Tanbihun- Berdasarkan dari ajaran atau doktrin protes kyai haji Ahmad Rifa’i di atas, maka berikut ini digambarkan aktualisasi dari gerakan Rifa’iyah. Untuk membahas gerakan protes social ini digunakan pendekatan behavioral. Dalam hal ini dibahas tentang actor yang memimpin dan umat yang dipimpin , kemudian interprestasi terhadap situasi pada jamanya, dan bentuk geraakan ( action ) serta apa yang akan terjadi setelah adnay gerakn itu.[1]
Lebih lanjut untuk mengetahui seberapa jauh jalannya gerakan protes social itu , maka perlu diungkapkan:
- Kondisi struktur social dan budaya yang mendorong munculny gerakan.
- Ketergantungan social
- Pertumbuhan dan perkembangan serta perataan kepercayaan sebagai dasar gerakan.
- Factor pencetus gerakan
- Mobilisasi ummat ( pengikut ) dan
- Adanya factor counter action terhadap gerakan social.[2]
Dalam gerakan protes Rifa’iyah , sebagai actor adalah KH. Ahmad rifa’i dengan pengikutnya yang disebut santri Budiah atau Santri Tarjumah. Mereka dihadapkan pada situasi jaman pemerintah colonial , merosotnya kepemimpinan tradisional , dan dalam proses westernisasi dijawa.KH.Ahmad Rifa’i bersama pendukungnya tidak puas dengan kondisi seperti itu , kemudian mengadakn gerakan menentang colonial dan birokrat tradisional itu.
Meskipun gerakan protesnya tidak sampai pada taraf perang fisik, namun gerakan Rifa’iyah berhasil membuat kerisauan , sehingg menggunjangkan stabilitas pemerintah di jawa. Untuk mengtahui gerakan protes Rifa’iyh dapat diikuti bahas selanjutnya .
KH.Ahmad Rifa’i mulai melancarkan protes sejak di Kaliwungu , yaitu ketika menjadi pembantu kakak iparnya Kyai Haji Asy’ari sebagai ustadh di pondok pesantrenya.
Ia mengecam pengulu yang dipandang sebagai penanggung jawab kebobrokan moral ummat islam, oleh karena itu terjadi pertentangan tajam dan terbuka dengan penghulu kaliwungu.[3] Penghulu kaliwungu kemudian melaporkan kepada pemerintah Distrik Kendal , tentang adanya protes- protes dan pertentangan dengan KH.Ahmad Rifa’i . dalam laporan itu KH. Ahmad Rifa’i dituduh membuat kerusuhan, sehingga diminta agar pemerintah colonial distri k Kendal menangkapnya, demi ketentraman daerah. Atas laporan itu, pemerintah Distrik Kendal menahan KH.Ahmad Rifa’i , dan kemudian diminta untuk tidak bertempat tingal didaerah Kendal dan kaliwungu. Selanjutnya ia dilepas , dan kemudian hijrah ke daerah kalisalak, didaerah inilah ia mulai membangun pesantren yang lebih besar.
Di Kalisalak KH. Ahmad Rifa’i memulai gerakanya dengan membentuk kader pendukung inti ajaranya. Dengan penuh karisma, ia berhasil menanamkan faham yang dibawanya dan diajarkanya kepada para santri dan kader intinya. Diantara kader intnya terdapat nama-nama: Imampuro, Arfani Alias Abdul Aziz, Kurdi alias Abu Kasan , Muhammad Toyib, Abdulhadi, Abu Mansyur, Ishak, Hadi Munawir, Ilham, Abdul Kohar, Abdul Fatah , dan Muhammad Tubo.[4]
Tugas kader inti disamping sebagai pengurus jama’ah , juga bertugas sebagai mubaligh yang diterjunkan ke pedesaan- pedesaan jawa tengah.melalui kadernya ajaran rifa’iyah berkembang,dan pengikutnya bertambah banyak. Ajaran KH.Ahmad Rifa’i yag dismpakan melalui syair-syair bahasa jawa , yang isinya merupakan terjemahan dari kitab-kitab agama islam , memang menarik masyarakat pedesaan untuk memahami islam.
