dalam bidang teknologi. Sebab selama ini Pendidikan Islam terlalu terkonsentrasikan pada pendalaman dikotomi halal haram dan sah batal, namun terlalu mengabaikan kemajuan IPTEK yang menjadi sarana untuk mencapai kemajuan di era modern ini.

Bila dianalisis lebih jeli selama ini, khususnya sistem pendidikan Islam seakan-akan terkotak-kotak antara urusan duniawi dengan urusan ukhrowi. Ada pemisahan antara keduanya. Sehingga dari paradigma yang salah itu, menyebabkan umat Islam belum mau ikut andil atau berpasrtisipasi banyak dalam agenda-agenda yang tidak ada hubungannya dengan agama atau sains sebaliknya. Sebagai permisalan tentang sains, sering kali umat Islam Phobia dan merasa sains bukan urusan agama. Dalam hal ini ada pemisahan antara urusan agama yang berorientasi akhirat dengan sains yang dianggap hanya berorientasi dunia saja.

Sejarah telah mencatat, pada awal abad VIII umat Islam telah menorehkan tinta emas kemajuan iptek jauh sebelum terjadinya revolusi Industri yang diagung-agungkan bangsa Eropa. Kala itu, Ilmuwan-ilmuwan Islam dapat meletakkan dasar kemajuan iptek yang tentu saja atas dasar agama. Diantara ilmuwan seperti, Abu Bakr Muhammad bin Zakariya ar-Razi (Razes [864-930 M]) yang dikenal sebagai ‘dokter Muslim terbesar’, atau pakar kedokteran Abu Ali Al-Hussain Ibn Abdallah Ibn Sina (Avicenna [981-1037 M]) yang hasil pemikirannya The Canon of Medicine (Al-Qanun fi At Tibb) menjadi rujukan utama ilmu kedokteran di eropa. Al Kawarijmi Jabir Ibnu Hayyan yang meninggal tahun 803 M disebut-sebut sebagai Bapak Kimia. Algoritma yang kita kenal dalam pelajaran matematik itu berasal dari nama seorang ahli matematik Muslim bernama Muhammad bin Musa Al-Khwarizmi (770-840M)

Ilmuwan muslim telah diakui menjadi “jembatan” yang menghubungkan Pra-revolusi dengan kemajuan eropa melalui revolusi industri yang sempat diklaim merubah dunia. Lantas apa yang menyebabkan Islam dapat bersinar kala itu?. Alasannya adalah peran Islam dalam mengembangkan iptek sangatlah luar biasa. Selain ilmuwan-ilmuwan yang bekerja keras, ditambah pemerintahan yang mendukung dengan rela menyewa penerjemah-penerjemah untuk menenjemahkan warisan-warisan ilmuan kuno Yunani. Sehingga nampak bahwa Islam tidak hanya berorientasi pada agama, tetapi juga turut mengembangkan iptek yang sebelumnya dianggap berorientasi pada dunia.

Saat ini bangsa Eropa dan Amerika sedang berada pada posisi atas, mereka memegang peran yang signifikan dalam penguasaan seluruh tataran kehidupan di dunia. Hal ini sesuai dengan Sunatullah yang menyebutkan bahwa, akan ada pergiliran kekuasaan di antara manusia dan ini adalah sebuah kepastian. “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran) …” Namun pergilirian ini terjadi, selain atas izin Allah, juga bergulir sesuai dengan sunatullah yang lain yaitu usaha keras bangsa Eropa dan Amerika dalam penguasaan berbagai macam disiplin ilmu. Salah satunya adalah sains.

Oleh karena itu, umat Islam harus mengusahakan agar roda itu terus berputar hingga suatu saat nanti giliran umat Islam berada pada posisi diatas dengan cara memadukan Islam dan sains melalui sistem pendidikan. Sehingga Umat Islam dapat menggenggam dunia dengan sistem yang lebih baik dari sekarang. Dan perlu dingat, bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, bila kaum itu yang merubah keadaannya sendiri.

