Sudah beberapa bulan berlalu, semenjak peristiwa luar biasa dalam sistem organisasi Rifaiyah yaitu Musyawarah Kerja Nasional ke VII di Temanggung. Dengan mengusung Visi dan Misi yang dilandasi semangat menggelora, semua peserta rapat komisi berusaha menyuarakan ide, pendapat dan keinginannya agar ke depan Rifaiyah dapat berjalan layaknya sebuah organisasi kemasyarakatan .
Senyum puas dan gembira terkembang di wajah-wajah tulus para delegasi ketika acara akbar tersebut akan berakhir, seakan tergambar dihadapannya masa depan Rifaiyah yang terang benderang akan segera terwujud. Meskipun banyak juga muka-muka pesimis dan ragu terhadap hasil mukernas itu sendiri, namun meskipun dengan mendesah merekapun berharap program-program itu dapat berjalan dengan maksimal.
Namun, ketika bulan telah datang silih berganti, gaung Temanggungpun makin tidak terdengar bahkan mulai hilang dan terlupakan. Program-program yang dirumuskan dengan menghabiskan waktu dan dana yang tidak kecil tersebut seakan hilang ditelan angin.
Di tengah keputus asaan ini tetap terselip sebuah harapan agar program-program hasil Mukernas Temanggung dapat terrealisasi sesuai dengan amanah organisasi. Doa penulis semoga Pengurus Pusat Rifaiyah dianugerahi kesehatan dan kemampuan untuk menggerakkan roda organisasi ini.





Amin Ya Robbal ‘alamiin
Semoga Kesehatan dan rizki yg lapang untuk semua yg telah rela berjuang di jalan Alloh.
[Reply]
yang nulis ketua PW juga kan he he
just do it (just duit juga kali ya)
tanbihun.com kalo ngangkat tema (organisasi) rifaiyah sepi yang komentar ya? beda kalo masalah tahlilan. walahh!!
[Reply]
em.yazid Reply:
October 5th, 2009 at 6:07 pm
@maspeem,
iya mas, kalau yg ngebahas rifaiyah sepi,kenapa ya? mungkin karena sudah tidak ada yang perlu dibahas kali ya?
Mboh nding …. Apapun alasannya, semoga tidak menjadi peredam hasrat menulis.biar tidak pandai, lumayan buat latihan berani, untuk ngisi komentar saja membutuhkan cukup nyali, apalagi menulis.
Selamat buat yang sudah nulis, selamat juga buat para komentator.
Bagi yang belum, jangan patah arang, kalau hari ini belum mungkin, besok,besok,dan masih ada ribuan esok. terus semangat !!!
[Reply]
Aku herannya walaupun misalnya Pengurus RIfaiyah tidak jalan secara keorganisasian. tetapi masyarakat khususnya masyarakat Rifaiyah di Pekalongan itu jagonya bikin kegiatan. sampai kalau mau dituruti kegiatan masyarakat RIfaiyah itu bisa-bisa gak ada waktu lagi cari maisyah. kususnya kegiatan pengajian dan silaturahmi. saking begitunya kadang misalnya di pengajian Ahadan di masjid Istiqomah Paesan yang dihadiri masyarakat Rifaiyah dari berbagai penjuru Pekalongan dan Batang, pra maupun pasca pengajian itu biasanya terjadi “pasar” alias mereka ngaji sambil bawa dagangan. entah itu batik, tapih, kerudung, pakaian, kitab-kitab. jadi sambil menyelam minum air. aku melihat bahwa kegiatan-kegiatan itu berjalan secara otomatis saja…..
[Reply]
apa yang dibahas (atau dikeluhkan) pada artikel diatas sebenarnya merupakan ‘penyakit’ laten rifaiyah. dan sebenarnya juga hal tersebut sudah disadari oleh semua petinggi rifaiyah. aku sendiri dalam sedikit kesempatan pernah ‘duduk satu forum’dengan beliau2 yang terhormat: pak sadzirin, pak mukhlisin, pak nahri, pak darji dll. tapi entah kenapa penyakit yang sudah ketahui tersebut sejauh ini gagal untuk diobati.
satu yang justru patut untuk ditakutkan adalah hilangnya semangat berifaiyah pada semua daerah.
(barangkali ini hanya perasaanku) ketika mukernas dilakukan di ambarawa, orang semarang begitu bersemangat. tapi kemudian menjadi sangat tidak bersemangat ketika mukernas dilakukan di pati. itu karena apa yang mereka kerjakan dengan darah dan airmata (he he…) 200% di muktamar disia-siakan begitu saja. dan saat itu pati sebagai penyelenggara tengah bersemangat juga dengan 250%, terlepas dari penilaian gagal atau berhasil. dan ketika muktamar kemudian dilaksanakan di kenal, orang2 pati, dengan alasan yang sama dengan orang ambarawa, juga menjadi kurang bersemangat.
patut ditakutkan jika hal tersebut berlanjut ke kendal pada mukernas temanggung, dan temanggung pada muktamar berikutnya. dan berikutnya lagi. seperti domino dong he he
[Reply]
Aditya Reply:
October 7th, 2009 at 6:26 am
@Asep… Lha kalo jalan sendiri2 tanpa dikoordinir oleh PP…ngapain capek2 dan buang2 biaya ngadain muktamar ama mukernas…
@maspeem, Ya sampeyan jangan melihat aja dong….!!! Gimana kalo sampeyan ikut cawe2 demi Rifaiyah ini. Sak benere Rifaiyah itu on the right track tinggal nunggu orang yang enthengan tangan ajja…silahkan bagi yg enthengan tangan harap ngacuung..!!!
@Admin, terus berikan dorongan semangat buat pemuda2 Rifaiyah agar ga tidur ajja..
[Reply]
Kalau semua menunggu, siapa yang di tunggu? padahal hal besar itu diawali dengan hal-hal kecil.
Mulailah dari diri sendiri, apapun bentuknya asal baik,insya Alloh manfaat.
[Reply]
Surat terbuka buat Santri Rifaiyah Di Mesir@
________________________________________
Dengan rasa hormat,
saya mendengar katanya banyak santri rifaiyah yang di mesir dan yaman, tapi saya koq belum mendengar gaungnya.
Kalian bisa kan menulis? misalkan ; kalian beberkan dalil-dalil yang ada di kitab mbah rifa’i itu ada didalam kitab apa?
Bisa juga di bahas kedudukan hadits2 yang tertulis di dalam kitab tarjumah.
Kalian bisa memulainya dari sekarang,
Alangkah indahnya bila itu bisa terwujud, dan didiskusikan disini.
Apa harus menunggu jadi ustadz / kyai dulu?
Semoga anda semua tidak tersinggung, niat saya hanya mengingatkan, kalau yang santri (alim) saja jadi pemalas, bagaimana kami2 yang awam ini.
[Reply]
rifaiyah sudah punya orang-orang sepuh yang masih penuh semangat seperti pak shadzirin, pak darji, pak nahri, pak mukhlisin, pak abu royhan, pak shihab, pak jasroni, pak muhdhor dll. punya orang2 kaya yang berdedikasi tinggi seperti pak dul kholik, pak roni, pak (…waduh siapa lagi ya?). juga orang2 muda yang cerdas dan enerjik seperti mas nurman (gimana ya kabarnya?), si bos rifai, kang yazid, mas bibit, asep dan banyak lagi. tapi heran koq ya gini2 aja.
mbah tetua adat (he he..) mbok didiskusikan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh rifaiyah!
ni mas rifai yang ketua PW jakarta komentar dong… biar kita2 tahu ‘apa yang sebenarnya tidak terjadi’
[Reply]