Disamping itu masyarakat juga tertarik dengan doktrin Rifa’iyah yang menentang Penguasa Belanda dan Birokrasi Tradisional. Oleh karena itu tidaklah mengherankan, pengajian-pengajian Jama’ah Rifa’iyah berkembang sampai ke Wonosobo, Kendal, Kedu, Pati, Banyumas, dan Batang sendiri.
Setelah besar dan tersebar pengaruh ajarannya ,Kyai Haji Ahmad Rifa’i mulai berani terang – terangan mengadakan gerakan proteskepada penguasa tradisional, disamping itu juga kepada Belanda. Protes ini dilakukan dimasjid – masjid umum , dengan kotbah-kotbahnya,dan pengajian – pengajianya, mengecam pejabat lembaga keagamaan yang diangkat dan menghamba kepada Belanda. Di samping itu kaum birokrat tradisional sejak dari lurah sampai bupati, dikecam sebagai kaum feodal dan kaki tangan Belanda. Semuanya itu orang- orang yang mengabdi kepada raja kafir , dalam masalah keagamaan mereka dianggap sebagai tidak lebih dari pada anjing dan babi.[5]
Atas prakarsa Mas Bagus Kenthol Jariyah , KH. Ahmad Rifa’i diberi kesempatan untuk berkhotbah dan kemudian ceramah pengajian di masjid Wanayasa. Dengan bahasa jawa yang bersyair, ia mengajarkan makna – makna ajaran islam dengan menarik , sehingga banyak yang mengikuti fahamnya. Apalagi ajaran faham yang menyatakan bahwa islamnya belum syah , bagi yang belum mengikuti jama’ahnya , maka hal ini mengundang masyarakat mohon di islamkan.[6]
Pengaruh ajaran Rifa’iyah itu ternyata kemudian mengundang kaum muslimn untuk mendatangi pondok pesantren kalisalak. Mereka merasakn risau setelah mendapat ajaran , bahwa perkawinananya melalui penghulu belum sah. Disamping itu mereka juga merasakan risau keislamanya , dikarenakan belum dipersaksikan dihadapan KH.Ahmad Rifa’i . ummat yang mendatangi pondok pesantren Kalisalak tidak hanya lapisan masyarakst bawah, namun juga terdapat beberapa orang pemuka agama. Di antaranya yang minta diislamkan itu ialah seorang modin, ia dimandikan dalam kolam pesantren , digosok dengan daun ilalang oleh murid – murid KH.Ahmad Rifa’i . setelah upacara pemandian itu , kemudian dihadapkan kepada Kyai, sebelum diislamkan sang kyai menyatakan bahwa dosa- dosa modin dibersihkan , kemudian diadakan upacara syahadat , sebagai tanda peresmian jadi islam.[7]
Kebanyakan diantara yang mohon diislamkan oleh KH. Ahmad Rifa’i ialah bertujuan agar dirinya selamt dan mengikuti jama’ah Rifa’iyah yang ditanggung dapat masuk surga.[8]
Masjid dan pesantren Kalislak yang dahulunya sepi dan terpencil, kemudian menjadi ramai dkunjungi masyarakat. Disamping itu menjadi pusat perhatian ummat islam, baik yang tertarik untuk mengaji maupun yang mencurigainya . dari pihak penghulu dan para ulama yang mencurigai perkembangan jama’aah Rifa’iyah, mengkhawatirkan akan terjadi masjid kosong , dan pengaruhnya hilang. Oleh karena itu penghulu Batang yang ternama Haji Pinang mengadakan aksi pengecaman terhadap KH.Ahmad Rifa’i . penghulu itu mengadakan :
“ Tutura gurunireki
Sisetan ing Kalisalak
Iya iku iblis katon
Den age mrene praptaa
Sun kucere pisan
Eblis ing salugunipun
Si Ripangi Kalisalak
Wus sedya ing rina wengi
Nggoningsun bubujang setan
Si kaji Ripangi kowe
Ke didhadhung ing setan
Wus dadi jenis setan “[9]
Artinya:
“katakanlah pada gurumu,
Si setan dari Kalisalak
Itulah iblis yang tampak
Cepat suruh kemari,
Akan kukucir ( ikat kepalanya ) sekalian
Sebab ia iblis Rifa’i kalisalak.
Sudah disetiap malam
Saya marah pada setan
Si Haji Rifa’i itu
Sudah diikat oleh setan
Bahkan telah menjadi jenisnya setan “.