Dan yang sampai sekarang bergolak dalam dada penulis, kapan Rifaiyah akan melakukan rekonstruksi untuk menuju dan ikut serta menorehkan tinta emas dalam percaturan sejarah nasional ?. Sekali lagi, sambil bergumam dalam hati sembari memejamkan mata membangun imajinasi yang rupawan tentang Rifaiyah, penulis mengajak semua intelektual Rifaiyah untuk bersatu dan bersama membangun warisan sang guru ini.

Wallohu A’lam

14 Comments on REKONSTRUKSI PENDIDIKAN ISLAM DI ERA MODERN

  1. Analisis yang hebat!
    (1) tetapi kita mempunyai kendala pada kebijakan pemerintah dalam hal ini, penguasaan bahasa asing dan komputer (serta sains) misalnya, meniscayakan pemenuhan infrastruktur yang mahal. UU sisdiknas yang menyerahkan tanggung jawab pendidikan kepada masyarakat adalah wujud lepas tangan negara terhadap amanat UUD: mencerdaskan kehidupan bangsa. Peningkatan anggaran pendidikan sebesar 20% pada awal tahun ini, cukup memberi angin segar bagi dunia pendidikan. Tetapi sebagai orang yang berkecipung langsung di dunia pendidikan, mas rifai tentu tahu bahwa birokrasi pendidikan indonesia mempunyai penyakit yang sangat kronis; korupsi yang bersaudara erat dengan kolusi. Pendanaan yang diperuntukkan lembaga pendidikan harus terpotong beberapa puluh persen untuk uang syukuran, uang terima kasih, uang silaturrahim atau nama-nama lain dari upeti yang harus disetor lembaga penddikan kepada ambtenaar korup.
    Hal tersebut berakibat bahwa untuk memperoleh akses pendidikan berkualitas, masyarakat harus mengeluarkan dana yang sangat mahal, sehingga penidikan berkualitas hanya bisa diakses oleh orang-orang kaya. Oleh karena kondisi ekonomi sebagian besar masyarakat masih sangat rendah, pendidikan menjadi prioritas kesekian setelah yang paling utama tentu saja, makan!
    (2) mentalitas buruk sebagian pengajar (harus diakui hal tersebut ada), juga menjadi permasalahan pendidikan kita. Kita mempunyai kendala guru bermental kuli. Datang kemudian ngoceh seperti radio, habis jam ngajar, pulang! Mentalitas guru yang kering dari semangat keilmuan, kering semangat mendidik. Tidak lebih tidak kurang: hanya seperti radio rusa k yang ngoceh saat jam ngoceh dan diam saat waktu ngoceh habis. Hal yang menyedihkan mengingat apa yang selama ini disematkan pada guru: Pahlawan tanpa tanda jasa!
    (3) di tingkat satuan pendidikan, sebagia (sebagian besar atau sebagian kecil ya???) lembaga pendidikan yang didirikan tanpa visi yang jelas. Visi dan misi yang tertulis hanya menjadi syarat administrasi belaka. Masyarakat sekolah oleh karenanya tidak dapat menjiwai visi dan misi tersebut, karena memang visi dan misi sekoah tidak dibuat untuk itu. Akibatnya lembaga pendidikan tersebut berjalan tanpa roh, tanpa tujuan, hanya memenuhi kewajiban, entah kewajiban apa. Manajer pendidikan banyak yang tidak mempunyai kompetensi yang cukup untukmemanej lembaga pendidikan.
    (4) pendidikan keagamaan indonesia selama ini juga gagal menghasilkan ulama yang mumpuni. Perguruan tinggi islam (IAIN, UIN, STAIN) terbukti gagal menghasilkan ahli agama, bahkan sarjana keagamaan pun, hanya untuk berbahasa arab saja belepotan. Mereka (sebagian besar) terjebak pada pemikiran-pemikian filsafat. Lebih merasa bangga mengutip pendapat para orientalis daripada pendapat ulama-ulama Islam. Alih-alih menguasai ilmu hadits, menghafal satu dua hadits saja menjadi kegiatan yang mahaberat buat mereka (akan ada yang membantah: tidak semua). Dan sayang sekali hanya dengan membaca pendapat para orientalis itu, ada diantara mereka dengan lancang, misalanya, ingin mengoreksi ushul fiqh imam syafii, suatu yang dihormati seluruh ulama islam selama ratusan tahun, ratusan ulama dari berbagai mazhab. Ada juga diantara mereka yang mengidentifikasikan dirinya sendiri dengan mazhab mu’tazilah, tetapi bahkan mereka sangat jauh dari pengidentifikasian yang mereka kirakan. Sangat lucu sebagian mereka memproklamirkan mazhab ciputat, mazhab jogja, dan mazhab-mazhab dagelan lainnya.
    (5) Setali tiga uang dengan pendidikan pesantren, sekalipun dalam hal ini, dalam beberapa hal lembaga ini lebih baik dari PTAI, tetapi juga belum cukup menghasilkan ulama yang ‘benar-benar ulama’ (aku minta maaf dengan pendapatku ini). Dalam banyak kasus, mereka yang dihasilkan oleh pesantren dan mengaku bermazhab syafii pun, tidak pernah mengenal kitab-kitab karya Imam Syafii. Mereka hanya terjebak dengan fanatisme buta dalam bermazhab. Sayang sekali fanatisme mereka pun kadang kala bukan pada mazhab yang mereka ingin disebut sebagai pengikutnya, tetapi kepada hal-hal yang tidak begitu jelas disandarkan kepada mazhab siapa. Bahkan barangkali Imam mazhab yang mereka ikuti pun akan berlepas diri dari pendapat itu. Oleh karena fanatisme ini, seorang atau sekelompok orang yang berbeda pendapat dengan mereka akan diberi stigma sebagai penganut aliran A atau aliran B. Bahkan jika yang disampaikan orang atau sekelompok orang tersebut adalah pendapat dari imam atau ulama mazhab yang sama dengannya. Mereka hanya mengenal satu pendapat, dan kesempitan pengetahuan mereka itu mematikan tradisi diskusi. Berpendapat yang sama dengan pendapat mereka atau sesat!!
    (6) yang paling buruk dari semuanya adalah, yang menulis komentar ini gak tahu apa-apa dan tidak punya kompetensi apapun, tapi tetep aja maksa untu komentar he he, yang penting damai lah!!

