Tantangan Pendidikan

smp-muh-13Ada beberapa teman yang sekarang menjadi guru sempat mengeluh: “Kita mengalami kesulitan dalam mendidik, misalnya kita sebisa mungkin berusaha mendidik siswa untuk menutup aurat sesuai ketentuan al-Qur’an, tetapi ketika sampai di rumah yang ditonton televisi yang seratus delapan puluh derajat mengajari tentang pentingnya tak menutup aurat. Ketika membuka majalah-majalah remaja, di sana ditanamkan tentang pentingnya menjadi anak gaul dengan busana buka-bukaan. Orang tuanya dan juga lingkungannya kadang tak mau tahu tentang batas-batas menutup aurat. Sehingga terasa menjadi guru itu sia-sia, karena dalam hidup remaja kelihatan lebih merasuk pengaruh sinetron ketimbang ajaran-ajaran agama yang ditauladankan di sekolahan.”

Teman lain yang sekarang mengajar di Madrasah Ibtidaiyah juga sempat mengeluh: “guru sekarang tak bisa apa-apa. Mau tegas sedikit, katanya melanggar HAM. Aku takut dengan ketentuan hukum itu, karena pernah saya memarahi anak didik, besoknya orang tuanya datang ganti memarahi saya dengan menakut-nakuti dengan hukum kekerasan terhadap anak-anak. Memang jaman sudah berubah. Murid sekarang itu pintar-pintar, tetapi juga karena kepintarannya itu justru tak mudah kita mengarahkannya. Bahkan seringkali kita malah yang diarahkan oleh siswa. Pernah ada guru SMA yang memarahi siswa, malah semua kelas dikomando oleh siswa yang dimarahi itu untuk mendiamkan guru, sampai gurunya tak mau mengajar, karena tidak ada interaksi di kelas yang diajarnya. Yang bisa kita upayakan hanya ikhtiar sebisanya.”

Banyak keluhan guru yang apabila ditampung dalam catatan bisa menjadi buku. Setiap guru mempunyai pengalaman dan keluh kesahnya sendiri. Dan setiap angkatan siswa mempunyai corak kenakalan-kenakalannya sendiri, bahkan setiap anak didik mempunyai keunikan, kecerdasan, ekspresinya sendiri. Jadi, menjadi guru itu adalah menjadi pemimpin sejati, karena ia bertugas mendalami, memahami, mengidentifikasi, mendampingi, dan merangkum kepribadian setiap siswa yang mempunyai kekhasan pribadi dan kecerdasan emosional, intelektual, spiritual yang berbeda-beda.

Dari dulu sampai sekarang, ada ungkapan guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Pernyataan itu sungguh benar, ketika kita menengok beribu bahkan berjuta guru yang berjasa mencerdaskan anak bangsa, tanpa mendapat sokongan kebutuhan dasarnya dari negara. Contoh lingkup kotaku saja yang mempunyai sekian ratus TPQ dengan jumlah guru yang ribuan itu rata-rata mereka hanya mendapat tunjangan sekadarnya. Dari tahun ke tahun mereka ikhlas-ikhlasan dan lillahi ta’ala. Para guru TPQ tak jarang patungan untuk menambal sulam kebutuhan, terutama tambalan itu semakin membengkak ketika TPQ menyelenggarakan hajatan yang bernama wisuda.

Guru sebagai ujung tombak dalam mencerdaskan bangsa sekaligus sebagai ujung tombok. Cerita dalam novel Laskar Pelangi mewakili kenyataan bagaimana guru sebagai ujung tombak pendidikan Indonesia sekaligus diperas untuk berfikir menghidupi sekolahan.

Guru kita KH. Syatori Cilayama, suatu malam dalam Mauidloh Hasanah di Pondok Pesantren INSAP pernah menggambarkan hubungan wali murid dengan guru. Wali murid yang menitipkan anaknya kepada pendidik itu ibarat menitipkan telur kepada ” ayam babon ” untuk dieraminya (angkremi). Kalau babon guru tidak diberi ongkos untuk kebutuhan dasarnya, maka babon sering bepergian untuk mencari kebutuhan dasarnya. Bisa ditebak apa yang terjadi dengan telor-telor anak didik yang sering ditinggal dan tak rutin dierami babon? Pasti tak akan menetas menjadi ” ayam-ayam” yang berilmu dan berakhlak, bahkan tak mustahil menjadi telor ukang (telor busuk).

