Tanbihun.com – Seekor ikan didalam aquarium hanya tahu dunia sebatas isi aquarium, kalau pun ia bisa melihat tak lebih ruangan sekeliling dimana aquarium itu berada. Pun demikian halnya dengan manusia, jika dia menempatkan dirinya didalam “kotak”, maka pengetahuannya takkan bisa berkembang dengan pesat, yang dia ketahui hanya sebatas apa-apa yang ada di dalam “kotak” itu.
Kalimat “kotak” disini bisa berupa tempat tinggal, usia, ilmu pengetahuan, harta, jabatan, orang yang tidak mau keluar dari tempat dimana ia bertempat tinggal, pengalamannya akan dibatasi oleh “ruangan” yang ia ciptakan sendiri, teman-temannya pun tidak akan bertambah. Untuk keluar dari “persembunyiannya” tidak selalu harus berupa bergeraknya badan, pergi keluar kampung atau kota atau rumah, di era serba canggih ini, hanya dengan berbekal handphone yang mungil kita bisa menjelajah dunia, kita mampu meraup banyak pengetahuan, kita bisa menjalin sebanyak mungkin teman.
Ilmu pengetahuan, usia, harta, status sosial dan jabatan berpotensi menjadi hijab (penghalang). Karena merasa “lebih” banyak tahu, ia enggan mencicipi ide baru, karena ide itu keluar dari orang yang tingkat pengetahuannya dibawahnya. Karena merasa kaya, secermelang apapun penemuan orang miskin takkan pernah bisa menyentuh hatinya untuk menerimanya. Sehebat apapun mutiara nasihat yang berasal dari lisan orang awam biasa tak pernah ia hiraukan, karena dia gengsi dengan status sosial yang ia sandang. Sebaik apapun solusi yang ditawarkan rakyat biasa, takkan pernah diterimanya, sebab posisinya adalah pemegang kendali, dia merasa lebih berhak dan lebih tahu dengan semua keputusannya.
Gelas yang sudah penuh tak lagi bisa diisi, seperti halnya dengan manusia yang merasa dirinya sudah “penuh” pengetahuan,merasa sudah pintar, paling benar, darimana dia akan menerima pengetahuan? tak ada lagi ruang yang bisa diisi.
Sedangkan orang yang selalu merasa “bodoh”, dia akan selalu terpacu untuk banyak belajar, baginya semakin banyak tahu, semakin banyak pula yang belum ia ketahui, hatinya selalu waspada dan siap untuk menerima kucuran hikmah dan pengetahuan darimana saja datangnya. Dia selalu dahaga dengan tetesan ilmu, hatinya senantiasa lapar ketika mendengar hal baru yang belum ia ketahui.(zid)
bagaimana dengan ikan di aquarium ketika kita akan pergi keluar kota (1)