    • @maspem, wow…jenius….sebaiknya komentar ini aku terbitkan dalam bentuk postingan tersendiri ya..dengan judul misalnya Hambatan Majunya Pendidikan Islam atau apa gitu..gimana…bolehkan maspem..???

  2. he he kebiasaan si bos ini, suka berlebihan wae. terimakasih apresiasinya, tapi ya sekedar jadi komentar lah. ‘postingan’ itu levelnya si bos, mas yazid, asep, ibnu khasbullah sama ibnu main dan besok2 mungkin tetua adat. salam..

    • @maspem, wew kok gitu…ngga ada level2an lahhh….kita bareng2 aja yuuukkk….aku yakin dehh..ide yg ada dikepala sampeyan banyak yg belum ada dikepalaku..begitu juga sebaliknya..so kita bisa saling melengkapi..gimana ?

  3. sebuah kehormatan diajak ‘saling melengkapi’ dengan para penghuni :)) tanbihun. tentu tidak sopan kalo aku menolak. jadi sebisa mungkin aku akan menuliskan komentar sebagai ‘pelengkap’ postingan sahabat sahabat tercinta (cieeee…)
    untuk lebih dari itu, nantilah ta’ belajar dulu.
    maaf, mungkin basa basinya disudahi saja dulu ya boss, sampeyan kan kudu mempersiapkan postingan berikutnya he he he
    damai bos!

  4. ibn khasbullah // 18 Agustus 2009 at 9:24 am // Balas

    Ya betul, itu komentar maspem sangat menggigit. Sayang kalau hanya bertengger dipojok komentar. Tolong dipajang ditempat semestinya, itu lhoo, kandungan motivasinya sangat perlu diapresiasi.

  5. berita duka, ibue maspem alias muslim bin asro telah meninggal dunia kemarin lusa. kami ikut berduka cita atas meninggalnya beliu. semoga ibunya mendapatkan curahan ampunan dan rahmat dari Allah yang maha pengasih, maha penyayang. semoga amal-amal kebaikannya mendapatkan balasn yang paling baik dari Allah dan keluarganya diberi ketabahan. amiin.