Yang banyak terjadi di antara guru adalah mereka yang dititipi tanggung jawab anak oleh wali murid, tetapi titipannya hanya sekedar menitip, tanpa rasa terima kasih dari wali murid. Wali murid tak ewuh pekewuh tanpa memperhatikan kedisiplinan membayar uang syahriyah; tanpa menanyakan perkembangan prestasi, perilaku, akhlak anaknya. Wali murid hanya pasrah bongkoan. Hal semacam ini terasa bahwa pendidikan anaknya adalah tanggung jawab para guru dan Madrasah. Orang tua terasa sudah terbebas dari tanggung jawab untuk mendidik anaknya, ketika mereka sudah mendaftarkan anaknya ke sekolah, sudah terdaftar di lembaga pendidikan.

Sebagian orang tua seakan tak pernah punya pengetahuan berapa ongkos nitip sepeda di stasiun sehari, bukankah sampai tiga ribu rupiah. Nitip anak dengan dikenai iuran syahriah delapan ribu untuk satu bulan saja tunggakannya bisa sampai lima bulan. Wali murid bukannya tidak punya uang untuk membayar ongkos pendidikan, tetapi dalam peta perasaannya tidak ada mapping untuk memikirkan pendidikan anaknya. Buktinya, walaupun ongkos pendidikan anaknya tidak lunas dan ngadat, tetapi kanyataannya uangnya sering dibakar menjadi penyedap mulut yang kecut selepas makan. Orang tua tak mustahil lebih lega melepas uangnya untuk pelihara burung-burung kesukaannya, ketimbang memelihara kewajibannya mengongkosi pendidikan anaknya.

Jadi tantangan pendidikan sekarang terletak pada mengembalikan paradigma dan kesadaran manusia akhir zaman bahwa pendidikan itu mutlak tanggungjawab orang tua atau wali murid, bukan tanggungjawab guru, bukan tanggungjawab sekolahan, bukan tanggungjawab madrasah. Mereka hanya penolong para wali murid yang tidak mempunyai kemampuan untuk mendidik anaknya.

Melihat kenyataan tersebut, maka sebisa mungkin walimurid harus dilibatkan dalam pengelolaan pendidikan. Mereka sesering mungkin diajak musyawarah dan diforumkan dalam segala kebijakan yang menyangkut murid.

Dalam kesempatan lain, salah seorang guru sering menceritakan tentang tantangan teknologi informasi yang menjadi kemajuan manusia, juga membuat manusia malas, tetapi terkesan bisa dan pintar. Seorang guru bahasa Inggris pernah mencontohkan ketika dirinya memberi tugas kepada murid-muridnya untuk menerjemahkan cerita rakyat ke dalam bahasa Inggris. Bapak guru sempat tertegun mendapati tugas muridnya diselesaikan dengan cepat dan merata. Seakan mereka semua disiplin dalam mengerjakan tugas. Pada satu kesempatan guru mulai curiga bahwa tugasnya tidak dikerjakan mereka sendiri, karena hampir rata-rata rentetan kalimat dalam lembaran tugas itu serupa dan sama. Karena penasaran guru itu mencocokkan dengan model terjemahan yang ada di salah satu fasilitas google translit, ternyata tipe dan model terjemahannya sama. Guru terpaksa mengorek kevalidan tugas siswa-siswi. Mereka mengaku bahwa mereka ternyata menggunakan fasilitas terjemahan google. Semakin majunya teknologi informasi, membuat siswa semakin mempunyai banyak akses terhadap materi pelajaran; mempermudah siswa untuk dalam melakukan hal apapun. Yang sangat kentara adalah mentalitas instant siswa. Salah satu guru menceritakan bahwa ketika dia menulis pelajaran di papan tulis selalu saja sebagian murid mengeluh: “Pak..Ustadz, kan sudah ada dalam buku bacaan.”

Dalam kesempatan lain guru mengajak untuk menghafal salah satu hadist, para murid malah menyahuti, “kenapa sih Pak. Kok harus dihafal, kan sudah ada tulisannya dalam bacaan, tinggal dibaca kan bisa.” Daya bantah anak-anak didik sekarang semakin maju, dan itu bagus bagi daya kritis siswa-siswa. Tapi takaran, tempat, waktu seseorang untuk kritis harus tepat. Kritis menjadi tidak baik ketika ia berlaku dalam sembarangan tempat, waktu, dan bisa celakan kalau salah seleh. ibarat Air itu sangat baik bagi manusia, karena termasuk kebutuhan hidup, tapi ia menjadi bahaya kalau air satu cerek diminum sekaligus.