Demikian kecaman haji pinang terhadap KH. Ahmad Rifa’i yang disampaikan kepada Bagus Kenthol salah seorang murid Rifa’i . oleh para penghulu dan ulama yang menentang gerakan Rifa’iyah , menyebut ajaran itu denga nama Ngelmu Kalisalak. ajaran ngelmu Kalisalak ini diangap menyesatkan ummat islam , oleh karenanya diambil tindakan. Tindakan pertama yang dilakukan oleh para penghulu , ulama dan kaum birokrat tradisional ialah mengadakan perdebatan . dalam perdebatan yang disaksikan oleh Tumenggung Aria Puspadiningrat ( Bupati Batang ), dan masyarakat umum , ternyata KH.Ahmad Rifa’i berani menentang tuduhan yang ditimpakan kepadanya. Bahkan ia dengan menggunakan dalil –dalil agama, mengatakan bahwa para pejabat yang membantu Belanda itu kafir dan tidak perlu diturut serta ditaati .[10]
Oleh karena jalannya perdebatan itu semakin panas , dan tidak ada pertemuan pendapat , maka oleh Tumenggung dihentikan untuk sementara . dari perdebatan itu Tumenggung lebih mengetahui dengan jelas sifaat , ajaran dan sikap KH. Ahmad Rifa’i yang mengkafirkan pemerintah tradisional, dan tidak mentaatinya. Dengan demikian menjadi bahan laporan Bupati Batang kepada Residen Pekalongan , yang kemudian diteruskan ke Gubernur Jendral di Batavia.
Gerakan Rifa’iyah semakin aktif dan redikal , para mubalighnya mengadakan pengajian – pengajian di masjid – masjid desa, selain mengajarkan faham agama juga mengecam pemerintah. Hal ini meluaskan rasa sentiment anti colonial Belanda dan kaum birokrat tradisional, yang dianggapnya kafir .[11] disamping itu pengaruh ajaran Rifa’iyah juga berkembang pesat , karena dengan menggunakan syair bahasa jawa mudah difahami oleh masyarakat. Dengan demikian karisma KH. Ahmad Rifa’i semakin kuat, dianggap oleh umatnya sebagai Imam yang alim-adil.
Perasaan yang sentimen anti colonial dan birokrat tradisional tumbuh subur dikalangan kelompok jama’ah Rifa’iyah. Rasa sentimen itu diaktualisasikan dengan sikap-sikap tidak mentaati peraturan pemerintah dan tidak takut kepada para priyayi yang memimpin daerahnya. Bupati Batang sebagai penguasa daerah yang membawahi Kalisalak, merasakan daerahnya semakin tidak tentram. Hal ini dikarenakan sering mendapat hambatan dalam melaksanakan tugasnya. Disamping itu ia menjadi marah, dikarenakan sering mendapat laporan, bahwa KH. Ahmad Rifa’i selalu mengecamnya.
Untuk mengendalikan ketentraman di wilayahnya, bupati Batang tidak menunggu adanya gerakan fisik dari jama’ah Rifa’iyah. Namun sedini mungkin gerakan itu diusahakan tidak meledak menjadi pemberontakan oleh karena itu, oleh Bupati Batang dilaporkan kepada residen Pekalongan, laporan itu kemudian diteruskan kepada Gubernur Jendral A.J. Duymen Twist, di Batavia. Tanggapan gubernur jendral tentang laporan Residen Pekalongan itu dituangkan dalam suratnya tertanggal 2 juni 1855, yang menyatakan bahwa gerakan rifa’iyah belum cukup kuat untuk di tindak. Lebih lanjut gubernur Jendral menyarankan agar KH. Ahmad Rifa’i di panggil ke pengadilan dan diproses secara hukum.[12] Balasan surat dari Gubernur Jendral ini tidak memuaskan Residen Pekalongan maupun Bupati batang, sehingga untuk sementara waktu hanya dilakukan pengamatan dan penyusunan data tentang pelanggaran Gerakan Rifa’iyah.
