5:41 pm - Tuesday July 29, 2014

Tantangan Pendidikan

Friday, 18 December 2009 17:17 | Pendidikan | 10 Comments | Read 1568 Times

smp-muh-13Ada beberapa teman yang sekarang menjadi guru sempat mengeluh: “Kita mengalami kesulitan dalam mendidik, misalnya kita sebisa mungkin berusaha mendidik siswa untuk menutup aurat sesuai ketentuan al-Qur’an, tetapi ketika sampai di rumah yang ditonton televisi yang seratus delapan puluh derajat mengajari tentang pentingnya tak menutup aurat. Ketika membuka majalah-majalah remaja, di sana ditanamkan tentang pentingnya menjadi anak gaul dengan busana buka-bukaan. Orang tuanya dan juga lingkungannya kadang tak mau tahu tentang batas-batas menutup aurat. Sehingga terasa menjadi guru itu sia-sia, karena dalam hidup remaja kelihatan lebih merasuk pengaruh sinetron ketimbang ajaran-ajaran agama yang ditauladankan di sekolahan.”

Teman lain yang sekarang mengajar di Madrasah Ibtidaiyah juga sempat mengeluh: “guru sekarang tak bisa apa-apa. Mau tegas sedikit, katanya melanggar HAM. Aku takut dengan ketentuan hukum itu, karena pernah saya memarahi anak didik, besoknya orang tuanya datang ganti memarahi saya dengan menakut-nakuti dengan hukum kekerasan terhadap anak-anak. Memang jaman sudah berubah. Murid sekarang itu pintar-pintar, tetapi juga karena kepintarannya itu justru tak mudah kita mengarahkannya. Bahkan seringkali kita malah yang diarahkan oleh siswa. Pernah ada guru SMA yang memarahi siswa, malah semua kelas dikomando oleh siswa yang dimarahi itu untuk mendiamkan guru, sampai gurunya tak mau mengajar, karena tidak ada interaksi di kelas yang diajarnya. Yang bisa kita upayakan hanya ikhtiar sebisanya.”

Banyak keluhan guru yang apabila ditampung dalam catatan bisa menjadi buku. Setiap guru mempunyai pengalaman dan keluh kesahnya sendiri. Dan setiap angkatan siswa mempunyai corak kenakalan-kenakalannya sendiri, bahkan setiap anak didik mempunyai keunikan, kecerdasan, ekspresinya sendiri. Jadi, menjadi guru itu adalah menjadi pemimpin sejati, karena ia bertugas mendalami, memahami, mengidentifikasi, mendampingi, dan merangkum kepribadian setiap siswa yang mempunyai kekhasan pribadi dan kecerdasan emosional, intelektual, spiritual yang berbeda-beda.

Dari dulu sampai sekarang, ada ungkapan guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Pernyataan itu sungguh benar, ketika kita menengok beribu bahkan berjuta guru yang berjasa mencerdaskan anak bangsa, tanpa mendapat sokongan kebutuhan dasarnya dari negara. Contoh lingkup kotaku saja yang mempunyai sekian ratus TPQ dengan jumlah guru yang ribuan itu rata-rata mereka hanya mendapat tunjangan sekadarnya. Dari tahun ke tahun mereka ikhlas-ikhlasan dan lillahi ta’ala. Para guru TPQ tak jarang patungan untuk menambal sulam kebutuhan, terutama tambalan itu semakin membengkak ketika TPQ menyelenggarakan hajatan yang bernama wisuda.

Guru sebagai ujung tombak dalam mencerdaskan bangsa sekaligus sebagai ujung tombok. Cerita dalam novel Laskar Pelangi mewakili kenyataan bagaimana guru sebagai ujung tombak pendidikan Indonesia sekaligus diperas untuk berfikir menghidupi sekolahan.

Guru kita KH. Syatori Cilayama, suatu malam dalam Mauidloh Hasanah di Pondok Pesantren INSAP pernah menggambarkan hubungan wali murid dengan guru. Wali murid yang menitipkan anaknya kepada pendidik itu ibarat menitipkan telur kepada ” ayam babon ” untuk dieraminya (angkremi). Kalau babon guru tidak diberi ongkos untuk kebutuhan dasarnya, maka babon sering bepergian untuk mencari kebutuhan dasarnya. Bisa ditebak apa yang terjadi dengan telor-telor anak didik yang sering ditinggal dan tak rutin dierami babon? Pasti tak akan menetas menjadi ” ayam-ayam” yang berilmu dan berakhlak, bahkan tak mustahil menjadi telor ukang (telor busuk).

Yang banyak terjadi di antara guru adalah mereka yang dititipi tanggung jawab anak oleh wali murid, tetapi titipannya hanya sekedar menitip, tanpa rasa terima kasih dari wali murid. Wali murid tak ewuh pekewuh tanpa memperhatikan kedisiplinan membayar uang syahriyah; tanpa menanyakan perkembangan prestasi, perilaku, akhlak anaknya. Wali murid hanya pasrah bongkoan. Hal semacam ini terasa bahwa pendidikan anaknya adalah tanggung jawab para guru dan Madrasah. Orang tua terasa sudah terbebas dari tanggung jawab untuk mendidik anaknya, ketika mereka sudah mendaftarkan anaknya ke sekolah, sudah terdaftar di lembaga pendidikan.

