Penulisan sejarah di Indonesia pada umumnya masih berwawasan pada interes Belanda, ketika menjajah Indonesia atau berbatas pada peranan tingkat nasional. Sehingga, tidak mampu mengungkapkan peranan rakyat kecil atau pedesaan beserta pemimpinnya.
Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo mengatakan hal tersebut pada seminar “Mengungkap Pembaharuan Islam Abad XIX: Gerakan KH. Ahmad Rifa’i” yang diselenggarakan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, di Pendopo Joyodipuran, Rabu lalu. Pembicaraan lain KH Khairudin Hasbullah, Drs. Nurrosyidin Romli dan Drs. Slamet Siswandi. Hasyim Asy’ari, MA, Drs. A. Adaby Darban SU, H. Karkono Kamajaya, Drs. Koentowidjojo dan Drs. Anhari Basuki, SU.
Prof. Sartono menjelaskan kenyataan tersebut menyebabkan kita tidak pernah menemukan nama tokoh-tokoh yang perjuangannya menentang penjajah demi kemerdekaan Indonesia secara mati-matian, seperti KH. Ahmad Rifa’i, pejuang pantai utara Pulau Jawa abad 19. Bahkan menurut empu sejarah ini, KH. Ahmad Rifa’i layak dianugerahkan gelar pahlawan.
Silih berganti
Dijelaskan, sesungguhnya seluruh abad ke-19 dan bagian pertama abad ke-20, ditandai oleh meledakkan gejolak atau proses sosial di kalangan petani secara silih berganti. Hal itu merupakan konflik sosial antara kekuatan dalam masyarakat tradisional melawan rezim kolonial beserta segala kelembagaannya.
Gerakan protes itu mencapai momentumnya apabila ada pemimpin muncul yang dipandang rakyat keramat. Gerakan ini meliputi gerakan melawan pemerasan, dan gerakan revivalistis atau sektaris, dan gerakan semi modern seperti Sarekat Islam.
Dibanding gerakan-gerakan lainnya, gerakan KH. Rifa’i secara eksplisit merumuskan ideologi anti Belanda dengan anti pemerintah kafir.
“Tampak jelas usaha-usaha untuk memurnikan penghayatan beragama. Dengan demikian, penguasa Belanda pamongnya berupaya keras untuk menjatuhkannya,” tegasnya.
oleh: Agus Nahrowi