Pada tanggal 23 November 1858, Residen Pekalongan Frensiscus Netscher mengirim suar kepada Gubernur Jendral yang baru pahud (pengganti A.J. Duymaer Twist). Dalam suratnya, Residen meminta supaya KH. Ahmad Rifa’i diasingkan. Gubernur Jendral Pahud juga belum mengabulkan permohonan residen, dan menyarankan agar KH. Ahmad Rifa’i diperiksa terlebih dahulu. Oleh Karena tidak ada adanya ketegasan dari Gubernur Jendral, maka terjadi kegelisahan di kalangan pemerintah tradisioanal yang menghadapi langsung Gerakan rifa’iyah yang semakin berani. Sebagai tindakan preventive, penghulu Batang menghadapkan KH. Ahmad Rifa’i kepada tumenggung Aria Puspadiningrat, yang dihadiri pula oleh para ulam dan penghulu. Dari perdepatan kedua kalinya ini, berhasil dicatat beberapa kesalahan KH. Ahmad Rifa’i, yang kemudian hari digunakan sebagai data laporan. Setelah perdebatan selesai, KH. Ahmad Rifa’i tidak di perbolehkan pulang, dan di tahan dirumah penghulu Pekalongan.
Pada tanggal 30 April 1859, Residen Pekalongan mengirim surat kepada Gubenur Jendral Pahud, yang isinya memohon ketegasan agar KH. Ahmad Rifa’i diasingkan. Surat itu dilampiri dua surat dari Bupati Batang, masing-masing tertangal 24 April 1859 dan 29 April 1859, sebagai penguatnya. Adapun isi surat Bupati Batang tanggal 29 April 1859 itu mengandung data kesalahan KH. Ahmad Rifa’i, sebagai berikut :
- perkara kchadji achmad ripangie soeda biekien kietab-kietab bahasa djawa sepertie bikien bodo, dija ambil darie Alkoeran dan dari bebel Arab, die salin bahasa djawa die toelis mengertinja tapie bolenja toelias mengertinja trada pigimana maoenja kietab arab, orang pertjaja sebab tieada mengertie bahasa arab, mangka itoe dija poenja moerid orang jang tadinja beloem mengerie chal igama badrie of orang njang soeda mengertie tieada maoe bergoeroe kepadanja.
- perkara kietab-kietabja seoewa olok-olok sama semoea badrie maoenja biar orang hanja bergoeroe kepada dianja.
- perkara dia soeda berani toelis dikitabnja, orange islam beloem djadie islam betoel kaloe beloem die berseksie alime adiel, maoenja kalaoe beloem bergoeroe kepada diejanja atawa pada moeried.
- perkara semoewa missigiet orang poenja sembajang tiada tahoe of tiada betoel, sebab beloem die berseksie of beloem bergoeroe kapada aliem adil, maoenja beloem bergoeroe kepada dijanja.
- perkara soeda begitoe brani toelis die dalam dija poenja kietab olok-olok sama semoa perjanji dan kepala negerie trada patoet sekalie-sekalie….
- perkara kabarnja kalaoe orang sode ada bienie, masoek bergoeroe kepada dijanja lantas die kawinkan lagie, bolenja kawin doeloe dija kata beloem betoel, sebab jang ngawienken boekan alim adil.
- perkara soeda die larang mengadjar iegama trada cocok sama lain-lain badri poenja adjaran pigimana terseboet saja soerat tnggal 9 September 1858 die mana leter C pasal 3, ia jogega tieda maoe toeroet misie pigimana adjaran lama, mangka saja minta boeangja of keloernja dari saja poenja keboepaten.”[13]
Data penguat kesalahan KH. Ahmad Rifa’i diatas sebagai desakan yang menyakinkan Gubernur Jendral. Disamping itu, diusulkan pula data hasil introgasi terhadap KH. Ahmad Rifa’i tertanggal 7 Mei 1859, yang disaksikan oleh residen Pekalongan Fransischus Nescher (penggnti van der poel) bupeti Batang raden tumenggung Ario Puspadiningrat, dan jaksa Pekalongan Raden Witiswaja. Hasil dari introgasi itu menambah kuat alas an agar KH. Ahmad Rifa’i diasingkan.[14]
Setelah mendapatkan alasan yang kuat dari hasil introgasi dan surat dari residen Pekalongan itu, maka Gubernur Jendral Pahud menjatuhkan surat keputusan No.35 tertanggal 19 Mei 1859, yang pokoknya mengasingkan KH. Ahmad Rifa’i.[15] adapun yang dijadikan dictum pertimbangan untuk mengasingkan KH. Ahmad Rifa’i ialah :
Pertama : KH. Ahmad Rifa’i tiddak mau menta’ti kepada kepala pemerintah pribumi yang diangkat pemerintah Belanda demikian yang demikian dianggap sebagai bahaya politik.