Sebagian orang tua seakan tak pernah punya pengetahuan berapa ongkos nitip sepeda di stasiun sehari, bukankah sampai tiga ribu rupiah. Nitip anak dengan dikenai iuran syahriah delapan ribu untuk satu bulan saja tunggakannya bisa sampai lima bulan. Wali murid bukannya tidak punya uang untuk membayar ongkos pendidikan, tetapi dalam peta perasaannya tidak ada mapping untuk memikirkan pendidikan anaknya. Buktinya, walaupun ongkos pendidikan anaknya tidak lunas dan ngadat, tetapi kanyataannya uangnya sering dibakar menjadi penyedap mulut yang kecut selepas makan. Orang tua tak mustahil lebih lega melepas uangnya untuk pelihara burung-burung kesukaannya, ketimbang memelihara kewajibannya mengongkosi pendidikan anaknya.

Jadi tantangan pendidikan sekarang terletak pada mengembalikan paradigma dan kesadaran manusia akhir zaman bahwa pendidikan itu mutlak tanggungjawab orang tua atau wali murid, bukan tanggungjawab guru, bukan tanggungjawab sekolahan, bukan tanggungjawab madrasah. Mereka hanya penolong para wali murid yang tidak mempunyai kemampuan untuk mendidik anaknya.

Melihat kenyataan tersebut, maka sebisa mungkin walimurid harus dilibatkan dalam pengelolaan pendidikan. Mereka sesering mungkin diajak musyawarah dan diforumkan dalam segala kebijakan yang menyangkut murid.

Dalam kesempatan lain, salah seorang guru sering menceritakan tentang tantangan teknologi informasi yang menjadi kemajuan manusia, juga membuat manusia malas, tetapi terkesan bisa dan pintar. Seorang guru bahasa Inggris pernah mencontohkan ketika dirinya memberi tugas kepada murid-muridnya untuk menerjemahkan cerita rakyat ke dalam bahasa Inggris. Bapak guru sempat tertegun mendapati tugas muridnya diselesaikan dengan cepat dan merata. Seakan mereka semua disiplin dalam mengerjakan tugas. Pada satu kesempatan guru mulai curiga bahwa tugasnya tidak dikerjakan mereka sendiri, karena hampir rata-rata rentetan kalimat dalam lembaran tugas itu serupa dan sama. Karena penasaran guru itu mencocokkan dengan model terjemahan yang ada di salah satu fasilitas google translit, ternyata tipe dan model terjemahannya sama. Guru terpaksa mengorek kevalidan tugas siswa-siswi. Mereka mengaku bahwa mereka ternyata menggunakan fasilitas terjemahan google. Semakin majunya teknologi informasi, membuat siswa semakin mempunyai banyak akses terhadap materi pelajaran; mempermudah siswa untuk dalam melakukan hal apapun. Yang sangat kentara adalah mentalitas instant siswa. Salah satu guru menceritakan bahwa ketika dia menulis pelajaran di papan tulis selalu saja sebagian murid mengeluh: “Pak..Ustadz, kan sudah ada dalam buku bacaan.”

Dalam kesempatan lain guru mengajak untuk menghafal salah satu hadist, para murid malah menyahuti, “kenapa sih Pak. Kok harus dihafal, kan sudah ada tulisannya dalam bacaan, tinggal dibaca kan bisa.” Daya bantah anak-anak didik sekarang semakin maju, dan itu bagus bagi daya kritis siswa-siswa. Tapi takaran, tempat, waktu seseorang untuk kritis harus tepat. Kritis menjadi tidak baik ketika ia berlaku dalam sembarangan tempat, waktu, dan bisa celakan kalau salah seleh. ibarat Air itu sangat baik bagi manusia, karena termasuk kebutuhan hidup, tapi ia menjadi bahaya kalau air satu cerek diminum sekaligus.

Kritis itu kalau sesuai takarannya akan jadi modal kemajuan belajar siwa, tetapi kalau kritis itu menjadi tujuan, sehingga apapun selalu dikritisi, maka yang timbul adalah rasa kesal guru, dan hilangnya nuansa saling mendengarkan untuk memahami, bukan mendengar untuk mencari celah salahnya kemudian mendebatnya. Dalam buku Persuasi Instans selalu dianjurkan untuk menyampaikan kritik tetapi selalu diawali dengan pujian dan pemahaman untuk memahamkan. Satu kesalahan dan empat kebaikan harus lebih dulu diucapkan empat kebaikannya, kemudian membahas satu kesalahan yang harus dirubah.

Teman kita yang buka rentalan di dekat sekolahan juga kebanjiran order, gara-gara siswa-siswa tak mau mengetik sendiri tugasnya. Alasannya mereka males utak-utik computer, teman kita selalu mendorong mereka mengoperasikan computer sendiri dalam menggarap tugasnya sendiri, agar ilmu computer yang diajarkan disekolahnya bisa diulang-ulang dan nyantel. Tetapi ujung-ujungnya adalah kata-kata males yang keluar dari mulut siswa-siswi saat ia ditimpa tugas. Maka tantangan pendidikan terbesar adalah membangun karakter siswa supaya mengaca pada akhlak Nabi Muhammad SAW.

17 Desember 2009

Ahmad Saifullah

Share on :

About

Syaikh Ahmad Rifa'i: Lumakuho siro kabeh nejo ing Allah,Tingkahe dangan lan abot sayah,Tingkahe sugih miskin gagah,Tuwin loro waras susah dalam manah. Follow @tanbihun_com

 

EBOOK GRATIS UNTUK ANDA !

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda, Jangan Lupa Cek Email Anda Untuk Aktifasinya !

 
Tagged with:

BACA JUGA!close