Kritis itu kalau sesuai takarannya akan jadi modal kemajuan belajar siwa, tetapi kalau kritis itu menjadi tujuan, sehingga apapun selalu dikritisi, maka yang timbul adalah rasa kesal guru, dan hilangnya nuansa saling mendengarkan untuk memahami, bukan mendengar untuk mencari celah salahnya kemudian mendebatnya. Dalam buku Persuasi Instans selalu dianjurkan untuk menyampaikan kritik tetapi selalu diawali dengan pujian dan pemahaman untuk memahamkan. Satu kesalahan dan empat kebaikan harus lebih dulu diucapkan empat kebaikannya, kemudian membahas satu kesalahan yang harus dirubah.

Teman kita yang buka rentalan di dekat sekolahan juga kebanjiran order, gara-gara siswa-siswa tak mau mengetik sendiri tugasnya. Alasannya mereka males utak-utik computer, teman kita selalu mendorong mereka mengoperasikan computer sendiri dalam menggarap tugasnya sendiri, agar ilmu computer yang diajarkan disekolahnya bisa diulang-ulang dan nyantel. Tetapi ujung-ujungnya adalah kata-kata males yang keluar dari mulut siswa-siswi saat ia ditimpa tugas. Maka tantangan pendidikan terbesar adalah membangun karakter siswa supaya mengaca pada akhlak Nabi Muhammad SAW.

17 Desember 2009

Ahmad Saifullah

10 Comments on Tantangan Pendidikan

  1. Memang benar, tidak bs dipungkiri. dalam pendidikan karakter dinyatakan bahwa, yg sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter seorang anak adalah sekolah, karena sebagian besar waktunya dihabiskan untuk berinteraksi dg org lain di sekolah. Peranan org tua dalam mendidik anaknya perlu dimulai sejak dini. sampe2 pantat si bayi pun g boleh dipukul dg seenaknya, klo pengin anaknya py karakter yg baik.

  2. semua cerita itu kita jumpai di mana saja mas, baik sebagi guru maupun sebagai org tua. kdg org tua juga gak tahu maunya guru, masak sih anak2 dikasih pR sampai 5 lembar. dulu waktu saya sekolah, perasaan gak ada beban spt skrg ini, sekolah menjadi sesuatu yg enjoy…. menyenangkan, tp juga murid2 kampung dg guru yg ortodok itu, skrg juga outputnya banyak jd orang. dibanding sekolah jaman saiki, bukan hanya anak yg pusing, org tua juga pusing…. mungkin karna ngejar target kali ya… jd sistim kejar targat itu biangnya menurut saya. pdhl dlm pendidikan masing2 pribadi itu unik dan pola mendidiknya juga unik. disini mungkin perlu kearifan seorang guru. kesalahn ini bermula buka dr guru, tp menurut penglihatan saya adalah sistem… sistem yg sudah menjadikan pendidikan sebuah komoditi… dimana pendidikan di diperlakukan laksana bisnis barang…. itulah yg terjadi. jgn harap kalo gak punya duit bisa belajar.
    padahal semua yg di pelajar do sekolah, setelah hidup di alam realita, hanya beberapa persen saja yg bisa di pakai, hatta pendidikan keahlian or kejuruan. so apasih yg diharapkan dr pendidikan… menurut saya adalah pola pikir dan karakter building.
    karakter building itu gampangnya kalo seorang macan, ya jadikan macan ya sempurna, sehingga dia bisa bertahan hidup di liarnya alam liar.

  3. kalau melihat gelagat sistem yang jadi kebijakan pemerintah sih dasarnya sudah salah.masak ada kebijakan otonomi kampus segala.intinya kan kebijakan itu menyuruh lembaga pendidikan untuk cari biaya sendiri dalam menghidupi eksistensi lembaganya. karena alasan otonomi juga maka lembaga pendidikan berlomba-lomba untuk memperbanyak pungutan.kalo gak pungutan ya…mereka cari sponsor dari perusahaan-perusahaan. maka tak heran kalo lembaga pendidikan seringkali hanya melayani pemesanan tenaga kerja untuk perusahaan tertentu.atau menghalalkan lembaganya sebagai ajang iklan, toh walau itu iklan rokok yang tak ada hubungannya dengan pendidikan. maka tak heran kan…kalo di tengah ruang perpustakaan UGM ada iklan rokok sempurna nya. hubungan rokok dengan buku apa? kok bisa iklan rokok di tengah buku-buku. apa itu berarti anjuran untuk membaca sambil merokok. nggak tahu juga… tapi itu akibat dari yang dikatakan Mas Maman di atas…

