Gerakan Haji Rifa’i, tokoh tarekat Rifaiyah, merupakan gerakan revivalistik. Hal ini terbukti dari angka-angka statistik yang naik haji, tersebarnya pesantren dan tarekat meningkat jumlahnya.
Demikian dikemukakan Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo, sejarawan Indonesia, dalam rangka seminar nasional “Mengungkap Pembaharuan Islam Abad XIX Gerakan K.H. Ahmad Rifa’I Kesinambungan dan Perubahannya,” Balai Kajrahnitra Yogyakarta, Rabu (12/13).
Data-data mengenai itu cukup memadai karena penguasa colonial melakukan pengawasan ketat terhadap lembaga yang memiliki potensi kuat untuk melakukan gerakan anti-kolnoial, lanjutnya.
Dalam penelitian tentang pemberontakan Cilegon (1888), Sartono menjumpai pelbagai gerakan protes. Salah satunya gerakan H. Rifangi. “Ini merupakan suatu “Penemuan” – perjumpaan pertama kali dengan fakta yang sebelumnya peristiwa itu tidak dikenal umum,” paparnya.
Menurut Sartono, munculnya peranan tokoh-tokoh pemimpin agama yang memiliki otoritas kharismatik terhadap rakyat pada abad 19, merupakan dampak penetrasi rezim kolonial beserta keresahan di lingkungan rakyat.
Di sini, para ulama berperan memobilisasi rakyat dalam berbagai gerakan sosial. Gerakan-gerakan ini berusia pendek karena pemerintah kolonial yang diliputi Hajiphobia atau Islamophobia segera bertindak untuk memadamkannya.
“Gerakan H. Rifangi secara eksplisit merumuskan ideologi anti Belanda dan pemerintahan kafir,” tegasnya KH. Ahmad Rifa’I mencela sikap pamong praja yang cenderung berafiliasi dengan pemerintah kolonial.
Mereka dikecam merosot kehidupan agamanya. Para pamong praja, disamping loyalitas kepada Belanda, mempunyai gaya hidup kekafir-kafiran, suka berjudi, main gamelan, mengadakan pertunjukan wayang. “Tepatlah jika gerakan H. Rifangi mewujudkan revivalisme,” jelas Sartono di hadapan sekitar 300 peserta seminar.
Menurut cerita dalam Serat Cebolek H. Rifangi menderita kekelahan, namun tidak seperti yang diharapkan oleh penguasa, kekalahan itu tidak mengurangi popularitas serta otoritasnya di kalangan rakyat. Gerakan ini tetap berkesinambungan dan selanjutnya tidak menghadapi intervensi Belanda lagi.
Meskipun tidak mencapai momentum konfrontasi dengan Kumpeni, namun agitasi anti-kolonialismenya mampu membangkitkan kesadaran religio-politik di kalangan murid-muridnya sehingga ia berkembang sebagai kekuatan sosial politik yang kuat, jelasnya.
Sementara itu, Drs. Musa Asy’arie, dalam bahasannya tentang tauhid menurut pandangan KH. Ahmad Rifa’I bahwa tidak berpikir adalah dosa, itu tidak sekedar pernyataan bermakna agama, tetapi lebih bermakan kultural.
Di kalangan umat Islam, berpikir merupakan aktivitas yang kurang diutamakan. Bahkan, mereka terkadang cemas terhadap aktivitas berpikir. Mungkin, itu yang menyebabkan studi filsafat di kalangan Islam sering dicurigai. Kecurigaan ini menjadi salah satu faktor penyebab jatuhnya kebudayaan Islam, jelasnya.
Selain itu, lanjutnya, pernyataan Rifa’i tentang kelakuan Islam ada enam (iman kepada Allah, iman, kepada malaikat, iman kepada kitab, iman kepada nabi, iman hari akhir, iman kepada qodlo dan qodar), jika dikembangkan lebih jauh, kelakuan Islam merupakan lapangan kebudayaan
oleh: Agus Nahrowi






lho…………… bukannya ormas rifaiyah dengan thariqat rifaiyah itu beda, Pak Dhe…….. jangan disamakan!