Oleh : Ali Ahkamulloh
Tulisan sederhana ini saya awali dengan berbagai pertanyaan. Mengapa fitrah manusia yang cenderung akan kebaikan, tetapi tidak memberikan kepastian untuk menjadikan
manusia berakhlak mulia? Mengapa para remaja kita yang sudah mendapatkan mapel Pendidikan Agama
dan Pendidikan Moral Pancasila (PPKn) sejak masuk Sekolah dasar (SD), tetapi masih banyak yang terlibat dengan perilaku mencontek, tawuran, narkoba, miras, bahkan kriminalitas?
Mengapa negara kita yang katanya berlandasakan Ketuhanan Yang Maha Esa dan cukup giat menjalankan kehidupan beragama, tapi masih saja mendapatkan gelar salah satu negara terkorup di dunia dan salah satu negara
yang tidak aman karena kasus terorismenya?
Menurut Ibnu Jazar Al-Qairawani “Sebenarnya sifat buruk yang timbul dari anak bukanlah lahir dari fitrah mereka. Sifat tersebut terutama timbul karena kurangnya peringatan sejak dini dari orang tua dan para pendidik
Semakin dewasa usia anak, semakin sulit pula baginya untuk meninggalkan sifat buruk. Banyak sekali orang dewasa
yang menyadari sifat buruknya namun tak mampu mengubahnya. Karena sifat buruk itu sudah kuat mengakar di dalam dirinya, dan menjadi kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan.
Maka berbahagialah para orangtua yang selalu memperingati dan mencegah anaknya dari sifat buruk sejak dini, karena dengan demikian, mereka telah menyiapkan dasar kuat bagi kehidupan anak di masa datang.
Indonesia saat ini sedang menghadapi ujian berat yang harus dilalui, yaitu terjadinya krisis multidimensi yang berkepanjangan. Krisis ini sebetulnya mengakar pada menurunnya kualitas moral bangsa
yang dicirikan oleh membudayanya praktik KKN, konflik, meningkatnya kriminalitas, menurunnya etos kerja dan banyak lagi.
Budaya korupsi yang merupakan praktik pelanggaran moral (ketidakjujuran, tidak bertanggung jawab, rendahnya disiplin, rendahnya komitmen kepada nilai kebaikan, adalah penyebab utama negara kita sulit untuk bangkit dari krisis ini.
Hal-hal tersebut di atas terjadi di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah : penerapan sistem pendidikan yang salah serta kekerasan dalam rumah tangga dan lingkungan.
Diterapkannya Kelas Akselerasi di SMA bagi siswa yang jenius, pemaksaan oleh guru kelas 1 SD kepada siswanya untuk menghapal doa-doa solat mayat, ancaman dari guru kepada siswa yang tidak hafal,
kata-kata kasar orang tua kepada anaknya yang menghilangkan uang sebesar 1000 rupiah, merupakan contoh buruk yang nyata. Hal inilah yang menyebabkan mutu generasi bangsa kita menjadi lemah, penuh dengan tekanan dan
ancaman, waktu yang seharusnya untuk mengembangkan kematangan sosialnya pada masyarakat digunakan untuk belajar karena sistem akselerasi yang diikuti di SMA nya, keadaan stres berat baginya karena ancaman dari guru. Ini semua akan
mencetak generasi demoralisasi yang telah disebutkan sebelumnya.
Oleh karena itu, diperlukan Pendidikan Karakter untuk mengubah semuanya. Karena di dalamnya bukan saja mencakup kesadaran atau pengetahuan cinta kebada kebaikan tetapi juga mencakup pengetahuan tentang baik dan buruk, sehingga sifat
baik menjadi ciri khas manusia INDONESIA dan diharapkan tidak ada lagi istilah menghafal pada pendidikan yang cenderung menggunakan otak kir namun dengan mencerna dan menelaahnya (otak kanan).
DAFTAR PUSTAKA
Arment, Billy. 2005. Searching for Succes. Jakarta: Gramedia.
Megawangi, Ratna.2007. Pendidikan Karakter : Solusi yang Tepat untuk Membangun Bangsa. Jakarta Selatan:
IHF
semai benih bangsa,perbedaan benih dan semai,semai benih karakter



orientasi pendidikan kita memang perlu diperbaiki. Dari orientasi nilai pelajaran menuju tujuan akhlak. semakin marak guru yang menghalalkan sontek-menyontek demi lulusnya UAN. itu artinya nilai pelajaran lebih penting dibandingkan dengan kejujuran. banyak saya lihat guru menduplikasi sertifikat aspal (asli tapi palsu) untuk tujuan naikkan gaji, dan segala macam. itu semua karena berawal dari salah barut pengaturan lembaga kenegaraan.
kalau dulu saya ngaji, pergi sekolah, dan sesekali belajar kesenian rebana. tak mungkin orang tua menanyakan: “dapat duit berapa?” tapi sekarang kalau saja kerja, orang tua pantas menanyakan “gajiannya berapa?”
tapi kalau dalam pengaturan lembaga negara Indonesia: pendidikan, kesenian, dan agama itu harus mencari uang sendiri untuk membiayai tegaknya lembaga mereka. adanya otonomi kampus bukti bahwa pendidikan harus memeras diri untuk mendapatkan uang sebagai modal tombok untuk menjalankan pendidikannya. jadi akibatnya orientasi lembaga pendidikan bukan bagaimana mendidik manusia agar menjadi hamba ALlah yang berakhlak, tetapi bagaimana lembaga pendidikan mendapatkan uang sebanyak-banyaknya untuk menunjang berbagai macam kebutuhan.
lebih naif lagi kalau melihat guru-guru TPQ yang menjerit tentang kebutuhan perut mereka. Ustadz-ustadzah jadi gak konsen karena keroncongan perut mereka
untuk bisa menanamkan karakter, yang menanam harus punya karakter. the problem is apakah karakter itu sdh dimiliki oleh yang mau nanem?
bagaimana bisa menuntun orang kalo yang nuntun gak bisa lihat jalan? itu kata pepatah yg lain.
jaman dulu, dgn kondisi sangat sederhana, banyak lulusanya pada jadi orang, knp?
@maman, pastinya. dan untuk membentuk karakter sendiri perlu waktu yang lama. ada beberapa fase yang perlu dilalui. Fase Self Oriented Morality, fase Authority Oriented Morality, Fase Peer Oriented, Fase Collective Oriented dan Fase Objectively. “We teach who we are”. Thanks.
[...] belajar dipesantren yang diasuh oleh kyai sepuh yang sangat ‘alim,genap 20 tahun burhan mengecappendidikan ‘ala pesantren, kini usianya sudah kepala tiga, selepas dari pesantren burhan masih [...]