    kalo orang tua menanyakan kepada anaknya yang baru saja cari ilmu di sekolahan, pesantren, itu tidak masuk akal.tapi kalo ia menanyakan penghasilan anaknya yang bekerja cari uang itu baru logis. ibaratnya bidang pendidikan itu jangan disuruh cari uang sendiri, ia wajib dapat subsidi dari pajak maupun pendapatan negara dari berbagai macam sumber ekonomi.

  4. ibn khasbullah // 23 December 2009 at 9:37 am // Reply

    Kalau seseorang ditanya: “lagu apa yang paling dihafal”? rata- rata jawabannya adalah: “Bintang kecil” dan “balonku ada lima”. Kenapa mereka rata- rata hafal? karena mereka mempelajari lagu itu dalam suasana “ENJOY”, suasana gembira, menyenangkan dan menikmati saat- saat mereka di TK. Mulai di SD seperti kang maman bilang, guru mulai mengejar target. Anak- anak di geber PR sampai mampus.Akibatnya anak tidak merasa nyaman di sekolah. Sekolahan dan guru menjadi sesuatu yang menyeramkan. Sesampai di SMA anak sudah mulai loyo dan jenuh belajar dan akhirnya terbawa arus gombalisasi. Saya kebetulan sering keluar negeri. Ada perbedaan mencolok bila dibandingkan antara siswa- mahasiswa kita dengan siswa- mahasiswa dinegara maju.
    Siswa- mahasiswa Indonesia: Waktu SD bukunya banyak,sampai bongkok membawa tas nya. SMP- SMA makin berkurang, saat mahasiswa hanya menenteng selembar kertas copy-an.
    Siswa- mahasiswa negara maju: Waktu SD bukunya sedikit, mereka banyak belajar sambil bermain yang mendidik- SMP- SMA bukunya makin tebal,mulai banyak belajar menganalisis suatu thema pelajaran, setelah mahasiswa kamarnya penuh buku.
    Orang tua juga kebawa target. Saya pernah menegur seorang tua yang membentak- bentak dan menghardik anaknya untuk terus belajar agar nanti menjadi bintang kelas, sampai- sampai anaknya tidak bisa bermain seperti anak- anak yang lain. Saya bertanya: “Ibu- dulu, sewaktu seumur anak anda, apakah anda waktu itu juga bintang kelas?” Si ibu terdiam.
    Orang sukses itu dipengaruhi banyak faktor, tidak hanya masalah nilai. Ada faktor intelektual- ada faktor emosional- ada faktor religiusitas. Bahasa gagahnya: Inteligence quotient- emosional quotient dan Religius quotient.
    Seorang yang pintar tapi emosinya jeblok sulit untuk bisa sukses. Lebih lebih kalau dia bertugas sebagai marketing. Pelanggan akan lari semua mendengar omongannya yang “nylekit”. Dan emosi itu ada hubungannya dengan pembinaan mental dan karakter.
    Saya setuju dengan pendapat kang maman, bahwa tugas pendidik itu mengantarkan anak didiknya untuk menjadi seseorang yang utuh dan siap menghadapi tantangan lingkungannya. ” Biarlah anak macan menjadi macan yang berani hidup dihutan, biarlah anak itik menjadi itik yang berani berenang di sungai, biarlah anak burung bisa terbang melanglang buana”.

  5. “Karakter” kata ini ternyata sangat laku dan popular sebagai alat kritik terhadap semua persoalan bangsa. Semua persoalan akhirnya tak luput dari kata itu dari masalah besr bangsa, ekonomi, pendidikan, politik, sosial kemasyarakatan dan lainnya. Akan tetapi kita kadang hanya berhenti pada tataran kata tersebut dan tidak menemukan solusi bagaimana menjembatani tujuan yang ingin dicapai setelah menemukan kata “karakter”.
    Dalam pendidikan nampaknya melihat perkembangan dunia yang sedemikian pesat maka perlu dikembangkan pola pendidikan dengan pendekatan pastisipatoris baik aktif maupun pasif sesuai kemampuan dan nalar peserta didik… mungkin itu aja lah commentnya….