Kedua : tindakan itu bukan merupakan perkara hukum resmi oaleh karena itu tidak diadakan pengadilan.
Ketiga : tindakan pengasingan ini merupakan usaha preventive untuk mencegah timbulnya bahaya ketertiban dan keamanan. Dengan demikian maka KH. Ahmad Rifa’i diasingkan ke Ambom.
Dalam usia 73 tahun KH. Ahmad Rifa’i mulai menjalani masa pengasinganya di Ambon. Meskipun jauh dari pengikutnya ia sempat membuat surat dan mengirimkan 4 buah buku ajaranya yang ditulis dengan bahasa melayu. Keempat kitab yag dikirimkan itu ialah : Targhibul mithalab, terdiri dari dua koras tentang ushuluddin : kaifialatul mikosad, terdiri dari 7 koras tenteng ibadat : Hidayatul Himmat, terdiri dari 25 koras tentang tasawuf : dan Nashihatul Hak, terdiri dari 10 koras tentang tasawuf. Disamping itu 4 buah kitab KH. Ahmad Rifa’i di pengasingan juga mengirimkan 60 lembar tanbih (perhatian), yang harus diamalkan oleh para santrinya.[16]
Di dalam surat yang ditinjukkan kepada maufuro (imampuro) menantunya, KH. Ahmad Rifa’i mewasiatkan kepada para santrinya, antara lain :[17]
Pertama, agar para santrinya tetep jazm mengamalkan kitab tarajumah, dengan jalan menyalin dan mengalami serta mengamalkan agar selamat didunia dan di akherat.
Kedua, para santri yang sudah dapat menetapi dan mendalami serta berlaku adil, dan menjadi saksi, memberi fatwa, mengesahakan keislaman orang yang membutuhkannya.
Ketiga, santrinya masih ada yang berani amar ma’ruf nahi munkar, untuk mengingatkan kepada kebanyakan ulama di jawa yang masih mengikuti hukum taghut, adapt negeri, bersekutu dengan pemerintah kafir Belanda. Amar ma’ruf yang ringan dengan menulis dan menyebarkan kitab, namun lebih baik dengan tangan dan lisan, walaupun resikonya berat.
Keempat, ia menghawatirkan adanya musibah kerusakan agama di jawa setelah ditinggalkanya. Kerusakan itu diperingatkan antara lain membaca Al qur’an untuk kemegahan, syahadat dan sholat kurang rukun sratnyadan mengakhirkan farzu’ain muzayyik. Hal itu para santrinya harus ikut meluruskanya.
Kelima, tentang dirinya, K.H. Ahmad Rifa’i meangajurkan para santrinya dan pengikutnya jangan mempunyai belas kasihan sebab di Ambon ia juga mempunyai pengikut dan kawan berdakwah, antara lain Sayid Abubakar dari Ambon, merekalah yang simpati dan ikut menyebarluaskan ajaranya. Mengenai penulisan 4 kitab terakhir bahasa Melayu, ia katakana bahwa agar dapat di baca oleh lingkungan yang lebih luas di Ambon. KH. Ahmad Rifa’i merasakan bahwa di asingkan hikmah, dan sedikit pun merasa menderita. Hanyalah yang diharapkan agar para santri dan keluargannya di jawa dapat mendoakan supaya ia mendapat derajad yang lebih tinggi di hadapan Allah Swt., jadi hawasul-hawas.
Keenam, wasiat khusus disampaikan kepada istrinya Sujinah, bila belum kawin lagi, tetap dianggap sebagai istrinya, namun bila sudah kawin dengan orang lain, ia riza dan iklas. Kitab Asnal Mikosad supaya diberikan kepada Sujinah, agar dapat dipelajari dan diwariskan kepada anaknya yang laki-laki. Sebagai kurir pembawa surat ditunjuk oleh K.H Ahmad Rifa’i ialah haji Abdullah dari Semarang, yang banyak kenal dengan juragan pemilik kapal dan sering berlayar ke Ambon.