    • @abduh,
      Innalillahi wainna ilahi roji’un….
      Semoga Diampuni segala alpanya,dan diterima amal sholihnya,dan keluarga yang ditinggalkannya diberi kekuatan kesabaran dan bisa mmemetik hikmahnya.amin ya robbal ‘alamin.

  6. Innalillahi Wa inna ilaihi Roji’un…..Segenap Kru Tanbihun.Com mengucapkan Belasungkawa yg sedalam2nya, Semoga Ruh Almarhumah mendapat tempat yang layak disisi Alloh, diterima amal sholihnya dan di ampuni dosanya..amiin..Buat Mas Muslim sekeluarga yang sabar dan tabah yaaaaa…

  7. ibn khasbullah // 19 Agustus 2009 at 8:15 am // Balas

    Innamaa yuwaffasshoobiruuna ajrohum bighoiri hisaab….

  8. membaca tulisan mas rifai dan mas muslim, saya jadi tambah bersedih…. pendidikan agama kita kacau dan pendidikan umum, juga sama, kalo yang kualitasnya, hanyalah untuk mereka kaya….
    tetapi, hanya bersedih saja tidak menyelesaikan masalah. kita harus terus menerus mencoba untuk memecahkan masalah ini. gimana dengan para pimpinan rifaiyah? di manakah amanat yang dipikulkan kepada anda? atau anda anggap itu bukan amanat? maaf…

    • @ibnu main,
      mungkin beliau2 sdh mencoba mencari akar permasalahan yang diderita rifaiyah,tapi saking banyaknya masalah, jadi bingung mau mulai darimana?
      Saya punya pengalaman,ketika DPD Kendal mau membuat kurikulum bersama untuk Tpq dan Madrasah,akhirnya malah mengadakan musyawarah nasional (semua perwakilan madrasah+tokoh2 pendidikan diundang),yang terjadi bukan mencari formatnya seperti apa,namun justru membanding2kan rifaiyah dengan ormas lain,mereka berujar ” seharusnya rifaiyah punya sekolah2 yang hebat,seharusnya bikin perguruan tinggi”.
      Karena saya hanya orang bodoh,hanya jadi pendengar yang bingung,gejala ini memang sudah melanda kita,jadi wajar,setiap kali mau bikin sesuatu,acap kali berhenti ditengah jalan,karena tujuan tidak terfokus pada titik tujuan yang jelas,tidaklah heran jika ada yang berseloroh,kita ini hanya ikut2kan/latah saja, namun demikian kita tidak bisa menimpakan tanggung jawab ini hanya kepada pengurus, akan lebih bijak jika kita ikut membantu mencarikan solusi,dengan kapasitas dan kemampuan kita tentunya.
      Salah satunya menelaah,mengkaji dan mencari resolusi permasalahan2 kita dan kita bahas di sini,siapa tahu dari diskusi sederhana ini,akan menumbuhkan kesadaran kita kalau rifaiyah butuh kita.

  9. benar sekali, pola pikirnya harus seperti ini: apakah yang kita berikan kepada rifaiyah?
    namun, organisasi itu ibarat kereta api yang ad lokomotifnya, terlebih organisasi yang belum maju seperti rifaiyah ini. saya sering berpikir, mukmatamar dan mukernas diselenggarakan tiap lima thun sekali. dan setiap kali acara tersebut menelan biaya yang tidak sedikit, sampai puluhan juta, bahkan lebih dari seratus juta. tetapi, sampe sekarang hanya sebatas seremoni saja. implementasi dari agenda-agenda tidak dijalankan.

    maka saya usulkan, agar pimpinan organisasi ini mengadakan rapat secara rutin dua bulan sekali atau tiga bulan sekali untuk evalusuasi kinerja organissai. dna yang tidak kalah penting adalah pendanaan. saya mengusulkan agar para peserta rapat nanti diberi ongkos transportasi karena telah rela meninggalkan pekerjaannya. sya lihat hal ini sudha berlaku di organisasi nu dan muhammadiyah. caranya bagiamana? mari kita diskusikan, ada masalah pasti ada solusinya, seperti ada penyakit pasti ada obatnya.

Leave a comment

Your email address will not be published.

*