  6. ibn khasbullah // 26 December 2009 at 10:24 am // Reply

    Jika menilik sabda Rasul: “Man Rozzaqohulloh bi waladin, fa alaihi bi TA’LIIMIHII wa TA’DIIBIHII….” alhadist. = “Barang siapa dikaruniai anak, waka wajib atasnya untuk MENGAJAR dan MENDIDIK nya…”
    Disini Rasul menggunakan dua kalimat:
    “Ta’liim”=mengajar ==>lmu ==>olah pikir
    “Ta’diib”=mendidik ==>adab ==>olah bu di/ karakter.
    Terjemahan para sesepuh: agar anak- anak menjadi orang yang PINTER BENER, bukan PINTER KEBLINGER.
    Ter- obsesi oleh sabda Nabi itu dalam lembaga pendidikan yang saya dirikan, disamping pelajaran karakter standart, saya terapkan kewajiban agar anak- anak tiap mengawali pelajarannya membaca secara bersama Ikrar karakter dengan judul”Anak- anak solih solihah calon penghuni sorga” sebagai “Brain washing” dan “Continuous indoctrination” kepada mereka, yang sebenarnya bersumber pada Qur’an dan Hadist Rasul. Harapan saya tidak muluk- muluk, seandainya setelah selesai masa pendidikannya mereka hanya dapat mempraktekan Ikrar mereka itu, insyaallah itu cukup dan insyaallah mereka akan selamat dunia akherat. Anda ingin mencatat? inilah ikrarnya:

    “Anak- anak soleh solekhah calon penghuni sorga” (Children soleh solekhah candidate of heaven).
    1.Taat kepada Allah Yang Maha Esa dan kepada Rasul Nya.
    =Obedient to Allah, the One god and His Apostle.

    2.Berbakti dan menyayangi kedua orang tuanya.
    =Kind, and love both parents.

    3.Menghormati dan menyayangi guru- gurunya.
    =Respect and feel for its teacher.

    4.Menghargai dan menghormati yang lebih tua.
    =Apreciate and respect the older.

    5.Mengasihi dan menyayangi adik- adik dan yang lebih muda.
    =Pitty and love the brother- sister and younger.

    6.Menghormati para tetangga dan lingkungan pergaulannya.
    =Respect the neighbors and the world environment.

    7.Menyayangi semua makhluq termasuk tanaman dan hewan.
    =Love all creatures,including plants and animals.

    8.Bertutur kata sopan dan menghindarkan diri dari kata- kata kotor, teriakan dan ejekan.
    =Speaking polite and shy from the word dirty, screaming and derission.

    9.Tidak sombong dan sopan dalam pergaulan.
    =Not arrogant and complacent in the assosiation.

    10.Mencintai ilmu dan selalu tekun belajar.
    =Always love science and diligent study.

    11.Mencintai mesjid dan pengajian.
    =Love the mosque and Islamic teaching.

    12.Bersikap sopan dimesjid dan menghindarkan gurauan dan teriakan.
    =Be polite and avoiding mosques in the prank and cry.

    13.Mencintai kebersihan, ketertiban dan kerapihan.
    = Love the cleanlines, order and tidiness.

    14.Berpakaian patut dan sesuai syari’at.
    =An apropriate dress should syari’at.

    15.Menghindari percekcokan sesama teman.
    =Avoid squabbling among friends.

    16.Suka memberi dan benci meminta.
    =Give love and hate ask.

    17.Ramah dan sopan kepada para tamu.
    =Friendly and polite to the guests.

    18.Suka membantu pekerjaan orang tua dan tetangga.
    =Like help working parents and neighbors.

    19.Selalu mendo’akan kebaikan bagi kedua ibu bapaknya.
    =Always pray for the good of both the mothers and his father.

    20.Menyambung tali silaturrahmi teman-teman kedua ibu bapaknya.
    =Connecting strap at friends from both
    parents.

    21.Memilih bergaul dengan teman- teman yang baik saja.
    =Choosing socialize with a good friends only.

    22.Bermain dengan permainan yang mendidik dan bermanfaat saja.
    =Play with games that are educational and useful.

    23.Tak mengganggu ayah dan ibu saat beliau beristitahat.
    =Not disturb the mother and father when they rest.