Menilik isi surat tersebut diatas K.H. Ahmad Rifa’i masih mempunyai idealisme dalam perjuanganya bahkan masih memberikan perintah untuk meluruskan gerakan Rifa’iyah kepada para santrinya. Oleh karena itu, sepeninggalan KH. Ahmad Rifa’i jama’ah Rifa’iyah tetap hidup dan melangsungkan keberadaanya sampai sekarang.[18]
Para pemimpin jama’ah Rifa’iyah pengganti K.H. Ahmad Rifa’i dalam menjalankan eksistensi jama’ahnya menggunakan taktik perdamaian., menjauhkan dari sifat radikal dan secara diam-diam mengembangakan jama’ahnya. Usaha itu dilakukan untuk melindungi diri dari pengawasan pemerintah, disamping itu tetap mengamalakan wasiat sang imam. Adapun bentuk kegiatanya lenih menekankan diri dalam bidang pendidikan pondok pesantren.
Traskripsi
Slamete dunya akherat wajib kinara
Ngalawan raja kafir sakuasane kafikiran
Tur perang sabil luwih kadene uakara
Kacukupan tan kanti akeh bala kuncara
Ghalib alim lan haji fasik padha tulung
Maring raja kafir asih padha junjung
Ikulah wong alim munafik imane suwug
Dumeh diangkat derajad dadi tumenggung
Lamun alim weruha ing alane wong takabur
Maka ora tinemu dadi kadiniluhur
Sumerep badan ina ngelangsur
Munfaate ilmu aln amal dimaha lebur
Tinemu priyayi laku gawe gede kadosan
Ratu, bupati, demang, lurah, kebayan
Maring raja kafir pada asih anutan
Haji lan abid dadi tulung ma’siat
Nuli dadi khatib ibadah
Mu’adin lebai pada melu anggugat
Maring alim adil laku bener syari’at
Sebab kuatir yen ora nemu drajad
Ikulah lakune wong munafik iman suwung
Anut maksiat dadi tumenggung
Ikulah wong munafik lakune bingung
Badan ina rumangsa mulya dadi tumenggung
Mu’min mbungkuk utama nandur ketela
Tinimbang mu’min mbungkuk ngawula woang ala.
Iku tanda mu’min kang pratela
Ma’rifate madhep maring Allah ta’ala
Alim saleh milih angger tenimu merdika
Senadyan disengitana dene wong duraka
Tinimbang kumpul karo wong cilaka
Timahane bisa kecegur maring neraka
Ikilah dalil qur’an nunur wong antenar
Wa ja’alnahum a immatay yad’uwe na ilanar
Lan wus digawe isin ing kadonyan
Ing wong za lim iku kabeh dadi panutan
Pangajake maring neraka kemazaratan
Ikulah cobane Allah pangeran
Mu’min mbungkuk utama nandur jagung
Tinimbang mu’min mbungkuk ngawula tumenggung
Ngalim saleh milih merdika ingkang agung
Agawe kutha daerah yen bisa langsung.
Dikutib dari kitab Sharkhul Iman Salah Satu Kitab Tarjumah Karya KH. Ahmad Rifa’i, Tanpa Penerbitan, tahun terbit dan juga tanpa halaman.
Terjemahan :
Keselamatan dunia akherat wajib diperhitungkan
Melawan raja kafir sekemampuannya perlu dikafirkan
Demkian juga perang sabil lebih dari upacara
Cukup tidak menggunakan pasukan yang besar
Ghalib alim dan haji fasik semuanya menolong
Kepada raja kafir mereka yang senang mendukung
Itulah orang alim munafik kosong imannya
Mentang-mentang diangkat berkedudukan jadi tumenggung
Walaupun alim mengetahui jeleknya orang takabur
Pada hal tidak akan menjadi kadi terkenal
Mengetahui dari hina menghadap dengan merangkak
Manfaatnya ilmu dan amal jadi hancur lebur
Menemukan tindakan priyayi yang berbuat dosa-dosa besar
Ratu bupati demang lurah kebayan
Kepada raja kafir mereka senang menghamba
Haji dan abid jadi penolong kema’siyatan
Kemudian menjadi kadi khatib ibadah
Mu’adin lebai semuaikut menggugat
Kepada alim adil yang bertindak benar menurut syariat
Sebab mereka khawatir kalau tidak mendapat pangkat
Itulah tindakan orang munafik yang kosong imannya
Ikut berbuat ma’syiat orang menjadi tumenggung
Itulah orang munafik yang kebingungan
Pribadinya hina merasa mulia jadi tumenggung
Orang mu’alim lebih utama membongkok untuk menanam singkong
Dari pada orang mu’min membongkok menghamba orang jelek
Itu merupakan tanda orang mu’min yang benar
Ma’rifatnya menghadap kepada Allah ta’ala
Orang alim-saleh memiliki dapat kemerdekaan
Meskipun dibenci oleh orang durhaka
Dari pada berkumpul dengan orang celaka
Akibatnya dapat terperosok ke neraka
Inilah dalil qur’an yang sudah dikenal orang
Wa ja alnahum a’ immatayad ‘una ilannar
(“Dan kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang mengundang orang ke neraka” Qur’an, S. Kosos : 41).