    24.Meminta izin saat ingin memasuki kamar ayah dan ibu.
    =Want to ask permission to enter the mother and father’s room.

    25.Tak pernah melalaikan sholat lima waktu, puasa romadhon dan membaca al- Qur’an.
    =Never neglect the five prayer times, Ramadan fasting, anf read al- Qur’an.

    “Subbaanul yaum- Rijaalul ghod” = “Pemuda masa kini- pemimpin dimasa depan”

  7. wah…apik tenan iki….kalo gitu ya….aku nanti tak ikut-ikutan bacain ikrar ini di Madrasah Diniyah yang diampu. boleh tho Pak Ikut-ikutan. kalo di Madrasah DIniyah mungkin lebih OK pake bahasa Indonesia juga bahasa Arab. kalo ada translit arabnya kulo matur thank you

  8. ibn khasbullah // 28 December 2009 at 8:59 am // Reply

    Maaf, tadinya saya sengaja tidak menampilkan bahasa arabnya, karena saya pikir sudah sangat banyak para ustdaz/ ustadzah RIFA”IYAH yang sangat “DAQIIQ” bahasa arab, seperti kang ibnu main, ibnu Ma’ruf, Ibnu H.Fa’iziin yang sedang menyelesaikan S2 nya di Cairo University Mesir, dll. Saya khawatir terjemahan arab saya kurang pas dan dapat kritikan keras dari para asatidz tersebut diatas. Namun setelah saya pikir untuk memenuhi keinginan Mas Asep dan teman- teman, dibawah ini saya sampaikan terjemahan bahasa arabnya sebagai sebuah tawaran, yang sudah biasa kami pakai, mungkin ada yang berkenan mengkoreksi dan menjadikannya lebih baik lagi sesuai ka’idah lughoh yang singkat- balagh dan jamii’. Silahkan…..

    “Al banuuna wal banaat As- Shoolihhuna (was shoolihaat)- min warotsaati jannatin na’iim”.

    1.At-tasliim wal- inqiyaad lillaahil waahidil ahad – walirosuulih.

    2.Birrul waalidain wa yarhamuuna humaa.

    3.Hifdhul hurmati wat ta’dhiim limasyaayikhihim.

    4.At takriim Wat- ta’dhiim likabiirihim

    5.Rohmatan li akhii himus shoghiir waman huwa ashghoru sinnan.

    6.Hifdhul hurmati li jiwaarihim wa mu’aasyarotihim.

    7. Ro’fah warohmatan li man fil ardhi wamaa fiihaa hattal anbaat wal hayawaanaat.

    8.Hilmaanul qoul wajtinaabu ‘an rodzaa’ilil kalaam was shoyyaakhoot wal ‘itab.

    9.At tawaa’dhu’ wal hilm baina khulathooihim.

    10.Hubbul ilm waljadd fit ta’aalum.

    11.Hubbul masaajid wat ta’liim fiih.

    12.Al waqoor wal khudhuu’ fil masjid waj tinaabul laghwi wal lujaajah.

    13.Hubbun nadhoofah Wal- qisth wal intidhoom.

    14.Lubsul libaas al muwaffiq bis syarii’ah.

    15.Ijtinaabul ‘adaawaat bainal ikhwaan.

    16.Hubbus shodaqoh wal ‘afaaf ‘anis su’aal.

    17.Basyaasyatul wajhi lil adhyaaf.

    18.Hubbut ta’aawun fii a’maalil aabaa’ wal jiwaar.

    19.Mudaawamatut du’aa’ al hasanaat ilalloh li abawaihim.

    20.Mudaawamatus shillah ila ahli wuddi abawaihim.

    21.Al- ikhtiyaar fil ikhtilaath baina khulathoo ihim.

    22.Al Lu’bah bimaa fiihi ta’diibun wa naf’un faqoth.

    23.Tarkut tasywiisy li abawaihim haitsu yastarikhaan.

    24.Al- Isti’dzaan ‘inda irodatit dukhuul ilaa hujroti abawaihim.

    25.Hifdhus sholawaatil khoms washiyami romadhoon wa tilaawatl qur’aan.

    “Syubbaanul yauum, rijaalul ghod”.

  9. matur nuwun Pak…mungkin nanti bisa dipasang di tiap kelas….dan diikrarkan jelang kegiatan belajar mengajar

  10. setuju, benar tu

Leave a comment

Your email address will not be published.

*