Dan sudah dibbuat malu di dunia
Kepada orang zalim itu mereka menghamba
Mengajak keneraka kemadaratan
Itulah cobaan dari Allah yang kuasa
Orang mu’min lebih utam membongkok untuk menanam jagung
Dari pada orang mu’min membongkok untuk, menghamba tumenggung
Orang ali-saleh memilih kemerdekaan yang agung
Membentuk Negara apabila dapat langsung
Terjemahan dari bagian kitab Sharikhul Iman Salah satu dari kitab Tarjumah karya KH. Ahmad Rifa’i
[1] Robert f . Berkhofer, Jr., behafioral Approch to Historical Analysis, ( New york : the fre Press, 1971) hal 66- 74.
[2] Neil J. Smelser, Theory of Collective Behavior,( London : Routledge dan Kegan paul , 1962 ), hal. 1 m- 23 dan 47 – 70.
[3] Manakib Syekh Ahmad rifa’i , manuskrip tanpa pengarang dan tanpa tahun, hal 13- 18. dalam laporan penelitian Lembaga Keagamaan no. 6 , Rifa’iyah ( Semarang , Balitbang , Depag, 1984).
[4] Laporan…….ibid, hal 17
[5] Missive van Resident van Pekalongan ( J.F. Jasfer), tanggal 31 juli 1924, no . 504 / Zeer Geheim, afschift, Mailreport No. 14/ 25
[6] Serat Cebolek , Op. Cit., II Pupuh Asmaradana : 1-8
[7] I bid
[8] I b I d.
[9] I b I d ., hal 205
[10] Jalanya perdebatan dalam Serat Cebolek, ibid
[11] Surat Bupati Batang, 29 April 1859, Arsip Nasional Bt. 19 – 5- 1859 No. 35. lihat juga Jasquet , 1980, 304/5
[12] Karel A. Steenbrink. Op. Cit., hal . 101.
[13] Ibid
[14] Dalam Bt. 19-5-1859 no.35, 7 Mei 1859. No. IV / Gehim di arsip nasional Jakarta.
[15] Lihat Oos Indish Besluit, 289 /59 geheim, 19 Mei 1859.
[16] Lihat surat KH. Ahmad Rifa’i dari Ambon, tertanggal 21 Zulhijjah 1277H / tahun jimawal.
[17] Ibid
| Nama lengkap | : Drs.H. Ahmad Adaby Darban, SU |
| Tempat Tanggal Lahir | : Yogyakarta, 25 Pebruari 1952 |
| Jabatan | : Dosen Fakultas Sastra UGM |
| Alamat Rumah/Telepon | : Kauman GM. I/355 Yogyakarta Kode Pos 55122 |
| Alamat Kantor/Telepon | Bulaksumur E. 12 Yogyakarta 3096 |
| Pendidikan Terakhir | : Lulusan Fak. Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada |
| Pengalaman Karya | : 1. Sejarah Kauman Yogyakarta2.Rifa’iyah: Gerakan Protes sosial di Pedesaan Jawa Tengah3. Fragmenta Sejarah Islam di Indonesia4. Snouck Horgronje dan islam di Indonesia |
Yogyakarta, 6 Desember 1990
(Ahmad Adaby Darban, SU.)
pemimpin gerakan budiah (2),sejarah rifaiyah (2),ajaran kyai tofik pekalongan (1),biografi kyai asy\ari kyai guru kaliwungu (1),gerakan Budiah (1),gerakan rifaiyah (1),kiyai ahmad rifai (1),Kyai asari/kyai guru kaliwungu (1),sejarah ahmad rifai (1)





